Friday, March 28, 2008

Dalamnya Secangkir Teh

Dalam ruang besar bernuansa emas, beriring Gending mendayu…

Karpet merah panjang digelar menjadi jalan setapak menuju pelaminan bernuansa emas. Pilar-pilar tinggi digelayuti kain-kain cokelat keemasan. Meja-meja hidangan berbalut kain putih dengan peralatan saji perak berkilau-kilau. Stand-stand kecil di tepian ruang merebakkan aroma berbeda di setiap tempat. Bunga-bunga putih bersemu kekuningan disapa lampu-lampu yang tertanam di langit-langit gedung, sementara daun-daun hijau yang terangkai bersamanya melengkung-lengkung anggun. Kilat-kilat lampu blitz turut meramaikan suasana, merangkum bahagia di pelaminan dan sebagaian lainnya menangkap hilir mudik para tamu dengan berbagai gaya, senda gurau formil, dan piring-piring makanan di tangan masing-masing.

Ini adalah kegiatan favoritku beberapa tahun terakhir. Berawal dari sebuah undangan pernikahan dari beberapa kerabat, kemudian teman, lalu tetangga, lalu tidak ragu lagi menemani teman untuk datang ke pesta seperti ini, hingga terbiasa memakai sepatu berhak tinggi karena seringnya pergi ke pesta pernikahan. Aku sangat menikmati jamuan pesta pernikahan. Menatapi dekorasi-dekorasi gedung, mengagumi pakaian-pakaian pengantin, menyapa orang-orang yang sebenarnya hanya sedikit kukenal dan mencicipi makanan-makanan aneka jenis.

Satu-satunya yang mengganggu dari pesta-pesta ini hanya, sebuah pertanyaan, : “Kapan nyusul?”

Dan teringatlah teman-temanku yang entah kenapa banyak yang menikah muda. Belum lagi sepupu-sepupuku yang susul -menyusul menentukan tanggal pernikahan.

Memangnya menikah hal sepele?! Menikah muda lalu kandas bagiku bukan masalah ‘sudah bukan jodoh’ atau hanya ‘tidak cocok lagi’, tapi pemikiran yang kurang matang dan tidak berpegang pada prinsip yang benar. Yeah, setidaknya begitu bagiku. Tapi aku selalu mengacungkan jempol untuk orang-orang yang berani menikah muda demi sebuah prinsip dan berani menghadapi resiko apapun termasuk kegagalan itu sendiri.

Aku ingat… pernah kubaca dalam sebuah buku,

“Bencana kadang datang dari sebuah pemikiran dengan kehati-hatian sempurna.”

Kalimat bagus kan? Kalimat yang bagus dan sangat menyindir di lain pihak. Sebenarnya membuat bulu kuduk merinding. Kalau sebuah kehati-hatian saja bisa mendatangkan bencana, bagaimana kalau tidak? Atau malah sebenarnya sedikit berpikir bisa membuat segalanya lebih baik? Yang benar saja?! Aku adalah seorang pecandu kehati-hatian sampai hari ini tapi aku tidak pernah melihat ada yang salah dengan itu.

Aku membuat beberapa keputusan bagus. Mungkin bukan yang paling bagus, tapi setidaknya tidak merugikan siapapun. Aku selalu bermain aman, tidak ada yang menganggap remeh aku dan keputusanku, semuanya setidaknya semuanya selalu ada di tempat yang aman. Dan satu lagi, orang selalu bertanya padaku kalau hendak membuat keputusan. Bukankan itu berarti bagus?

Hmmm…

Kecuali… harus berpikir sampai injury time, kurang tidur berhari-hari kalau harus memutuskan sesuatu, tidak bisa makan enak kalau aku merasa berat badanku sudah mulai naik, daaa…n… beberapa orang pikir aku sangat pelik, hingga beberapa lelaki mundur teratur dari barisan kandidat calon pendampingku, ada yang berusaha sampai babak belur karena terpaksa kutolak saja, dan lainnya masih mengantri-aku rasa-, meski akhirnya aku tidak tahu lagi apa sebenarnya yang aku cari dari mereka karena terlalu banyak berpikir.

Kenapa aku melakukan ini pada hidupku? Aku cuma mau main aman. Kalau semuanya aman, resiko yang dihadapi tidak akan pernah terlalu besar---aku rasa---. Semuanya akan berjalan mulus dan baik-baik saja kalau aku tidak pernah terburu-buru, dan berhati-hati memikirkan semuanya. Iya kan?

Well, anyway…aku Gia, Asisten Direktur Utama sebuah perusahaan konstruksi bangunan bernama Awiseukeu. Bosku, ---laki-laki 55 tahun, sudah beristri dan memiliki dua anak, yang kebetulan salah satu anaknya adalah aku---, Hamdi Hamidjaya, merintis perusahaan ini bersama beberapa temannya. Umurku… akan 24 dalam beberapa bulan. Awalnya aku tidak pernah berpikir aku harus memikirkan arti umurku ini, tapi setelah beberapa saudara ayah dan ibuku mulai bertanya kapan aku akan menikah---ditambah sepupu-sepupuku sudah mulai mengakhiri masa lajangnya di usia muda, bahkan ada yang lebih muda---, aku terpaksa jadi mulai memikirkannya. Seperti hari ini, dalam pesta pernikahan anak sahabat ibuku yang hanya lebih tua dua tahun dariku.

Well, this is it… aku dan sebuah pencarian. Aku yakin Aku akan menemukannya. Di suatu tempat, yang mungkin tidak pernah aku duga. Tidak di usiaku yang ke-24 mungkin. But slowly. …and carefully.

Gia

“Pagi Marlina!”

Tidak ada yang lebih indah dari seulas senyum tulus di Senin pagi. Lebih lengkap ditambah secangkir kopi atau teh hangat, sepotong sapa dari orang-orang spesial kalau ada, dan tanpa suguhan setumpuk dokumen atau memo.

Gia tersenyum sendiri. Baru saja ia berpapasan dengan Kang Harun, Satpam merangkap tukang parkir kantor, yang sedang menyapa penuh cinta, Marlina, pelayan warung makan di seberang kantor, pujaan hatinya. Marlina yang sedang menyebrang jalan menuju warung makan tempatnya bekerja, hanya menjawab lirih sambil tersipu. Kalau bukan karena Mang Adun yang membawa Kang Harun ke pinggir gerbang, Kang Harun pasti sudah diomeli Putri sahabat Gia yang sedang memarkir mobilnya. Bagaimana tidak, sementara Putri sedang sibuk memarkir mobil, Kang Harun tiba-tiba saja berhenti mengomandoi arah parkiran dan berdiri di belakang mobil yang dikendarai Putri sambil melambai-lambai pada Marlina. Gia lebih suka turun terlebih dulu dari mobil, dan membiarkan Putri memarkir mobil daripada melihatnya mengomel.

“Pagi, Lan!” Sapa Gia waktu masuk ke ruang depan kantor.

Wulan sang penunggu front desk masih sempat tersenyum ramah, meski ia sedang menerima telpon.

Gia baru saja berniat menengok ke tempat parkir, waktu Putri akhirnya muncul dengan wajah tertawa.

“Dasar, Kang Harun!!”

“Kenapa? Masih dadah-dadahan sama Marlina?” Tanya Gia.

Putri sekarang benar-benar tertawa, “Iya, terus tadi disundul sama mobilnya Pa’ Arif gara-gara markirin ngga bener! Hahaha…ngeliatin melulu Marlina, sih!!” Ia tergelak sambil memegangi perutnya.

Gia jadi ikut tertawa. Kasihan Wulan, susah payah ia menahan tawanya sambil menerima telpon. Gia meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh Putri diam karena Wulan sedang menerima telpon, lalu mengajaknya naik ke lantai tiga, ke tempat dimana biasanya pekerjaan mereka sudah menanti.

Gia baru bekerja selama delapan bulan di Awiseukeu Holdings, menggantikan asisten sebelumnya yang sekarang sudah diangkat menjadi koordinator lapangan proyek di luar kota. Sebenarnya pekerjaan ini tidak sulit buat Gia, karena selain subjek yang harus diasisteninya adalah ayahnya sendiri, juga karena dulu Gia pernah bekerja di Event Organizer yang pekerjaan sehari-harinya atur-mengatur jadwal, menghubungi klien, dan menangani dokumen-dokumen penting. Hanya saja, karena posisi ayahnya yang Direktur Utama, Gia kadang merasa orang menganggap dirinya bisa bekerja di perusahaan ini cuma karena itu, bukan karena kemampuan yang dimilikinya. Tidak banyak orang yang tahu, kalau untuk duduk di posisi ini, Gia juga dibandingkan dengan beberapa nama dan dengan banyak pertimbangan. Malah lebih banyak.

Trululululut…Trulululululut…

Telpon di meja Putri berbunyi. Gia yang sedang memeriksa beberapa dokumen mulai terganggu, karena Putri belum, juga mengangkat teleponnya. Gia menengok ke meja Putri dari kursinya.

“Lho… kemana sih Putri?” gumamnya ketika melihat meja Putri kosong.

Trululululut…Trulululululut…

Telepon di meja Putri terus berbunyi. Gia baru ingat Putri sedang dipanggil Pak Syarif ke ruang rapat. Gia berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekat ke meja Putri yang letaknya berseberangan dengan mejanya.

Gia baru saja sampai di meja Putri ketika telepon itu akhirnya berhenti berbunyi.

“eh… orang disamperin…” Gia tidak jadi mengangkat telepon, dan bersiap kembali ke mejanya.

Trululululut…Trulululululut…

“eeeh…” gumamnya gemas. “Halo, Awiseukeu Holdings, Selamat Siang.” Sapa Gia ramah seketika.

“Halow, Ndut!” Jawab si penelpon.

Alis Gia mengangkat mencoba mengingat-ingat suara penelpon pria itu, “Maaf?”

“Eh… halow… bisa bicara sama Putri?” Si penelpon mengulang kalimatnya. Kali ini lebih pelan dan lebih sopan dari sebelumnya.

“ Maaf Pa, Putri sedang tidak ada di tempat. Ada pesan mungkin yang bisa saya sampaikan?” Kata Gia.

“Oooh sori, sori… ngga usah deh. Nanti saya nelpon lagi aja. Tolong sampein aja, ini dari Adit.” Kata si penelpon.

Detik itu juga Gia tertawa pelan, “Oooohhoh, Adit? Iya ntar Gia sampein, ya. Putri lagi dipanggil sama bosnya. Kenapa Wil? Mau kesini?” Tanya Gia.

“Eh, Gia! Kirain si Ndut! Euuuh… ngga sih, Gi. Eh, iya sih. Eh bukan, maksudnya gini, Gi, hari Sabtu ini ulang taunnya Santi, kemaren Putri ngajakin beli kado bareng. Cuman mau mastiin aja jadi apa ngganya.” Kata Adit dengan logat sunda dan gaya bicaranya yang lucu menurut Gia.

“Ya ampun, mau janjian aja sampe grogi gitu. Ko tumben nelponnya ke kantor?” Tanya Gia.

“Abis dari tadi Putri ditelponin ngga diangkat-angkat. Lagi kemana sih, Gi?”

“Iya lagi sibuk, Wil. Ni kan udah mau awal bulan. Ntar kalo udah gajian pasti ngga sibuk banget kaya gini deh.” Hibur Gia.

“Oh gitu ya?” Suara Aditterdengar melemah di telinga Gia.

“Ko lemes? Udah deh, ntar Gia ingetin Putri biar nelpon kamu ya?” Kata Gia.

“Iya deh. Makasih ya, Gi. Haturnuhun pisan!” Kata Adit.

“Sama-sama.”

Aditmenutup telponnya.

Gia duduk di tepi meja Putri sambil memandangi telpon yang sudah ditutupnya barusan. Adit, sahabat Putri sejak kuliah. Sangat dekat sampai ia berpikir, Aditdan Putri pasti punya perasaan khusus satu sama lain, meski Putri tidak pernah mau mengakuinya.

Gia tersenyum sendiri.

Tau apa aku soal cinta…ngga pernah bener-bener jatuh cinta juga sama orang.

‘Kiit…’

Tiba-tiba saja seperti ada suara berdecit dari ujung kuku yang menggaruk ke papan tulis kapur, datang jauh dari sebuah ruang dalam dirinya. Herannya suara itu begitu jelas dan menyiksa. Membuat gigi-geligi terasa linu. Gia berjengit dan bergidik, lalu tersenyum kecut sendirian.
Ketika teman-temannya kala SMP mulai tengok kanan-kiri, sibuk meramu sebanyak-banyaknya formula tipe pria idaman yang ideal, Gia cuma ikut tertawa, mendengarkan atau kadang-kadang sedikit merasa iri kalau salah satu dari mereka mulai dilanda proses ‘pe-de-ka-te’. Waktu SMU, teman-teman Gia adalah sekumpulan jomblo-jomblo bahagia, yang meski terdiri dari laki-laki dan perempuan, tapi tidak pernah sekalipun terjadi cinta lokasi. Hanya main bersama, menertawakan orang putus cinta bersama, membuat fans club sendiri di bawah pohon setiap jumat siang di sekolah atau secara umum disebut ‘ngeceng berjamaah’, mengasihani diri masing-masing yang tidak juga bisa dapat pacar selama dua tahun terakhir di SMU, untuk kemudian lulus bersama dari SMU, dan masuk ke Perguruan Tinggi idaman masing-masing. Kalau ada yang kita dapat, pasti ada juga yang harus kita lepaskan. ‘Tul?

“Fuh… kalau orang bisa jatuh cinta sampe kaya gitu… kenapa aku ngga bisa? Sedikit aja…” Gumam Gia.

Tanpa disadari Gia, Astrini sekertaris bagian marketing sedang memperhatikannya sejak tadi. Astrini mengendap, menjajari Gia lalu menepuk dua tangannya keras-keras,

“Hayooo, siang-siang ngelamun!!” seru Astrini, sampai Gia melompat berdiri.

“Ampuuuun!” Gia mengelus dada, “Ngagetin aja, ah!”

“Hehehe… bukan apa-apa, ntar mejanya Putri bisa ambruk tu didudukin begitu terus, apalagi sambil ngelamun… tambah berat deh!” Kata Astrini sambil berlalu ke mejanya lagi.

“Maksudnya…?” Gia mendelik.

Astrini malah nyengir, “Ngga ada maksud apa-apa…Hehehe…”

Gia memegangi perutnya, lalu lengan, kemudian pipi, “Emangnya Gia keliatan gendut banget, Rin?”

Astrini tersenyum kecil, ia duduk di kursinya lalu menjawab, “tergantung… kalo terus-terusan ngelamun siang-siang, ya bisa jadi.” Astrini sekarang menambah porsi senyumnya menjadi tawa geli.

Gia kembali ke mejanya sambil mencibir, “Seneng! Ngeliat orang bingung, seneng!” gerutunya.
“Tuh, kan! Makin gede pipinya kalo kaya gitu!” Astrini meneruskan tawanya.

Gia jadi ikut tertawa. Ia tahu pipinya yang besar, hanya akan sedikit mengecil kalau ia menjadi kurus, karena sudah dari sananya tercipta tembam. Ia juga tahu sekurus apapun dia, tidak akan pernah selangsing Paris Hilton, karena tulang-tulangnya sudah terlanjur besar-besar. Jadi buat apa merasa tersinggung kalau orang bilang pipinya tembam atau badannya terlihat besar, toh memang sudah jadinya begitu.

Jemari Gia kembali menelusuri tulisan-tulisan dalam dokumen yang ditinggalkan ayahnya untuknya sebelum berangkat ke Malaysia kemarin. Ada beberapa memo yang tampak ditulis terburu-buru hingga butuh waktu untuk mengartikan maksudnya, beberapa kali Gia mengerutkan kening, sesaat kemudian menghembuskan nafas, baru kemudian berhasil menterjemahkan tulisan ayahnya ke dalam agendanya sendiri.

“Heran, Ayah padahal bukan dokter tapi tulisannya ko kaya resep. Hihi…” Gia bicara dengan pelan pada dirinya sendiri.

Akhirnya dokumen-dokumen itu selesai juga ditelitinya. Beberapa sudah dimasukkannya ke dalam agenda, yang lain masuk ke arsip dan beberapa masuk ke mesin penghancur kertas.
Gia tengok kanan-kiri. Astrini nampak masih asyik dengan komputernya, sementara Putri belum kembali juga dari ruang rapat. Gia tersenyum senang. Ini adalah saatnya melakukan observasi. Dikeluarkannya sebuah buku dari dalam tas kerjanya. Buku yang sudah beberapa hari menemani hari-harinya sebelum pergi tidur, atau di saat pekerjaannya sudah selesai dan ayahnya sedang tidak ada di tempat seperti sekarang.

Buku yang sekarang dibaca Gia adalah tentang, tipe-tipe laki-laki. Sebelumnya Gia sudah membaca beberapa buku, soal hubungan Mars dan Venus dari A sampai Z, bahkan sampai nyaris hafal setiap kalimat-kalimat penting yang ada di dalam buku itu. Nah, menurut Gia buku yang terakhir ini adalah salah satu cara untuk melakukan observasi, tentang berjenis-jenis tipe laki-laki, dan pada laki-laki seperti apa dia mungkin bisa jatuh cinta. Karena menurutnya, beberapa kali ia ikut ngécéng berjamaah dengan teman-temannya waktu SMA dulu, belum pernah ada yang membuatnya jatuh cinta. Hanya suka karena berwajah lumayan, bersimpati karena baik hati, atau kagum karena pintar. Standar. No heart feelings.

“Heh!” Sebuah tepukan mendarat mantap di bahu Gia.

“Ya ampun!” Jantung Gia nyaris melompat keluar dari sarangnya.

“Baca apaan tuh?” Putri mengintip ke buku di pangkuan Gia, “Pria dengan tipe ini biasanya…”

“Eh, ngintip lagi! Sana-sana!” Gia mengibas-ngibaskan tangannya.

“huuu!” Putri mendorong pipi tembam Gia.

Gia mencibir, tapi lalu ingat pesan Adituntuk Putri, “Eh, Put. Barusan Adittelfon, katanya HP kamu dari tadi ditelfonin ngga diangat-angkat jadi dia nelfon ke sini.”

Putri duduk di kursinya, “Mo ngapain katanya si Adit?”

“Katanya… jadi ngga mau nyari kado bareng buat Santi, Ndut?”Gia mengulang pesan Adit.
Putri mendelik, “Ngga usah ikut-ikutan deh!” Lalu menuju mejanya tanpa berkomentar apa-apa lagi.

“Emang dia ngomongnya gitu...”

“Ya terus emangnya kamu mesin rekam pesen, mesti persis segala? Phelieee..s!” Putri mengangkat alis kepalanya bergoyang kiri kanan.

Kalau sudah begitu Gia hanya bisa tersipu. Putri memang begitu, ekspresif dan tanpa basa-basi. Gia mengereyit, “udah cuman gitu doang? Ngga rame banget sih!” Gia kembali pada bukunya.
“Mmmakksuddh Jueng Mueigya?” Tangan-tangan Putri berhenti membereskan dokumen-dokumen yang baru dibawanya dari ruang rapat.

“Ya apa ke… cerita ke… pe-de-ka-te-nya udah sampe mana…” Gia menggigit lidah, sambil tertawa jahil.

Putri mendelik, “Pe-de-ka-te? Apaan sih?!”

“Kalo kata Gia mah… cowo kaya Adittu kurang baek apa sih, Put?”

Putri melotot, “Haduuuhh!! Ngomongin itu lagi, itu lagi! Putri sama si Adit mah udah ngga mungkin ada acara pedekate- pedekate-an, Gi! il-fil! ngga selera!"

“Ya kenapa? kurang baek?”

“Gi… Si Adit tu emang orangnya baek, malah baek banget.” Kata Putri, “kadang-kadang.”

Imbuhnya. “Tapi kalo baek ngga berarti harus ada apa-apa kan?” Putri melotot lagi. Seraya membereskan tasnya, “Ayo Gi, ah! Jangan ngomongin si Adit terus. Sakit perut Putri mah, kalo ngomongin dia terus Teh. Udah jam setengah lima lagi. Pulang yu!”

“Huuu dasar! Ngeles! Terus aja ngeles! Liat aja ntar, suatu hari ntar… Adit pasti bakalan…”

“Gi…Gi…” Putri memalingkan tubuhnya, lalu memasang tampang memelas, “Pliiisss… udah dooong… mending cepet pulang yu.. Putri laperrr… lapeeer banget!” mohonnya.

Gia mencibir, lalu segera bangkit dan menggamit tas tangannya.

(^-^)

Dalam Picanto Hitam Yang Melaju…

“Ketemuan?” Gia melirik pada Putri di sampingnya. Ia memindahkan ponsel ke telinga kirinya,

“Hmmm… eng, sori banget ya, Wan… Gia lagi banyak kerjaan banget. Ngga boong, beneran…

Yeah… padahal kan seneng banget ya bisa ketemuan sama anak-anak… hehehe…”

Putri mendelik, ia sudah tahu dengan siapa Gia bicara. Putri melepas pedal gasnya perlahan, lalu menginjak rem lembut, berhenti tepat di batas zebra cross.

“Ooh…yang laen juga ngga bisa? Yaaahh…eng, gini aja deh, kalo anak-anak yang laen pada bisa, kamu kasi tau Gia, gimana? Siapa tau ntar Gia bisa minta ijin keluar… gimana?” Gia meringis sambil melirik Putri sekali lagi.

Putri menoleh, lalu tertawa mencemooh tanpa suara.

“Oke, kedengerannya bagus. Yup!” Gia mengurut dadanya, “Oke, Wan, Gia tunggu kabarnya ya! Ya yu.. daah.” Gia mengakhiri telponnya.

Putri mengerling, “Sapa Gi? Irwan lagi? Cie… mau janjian ni?”

“Ngga!” Bantah Gia cepat.

“Jangan ngasih harepan sama orang kalo ngga mau pergi sama dia!” Katanya.

Gia meringis. Merasa bersalah sebenarnya, tapi akan lebih merasa bersalah lagi kalau menerima ajakan Irwan, laki-laki yang barusan menelponnya, dengan sangat terpaksa. Ia tahu, ini sudah kesekian kalinya, dan ia juga tidak tahu mengapa ia tidak menyukai Irwan padahal Irwan orang yang cukup menyenangkan dan cukup perhatian.

Tapi gue ngga suka…

“Kenapa sih Put, Putri ngga mau sama Adit padahal dia baik banget?” Tanya Gia.

Putri melirik, “lho, kenapa jadi ngomongin si Adit lagi sih?!”

“Ya ngga apa-apa.” Kata Gia. “Jadi kenapa?”

“Urusannya kalo udah soal Adit jadi beda lagi, Gi. Si Adit tu temen Putri banget. Udah tau lah rebek-rebeknya, mau orang bilang cakep kaya Josh Harnet juga Putri mah tetep aja ngeliat dia kaya si Adit yang tengilnya minta ampun. Susah lah, Gi. Udah terlalu deket kali. Terlalu tau diri masing-masing…” Putri melirih di ujung tuturnya.

Gia memandangi jalan di depan.

“Hmmmh,” Putri menghela nafas sebelum akhirnya berkata, “dan ada yang lebih penting daripada ‘mau sama dia’.”

“Huh?” Gia menengok otomatis.

“Iya.” Putri mengangguk mantap.

Kening Gia mengerut lebih rapat.

Putri menengok sahabatnya itu, “Hehehehe….” Ia tertawa, “It is samting tu komplikeited tu eksplen bay words, lah, Gi.” Katanya dengan English Pronunciation-nya yang terbata-bata.
Gia menoleh sebal sekaligus ingin tertawa mendengarnya.

“jangan ngetawain!” Pekik Putri ketika melirik Gia.

Tawa Gia meledak, “Hahahaha….so English lu! So English!!”

Putri ikut tertawa-tawa geli, sambil menjelaskan, “Iya kan maksudnya…baru bisa tau kalo ngerti, kalo udah ngalamin. Gitu, Gi! ih bukannya ngebenerin malah ngetawain!” Putri memukul-mukul bahu Gia dengan tangan kirinya.

Sementara Gia berusaha menghindar sambil menahan tawanya.

“Ih jahat banget sih!!” maki Putri sambil tertawa. “Lagian kaya gitu aja ngga ngerti! So native! ngga ngerti bahasa Inggris lokal!” Putri mencibir.

“Ih jelek!!” Gia mendorong pipi Putri jauh-jauh.

Tawa keduanya berderai, renyah. Hanya untuk cibiran buruk rupa, tapi rasanya seluruh lubang duka tertutup sudah.

Apalagi yang kuminta selain rasa seindah ini? Jiwaku rasanya lengkap sudah. Apa nemuin seorang laki-laki bakal bikin aku ngerasa selengkap ini?


1st Chapter by Adisti

1 comment:

Adisti said...

Wuiii... makasih gagas media...

teman-teman... silakan bacalah dan tinggalkan keripik dan sarapan..

kritik dan saran maksudnya...
garing...

thanksss,...