<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248</id><updated>2011-10-20T06:22:27.557-07:00</updated><title type='text'>1st Chapter</title><subtitle type='html'>Bab Pertama Novel Kamu dipublish di sini</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>152</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-3389418777532210055</id><published>2009-09-30T21:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T22:19:18.793-07:00</updated><title type='text'>1st Chapter</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;UNO&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MADRID, 25 DESEMBER 1914.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pelantaran Plaza Mayor penuh dengan kerumunan orang, mulai dari Para Bangsawan Spanyol hingga para kaum atas dari luar Spanyol. Di depan mereka, dua orang kakak beradik tersenyum sambil membungkukkan badannya, menghormat. Andreas Sèrègovia, Sang Kakak yang memegang.gitarnya yang dibuat oleh Antonio Torres Jurado, sementara adiknya Selena Cèleste memegang biola Stardivarius yang bersinar terkena cahaya lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelantaran yang semula tenang dan hanya terdengar dentingan gitar dan gesekan biola yang membawakan lagu terakhir, ‘Jesu, Joy of Man’s Desiring’, kini ramai dengan tepukan penonton. Tanpa bermaksud sombong, pemandangan seperti ini sudah biasa diterima dua saudara ini. Masih muda, berbakat, berwajah menarik, tentulah sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk membuat orang sebanyak itu bertepuk tangan, bahkan Raja Spanyol pada saat itu, ikut bertepuk tangan dan mengatakan ‘bravo’. Raja Alfonso XIII memang dianggap sebagai ‘promotor’ Pariwisata Spanyol, sehingga tentu saja hubungannya dengan banyak pemusik terkenal seperti Andreas bisa dekat, apalagi umur mereka tidak berbeda jauh, hanya selisih tiga tahun. Andreas lahir tahun 1889, sementara Yang Mulia Raja Alfonso lahir tahun 1886.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mengkhawatirkan Natal kali ini akan sepi, sehubungan dengan hancurnya ekonomi Spanyol dan hilangnya negara jajahan yang mengancam harga diri Spanyol, dan tentu saja Perang Dunia I. Untunglah Natal tidak semencekam itu. Natal kali ini bisa dilewati dengan tenang seperti hari – hari yang lalu tanpa Perang Dunia, semenjak adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Christmas Truce&lt;/span&gt; (1) untuk pertama kalinya. Pada tahun 1914, Jerman dan Inggris lah yang melaksanakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Christmas Truce&lt;/span&gt; ini. Selain itu, orang – orang Spanyol adalah orang – orang yang penuh keceriaan, apalagi dalam suasana Natal seperti ini, tidak boleh ada yang bersedih. Keluarkan anggur, berpestalah, dan bergembiralah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang begitu memedulikan politik saat ini. Musik yang indah, makanan yang enak dan anggur nomor satu, membuat mereka lupa akan masalah politik seperti itu meski hanya sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan kehidupan barumu di Paris?” tanya Andreas ketika kedua saudara itu sudah bisa turun dari panggung untuk mencicipi makanan yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengerikan, tapi juga menyenangkan. Sepertinya segalanya berlawanan. Di satu sisi, penduduknya sangat menghargai keindahan, kecantikan, dan mode tentu. Apalagi teaternya. Kalau bukan karena hal itu, aku akan membenci Perancis. Tapi di sisi lain, pemerintahnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;les armées&lt;/span&gt; (2)–nya, mereka seperti haus darah, dan menginginkan perang terus menerus. Aku sudah enam bulan meninggalkan Perancis. Masih untung kalau rumahku masih berdiri tegak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana dengan suamimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku merasa bersalah meninggalkannya di Paris sendiri. Tapi menurut beberapa kerabatku di Paris semuanya baik – baik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalnya orang tua mereka berdua, membuat hubungan Andreas dan Selena menjadi semakin tak terpisahkan. Usia mereka terpaut enam tahun, dan Selena memiliki dua orang kakak lagi yang semuanya meninggal pada usia muda. Keakraban mereka berdua kadang bisa membuat banyak orang iri. Banyak orang yang tidak menyangka kalau mereka berdua kakak beradik. Mereka berdua sudah bisa memakluminya, dan menyadari kalau mereka berdua tidak begitu mirip. Andreas dengan tubuhnya yang jangkung dan kurus, berkulit terang, dan berambut cokelat, sangat berbeda dengan Selena yang bertubuh montok, berkulit cokelat gelap, dan berambut hitam. Hanya rambut ikal mereka berdua saja yang dapat meyakinkan orang – orang kalau mereka berdua bersaudara. Ketidak miripan ini ternyata membawa bencana tidak terlupakan bagi keluarga Sèrègovia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andreas, sepertinya Yang Mulia akan kemari.” Selena membisiki Andreas yang sedang menikmati ikan bakarnya, ketika ia melihat sosok Yang Mulia Alfonso XIII mendekati mereka. Dengan terburu – buru Andreas menyelesaikan makannya dan membersihkan mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Su Majestad&lt;/span&gt; (3).” Kedua adik kakak itu memberikan bungkukan dengan penuh hormat pada Sang Raja, yang membalasnya dengan anggukan kecil, dan membuat gerakan naik dengan tangannya sebagai isyarat agar mereka berdua mengangkat wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fantastico, Señor y Senorita Sèrègovia (4) .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gracias, Su Majestad  (5)&lt;/span&gt;.” Mereka berdua kembali membungkuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memberi salam, Selena meminta izin untuk meninggalkan Andreas dan Raja berdua saja dengan alasan ia harus ke kamar kecil. Mereka berdua sibuk mendiskusikan mengenai perjalanan Sang Raja ke beberapa provinsi di Spanyol seperti Barcelona, Granada, dan Salamanca. Mereka juga membicarakan mengenai musik, Flamenco, anggur kebanggaan masyarakat Spanyol, Anggur merah Rioja yang manis, hingga ikan yang tadi dimakan Andreas pun terbahas. Andreas, yang tidak hanya karena dikarunia kemampuan berbicara dan pengetahuan yang luar biasa, topik yang dibicarakan pun merupakan topik kesukaannya, mengenai musik dan Flamenco, termasuk mengenai gitaris – gitaris terkenal Spanyol, seperti Andrès Sègovia dan Francesco Tarrega. Pablo Picasso yang baru – baru itu melukis dengan gaya kubisme pun terbahas habis. Luar biasa memang, dua orang pria berbicara banyak seperti itu tanpa kekakuan sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat ketika Sang Raja meninggalkan Andreas, Selena kembali dari kamar kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lama sekali. Kau melewatkan bagian dari pembicaraan kami yang menarik sekali. Kami membahas opera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja lama.” Selena berusaha mengacuhkan Andreas yang berusaha membuatnya menyesal karena tidak sempat ikut membahas mengenai opera, drama dan teater yang merupakan kesukaannya. “Aku menemukan beberapa hal menarik di sini.” Andreas dapat melihat bahwa adiknya begitu antusias ingin cepat – cepat menyampaikan ‘hal menariknya’ itu hingga membuatnya tidak tega untuk menyelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Escuchar (6)&lt;/span&gt; ,” katanya dengan antusias. “kau lihat gadis – gadis yang bediri di dekat patung kuda itu? Ya betul di sana. Aku baru tahu kalau mereka sejak tadi memandangmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memandangku? Itu hal biasa. Mereka kemari memang untuk melihat kita.” Dengan susah payah, Selena menahan tawa mendengar perkatan kakaknya yang menurutnya kelewat polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mi hermano&lt;/span&gt; (7), mereka kemari memang untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melihat&lt;/span&gt; kita berdua. Mereka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;memandangmu&lt;/span&gt; dengan cara lain Andreasku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas akhirnya tertawa pelan menyadari kebodohannya. Memang benar, tidak hanya bakatnya, ketampanan Andreas juga menggoda para wanita. Kelembutannya dan senyumannya terutama, terus menjadi pembicaraan banyak wanita. Mengherankan jadinya, diumurnya yang sudah dua puluh lima tahun dan akan menginjak dua puluh enam sebentar lagi, dikelilingi banyak wanita cantik, namun belum juga menikah. Jangankan menikah, memiliki kekasih pun Andreas belum sempat memikirkannya. Sibuk, selalu menjadi kambing hitam kesendiriannya. Padahal Selena tahu, itu bukanlah alasan utamanya, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak tertarik dengan salah satu dari mereka?” tanya Selena menggoda kakaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak terima kasih. Mungkin kapan – kapan saja.” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lagi – lagi ia menolaknya&lt;/span&gt;, batin Selena kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang kedua, lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fantastico&lt;/span&gt; dari berita itu. Kau tahu siapa lagi yang hadir di sini?” Andreas makin bingung, mengapa adik kecilnya yang selalu menjaga image–nya sebagai wanita konservatif ini tiba – tiba menjadi biang gosip. Selain itu, ada sekitar ribuan orang di sekitaran Plaza Mayor, dan sebagian besar tidak ia kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adikku sayang, kau tahu kan aku tidak main rahasia – rahasiaan?” Andreas mulai lelah bermain rahasia – rahasiaan seperti itu, dan mulai tidak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja. Hugo Sánchez ada di sini, Andreas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Selena menyebut nama itu, pikiran Andreas langsung melayang pada sosok Hugo yang bertubuh tinggi besar itu. Sosok dari musuh abadinya. Memang sulit membayangkan seseorang selembut Andreas yang penuh kasih sayang mempunyai musuh. Tapi, memang begitulah mereka berdua. Andreas dan Hugo sudah bertemu semenjak mereka bersekolah, dan persaingan mereka sudah dimulai sejak sekolah. Dan memang, dendam masa muda adalah dendam yang paling sulit dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sial. Mau apa dia di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu,” kini Selena menyesal karena ia gegabah memberitahu kakaknya. “tolong jangan cari gara – gara, Andreas. Demi Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang adik kecilku. Aku tahu siapa yang akan mencari gara – gara. Sekarang berpura – puralah kau tidak tahu apa – apa.” Andreas menjawab santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit bagi Selena untuk berpura – pura santai, terlebih ketika ia menyadari Hugo menghampiri mereka. Tingginya dua puluh senti lebih tinggi dari Andreas dan badannya jauh lebih tegap dan kuat. Ia tidak jelek, tampan malah. Hanya saja ketampanannya adalah ketampanan para orang – orang licik yang tidak setia, dan yang akhirnya memaksa Andreas untuk segera menikahkan adiknya dengan seorang Perancis demi melindunginya dari ‘ular’ itu. Mudah saja bagi Andreas untuk melihat adik satu – satunya yang cantik dan montok itu juga masuk daftar incaran bisanya. Dengan menikahkan Selena itu pulalah, Andreas menabuh genderang perang baru. Diambilkannya Selena segelas anggur agar ia dapat berpura – pura tenang, sementara Andreas menjalankan sandiwaranya dengan baik meski matanya tetap awas. Ini dia saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lo siento, Señor&lt;/span&gt;.” Tepat ketika Hugo mendekati Selena, Andreas menyenggol tangannya hingga anggur yang dipegangnya tumpah semua. Sengaja tentu saja. Ia merasa bersyukur sekali melihat Hugo memakai baju putih sutera India kebanggaannya. Hancur sudah sutera India kebanggaannya itu. Senang sekali sepertinya Andreas, apalagi ketika ia melihat orang – orang di sekitar mereka melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau.&lt;/span&gt;” Terasa sekali oleh Andreas pandangan Hugo langsung menujunya seperti anak panah yang telah dibidik dengan baik. Namun, sampai saat ini kedua – duanya masih tetap berlaga bersikap anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hari yang baik nampaknya, Señor. Baju mahal ya? Sayang sekali. Lain kali Anda harus berhati – hati Señor.” Benar – benar tanpa dosa sekali ketika Andreas mengatakan hal itu! Selena yang tidak ada hubungan apa – apa dengan hal ini pun memucat melihat kakaknya yang sedang menggoda Hugo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh tentu Señor, tentu,” Hugo membalasnya dengan tidak kalah mempesonanya. “Ini baju mahal, tapi, bukan satu – satunya. Maaf Señor, Anda tidak perlu menggantinya. Saya takut Anda harus berhutang demi membayar baju ini.” Giliran Andreas yang wajahnya merah. Sementara itu, Selena dengan susah payah menahan tawanya. Merasa harga dirinya terancam, Andreas mengeluarkan kemampuannya dalam bersilat lidah yang terkenal sekaligus tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lo sientio Señor&lt;/span&gt; (8) , saya memang tidak berniat mengganti pakaian Anda. Saya justru bersyukur Anda tidak meminta saya untuk menggantinya. Anda tahu kenapa? Baju seperti Anda itu ada di dasar lemari saya, menumpuk seperti kain serbet yang tidak berguna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kena kau,&lt;/span&gt; bisik Andreas dalam hati. Sementara itu, orang – orang di sekitar mereka mulai tertawa mendengar perkataan Andreas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Anda tahu, Señor, lagu yang Anda bawakan tadi, lagu ciptaan Anda, kan? Yang sebelum lagu ciptaan Bach itu? Oh benarkah? Lagu murahan diperdengarkan di depan raja? Jangan permainkan raja, Señor. Untung anda bermain dengan adik Anda. Tanpa adik Anda yang cantik ini, tidak akan ada yang mau mendengarkan Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar namanya mulai dibawa – bawa, Selena merapatkan tubuhnya pada kakaknya. Tidak benar bahwa keindahan lagu – lagu kakaknya itu karena permainannya. Ia hanyalah tambahan semata, bukan pemain utama. Daya tarik terbesar lagu itu tetaplah pada permainan dan pesona kakaknya, selain lagu itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh demi Tuhan, Señor,” nada bicara Andreas menyatakan bahwa pembicaraan ini akan segera berakhir. Mau tidak mau. “Anda bisa lihat sendiri, siapa dan dari kalangan apa mereka berasal? Setengah dari Keluarga kerajaan dan pejabat kerajaan ada di sini.” Andreas membuat gerakan menunjuk ringan seolah menujukkan siapa saja yang ada di Plaza Mayor malam itu. Semakin banyak orang yang memperhatikan mereka, semakin merapat Selena pada kakaknya, sementara Andreas dan Hugo semakin menebalkan mukanya dan semakin mantap untuk menyerang satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecuali Anda tidak berasal dari kalangan mereka, Señor, saya akan mengerti betapa Anda tidak mengerti dari mana asal keindahan musik itu sebenarnya. Maklum kalau Anda mengira adik saya yang merupakan sumber keindahan musik ini, karena hanya itu yang Anda mengerti. Hanya kecantikan dari luar.” Andreas berhenti sebentar. Untuk kata – kata yang dibuat kurang dari lima menit yang lalu, baginya ini cukup memuaskan. Terutama setelah melihat lawannya yang mulai tidak berkutik. Tidak sulit mengalahkan seseorang yang bertubuh seperti tentara ini, asal memiliki lidah yang tajam. “Anda seharusnya sebagai orang Spanyol malu, karena Anda tidak dapat menghargai apa yang merupakan ciri khas bangsa Anda. Ketika Anda menghina saya, berarti Anda telah menghina gitar dengan ketidak pahaman Anda. Anda juga telah menghina Sang Raja beserta semua orang di sini, karena secara tidak langsung, Anda menganggap mereka tidak mengerti.” Bukan hanya Selena ataupun Hugo yang terkejut, tapi juga semua yang berada di situ. Kata – kata Andreas tajam, dan mengalir begitu deras seperti air bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau akan menerima balasannya atas yang telah kau katakan, Andreas Sèrègovia.” Tanpa memandang Andreas lagi, Hugo membalikkan badan dan meninggalkan Andreas dan Selena, dan mungkin juga meninggalkan Plaza Mayor. Semua orang menatap kagum pada kata – kata Andreas, meskipun tidak semua mengerti alasan mengapa ia berkata – kata seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyawamu tinggal sebentar lagi Andreas.” Selena mengatakannya sambil memandang kakaknya dengan ngeri. Setelah tinggal bersama dengannya selama sembilan belas tahun, baru kali ini Selena mendengar kata – kata penuh kebencian keluar dari mulut kakaknya. Tapi Selena dapat menangkap, tidak hanya kebencian yang terkandung dalam kata – kata kakaknya, tapi juga kebenaran. Baik kakaknya maupun lagu – lagunya, sudah dianggap sebagai aset negara yang berharga. Tidak banyak pemusik yang bisa mendapat tempat tinggi seperti itu, apalagi di zaman susah seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu adikku. Dan aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak suka caramu Andreas. Tapi aku akui kau pemberani.” Komentar Selena, setelah mereka sampai di rumah Keluarga Sèrègovia, sebuah rumah bergaya Georgian yang amat simetris, dengan atap berbentuk limas segi empat sempurna dengan cerobong asap di kedua sisinya, dan bangunan yang berbentuk balok. Selena melepas mantel bulu kelincinya ketika mereka memasuki rumah. Andreas tersenyum ketika melihat cara Selena melepas mantelnya dengan begitu hati – hati dan anggun, dan bagaimana mantelnya itu meluncur dari kulitnya yang kecokelatan. Pendidikan ibunya dan Maria, pengasuh mereka berdua, ternyata berhasil membuat Selena menjadi seorang wanita yang berkelas. Ditambah lagi, kini ia tinggal di Paris, yang meskipun sedang dilanda perang, masih terus menampakkan keindahannya dalam soal mode. Di dalam mantelnya, Selena menggunakan gaun sutra putih yang dirancang khusus agar memperlihatkan setiap lekukan tubuhnya yang kini sudah jarang ada lagi. Wanita – wanita sekarang ini terlalu kurus, berbeda dengan Selena yang tubuhnya berisi, namun tidak gemuk. Melihatnya, seperti melihat lukisan dan pahatan Zaman Renaissance, apalagi sebelum ia memotong rambut hitamnya yang tebal dan berombak. Setelah ia tinggal di Paris, ia memotong rambutnya hingga di atas bahu. Potongan rambut seperti ini membuat Selena terlihat makin mewah dan berkelas. Segala kelebihannya itu membuat Andreas begitu berat untuk melepaskan adiknya ini, satu – satunya keluarga yang ia punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat Andreas menutup pintu rumahnya, ia sudah mendengar suara teriakan nyaring Selena yang dianggap Andreas takkan pernah diperdengarkannya lagi semenjak umurnya 14 tahun. Ketika ia melihat, adiknya sedang memeluk seorang pria yang jangkung, tampan, dan pirang. Frèderick Cèleste, suami adiknya. Mereka sudah tidak bertemu selama enam bulan dan terpisahkan oleh Perang Dunia. Andreas mencoba maklum, kalau adiknya seheboh itu menyambut suaminya. Tapi tetap saja hatinya merasa tidak enak ketika melihat adiknya berciuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan, Selena menyadari hal itu. Ia langsung menarik Frèderick untuk mendekati Andreas. Mereka bersalaman dengan kaku dan amat ‘lelaki’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buenos…noches, Señor. Cómo está usted?&lt;/span&gt; (9)“ Frèderick berusaha mencairkan suasana. Bahasa Spanyolnya menurut Andreas sudah agak lumayan, dibanding pertama kali ia bertemu dengan Andreas. Terkadang ia mencampur adukkan antara Bahasa Spanyol dan Italia, antara menyebutkan ‘señor’ dan ‘signor’. Dengan logat Perancisnya, maka kata ‘signor’ akan terdengar seperti ‘signo’ dalam Bahasa Spanyol, yang berarti ‘tanda’. Kemudian, setelah ia berhasil membedakan ‘e’ dan ‘i’, ternyata Frèderick masih sering kehilangan huruf ‘r’dan melafalkannya sebagai ‘seno’ bukan ‘senyo’*. Kata ‘seno’ berarti ‘dada’ dalam bahasa Spanyol. Terkadang Andreas bingung, Perancis, Spanyol, dan Italia, berasal dari satu rumpun, rumpun Latin. Tetapi mengapa tetap sulit ketika ia harus berbicara dalam dua bahasa lainnya, ataupun mengapa Frèderick kesulitan menyebutkan kata – kata dalam Bahasa Spanyol. Seharusnya, semuanya mudah bila mereka berasal dari satu rumpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bien, Monsieur. Ça va Bien?&lt;/span&gt; (10)” Andreas puas sekali ketika mendengar ternyata ia lancar mengucapkan kata – kata sederhana dalam Bahasa Perancis. Ia mengucapkan kata ‘bien’ dengan cara ‘byang*’ bukan ‘bien’ dalam Bahasa Spanyol. Ia memang pernah mempelajari Bahasa Perancis semasa sekolah, namun jarang sekali dipraktekan. Bahasa Perancis yang diajarkan di sekolahnya pun merupakan Bahasa Perancis dengan aksen selatan, yang banyak melafalkan ‘a’ menjadi ‘e’ selayaknya orang Spanyol. Dengan ajaran dari sekolahnya itu, seharusnya Andreas melafalkan kata ‘bien’ menjadi ‘byeng*’, bukan ‘byang*’ Berkat adiknyalah, Andreas mulai menghilangkan logat selatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Monsieur, Selena, mungkin sebaiknya aku meninggalkan kalian berdua. Selena, Frèderick bisa memakai kamar di sebelah kamarmu. Ya, kalau kalian memang butuh kamar terpisah.” Andreas memang terkadang lupa, Frèderick adalah suami Selena, tapi terkadang juga, ia sengaja melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tunggu di sini dulu, Señor. Mungkin ini hari terakhir Selena di sini. Saya mohon tunggu sebentar.” Andreas membalikkan tubuhnya dan kembali mendekati mereka. Ia tidak menyangka, Frèderick punya nyali untuk tiba – tiba berada di rumahnya dan membawa pergi adiknya begitu saja. Ia sudah tidak bertemu adiknya selama tiga tahun, dan kini, tanpa pikir panjang, suaminya datang tanpa ia ketahui dan akan membawanya kembali ke Paris tanpa membicarakannya begitu saja. Selena dapat membaca ketidaksenangan kakaknya dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andreas, aku dan Frèderick sudah merencanakan ini sebelumnya. Aku akan langsung pulang kalau Frèderick kemari. Aku, sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Maafkan aku tidak memberi tahu sejak dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, baiklah kalau begitu. Maaf kalau mengganggu rencana kalian. Kapan kalian akan pulang kalau begitu?” Selena memandang suaminya sebentar, yang kemudian menjawabnya dengan sebuah anggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok kalau kau tak keberatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh tidak. Tentu saja. Jam berapa kalian akan berangkat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kereta menuju ke Paris akan berangkat pada pukul sepuluh. Tapi kami harus ada di stasiun sejam sebelumnya.” Kini, Frèderick lah yang menjawab pertanyaan itu, dengan hati – hati dan waspada tentunya. Salah – salah, Andreas mencelanya dan menganggap keretanya terlalu awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku antar kalian. Sekarang, izinkan aku untuk beristirahat dulu. Kalian, terutama kau, Monsieur, beristirahatlah. Perjalanan kalian pasti panjang.” Andreas langsung saja menaiki tangga tanpa menghiraukan mereka lagi. Ia tidak marah sebenarnya. Hanya kecewa. Rasa sayangnya pada Selena melebihi rasa sayangnya sebagai seorang kakak. Selena memang masih perawan ketika ia menikah, tetapi dari kakaknya lah ia mendapatkan ciuman pertamanya. Pada hari ulang tahun ke tujuh belasnya, dua bulan sebelum pernikahannya.&lt;br /&gt;“Kau yakin kakakmu tidak marah padaku kan?” tanya Frèderick ketika Andreas menghilang dari pandangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh tentu saja tidak.” Selena menjawab dengan tenang. “Andreas memang begitu. Ia memang mudah kecewa. Tapi ia baik, kok.” Sembari mengatakan hal itu, Selena membayangkan kata – kata yang dilemparkan Andreas pada Hugo tadi. Frèderick beruntung, ia tidak kena semprot. Dulu salah seorang kerabat ayahnya pernah berkelakar, suatu saat, kalau Andreas harus ikut perang, ia tidak butuh pedang atau senapan untuk menyerang. Kata – katanya lebih cepat dari peluru, dan lebih tajam dari belati. Selena baru berumur sepuluh tahun sementara Andreas enam belas. Selena tidak dapat mengingat apa yang dibicarakan Andreas hingga ia dipuji seperti itu. Kalau tidak salah mengenai Perang Russo – Japan yang terjadi pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, tepat pada pukul sembilan pagi, Selena dan Frèderick sudah berada di stasiun didampingi Andreas dan tukang kebun merangkap asisten pribadinya, Juan. Selena memeluk kakaknya dengan hangat. Dan mengucapkan beberapa kata – kata perpisahan, sementara dengan Frèderick, seperti biasa mereka hanya bersalaman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh menit di keesokan paginya, dan kereta sudah siap berangkat. Dengan dibantu Juan, Frèderick memasukkan barang – barangnya, sementara Selena memeluk Andreas lagi. Kalau bukan karena diperingatkan oleh suaminya, Selena mungkin tidak jadi naik kereta. Tepat pukul sepuluh, peluit kereta berbunyi. Perlahan – lahan  mulai bergerak, dan akhirnya cepat, seolah tidak sabar untuk segera sampai di Gare d’Auterlitz di Paris. Andreas berpikir, setelah ini, akan sulit baginya untuk menemui Selena. Bagi Andreas, Frèderick adalah pria yang amat beruntung dapat memiliki adiknya. Wanita yang kini mungkin sudah langka sekali. Mungkin benar, adiknya itu berpikiran kuno dan konservatif. Tapi karena hal – hal itulah, Selena menarik perhatian.&lt;br /&gt;Andreas membalikkan dirinya dan melangkah keluar, menuju mobil Fordnya yang berhasil ia dapatkan dari hasil menabungnya selama bertahun – tahun. Sebagai gitaris profesional, ia mendapat bayaran yang cukup besar, namun biaya untuk memelihara rumahnya rupanya lebih besar lagi, sementara uang dari hasil peternakan dan pertanian di tanah ayahnya sudah lama tidak ia pikirkan. Ia suka sekali mengendarai mobil ini mengingat bagaimana kerasnya ia berjuang untuk mendapatkannya hingga rela menyebrangi lautan dan samudera, tapi berhubung pikirannya sedang kacau, ia menyuruh Juan menyetir. Benar saja, Andreas tertidur sepanjang perjalan. Ia memang tidak tidur semalaman. Dalam mimpinya, ia kembali ke masa lalu, masa kanak – kanak mereka. Natal tahun 1900. Mereka berdua mengadakan sebuah permainan, dengan pemenang diperbolehkan membuat pengharapan. Selena beruntung mendapat giliran pertama untuk membuat pengharapan. Ia berharap ‘bila salah satu dari mereka menemui Tuhan suatu saat, ia ingin melihat Tuhan menampakkan wajah mereka pada yang masih hidup dalam keadaan bahagia. Agar mereka yang ditinggalkan bahagia.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; Perjanjian gencatan senjata sementara antara kedua belah pihak yang berperang selama hari – hari libur seperti &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Natal&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Paskah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p.MsoHeading7, li.MsoHeading7, div.MsoHeading7 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 7 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:10.0pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan lines-together; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:7; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#404040; 	mso-themecolor:text1; 	mso-themetint:191; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB; 	font-style:italic;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p.Tittle, li.Tittle, div.Tittle 	{mso-style-name:Tittle; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-parent:"Heading 7"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:12.0pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:3.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:7; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.Heading7Char 	{mso-style-name:"Heading 7 Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 7"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#404040; 	mso-themecolor:text1; 	mso-themetint:191; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB; 	font-style:italic;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="Tittle"&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt; Tentara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Tittle"&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt; Yang Mulia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Tittle"&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt; Fantastis, Tuan dan Nona Sèrègovia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt; Terima kasih Yang Mulia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p.MsoHeading7, li.MsoHeading7, div.MsoHeading7 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 7 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:10.0pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan lines-together; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:7; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#404040; 	mso-themecolor:text1; 	mso-themetint:191; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB; 	font-style:italic;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p.Tittle, li.Tittle, div.Tittle 	{mso-style-name:Tittle; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-parent:"Heading 7"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:12.0pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:3.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:7; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.Heading7Char 	{mso-style-name:"Heading 7 Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 7"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#404040; 	mso-themecolor:text1; 	mso-themetint:191; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB; 	font-style:italic;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="Tittle"&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dengarkan.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt; Kakakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Maafkan saya, Tuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p.MsoHeading7, li.MsoHeading7, div.MsoHeading7 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 7 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:10.0pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan lines-together; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:7; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#404040; 	mso-themecolor:text1; 	mso-themetint:191; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB; 	font-style:italic;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p.Tittle, li.Tittle, div.Tittle 	{mso-style-name:Tittle; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-parent:"Heading 7"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:12.0pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:3.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:7; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.Heading7Char 	{mso-style-name:"Heading 7 Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 7"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#404040; 	mso-themecolor:text1; 	mso-themetint:191; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB; 	font-style:italic;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="Tittle"&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; Selamat malam, Tuan. Apa kabar? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Tittle"&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteTextChar"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; Baik, Tuan. Apa kabar? (Perancis)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1st Chapter oleh Zahrina Yustisia Noorputeri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-3389418777532210055?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/3389418777532210055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=3389418777532210055' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/3389418777532210055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/3389418777532210055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/09/1st-chapter.html' title='1st Chapter'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-4042738518260678833</id><published>2009-09-30T21:53:00.001-07:00</published><updated>2009-10-05T20:44:10.327-07:00</updated><title type='text'>1st Chapter</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Adios, Amelia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ardith, aku tak setuju jika kau benar-benar berniat kuliah di London!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengalihkan perhatianku dari Foie Grass yang ada di hadapanku. Mère mulai berbicara dengan cepat, bahasa Prancis yang digunakannya seakan mulai membakar telingaku. Aku kesal, bukan karena aku dianggap lebih mencintai Inggris dari pada Prancis tapi karena sikap Mère yang terlampau berlebihan kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa tepatnya yang membuatmu tak setuju Mère?” Aku masih mengiris Foi Grass-ku dengan gerakan-gerakan yang tak penting sebagai bentuk perwakilan emosiku. Seakan aku tak terlalu menanggapi apa yang sedang dibicarakan oleh Mère.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya mengesalkan sekali jika mengetahui kau masih diatur-atur oleh orang tua yang berpikiran terlalu kolot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kukira itu sudah jelas Ardith! Aku sudah mendaftarkanmu ke Harvard, Oxford, bahkan Darmouth, dan kau lebih memilih University of London? Itu sulit dipercaya Ardith!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kulihat wajah Mère, dia menatapku tak percaya, seakan aku sudah melakukan hal besar yang bisa mencoreng nama keluarga. Padahal ia tak sadar kalau telah mengucapkan salah satu universitas di London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meletakan serbetku di atas meja makan, dan aku tahu Mère mendelik padaku. “Dan apa salahnya dengan itu Mère?” ujarku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu kali ini aku sudah sedikit keterlaluan, bahkan Père sekalipun berhenti mengiris Foie Grass-nya. Menatapku dengan pandangan datar, Mère mulai terlihat marah, yeah aku tahu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sekolah negri Ardith!” Mère memutar bola matanya, seakan mengucapkan kalimat itu menandakan dirinya gila telah mendengar anaknya akan masuk ke sebuah tempat yang mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menatapnya, mungkin sekarang wajahku terlihat sedatar Père, dan aku tak begitu peduli dengan perubahan wajah Mère ketika melihat wajahku yang berubah datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak orang miskin dan tak sederajat dengan kita disana.” Mère mulai menghela nafasnya dengan tak sabar. Entah sejak kapan topic mengenai ‘orang miskin’ menjadi bahan pembicaraannya di atas meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergelak, sungguh itu lucu untukku. Mère menatapku semakin kesal, aku sudah terlalu banyak melanggar menner dari tadi, termasuk tertawa di atas meja makan. Dan aku tahu Mère sangat tidak menyukai itu. Bahkan aku cukup tahu dengan jelas kalau ia tak akan menolerir pelanggaran aturan di kastil ini, atau bahkan dimanapun jika itu terjadi didepannya. Sekali lagi kukatakan ia itu kolot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa? Kau tak berfikir akan ada kisah Cinderella disini kan Mère?” jawabku acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat suasana ditempat itu menegang, senang rasanya mengetahui bagaimana efek kata-kataku pada mereka. Baik Mère dan Père menatapku dengan tajam, dan bisa kau bayangkan bagaimana Mère begitu marah karena aku sama sekali tak berniat mengerti apa yang sedang dibicarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jaga sikapmu Ardith!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku beralih kepada Père yang tak lagi memotong Foie Grass-nya dengan wajah datar. Dan memandangku, aku hanya mengangkat bahu tak memberikan jawaban apapun ataupun reaksi lainnya. Karena jika aku menunjukan sedikit saja perubahan sikap, maka aku akan berada dalam kondisi yang sangat tak baik. Ini menyangkut Père, dan segala hal yang menyangkut Père, artinya berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa alasanmu untuk menolak semua Universitas yang diajukan Mère-mu?” suara Père terdengar berwibawa, tentu saja. Bahkan aku tak melihatnya lepas kendali walaupun aku telah melakukan susuatu yang tidak pantas di meja makan. Manusia tanpa emosi! Mungkin itu lebih cocok untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku butuh tantangan, sesuatu yang lain. Aku punya kehidupan sendiri yang bisa kuatur. Tentu aku paham sejarah keluarga ini, dan sampai kapanpun aku akan tetap mengingatnya. Tapi duniakukan tak sebatas yang kalian ciptakan.” Aku menatap Père, dengan keyakinan terhadap argumentasiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Père terlihat menimbang-nimbang jawabanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku mengijinkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BRAK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutar bola mataku, Mère memukul meja dengan keras. Bahkan ia tak lagi duduk dengan anggun di kursinya. Tapi aku tak peduli dengan apa yang dikatakan Mère selanjutnya. Kalimat-kalimat pertentangan yang hanya ditanggapi dengan singkat dan datar oleh Père seperti biasanya. Bagiku, persetujuan dari Père itu cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“ ‘Tidak akan ada kisah Cinderella,’ eh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangkat kepalaku enggan, dan dari atas tempat tidur aku bisa melihat Bellinda masuk dengan mengulum senyum. Biasanya aku selalu melihatnya pura-pura berlaku profesional dengan tak berbicara padaku selain urusan jadwal-jadwalku. Tapi terkadang hal-hal kecil sepertti ini bisa merubah kepribadiannya, itu sedikit membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali merebahkan kepalaku, memejamkan mataku dan membuat tubuhku nyaman di atas tempat tidurku. Bellinda bergerak maju, dan duduk di ujung tempat tidurku. Terkadang aku tak habis fikir bagaimana aku bisa menerima wanita berumur 28 tahun itu untuk duduk didekatku, padahal aku tak suka perempuan manapaun yang mencoba untuk mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku suka pemilihan katamu.” Ia tergelak, suara tawa Bellinda terdengar renyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tetap pada posisi awalku, sama sekali tak merubah posisiku meskipun suara tawa Bellinda memberitahuku kalau mungkin ia akan berbicara dengan santai padaku. Namun aku bahkan tak membuka mataku, apalagi berbicara untuk menanggapi kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal Bellinda, bahkan sejak umurku 5 tahun. Keluarganya sudah mengabdi pada keluarga Harcourt sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Keluarga Harcourt bahkan sudah menganggap mereka bagian dari Harcourt. Walau jelas, masih juga ada perbedaan yang jelas pada status social. Tak semudah itu bagi Harcourt untuk menaikan derajat pada pelayannya, seberapa lamanyapun mereka telah mengabdi untuk keluarga ini. Dan aku memahami itu dengan jelas, sehingga kadang aku bahkan tak peduli dengan para pelayanku, tak terkecuali Bellinda tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kau sudah tahu kalau Seigneur mengirimkan Ford GT silver untukmu di London?” suara Bellinda terdengar acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka mataku, dan seakan bisa melihat mobil itu dihadapanku, mencoba untuk membayangkan detail body-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keren, edisi terbatas dari Ford,” ujarku tanpa semangat. Tapi aku tahu Bellinda bisa mengetahui bagaimana tertariknya aku dengan mobil itu. Alasan menyenangkan menjadi seorang Harcourt, kau bisa memiliki apapun yang kau inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lupakan perjalanan yang panjang antara Versailles menuju London. Bahkan Mère dan Père tak mau menginjakan kaki mereka di London, dengan segala alasan yang mereka punya tentu. Aku tahu mengapa mereka begitu membenci kota London, semua berhubungan dengan sejarah keluarga Harcourt. Jelas itu alasan Père, tapi bagi Mère tak ada alasan baginya menginjakan kaki ke London jika itu tak terlalu penting untuknya, ia terlalu mencinta Prancis, aku bisa mengerti dengan hal itu.  Dan Aku? Oh tidak peduli, tidak ada alasan bagiku untuk peduli tentang kehadiran mereka disini sekalipun, karena setidaknya aku masih memiliki Bellinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Dikamar yang bahkan tak pernah aku ingat. Yeah, itu salah satu rumah musim panas milik keluarga Harcourt, tapi yang aku ingat rumah ini hanya pernah digunakan selama dua kali musim panas. Pembuangan materi, istilah yang tepat mungkin. Lalu kenapa? Keluargaku memiliki kekayaan berlimpah, dan memiliki sejarah yang kelam dibalik kekayaan itu tentu saja. Dan rasanya, untuk hal tak penting seperti ini tak perlu dipermasalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku memandang berkeliling, tidak buruk juga kamar ini. Aku suka putih dan seluruh interior kamar juga berwarna putih, kurasa Bellinda ikut campur dalam mengubah interior kamar ini. Baguslah, aku suka dengan daya pikirnya yang cakap tanggap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kubawakan makan siang Ardith?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bellinda, dengan pakaiannya yang kasual—rasanya hampir setiap hari ia memang selalu memilih untuk berpakaian secara kasual—masuk kekamarku dan melipat kedua tangannya, berdiri didepanku. Aku hanya meliriknya sekilas, masih berbaring dengan menumpukan kepalaku dengan kedua tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Non, merci,” jawabku singkat, kembali memejamkan mata. Perjalanan dari Prancis itu cukup melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bellinda tak segera beranjak dari kamarku, aku kembali membuka mataku dan kini memutuskan untuk duduk tegak diatas tempat tidurku yang berseprai putih, dengan garis-garis putih biru pada selimutnya. Aku bahkan baru sadar kalau disebrang mejanya ada TV plasma 29” beserta perlengkapan audio lengkap. Ok, itu cool. Aku memandang Bellinda, dari balik kacamata bingkai putihnya, Bellinda balik memandangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tanyaku, meminta penjelasan mengapa ia masih juga berada disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bellinda tak mengatakan apapun, dan sebuah senyum terlukis diwajahnya. Sungguh, itu memuakkan. Maksudku tidak begitu buruk, hanya saja aku tidak terlalu suka jika ia tersenyum. Aku benci jika ia sudah melakukannya, karena hal-hal fomal yang menurutku konyol akan mulai ia lontarkan. Aku menunggu, dan Bellinda mulai mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul hitam. Tentu saja aku tahu buku apa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut jadwal, kau harus mengikuti test kecil besok. Aku sudah mengurus semua yang kau butuhkan untuk University of London. Dan ku rasa aku pasti bisa mengantarmu jam sembilan tepat disana, jadi—”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak akan kemana-mana Bellinda, setidaknya tidak denganku. Aku akan pergi sendiri.” Aku memotong kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak memmperdulikan tatapan Bellinda yang tampak terkejut oleh sikapku. Sama tak pedulinya aku dengan jadwal-jadwal yang sudah diaturnya untukku. Aku justru mengambil ponsel dari kantonng jins ku dan mulai mengetik-ngetik pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak bisa, aku sudah mengatur jadwal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan aku tak peduli pada jadwalmu Bellinda, kau tahu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak punya SIM.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tentunya aku bisa mempercayakan hal remeh itu padamu bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bellinda diam sejenak, ia tahu bahkan seberapa dekatnya ia denganku sekalipun ia akan tetap memposisikan dirinya sebagai pelayan. Memang begitu seharusnya, dan cukup senang mengetahui Bellinda sadar dengan posisinya. Aku meliriknya sekilas, dan dari sudut pandangku aku bisa melihat kalau Bellinda terlihat terluka. Itu membuatku merasa sedikit tak nyaman. Aku tahu, seharusnya tak seorang Harcourt-pun boleh merasakan hal itu untuk seorang pelayan. Tapi aku sudah mengenal Bellinda cukup lama, itu tentang 13 tahun hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutar bola mataku, duduk tegak, memandang wajahnya benar-benar kearah wajahnya. Bellinda adalah wanita berwajah pucat, dengan mata hijau dan wajah berbentuk hati. Rambutnya hitam panjang, sedikit bergelombang. Dan seperti setiap orang yang pernah mengahabiskan waktu-waktunya di kastil Harcourt, wajah Bellinda tampak tegas. Ia bijaksana, dan teratur. Sebagai seorang pelayan, ia sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku berhenti mengetik pesan pada ponselku. Bellinda menyadari bahwa aku sedang menatapnya. Namun wajahnya kembali terlihat tegas. Dengan agak sedikit canggung, ia membetulkan letak kacamata berbingkai putihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku khawatir—“ ujarnya lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membiarkannya berbicara, walau aku yakin aku pasti akan segera menyesalinya. Ini akan menjadi momen yang paling tidak menyenangkan sepanjang sisa siang ini. Bagian-bagian dramatis atau melankolis bukanlah hal yang menyenangkan untukku. Opsi lain yang bisa kupilih adalah pergi meninggalkan Bellinda di kamar itu, dan membiarkan ia mulai mengeluh pada tiang tempat tidur. Tapi aku bergeming, karena sebuah alasan bodoh yang bisa aku terima. Sekali lagi, ini adalah tentang 13 tahun hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak bisa meninggalkanmu, ini London dan aku punya tanggung jawab terhadap hampir seluruh hidupmu. Aku tak ingin mengatakan bahwa London mungkin akan lebih keras dari Paris—maksudku, aku tak ingin menemui mu di kantor polisi karena tersesat. Aku menyayangimu hingga aku tak bisa untuk melepasmu.” Ia mengakhiri kalimatnya yang panjang-panjang. Wajahnya tetap datar walau dengan baik tersimpan kekhawatiran disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku masih datar, aku tahu itu. Sekali lagi, ini memang tentang 13 tahun kehidupanku, tapi aku tak akan repot-repot untuk mencoba bertahan tetap mendengarkan Bellinda dengan baik agar wanita itu senang. Aku cukup muak untuk mendengar kata-kata melankolis lainnya yang bisa ia lontarkan. Jadi sebelum aku benar-benar harus mendengarkannya, aku tahu kalau perbincangan ini harus segera dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak peduli tentang kekhawatiranmu padaku Bellinda. Dan kau perlu tahu, kau telah menghinaku dengan kalimatmu itu. Jadi, aku tak ingin mendengarmu mengatakan apapun lagi padaku. Pergi dari sini, dan bereskan masalah SIM-ku segera!” aku mendengar suaraku tegas dan keras, lebih dari pada yang bisa aku bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu memang benar, Bellinda telah menghinaku, seorang Harcourt.  Apa maksudnya dengan ‘mencintaiku’, ‘tak ingin melepaskanku’, ‘London terlalu keras untukku’, dan lain-lainnya. Membuatku merasa seperti anak perempuan berusia 10 tahun? Bellinda seharusnya menyesal telah mengatakan hal itu padaku. Bahkan ia sebenarnya tak punya hubungan apapun denganku, hanya karena ia telah mengasuhku selama 13 tahun tak berarti ia bias mengaturku, statusnya masih pelayanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bellinda tahu tentang semua sifatku, bagaimana aku begitu keras. Ia tak tampak tersinggung dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Ia justru terkejut, dan benar-benar mengerti telah melakukan kesalahan. Sebuah kesalahan besar kurasa. Ia menatapku sesaat sebelum berbalik menuju pintu kamarku, dan tanpa mengatakan apapun lagi ia menghilang dibalik pintu kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafasku, dan kembali meraih ponselku, mulai mengetik-ngetik pesan lagi. Rasanya aku butuh penyegaran apa lagi kata-kata Bellinda yang telah membuatku mual. Jariku sudah terarah menuju tombol “OK”, dan dalam sekejap saja pesan itu telah terkirim. Aku melempar ponselku ke sisi tempat tidur dan kembali berbaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To: My Candies&lt;br /&gt;Hi! Aku sudah berada di London. Kutunggu kau jam 15.00 di taman Warren St.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ford GT Silverku berbelok di Kingsway. Dari jauh aku bisa melihat bangunan putih yang akan menjadi kampusku nanti. Beberapa orang yang dilewati oleh mobil ini tampak kagum, tentu saja Ford GT mobil Sport terbatas, dan aku tahu tak semua orang bisa memilikinya. Lagi pula apa peduliku mengenai mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“This is cool, Ardith benar-benar cool!” Candies meraba dasbor dan turun hingga menyentuh radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutar bola mataku, mengherankan sekali, bahwa salah satu anggota keluarga Harcourt berkata seperti itu, dan menatap barang yang bahkan bisa dimilikinya dengan pandangan memuja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candies sepupuku, ia keponakan Père, ibunya—Cyrene adalah anggota keluarga Harcourt yang diusir. Keluarga Harcourt tak diijinkan bergaul dengan kalangan bawah. Namun itu yang terjadi pada Cyrene. Ia memilih orang yang salah , manusia dari kalangan bawah dan merupakan seorang dokter miskin. Aku ingat, bagaimana keluarga Harcourt mencelanya, karena akhirnya setelah 10 tahun, Cyrene kembali membawa kedua anaknya di pesta ulang tahun Grandmère. Dan pada hari yang sama, akhirnya Cyrene kembali diakui, termasuk kedua anaknya. Tentu saja itu tak berlaku untuk suaminya yang sama sekali tak pantas berada bersama para keluarga Harcourt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejujurnya, aku kaget mendapat SMS darimu tadi siang,” Candies memandang jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu bagaimana ekspresinya. Namun kemudian ia berbalilk menatapku. Dan seprti yang aku tahu, Candies selalu tersenyum, lembut dan hangat, itu yang selalu membuat aku nyaman berada didekatnya. Aku mencengkram stir lebih kuat, angin berhembus melewati rambut Candies, membawa harum leci padaku, parfum yang selalu digunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang membuarmu berfikir untuk pindah ke London Ardith? Pastinya Eglantine dan Gaylord tidak menginginkan itu bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu Candies masih menatapku, tapi aku tak ingin memandangnya, mataku terpaku pada jalan lurus si Kingsway, semakin mendekati London School of Economic—LSE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candies tak perlu tahu alasanku sebenarnya. Aku tak ingin memberitahu ia bahwa aku masuk ke universitas yang sama dengannya justru karena ia berada didalamnya. Aku mengejarnya hingga ke London adalah hal yang paling bodoh, tapi aku tetap melakukannya. Hanya saja lebih baik Candies tak perlu tahu hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak perlu menjawabnya!” ujarku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar aku mendengar Candies bergeser di tempat duduknya dari sudut mataku aku melihat Candies kembali memandang hal-hal ak menarik dari jendela mobil yang terbuka.&lt;br /&gt;“Lucu, kau berbicara bahasa Inggris. Aku jarang mendengar keluarga Harcourt menggunakan bahasa Inggris.” Candies tertawa, sangat samar tapi aku bisa mendengarnya. “Apapun alasanmu, pasti itu sangat penting bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang lebih penting darimu, aku sadar itu! Karena itulah aku berada disini, meskipun betapa sulitnya aku memperjuangkan pilihan ini. Tapi bahkan walau itu sulit sekalipun, aku tak pernah berniat untuk pergi dan melapaskanmu begitu saja, sebagian diriku sadar bahwa mungkin baik Père ataupun Mère tak akan setuju alasanku ke London jika mereka mengetahuinya. Tapi aku tak akan menyerah, bukankah memang seperti itu yang harus aku pertahankan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok aku ada tes,” ujarku, memberi tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa keinginan itu muncul begitu saja, memberitahu Candies bahwa kini aku akan menjejaki dunia yang sama dengannya. Candies berbalik, begitu cepat, mata coklatnya memandangku dengan begitu terkejut, aku menoleh, balas memandangnya dengan wajah datar. Candies kembali menggeser posisinya berhadapan denganku dari kursi disebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ujian di awal masuk? Kau mau kuliah dimana?” tanyanya hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“LSE” ujarku cepat, kembali memfokuskan penglihatanku pada jalan didepanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waw! Itu kejutan! Aku juga sekolah disana.” Suara Candies terdengar riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hampir tertawa, justru karena ia berada disana aku memilih tempat itu. Tapi alih-alih tertawa aku hanya terbatuk samar, bersikap seakan-akan tak begitu peduli dengan apa yang baru saja dikatakannya beserta dengan keterkejutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bisa berangkat bersamaku kalau begitu,” ucapku terdengar acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas aku tak pernah mengajak siapapun untuk bisa pergi bersamaku, terlebih lagi dengan gadis didepanku ini, itu memalukan, tapi harus kuakui  aku merasa sedikit aneh dan tak nyaman. Rasanya ketidak pedulianku jadi terasa begitu samar dan kepura-puraanku jadi begitu terasa nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ford GT ku berbelok di Houghton St, melewati LSE, dan masih terus melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, aku ingin tinggal di asrama tahun ini, keluargaku pindah ke Liverpool, Dad mendapatkan panggilan disana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku semakin mencengkram kemudi dengan kuat. Rasnya sulit dipercaya jika aku harus mendengar sebuah penolakan, seingatku dalam kehidupanku yang nyaris sempurna aku tak pernah dihadapkan kepada sebuah penolakan, baik dari siapapun itu. Layaknya seorang tuan muda, mungkin. Namun aku tetap memasang wajah datarku, Ford GT silver-ku kini melewati taman, tapi aku masih terus mengemudi, bahkan semakin menambah kecepatan laju mobilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bisa inggal ditempatku kalau kau mau—maksudku, kau juga seorang Harcourt.” Aku melirik perubahan ekspresi diwajah Candies dari ujung mataku, tapi aku malah melihatnya tersenyum padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa Ardith, bagaimanapun juga itu tak pantas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku mengeras, itu jawaban yang sedikit tak kuharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada Bellinda, dan beberapa pelayan. Lagipula kau—sepupuku.” Aku menekankan gigiku saat mengucapkan kata-kata terakhir. Rasanya aneh dan sebagian diriku tak bisa menerimanya, aku hampir tak pernah menggapnya seorang sepupu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candies menggeleng pelan, seakan ia baru saja mendengar sebuah kesalahan dalam kata-kataku, seakan aku mengatakan sesuatu yang membuatnya tak percaya. “Tidak Ardith, tidak. Aku tetap tak bias. Terutama Bellinda, oh kau pasti tahu bagaimana bagian dari Harcourt begitu merendahkan keluarga—”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bukan anggota Harcourt, Candies!” Aku menggertakan gigiku, menahan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Candies bisa berfikir bahwa Bellinda termasuk bagian dari keluaraga Harcourt! Itu bisa dibilang penghinaan! seharusnya Candies-pun tahu kalau bahkan keluarga Harcourt begitu membenci orang-orang yang tak sederajat dari mereka, tidakkah ia di beritahu oleh Cyrene tentang sejarah keluarga ini? Seharusnya ia tak boleh mengatakan hal itu. Aku tak bisa bayangkan bagaimana kalau Grandpère dan Grandmère mendengarnya. Kurasa Candies akan benar-benar dipaksa untuk mempelajari lagi sejarah Harcourt, tentang alasan-alasan bagaiamana keluarga ini begitu memperjelas status social mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan mau tak mau, Dia seharusnya bisa menghormatimu Candies!” lanjutku, masih terdengar marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa merasakan ketegangan dari tubuh Candies, ia takut, takut karena aku marah padanya. Namun, tak berapa lama ia mulai menguasai dirinya, dan menyentuh tanganku dengan lembut. Aku tak menggubrisnya, dan memandang lurus-lurus ke depan, ke arah yang sedikit berliku. Membiarkan Candies semakin merasa bahwa dirinya salah, dan ia memang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak-tidak, aku masih menyanjung tinggi drajat mereka Ardith. Menghormatinya.” Candies, dengan suaranya yang terdengar lembut tampaknya tengah berusaha untuk meredakan amarahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih menyentuh lenganku, aku tak ingin berdebat dengannya hari ini, jadi aku hanya diam tak menanggapi kata-katanya dan membiarkan sisa perjalanan itu dealam hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ini hari yang cerah, setidaknya itu yang dikatakan Bellinda saat aku bahkan baru menyendokan supku ke mulut. Tapi aku tak terlalu peduli dengan semua kata-katanya tentang cuaca hari ini, lagi pula Ia juga memang tak berbicara padaku. Saat ini pukul 07.30 malam, dan aku tengah duduk di sebuah meja makan panjang yang memiliki delapan bangku. Makan malamku, tak berbeda dengan ketika berada di kastil Harcourt—aku tak melebih-lebihkan kastil itu, keluarga Harcourt memang tinggal dikastil besar, kuno—tak terkecuali menunya, menu makan malam yang lengkap. Bellinda menyiapkan makanan Prancis seperti yang biasa aku santap. Dan seperti halnya di Prancis, Bellinda tak makan satu meja denganku. Seberapa dekatnya pun kami, ia akan tetap makan setelah aku makan, dan selama itu, ia akan berdiri tak kurang satu meter dariku untuk mengatur menu yang ada di hadapanku. Aneh rasanya memakan makan malam dengan menu lengkap seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku selesai memakan dessertkju, sebuah pudding caramel dengan vla coklat, aku menyukai makanan manis dan Bellinda selalu tersenyum jika mengingat itu. Aku tak peduli tentang apa penilaiannya terhadap makanan kesukaanku, bahkan aku tak peduli dengan seluruh hidup yang dijalani Bellinda. Ia hanya seorang pelayan, tentu aku mengingat hal itu, dan dari kecil aku telah diajarkan untuk mengingat status social yng aku miliki, yang artinya adalah, bahwa aku harus tahu kalau Bellinda hanyalah seorang pelayang yang tak memiliki sesuatu yang harus aku perdulikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan malam, aku tak ingin melakukan apapun, kecuali duduk di tepi tempat tidur, dan menyenderkan tubuhku dikepala tempat tidur. Kusumbat telingaku dengan earphone, dan discmanku memperdengarkan kumpulan lagu-lagu Linkin Park. Aku bersenandung pelan, mataku terkonsentrasi penuh dengan buku yang aku pegang ditangan kanan, dan mengangkatnya sejajar dengan wajahku. Mataku menyusuri setiap baris dari buku itu, besok ada tes kecil sebelum benar-benar akan memeluai kehidupan kuliahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat berlalu, dan aku dapat mendengar suara ketukan pelan di pintu. Aku tak mengalihkan perhatianku dari buku yang berisikan kumpulan soal yang tengah aku baca, namun aku bergumam pelan untuk mempersilahkan siapapun yang berada dibalik pintu kamarku itu untuk masuk. Tanpa membuka pintupun aku rasa aku sudah tahu siapa yang berada dibalik pintu itu. Dan seperti dugaanku, Bellinda masuk dengan pakaian kasualnya yang biasa, kali ini dengan rok hitam selutut dengan haris abu-abu tipis dan kemeja hitam berkerah tinggi. Aku pikir ia lebih cocok bekerja di pemakaman disbanding menjadi seorang asisten pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah menyiapkan seluruh perlengkapan yang kau butuhkan, aku juga sudah mengurus SIM-mu.” Bellinda berdiri kaku dihadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meliriknya sekilas, sebelum kembali masuk kedalam kosentrasiku lagi. Dan tak berapa lama, aku bisa mendengar langkah kaki Bellinda, meninggalkan kamar itu, dan menutup pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1st Chapter oleh Zahrina Noorputeri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-4042738518260678833?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/4042738518260678833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=4042738518260678833' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/4042738518260678833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/4042738518260678833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/09/adios-amelia.html' title='1st Chapter'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-987357867653869069</id><published>2009-09-29T01:13:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T02:25:19.714-07:00</updated><title type='text'>Awal dari Akhir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;BAB 1&lt;br /&gt;AWAL DARI AKHIR&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“AWASSSS!!!!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu yang bisa Jiya teriakkan bersama beberapa orang yang berada di sekitarnya pada Tris, putri bosnya, yang tiba-tiba saja berlari ke tengah jalan raya untuk mengambil bola basketnya yang tergelincir dari tangannya. Kalau saja Jiya tidak segera berlari untuk menarik Tris, saat ini dia pasti sudah terlindas mobil yang saat itu sedang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan orang-orang, Jiya berdiri—dia terjerembab ke pinggir jalan raya dengan Tris di pelukannya—dan kemudian berusaha menenangkan Tris yang menangis ketakutan. Dengan wajah amat cemas dia berusaha membuat Tris diam, karena tangisnya makin lama makin keras. Orang-orang mengerumuni mereka, menanyakan apa dia dan Tris baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tida apa-apa, Tris?” tanya Jiya, sambil mengusap-usap punggungnya. Baju seragam sekolahnya kotor karena debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Takuu...uutttt... Tante,” isak Tris sesenggukan, sambil memeluk erat bola basketnya. Kedua pipinya basah karena air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea meneliti tubuh kecil Tris dengan teliti, apakah ada luka atau tidak. Dia mengembuskan napas lega saat tidak menemukan satupun luka pun di tubuhnya. Tergores pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, Mbak harus ke klinik tuh,” cetus seorang wanita yang berada di sebelah Jiya. “Siku Mbak berdarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya melepaskan pelukannya dan segera melihat sikunya yang memang terasa perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma luka lecet,” katanya, setelah melihat lukanya. Dia mendongak ke arah si wanita dan tersenyum, “Terima kasih,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung banget ya. Kalau nggak, anak itu pasti...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya juga anak-anak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, ngeri banget melihatnya tadi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berbisik dan berkasak-kusuk di sekeliling mereka. Jiya cepat-cepat menggendong Tris, hendak membawanya segera meninggalkan tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita pulang ya, Sayang,” kata Jiya, berbisik lembut di telinga Tris yang masih terisak pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk dan meletakkan kepalanya di bahu Jiya.&lt;br /&gt;Jiya mengucapkan terima kasih buru-buru pada semua orang yang telah membantunya, dan baru saja beranjak pergi saat seorang pria berkata padanya dengan nada cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian berdua tidak apa-apa, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya hanya tersenyum dan buru-buru menyahut, “Ya, kami berdua baik-baik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, saya tidak melihat...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan salah Anda. Maaf saya harus cepat-cepat. Permisi,” sela Jiya cepat-cepat, tanpa melihat jelas wajah pria itu. Dia, seraya menggendong Tris, menghentikan taksi yang kebetulan melintas dan naik ke atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran Jiya kacau, memikirkan reaksi Nirmala, ibu Tris dan juga bosnya, bila mengetahui kejadian itu nanti. Dia pasti akan sangat kesal dan mencecarnya dengan seribu macam kesalahan yang bisa ditemukannya dalam pekerjaannya. Lalu, dia, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tentu saja&lt;/span&gt;, akan bercerita pada Bram, bosnya yang satu lagi, yang adalah suami dan juga ayah Tris, yang juga akan cemberut padanya dan tidak akan menegurnya selama satu hari penuh. Tris, meskipun tidak terluka, tampaknya agak terguncang, karena sepanjang perjalanan menuju kantor orang tuanya, dia diam saja. Bergelung di dalam pelukan Jiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Memang kau ada dimana waktu itu?&lt;/span&gt;” tanya Nirmala dengan nada sinisnya yang khas, begitu Jiya menceritakan insiden tersebut. Tris kini berada di pangkuannya, menyandarkan kepala di bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja bersama Tris, Mbak,” kata Jiya. Dia berusaha sekali untuk tidak kelihatan tersinggung dengan pertanyaan Nirmala barusan—seolah saja dia membiarkan anaknya keluyuran sendiri. “Saya tidak pernah ninggalin dia, kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, aneh aja. Kok bisa Tris lari ke tengah jalan,” tukas Nirmala. Dia tidak melihat pada Jiya, sehingga tidak melihatnya membeliakan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bolanya tiba-tiba jatuh, dan dia langsung lari mengejarnya. Dan saya tidak menyangka dia melakukan itu,” kata Jiya, membela diri. Dia kesal sekali, karena Nirmala terang-terangan menyalahkannya atas sesuatu yang seratus persen bukan kesalahannya. Apalagi sebenarnya dia bukan pengasuh anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Saya hanya mau tanya itu saja, kok. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thank you&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Jiya kembali ke meja kerjanya—dia adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;marketing communication&lt;/span&gt;—Dani, teman sekantor dan juga sahabatnya, sedang duduk di atas mejanya. Seringai lebar terhias di wajahnya yang bulat. Rambut hitam lurusnya menutupi sebagian dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kena omel?” tanyanya, begitu Jiya duduk di kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sindir&lt;/span&gt; lebih tepatnya,” sahutnya jengkel. Dia kembali melihat sikunya yang lecet, dan membungkuk untuk melihat kaki belakangnya yang terluka gores. “Dia bahkan tidak peduli dengan lukaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dani tertawa. Dia menyodorkan kotak P3K di sebelahnya, yang tidak dilihat Jiya sama sekali. “Beri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Betadine&lt;/span&gt; dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yap. Sebaiknya begitu,” timpal Jiya, mengembuskan napas perlahan.&lt;br /&gt;Dani baru saja akan bicara, ketika tiba-tiba terdengar Nirmala berseru dari dalam ruangannya, memanggil Jiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sore ini, aku pasti akan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sibuk&lt;/span&gt; sekali,” kata Jiya getir, membelalakan mata pada Dani, yang hanya bisa terkekeh. Dia bangkit dari kursinya, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wish me luck,&lt;/span&gt;” pintanya dan segera berjalan tertatih-tatih menuju ruangan Nirmala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja dugaan Jiya, kalau Nirmala akan menjadikannya bulan-bulanan sore itu. Dia terus menegur Jiya dengan kesalahan-kesalahan yang bisa dia temukan. Seperti berita acara untuk klien yang belum selesai dikerjakannya, gelas di meja Nirmala dan Bram yang belum sempat digantinya, beberapa email yang belum dikirimkannya, lantai ruangannya yang kotor, jendela ruangannya yang berdebu, dan hal-hal lain yang makin lama kedengaran semakin mengada-ada. Untungnya, Bram sedang rapat di luar, sehingga Jiya tidak perlu melihat wajah cemberutnya. Tapi, dia yakin kalau Nirmala pasti sudah memberitahunya. Suami istri itu memang sangat kompak dan cepat dalam hal ‘marketing dan komunikasi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantai ruangan kotor, aku yang disuruh nyapu. Ngelap kaca,... memangnya kerjaanku merangkap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;office boy?&lt;/span&gt;” gerutu Lea pada Dani yang berjalan di sebelahnya. Mereka baru saja keluar dari mall, sepulang membelikan kado ulang tahun untuk pacar Dani. “Kalau begitu pecat saja Mas Kirman, biar aku yang gantikan,” katanya lagi, sementara Dani hanya bisa terkekeh. “Dan bagaimana aku bisa menyelesaikan semua pekerjaanku, kalau aku juga harus selalu menyediakan waktu untuk ngurus anaknya? Sebenarnya aku ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nanny&lt;/span&gt;—pengasuh, atau sekretaris?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau tidak mengundurkan diri saja?” tanya Dani, “Daripada kau stres. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s been two years.&lt;/span&gt;”—Ini sudah dua tahun. “Dan mereka tetap memperlakukanmu seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku butuh uangnya,” kata Jiya lemah, memandang kosong ke arah depan. Menatap punggung orang-orang yang berjalan di depan mereka, menyusuri trotoar yang padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cari kerja lagi. Yang lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku malas. Lagipula siapa yang mau menerimaku?”&lt;br /&gt;Dani menghela napas dan menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya menghadap Jiya yang juga melakukan hal yang sama. Orang-orang yang berjalan di belakang mereka, terpaksa berbelok untuk menghindari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau terlalu meremehkan diri sendiri, Jiya,” kata Dani, menatap mata Jiya lekat-lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti kenapa pikiranmu sangat dangkal bila menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan dirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya begitu, aku hanya ingin bersikap realistis,” sanggah Jiya, seraya mengangkat bahunya. Mendongak menatap Dani yang memang lebih tinggi darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagiku kedengaran pesimis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya mengembuskan napas, sambil memutar kedua matanya ke atas, dan kembali berjalan. “Ayolah, Dan. Aku hanya lulusan SMU, meskipun aku pernah berkuliah tiga tahun yang akhirnya putus di tengah jalan. Mana ada lagi perusahaan yang mau memekerjakan secara profesional lulusan SMU seperti aku? Jujur, bekerja di perusahaan sekarang... merupakan keberuntungan untukku,” kata Jiya. “Meskipun gajinya tidak seberapa, tapi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku hidup&lt;/span&gt;. Dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I love my job!&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;No, you don’t&lt;/span&gt;,” sergah Dani cepat-cepat seraya menggelengkan kepalanya sambil merendenginya, “Kalau kau cinta pekerjaanmu, kau tidak akan mengeluh setiap pulang kerja. Kau akan ceria saat berangkat ke kantor di pagi hari. Yang aku perhatikan, ekspresimu selalu cemas, dan kau langsung panik begitu tahu bos-bos datang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;You freak out.”—Kau ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku... tidak begitu,” sangkal Jiya ragu-ragu. Dalam hati dia membenarkan kata-kata Dani. Karena memang itulah yang dia rasakan setiap hari di kantor. Pulang kerja, dia akan mengeluhkan berbagai hal mengenai pekerjaan dan sikap bosnya. Seakan topik tersebut tidak pernah ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum lagi, kau harus tiap hari menjemput Tris. Kau benar-benar ... dalam situasi berbahaya,” Dani melanjutkan komentarnya, “Karena bila terjadi apa-apa dengan anak itu, mereka akan mengacungkan telunjuk ke dirimu, menyalahkanmu. Seperti tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bukan seratus persen salahku. Aku kan hanya menjemput! Selebihnya bukan urusanku,”  bantah Jiya, mendelik jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah! Kalau begitu, kenapa kau sok jadi sukarelawan? Orang tuanya saja tidak peduli. Di kantor siapa yang peduli selain kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Jiya membulat, dia memandang Dani dengan pandangan bingung, “Kalau itu... aku hanya kasihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri dulu, Jiya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya... Tris anak kecil. Dia tidak salah kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dani menaikkan sebelah alisnya. “Rasa kasihan adalah kelemahanmu yang paling besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau membuat semua orang mudah merendahkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya mengangkat bahu, “Mungkin memang begitu,” timpalnya menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan hubunganmu dengan Sebastian?” Dani mengganti topik bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik-baik saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatannya begitu,” jawab Jiya, mendengus tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kedengarannya tidak yakin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena, ya,... aku dan dia sibuk belakangan ini dan kami jarang ketemu, hanya menelepon. Tapi...” Jiya mengangguk-anggukan kepala. “Kami baik-baik saja—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku rasa&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Aku hanya memastikan kehidupan cintamu tidak sama menyedihkannya dengan pekerjaanmu.” kata Dani terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sudah empat tahun pacaran,” kata Jiya, “Sudah sering mengalami hal-hal aneh. Jadi, yah... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;we’re okay&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dani berhenti dan memandang Jiya, “Kalau saja aku bukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gay,&lt;/span&gt; aku akan menjadikanmu pacarku.” Jiya tersenyum lebar dan menggelengkan kepala. “Kau cewek baik. Kau berhak mendapatkan yang terbaik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Thanks&lt;/span&gt;,” gumam Jiya penuh terima kasih. “Kata-katamu... berarti sekali untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dani tertawa kecil, kemudian menghela napasnya kembali, memandang ke arah jalan raya yang ramai. “Kalau begitu, bye. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;See you tomorrow&lt;/span&gt;,” katanya berpamitan. “Perlu kupanggilkan taksi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya menggeleng buru-buru, “Tidak usah. Kau lebih baik cepat pergi, biar tidak terlambat.” katanya, melempar cengir lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dani balas nyengir, lalu mengecup pipi Jiya dan melambaikan tangan, melanjutkan berjalan, sementara Jiya masih diam di tempatnya, memandangi punggung Dani yang bergerak menjauh. Kemudian terpikir olehnya untuk menelepon Sebastian. Hanya ingin mengetahui keadaannya. Sudah dua hari dia tidak berjumpa atau meneleponnya. Dan Sebastian sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo,” sapa Jiya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya, begitu Sebastian menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Halo, Jiya&lt;/span&gt;,” sahutnya dari seberang. Kelihatannya dia sedang berada di jalan raya, karena terdengar bunyi klakson mobil beberapa kali di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai. Aku hanya ingin tahu kabarmu,” kata Jiya, sambil menjulurkan kepala melihat kalau-kalau ada taksi kosong lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh. Aku baik. Hanya agak sibuk. Aku ingin menelepon tapi aku takut kau juga sibuk.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.. Kita berdua sibuk,” kata Jiya tertawa, “Aku sampai lupa meneleponmu. Sori.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak apa-apa. Aku ngerti,&lt;/span&gt;”  sahut Sebastian buru-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bisa ketemu malam ini?” tanya Jiya, seraya mengeratkan tali tas di pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ummm... Kayanya nggak,” jawab Sebastian ragu. Jiya langsung mengernyit kecewa. “Aku ada meeting dengan klien di restoran. Agak penting dan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei. Tidak apa-apa kok. Besok kalau begitu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok....? Oke,” kata Sebastian, tertawa pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok kalau begitu.” gumam Jiya senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Maaf, Jiya. Aku harus tutup teleponnya, aku sudah sampai di restoran,” Sebastian memberitahunya. Jiya menganggukan kepala dan mengatakan “Oke” dan dia segera menutup teleponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya mendengus tersenyum, dan sambil memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam tas, dia bergumam berulang-ulang, “We’re okay. We’re all okay,” sambil melihat ke arah jalan lagi, menanti taksi lewat. Hari sudah gelap dan gerimis kecil mulai turun, membuatnya agak menggigil. Namun, sejenak kemudian, dia tertegun. Matanya terpaku ke seberang jalan. Tepatnya ke seorang pria yang baru saja keluar dari mobil sedan hitam, yang terparkir di halaman sebuah restoran di seberang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya tersenyum. Hatinya selalu merasa gembira kapan pun melihat Sebastian. Dia mendadak merasa sangat rindu padanya dan berpikir untuk melihatnya sebentar. Dengan mantap dia menyeberang dan dengan setengah berlari masuk ke halaman restoran itu.&lt;br /&gt;Dia pakai jas. Pasti pertemuan penting sekali. Tidak usah masuk. Lihat saja dari kaca, gumam Jiya dalam hati, sambil terus melangkah. Gerimis semakin deras membuat tubuhnya basah. Namun dia tidak peduli. Toh, aku bawa payung, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti orang-orang yang bergerak masuk melalui pintu restoran tersebut, Jiya memlilih untuk berdiri di depan kaca besar yang dapat melihat tembus ke dalam. Dia mencari-cari sosok Sebastian dan langsung tertegun begitu menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebastian sedang berbicara dengan seorang wanita sangat cantik yang duduk tepat di sebelahnya, mengenakan gaun hitam bertali satu yang memamerkan pundaknya yang kecil dan mulus. Mereka duduk bersama beberapa orang lain yang hanya terlihat punggungnya saja, mengitari meja bundar besar dengan beberapa piring makanan berada di depannya. Sebastian dan wanita itu terlihat akrab dan bahagia. Bahu mereka bersentuhan, dan mereka saling bertatapan penuh arti, membuat kepala Jiya panas dan tubuhnya gemetar. Kakinya terasa beku, tidak bisa dirasakannya lagi. Hujan yang turun semakin deras pun tidak dirasakannya. Jiya tidak tahu apa perasaannya saat ini. Apakah marah, sedih atau apa? Yang dia lakukan hanya bisa tertegun melihat pemandangan di balik kaca di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya memejamkan kedua matanya sejenak, dan air mata meluncur turun ke pipinya. Dia menundukkan kepala, merogohkan tangan ke dalam tas, mencari telepon genggamnya. Dia menekan salah satu tombolnya sekali, kemudian menempelkannya ke telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu sambil terus memperhatikan Sebastian yang kini sedang berbicara melalui telepon genggamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo,” sapanya dengan suara agak pelan. Sementara suara orang bicara di belakangnya terdengar keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau dimana?” tanya Jiya, tanpa melepas pandangannya dari balik kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang bersama klien,” jawab Sebastian cepat-cepat. Jiya melihat dia menyembunyikan wajahnya saat mengatakan itu, “Aku sibuk. Nanti aku telepon kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku di luar. Melihatmu,” kata Jiya dingin. “Siapa wanita itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sebastian menengadahkan wajahnya ke arah kaca di mana Jiya sedang memandangnya. Wajahnya langsung pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tunggu penjelasanmu malam ini. Aku akan ada di flatku,” kata Jiya lagi, lalu mengakhiri teleponnya. Setelah itu tanpa melihat ke arah Sebastian lagi, dia memutar tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan turun lebih lebat dari sebelumnya, membuat badannya basah kuyup. Tapi dia tampaknya sudah tidak peduli lagi, dia juga tidak menghiraukan pandangan semua orang yang melihatnya berjalan menyeberangi jalan raya dan berjalan menyusuri trotoar dengan tatapan kosong, seperti layaknya mayat hidup. Dia masih bengong sampai akhirnya dia memutuskan untuk berteduh di emperan toko yang telah tutup. Bersandar di trolinya yang tertutup, dan merosot ke bawah, berjongkok sambil mengapit tasnya. Di sana dia menangis terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebastian datang saat jam di dinding ruang tamu Jiya menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit. Dan Jiya baru saja keluar dari kamar mandi dengan seluruh kulit kaki dan tangannya kisut karena terlalu lama berendam. Begitu sampai di flatnya tadi, tanpa melepas pakaiannya dulu, dia langsung berlari ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan shower, membiarkannya menggenang sampai memenuhi bath tub. Sempat tergoda untuk menenggelamkan diri, tapi cepat-cepat di tepisnya, kemudian menangis sekeras-kerasnya sampai puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satu pun yang mulai bicara. Sebastian hanya duduk termenung di sofa ruang tamu, menatap ke arah televisi yang sedang menayangkan acara entah apa, yang bahkan tidak ditontonnya sama sekali, sementara Jiya berada di dapur memasak makan malam. Kedua matanya merah dan bengkak akibat kebanyakan menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setengah jam kemudian saat Jiya berdiri bengong di depan meja dapur—dia sudah selesai memasak lima belas menit yang lalu—Sebastian berjalan perlahan ke arahnya—dia sudah melepas jas hitam yang dipakainya saat baru saja datang dan telah merenggangkan tali dasinya—kemudian berhenti tepat di depan meja makan, berdiri beberapa kaki dari tempat Jiya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisakah kita duduk? Di sini?” tanyanya, sambil mengedikkan kepala ke arah kursi makan di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau saja yang duduk. Aku lebih nyaman berdiri di sini,” sahut Jiya dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebastian mengangguk, perlahan menarik kursi, duduk dan menundukkan kepalanya, melihat lantai keramik di bawahnya. Jiya memerhatikannya, menunggunya mengatakan sesuatu. Sejenak kemudian Sebastian mendongak, menatapnya dan perlahan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku... minta maaf,” katanya, dengan rona muka amat bersalah. “Seharusnya aku mengatakan semua ini padamu sejak lama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi sudah lama?” tanya Jiya, tetap dengan nada dingin yang sama. “Sejak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enam bulan yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya mendengus tidak percaya mendengar jawaban Sebastian. Jadi dia sudah dibohonginya sejak lama. Jiya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Air mata meluncur lagi dari matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jiya. Aku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya kita sudah sepakat kalau salah satu dari kita jatuh cinta pada orang lain, kita akan jujur dan mengatakannya, agar tidak membuat salah satu dari kita sakit hati?” sela Jiya sebelum Sebastian menyelesaikan kalimatnya. “Dan kau.... udah menemui orang lain sejak setengah tahun lamanya? Dan tetap bersikap biasa padaku? Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebastian menghela nafasnya dan menundukkan kepala. Wajahnya terlihat amat pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya..... Tadinya aku iseng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iseng?” sambar Jiya tidak percaya, “Hal seperti ini, kamu anggap iseng?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya... aku iseng,” sahut Sebastian cepat. Mendongak menatap Jiya. “Aku hanya ingin merasakan bagaimana kalau aku memiliki orang lain selain dirimu. Dan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan?” kata Jiya berang, “Dan apa, Bas?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebastian menghela nafas, menunduk dan berkata pelan, “Aku jatuh cinta padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau jatuh cinta padanya karena dia mau tidur denganmu?” tanya Jiya, dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Karena kau tidak mendapatkan itu dariku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan KONYOL Jiya!” tegur Sebastian, mendelikkan mata padanya. “Aku tidak serendah itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa? Kita sudah empat tahun pacaran. Mengalami masa-masa sulit berdua. Aku mencintaimu lebih dari apa pun. Kenapa... kenapa... kau melakukan ini padaku?” isak Jiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kira... aku tidak mencintaimu?” kata Sebastian, mengerutkan dahinya. Kelihatan agak tersinggung, “Aku... sangat mencintaimu Jiya. Kau sangat berarti untukku. Kau cantik, sangat baik, tapi...” Dia berhenti sejenak. Jiya diam, menunggunya melanjutkan kata-katanya. “Tapi... aku butuh seseorang yang hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu aku tidak hidup, begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Maksudku... aku butuh seseorang yang bisa membuatku...” Sebastian mengangkat kedua tangannya, kesulitan mencari kata yang tepat. “—ceria. Yang bisa membuatku bersemangat melakukan banyak hal. Bisa berbagi semua hal denganku. Tidak selalu mengeluh dan menangis seperti... dirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Jiya menganga. Kata-kata Sebastian barusan membuat hatinya sangat perih seperti diremas dengan duri. Itukah penilaian Sebastian tentang dirinya selama ini? Dia menggambarkan Jiya sebagai sosok yang menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak selalu mengeluh dan menangis,” Jiya membantah, walaupun dengan nada tidak yakin. “Aku tidak seperti ITU.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau selalu mengeluh,” kata Sebastian tidak sabar, “Kau mengeluh tentang pekerjaanmu, bosmu. Setiap hari, setiap saat. Kau menangis. Kau tidak percaya diri. Kau selalu menuntutku untuk bersamamu selama dua puluh empat jam selama tujuh hari. Kita bahkan belum menikah Jiya,” kata Sebastian berapi-api. “Dan kau sudah membebani batinku sedemikian beratnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya tercengang. Sementara Sebastian berusaha mengendalikan dirinya, menarik napas perlahan, sambil memandang ke arah lain. Hening sesaat. Baik Jiya maupun Sebastian tidak ada yang bersuara, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lalu setelah lewat beberapa detik, Sebastian membuka mulutnya sedikit, memandang ke arah Jiya, yang masih berdiri bengong, tidak bergerak sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku... sudah memutuskan,” dia bergumam pelan. Jiya mendongak, balas memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa menjalani semua ini lagi,” lanjutnya sambil menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya merasa lantai flatnya runtuh seketika, dengan dia bergantung gamang, tidak berpijak atau pun jatuh ke bawah. Air mata meluncur turun dari kedua matanya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu, kau ingin kita putus?” tanyanya dengan suara parau.&lt;br /&gt;Sebastian mendesah, menunduk sejenak, kemudian menjawab, “Maaf, Jiya. Demi kebaikan kita berdua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya mengisak tertahan. Hatinya luar biasa sakit. Jantungnya berdetak kencang sekali, menyakiti dadanya dan kepalanya nyeri seperti diremas. Dia tidak ingin kehilangan Sebastian. Dia tidak bisa hidup tanpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Please&lt;/span&gt;, Bas. Jangan seperti ini,” Dia memohon kepada Sebastian, pelan-pelan melangkah mendekatinya. “Aku minta maaf, aku janji akan berubah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa,” kata Sebastian, memandang Jiya dengan prihatin. “Aku mencintai orang lain, Jiya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiya cepat-cepat menghampiri Sebastian, dan meraih tangannya. “Tapi... kau masih mencintaiku. Kau bilang sendiri tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memang akan selalu mencintaimu, tapi... cintaku padamu,... sudah berubah,” kata Sebastian, “Kita masih bisa berteman, Jiya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata Jiya semakin banyak mengalir, membuat wajahnya berkilat-kilat. “Aku tidak bisa hidup tanpamu, Bas. Kau tahu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bisa. Kau kuat, kau pasti bisa,” kata Sebastian menyemangati. “Kalau aku terus bersamamu, hanya akan menyakitimu, Jiya. Karena hatiku bukan untukmu lagi. Tolong mengertilah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bas, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;please...&lt;/span&gt;” kata Jiya, terisak sedih, menundukkan kepalanya, sambil mengusap tangan Sebastian. “Jangan tinggalkan aku....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jiya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;please..&lt;/span&gt;.” balas Sebastian pelan, memandangnya dengan penuh iba. “Aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku janji akan melakukan apa pun...” kata Jiya, mengangkat wajahnya untuk menatap Sebastian. “Kalau kau mau aku akan tidur denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan merendahkan aku, Jiya,” kata Sebastian, mengernyitkan alisnya. “Aku tidak ingin itu. Aku menghormatimu. Kau salah paham.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam, Jiya,” sela Sebastian, melepaskan tangannya dari genggaman Jiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berbalik, dan melangkah menuju ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bas... tunggu!” Jiya berusaha mengejar Sebastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istirahatlah, Jiya. Aku harus pergi,” kata Sebastian, tanpa memandang Jiya. Dia menyambar jasnya di atas sofa dan bergegas pergi menuju pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pintu ditutup dengan keras, dan sosok Sebastian sudah menghilang dari pandangan Jiya. Dia telah pergi. Meninggalkan kesunyian yang menyayat di ruangan itu. Jiya terpuruk di lantai, masih tidak percaya kalau Sebastian telah memutuskannya. Mengakhiri hubungan dengannya. Begitu saja. Tanpa ada ucapan selamat tinggal, pelukan atau ciuman di pipi. Terjadi begitu saja. Dan Jiya masih merasa dia akan kembali besok. Bersikap kalau tidak ada yang terjadi malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti orang gila, Jiya berulang-ulang memandang berkeliling lantai ruang tamunya. Untuk apa, dia juga tidak tahu. Hatinya sangat terluka, seperti tercabik-cabik dan hanya menyisakan setengah bagian saja. Membuatnya tubuhnya merasa hampa luar biasa. Kosong tak berjiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;br /&gt;First Chapter oleh Putu Indar Meilita&lt;br /&gt;http://indarmeilita.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-987357867653869069?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/987357867653869069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=987357867653869069' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/987357867653869069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/987357867653869069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/09/awal-dari-akhir.html' title='Awal dari Akhir'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-9029776491114001715</id><published>2009-09-17T08:48:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T01:11:57.614-07:00</updated><title type='text'>Sahabat atau Pacar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1&gt;Sahabat atau Pacar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; cintailah sahabatmu seperti mencintai kekasih mu. Karena&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Belum tentu cinta kekasih mu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebesar cinta sahabat kepada mu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENG-TUNG-TENG-TUNG!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ginny….ayo bangun udah jam 5.00 nih !!! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi, pasti aku mendengar suara mamah beserta suara panci yang selalu membuyarkan mimpi – mimpi indahku. Dengan malasnya aku membuka mataku yang masih ingin kupejamkan untuk beberapa saat. Rasanya susah untuk kutegapkan tubuhku. Seakan bantal dan guling di sekitarku menarik tubuhku untuk tetap berbaring dan terlelap kembali. Tapi, aku tidak boleh memanjakan diriku untuk tetap bermimpi. Dengan malas, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gin,Ginny ayo bangun! Jangan lupa sholat subuh!” suara mamah kembali terdengar dari balik kamarku, tapi kali ini tanpa dentingan dari suara panci gosong itu. Dari dalam kamar mandi aku pun menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Iya,iya, aku udah bangun kok! ” rasanya geregetan kalau pagi-pagi sudah mendengar panggilan-panggilan itu. Tapi itulah yang aku alami setiap pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh iya! Namaku Ginny, begitulah semua orang memanggilku. Panjangnya Ginny Safira. Aku emang paling malas bangun pagi. Jadi mamah selalu bercuap-cuap setiap subuh. Aku lumayan manis. Itu sih, kata mama papahku. Yah jelas aja aku kan anaknya! Anak kandung yang sudah susah payah dilahirkan dan dijaga hingga sebesar ini. Duh besar? Jangan besar deh, tepatnya montok! Aku enggak tinggi, tinggiku hanya 156cm, beratnya 52kg. Wah buntet ya?!! hu..hu…hu.. Pipiku embem, mataku rada sipit. Makanya teman-temanku suka ngira aku anak cina. Tapi, emang ada campuran sih. Banyak banget malahan gak hanya cina, ada padang, ada betawi, sumatera,terus... Emangnya Bhineka Tunggal Ika! Udah-udah perkenalan dirinya,cukup sekian dan terima kasih. Sekarang lebih baik aku segera mandi dan gosok gigi dari pada aku ngaca terus sambil senyum-senyum memandang wajahku ini yang cantik nan ayu tenan... hohoho.. narsis saya? Tapi, pagi ini aku cantik juga! hihihi jadi malu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Trililit,trililit,triilili……5X “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam kamar mandi aku mendengar ponselku berbunyi, dengan tergesa-gesa aku memakai handuk dan berlari meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yup, hallo…sorry lama ya? “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya, kamu lagi mandi ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya, ini baru aja selesai. Ada apa ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku Cuma mau bilang, kalau hari ini 10 bulan jadian kita ! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Oh iya, aku inget kok ! Aku seneng kita udah hampir setahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya, ga terasa ya? Yaudah , aku sayang kamu, sayaaang bangetttt!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya, aku juga sayaaaang…bangeeett muach !” Akhirnya selesai juga pembicaraan kami. Suara di ponsel tadi adalah suara Tio, lengkapnya Tio Saputra Perdana. Dia itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;My first love&lt;/span&gt;. Aku udah suka sama dia dari kecil, yah cinta monkey gitu lah! Eh pas udah ketemu gede malah cinte beneran. Jadi senengnya enggak kebayar deh sama apapun. Sebenarnya kita pacaran LDR( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Long Distance Relationship&lt;/span&gt; ), memang berat rasanya tapi itulah yang harus kami jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata dia ingat hari ini, aku kira dia tidak akan ingat.” ucapku dengan senang, sambil beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shalat enggak boleh lupa ya!&lt;/span&gt; pesan mamah selalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika sedang merapihkan buku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana buku geografi itu ya? Duh… bagaimana kalau sampai tidak kutemukan?“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan panik, aku membongkar semua isi rak buku dan terus mencari. Buku-buku yang enggak penting berterbangan dari tanganku. Wah…entah seperti apa kamarku sekarang, yang jelas udah kayak kapal pecah ! dan mamah pasti cuap-cuap nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melihat ke arah jam dinding kamarku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh my God!&lt;/span&gt; Hampir jam 07.00. Aduh… bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Ah sudahlah, mungkin terbawa oleh Pue.” ucapku dengan penuh kepanikan. Tanpa basa-basi lagi, langsung ku ambil langkah seribu, agar waktu dapat kukejar sebelum hal buruk menyusul di sekolah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“ Uh…akhirnya sampai juga di sekolah! Mudah-mudahan aku enggak telat.” kataku sambil berlari, seperti orang yang benar-benar sedang ketakutan. Dengan nafas yang terengah-engah, aku menaiki anak tangga menuju kelasku. Dengan sekuat tenaga kudorong pintu kelasku, tapi ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ah! Pue kemana anak-anak yang lain?” tanyaku sambil mengatur nafas yang masih kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tawanya yang khas dia pun menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ He..he..he..hu..hu..hu..wahahaha! Pasti lo buru-buru sampe ngos-ngosan gitu ! Ngapain juga lo buru-buru, hari ini kan guru-guru rapat, so kita masuk jam 08.00 pagi neng.. Lupa yah?” ledeknya sambil menyapu kelas yang masih kotor. Seperti biasa Pue selalu bertanggung jawab terhadap tugasnya, terutama tugas piket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ He..he..lucu ya?! Seneng lihat temen lagi sengsara gini? Tega lo! Duh, capek nih gue! Energi terbuang percuma! Kenapa sih, lo enggak bilang?! Tau gitu, mungkin sekarang gue masih santai-santai minum kopi di rumah…” jawabku dengan wajah kesal. Semua pakaianku yang tadinya rapih, sekarang menjadi lusuh . Aku terus menatap Pue dengan jengkel .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kopi? Emangnya mau ngeronda Neng?! Makanya, calling ane dulu. He..he..he..hu..hu..hu..wahahahaa!“ ucapnya lagi, dengan gaya dia yang sok asyik. Ih… males deh ngeliatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku menaruh tasku di sebelah tas Pue. Jelas saja aku duduk dengannya. Dari SMP sampai SMA ketemu terus. Sekelas pula! Sampai bosan setiap hari mendengarkan ucapannya yang wuuh ampuun deh berisik! Tapi, penampilan, Pue udah berubah lebih up to date sekarang, dulu dia terkenal cewe cupu berambut ombak dengan poni gulungnya yang menutupi jidat jenongnya, sekarang poni gulungnya udah dipermak jadi poni samping. Dan dia lebih PD sekarang dengan kriting sosisnya. Yah, penampilan boleh berubah, tapi tetep aja bawelnya enggak sembuh-sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Selamat pagi, Good Morning, Asalammualaikum, Salommmm !!! “ sapa suara cowok  yang muncul dari depan pintu kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Pagi, Morning, Walaikumsalam, salommmm too ! Baru dateng lo, Ad?” tanyaku kepada temanku yang baru saja datang , dia adalah ketua kelas di kelasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Eh... tumben miss telat udah ada di sekolah jam segini... biasanya langganan  berdiri di lapangan....” sapa Fuad , dengan nada meledek .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gak telat lagi nih?!! “ ledeknya lagi sebelum aku sempat membalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Manusia gak luput dari kesalahan kan! Gue mau tobat. khilaf! Harusnya lo dateng lebih awal dari gue, hari ini giliran lo piket kan? “  jawabku kesal. Pembelaan diri yang cukup bagus dan memojokkan Fuad, karena sengaja menghindari tugas piketnya. Lagian, bawa-bawa yang lalu. Udah puas aku dijemur di tengah lapangan. Udah gitu, disuruh pandangin tiang bendera, dengan kaki diangkat satu pula! Lama banget lagi. Dua jam Boo! Bisa-bisa nih mata kena katarak mendadak! Untungnya sih enggak, Cuma kelenyengan aja. Plus bonus bintang-bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya, tapi kan udah ada lu yang dateng pagi! So lu bisa gantiin gw piket! ” balas Fuad gak mau kalah. Dengan raut wajah kesal, aku menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gantiin jidat lo! Gue bukan hari ini kale! Udah sana cepet piket! Mau gw laporin Bu Tika? Bisa-bisa diturunin tuh jabatan ketua kelas lu, mau?! “ ujarku mengancamnya. Dengan pasrah akhirnya Fuad mengambil sapu dan membersihkan beberapa sudut ruangan di kelas. Aku tertawa puas melihatnya. Dia bangga banget bisa jadi ketua kelas, sampai-sampai nyogok anak-anak sekelas pakai coklat, biar milih dia. Ih…kayak dapet duit aja jadi ketua kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dinding kelas sudah hampir menunjukan pukul 08.00 pagi. Sebentar lagi bel. Tapi, aku heran Zie belum juga datang. Padahal dia itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Miss On time&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Gin, kemana yah si Zie? “ dengan wajah kesal pue menanyakan kehadiran Zie. Nih anak, tadi aja ketawa-ketiwi, sekarang manyun? Pasti gara-gara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hem…paling juga bentar lagi dia dateng. Kenapa, lo masih kesel sama dia? Udahlah, jangan gara-gara cowok, lo jadi dendam. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Feeling&lt;/span&gt; gue, Tata yang mulai duluan.” kataku berusaha untuk menyakinkan Pue, agar dia sadar bahwa selama ini Tata pacarnya memang PlayBoy. Tata emang Keren, cowok yang aktif di basket dan punya segudang prestasi. Tapi, Jujur aku kurang suka dengan Tata, dia itu cowok yang tebar pesona.  Akhir-akhir ini, Tata memang sering mengajak Zie jalan dan itu tanpa sepengetahuan Pue. Zie adalah sahabat aku dan Pue. cewek Manis bertubuh mungil, dia berbeda dari Pue, dia lebih kalem dan sedikit tertutup. Namun Zie selalu curhat padaku dan berkali-kali aku menasehati dia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tata itu pacar Pue, jaga jarak itu lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tetap saja ia dekat dengan Tata. Hingga akhirnya, malam minggu kemarin, aku dan Pue tidak sengaja bertemu dengan Zie di sebuah café di kemang, dan secara kasat mata aku dan Pue melihat Zie diperlakukan lebih dari seorang teman, dia diberi seikat mawar merah, yang membuat perasaan Pue membara terbakar cemburu. Dari saat itu, Zie dan Pue tak saling bicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin melihat ada pertengkaran antara kami. Bayangkan, kami sudah bersahabat tiga tahun lamanya. Masa hanya karena urusan cowok tengik itu, persahabatan ini jadi hancur?!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sambil menusuk sedotan yang ada di tangannya ke dalam sekotak susu ultra kesukaannya, Pue akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gue enggak bisa marah atau dendam sama Zie. Hanya enggak habis pikir gue sama dia. Kok tega-teganya,  dia enggak cerita-cerita sama gue tentang apa yang sudah dia jalani sama Tata dua minggu terakhir ini! Padahal dia tau, gue sayang banget sama Tata dan Tata itu pacar pertama gue Gin! Dia sama sekali enggak ada hak. Tata juga, kenapa dia jahat sama gue, padahal kita udah pacaran lumayan lama, satu tahun!? Kurang baik apa gue sama dia? kurang baik apa Gin? “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba setetes air matanya jatuh ke tanganku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Lo udah cukup baik kok. Malahan terlalu baik dan sabar buat Tata. Dia yang tidak menghargai semua ketulusan lo. Zie juga, bukannya sengaja tidak menceritakan ini. Dia takut, kalau disangka merebut Tata. Padahal, walaupun Zie pernah suka sama Tata, tapi dia menghormati lo sebagai temannya dan sekaligus  pacarnya Tata. Udah dong, jangan sedih lagi. Entar gue bantuin deh cari cowok baru buat lo. Yang jelas, lebih keren, baik, pinter, dan bisa buat lo ketawa setiap hari . Okay !” hiburku agar senyumnya merekah kembali dan tidak lama kemudian ,  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ huhuhhuuu…ummm, iya enggak sedih lagi…… Tapi janji?! lo bakal cariin cowok. Cowok yang jauh lebih baik dari Tata.” jawab Pue semangat. Lalu kami berdua pun tertawa kembali. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Huff…emang nih anak paling aneh! Tiba-tiba seneng, tiba-tiba sedih. Pusying…!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;By the way&lt;/span&gt;, bukannya hari ini 10 bulanan lo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sama si Tio kan? Cie…” godanya padaku .&lt;br /&gt;“ He..he.. inget aja! Iya, tadi pagi dia udah calling gue. Tapi biasa aja kok, dia cuma ingetin gue kalau hari ini 10 bulanan kita. “ jawabku dengan wajah memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dinding ternyata sudah menunjukan pukul 08.00 tepat. Tapi, Zie belum juga terlihat batang hidungnya. Kelas sudah mulai gaduh. Anak laki-laki selalu bermain bola botol Aqua di belakang kelas. Sedangkan yang perempuannya, sibuk bergosip ria. Walaupun masih ada beberapa anak yang masih sibuk mengotak-ngatik PR Fisika yang memang sulit untuk dikerjakan. Tapi, untungnya aku sudah mengerjakan di rumah. Yah walaupun sibantu sama papah sedikit...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar langkah kaki menuju pintu kelasku. Semua anak kembali duduk rapih di bangku mereka masing-masing namun masih sedikit gaduh. Langkah itu sangat lambat, namun cukup jelas suara ketukkan hak sepatunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Sussts…. Jangan ada yang berisik! ” seru Fuad, ketua kelas yang sama sekali tidak mencerminkan dirinya sebagai Ketua Kelas yang teladan. Mau tau kenapa? Karena dia yang selalu berisik kalau enggak ada guru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Itu mungkin Bu Tika yang datang untuk memberi tugas! ” jelasnya lagi. Spontan teman-temanku di kelas, mengunci mulut mereka dan suasana menjadi sunyi. Juga pura-pura belajar tentunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba, dari balik pintu. Sesosok perempuan bertubuh mungil, berkulit sawo matang, dengan rambut hitamnya yang dikuncir dua dan memakai sepatu pantopel, membuka pintu kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Selamat pagi teman-teman! “ sapa anak perempuan itu, yang ternyata tidak lain adalah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ WOOO…!!! Bikin takut aja lo Zie! “ sorak teman-teman sekelas, memecahkan suasana.  Zie hanya tertawa kecil dan segera duduk di bangkunya. Tapi ternyata dugaan Fuad tidak salah. Baru semenit Zie duduk, dari luar ada yang membuka pintu kelas yang tidak lain adalah Bu Tika .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Selamat pagi Anak-anak! “ sapa Bu Tika ke seluruh Siswa di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hari ini kalian akan pulang lebih awal dari biasanya !“ kembali Bu Tika menyampaikan informasi penting. Anak-anak sekelas sudah memasang wajah-wajah bahagia. Dan pastinya akan ada kehebohan setelah ini. Tapi sepertinya, Bu Tika tidak hanya datang untuk menyampaikan kabar gembira ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Nah, sekarang kalian buka PR Fisika kalian dan kamu Fuad! Kumpulkan buku teman-teman kamu di meja saya! “ tegas Bu Tika. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuh, betul kan?&lt;/span&gt; Pasti dia inget! Ucapku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Baik Bu! “ jawab Fuad, dengan wajahnya yang kebingungan. Sepertinya dia belum mengerjakan PR Fisika itu. Tanpa basa-basi lagi, Bu Tika langsung keluar dari kelas dengan wajah yang tidak pernah sama sekali berubah dari dulu. Wajahnya tidak pernah merekahkan senyuman kecil di bibirnya. Memang, Bu Tika adalah guru yang terkenal paling killer di sekolah Pramita ini. Beberapa anak yang belum mengerjakan, langsung mengambil alih buku anak-anak yang terkenal cerdas dan rajin mengerjakan tugas Fisika.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Ki, Kiki! “ teriak Mila, memanggil Kiki salah satu temanku yang memang selalu mengerjakan tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya ada apa? “ jawab Kiki, dengan wajah jengkel. Buku Fisika, yang sedang dipegang oleh Kiki, langsung dirampas oleh Jean. Salah satu teman Mila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yes! I get it&lt;/span&gt; . Pinjem bentar ya Ki. Entar langsung gw kumpulin kok buku lo! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thank’s girl…&lt;/span&gt;” rampas Mila dan Jean langsung pergi  begitu saja meninggalkan Kiki yang kesal karena dimanfaatkan oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ki! Kenapa lo diem aja? gak berkutik sedikit pun! Mereka itu seenaknya aja ngerampas buku lo!!! Kenapa dibiarin sih, orang belagu kayak gitu? Ke sekolah Cuma bisanya pamer modis doank!!! Ih amit-amit deh ! “ oceh Zie yang merepet kesal, terhadap apa yang dilakukan Kiki yang sudah jelas-jelas hanya dimanfaatkan oleh Mila and the Ganks . Dengan sorot mata yang tajam, Zie melirik Mila and the Ganks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Mila and The Ganks! Mereka itu bisa dibilang anak-anak cewe yang taunya Cuma nongkrong and menang modis. Mereka cantik-cantik. Terutama Mila. Dia berwajah indo. Hidungnya mancung, badannya tinggi menjuntai dan didukung dengan kulitnya yang putih, membuat Mila banyak ditaksir senior di sekolah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zie masih saja adu bacot dengan Mila. Kalau tidak ada yang menghentikan salah satunya, bisa-bisa mereka adu otot lagi dikelas seperti dua minggu yang lalu. Akhirnya aku menarik tangan Zie. Dari pada dia berantem dengan Genk Rese, lebih baik mengclearkan masalahnya dengan Pue. Pegel juga mata lihat temen berantem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Zie, ayo ikut gue! “ ajakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya, iya. Sabar dong, tangan gue jangan ditarik-tarik gini! Sakit tau! “ keluh Zie, dengan wajah kesal, yang dia tunjukkan padaku. Pue dengan tenang duduk di samping Zie. Zie terlihat pucat pasi dan hanya tertunduk sambil memanikan pulpen yang ada di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Nah, sekarang lo berdua duduk tenang yah di sini. Selesaikan semuanya baik-baik.” ucapku, sambil menarik kursi agar aku bisa duduk di samping Pue. Untuk beberapa menit, mereka terdiam. Membisu dan tak ada ekspresi. Hingga lima menit berlalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Zie, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa lo enggak pernah certain sama gue sebelumnya, kalau lo ada rasa sama Tata? “ tanya Pue setelah membisu selama lima menit, dengan nada sedikit kecewa kepada Zie. Aku tertegun sedikit mendengarnya, aku merasa sangat bersalah tidak jujur pada Pue.&lt;br /&gt;“ Gue enggak bisa. Gue enggak sanggup jujur sama lo tentang hal yang satu ini! “ jawab Zie, dengan wajah tertunduk.&lt;br /&gt; “ Gue udah anggep lo sebagai saudara sendiri. Gue selalu cerita perasaan gue terhadap Tata. Tapi, gue enggak nyangka Zie! “ Bersama dengan kekesalannya, nada suara Pue pun meninggi dan air matanya pun mulai jatuh di pipi. Zie hanya dapat terdiam. Merenungi kesalahanya selama ini terhadap Pue. Aku hanya dapat menenangkan Pue, agar dia berhenti menangis. Aku tidak bisa menyalahkan Zie sepenuhnya dan tidak bisa juga membela Zie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba....&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“ Hayo! Lagi ngapain nih kalian? “ suara Fuad mengagetkan kami bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Eh neng, nape nangis? kok mata lo merah gitu PU! Ini lagi, udah bikin kaget anak-anak sekelas. Sekarang malah duduk termenung di sini! Ada apa sih Gin? Ceritain aja ke gue. Apapun masalah anda, temukan solusinya bersama Mr. Fuad! He..he..he …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Udah, udah! Ngapain lagi sih Ad? Ini masalah Privacy kita. So, lo jangan ikut campur deh ! “ tegurku dengan nada agak sinis .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yasudah, kalau enggak boleh tau. Ya ndak opo-opo toh neng!  Tapi jangan pasang tampang serem situ, Gw Cuma mau minta buku Fisika kalian, Buruan mau dikumpulin enggak? “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yaudah, ambil di meja gue! Ada di situ semua. Buku gue, Zie, dan Pue. “ pintaku dengan sedikit menyuruh.hehehe habisnya Fuad bikini bete sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Uh…dasar! Udah ngusir, pake nyuruh-nyuruh segala lagi! “ keluh Fuad manyun. Dengan sebal, Fuad akhirnya berlalu. Namun tiba-tiba Zie meninggalkan aku dan Pue. Aku jadi merasa kesal sendiri, masalah belum selesai malah dia pergi. Mungkin Zie belum siap. Yah, apa boleh buat. Dari pada pusing, mending dengerin MP3 dulu, sampai  guru masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam kemudian, suara gaduh anak-anak sekelas tidak terdengar lagi. Sepi, Sunyi, hanya ada suara gesekan kapur. Pak Bimo sedang menerangkan rumus-rumus Kimia di papan tulis. Sambil terus Pak Bimo mengeluarkan jurus-jurusnya yang membuat anak-anak sekelas sangat menyukai mata pelajaran kimia, karena cara yang diberikan Pak Bimo mudah dan juga evisien. Sorotan mata anak-anak hanya terfokus pada papan tulis hitam itu yang berisi penjelasan rumus-rumus Kimia. Dan beberapa saat kemudian, tawa anak-anak sekelas memecah kembali suasana. Memang selalu begitu, pada pelajaran kimia. Pak Bimo selalu menyelipkan humor di dalam metode cara mengajar. Pelajaran Kimia  tanpa Pak Bimo mungkin akan menjadi sulit dan membosankan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jam dinding tua di kelasku itu, kini menunjukkan pukul 11.00. Aku masih duduk termenung, sambil memandangi foto Tio di Ponselku. Aku ingat, susah sekali mendapatkan fotonya. Setiap kali aku memegang ponselku, pasti dia menutupi wajahnya. Aku baru berhasil mengambil gambarnya, setelah berkejar-kejaran dengannya .Seakan-akan aku adalah fans beratnya dan dia adalah seorang bintang ternama. Aku selalu berfoto dengannya dengan wajah aneh. Katanya, berfoto dengan wajah aneh itu lebih asyik. Aku terus memandangi foto itu, aku paling senang dengan hidung Tio yang mancung dan kepalanya yang botak. Kalau dilihat-lihat wajahnya mirip Sammy, pemain film plus atlit basket itu loh. Rasanya aku rindu sekali padanya. Baru sekali ini aku merasakan betapa aku merindukan seseorang. Rasanya selalu ingin menangis bila mengingatnya, dan bahagia bila bertemu dengannya. Apakah ini yang dinamakan Cinta? Dua bulan sekali, aku baru bisa bertemu dengannya. Memang tidak terasa, kami sudah cukup lama berpacaran. Tapi aku berfikir, hubungan kami berdua lebih tepat dikatakan sahabat dari pada pacaran. Kalau boleh aku menilai, dia itu lebih pengertian dan lebih nyambung dengan ku, dibandingkan Zie dan Pue. Aku selalu takut akan kehilangan dirinya. Karena selama ini, hubungan kita baik-baik saja. Jarang ada masalah, mungkin karena faktor jarang bertemu. Tapi aku tidak lari dari segala kemungkinan apa yang dapat terjadi. Mungkin dia di sana menduakan aku atau bisa juga dia serius dengan hubungan kita ini .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Hei…teman-teman! Ada yang lagi kangen berat sama cowoknya nih ! “ suara Mila membuyarkan semua khayalanku. Aku langsung menyimpan ponsel ku ke dalam saku baju dan pergi meninggalkan tempat dudukku juga Mila yang masih berada di sampingku .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yah, kok malah pergi ? Udahan mengkhayalnya ? Ha..ha..,” suara Mila dan tawanya yang menyebalkan itu, membuat aku kesal. Tapi aku tetap diam dan berusaha tenang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Makanya, punya pacar jangan jauh-jauh donk ! Apa jangan-jangan itu Cuma pacar khayalan lo aja ? Kayak di film-film tuh! Iaw, males banget kalau jadi lo ya! “ ledek Mila dengan nadanya yang menyebalkan. Padahal aku sudah setengah membuka pintu kelas dan ingin pergi meninggalkan kelas, untuk menjauhi nenek sihir itu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Udah ngomongnya? Mil, mending lo urus diri lo sendiri dulu baru lo urusin orang lain. Ingat mulut bisa menjadi senjata bagi diri lo sendiri ! “ sindirku kesal. Setelah itu, aku langsung melangkahkan kakiku keluar kelas. Dari luar, aku melihat wajah Mila yang merah padam karena kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Angin tak bosan-bosannya berhembus di siang ini, membuat rerumputan dan pepohonan disekelilingku sibuk menari. Dan aku, kini sedang duduk di bawah pohon mangga tua yang cukup besar. Pohon ini melindungi kulitku dari teriknya matahari. Kedua bola mataku, menatap lurus ke sebuah lapangan berwarna biru. Benda bulat berwarna orange itu terus memantul dari tangan anak laki-laki itu. hampir setiap hari aku melihat anak itu bermain basket. Tubuhnya yang tinggi tegap membuatnya mudah memasuki bola basket ke dalam keranjang. Kulitnya terlihat agak gelap, bisa dibilang sawo mateng. Aku pikir dia cukup keren, ya enggak hanya aku saja sih yang bila dia keren, hampir semua cewek di sekolah ini bilang dia keren. Tapi anehnya, dia selalu bermain basket seorang diri pada setiap jam istirahat. Sekarang jam istirahat sudah lewat. Tapi dia masih saja terus bermain. Mungkin karena hari ini hampir semua jam pelajaran kosong. Tapi, aku jarang melihatnya pergi ke kantin? Setiap aku melewati kelasnya, dan melihatnya sedang serius membaca buku. Dia anak 2 IPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dorrr! “ sapa Pue mengejutkan aku dari belakang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Lagi ngelamunin siapa sih? Tio ya! “ ledeknya padaku .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Ih, enggak sih. Salah tuh ramalan lo! Mau tauuuu aja ! “ jawabku  sambil sedikit meledeknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Tuh main rahasia-rahasiaan kan? Lagi merhatiin kak Willy yah ? “ godanya berusaha merayuku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Siapa lagi yang merhatiin orang enggak jelas begitu! Tiap hari selalu bermain sama sahabat setianya gitu. Tuh bola basket udah kayak sahabat karibnya aja. Coba aja lo liat tuh ! “ jawab ku .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Loh, loh, loh katanya barusan enggak lagi merhatiin kak Willy ! Tapi kok lo tau, tiap hari dia selalu main basket ?! “ tanya Pue, dengan wajahnya yang mencurigakan itu tapi sekaligus menggelikan bagiku. Habis kanyak SINCHAN!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Udah deh, jangan mulai introgasi gue gini ! yang jelas lagi kangen nih sama Tio. Udah baikkan belum sama Zie ? “&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Belum. Tengsin ah minta maaf duluan sama dia. kan dia yang mulai, jadi dia yang harus minta maaf ke duluan ! “ jawabnya dengan raut wajah kesal. Lalu Pue langsung mengajakku kembali ke kelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepertinya susah sekali untuk mendamaikan mereka berdua. Sampai detik ini pun, mereka belum juga bertegur sapa. Dari balik jendela kelas, aku melihat langit mulai menghitam. Tampaknya hujan akan turun. Aku mengintip ke dalam tas merah muda ku. Ternyata hari ini aku tidak lupa membawa payung. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Untunglah… &lt;/span&gt;aku berkata dalam hati. Padahal aku paling pikun kalau soal payung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Teng, teng !!! “ Bel istirahat shalat akhirnya berbunyi juga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Zie, shalat yuk ! “ ajakku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sorry Gin, lagi halangan hari ini .” jawabnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Halangan? Tumben? Biasanya, jadwal menstruasi kita sama bertiga. Tapi, kok tanggal segini dia udah dapet? Hah…..ini pasti gara-gara tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Gin, udah yuk ! kita shalat duluan saja ! “&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tangan Pue tiba-tiba menarikku dan langsung mengajakku pergi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di jalan, aku hanya terdiam. Rasanya berbeda sekali. Biasanya, kita selalu bertiga kemana-mana. Ke kantin, ke koperasi, ke masjid, dan sampai-sampai ke WC pun kita bertiga. Tapi, hari ini aku berjalan hanya berdua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah selesai shalat, aku terpaksa meninggalkan Pue sendiri. Ada rapat redaksi Schonza. Itu adalah nama majalah sekolahku. Soalnya masih ada beberapa deadline yang harus diselesaikan. Aku menjadi salah satu pengurus di sana, bagian cerpen dan puisi tentunya. Aku senang di bagian ini. Apalagi kalau dapet pujian dari kepala sekolah karena cerpenku menarik. Rasanya seneng aja, bisa menghibur banyak orang lewat cerita karanganku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Gin, gimana cerpen untuk edisi bulan depan udah kelar?” tanya Renhard ketua redaksi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Sip, udah kok. Judulnya Sang Pujangga.” Jawabku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Oh.. tentang cinta? Apa yang membuat cerita itu bernilai lebih?”tanyanya lagi dengan wajah serius. Beberapa anak menyimak pertanyaan Renhard dengan serius. Namun ada juga yang masih sibuk dengan file-filenya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Hem, memang ini cerita tentang anak sekolah yang jatuh cinta. Ya sekali-kali enggak apa-apa kan ngobras tentang cinta? dari kemarin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;joke&lt;/span&gt; terus.  Di sini gue buat cerita yang simple, tapi berkesan dalam. Gue memasukkan beberapa puisi karangan gue. Dan terdapat nilai moral yang bisa kita ambil untuk pelajaran dalam cinta. Gimana? “&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Oke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;deal&lt;/span&gt; ! Gue percaya sama karya lu Gin. Periksa sekali lagi sebelum di edit Nugie. “ kata Renhard lagi. Aku mengangguk mengerti. Hem, aku harap cerpenku edisi kali ini, mendapat respon yang baik juga seperti edisi bulan lalu. Karena aku tidak ingin mengecawakan pembaca setia Schonza. Majalah SMA Pramita yang kabarnya udah terkenal sampai keluar sekolah. Hehehe…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selesai rapat, aku kembali ke kelas. Terlihat Zie dan Pue masih berjauh-jauhan. Berjalan dari sudut yang berbeda. Mereka aneh, mau damai tapi seperti itu. Rasanya kepalaku ini pusing. Aku tidak mau berlarut-larut meninggalkan masalah ini. hanya karena si Tata yang kurang didikan itu, masa persahabatan harus renggang. Enggaklah yaw! Untuk itu aku mendekati mereka berdua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Kenapa Gin? ” tanya Zie dan Pue dengan wajah bingung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Hem…gue mau ngomong penting! Duduk dulu sini deket gue! ” pintaku. Mimik wajah mereka tegang sekali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Sorry, Girls gw enggak sanggup liat kalian diem-dieman begini. Coba pikir deh kita sahabatan udah berapa lama? ” ucapku lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Kurang lebih, Tiga tahun….” jawab Pue tertunduk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Ok, tiga tahun. Zie, gue mau tanya jawab jujur! Lu juga Pue, jawab jujur ya?” Mereka berdua hanya mengangguk nurut. Dan saling berpandangan, lalu,” Zie lu enggak mau ngelanjutin hubungan TTM lo sama Tata kan? dan Pue, apakah lo masih berniat untuk balikan lagi sama Tata kalau Tata minta maaf?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Zie, gue jawab duluan Gin, walau Tata minta maaf sama gue gimana pun caranya, gue janji enggak akan balik lagi!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Zie? Gue minta maaf ya, gue khilaf. Gue enggak akan ngulangin ini lagi untuk yang ke dua kalinya. Bagaimanapun, gue lebih cinta dan sayang sama sahabat-sahabat gue. Tata enggak pantes untuk gue, dia hanya seorang penipu bermulut manis. Gue enggak mau kehilangan lu Pu….”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Indah sekali, begitu bermaknanya arti persahabatan itu. Akhirnya, aku berhasil mendamaikan mereka. kami bertiga saling berpelukan. Mungkin mata-mata di kelas ini, sedang heran melihat aku, Zie,dan Pue. Tapi biarlah, aku tak perduli. Perasaan ini yang merasakan hanya aku dan sahabatku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku senang setelah mereka berbaikan mereka langsung bersenda gurau berdua. Hingga aku dilupakan. Tapi, tidak apalah. Lalu, seketika pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang berjalan memasuki kelasku, tampaknya ia menuju ke arahku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Hai, lagi ngapain Gin? “ sapanya ramah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Um… Enggak lagi ngapa-ngapain kok. Ada apa ?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Gue ada perlu sama lo Gin. Lo ada acara pulang sekolah? Hari ini padus? “&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Enggak, hari ini padus lagi off? Memang ada perlu apa?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Udah, gue enggak bisa ngomong di sini. Yaudah, nanti gue tunggu lo di depan gerbang sekolah ya! Bye, bye! “ Dani langsung berdiri dan pergi, dengan wajah  tersenyum setelah berbicara denganku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Ada apa ya? Tumben-tumbenan dia ngajak gue jalan? “ ucapku dengan heran. Tapi, kok gue seneng ya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1st Chapter oleh Nuzula Fildzah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-9029776491114001715?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/9029776491114001715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=9029776491114001715' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/9029776491114001715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/9029776491114001715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/09/sahabat-atau-pacar.html' title='Sahabat atau Pacar'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-7931152015932636836</id><published>2009-09-02T08:26:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T08:36:44.634-07:00</updated><title type='text'>Cinta Dodod</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;GUE DIJODOHIN?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gue bukannya nggak mau dengerin omongan orangtua. Tapi kalo omongan yang kudu gue dengar dan laksanakan itu sangat bertentangan dengan hari nurani gue, sebagai orang yang jujur dan baik hati (dan tentu saja ganteng…nmuahahahaha…) gue harus jujur dong ma bokap nyokap. Gue nggak mau dong jadi anak yang pura-pura mendengarkan dan melaksanakan padahal hati gue menolak mentah-mentah. Iya kan? Bener kan? Nggak salah kan gue? Eh..ngerti nggak sih maksud gue?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalo bokap nyokap nyuruh gue tiap malam harus gosok gigi sebelum tidur itu pasti gue laksanain, kalo bokap nyokap nyuruh gue jadi anak yang baik hati, ramah tamah, suka menolong, rajin menabung dan tidak sombong, pasti gue selalu berusaha untuk melaksanakannya dengan baik. Kalo bokap nyokap nyuruh gue selalu makan empat sehat lima sempurna. Dengan senang hati juga gue laksanain. Dan lain-lain dan banyak banget yang selama ini diamanatkan ke gue..gue selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi kalo gue dijodohin sama seorang cewek alias gadis – yang entah siapa yang katanya adalah anaknya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;best friend&lt;/span&gt; nyokap sejak dulu kala itu, nggak salah kan kalo gue langsung menolak? Ya coba lo bayangin deh, masa hari gini, gue yang adalah seorang anak laki-laki, akan dijodohkan dengan seorang cewek yang jangankan gue kenal- lihat mukanya aja belum pernah sama sekali.&lt;br /&gt; "Dod, kamu jangan langsung nolak gitu kan sayang? Kamu kan belom kenal sama Alfeyra. Anaknya cuantik lho. Mama jamin kamu nggak bakal nyesel dijodohin sama dia. Mama juga nggak mungkinlah asal memilih cewek untuk kamu. Mama kan tau selera kamu.!" Mama pantang menyerah walaupun gue dari awal udah menolak dengan sepenuh hati dan jiwa raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selera? Emang indomie? "Mam, anakmu yang ganteng ini masih kelas dua SMA mam…masa udah disuruh tunangan dengan seorang gadis yang belum daku kenal. Nggak adik kan?" gue protes dong. Masa diam aja kaya kambing ompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Itu bukan masalah, anakku! Kan hanya bertunangan saja. Menikahnya mah nanti aja kalau kalian sudah lulus kuliah dan sudah dapat pekerjaan yang mapan," jawab mama dengan nada seperti di telenovela-telenovela kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nggak mau ah! Pokoknya Dodi nggak mau. Titik!" deklarasi penolakan mentah-mentah pun dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dod…ini juga demi amanat eyang kakung mu, Dod!" mama pasang muka sendu nan syahdu. Tapi ketauan boongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Iya nak..selain karena keinginan papa dan Om Ethan untuk menikahkan anak-anak, dulu yang kung juga berpesan sama." Wew…kolaborasi suami istri yang sangat kompak dalam rangka menjodohkan anaknya yang paling ganteng sedunia terjadilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Tapi kenapa harus Dodi, ma?" sekarang gue pasangan aksen ala sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kalau bukan kamu siapa lagi sayang?" aduh mam..kenapa sih nggak ngerti juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kan ada Doni!" iya kan ada Doni, abang gue yang paling narsis sedunia itu. Dia kan udah kuliah semester enam tuh, bentaran lagi nyusun skripsi. Habis itu cari kerja dah. Trus kan bisa langsung kawin sama si…siapa tadi namanya..lupa gue si Alfa gudang rabat ya? Hihihiih…..Iya ni..harusnya si Alfa gudang rabat itu dijodohin sama Doni aja, jangan ama gue. Gue kan masih di bawah umur. Huu…pasangan suami istri sekaligus bokap nyokap gue ini bisa gue laporin ke komnas perlindungan anak ni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Doni nggak cocok sama Alfeyra sayang. Cocoknya sama kamu. Kalian kan seusia." Nyokap menolak usul gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Mam, justru itu lebih baik mam. Menurut majalah-majalah yang pernah Dodi baca ni, katanya beda usia tiga sampai lima tahun antara suami dan istri malah lebih bagus untuk kelangsungan perkawinan. Kalau seusia itu malah rawan." ujar gue sok tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kata siapa? Mama yang dapat brondong beda tiga tahun sama papa mu bisa hidup bahagia nih.!" Ujar mama bangga sedikit sombong…hagegegege…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dodi baca dimajalah. Menurut survey sih seperti itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Aduh anakku…kamu baca majalah apa? Kamu baca majalah pornografi ya? Hayo ngaku!" tiba-tiba muka nyokap gue berubah cemas dan menderita. Hadu…mati gue..kok malah tiba-tiba bahas majalah sih? Nyesel gue ngomong barusan, padahal gue ngomongnya asal banget alias ngarang tuh. Nyokap gue langsung mikir yang nggak-nggak nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Mama apa-apaaan sih? Siapa juga yang baca majalah pornografi?" gue nggak terima dong difitnah begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lho itu tadi ngomong? Ngapain kamu baca majalah yang isinya tentang perkawinan dan malam pertama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nggak, Dodi baca majalah mama kok…majalah langganan mama…disitu kan ada tentang perkawinan gitu!" ujar gue asal untuk membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Oh..syukurlah!" muka nyokap gue kembali tenang dan damai. Dan…kembali ke topik semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Tadi pembicaraan kita sampai mana sayang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dodi nggak mau jadi dijodohin, Yang dijodohin ma anaknya temen mama bang Doni aja! Karena ternyata perbedaan usia pasangan dari tiga hingga lima tahun malah lebih baik untuk kelangsungan perkawinan." ujar gue mantap, tegas dan lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kata siapa? Nggak! Pokoknya cocoknya sama kamu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nggak mau! Dodi nggak mau!" gue mulai sebel neh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nggak ada salahnya kamu lihat orangnya dulu. Jangan langsung kalah sebelum perang gitu dong. Anaknya cantik banget lho, Dod!" papa malah promosi ni sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sama Doni aja!" gue pantang menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nggak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sama Doni!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sama kamu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sama Doni!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Doni kan udah punya pacar!" ujar mama kasi alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Brarti kalo Dodi udah punya pacar, Dodi juga boleh nolak dong dijodohin sama si alfa gudang rabat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Bukan..bukan itu alasannya. Doni juga mau papa jodohin sama anak nya best fren papa." Ujar papa meralat alasan mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Haa? Please deh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Udah ah! Dodi pusing!" gue kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nyokap gue manggil-manggil gue cuekin ajah. Sekali-sekali nggak pa-pa melakukan pemberontakan terhadap kehendak orang tua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan disinilah sekarang gue berada. Tiduran menatap langit malam di genteng dekat balkon kamar gue sambil nunggu Doni pulang pacaran. Gue harus curhat dan bicara sama dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dua pasangan paling mesra se RT -yang adalah bokap nyokap gue itu selepas meeting kecil-kecilan tadi seperti biasa sudah sedang bercengkerama di depan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gue liat jam tangan gue, udah jam sebelas kurang sepuluh menit. Jam malam Doni sudah hampir tiba, sebentar lagi dia pasti pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain narsis, Doni juga ternyata anak yang paling patuh dan taat terhadap orangtua. Sebagai seorang anak laki-laki yang sudah menginjak bangku kuliah dan sudah berusia hampir duapuluh satu tahun, Doni sudah mendapat jam malam lebih malam sejam dari gue. Kalo Doni boleh pulang paling lambat jam sebelas malam, gue yang masih tujuh belas tahun ini hanya dapat jatah sampe jam sepuluh malam. Itupun harus dengan alasan yang tepat dan masuk akal dan tentu saja berguna bagi masa depan gue. Contohnya  : mengerjakan tugas kelompok di rumah teman, belajar kelompok di rumah teman, bikin karya tulis kelompok di rumah teman…hihihihihi…kok semuanya sama sih ada kelompok-kelompoknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jam sebelas kurang tiga menit, Doni sudah selesai memasukkan mobil bokap yang tadi dipakainya ke dalam garasi. Setelah itu dia pasti dicegat sebentar di ruang teve. Laporan dikitlah…dan sebentar lagi dia pasti masuk ke kamarnya yang udah gue datengin sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi lampunya gue matiin, biar ntar Doni kaget trus tereak-tereak maki-maki gue trus nimpuk gue pake bantal. Entah kenapa…kekagetan dan makian Doni bisa membuat gue sedikit bahagia. Mungkin ini adalah gejala-gejala dini psikopat. Huakakkakaka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Detik-detik terus berlalu, detak jam dinding seakan berkejaran dengan desahan semilir angin yang menyapa wajahku. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup lolongan serigala malam yang kelaparan (kalo yang ini gue boong..). Gue masih tetap menanti dalam kegelapan ini. Dalam gelap yang membuat gue hanya bisa menatap hitam pekat..dalam…apa-apaan sih gue? Kaya cerita horor romantis aje? .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pintu terbuka..Pasti Doni!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kok lampu kamar gue mati sih?" terdengar suaranya yang nggak merdu sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perasaan tadi nggak gue matiin de…" diam….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi kok lampunya belum dinyalain juga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dodoooooooooddd!! Tampakkan wujudmu!" tereak Doni lantang dan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kampret! Kok dia tau sih gue lagi tiduran di tempat tidur dia yang berseprai Spiderman ini (hihiih…penting nggak sih gue kasi seprainya gambar spiderman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gue diem. Trus pelan-pelan langsung turun dari tempat tidur dan langsung tiduran di lantai yang beralas karpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Pasti si Dodod yang iseng nih matiin lampu kamar gue. Trus mau ngagetin gue. Dasar nggak kreatif! Ngagetin orang kok pake cara yang sama. Ya nggak kaget lagi lah"…dan..Tring….! Kegelapan pun musnah berganti terang yang menyinari setiap sudut kamar.  Gue nutup mulut pake tangan untuk nahan ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pintu ditutup, gue ngintip dari balik tempat tidur sebelah sini. Doni buka jaketnya. Ngeluarin hape dari saku jaketnya, trus duduk di pinggir tempat tidur sebelah situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pelan-pelan gue naik ke tempat tidurnya. Trus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gue pegang wajahnya Doni dari arah belakang dan, "Gimana malam minggunya, bhang?" ujar gue dengan gaya sok horror dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Hah?" Doni kaget setengah mampus. Sebelum akhirnya tereak…"Dooodooooooooooddd!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Berhasil! Berhasil!!" gue tereak-tereak kesenangan. Sungguh, gue sangat bahagia sekali. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adegan selanjutnya adalah aksi balas dendam. Gue pasrah pada pembalasan Doni. Dia tuh ga kreatif, balas dendamnya paling nimpuk gue pake bantal. Atau niban gue sampe gue ga bisa napas dan hampir mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan benar…terjadilah seperti itu. Lembu kurus kurang gizi itu kini melakukan aksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ampun bang..ampun bang…gue hampir mati nih bang…!" ujar gue. Doni lagi niban gue nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Janji nggak ngagetin gue lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Jaaaan…ji…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Doni pun menyelesaikan aksi tibannya. Dan lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sekarang lo bikinin gue kopi! Yang enak ya…!" dengan nada sok raja gitu Doni memerintah gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gue nggak ngomong apa-apa trus langsung berdiri dan berjalan keluar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Jangan lama-lama dan awas lo kalo nggak balik-balik!" ancam Doni. Soalnya berdasarkan pengalaman. Kalo gue dapet aksi balas dendam disuruh bikinin kopi atau ngambil apa, gue pasti nggak balik lagi. Gue langsung masuk kamar gue, menguncinya dan walaupun Doni tereak-tereak ampe mo mati gue nggak perduli. Hagegege…..benar-benar adik yang nakal yak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi berhubung kali ini gue emang ada kepentingan ma Doni, ya pastilah gue akan segera kembali dengan segelas kopi untuk kakanda Doni tercinta. Dan… "Baik Tuan!" ujar gue sebelum keluar dari kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang sudah usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hukuman untuk membuatkan Doni kopi juga udah gue laksanakan dengan khidmat dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ude, paan lagi?" Doni ngeliatin gue heran karena ga pergi-pergi dari kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gue nggak jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lo mau tidur sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Gue mau curhat!" ujar gue setengah tereak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Curhat apa? Lo gebetin siapa lagi? Nggak berani nembak trus di tembak orang duluan?" Doni sok tau deh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sok tau lo! Sini!" gue narik dia keluar dari kamar dan membawanya menuju balkon kamar gue. Trus lompat pagar Balkon dan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Disini sekarang kita berada..ditempat favorit..di atas genteng..tempat sering terjadinya curhat curhit antara abang dan adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lo DIJODOHIN?" muka Doni jelek banget pas ngomong lo dijodohin? Bibirnya ngangkat keatas, matanya menyipit, keningnya berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Iye bang. Gue juga heran dan kaget sekali!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Masa sih mama papa tega-teganya jodohin lo?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Iya bang. Karena itulah gue jadi semakin yakin. Jangan-jangan gue ini benar-benar anak pungut. Kenapa perlakuan bokap nyokap sama gue tu beda banget," ujar gue asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Iya, gue juga semakin yakin dan mengerti kenapa lo nggak seganteng gue yang ganteng banget ini. Jadi benarlah dan nyatalah sudah kalo lo emang benar-benar anak pungut. Berarti gue nggak salah selama ini sering nyuruh-nyuruh lo. Sekarang…cepet pijiitin gue! Atau gue usir lo sekarang juga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sini gue pijitin!" gue bukannya mijit Doni tapi nyekek lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Woiii..percobaan pembunuhan nih!" Doni megangin tangan gue yang nyekek lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Wakakakakaakaka..!" gue ketawa-ketawa kaya monster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sakit, sarap!!" ujar Doni setelah gue ngelepas cekikan gue yang sebenarnya sih nggak akan menyakitkan buat Doni. Dasar dianya aja yang suka mendramatisir keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Gitu aja kok sakit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lo tu udah gila ya kayanya. Kenapa sih senang banget menganiaya gue? Katakan salahku padamu adik pungutku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Hadu gue bete neh…!" ingat rencana perjodohan gue langsung bikin gue bete dan tidak memperdulikan pertanyaan Doni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lo tuh cemen banget sih? Gitu aja kok bete?" ujar Doni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Gimana ngga bete? Coba deh kalo lo yang dijodohin kaya gue!" gue nggak terima dilecehin gini sama Doni. Rencana perjodohan itu adalah merupakan ancaman serius buat gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ya kalo emang nggak mau dijodohin lo tinggal tinggal ngomong aja kalo lo nggak mau!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Gue udah ngomong! Tapi nggak ngaruh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Eh, nyet. Kaya gitu tuh nggak perlu dipusingin. Nyantai aja…!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nyantai gimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kalo lo pusing dan bete, kan lo sendiri yang rugi. Kalo menurut gue ya…lo coba aja dulu turutin omongan papa dan mama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Maksud lo?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lo tau nggak, kadang-kadang tuh kita ngeliat dan merasa sesuatu itu berat banget dan bakal jadi masalah besar bagi kita. Padahal pas kita udah nyoba jalanin ternyata nggak seberat yang kita kira dan walaupun nggak enak, tetap aja kita bisa enjoy dan mengambil nilai-nilai baiknya..!" waaa…bijaksana juga nih abang gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Hubungannya apa sama jodoh-jodohan?" gue kok jadi bego begini ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lo kelas berapa sih sekarang? Masa gitu aja nggak ngerti? Udah dikasi rumusnya masa lo nggak bisa masukin ke masalah jodoh-jodohan lo. Maksud gue, lo turutin aja dulu omongan bokap nyokap. Toh lo juga nggak langsung disuruh merit kan? Dan satu hal lagi..belum tentu juga ceweknya mau dijodohin sama lo. Huakakakkakak…..!" abis itu Doni ketawa kencang banget sampe menggelegar dan menggetarkan tembok rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ya pasti maulah sama gue yang ganteng dan baik hati ini, ce….."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Omongan gue harus kepotong karena…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "DONI!!! DODI!!!! MASWUUUKKK!!!!! INI UDAH JAM BERAFAAAAAAA?" tiba-tiba saja terdengar teriakan dari bawah sana. Dan tampaklah nyokap gue yang udah pake daster tidur berdiri berkacak pinggang dengan mata melotot ke arah gue dan Doni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gue sama Doni saling pandang sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "MASUUUUKK!!" mata nyokap gue semakin melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Iya ma!" tereak Doni sambil narik tangan gue untuk berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Mama rese neh!" ujar gue sambil ngikutin Doni kembali masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ude jam berape ne? Mampus gue kan janji nelpon Yessa," Doni langsung lari keluar dari kamar gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nat, curhat gue kan belom selese!" tereak gue berharap dia kembali ke kamar gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Masa depan gue lebih penting adikku!" teriak Doni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nat…masa lo lebih mentingin Yessa sih daripada gue adik lo ini? Tega lo ama gueeee!" gue teriak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Apaan sih lo? Kenapa lagi sih?" Doni yang emang nggak tegaan ama adiknya yang ganteng ini balik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kan curhat gue belum selese."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kan tadi udah selese ngebahasnya. Elo jalani aja dulu, jangan dipikir ribet. Ambil enaknya aja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ambil enaknya dimana? Emang ada enaknya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ya nggak usah dipikirin dulu. Belum juga ketemu sama anaknya. Belum tentu juga kan dia mau dijodohin sama lo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kalo ternyata dia ngebet banget ama gue gimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ya kawin aja langsung!" trus Doni ketawa ngakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Tega lo!" muka gue tambah jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ya habis gimana lagi dong? Udah ah lo belum apa-apa udah dipikirin banget gitu. Lo banyak banyak berdoa aja semoga cewek yang dijodohin ama lo nggak sudi dijodohin sama lo. Trus lo ajarin dia, kalo bokap nyokapnya dia maksa harus dijodohin sama lo, lo suruh aja dia ngancam orangtua. Pake ancaman nyebur ke kolam kek, atau minum apa kek…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ngaco lo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Atau lo cari pacar aja. Siapa tau kalo lo udah punya pacar, rencana perjodohan lo langsung dibatalin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Cari pacar dimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Di pasar. Pake nanya lagi, udah ah..gue mau nelpon cewek gue dulu. Tadi gue janji nyampe rumah gue mau nelpon dia. Udah telat banget nih gagara elo. Kalo dia ngambek elo yang gue salahin!" Doni pun jalan keluar dari kamar gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gue tutup pintu kamar gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ah…gue juga harus punya pacar kali ya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1st Chapter oleh Yessi Greena WP&lt;br /&gt;&lt;a href="http://yessigreena.wordpress.com"&gt;http://yessigreena.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-7931152015932636836?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/7931152015932636836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=7931152015932636836' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/7931152015932636836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/7931152015932636836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/09/cinta-dodod.html' title='Cinta Dodod'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-7905275547549214595</id><published>2009-08-30T23:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T23:47:25.967-07:00</updated><title type='text'>Pertama Kalinya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAB 1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama Kalinya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEA mendesah, menatap layar televisi di depannya dengan pandangan penuh damba. Terpukau menatap wajah seorang pria yang sedang tersenyum di balik layar kaca. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, dia bertanya-tanya, bagaimana pria setampan Soma Saidan bisa lahir ke dunia? Wajahnya benar-benar seperti malaikat. Begitu sempurna, tak bercela. Dengan memandangnya saja, dia merasa sedang berada di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lea...&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu suara Kenneth, manajernya, yang sudah berkali-kali memanggilnya, untuk segera bersiap-siap berangkat ke acara pemberian penghargaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;award&lt;/span&gt;), yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenneth sendiri sudah sangat rapi. Rambutnya yang hitam kelihatan basah, disisir ke belakang. Dia, seperti biasanya, kelihatan amat tampan. Apalagi dengan setelan hitam Armani- yang dikenakannya sekarang. Dia benar-benar sangat sempurna. Tapi, menurut Lea, tanpa mengenakan jas pun Kenneth sudah cakep dari sananya. Dia tetap akan kelihatan menawan, bahkan kalau memakai kaus compang-camping sekali pun. Wajahnya yang mirip Ari Wibowo saat muda, tidak menjamin dia bisa kelihatan jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kid&lt;/span&gt;, kalau kita tidak berangkat sekarang, dijamin kita pasti terlambat sampai di sana.” Kenneth memperingatkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kid&lt;/span&gt;—Nak’ adalah panggilannya pada Lea, yang usianya memang sepuluh tahun di bawahnya.&lt;br /&gt;Lea bergeming, menatap televisi di ruang tamu, dengan kedua tangan menopang dagunya di atas meja. Tidak ada suatu pun yang bisa mengganggunya, saat dia sedang menonton aktor idolanya, Soma Saidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenneth mendesah, mengeluarkan decak jengkel. Dengan tak sabar, dia menyambar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;remote&lt;/span&gt; yang tergeletak di atas meja tamu, dan mematikan televisi di depannya. Menurutnya, itu tindakan paling tepat untuk membuat Lea berhenti menonton, dan bersiap-siap berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea ganti berdecak. Tubuhnya langsung ditegakkan, dan kepalanya mendongak ke arah Kenneth. Kedua matanya mendelik tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sih kau menggangguku?” katanya memberengut. Matanya yang besar mengejap-ngejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenneth memasukkan satu tangannya ke saku celana hitamnya. Mengembuskan napas pelan, dan menatap Lea yang masih memelototinya dengan kepala dimiringkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu kau sangat menyukai Soma, sehingga membuatmu agak... aneh,” kata Kenneth, menyindir. Lea menyipitkan matanya. “Tapi, apa dia juga harus membuatmu telat datang ke acara MTV” (dia mengangkat tangan kirinya, memandang arlojinya) “kira-kira dua jam lagi?” katanya, sambil menatap Lea dengan kedua alisnya terangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea terperanjat, dengan panik bergegas bangun dari lantai. “Sori!” serunya, seraya menyambar sepatu hitamnya dan memakainya cepat-cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea sudah didandani sangat cantik oleh Hera, hairdresser dari SATU Entertainment, yang sudah lebih dulu berangkat ke lokasi acara, untuk mempersiapkan kostumnya di sana; dia mengenakan gaun hitam berbentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cube&lt;/span&gt; yang memperlihatkan bagian pundaknya yang kecil mulus. Bagian roknya, agak mengembang, dengan bahan transparan bertumpuk. Membuatnya kelihatan sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imut&lt;/span&gt;. Rambutnya ikal panjangnya, yang hitam kemerahan, terjurai di punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenneth bersedekap, memerhatikan Lea yang susah payah memasukkan kakinya ke dalam sepatu hak tingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi,” kata Kenneth, “apa kita bisa berangkat sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala saja. Dia terlalu tegang untuk bicara, meski hanya ‘ya’ atau ‘tidak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, berangkat kalau begitu,” kata Kenneth, berjalan lebih dulu menuju pintu  apartmentnya. Sementara Lea masih berdiri di ruang tamu, sambil menenangkan dirinya selama beberapa waktu. Dia baru berjalan ke pintu, setelah Kenneth berteriak memanggilnya dengan suara jengkel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah satu harian ini Lea diliputi ketegangan yang luar biasa. Jantungnya sudah berdegup kencang mulai dari dia bangun tidur pagi ini. Perutnya mual, kepalanya pusing, membuatnya jadi tidak bersemangat melakukan apa pun. Dia juga mudah sekali kaget, karena terlalu banyak bengongnya. Tingkat kegugupannya semakin meningkat pada sore hari, menjelang penampilan perdananya bersama Brody, yang akan disiarkan langsung di acara ‘MTV I&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndonesia Television Award&lt;/span&gt;’ yang akan berlangsung malam ini. Rasa tegangnya itu, agak terobati saat dia melihat wajah Soma Saidan, aktor Bollywood tampan kesayangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa mereka akan... menyukai kami, Ken?” tanya Lea pada Kenneth yang duduk di sebelahnya, di dalam mobil Mercedez yang mengantarkan mereka. “Aku takut sekali mereka melempari aku dan Brody dengan telur...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau tidak mau mereka melemparimu dengan telur. Menarilah dengan baik,” kata Kenneth, tidak berusaha menghibur Lea sama sekali. “Jangan terlalu tegang, Lea. Itu tidak baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea mencibir. Bagaimana mungkin dia tidak tegang? Sejak serial drama “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Wedding’s Song For Christian&lt;/span&gt;”—Lagu Pernikahan Untuk Christian yang dibintanginya bersama Brody ditayangkan satu setengah bulan lalu di salah satu stasiun televisi swasta, dan langsung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;booming&lt;/span&gt;, ini adalah kali pertama mereka berdua muncul di depan publik (para penonton setia “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;”, penggemar, bahkan—yang paling dikhawatirkan Lea—selebriti tanah air). Menunjukkan wajah asli mereka, setelah membuat penasaran dan kesal para pengejar berita, yang berlomba-lomba mendapatkan foto mereka secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh pemeran “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;”, mulai dari Lea dan Brody (yang merupakan pemeran utama serial drama tersebut), sampai dengan Din dan Anggita, yang adalah pemeran pendukung utama, memang tidak diperkenankan oleh manajemen SATU Entertainment, rumah produksi baru—dan juga manajemen artis—yang menggarap pengerjaan serial drama tersebut, untuk mengekspos diri di depan publik, terutama di depan kamera wartawan gosip, demi membangun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;image&lt;/span&gt; eksklusif, dan juga menjaga agar mereka tak tersentuh oleh gosip-gosip aneh. Selain itu, SATU juga tidak memperbolehkan mereka semua, untuk menghadiri pesta-pesta selebriti atau acara lainnya tanpa persetujuan resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini Lea, Brody, Din atau Anggita tidak keberatan dengan semua larangan dan peraturan tersebut. Mereka toh tidak terlalu gila popularitas. Apalagi, tanpa harus sibuk berkoar-koar mempromosikan diri, pundi-pundi uang terus mengalir masuk ke rekening mereka di Bank (keempat-empatnya telah dikontrak oleh beberapa produk pakaian ternama selama setahun penuh), dan publik ternyata menyukai mereka yang seperti itu. Kemisteriusan para pemeran “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;”, membuat mereka semakin penasaran. Dan rasa penasaran itu amat menguntungkan. Selain membuat Lea, Brody, Din, dan Anggita semakin ngetop, situs khusus SATU Entertainment juga jadi kebanjiran pengunjung. Pekerjaan pun berdatangan ke rumah produksi kecil tersebut, menyebabkan mereka menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Production House&lt;/span&gt; paling populer hanya dalam waktu satu setengah bulan, setelah “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;” tayang. Mengalahkan rumah produksi lain, yang telah ada sebelum mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang, strategi mereka luar biasa sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari penyebutannya saja, SATU Entertainment dengan tegas menyatakan kalau “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;’ bukanlah sinetron, melainkan serial drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episodenya juga tidak sebanyak sinetron, yang terdiri dari beratus-ratus episode, yang  berlangsung setahun penuh—bahkan lebih dari itu, melainkan hanya terdiri dari tiga puluh episode dan habis tayang kira-kira hanya dalam waktu tujuh bulan saja. Ceritanya juga sangat berbeda. Tidak berbelit-belit; berisi tangis dan penderitaan yang berlebihan, melainkan lebih santai—tapi tetap serius, dan romantis. Tokoh yang ditampilkan pun tidak banyak. Hanya bercerita seputar empat tokoh utama saja, agar tidak melenceng dari alur cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya ceritanya yang menarik, lagu soundtrack-nya—terdiri dari lima lagu, yang diciptakan sendiri oleh penata musik SATU Entertainment—juga sangat diminati masyarakat. Dan saat ini paling banyak diunduh dari internet, serta dijadikan nada sambung pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar sangat berbeda dengan sinetron, yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soundtrack&lt;/span&gt;-nya biasanya diambil dari lagu-lagu milik grup band atau penyanyi yang sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;booming&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seperti yang telah diketahui semua orang, dampak positif dari suatu hal akan selalu diiringi oleh dampak negatif. Dan dampak negatif itu, sayangnya memilih untuk menghampiri Lea—dan juga Brody, yang akibat ketenaran dadakannya, diharuskan menampilkan sebuah pertunjukkan yang menurut semua tim kreatif SATU Entertaiment, akan  menjadi pertunjukkan paling memukau dan fenomenal yang pernah ada—Lea berpikir, tentu saja akan amat sangat fenomenal kalau dia dan Brody dilempari telur di atas panggung nanti. Kalau saja tidak karena rasa hormat luar biasa pada semua tim SATU Entertaiment, dia pasti akan menolak mentah-mentah permintaan mereka untuk melakukan pertunjukkan tidak meyakinkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pun “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;” tidak dinominasikan menjadi salah satu penerima &lt;span style="font-style: italic;"&gt;award&lt;/span&gt;, karena masih terbilang baru, namun karena kesuksesan serial tersebut, membuat pihak MTV secara khusus mengundang semua tokoh utamanya untuk hadir ke acara penghargaan itu. Mereka juga meminta Lea dan Brody, untuk mempersembahkan sebuah pertunjukkan khusus, yang bisa dinikmati oleh para undangan lain dan juga pemirsa televisi. Permintaan itu langsung disetujui oleh pihak SATU Entertainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan inilah yang akhirnya membuat Lea dan Brody, harus tersiksa selama satu bulan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya semuanya setuju kalau Lea dan Brody akan bernyanyi saja. Tapi tiba-tiba saja, salah seorang tim kreatif rumah produksi—menurut Lea terlalu kreatif sampai hilang akal—mengusulkan agar Lea dan Brody, untuk menampilkan sebuah pertunjukkan yang lain dari yang lain. Dan dia mengusulkan keduanya untuk menyanyi sekaligus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;menari.&lt;/span&gt; Dan ternyata banyak yang mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun agak keberatan, tapi karena di desak oleh banyak pihak, termasuk Kenneth, Lea dan Brody akhirnya setuju dan santai-santai saja. Sampai akhirnya, orang itu menyebutkan lagu dan tarian apa yang harus mereka bawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian harus menyanyikan lagu dari Chrisye. Ada satu yang cocok banget. Musiknya sangat etnik-modern. Keren banget—kalau ditarikan. Ini akan... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spektakuler&lt;/span&gt; sekali. Yang lain kan sudah sering nari hip-hop, tapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalian&lt;/span&gt;... Kalian akan membuat semua orang tersenyum, dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ethnic-cathcy-traditional-modern&lt;/span&gt;. Kalian bisa pakai batik, dan menarikan tarian tradisional. Kalian akan jadi yang pertama,” kata staf tim kreatif tersebut yang dipanggil dengan sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Iting&lt;/span&gt;, yang rambutnya memang keriting—Lea berencana menggundulinya saja setelah itu—dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi usulnya disetujui dan mendapatkan dukungan besar, kecuali dari Lea dan Brody—tentu saja, yang sama sekali tidak bisa menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi selama dua bulan penuh, di bawah instruksi koreografer wanita pendatang baru, bernama Farah yang galak luar biasa—yang tampaknya sanggup menelan Lea dan Brody bulat-bulat bila mereka melakukan kesalahan, mereka berdua dengan sangat serius berlatih menari dan juga menyanyi, walaupun tulang sudah hampir remuk, dan suara berubah serak seperti burung gagak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian pengiring yang harus mereka bawakan campuran antara gerakan tarian  Jawa-Bali-Jaipong yang dipadu dengan gerakan tari modern. Kedengaran agak sulit memang, tapi ternyata, setelah berkali-kali latihan dan ditarikan, menyenangkan juga. Gerakannya juga tidak susah-susah amat, sehingga Brody tidak kesulitan mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farah juga meminta, supaya Lea dan Brody, menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai dengan lagu itu. Agar pertunjukannya lebih teatrikal, seperti tari India, gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang agak sulit, karena menambah PR (Pekerjaan Rumah) mereka berdua. Dan Farah tidak mau tahu, meskipun Lea atau Brody mimisan sekali pun, mengatakan kalau mereka tidak bisa melakukan itu. Membuat Lea mengatasinya, dengan sering nonton film India, hanya untuk mencari referensi ‘mimik’ dan ekspresi yang bagus. Dan dari menonton itulah, akhirnya membuatnya lebih mengenal Soma Saidan. Aktor India asal Indonesia, yang telah tujuh tahun aktif berakting di industri perfilman Bollywood. Dia juga mendapatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Best Promising Actor &lt;/span&gt;tahun lalu, di festival film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cannes&lt;/span&gt;, Perancis dalam filmnya yang berjudul ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai Zindegi&lt;/span&gt; – Oh Hidup’. Sampai saat ini, Soma tinggal di New Delhi, India. Dan tampaknya cukup dia cukup disegani di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di Indonesia, meskipun banyak yang menyebutnya tidak nasionalis, banyak wanita mengidolakannya—termasuk Lea. Di mata mereka, Soma bagaikan dewa yang turun dari langit. Wajahnya yang luar biasa tampan, diimbangi dengan tubuhnya yang luar biasa seksi; tinggi dan atletis. Bola matanya hijau (jelas dia menggunakan lensa kontak), dengan alis hitam-tebal yang melengkung sempurna. Rambutnya gelap dan berkilauan, tebal dan lurus. Dibiarkan agak panjang, dan selalu ditata acak-acakan—rambut bagian depannya selalu mencuat ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang membicarakannya. Semua wartawan di sini mengejar beritanya. Meskipun dia berada di belahan bumi lain yang beratus-ratus mil jauhnya dari tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melihatnya dengan saksama, Lea sebetulnya bertanya-tanya, apa sih kelebihan cowok ini, sampai semua cewek tergila-gila? Tapi sekarang dia juga jadi sangat menggemarinya. Dan cukup bahagia, dengan hanya melihat wajahnya melalui layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya... kami dalam perjalanan. Tenang saja, okay,” kata Kenneth jengkel pada Brody, yang sudah kesekian kalinya menelepon ke ponselnya, bertanya dimana posisi mereka sekarang—Lea dan Brody harus berada dalam satu mobil, saat menginjak karpet merah nanti; formalitas biasa, agar wartawan dapat mengabadikan foto mereka dengan mudah—dan memberitahu Kenneth kalau dia sudah berada di hotel tempat mereka berjanji untuk bertemu, yang berada tidak jauh dari gedung tempat acara diadakan. “Kami baru akan masuk ke halaman hotel,” kata Kenneth lagi, sambil melongokkan kepala, melihat melalui kaca depan. Sementara Lea, hanya diam, menggoyang-goyangkan kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea sudah tidak bisa tenang sekarang. Terus-terusan berpikir mengenai kesuksesan penampilannya? Takut, kalau aksi panggungnya dan Brody, malah membuat penonton kecewa. Dan akhirnya, menertawakannya. Dia juga bertanya-tanya, apakah semua aktor dan aktris lainnya akan menyukainya dan juga Brody, mengingat mereka berdua adalah orang-orang yang tidak mempunyai pengalaman akting atau pernah bekerja di industri hiburan sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari sejarahnya, semua orang yang memerankan tokoh di dalam serial &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding Song&lt;/span&gt;, mulai dari Lea, Brody, Din, kecuali Anggita, memang tidak ada yang pernah berkecimpung di dunia glamor itu sedikit pun. Buta sama sekali. Bahkan sampai sekarang, keempatnya masih seperti merasa bermimpi bisa berakting di depan kamera; apalagi telah menyelesaikan syuting serial &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding Song&lt;/span&gt; sejak enam bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tim kreatif SATU Entertainment yang menggagas konsepnya, hal tersebut akan membuat kemasan serial drama ini menjadi lebih segar—punya cita rasa berbeda. Karena itu, mereka memilih untuk mencari orang-orang biasa, dari kehidupan biasa, yang memiliki penampilan dan kualitas akting yang luar biasa di luar industri hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea sendiri (yang merasa akting dan penampilannya biasa-biasa saja), tadinya hanya seorang gadis biasa, yang bekerja sebagai sekretaris di perusahaan garmen kecil di daerah Kuta, Bali. Dia direkrut oleh Kenneth—yang sekarang menjadi manajernya dan Brody—tanpa sengaja, saat sedang duduk sendirian di pantai Kuta menjelang matahari terbenam. Tanpa berpikir dulu, Lea langsung menolak. Mengira Kenneth adalah laki-laki cabul yang mengajaknya untuk bermain di film porno. Apalagi, Kenneth langsung mendatanginya tiba-tiba saja, dan tanpa basa-basi lebih dulu langsung mencecarnya dengan pertanyaan, “apa kau mau main di serial drama?”. Untungnya, Kenneth mengabaikan penolakannya. Dan dengan serius menjelaskan maksudnya. Tidak membiarkannya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Brody, selain tampan (berkulit coklat, rambut coklat, mata coklat, (semuanya coklat) dan berwajah agak bengal) dia adalah dokter umum di sebuah rumah sakit di Jakarta – Lea mengira dia sedang bergurau waktu dia memberitahu profesinya sebagai seorang Dokter. T&lt;span style="font-style: italic;"&gt;idak kelihatan sih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sedang bertugas malam, dia tiba-tiba kedatangan pasien pria yang baru mengalami kecelakaan motor. Tangannya terluka cukup parah, dan mengeluarkan banyak darah, sehingga mengharuskannya untuk menjahitnya segera. Angga, yang adalah sutradara ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Wedding’s Song For Christian&lt;/span&gt;’, sedang dalam pengaruh obat bius dan dalam kondisi mabuk, saat tiba-tiba menawarkan Brody, yang sedang berkonsentrasi menjahit lukanya, peran ‘Kenan’, tokoh utama di serial “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;”. Sama seperti Lea, dia juga langsung menolak. Tidak mengindahkan tawarannya. Dia baru menanggapi dengan serius, waktu Angga datang lagi dua hari kemudian, dan secara resmi memperkenalkan diri, kemudian menawarkan peran tersebut sekali lagi pada Brody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana aku bisa percaya kata-kata orang mabuk?” kata Brody, saat bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Din (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oh, Din&lt;/span&gt;), yang memerankan tokoh Christian, selalu mengingatkan Lea pada Tio Pakusodewo saat muda. Begitu menarik, tenang dan dewasa—semua orang di set “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;” menyebutnya Kapon—diambil dari nama ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al Capone’&lt;/span&gt;, karena sikap dinginnya. Meskipun sudah berusia tiga puluh tiga tahun dan sudah menikah, penampilannya luar biasa oke. (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan seksi, menurut Lea)  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Din adalah seorang manajer di salah satu Bank ternama di Jakarta. Temannya, Andara, yang adalah direktur SATU Entertainment, yang menawarinya peran ‘Christian’. Yang langsung diterimanya dengan alasan coba-coba. Namun, dia langsung menolak berakting lagi setelah syuting “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;” selesai. Dengan alasan, ingin berkonsentrasi pada pekerjaannya—padahal semua orang tahu, kalau Anya, istrinya, yang melarangnya (dia selalu menemani Din saat syuting), setelah menyaksikan syuting adegan ciuman bibirnya dengan Lea, yang lumayan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggita—Lea tidak pernah ingin berdiri berlama-lama di sebelahnya, karena merasa tidak selevel—tidak ada kata apa pun lagi, yang bisa menggambarkan dirinya, selain kata ‘cantik’. Dia selalu terlihat memukau, kapan pun dilihat (bahkan saat sedang cemberut). Di “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wedding’s Song&lt;/span&gt;”, dia berperan sebagai Tasya, tunangan Christian, yang digambarkan amat cantik, berkulit putih pualam, berambut coklat lurus berkilau, dan bermata biru. Dan penampilannya, ya, memang asli seperti itu. Dia mendapatkan mata birunya dari ibunya yang asli Jerman. Tapi, meskipun mukanya ‘bule’, cara bicara dan sikapnya sangat Indonesia, karena dia lahir di Jakarta. Dan selama dua puluh tiga tahun tetap di Jakarta. Dia satu-satunya yang punya latar belakang showbiz, karena dia adalah seorang model majalah papan atas. Meskipun namanya tidak terlalu dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti Din, Anggita juga tidak ingin berakting lagi. Karena dia ingin lebih fokus sebagai model dan peragawati. Syuting “Wedding’s Song” di Bali enam bulan lalu, membuatnya tidak bisa mengikuti beberapa sesi pemotretan yang menurutnya penting.&lt;br /&gt;Namun, meskipun memang tidak ada pengalaman sama sekali, publik dan sineas banyak yang memuji akting mereka di serial itu. Apalagi wajah keempatnya, terlihat sangat atraktif di depan kamera. Tidak membosankan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penonton sangat menyukai mereka. Menunggu-nunggu wajah mereka di depan layar televisi setiap Minggu sore. Terutama Lea dan Brody, pemeran utama “Wedding’s Song”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Mercedes perak yang membawa Lea dan Kenneth, telah sampai di depan teras lobi hotel bintang lima, tempat Brody menunggu. Tanpa berlama-lama, Kenneth membuka pintu dan turun dari mobil untuk menjemput Brody. Dia dan Brody akan bertukar mobil. Brody akan berkendara bersama Lea, sedangkan Kenneth akan naik di mobil lain, mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bukan hanya Brody yang menunggu di hotel tersebut, melainkan beberapa artis lain seperti—Lea merasa sangat tidak percaya diri—Nia Mardani (cantik sekali, bagaikan bidadari) bersama pacarnya, yang adalah anak konglomerat ternama di Indonesia; Luna Inaya (mata Lea mencari-cari Aril, vokalis band Peter Cup, yang adalah kekasih Luna, yang tidak tampak dimana pun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luna sedang bicara dengan Dude Herdino (yang ternyata lebih cakep dilihat langsung—meskipun kulitnya agak pucat) dan beberapa artis lain, yang terlihat amat ‘wah’ malam ini. Mereka semua bersinar-sinar dan sangat memesona,  mengintimidasi siapa pun yang mendekat; sehingga akan memutuskan menjauh, sebelum mencemari mereka dengan ketidaksempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat Kenneth, beberapa di antara mereka, langsung melihat ke arah mobil. Bahkan Baim Ong (ternyata tubuhnya tidak terlalu tinggi; walau pun memang tampan), tanpa malu-malu membungkukkan badannya dan memiringkan kepalanya, untuk melihat ke dalam mobil melalui kaca pintu belakang yang—Lea bersyukur—gelap, sehingga Baim segera menegakkan tubuhnya lagi, dan kembali berbicara dengan seorang wanita cantik, yang Lea tidak tahu siapa namanya, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Mercedes perak yang dinaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brody tampaknya menunggu di dalam lobi. Mungkin dia, sama seperti Lea, merasa tidak percaya diri, berdiri bersama para selebriti terkenal itu. Lea melihat Kenneth berjalan dengan cepat memasuki lobi hotel, setelah menyapa beberapa orang artis yang dikenalnya. Saat dia kembali, dia berjalan bersebelahan dengan Brody, yang wajahnya separo-tegang, separo-bergairah. Kedua lengan jas hitamnya digulung sebatas siku. Dasi hitamnya dibiarkan longgar di atas kemeja putihnya. Tapi dia sama sekali tidak jelek, bahkan terlihat lebih tampan dari yang pernah dilihat Lea. Rambut coklatnya berantakan dia atas kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Lea spontan bergerak ke leher kirinya, dan dia langsung terkekeh, melihat tato naga berwarna hitam yang masih dipertahankan Brody sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tato itu sebenarnya hanya tato temporer, yang harus dibuat oleh Brody, saat memerankan ‘Kenan’. Tapi ternyata dia jadi sangat menyukainya, karena banyak orang berpendapat kalau dia kelihatan amat menarik dengan tato itu tergambar di lehernya (lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;macho&lt;/span&gt;, istilahnya). Dia bermaksud untuk membuatnya jadi permanen, tapi Lea dengan sangat memaksa mengatakan, agar Brody memikirkannya masak-masak terlebih dulu. Bukannya bagaimana, tapi karena tato naga itu, tergambar memanjang dari leher sampai ke dadanya. Apa dia tahan ditusuk-tusuk jarum sepanjang itu? Belum tentu juga, hasilnya jauh lebih bagus daripada yang temporer. Jadi sebelum memutuskan, Brody memilih untuk tetap memperbarui tato temporernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Brody, semua artis cantik dan tampan itu berpaling. Memandangnya dengan ekspresi yang tidak dapat dimengerti—Lea bersyukur dia tidak berada di sana. Brody, dilihat dari tampangnya, jelas-jelas memilih untuk segera menyingkir daripada dipandangi seperti itu. Dia mempercepat langkah menuju mobil, sedangkan Kenneth berjalan santai di belakangnya, tidak merasa terganggu dengan pandangan menilai yang menyerbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei,” Brody menyapa Lea, yang langsung merapatkan diri ke pintu, begitu dia membuka pintu di sebelahnya, bermaksud menyembunyikan diri agar orang di luar tidak melihat sosoknya. Begitu melihat Lea, Brody tertegun. Matanya bergerak dari atas ke bawah, memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea mengernyit. “Kenapa? Aku kelihatan jelek ya? Make up-ku terlalu tebal? Bajuku aneh?” Dia mulai terkena serangan panik. “Atau... kurang apa,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; gitu&lt;/span&gt;?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brody terkekeh. Kedua matanya menyipit naik. “Tenanglah Lea. Kau...” Dia menggelengkan kepala, masih memandangnya, “sempurna,” Bibir Lea membuka sedikit, masih tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brody tersenyum menenangkan dan berkata lembut. “Kau cantik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipi Lea memerah. Pujian Brody berarti sangat besar untuknya. Setidaknya percaya dirinya kembali sedikit-sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thanks...&lt;/span&gt;” gumam Lea pelan, membalas senyum Brody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertukar pandang hening sejenak, sampai Kenneth melongokkan kepala ke dalam untuk melihat mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian oke?” Dia bertanya, memandang bergantian Lea dan Brody, yang balas memandangnya tanpa ekspresi dan tidak menjawab. “Sepertinya baik-baik saja...” gumamnya. “Aku akan ada di mobil di belakang kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara klakson dari mobil di belakang. Itu mobil Andara, direktur SATU Entertaiment; seorang wanita cantik, bertubuh semampai, yang penampilannya mengudang rasa hormat. Lea dan Brody menoleh, melihat melalui kaca belakang, sama-sama melempar cengiran, meskipun sangsi Andara melihatnya. Sementara itu, di belakang Honda City Andara, beberapa mobil mewah: Mercedes, BMW, Jaguar dan lain-lain sudah mengantri di belakangnya; menjemput para artis lain yang kini bergegas menghampiri jemputannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenneth buru-buru menutup pintu. Memukul atap mobil dua kali, memberi isyarat pada supir di depan Lea untuk menjalankan mobil. Setelah itu dia berlari ke belakang dan naik ke atas Honda City, sementara Mercedes perak yang membawa Lea dan Brody melaju pelan meninggalkan halaman hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea merasa perutnya mual lagi. Ketegangan menyeruak memenuhi sel-sel otaknya, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Dan sekarang, dia merasa tangan dan kakinya gemetar. Brody tampaknya juga merasakan hal yang sama. Dia berkali-kali menarik napas panjang, dan mengembuskannya pelan-pelan. Kakinya digoyang-goyangkannya ke atas dan ke bawah, untuk mengalihkan kegugupannya. Dia tidak bicara sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dok...” panggil Lea pada Brody (‘Dok’ dari kata Dokter). “Kau tidak mau... betulin... dasi?” tanyanya beberapa saat kemudian, saat jarak mobil mereka tinggal beberapa meter lagi dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTV Head Quarters&lt;/span&gt;—Markas Besar MTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku,” Dia berdehem kikuk, “lebih nyaman begini...” katanya, seraya menunduk melihat dasinya yang longgar.  Dengan gugup dia bicara lagi pada Lea, ekspresinya memelas. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Please&lt;/span&gt;,... jangan suruh aku untuk...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke,” kata Lea buru-buru, sambil menganggukan kepala. “Jangan cemas... Aku tidak akan bilang apa-apa lagi.” katanya, mengarahkan kepalanya lurus ke depan. Namun, tidak sampai dua detik dia kembali bicara pada Brody. “Tapi,... kau tetap ganteng kok, Dok. Bahkan lebih ganteng dari Dude dan Baim tadi,” katanya, berusaha menghibur, seakan saja itu akan membuat Brody lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shut up,&lt;/span&gt; Lea,” Diamlah, Lea, desisnya, menatap lurus ke kaca depan mobil. Dahinya berkerut kuat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah mereka. Dua orang ‘mendadak artis’, yang tiba-tiba mencuri perhatian masyarakat dan media—para artis lain juga, tentu saja, melihat cara pandang mereka saat di hotel tadi. Dan sekarang akan bersiap-siap melangkah melewati karpet merah. Menghadiri salah satu acara paling bergengsi di dunia hiburan tanah air; tanpa mengetahui bagaimana reaksi orang-orang saat melihat mereka nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huuuhhh...” Brody mengembuskan napasnya perlahan dan keras, saat mobil berbelok ke halaman gedung besar—halaman MTV &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Headquarters&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perut Lea serasa anjlok. Dia menggosok-gosok tangannya seperti orang yang kedinginan, lalu menempelkannya ke kedua pipinya. Kemudian mencoba bernapas teratur. &lt;br /&gt;“Mudah-mudahan Din dan lainnya sudah di sana,” gumamnya penuh harap. Kakinya, sama seperti Brody, kini bergoyang-goyang cepat ke atas dan ke bawah. “—atau Kenneth, gitu. Supaya kita nggak kelihatan bego, berdua-duaan di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil mereka bergerak lambat, mengantri bersama mobil lain yang berbaris di depan. Meskipun begitu, jeda waktu yang lumayan lama itu—karena para artis tentu saja, akan berfoto-foto lebih dulu di depan kendaraannya, sebelum berjalan melalui karpet merah—malah membuat Lea merasa lebih tegang dari sebelumnya. Dia berharap semua ini cepat berlalu; dia turun bersama Brody, tersenyum, dan langsung masuk ke dalam gedung. Tidak menunggu dengan perasaan tidak nyaman seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada saat itu, handphone di dalam tas tangan Lea berbunyi. Dan dia segera mengambilnya buru-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenneth...” Dia memberitahu Brody, yang memandang cemas ke arahnya. Lea cepat-cepat menekan tombol ‘ok’ dan menempelkan handphone ke telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ken?” sapanya. “Kau dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku yang seharusnya bertanya begitu&lt;/span&gt;?!” balasnya setengah berteriak. Ramai sekali di belakangnya. Seperti sedang ada keributan; kedengaran orang berteriak-teriak, memanggil-manggil entah siapa; suara tepukan, jeritan, bercampur dengan suara musik yang berdentum-dentum. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalian dimana?! Aku sudah duluan sampai!. Din, Anggita, dan yang lain sudah di dalam!&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah?!” Lea terlonjak kegirangan di kursinya. Lalu cepat-cepat berkata lagi. “Kami sudah sampai kok. Mobil kami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stuck&lt;/span&gt; di belakang BMW putih,” katanya, tidak kalah keras. Dia menjulurkan kepala, melihat melalui kaca depan, ke BMW putih di depan mobil mereka, yang tampaknya tidak bergerak sedari tadi. “Kau dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oke. Aku tunggu di depan.&lt;/span&gt;” kata Kenneth, tidak menjawab pertanyaan terakhir Lea. Langsung menutup teleponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea menurunkan handphonenya, dan memasukannya kembali ke tas tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia dimana?” tanya Brody, yang sedang melap keringat di dahinya dengan sapu tangan, kelihatan sangat kepanasan. Padahal AC di dalam mobil luar biasa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sudah sampai,” jawab Lea, memejamkan mata. Berkonsentrasi menghilangkan rasa gugup yang melandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil sudah berjalan lagi, dan lebih cepat dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Din, Anggita, dan juga yang lainnya juga sudah sampai. Dan Kenneth bilang dia akan menunggu kita di depan.” katanya lagi, masih dengan mata terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau baik-baik saja kan, Lea?” tanya Brody, saat melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea membuka mata perlahan, kemudian menoleh memandang Brody. “Ya. Harus kan?” katanya. “Mana boleh kelihatan panik di depan wartawan dan orang-orang itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brody mendengus tersenyum, dan menganggukan setuju. Mereka berdua berpandangan getir sejenak, kemudian kembali melihat ke depan, melalui kaca depan mobil yang bersih. Mobil BMW putih di depan mereka ternyata membawa Meriam Belina. Aktris senior, yang tetap cantik dan tetap eksis hingga sekarang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan&lt;/span&gt; yang paling diidolakan oleh Lea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meriam Belina...” gumam Lea, dengan mata membulat. “Itu—Meriam Belina,” ulangnya lagi, dengan suara seperti melamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandang terpana Meriam yang terlihat luar biasa mencengangkan dalam kebaya merah ketat dan transparan, berlapis longtoso sewarna di dalamnya.  “Cantik...” gumamnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meriam Belina, tampaknya tidak berlama-lama membiarkan wartawan mengambil fotonya. Dia, dengan anggun, segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ditemani seorang pria setengah baya, yang bertubuh tinggi besar. Lea tidak mengenalnya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;This is it&lt;/span&gt;.”Ini saatnya, Brody berbisik pada Lea, yang tidak menyadari kalau Mercedez mereka sudah melaju pelan ke depan, menggantikan posisi BMW yang tadi berhenti tepat di depan karpet merah. Matanya masih terpancang ke punggung Meriam Belina. “Lea.” Dia memanggilnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea tersadar, dan buru-buru menatap wajah Brody. Menganggukan kepala dan tersenyum bersamaan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau siap?” tanya Brody. Menatap matanya lekat-lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea mengangguk, dan membiarkan Brody meraih wajahnya dengan satu tangan, kemudian mengecup pipinya sekali, serta mengucapkan kata ‘semoga beruntung’ yang pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu mobil di samping Brody, dibuka oleh pria berjas hitam yang bertubuh tinggi besar. Brody segera memalingkan tubuhnya, dan bergeser ke pinggir, turun dari mobil. Kamera segera menghampiri. Kilatan blitz menyerbu. Orang-orang berteriak histeris memanggil namanya; para gadis memekik keras, para wartawan yang berdiri di luar karpet merah meneriakkan namanya—“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Broddyyyy...... lihat sini!&lt;/span&gt;”—sambil mengacung-ngacungkan kamera masing-masing, bermaksud mengambil fotonya. Brody tersenyum, melambaikan tangan tinggi-tinggi ke sekelilingnya. Dan berdiri, dengan pose tegap yang sempurna. Dia segera dihampiri oleh Kenneth, yang segera dipeluknya dengan erat, seakan-akan sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea, sementara itu, menggeser tubuhnya pelan-pelan ke arah pintu yang membuka. Berharap penuh, kalau para kru kamera masih memfokuskan lensanya pada Brody. Tapi ternyata tidak, karena sekarang mereka semua ada di depannya. Brody sudah memutar tubuhnya ke arah mobil, menjulurkan tangan untuk membantu Lea turun. Kilatan blitz mengepung, kamera tepat di depan wajahnya, dan dia hanya bisa meringis tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brody jauh lebih baik menghadapi semua ini daripada Lea. Dia kelihatan tenang, seperti sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Padahal, beberapa menit lalu, dia sama tegangnya dengan Lea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leaaaaaa!!!...&lt;/span&gt;” pekik orang-orang di sekelilingnya, begitu dia turun dari mobil. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;LEAAA!!!...&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;Lea menegakkan tubuh. Berdiri di sebelah Brody, dan melihat berkeliling. Semua yang ada di depan matanya sekarang begitu bersinar. Begitu gemerlap. Dia bagaikan dikelilingi bintang yang berkerlap-kerlip. Indah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan orang-orang yang memanggil-manggil namanya—“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;LEAAAA!!! I love you!!!&lt;/span&gt;”—membawa perasaan yang luar biasa di dalam dirinya. Semacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;euphoria.&lt;/span&gt; Membuatnya bersemangat, tersanjung dan gembira bersamaan. Dia merasa sedang berdiri di puncak dunia. Dan orang-orang di bawahnya sedang mengelu-elukannya, karena berhasil mencapainya. Tanpa ragu, Lea tersenyum lebar, melambaikan tangannya pada semua orang. Membuat mereka semakin histeris—bahkan ada salah satu gadis yang pingsan karenanya. Kaki Lea seakan terangkat, perutnya terasa tertarik ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian, Kenneth menepuk pundaknya, membuatnya kembali menapak bumi. Lea menengadahkan wajah untuk memandangnya. Dan tersenyum pada Kenneth, ketika dia mengecup lembut keningnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kid&lt;/span&gt;. Kita harus segera ke dalam...” Kenneth berbisik di telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea menurut, dan memutar tubuhnya menghadap pintu masuk yang amat luas, yang terbuka lebar di depannya. Pintu masuk tersebut tidak kalah elegan; dihiasi kain merah dan emas mengkilat di atas ambangnya. Balon-balon merah, perak dan emas bertebaran di lantai, dan berterbangan di sekeliling karpet merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjalan bertiga dengan bibir mengembang lebar; Kenneth di tengah-tengah sedangkan Brody dan Lea, berjalan di sebelah kiri dan kanannya. Kamera tetap mengarah pada mereka, blitz tetap berkilatan di depan wajah ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s over&lt;/span&gt;,”—Semuanya selesai. Brody kelihatan sangat lega, berjalan di samping Kenneth dan Lea yang menimpali dengan anggukan, melewati ambang pintu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu baru tahap pertama,” Kenneth berkata, sambil merangkul Lea. Lea melirik padanya, sedangkan Brody memalingkan wajah menatapnya, mengernyitkan alis. Sam sekali tidak mengerti. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;This is the worst...”&lt;/span&gt; Ini yang paling sulit, kata Kenneth lagi, mengedikkan kepala ke arah depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lea mengikuti arah pandangan Kenneth, dan dia langsung menahan napas, bersamaan dengan Brody yang segera menghentikan langkahnya. Wajahnya seakan membeku, mulutnya membuka sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1st  Chapter oleh Putu Indar Meilita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-7905275547549214595?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/7905275547549214595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=7905275547549214595' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/7905275547549214595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/7905275547549214595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/pertama-kalinya.html' title='Pertama Kalinya'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-6023398111032268086</id><published>2009-08-30T23:07:00.002-07:00</published><updated>2009-08-30T23:21:06.890-07:00</updated><title type='text'>Chia dan Pondok Mithologis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PROLOG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Semerbak bunga lavender yang diletakkan di setiap sudut ruangan memberikan aroma khas, lampu-lampu ruang utama yang telah sekian lama tidak pernah menyala kini berpendar terang. Bara dari tungku perapian membuat kehangatan yang selama ini telah lenyap. Setelah sekian lama rumah besar itu tetap kokoh dalam balutan pepohonan lebat yang menjulang mencakar langit, bersembunyi dalam kegelapan malam dan bayangan matahari.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis-gadis berbusana serba biru langit, para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;waitress,&lt;/span&gt; tengah sibuk melenyapkan debu-debu tebal dan sarang laba-laba yang berjaring dimana-mana. Tirai putih gading tersibak menutupi jendela-jendela panjang yang melekat di dinding seluruh ruangan, beberapa diantaranya bebercak kekuningan walau para waitress tengah mencucinya dengan sangat baik. Mereka -para waitress- kembali menjalankan tugasnya, profesi sementara yang diemban hanya ketika dibutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tua itu mencoba dihidupkan kembali setelah lima tahun tak terjamah oleh sang pemilik, seorang pecinta sejarah yang kini telah menjadi bagian dari sejarah.&lt;br /&gt;Dan, seorang pemilik baru akan berkunjung. Bukan karena ia seorang pecinta sejarah, melainkan takdir yang membuatnya menapaki rumah baru ditengah hutan belantara ini. Hadiah khusus untuk seorang pewaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teng..teng..teng..teng,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bel berdentang nyaring, menggema ke seluruh ruangan tanpa sekat, sebuah tanda. Para waitress mendengarnya, efek yang ditimbulkan cukup membuat hati mereka gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata menerawang menuju pusat rumah yang tersanggah dua tiang kayu bulat kokoh di tiap sisinya, ruangan yang bisa dilihat dari tiap sisi manapun dalam rumah tersebut, tangan-tangan kotor mereka mencoba menyelesaikan tugas dengan cepat. Merayapi segala sudut perabot usang dengan balutan kain yang mulai menghitam. Tatapan mereka jatuh kepada satu-satunya perabot yang tergantung dipusat ruangan, pusat bunyi yang mereka dengar tadi. Lima buah jam dinding besar berbentuk segitiga lancip, saling melekat satu sama lain hingga meruncing tajam di ujung bawahnya, membentuk satu kesatuan pentagonal yang kokoh. Angka-angka yang tercetak ditiap jam berisi pendar cahaya kuning, memperjelas jarum-jarum hitam pekat bergerak. Dan kini, jarum terpendek tengah menunjuk angka dua belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu sudut tembok lantai dua, satu pintu kayu yang tengah tertutup rapat mencoba bersembunyi dibalik tirai putih gading yang kini terikat kesamping. Seorang waitress berdiri mematung menghadap pintu, membisu di tengah kesibukan teman-temannya. Mata coklatnya menerawang menatap keheningan yang tengah berada didepannya, satu tangannya yang terbungkus kain bebercak hitam tengah mengelus-elus gagang pintu berkarat yang menempel pada daun pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”apa yang kau lakukan Chia?”&lt;br /&gt;Merasa namanya disebut, waitress tersebut berhenti mengelus gagang pintu. Ia pun menoleh memperhatikan gadis berpakaian seragam dengannya tengah menengok keheranan. Gadis bertubuh kurus itu mencoba mendekat, melirik gagang berkarat yang tengah diremas oleh Chia.&lt;br /&gt;”entahlah, aku juga nggak tahu” Chia menggeleng, merasa tak yakin dengan kata-katanya. Keraguan tersirat jelas dalam matanya, namun tak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkejaran dalam benak gadis mungil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waitress yang tengah berada di samping Chia tetap menatap lurus gagang pintu itu. Sekalipun menggosoknya dengan kain terus menerus tidak akan membuat karatan di sekujur gagang tersebut berkurang, bahkan engselnya sudah bisa dikata tidak mampu membuat pintu itu bergerak lagi. Karatan membuat pintu itu aus. ”dari dulu aku selalu ingin mengetahui apa yang berada di balik pintu ini,” gumamnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chia tak merespon perkataannya, hanya menerawang melihat gagang pintu yang tengah ia pegang. Pikirannya jauh berlarian, seorang pewaris kini menjadi hal yang menyita segala ruang dalam benaknya. Tak ada pikiran apapun yang lebih penting daripada mengetahui jelas siapa pemilik rumah tua ini. Baginya, tak ada yang bisa menyaingi pemilik terdahulu, lelaki yang telah ia anggap sebagai seorang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin Chia mengerang menyaksikan gambar seorang lelaki tua berada di benaknya, perpisahan yang jauh dari harapan telah membuat hatinya runtuh. Tak ada air mata yang bergulir di pelupuk matanya, ia sadar tidak akan ada gunanya untuk meraung-raung akibat kecelakaan itu. ’Hanya seorang Chia, tidak lebih dari seorang waitress. waitress yang tidak tampak di dunia nyata, tentu bukan menjadi hal penting’. Ia mencoba melihat kenyataan  di balik seragam biru berendanya. Di dunia ini, tidak ada hal membahagiakan selain profesi sementara yang tengah ia jalankan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”ayo kita ke bawah,” waitress yang tidak melihat respon baik pada teman se-profesi chia itu mencoba menyadarkannya, menepuk pundak kanannya ”nggak ada gunanya menatap gagang itu chia, tetap saja berkarat, aku sudah beberapa kali mencobanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chia akhirnya menatapnya kaku, bukan itu yang ingin dia ketahui. Waitress itu lalu berpaling, berjalan memunggungi chia menuju tangga besar berlapis karpet merah darah yang tersampir disudut lain lantai dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Erin..” chia mencoba untuk memanggilnya, namun waitress bernama Erin itu tetap saja tidak berbalik. Tersinggung atau tidak peduli. Pikiran Chia yang selalunya jernih mulai bercampur dengan gangguan yang menjalari otaknya. Emosinya meluap-luap seiring keraguannya terhadap kedatangan seorang pewaris, ia takut akan ada yang berubah.&lt;br /&gt;Ia tak menginginkan sedikitpun perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Erin,” nada suara chia yang sirat akan kecemasan membuat Erin berhenti, ia pun berbalik. ”aa.. chia mencoba menelan ludah.. apa semuanya akan baik-baik saja? Pewaris itu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”maksudmu?” erin mendengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”apa ia tidak akan membuat kerusakan, membeberkan, dan bertindak lebih jauh? Kita bahkan belum pernah mengenalnya, kepribadiannya. Kita..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi decitan keras tiba-tiba menghentakkan seluruh ruangan, diakhiri dentuman pelan dua daun pintu yang mencoba menyatu dengan dinding, meninggalkan celah kecil dari apitan tersebut. Setelahnya hanya terdengar ganasnya hujan, riuh yang tiada henti memecah keheningan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chia akhirnya menutup mulut, ia dan Erin segera menuju ke samping tiang untuk melihat ke arah pintu. Seseorang memasuki ruang utama, pijakan kakinya teredam gemerisik hujan di luar sana. Jaket kulit membungkus tubuh laki-laki bertubuh jangkung itu, berkilauan dengan air yang menetes-netes ditepinya. Ia lalu membuka tudung kepala yang sedari tadi menutupi kepalanya, tanpa ragu ia membeberkan pandangannya ke sekitaran lantai satu. Memperhatikan para waitress yang tengah berdiri mematung, lalu melihat lantai semen yang sepenuhnya bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera ia melihat ke bawah, tempat dimana sepatu bootnya berpijak, lalu berbalik melihat jejak kaki besar penuh noda lumpur mulai dari teras rumah. Dengan rasa bersalah, lelaki itu berdehem pelan, lalu menatap ke arah waitress lagi. Tampak hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”sebelumnya, saya minta maaf” lelaki itu angkat bicara, tentu saja, respon dari lima waitress yang tengah berdiri di lantai satu hanya mengangguk. Tidak ada keberanian untuk marah pada seseorang yang membayar upah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu seketika mengarahkan pandangannya pada lantai dua yang menjorok ke depan, tampak dua waitress tengah terpaku melihatnya. Chia dan Erin merasa terpojok saat mata sipit laki-laki itu menatap mereka. Mata seorang atasan, serasa membakar tengkuk mereka hingga menegang. Hanya sekilas beberapa detik saja, lelaki itu pun berbalik, berjalan menuju pintu luar.&lt;br /&gt;”Pak Mardi sebenarnya orang yang konyol” bisik Chia setelah ketegangan mencair. Erin yang mendengarnya hanya menggeleng-geleng, bukan karena atasannya, melainkan pada kata-kata yang terucap oleh rekan se-timnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”kau gila, kalau dia mendengarnya maka generasimu sebagai waitress akan terputus sudah” bisik Erin mengingatkan, gadis berkulit hitam manis itu menyapu keringatnya dengan lap kotor yang ia pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”aku mengatakannya karena yakin ia tak mendengarnya” jawab Chia yakin, Erin hanya mengangkat bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”anak-anak, saatnya berkumpul!”&lt;br /&gt;Suara Pak Mardi mencoba bersaing dengan suara riuh hujan. ”beberapa menit lagi pewaris yang baru akan datang, kalian semua harus ikut menyambutnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chia mencoba mengutuk pikirannya, namun serasa ada benang kusut dalam otaknya hingga selalu berfikiran negatif. Ia mencoba menenangkan diri, mengikuti erin yang tengah berjalan menuruni tangga dengan terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”erin,” seru chia dengan panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”apa lagi?” wajah erin tampak kusut saat berbalik melihatnya, ia sungguh tidak merasa cocok dengan chia. Ia tidak iri melihat kondisi fisik darinya, tapi ia merasa chia identik dengan gadis ceplas-ceplos yang suka mendikte karakter orang lain. Kali ini Pak Mardi, bagaimana dengan si pewaris nanti. Menjauh dari Chia setidaknya akan mengurangi masalah pekerjaannya, ia yakin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”tunggu aku,” bisik chia, ia kikuk melihat wajah Erin bengkok. ”ada yang ingin ku tanyakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”apa?” tanya erin mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”siapa nama pemilik baru rumah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mr.MARCEL, jangan bikin masalah, ingat itu” Erin akhirnya melangkah lebih cepat, meninggalkan chia yang tengah merasa bersalah. Namun di balik rasa bersalahnya itu, pikiran chia mulai menerawang pada ketakutan yang mulai menjamahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;---------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;-------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;    &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;1&lt;br /&gt;Welcome to the new house, Mr. Marcel&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil melaju dengan lambat menembus jalan yang diselubungi kegelapan malam. Kesunyian jalan menjadi-jadi sesaat mobil telah melewati area perkotaan Jogjakarta, menikung suatu jalan sempit menanjak. Derasnya hujan membuat kepenatan yang tiada tara, pikiran yang tiada mencair membuat situasi makin mendingin. Marcel tengah duduk di jok penumpang Mercedes hitam, membisu meratapi nasib yang sulit dipercaya berubah drastis. Tudung jaketnya menutupi sebagian wajahnya yang tampak canggung tanpa alasan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”mungkin beliau ingin tuan melihat salah satu koleksinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki bertubuh jangkung berusia setengah abad mencoba menjelaskan alasan masuk akal yang dapat dijadikan patokan perjalanan mereka. Pak Arif, yang selama tiga puluh tahun hidupnya telah bekerja menjadi sopir keluarga Fredy kini telah menjadi salah satu orang yang tengah dilanda kesedihan. Keduanya tak memikirkan kecelakaan pesawat itu terjadi begitu cepat, menimpa dua orang yang terlibat amat dekat dengan kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1st Chapter oleh Peratiwi Desy&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-6023398111032268086?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/6023398111032268086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=6023398111032268086' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/6023398111032268086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/6023398111032268086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/chia-dan-pondok-mithologis.html' title='Chia dan Pondok Mithologis'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-4431886158710021810</id><published>2009-08-30T22:52:00.002-07:00</published><updated>2009-08-30T23:10:00.439-07:00</updated><title type='text'>Asam Manis Hidup Seorang Cewek (Gemuk)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ERTAMA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kupalingkan wajahku pada sosok yang dari tadi mengejar dan memanggil-manggil namaku. “Tunggu dong, Phytt. Capek nih, lari-lari,” ucap Rico tersenggal-senggal. “Sori banget, Ric. Gue buru-buru, harus ngejar deadline mading, soalnya,” kataku secepat mungkin. Aku langsung berlari ke tempat parkir sepeda. Rico masih mematung, mungkin masih mencoba mencerna kata-kataku. Aku tersenyum memikirkan mimik Rico jika sedang berpikir, muka kosong dan keliatan bloon. Tapi tetap cakep, secara dia Indo gitu. Gimana tidak cakep coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ricardo Rahardian William, yang lebih suka dipanggil Rico, adalah satu-satunya cowok yang kupercaya bisa menjadi sahabatku. Dia tulus. Dia mau bersahabat dengan cewek gemuk kaya aku. Emang, aku tinggi, tapi tetap saja gemuk. Walaupun tinggi tubuhku lumayan bisa menyembunyikan kegemukanku, aku tetap saja gemuk di mata teman-temanku. Tapi itu bukan masalah besar bagiku, aku punya segudang ide untuk membalas ejekan teman-temanku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rico baik dan ramah sekali padaku saat di kelas VII SMP dulu. Kami bersahabat sampai saat ini. Bahkan dia mendaftar di SMU yang sama denganku hanya karena dia ingin melindungi aku dari anak-anak nakal di SMU yang aku pilih. Kami sangat cocok satu sama lain. Mampu mengimbangi kekurangan masing-masing. Rico anaknya asyik, kalau sama teman yang lain pendiam dan kelihatan misterius dan terkesan cool. Tapi kalau sudah sama aku, sumpah, cerewetnya itu lho! Kebangetan tahu tidak seh...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak kita berdua merasa cocok, kita jadi dekat dan jadi sahabat. Kalau sudah dengan dia, aku juga langsung nyerocos, tidak merasa malu ataupun gengsi. Kita curhat ya curhat saja. Masalah cinta, pelajaran, hobi. Apa saja. Dia tidak pernah sekalipun menyebarkan rahasiaku meskipun hanya hal sepele. Aku pun juga begitu. Kalau aku butuh solusi dari masalah yang kuhadapi, aku langsung mengadu padanya setelah sebelumnya mengadu pada tempat curhat nomor satuku, Mas Akbar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayah Rico berasal dari California, sedang Ibunya asli Betawi. Tapi Rico tidak terlihat seperti keturunan Betawi walau logatnya gue-lo. Kalau sedang libur sekolah, Rico selalu pergi ke rumah kakeknya di Los Angeles, California. Setelah aku dan dia jadi sahabat dan aku juga sudah cukup dekat dengan keluarga Rico, Rico selalu mengajak aku dan Mas Akbar ke rumah kakeknya di California. Karena orang tuaku mengijinkan, aku dan Mas Akbar sih senang-senang saja. Ke California gitu lho, dibayarin lagi. Siapa yang tidak mau?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi aku bersahabat dengan dia bukan karena materi, tentu saja. Dia tipe sahabat yang aku banget. Cowok tapi pengertian, beruntung lah cewek yang kejatuhan cintanya nanti. Sekarang sih dia masih jomblo, tapi aku curiga ada seseorang di California yang padanya telah tertambat hati Rico. Yah, semoga saja kalau itu benar, Rico akan segera mengenalkannya padaku. Sudah seperti calon mertua saja, aku ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kupacu sepedaku lebih kencang. Aku harus segera memfotokopi artikel-artikel mading untuk arsip. Aku menuju tempat fotokopi paling dekat dengan sekolahku, SMU 5000, Jakarta. SMU Goceng, begitu sekolahku biasa dipanggil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aduh, pake tutup segala. Tempat yang lain di mana ya?” kataku waktu melihat tempat fotokopi itu tutup. Langsung kukayuh lagi sepedaku, mencari tempat fotokopian yang lain. Jakarta yang panas, macet, dan berpolusi tak mencegahku mencari tempat fotokopi meskipun hanya dengan berkendara sepeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kutemukan sebuah tempat fotokopi setelah mengayuh sepeda selama dua puluh menit. “Mbak, ini tolong difotokopi, rangkap satu aja,” aku menyerahkan artikel-artikel itu pada karyawan tempat itu. Aku duduk di kursi tunggu. Kubuka tasku dan kuambil sebotol air mineral. Kuminum perlahan sambil memperhatikan keramaian jalan raya.     Mataku menangkap sesosok cowok. Rupanya Gigan, teman sekelasku yang sering masuk BK (Bimbingan dan Konseling) tapi malah dijadikan ketua kelas oleh teman-temanku. Entah apa yang aku dan teman-temanku pikirkan saat pemilihan ketua kelas. Dia memang kadang lucu dan sering membuat kami sekelas tertawa melihat konyolnya tingkah Gigan. Tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa Gigan anak berandal. Merokok dan mabuk. Banyak yang bilang begitu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku pernah melihatnya hang-out dengan dua orang temannya. Waktu Gigan melihatku, dia rada malu-malu. Aku dan seorang temanku pun sedang hang-out, waktu itu. Kedua teman Gigan, yang aku tidak kenal, mulai merokok. Gigan tidak ikut merokok. Seorang teman Gigan bertanya padanya, aku tidak dapat mendengarnya karena mereka berbisik. Gigan menjawab pelan sambil melihat ke arahku. Teman Gigan itu pun ikut melihat ke arahku, lalu berkata “Biarin aja,” aku langsung tahu kalau mereka membicarakanku. Kuduga mereka bertanya mengapa Gigan tidak ikut merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini dek,” suara sang karyawan menyadarkanku dari lamunan. “Oh, berapa mbak?” aku merogoh saku rok seragamku. “Seribu lima ratus,” katanya seraya membetulkan kertas-kertas yang berantakan di meja. Kusodorkan uang lalu mengucapkan terimakasih padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kulalui jalan raya yang panas dan ampek. Karena tak tahan dengan panas, aku memilih jalan alternatif menuju sekolahku. Lumayan, tidak terlalu panas dan berpolusi. Saat itulah aku dihadang tiga orang berandal yang sering nongkrong di dekat situ. “Cewek gendut, bagi duit!” bentak cowok berkulit hitam dan kekar. “Apa salah saya? S.. Saya nggak punya duit,” ucapku lemas. “Alah, bohong lo! Masa cewek gendut kaya lo kagak punya duit. Pasti punya tuh, kalo kagak punya, dari mana lo makan? Dari badan lo keliatan kalo lo makannya banyak,” sahut salah satu rekannya yang bersuara cempreng. “Bener ntu,” sambung cowok yang bertampang sangar. Mereka terbahak mendengar itu. Hatiku panas namun mana mungkin aku membalas para preman ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Phytta? Lo ngapain di sini?” aku mencari sumber suara itu. Tak jauh dari situ, kulihat Gigan berdiri masih memakai seragam sekolahnya. “Lo kenal ama die, Gan?” si Hitam bertanya pada Gigan. Gigan mengangguk sambil berjalan ke arahku. Aku mengernyitkan dahi. Kok Gigan kenal sama para preman ini? Apa Gigan salah satu dari mereka? Terus nasibku gimana nih jadinya? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia temen sekelas gue. Kalian apain Phytta?” tanya Gigan kepada mereka bertiga. “Tenang aje, kagak kite apa-apain kok. Tadi emang kite palak, tapi belum dikasih ma die,” jelas si Hitam, menyeringai. “Lo nggak pa-pa kan, Phytt?” Gigan terlihat khawatir. Baru sekali aku melihatnya seperti itu. Dahiku makin berkerut. Gigan menyadarinya lalu dengan tiba-tiba raut wajahnya berubah netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak pa-pa kok, Gan. Thanks, lo datang di saat yang tepat,” kataku seraya menyipitkan mata pada para preman itu. “Mau pulang?” tanya Gigan padaku. “Enggak, mau ke sekolah. Mau nyelesaiin mading gue,” jawabku pelan. “Gue temenin yuk, ntar kalau dihadang preman lagi gimana?” katanya jenaka. Gigan tidak pernah seperti ini padaku kalau di sekolah. Aku heran dengan perubahan sifat Gigan yang drastis. Kuterima tawarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue boncengin lo ya?” tanyanya padaku. Aku bengong. Nih anak sarap ya? Ngapain dia boncengin aku? Dia kan punya sepeda sendiri. “Lo gimana seh? Lo kan punya sepeda sendiri. Kalo lo boncengin gue, bisa kejungkir sepeda gue!” sewotku. “Hahaha.. Phytta.. Phytta..,” Gigan tertawa. “Eh, malah ketawa. Nggak ada yang lucu!” seruku padanya. Tawanya mulai berhenti. “Iya juga ya? Nggak ada yang lucu. Phytt, lo nggak usah khawatir. Gue bisa boncengin lo kok. Sepeda gue biar aja ditinggal di sini, ya nggak, Ben?” Gigan berkata pada si Hitam. Si Hitam mengangguk senang. “Tapi..,” kata-kataku terputus melihat isyarat dari Gigan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa aku turuti kemauan Gigan. “Bener lo bisa? Nggak jatuh kan?” tanyaku gelisah. “Tenang, gue pasti bisa!” Gigan mengambil alih sepedaku yang memang bisa untuk berdua. Aku membonceng di belakangnya. “Berangkat!” serunya. Dia mengayuh sepedaku. Ternyata dia memang bisa memboncengkan aku. “Lo tuh nggak berat kok, Phytta. Buktinya gue bisa boncengin lo,” kata Gigan padaku. Aku hanya tertawa. Senang juga sih, diboncengin Gigan. Siapa cewek yang nolak Gigan? Cuma aku mungkin. Dia bukan tipeku. Tahu kan dia kaya gimana? Tapi tetap saja aku senang, baru kali ini aku diboncengin cowok, selain Mas Akbar dan Rico. Naik sepeda lagi! So sweet.. Pasti lebih sweet kalau sama Arka. Ah, Arka..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Arka. Dia teman sekelasku waktu SMP begitu pula sekarang di SMU. Dia cowok aneh dan unik, kalau menurut pandangan teman-temanku. Dia usil, suka caper, gokil, lucu, dan rada jorok. Suka basket dan jadi cadangan di tim inti sekolah. Anaknya lumayan gaul sih, tapi dia itu abnormal. Tidak bisa diam kalau sedang di kelas. Suka mengusili dan menggoda cewek-cewek di kelasku. Yah, pokoknya dia itu unique deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa aku bisa menaruh rasa padanya, Rico sampai heran bukan main. “What?! Lo suka sama anak abnormal itu?? Apa sih yang bisa dibanggakan dari dia? Paling cuma jago basketnya aja, ya kan?” protesnya padaku waktu aku curhat dengan dia. Kujawab kalau mungkin ini yang namanya tulus. Kita tidak melihat dari luarnya saja. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri juga bingung kenapa aku sampai suka Arka. Serius, aku tidak berkehendak seperti ini. Arka itu cuek kalau sama yang namanya cinta. Kata Tiffa, teman dekatku dan sahabat Arka di SD, pernah ada cewek yang naksir dia. Nama cewek itu Diyya. Sewaktu Arka ulang tahun, Diyya memberi Arka kado, dan coba tebak apa yang dilakukan Arka pada kado Diyya. Arka membuang kado itu ke tempat sampah! Bayangkan bagaimana perasaan Diyya. Juga waktu Valentine, sama seperti tadi, Arka membuang coklat dari Diyya, lagi-lagi ke tempat sampah. Setelah Tiffa menasihati Arka, Arka baru mau mengambilnya. Namun Arka tidak memakannya secuilpun. Arka malah membagikan coklat itu pada teman-temannya. Sebagai seorang cowok, dia parah banget ya? Pasti sakit, melihat cowok yang kita suka berbuat seperti itu pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan pernah memberi tahu Arka betapa aku sayang padanya. Aku tidak mau seperti Diyya. Aku takut Arka menjauhiku seperti dia menjauhi Diyya waktu SD dulu. Lebih baik aku tetap menyimpan rasa ini. Kecuali jika ia juga punya perasaan yang sama. Memang kelihatannya tidak mungkin, tapi kita boleh berharap kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naksir Arka sejak kelas IX. Sudah hampir setahun aku memendam ini semua. Tiffa, Rico, dan Nera salut padaku atas kesabaranku menanti Arka yang kemungkinan besar tidak akan pernah membalas perasaanku. Aku senang walau hanya bisa mengamati Arka dari jauh. Aku senang bisa cukup dekat dengan dia. Bagiku itu semua sudah cukup. Aku tidak terlalu berharap bisa jadian dengan Arka. Karena aku sadar diri. Aku gemuk dan tidak terlalu cantik, dan itu jelas bukan kriteria cewek Arka. Tapi Tiffa terus mendukungku dan menyemangati aku. Kata Tiffa, semua itu mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Phytta? Lo dengerin gue ngggak?” Gigan menyadarkanku dari lamunan. “Ap.. Apa? Sori, gue nggak denger, Gan. Jalannya rame banget,” aku berbohong. “Tadi gue tanya, lo udah punya pasangan buat pelajaran Kesenian belum?” tanya Gigan. “Oh, belum. Lo mau jadi partner gue?” tawarku karena aku memang belum punya pasangan untuk menyanyi duet pada pelajaran Kesenian. “Gue juga belum punya. Gue mau jadi partner lo,” jawabnya mantap. “Oke. Udah ada rencana mau nyanyi apa?” tanyaku seraya membuka handphoneku yang bergetar karena ada pesan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;From: Arka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wah.. Ad yg lg pcrn ne. Romantis bgt, pke speda sgala.. Cihuy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah?? Arka? Di mana dia? Dia pasti ada di dekat-dekat sini. Kucari dia, namun tidak kutemukan Arka. Tumben amat dia SMS aku. Biasanya kalau bukan dia yang SMS duluan, dia tidak bakal balas SMSku. Menyebalkan. Jarang sekali dia SMS aku. Baru dua kali selama di SMU! Dan ini baru yang ketiga kalinya! Aku takjub. Hatiku berbunga-bunga. Tentu saja, bagaimana tidak senang kalau cowok yang kita sukai kirim SMS kepada kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pikiran gila yang baru saja melintas di kepalaku. Arka jealous sama Gigan. Jangan tertawa! Aku kan sudah bilang kalau itu pikiran gila. Tapi mungkin itu benar. Buktinya,  Arka yang amat sangat jarang kirim SMS padaku, baru saja mengirimi aku SMS dan itu hanya karena melihat aku diboncengkan Gigan! Jelas aku jadi kege-eran. Hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;To: Arka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mksd lo?? Gue ma Gigan kn cm tmn. Yee.. :p&lt;br /&gt;Kutunggu balasan dari Arka seraya mengobrol dengan Gigan tentang lagu yang akan kita berdua nyanyikan pada pelajaran Kesenian minggu depan. “Gue suka lagu A Whole New World. Itu lho, soundtracknya film Aladdin,” kata Gigan padaku. “Wah, iya. Itu aja, gue juga suka lagunya,” jawabku bersemangat. “Ayo, coba nyanyi bareng,” ajak Gigan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigan mulai menyanyi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“I can show you the world. Shining, shimmering, splendid. Tell me, princess, now when did. You last let your heart decide? I can open your eyes. Take you wonder by wonder. Over, sideways and under. On a magic carpet ride. A whole new world. A new fantastic point of view. No one to tell us no. Or where to go. Or say we're only dreaming,”&lt;/span&gt; suara Gigan memaksaku ikut bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“A whole new world. A dazzling place I never knew. But when I'm way up here. It's crystal clear. That now I'm in a whole new world with you. Unbelievable sights. Indescribable feeling. Soaring, tumbling, freewheeling. Through an endless diamond sky,”&lt;/span&gt; sambungku ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Enak ya, pacaran?” Raras menyambutku dengan sinis. “Sori, Ras. Tempat fotokopi yang biasanya tutup, terpaksa gue nyari. Udah gitu dapetnya jauh lagi!” aku nyengir. “Kasihan Phytta. Tadi dia juga sempat dihadang preman lho,” Gigan mendukung ceritaku. “Oke, oke. Gue percaya. Ayo, cepetan. Keburu deadline nih,” Raras berbalik menuju kelas ekskul mading, lalu dengan sigap kembali menghadap Gigan dan menambahkan, “Gan, mending lo tinggalin cewek lo deh. Kita agak lama nih, soalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa sih yang jadi cewek Gigan?” sewotku. Aku melotot padanya lalu memandang Gigan minta dukungan. Gigan yang menangkap pandanganku langsung menyahut. “Iya. Phytta bukan cewek gue kok,” Gigan agak salah tingkah. “Oh, kirain. Habis mesra banget sih, boncengan naik sepeda berdua. Siapa yang nggak ngira kalau kalian pacaran, hayo?” Raras tersenyum nakal. Aku cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphoneku bergetar. Balasan dari Arka rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;From: Arka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Btw, lo dah pnya prtner buat Kesenian blm?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa-apaan ini? Apa Arka bermaksud menawariku jadi partnernya? Ah, tidak mungkin. Cuma khayalanku saja. Arka tidak mungkin mau jadi partnerku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;To: Arka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Udah, td Gigan nawarin gue. B’hubung gue blm pny partner, y gue trma aj. Mank knp?&lt;br /&gt;Aku harap-harap cemas menanti jawaban darinya. Aku, tentu saja berharap Arka tanya begitu karena dia naksir aku. Pede sekale.. Tapi sepertinya tidak mungkin ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bye semua,” aku melambai pada teman-teman di ekskul mading. Mereka membalas tak kompak. Kuambil sepedaku yang tadi kuparkir di lapangan sekolah. Kutemukan Gigan di bangku dekat sepedaku. “Gigan, lo ngapain masih disini?” tanyaku, tak dapat menyembunyikan keterkejutanku. Gigan bangkit dari bangku. “Ya nungguin lo lah, ngapain lagi?” jawabnya santai. Aku melongo. Gigan? Nungguin aku? Yang benar saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang kerjaan banget sih lo, nungguin gue segala,” kataku mengernyitkan dahi. “Kalau gue nggak nungguin lo, gue pulang sama siapa dong?” jawabnya tanpa rasa bersalah. Gubraks!! Lututku lemas mendengarnya. Gigan, Gigan. Lo tuh ye..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Akbar? Phytta pulang bawa martabak bantal kesukaan Mas Akbar nih!” seruku, meletakkan sebungkus martabak yang masih hangat di meja tempat kami biasa makan. “Oke. Ntar mas makan deh!” Mas Akbar balas berteriak dari kamarnya. Aku merebahkan diri di kasur tempat aku dan Mas Akbar bermalas-malasan sambil menonton televisi. “Fiuh,” aku menghapus keringat yang menetes dari dahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itta, sholat dulu,” Mas Akbar mengingatkanku. “Tadi udah di musholla sekolah,” jawabku sambil berjalan ke kamarku. Aku bersiap-siap mandi ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kos-kosanku dan Mas Akbar. “Biar aku yang buka,” kataku pada Mas Akbar yang asyik dengan notebooknya. Mas Akbar mengangguk padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya?” aku membuka pintu. “Hey, Itta,” sapa seseorang yang tadi mengetuk pintu. “Choco? Ayo masuk,” aku mempersilakan sahabatku itu masuk. “Oh, iya,” Rico mengikutiku. “Ayo duduk, nih ada martabak bantal spesial. Di makan, Ric,” kubuka bungkus martabak itu lalu kusodorkan pada Rico. Aku beranjak dari sofa untuk membuat minum, tamu harus dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuletakkan nampan berisi dua gelas es sirup dan sepiring kue kering. “Makan, Ric,” aku mengambil sepotong martabak. Rico ikut mengambil satu. “Tadi, Arka cerita ma gue kalau lo pacaran sama Gigan. Beneran nggak sih?” tanya Rico. Aku hampir tersedak mendengar itu. “Siapa yang pacaran sama Gigan? Ngaco deh, Arka itu. Tadi tuh gue emang diboncengin Gigan, tapi kita nggak pacaran kok. Lagian siapa yang suka sama Gigan? Lo kan tau kalau gue sukanya sama Marty,” jelasku panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marty adalah nama samaran untuk Arka. Kenapa Marty? Aku ambil nama itu dari salah satu tokoh film animasi Madagascar dan nama tokoh di film Back To The Future. Madagascar, tahu kan? Itu lho, empat binatang dari kebun binatang di New York. Ada Alex si Singa, Melman si Jerapah, Gloria si Kuda Nil, dan Marty si Zebra. Marty itu tingkahnya konyol dan aneh, makanya aku dapat ide untuk nama samaran Arka dari situ. Memang mirip sih. Kalau Marty dari film Back To The Future itu adalah cowok sahabat seorang ilmuwan yang membuat mesin waktu. Menurutku Marty di film Back To The Future itu cute dan cool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rico manggut-manggut mendengar ceritaku. “Gue kira lo beneran jadian, makanya gue buru-buru kesini. Gue kira lo lupain gue, masa lo jadian gue nggak dikasih tau? Ternyata cuma salah paham,” kata Rico. Aku dan Rico tertawa bersama. Entah apa yang kami tertawakan. Kuteguk es sirup milikku, Rico meniruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bercanda seru sore itu, ditambah humor segar dari Mas Akbar yang sesekali menyambung aku dan Rico. “Itta, besok malam minggu kita jalan ke mall ya?” ajak Rico. Itta merupakan panggilan sayang dari Rico dan Mas Akbar untukku. Lucu kan, nama panggilanku? Sebagai ganti, kalau aku sedang sayang sama Rico, aku panggil dia Choco. Karena dia suka sekali dengan yang namanya coklat. Mirip nama anjing temanku saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, Choco sayang,” jawabku geli sembari mencubit pipinya yang kemerah-merahan khas bule. Dia cemberut namun segera saja dia tertawa. Aku ikut tertawa. “Dasar gila,” Mas Akbar yang baru keluar dari kamarnya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kami. Tawa kami malah semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rico sedang memainkan topi kesayangannya saat aku masuk kelas. “Pagi, Choco!” ku tepuk pundaknya. Rico menoleh padaku dan tersenyum manis. “Pagi juga, Itta. Tumben amat lo berangkat pagi, biasanya balapan ama bel masuk,” kata Rico sambil nyengir. “Phytta gitu lho,” balasku sambil menepuk dada. Jarak sekolahku dengan kos-kosanku memang tidak terlalu jauh, jadi aku selalu nanggung kalau berangkat sekolah. Kadang sampai terlambat dan harus membuang sampah yang ada di sekolah karena hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, cari apaan?” sapa seorang cowok yang berdiri di belakangku waktu aku sedang mencari buku bacaan di perpustakaan sekolah. Rupanya Arka. Jantungku berdegup kencang, namun aku bisa menyembunyikan perasaanku dengan memasang muka ngapain-lo-tanya-tanya. “Gue lagi cari pupuk urea,” kataku pura-pura bete. “Ditanyain serius malah kaya gitu,” kata Arka agak sewot. Aku memicingkan mataku. “Oh, gue baru tau kalau lo itu bisa serius,” balasku sengit, pura-pura tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bisa lah. Gini-gini gue kan cowok, harus bisa serius dong,” kata Arka berwibawa. Aku kagum, baru sekali ini aku melihat Arka seperti ini. Aku tersenyum dalam hati. “Wah, udah mau masuk nih. Gue pergi dulu ya,” kutepuk bahu Arka seraya berjalan keluar. Di pintu perpustakaan, aku berhenti dan berbalik ke arah di mana Arka berdiri. “Gue seneng lo bisa serius kaya tadi, beneran,” aku tersenyum lalu segera berjalan cepat keluar dari perpustakaan, terlalu takut untuk tahu reaksi Arka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1st Chapter oleh Faradienna Raushan Fikri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://faradienna.wordpress.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;http://faradienna.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-4431886158710021810?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/4431886158710021810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=4431886158710021810' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/4431886158710021810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/4431886158710021810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/asam-manis-hidup-seorang-cewek-gemuk.html' title='Asam Manis Hidup Seorang Cewek (Gemuk)'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-8712917338714726927</id><published>2009-08-13T01:08:00.000-07:00</published><updated>2009-08-13T02:29:58.248-07:00</updated><title type='text'>Semua Karna Cinta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B A B  1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu adalah pertengahan bulan Agustus, dan pagi hari masih penuh dengan kabut karena memang masih jam tujuh kurang. Terlihat cewek berambut hitam dengan gaya ekor kuda membawa ransel warna hitam berstrip merah dan ada pin bergambar karakter Bleach, Ichigo Kurosaki dan Rukia Kuchiki berlari dengan semangat. Dia berhenti tepat di depan pintu yang ada lambang di atasnya : X 2. cewek itu melihat kanan dan kirinya. Sesudah memastikan bahwa nggak ada orang sama sekali, dia tersenyum puas. Cewek itu mengambil satu kursi dan duduk di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit demi menit berlalu. Cewek ini sudah dilanda kebosanan. Dari duduk tenang, dia berdiri, dan duduk menyamping. Setelah itu dia berdiri lagi dan duduk menghadap punggung kursi. Masih tidak ada orang yang datang, dan kabut mulai menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek itu mendengus keras, mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai. Sambil menyanyi dan menari sedikit, dia menyapu lantai kelas yang penuh dengan debu sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga!!!” Seru seorang cewek dekat pintu. “Aku nggak salah lihat nih?! Rin menyapu padahal bukan waktu piketnya!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Norak,” jawab Rin, menatap cewek itu. Cewek yang hampir sama tinggi dengannya, dengan potongan rambut bob dan kacamata tanpa bingkainya yang lonjong. “Memangnya kenapa kalau aku nyapu kelas ini? Nggak boleh? Kamu saja yang kerjakan, Nova.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok marah. Aku Cuma nanya aja. Rin yang dari dulu disuruh giliran piketnya kabur, sekarang dengan sukarela menyapu. Jadi curiga nih, jangan-jangan jangan-jangan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diem, cerewet!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marah lagi. Bagaimana dengan masa MOS, paling cepat terlambat 5 menit kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ingatkan aku sama kegiatan konyol kayak gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya yang kegiatan konyol?” Terdengar suara cowok memotong obrolan dua cewek ini. Begitu mereka menoleh, terlihat cowok tinggi, berkulit coklat dan senyum yang ramah. “MOS kan gunanya supaya kalian nggak kaget tiba-tiba muncul di sekolah ini. Kalian jadi kenal sama sekolah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Ronald!” Seru mereka berdua serempak. Rin sepertinya shock, dan Nova langsung berlari menghampiri cowok bernama Ronald itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, kapan aku bisa jadi anggota OSIS?” Tanya Nova serius. Raut wajah Ronald terihat kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana ya... rasanya agak susah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ron, jangan main-main! Kamu ini hobinya ngerjain orang saja.” Kata seorang cewek yang suaranya lembut dan senyumnya manis. Rambutnya hitam lembut dan panjangnya sebahu. Memakai bando warna orange, dan tubuhnya semampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nadine, kamu ini cerewet juga.” Kata Ronald kesal. “Kamu.... Nova kan, yang waktu MOS juga nanya-nanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,” jawab Nova semangat. Matanya terlihat berbinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ikut aja dulu rapat-rapat OSIS, soalnya ketua OSIS ini,” kata Nadine menunjuk Ronald.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak bisa diandalin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah ah! Ayo kita ke kelas.” Kata Ronald meraih tangan Nadine dan pergi dari situ. Rin mendekati Nova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa sih, cewek itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kamu nggak tahu?” Tanya Nova balik. Rin merengut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Nadine itu Sekretaris OSIS. Dia itu idola para cowok di sini tahu nggak? Cantik, tubuh yang langsing dan tinggi, pintar, cekatan dan baik. Pokoknya sebagai cewek, sempurna deh!” Kata Nova lagi. Rin terdiam, kayaknya dia nggak suka dengan mereka berdua. Nova berpikir itu pasti karena Ronald yang menegurnya tadi. Rin kan nggak suka dikomentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin termasuk wajah baru paling populer di angkatan anak kelas 1. cantik, jago olahraga, gayanya cool, dan meskipun sering telat dan jarang belajar, nilainya selalu bagus. Itu semua kelebihannya dan selain sering telat dan jarang belajar, mungkin kejelekannya Cuma berjudi. Yap. Berjudi. Rin punya hobi berjudi dari kecil sampai dijuluki Dewi Judi. Dan dia mendapatkan gelar itu karena dalam berjudi, dia selalu mendapat untung dari menang kalahnya. Entah bagaimana bisa seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Nova sendiri? Bisa dibahas nanti, soalnya Nova pelit dalam berbagai sisi. Jadi kalau bertanya padanya dan orang lain, semua pasti sia-sia. Yah, mungkin bukan pasangan yang komplit, tapi mereka akrab. Sangat akrab, karena mereka saling mengerti dan tahu keadaan diri masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, rumahmu hari ini masih penuh bunga?” Tanya Nova waktu istirahat pertama. Muka Rin langsung kusut waktu dengernya. Nova tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Kenapa? Senang? Nggak peduli dengan perasaanku? Astaga...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nggak bilang gitu kok! Tapi bukannya dia keren?” Kata Nova lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nova, kita udah bahas ini berkali-kali dan kau sudah lihat wajahnya berkali-kali dan melihat tingkahnya berkali-kali dan... dan... dan kamu masih bilang dia keren sampai sekarang!!?? Apa sih, yang kamu liat dari Joe aneh itu?” Tampang Rin sudah mulai putus asa. Nova hanya bisa tersenyum. Senyuman misterius. Nova memang misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini sudah seminggu loh. Kira-kira dia bakal datang nggak ya? Jangan-jangan sudah pindah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin. Kayaknya sih, udah pindah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dong!! Kita aja belum lihat bagaimana wajahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gosip yang menarik, tapi kita ngomongin soal apa sih? Cewek dan cowok itu begitu ngotot dengan pendapatnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu nggak tahu? Wajar sih. Ada seorang murid yang sampai sekarang selalu absen di kelas kita. Sebenarnya nggak ada masalah dengan dia, tapi cowok itu penuh gosip. Ini semua karena guru-guru yang panik melihat absennya sampai sekarang. Ada yang bilang dia anak orang kaya, anak jenius, anak ini dan anak itu.” Jawab Nova waktu ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Cuma dua hal itu gosipnya, kenapa semua murid jadi heboh?” Tanya Rin bingung. Dia mempermainkan sendoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, dia nggak sekedar kaya. Tapi superduper kaya. Entah dia itu anak direktur perusahaan raksasa atau bahkan mungkin sebenarnya pangeran negeri antahberantah. Da kita bicara soal keuntungan berteman dengan orang superkaya, dan mungkin juga berkuasa. Uang bisa menggerakkan segalanya, kalau aku harus ingatkan kata dalam kamusmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam kamusku, uang dicari dengan tangan sendiri. Kalau aku mencari uang dengan berteman, aku nggak mau dekat denganmu. Paling tidak, berjudi membuatku berpikir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjudi itu tidak bagus. Seberapa besar keberuntunganmu kurasa nggak akan bisa menaklukan judi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Judi bukan Cuma beruntung, honey. Itu membuatmu berpikir secara kalkulasi. Perhitungan yang tepat membuatmu nggak akan pernah kalah. Well, kalau misalnya taruhanku salahpun aku nggak rugi. Aku juga nggak memakai taruhan uang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau nanti bakal kena batunya. Sekarang, kita masuk dulu. Bell sudah bunyi. Guru killer itu bakal masuk hari ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru Fisika? Yang benar saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diamlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit berlanjut. Semua orang dilanda kebosanan sampai waktunya mulai absen. Semua hadir kecuali... “Aryo? Aryo Dwiyanakusuma? Lagi-lagi tidak ada ya?” Guru mulai putus asa lagi. Rin cekikikan. Namanya kayak nama wayang banget. Orangnya kayak apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada suratnya pak! Alpa!” Sahut sekretaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu!! Saya di sini pak!! Saya di sini!!” Teriak seseorang dari jendela. Semua orang terpana melihatnya. Di jendela lantai 3, ada seorang anak melambai dengan entengnya!!! Kayaknya dia memanjat pohon di samping sekolah dan memakai pondasi sekolah menuju jendela. Langkahnya ringan, dan berdiri tegap di hadapan pak guru yang sudah kena gejala serangan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat, Rin juga terpana. Tapi dia cepat menguasai diri. Tinggi, berkulit putih, berwajah tampan, sorot mata yang kuat dan ceria. Sepertinya dia orang yang cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ka, ka, kamu!!! Kenapa masuk lewat jendela!!!??” Tanya pak Guru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya pak!! Eh, maksud saya... saya nggak bisa masuk gedung. Jadi saya masuk lewat jendela pak!” Jawab cowok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar info, gedung sekolah ini adalah sekolah yang bentuknya segi empat dan mengelilingi lapangan besar. Nggak ada satupun jalan keluar masuk gedung kecuali pintu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gotcha!!” Gumam Rin kesenangan. Nova langsung menangkap gelagat nggak bagus. Rin berjudi lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Judi? Nggaklah...” Jawab Rin. Mereka lagi dalam perjalanan pulang. “Nggak sempat. Aku Cuma bilang kalau anak itu bakal datang hari ini. Si Antok itu nggak percaya. Untung aja dia nggak taruhan, pasti dia kalah sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darimana kamu tahu dia bakal datang hari ini?” Tanya Nova heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena hari ini sudah seminggu. Anak itu pintar kan? Kurasa tidak akan bisa dia memperpanjang bolosnya dengan alasan ‘aku ditipu’ kalau lewat dari seminggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dengan kata lain, Rin juga nggak bisa memperkiran kapan sebenarnya si Aryo ini turun. Makanya dia nggak masang taruhan&lt;/span&gt;. Dasar Rin, apanya yang nggak sempat? Pikir Nova.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Rin, kayaknya hari ini dia bakal datang. Si Joe itu.” Kata Nova mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa nggak sih, nggak nyebutin namanya sekali aja? Nanti dia da...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang!!! My honey!!!” Suara yang riang terdengar membahana. Kelopak bunga mawar berhamburan, dan muncul cowok dengan membawa buket bunga mawar yang besar!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin langsung diam karena shock, sedangkan Nova menantikan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau merindukanku, my honey?” Tanya cowok itu mendekat dengan gerakan yang genit. Rin serasa mau muntah darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ada yang merindukanmu, dasar bodoh!!” Pukulan telak mengenai pipi Joe dengan mantap. Cowok itu terlempar dan sukses menghantam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rin!!! Tinjumu yang penuh cinta seperti biasa membuatku jatuh cinta lagi!!” Kata Joe di tengah kesakitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar genit, narsis, brengsek, nggak ada kapok-kapoknya!!!” Rin benar-benar jengkel. Sepertinya kalau Joe berbuat sesuatu lagi, bakal di hajar habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah Rin, biarkan saja dia. Rumahmu sudah dekat kan?” Kata Nova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak bisa!! Aku sudah capek!! Tiap sore dia selalu saja datang menghadangku dijalan dengan buket bunganya yang super besar itu!! Selalu saja ngomong sembarangan, kayak orang yang nggak punya otak, dan sekarang, dia bawa bunga mawar!!! Aku paling nggak suka bau mawar yang pekat!!! Kali ini, dia harus dihajar sampai ngerti!!!” Rin betul-betul sudah habis kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kali ini beda, honey.” Kata Joe dengan nada serius. Rin mendelik, agak heran dengan perubahan mendadak dari Joe, si tukang lawak. Joe berlutut dihadapan Rin, dan menatap mata Rin tanpa berkedip seraya mengambil sesuatu dari sakunya. Sesaat, Rin merasa jantungnya berdebar karena itu. “Kupersembahkankan padamu, puisi cinta!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUMM!!! Hancur semua adegan penuh makna beberapa detik tadi!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambulans meninggalkan rumah besar, dan Rin bernapas lega memperhatikan ambulans itu menghilang di persimpangan jalan. Paling tidak, untuk beberapa hari, tidak ada bunga dan orang konyol seperti Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walah, walah... kamu kirimkan Joe ke rumah sakit lagi? Baru seminggu yang lalu dia sembuh dari patah tulang gara-gara kamu tabrak sampai motor itu disita sama ayahmu.” Terdengar komentar seorang gadis di meja makan. Rin berusaha mengacuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Hana... kalo denger gosip itu yang bener! Salah dia sendiri muncul tiba-tiba dengan kostum aneh dan balon warna-warni!” Kata Rin membela diri. Sepupu Rin yang sudah kuliah semester 4 itu hanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia itu serius, Rin. Dia betul-betul suka sama kamu meski kalian awalnya dijodohkan. Nggak rugi berteman dengannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sih, semua orang membela si norak itu! Kenapa nggak kalian aja yang dijodohkan dengan dia!!” Gerutu Rin kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu artinya kamu nggak kenal Joe, Rin. Cobalah berteman dengannya, dia baik kok. Kalian mungkin soulmate yang sudah ditakdirkan dari dulu.” Kata kak Hana lembut. Sama seperti Nova, senyum kak Hana penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soulmate?” Ulang Rin heran dengan nada meremehkan. “Mana ada yang seperti itu? apalagi kalau dengan si norak Joe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin masuk ke kamar, meninggalkan kak Hana yang kebingungan. Yah, sepertinya Rin seorang anak gadis tomboy, cool, dan nggak ada sisi feminimnya sama sekali. Dia sama sekali nggak percaya dengan yang namanya cinta. Padahal, semua sependapat kalau dulu Rin itu anak yang manis. Sejak dia diganggu Gerombolan Siberat, eh, preman smp, Rin langsung belajar beladiri dan menjadi anak yang tangguh dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin dan Aryo ternyata piket membersihkan kelas. Sebenarnya ada lima orang, tapi 3 orang lainnya tidak bisa datang, dan baik Rin dan Aryo sudah dapat peringatan. Mereka kali ini nggak bisa mangkir. Rin mengerjakan tugasnya dengan penuh semangat. Dia kepengen cepat pulang, karena nggak ada Nova yang nemenin dia pulang, dan Rin punya firasat bakal terjadi hal gawat kalo tetap bersama cowok bernama Aryo itu. Setelah memastikan semuanya beres, Rin dan Aryo mengembalikan buku ke perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aryo bersiul-siul kencang. Sepanjang pengamatan Rin, Aryo si anak superdung yang kaya ini, kelakuannya betul-betul cuek. Kurang ajar sama guru, seenaknya, suka ngegodain orang. Pokoknya nggak beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh, Rin. Sendirian?” Tanya Nadine begitu melihat Rin di perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, nggak. Ada si Aryo di luar. Dia katanya nggak suka masuk perpus.” Jawab Rin gugup. Ronald yang bersama Nadinepun langsung menoleh begitu melihat Rin yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana Nova? Biasanya kalian pulang bareng?” Tanya Ronald.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia nggak bisa, sudah dijemput keluarganya. Ada acara katanya.” Jawab Rin kaku. Ronald meneruskan pekerjaannya. Nggak ada orang lain selain mereka di perpus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh gitu. Ya sudah. Taruh aja buku-bukunya di meja resepsionis. nanti aku dan Ronald yang membereskannya.” Kata Nadine memasukkan sesuatu ke kantongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Aku juga?” Tanya Ronald nggak percaya. Nadine mendelik, Ronaldpun terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Mau protes? Kan kamu udah janji mau temani aku sore ini.” Kata Nadine setengah mengancam. Ronald mau protes lagi.&lt;br /&gt;“Aku pulang dulu.” Potong Rin tiba-tiba. Tanpa banyak berkata dia langsung berlari keluar. Begitu keluar, terlihat Aryo yang sudah mengambil tasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, kuantar pulang.” Kata Aryo dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah mau sore, nih.” Kata Aryo. “Memangnya kamu mau pulang sendirian sore-sore begini? Biar kuantar, supaya bisa lebih tenang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin agak ragu, tapi lalu tangannya ditarik paksa. “Aku Cuma piket berdua denganmu hari ini,” kata Aryo. “Kalo ada apa-apa, aku pasti yang ditanyai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Rin menurut. Dia langsung naik ke motor besar yang dikendarai Aryo, sesuatu yang nantinya akan disesalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setelah berada di kamar mandi selama berjam-jam, dengan suara yang bakal membuat orang nggak bisa makan, Rin ambruk di tempat tidurnya. Mengingat kembali bagaimana liarnya Aryo mengendarai motor, membuat Rin kembali mual. Rin merasa rohnya masih tertinggal di sekolah gara-gara itu. Laju nggak tanggung-tanggung, menyelip sembarangan, dan nggak melewatkan lampu hijau sedetikpun!!! Memangnya lagi balapan F1?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang membuat Rin heran, adalah pertanyaan Aryo sesudah mereka sampai di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nadine bareng Ronald di perpustakaan ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I, iya.” Jawab Rin gemetaran, pijakannya lambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terang aja sih, hari ini kan mereka piket di perpustkaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngapain si Aryo repot-repot masalah piketnya kak Nadine? Dia Cuma panggil nama, nggak ada tambahan kaknya. Dia juga ngotot nggak mau masuk perpus. Apa yang dihindarinya?&lt;/span&gt; Pikir Rin bingung, sampai dia teringat kejadian di perpus tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan-jangan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bahas masalah itu nanti, soalnya sekarang ada bom waktu yang mau meletus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari yang cerah, menjelang siang yang panas, bertebaranlah anak-anak SMU yang beristirahat. Ada yang di kelas, duduk-duduk di koridor, dan di kantin. Seperti Rin yang lagi asyik minum, tiba-tiba dikejutkan segerombolan cewek-cewek yang langsung memenuhi kantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rin!! Rin!! Ada berita heboh!!!” Teriak mereka. Rin langsung kesedakan. Untung aja ada Nova yang menolongnya. Setelah sukses mengatur napas, Rin bertanya pada cewek-cewek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiba-tiba ada orang-orang yang masuk ke sekolah ini bawa spanduk, kamera TV, karangan bunga dan macam-macam lagi!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus apa hubungannya denganku?” Tanya Rin. Firasatnya makin jelek aja hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soalnya di spanduk itu ada namamu!!!” Jawab mereka serempak. Terdengar suara soundsystem yang bergema di sekolah. Rin langsung berlari ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar. Joe, sudah keluar dari rumah sakit. Setelah beberapa hari nggak kelihatan dan terhapus dari memory Rin, muncul dengan kehebohan!! Spanduk pink dengan tulisan besar “I LOVE YOU” norak dengan nama Rin, karangan bunga lagi, dan sekarang Joe dengan micnya yang luarbiasa ribut, bertambah nyaring begitu melihat Rin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Rin benar-benar merah padam. Bingung dan malu. Bingung karena terlalu mendadak, malu karena semua orang melihat dia (masih ingat, lagi istirahat gitu loh). Semua koridor penuh dengan anak-anak yang antusias melihat tayangan live yang menyatakan cinta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa-apaan sih, kamu Joe!!! Norak tau!!!” Marah Rin mendekati Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa boleh buat. Waktu kudengar kamu bersama cowok lain, aku nggak bisa tenang. Kelihatannya dia cowok di sekolah ini. Jadi, untuk memastikan semua orang tahu kalau aku benar-benar suka, aku merencanakan ini. Lihat, bahkan aku membawa kru kamera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodoh, stupid, idiot!! Bikin malu!! Rin luarbiasa marah, apalagi mendengar riuh penonton yang bersorak di sekelilingnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nggak bisa!! Sudah kubilang ini mustahil!! Aku nggak suka sama kamu!!!” Teriak Rin, supaya semua orang denger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kamu juga nggak suka orang lain kan? Aku masih ada kesempatan!!” Teriak Joe yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin terjepit. Tapi pandangannya beralih. Tampak Ronald datang dengan susah payah untuk menenangkan suasana. Rin langsung mendapat ide gila!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah punya pacar.” Kata Rin memelankan suaranya. “Dia pemalu, jadi kami merahasiakannya selama ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?!” Teriak Joe menggema melalui mic. Semua orang berbisik, tidak mengerti apa yang terjadi. “Si, siapa?” Tanya Joe. Dan Ronaldpun semakin mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nggak mau buat dia malu. Lihat saja apa yang kulakukan, dan kau pasti ngerti!” Bisik Rin. Ronald sudah berada di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, kau...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat!” Seru Rin meraih lengan Ronald. Semua orang terdiam, Joe juga. Rin memeluk lengan itu erat-erat. Joe lemas dan terduduk. “Sudah ngerti kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa-apaan kalian ini.” Kata Ronald meraih lengan Joe, membantunya berdiri. “Kamu dapat ijin dari siapa sih, bikin gempar sekolah saja. Ayo ikut ke ruang kepala sekolah dan jelaskan semua!” Ronaldpun menggiring Joe pergi. Rin masih memeluk lengan itu. Rin tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kak Ronald bersama Joe ada di sana&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terus... lengan siapa yang kupeluk ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau sampai kapan meluk-meluk lengan orang?” Tanya suara jahil yang paling dibenci Rin. Ternyata... lengan Aryolah yang dipegang terus dari tadi!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip tersebar luas... rupanya ada yang mendengar percakapan hari itu, dan membuat pusing Rin tujuh keliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah... nggak tahu ya. Gara-gara Joe bilang kamu sama cowok lain, dan kamu yang meluk-meluk lengan cowok itu sembarangan, makanya semua orang berasumsi begitu.” Komentar Nova yang nggak membantu. “Tenang aja, Joe itu kan cowok yang pantang menyerah. Nanti dia pasti kembali lagi. Dan kalau waktu itu kamu terima, kamu bisa bebas dari gosip ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu itu... menghibur atau mengancam sih?” Tanya Rin jengkel. Dan itu belum seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin baru tahu, kalau ternyata Aryo itu anggota OSIS yang paling beken, kedua setelah Ronald. Meskipun tidak aktif, Aryo sudah terbiasa menggantikan Ronald disaat darurat, seperti anggota bayangan. Pantas saja waktu itu Aryo ikut bersama Ronald. Dan... itulah mengapa, nyawa Rin jadi terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah kalau idolanya preman, penggemarnya juga preman?” Tanya Rin. Nova menggeleng, nggak tahu. Rin dihina-hina, dapat surat ancaman, dikerjain, dan masih banyak lagi! Penggemar Aryo sadis ih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aryo!! Kamu harus tanggungjawab ini!!! Masa punya penggemar sadis semua!!!” Protes Rin begitu ada kesempatan. Sehabis pulang sekolah, Rin menyeretnya ke halaman dekat perpus. Halaman angker yang penuh dengan pohon-pohon tua dan besar. Nggak ada yang di sana kalau sudah sore. “Kamu tahu, sudah beberapa hari ini aku hampir tertimpa barang dari atas, ditabrak motor, di dorong ke tengah jalan, itu semua kerjaan penggemarmu tahu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan? Bukannya kamu yang meluk-meluk lengan orang?” Tanya Aryo balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kan awalnya gara-gara kamu mengantarku waktu itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kan Cuma...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma apa!! Kenapa sih, aku harus jadi korban kejahilan penggemarmu, padahal kamu suka cewek lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu suka sama kak Nadine kan? Kamu ngantarin aku karena disuruh kak Nadine kan? Pantesan aneh, orang kayak kamu yang biasanya cuek bebek mau ngantar sampai begitu ngototnya. Begitu pulang, tanya-tanya soal kak Nadine segala. Kamu waktu itu ngotot nggak mau masuk kelas gara-gara nggak mau liat kak Ronald kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Ronald itu meskipun supel dan ramah sama semua orang, nggak pernah ada cewek yang sanggup dekat dengannya karena dia nggak pernah niat pacaran. Cuma kak Nadine aja yang akrab dengannya sampai sekarang, makanya kamu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan cerewet!! Kamu sendiri, sebenarnya suka sama Ronald kan?” Balas Aryo memotong kata-kata Rin yang seketika jadi kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu... jangan sembarangan...” Kata Rin gemetaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu semuanya.” Kata Aryo tersenyum penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ba... bagaimana berandal ini bisa tahu?!!! &lt;/span&gt;Jeritan batin Rin yang malang, tidak bisa berkelit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1st Chapter oleh Y.E. Bungan Margaret&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-8712917338714726927?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/8712917338714726927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=8712917338714726927' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/8712917338714726927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/8712917338714726927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/semua-karna-cinta.html' title='Semua Karna Cinta'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-695066197486584281</id><published>2009-08-03T22:15:00.002-07:00</published><updated>2009-08-03T22:24:18.984-07:00</updated><title type='text'>Detektif 17 tahun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di suatu malam yang sepi, ada seorang anak remaja sedang berjalan menelusuri  jalan yang penuh dengan kegelapan. Tiba tiba ada seseorang yang bertubuh ceking dengan ekspresi bagaikan orang habis ditabok seribu mak mak kehabisan sale di supermarket. Tiba tiba ia menyapa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh sini bagi duit, bandel loe ye malem malem kelayapan!!! Dasar tuyul, sini serahin dompet loe!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ampun bang….ampun”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam hati anak itu berkata “mampus mana nih pasukan? katanya siap siaga, siap kentut iya. Udah dompet gw ketinggalan lagi EBLE EBLE dah kalo gini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langsung preman itu menghentak “binatang loe!! Mane!! Apa mau gua gibeng”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(karena memakai bahasa yang terlalu formal itu sangat tidak keren dan membosankan maka sehabis ini formatnya diganti dari formal ke informal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“toneng,toneng,toneng” suara mobil polisi mendekat. (suara mobil polisi apa mobil jenasah ya???*^%$&amp;amp;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angkat tangan!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya datang juga tuh pasukan polisi dari divisi 78….langsung aja gw keluarin pistol gw (Ciieehhh pistol megang pisang aja lepas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw bilang dah “diam di tempat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh premannya jawab “eh elo masih kecil aja sok sokan nodong pake pistol! Mainan aja dikira ga tao…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“berisik loe!!!” langsung dah gw pukul perutnya biar muntaber sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mampus loe, ga tau siapa gw sih bwahahaha!!! ” langsung deh gw laporan sama kepala operasi di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lapor pak!! Kondisi sudah terataskan….satu dari banyak preman yang rajin beroperasi disini bisa ditangkap”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh gua sampe lupa jelasin nama gua sendiri. Nama gua Aji (ga perlu tau nama lengkap gw dah terlalu Basa basi). Gw kerja di kepolisian bagian detektif, dan dengan bangganya gw adalah salah satu detektif yang paling jago dalam penyamaran BWAHAHAHAHA!!! Kenapa?? Karena walaupun gw sekarang berumur 37 tahun, tampang gw masih kaya 17 tahun (jadi masih bertampang polos dan imut imut hehehe). Tapi sayangnya pekerjaan gw juga banyak deritaannya. Jadi inget dulu waktu investigasi kasus “penyerangan banci terhadap remaja” bah gw disuruh nyamar di jalan yang banyak bancinya. Kagak ngeri ape, mending gw ditabokin Bapak, Ibu, Bapak, Adik, Bapak, Kakak, Bapak, Nenek, Bapak, kakek, Bapak, Nenek dan kakek moyang dah daripada ditampar banci.(kayaknya cukup banyak pengalaman ditampar bapak) Terus belom lagi kasus tawuran antar sekolah, bah malahan ujung ujungnya gw bingung malah ikut tawuran (daripada digebukin dua belah pihak). Tapi di setiap hal yang ga enak pasti ada yang enak. Kaya waktu gw lagi investigasi  jadi murid di salah satu sekolah, kalo gw lagi suka sama cewek disitu, gw pacarin deh hehe (never ending young deh haha). belom lagi kaya pengalaman dulu waktu ngerokok di WC, nyolong contekan, bolos sekolah, pokoknya the best dah. Yang jelas gw enjoy aja dengan kehidupan gw yang sekarang ini. Gw selalu berdoa “ya tuhan, terima kasih atas wajah yang imut imut ini ya tuhan. Semoga wajah saya yang sangat special ini tetap dapat membantu membahagiakan hidup saya. AMIN”. (doa itu ga boleh munafik) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup buat background gw, sekarang kembali ke cerita. Setelah peristiwa penangkapan preman itu berlangsung, gw langsung dipanggil buat menghadapi atasan di kantor. Langsung deh dengan motor bebek gw beraksi (kenapa motor bebek?? Kerenan dikit kek….jawabannya, karena kebanyakan anak SMA orang tuanya pada pelit….anaknya dikasih motor gembel alesan masih baru punya kendaraan dan karena gw suka nyamar jadi anak SMA jadi gw kebagian deh naik motor beginian) setelah gw sampe di tempat, langsung deh buru buru naro helm, naro jaket langsung deh ke lantai dua tempatnya si bos garong (maksudnya bos gw yang mukanya hidung belang hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tok tok tok” gw ketuk pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“masuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Detektif Aji siap menerima tugas baru!!” dengan tegas perkasa gw bilang (walaupun males gw…Jujur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gini Ji, kita dapet laporan kalo ternyata di SMA Mentari Terbenam (sekolah elit ceritanya) ada seorang anak penjual narkoba terbesar di Indonesia dan buronan polisi nomor.1”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati gw ngomong “hehehe lama ga kembali ke sekolah lagi udah 5 bulan, tapi berat juga ya selidikin anak mafia… Setan kambing guling!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“nah ini tugas kamu sebagai detektif yang sudah lama kami andalkan di bagian penyilidikan. Kebetulan identitas anaknya pun belum diketahui, sepertinya ayah dari anak itu sudah menyogok bagian sekolah untuk tidak buka mulut. Yang jelas nama ayah dari anak itu adalah Prajoko Subowo. Kasus ini pemerintah pun ikut ambil bagian, mereka menyiapkan dana yang cukup besar untuk saya minum kopi…eh eh maaf maksud saya membantu kasus ini. Mulai besok kamu akan tinggal di tempat mewah yang tadinya rumah dinas pejabat dan diberikan satu unit motor sport imprott (ya ampun ngeja import aja salah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah wah keren neh bisa tinggal di tempat mewah dapet motor lagi hehehe, bebek selamat tinggal. Wah gw harus makasih neh ma si bos garong “Baik pak, siap laksanakan!!! Dan terima kasih atas kepercayaan bapak terhadap saya”.  Langsung gw menuju pintu keluar sambil senyum iblis dikit hehehem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru aja keluar tujuh langkah, eh gw ketemu cantik  a.k.a  bunga mawar polwan. Gw heran nama cantik tapi polwan ya membingungkan. Langsung deh nyapa gw:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“woii  JI!! Gimana tugas loe kemaren?? Gw kira mampus loe digebukin preman”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wossettt gw hahahaha anak dewa gini mana bisa gw disentuh manusia kaya begituan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dewa apaan loe!!! Dewa tuyul” (disini pada manggil gw tuyul karena tampang gw masih kaya anak kecil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“cerewet banget sih lo! Bilang aja kangen dengan getaran asmara gw hahaha”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sial loe, tuyul aja budak dukun hahaha!!! Eh Ji laper neh gw makan nasi uduk bu Perez yuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kenapa namanya bu perez??? Karena ibu2nya ngefans ma Julia Perez”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh sialan loe nyuri garis kalimat gw yang sangat keren…..makan nasi uduk yuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ah cerewet lo yulll!!! makan yuk ah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ok lah, siapa takut emang gw monster takut keluar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong ngomong, sebenernya gw dari dulu suka ma cantik, tapi gara gara gw udah temenan lama dulu sama dia bahkan dari kecil (jamannya ga tau bedanya cowok ma cewek) jadinya gimana yah. Susah deh….dari dulu kalo salah satu dari kita ada masalah ya saling bantu, dari masalah pekerjaan sampe masalah  pribadi. Dia gabung di kepolisian setahun lebih muda dari gw jadi bisa dibilang gw seniornya dial ah hehehe. Sebenernya ada alas an kenapa dia gabung di kepolisian. Orang tuanya tewas sama kriminal  pada waktu rumahnya dirampok. Dia salah satu orang yang selamat karena sewaktu itu dia lagi dirumah neneknya. Gw jadi inget waktu dia pertama kali tau tentang orang tuanya tewas, pada waktu itu dia main kerumah gw  pamerin boneka hadiah dari ibunya gara gara dapet rangking di kelas. Dia dianterin neneknya yang sehabis itu berbincang bincang serius dengan orang tua gua. Diem diem sehabis kita main diatas kita diem diem dengerin di tangga deket ruang tamu. Ternyata neneknya cantik ngomong kalo orang tuanya cantik udah tewas. Langsung dia buru buru kembali kerumahnya, waktu itu gw ikutin dia gara gara takut kenapa napa. Setelah sampe rumahnya dia liat ada mobil ambulance dan polisi sedang mengangkut jenasah. Langsung cantik berlari menorobos polisi walaupun dilarang untuk mecari tau siapa dibalik kain putih itu….setalah dibuka dia terkejut setelah tau bahwa itu adalah orang tuanya sendiri. Dan dari situ gw liat bonekanya yang tadinya dia pegang erat jatuh dengan seketika. Sampe sekarang ga ada satu orangpun  kerabat cantik yang nanya soal background orang tuanya, karena udah gua kasih tau supaya jangan buat dia sedih lagi.  Sungguh sangat menyedihkan, gw janji bakal nemenin dan buat dia seneng terus, gw pingin jadi boneka yang dulunya bisa buat dia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita, di warung bu perez tempat gw dan cantik makan siang bareng. Oh ya, warung bu perez ntuh udah beroperasi dari dulu di samping tempat gw kerja jadi bisa diartikan termasuk keluarga kepolisian deh. Tempatnya sih rame kebanyakan juga kalo enggak polisi supir taxi yang makan, tempatnya yah sederhana lah (namanya juga warung) tapi behh kualitasnya makanan di hotel serasa makanan babi kalo dibandingin dengan nasi uduk special ala bu perez (kaya gw pernah makan di hotel aja, SOOOKK). Namanya dulu ganti ganti, dulu waktu jamannya Rhoma Irhama disukain namanya jadi bu Irama, waktu ngefans ma inul jadi nasi ibu daristha, sekarang perez ntar apa dah…ganti muluan. Dan yang unik lagi tuh, kalo makan disana suka diiringin lagu dandut remix euy (goyang bang hahaha). Udah ah gw laper balik ke cerita lagi. Akhirnya kita kedapetan tempat duduk (maklum rame jam makan siang). Langsung deh memesan makanan sambil berbasa basi ria…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bu, gimane bu usahanya makin rame aje nih…haha biasa bug w ma cantik pesenannya nasi uduk special, yang punya saya tambain jengkol ma sambel yang banyak ya bu…oh ya, buat minuman….hmmm pesen soda sedih deh bu haha ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“yoi mas, hehehe iya dong siapa dulu yang jual BU PEREZ bu suharti mah ga ada apa apanya hahaha….ada ada aja mas mas soda sedih mana ada atuh, aneh pisan….ada juga soda gembira haha” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bahh kumaha atuh, ya saya taulah Cuma ada soda gembira….just kidding…hehe yang cepet ya bu laper neh haha” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sippppp mas!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil nunggu gw ngobrol ngobrol deh ma si cantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“oy…napa??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“loe gimana tadi ngatur jalan waktu lampu merah rusak di jalan bulungan indah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“yah biasa lah, Cuma kesel aja mentang mentang muka gw cantik secantik nama gw yah biasa ada om om resek ga tau diri suka godain gitu lah, belom tau aja gw sabuk item”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hahaha derita loe itu sih hahaha” tiba tiba ada tangan yang menggumpal mengenai pipi gw yang imut imut….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BRAKKKKKK (tinjuan kekesalan cantik yang mengenai gw sampe terpental dari kursi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“waduh sakit tau, dari kecil loe demen banget mukulin gw hahaha”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“rasain loh, lama lama hidungloe gw tonjokin sekalian biar kaya babi!!!.....eh gw denger denger loe dapet tugas baru ya suruh ngawasin anak anak di sekolah elit….tapi apa ga bahaya, elo kan bahasa inggris nya Cuma bisa YES ma NO aja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wosseettt, jangankan bahasa inggris sekarang bahasa binatang aja gw kuasain bwahahaa loe lupa siapa gw…..gw kan anak dewa, apa sih yang ga w bisa….btw, kok loe bisa tau??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“siapa dulu dong, cantik!! Hahahaha dapet informasi dari cowok cowok di kepolisian mah urusan kecil haha….enak dong lo??  gw denger bisa tinggal di tempat mewah ma dipinjemin motor keren. Padahal dari dulu pemerintah ga segitu ikut campur tangan deh, apalagi keluarin segitu banyak dana buat ni kasus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ hahaha iya lah terserah loe, tau deh yang cantik cuit cuit dah. Tapi kayaknya kali ini kasusnya bakalan susah….gw mana tau pergaulan elit kaya gimana, dari dulu gw disuruh selidikin kebanyakan SMA negeri paling pol swasta itupun juga ga banyak beda, belom cara gayanya dan cara bicaranya…..bah ribet pisan euy, apa kate mak gw ntar ya??? gw bisa tinggal di tempat mewah hehehe walaupun Cuma bentaran sampe kasus selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“derita loe itu sih hahahaa….gw cuma bisa bilang SEMOGA SUKSES dan jangan lupa traktiran terus menerus haha…tapi soal anak pengedar itupun masih misterius, kepolisian berusaha nyari data ga ketemu ketemu bahkan sudah diselidikin secara mendetail.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tik gw heran deh, loe polwan doing kok bisa tau banyak informasi hahaha jadi detektif aja loe sekalian.” (gw yakin sebagian yang baca juga bingung, tapi siapa peduli hahaha.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya nasi uduknya udah jadi ditambah soda sedihnya hehe. Sip deh gw ma cantik makan dulu hehe. Setiap gw makan ada aja orang yang aneh aneh cara makannya, ada yang makan sambil ngerokok (makan dulu atuh baru ngerokok), ada yang makan lauknya duluan sampe abis baru nasinya dan ada juga yang kebalikannya, ada yang makan kaya ga niat (makanan kayaknya diutak atik aja), ada yang makan sambil main sms (neh polisi lebay banget udah gede mainnya smsan mulu….sambil makan lagi). Kalo gw mah ga usah ditanya, makan sebersih nyuci piring dan dengan kecepatan turbo bwahahaha!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah gw makannya selesai gw siap siap kembali ke rumah gw, mesti siap siap kemas kemas buat besok. Sambil naik motor bebek gw (sekalian pamitan buat besok ma motor gw ni) menerobos kemacetan di daerah metropolitan ini. Waktu gw dijalan kadang kadang sering banget gw liat kriminalitas dimana mana. Ada bapak bapak, anak anak, ibu ibu, ataupun cewek remaja. Waktu itu gw denger “TOLONG!!!” eh tapi dari bapak bapak….sayang banget gw lagi keburu buru jadi ga gw tolongin deh. Sampai akhirnya gw udah mau nyampe rumah eh tiba tiba ada suara “TOLONG!!!” kali ini bah yang minta tolong cewek cewek SMA baru pulang sekolah kayaknya. KURANG AJAR!!! Langsung deh gw ambil slayer merah gw, gw iketin di leher biar kaya superhero hehehe dengan helm tertutup. Sehabis motor gw gw umpetin (maklum motor jelek, ga kaya satria baja hitam….belalang tempur) langsung deh gw siap beraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya mungkin kebanyakan dari pembaca mau nanya, kenapa gak langsung aja hajar?? Yah karena gw asset kepolisian yang sangat berharga. Identitas gw ga boleh ketawan sebagai polisi kecuali di daerah kepolisian itu sendiri. Makanya gw sok belaga jadi superhero kadang kadang. Membela kaum yang lemah dan blablabla…..gua ga senaif itu kali hahahaha. Lanjut deh, akhirnya gw nemuin abang abang sate yang lagi kipas kipasin satenya gw bilang aja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bang, ni 10.000 tolong kipasin sampe asepnya banyak bang!!” (abang satenya bengong gitu tapi diturutin deh dikipasin asap yang banyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hehehe, akhirnya special effect yang sangat keren tercipta untuk pembukaan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut lagi ke cerita, gw udah siap jadi pahlawan kesiangan. Di dialog ini kriminalitas atau pelaku gw namain “binatang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang: sini deh, siang siang gini masok jalan jalan keluar…panas kan mendingan sama abang abang ni  ke tempat sejukan gini. (sambil mengeluarkan pisau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betina remaja: ah apain sih TOLOONNNGGG!!!(kok naskahnya rada lebay ya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba ada asap yang mengumpal secara misterius (kok rada bau sate ya) sambil seseorang memakai helm hitam dan jaket kulit hitam dan tidak lupa kain di lehernya yang bergerak mengikuti angin keluar dengan gagahnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan: STOOOPPPP!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang: siapa KAMU!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan: dimana ada kriminalitas di kegelapan, ada matahari yang menyinari…..SAYA ADALAH uhuk  uhuk (sial bau asapnya nyengat banget) SAYA ADALAH PAHLAWAN KE..SI..YA..NGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan kesiangan: ibu pernah berkata “bagaikan singa yang hanya berani dengan kambing” artinya:  kaum kuat yang hanya berani dengan yang lemah. Sangat tidak jantan…..BINATANG MATI KAMUU!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang: SIni maju kamu pahlawan kesiangan bwahahaha!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepatnya, pahlawan kesiangan melompat sambil berputar bagaikan burung dara baru dilepas dari sangkarnya. Terjangan demi terjangan dari musuh tidak hentinya menghadang. Tetapi pahlawan kesiangan menangkis terjangan demi terjangan dengan jurus “Taman Lawang”. Dan sampai akhirnya pahlawan kesiangan mengeluarkan skill terakhirnya yang sangat dahsyat “Pukulan muntah berak” (BWAWAWAWAWWWW)langsung semua binatang pada kacir setelah perutnya ditonjokin…(gua jamin tuh kena muntaber bwahahaha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan kesiangan: Selama matahari di siang hari ditutupi oleh polusi kejahatan….kebenaran harus ditegakkan…..saya adalah pahlawan kesiangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung cewek cewek SMAnya pada terpaku paku sambil bilang “makasih, pahlawan kesiangan keren deh” sambil diciumin helm gw bwahaha. (Ternyata sudah jam 3 sore mampus!!! Mesti siap siap neh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan kesiangan: kalian berhati hatilah dijalan, kejahatan bukan muncul karena ada kemauan tetapi karena ada kesempatan WASPADA, WASPADALAH!!!! (sambil gua lari cepet ngacir ambil motor sambil ganti kostum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampe dirumah juga haha cape gila hari ini. Langsung deh gw menuju kamar gw setelah markirin motor, nggak lupa gw ngasih makanan ke tikus tikus gw hehehe (bukan tikus putih….tikus item). Neh Kiki Momo, makanan special (sambil gw tarok makanan basi dikasih temen gw yang kerja di supermaket . Gila udah makin gede aja y aloe pade, untung aja loe diketemukan oleh orang yang sangat keren dan baik hati kayak gw….kalo enggak gw bebasin loe bedua dari lem tikus, udah dilindes mobil loe dijalan sama kaya keluarga apa temenloe. Coba mana ada yang mau pelihara tikus got di rumah, ada juga orang pada ngeluarin dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua bentar lagi kayaknya mau pindah rumah neh, tapi kayaknya gw ga bisa bawa kalian deh. Maklum tinggal di rumah mewah, mana mungkin ada tikus got di rumah mewah. Jadi habis ini kalian gw bebasin yah, ati ati nanti kalo dijalan. Kalo mau rampok makanan jangan di rumah rumah, di supermarket tuh yang banyak tempat ngumpetnya hehe. Sedih juga ya, gw ninggalin tuh dua tikus. Ga tau kenapa, gara gara mereka hidup gw jadi rame aja. “cit cit cit cit cit, ngedubrak..ngedubruk” udah dua bulan gw pelihara kalian. Udah segede bagong hahaha….ga kebayang neh tar pindah rumah, namanya rumah besar dan mewah mana ada suara suara alami lagi, jadi sepi deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang apa aja ya yang gw bawa, pakaian udah, celana udah, Helm dan Jaket sakti gw juga udah….kok kayaknya ada yang lupa ya….apa yah….oh ya ROKOK SAKTI...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(DIOBOK OBOK, AIRNYA DIOBOK OBOK ZEETTTT ZEETTTT) ringtone hape gw tuh tanda ada panggilan. Siapa ya lagi sibuk gini telpon, woeeh bos garong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ji, cepat ke Elite mall sekarang!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ada apa pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sudah datang saja, persiapan segala macem ntar aja selesain”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“siap pak!!” (wah gw ga tau neh maksudnya apa, langsung aja deh gw berangkat ke sana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nyampe kesana, eh ada si cantik ma si Bos. Kok tumben ga pake seragam sama ga ada pasukan ada apa ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji: siap pak!! Ada apa bapak memanggil saya untuk kesini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bos Garong: haha karena kamu besok sudah dalam penyamaran, kamu boleh pilih pakaian apa saja yang kamu suka. Dan cantik di sini akan membantu kamu memilihkan pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dalam hati cantik “males banget, dapet kagak…repot iya. Kenapa coba bukan yang lain”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bos Garong: dan ini ada beberapa majalah pesyen anak muda masa kini (pesyen….?? Fashion kali) silahkan cek dulu pakaian apa yang lagi ngetrend dan cocok untuk anak pelajar ekonomi menengah keatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji: terima kasih pak!! Yuk tik cabut kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pergi meninggalkan bapak garong, gw ma tika duduk dulu di café sambil baca majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tumben loe bisa nongkrong di café” (Cantik ngejek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hahaha sekali sekali ah, telaktiran gw juga neh hehehe ga papalah mahal…..apa ga kebanyakan duit segini buat pakaian, palingan satu pakaian 15.000”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“busset…loe kira tempat pasar tempat loe beli pakaian harganya segitu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bah tenang aja kali, duit segini mah ga gampang abis (yang dimaksud 5 juta). Tapi ngomong ngomong, pemerintah niat banget ya sampe buat pakaian aja sampe ada dana 5 jutaan. Bukannya lagi krisis ekonomi juga ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ ah elah loe, dapet untung malah protes!! Enak loe bisa beli…nah gua ngecez doing disini. neh majalahnya yuk kita liat ” (ada lima majalah disitu, loh kok ada majalah syur satu??? )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tik, ni majalah syur kok ada disini. ya ampun loe mau goda iman gw”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kurang ajar loh! Bukan punya gw tau, jangan jangan……”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(di waktu yang bersamaan, si bos garong lagi sibuk nyari sesuatu dirumahnya “majalah tadi kemana ya satu”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis gw dapet ide pakaian apa yang gw beli, langsung deh kita cari pakaian di tempat tempat shopping. Gw beli banyak jaket, sepatu olahraga dan formal, jam tangan import macem macem deh hehe….seneng banget deh gw hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“oh ya tik??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“napa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“gw boleh beli cerutu ga?? Cerutu kan juga gaya orang kaya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ENGGAK!! Loe kira beli cerutu penting apa buat anak SMA…bodoh lo!!” sambil jewer telinga gw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya maaf”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis itu gw jalan keluar deh dari mol, sambil bawa beberapa pakaian. Di jalan gw sama cantik juga ngobrolin sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ooi ji!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“nape??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bos tadi bilang ma gw, kalo mulai besok gw ga bisa sering ketemu lo”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kenapa?? Dari dulu perasaan selama penyelidikan gw boleh boleh aja ahh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ yang ini beda Ji, loe tinggal di kawasan mewah, terus ni juga kasusnya serius jadi gw mesti jaga jarak deh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hmmm gitu, kok ngomong ngomong ekspresii loe jadi rada sedih gitu..hehe..kenapa takut ya kehilangan getaran asmara gw hahaha”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BRAAAKKKKK” tinjuan maut kembali lagi di pipi gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“GR loh hahaha, gw Cuma kesel aja ga ada yang bisa gw ejekin apa gw aniaya lagi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sial lo ahh, sakit tau!! Nama doang cantik….kelakuan….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KELAKUAN APA?!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh kucing lewat, meongggg”sambil mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“oh ya sama bos bilang tuh loe besok suruh dateng pagi ke kantor dan jangan Tanya kenapa sama gw…cape neh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iya iya ah, cerewet banget sih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah deh akhirnya sampe di parkiran motor, gua boncengin cantik sampe kerumahnya baru deh gw kerumah gw sendiri….sampe rumah beres beres bentar terus tidur deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;ESOK HARI KEMUDIAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Tininit Tininit Tininit)Suara alarm…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huuuaaammmmm…..sreettttt (nyedot iler gw pagi pagi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cicicit cicicit cit (suara kiki momo) hoeh udah pada bangun juga loe pada. haha….mandi dulu ah….eh eh anduknya dimana ya….oh ya udah dimasukkin…yaudah deh ga usah mandi aja hehe toh masih wangi. Mau olahraga pagi ah biar seger (baru keluar pintu), kok dingin banget ya?? Ah tidur aja lagi dehh……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;1 JAM KEMUDIAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hooookkk hooookkkk Berhenti kamu….Binatang kamu….pahlawan kesiangan keren deh ah (ngorok sambil ngelindur+ mulutnya monyong monyong dikit ciumin guling)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;1 jam kemudian (lagi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ahhh sial udah jam 7 ya…..bentar lagi ahh…..ngeanntuuuuukkkkkk…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;1 jam kemudian (lagi dan lagi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;AHHHHHHHHH SIALLLLLL GW telat ke kantor…..ahhhhhhhhhh (langsung keluar pintu ke jalan tampa disadari……..Cuma dengan kaus kutang dan celana dalam) eh eh mampus (anak yang lagi disuapin di jalan sama ibunya langsung muntah) ARRRRGGGHH!!!!!! (balik masuk rumah sambil pake pakaian dan siap berangkat) aRRRRRRGGHHHH langsung naik motor….tunggu….tunggu ROKOK KETINGGALAN ARRRRGGGGHHHHH!!! Ga abis abis deh lanjut deh ke berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya nyampe juga gw di kantor hehe, beh pas lagi waktunya Cuma telat 23 detik hahaha (jangan Tanya gw ya pembaca bisa cepet nyampe kayak gitu). Ah kira kira gw mau dikasih apa ya?? Apa penjelasan tugas ya??  Gw ketok ketok dulu ah pintunya Bos Garong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(TOk tok tok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“masuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“misi pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sini Ji, silahkan duduk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“misi kamu dimulai hari ini, saya akan menjelaskan tugas tugas yang akan kamu dapat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Selediki siapa anak dari Prajoko Subowo si pengedar buronan no.1&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika kamu berhasil menemukan, selidiki latar belakangnya, dan seputar keterangan yang dapat membantu investigasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan coba coba pacarin anak muda lagi. Dikira saya ga tau apa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;tutupi penyamaran kamu, belajarlah menjadi anak orang mampu, pelajari cara mereka berbicara dan topiknya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelayan di tempat kamu yang barupun tidak tau kalau kamu polisi. Jadi ingat ini, JANGAN BUKA INFORMASI KEPADA SIAPAPUN….&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kursus privat setiap hari dalam sebulan untuk bahasa INGGRIS. (dalam hati gw, harusnya bos juga tuh)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;“saya juga telah menyediakan alat alat yang akan membantu kamu beradaptasi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;KTP, STNK PALSU!! (disitu tercatat kamu masih 17 tahun)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;IJASAH PALSU!! (untuk masuk lebih mudah)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tape rekorder dalam jacket (dimasukkan di jacket dan dapat mendengarkan omongan dengan jelas)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pulpen SOS (kalo dipencet atasnya 3 kali secara berurutan dan cepat akan mengirimkan sinyal SOS ke kantor polisi di dekat sekolah dan rumah)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Motor Caratan 200 tipe Racing  yang sudah disediakan di belakang parkiran(ati ati bawanya, harganya 450 jutaan itu)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;“semua sudah selesai. Detektif Aji selamat bertugas!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SIAP PAK”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1st Chapter oleh Alexsander Han&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-695066197486584281?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/695066197486584281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=695066197486584281' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/695066197486584281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/695066197486584281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/detektif-17-tahun.html' title='Detektif 17 tahun'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-5166691803969876456</id><published>2009-08-03T22:06:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T18:37:51.737-07:00</updated><title type='text'>M-31</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Prolog&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hei? Dimana ini? Padang rumput yang ditumbuhi berbagai bunga yang indah. Danau dengan bening airnya hingga ku mampu melihat ikan-ikan yang berkejaran di bawah permukaan air. Aneh. Tempat ini terasa tidak asing bagiku. Rasanya aku pernah ke tempat ini. Tapi mungkin tidak sendiri. Kenapa aku bisa ada disini? Apa ini mimpi? Atau apakah aku pernah berjanji bertemu dengan seseorang di tempat ini????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan... Mengapa tiba-tiba gelap? Kemana semua bayangan indah yang aku lihat tadi? Ukh.. Silau.. Cahaya apa ini? Aku tak dapat melihat apa-apa. Terlalu silau. Hei? Cahaya tadi mulai redup. Kini perlahan-lahan cahaya tersebut hilang. Tapi kini aku sadari aku sudah tidak berada di tempat tadi. Kini aku berada disuatu tempat yang berbeda dari sebelumnya. Aku melihat banyak barang-barang yang umumnya di temukan di dalam laboratorium. Atau memang ini sebuah LABORATORIUM?? Apa maksudnya ini? Mengapa aku bisa ada disini? Semua yang ada disini begitu menyeramkan. Banyak tabung kaca disini. Setelah aku dekati barisan tabung kaca itu, aku sangat terkejut karena yang aku lihat ini sangat mengerikan. Ada hewan, manusia, dan..... makhluk yang bukan manusia atau hewan?? Lalu makhluk apa ini?? Monster?? Lalu apa maksud dari semua ini?? Sebenarnya tempat apa ini?? Aku memberanikan diri untuk melihat isi tiap tabung. Sungguh mengerikan. Tapi ada satu tabung yang sangat mencuri perhatianku. Tabung yang berada di ujung ruangan. Isinya seperti.. Manusia? Kemudian aku mendekatinya dengan seksama. Kini jarakku dengan tabung tersebut sangat dekat. Aku melihat seorang lelaki di dalam tabung itu. Jelas sekali. Sekilas aku sangat mengenal lelaki itu. Lelaki itu sangat mirip dengan.. aku?? Apa maksudnya ini?? Mengapa ada diriku di dalam tabung itu? Aku hanya bisa tercengang melihatnya. Sesaat perhatianku teralihkan pada tabung di sebelah tabung yang berisi diriku. Kali ini aku melihat seorang..wanita?? Dia siapa? Sepertinya aku pernah mengenalnya. Lalu aku mengamati hal-hal lain disekitar tabung itu. Aku menemukan tulisan “M-31” pada tabung yang berisi diriku dan wanita itu. Apa maksud dari tulisan itu? Apa itu hanya sekedar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;codename&lt;/span&gt;? Tapi mengapa aku melihat gambar belalang dibawah tulisan “M-31” yang ada pada tabung yang berisi diriku?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hei? Mengapa tiba-tiba apa yang aku lihat kini lebih mengerikan? Laboratorium tadi terbakar! Semua tabung kosong! Termasuk tabung yang berisi diriku. Dimana semua hewan, manusia, dan monster itu? Bukannya itu wanita yang tadi aku lihat? Tapi mengapa kali ini dia tampak terluka parah? Mengapa dia berteriak “X-31”? Apa maksudnya semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahh.. Aku terbangun. Aku menoleh ke kanan dan kiri kemudian mencubit pipiku untuk memastikan aku hanya bermimpi. Dan syukurlah, aku hanya bermimpi. Huft..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Yoga Satria tapi aku biasa dipanggil Yoh. Umurku 18 tahun. Aku tidak berbeda dengan remaja-remaja seusiaku. Hanya seorang remaja biasa yang beranjak dewasa. Baru saja seminggu aku pindah ke Indonesia. Sebelumnya aku tinggal di jepang bersama adik dan ayahku. Kini aku hanya hidup berdua dengan adik-ku. Ayahku, Hiro Satria adalah seorang peneliti yang sangat jenius. Namanya mungkin terdengar cukup aneh. Mungkin sekilas nama beliau mengandung unsur Jepang. Yup, beliau memang masih keturunan orang Jepang. Tapi beliau tetap berkewargaan Indonesia karena beliau sangat mencintai Indonesia. Tempat beliau dilahirkan. Tetapi ayahku tewas dalam kecelakaan pesawat saat hendak menuju Indonesia satu tahun yang lalu. Sampai sekarang jasadnya pun tidak pernah ditemukan. Tapi bagi kami, beliau adalah ayah yang sangat baik. Kami sangat merindukannya. Lalu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, udah siap belum!!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weits.. Cempreng banget. Yup itulah suara adik-ku. Cempreng sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, udah jam berapa ini?! Cepat turun!!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga... Mengapa hari ini dia sangat cerewet sekali? Astaga!! Aku lupa!! Hari ini aku harus mengantar adik-ku ke tempat ujian untuk mendapatkan beasiswa S2-nya. Well, sebelumnya aku perkenalkan dulu adik-ku ini. Adik-ku, Rina Satria adalah seorang gadis remaja berumur 17 tahun yang sangat enerjik. Selain itu dia sangat cantik apalagi dengan kulit putihnya dan lesung pipinya itu yang membuatnya tampak imut. Belum lagi dengan rambut ikal dan tingginya yang semampai, dia tampak sangat manis. Hanya ada satu kekurangannya, suaranya cempreng. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan remaja seusianya. Suka segala hal yang imut. Suka mengoleksi aksesoris yang berhubungan dengan anime. Suka menyimpan foto-foto aktor drama korea dan lain sebagainya. Tapi ada satu hal yang membedakan dirinya dengan remaja-remaja seusianya. Rina telah menyelesaikan S1-nya di Jepang pada usia 16 tahun dan kini dia berusaha mendapatkan beasiswa S2-nya di Indonesia. Aku sendiri juga tidak percaya. Tapi dia memang benar-benar jenius. Dia sangat mirip dengan ayah. Jika melihat dirinya, aku jadi teringat ayah. Tapi mengapa aku tidak? Ah biarlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera turun dan masuk ke kamar mandi. Secepat mungkin aku mandi, gosok gigi, dan segera lari ke kamar lalu ganti baju. Aku lupa aku tadi berlari pake handuk atau tidak. Tapi yang jelas tidak ada orang yang melihatku. Aku melihat sesaat ke arah jam dinding di kamarku. Jarum panjang berada pada angka 12 dan jarum pendek berada pada angka 6. Berarti udah jam 6 pagi! Padahal Rina akan ujian beasiswa S2 jam setengah 8! Belum lagi tempat ujiannya berjarak kurang lebih satu jam dari rumah. Belum lagi jika jalanan macet. Aku harus cepat-cepat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, ayo cepetan! Tar aku terlambat lagi!”, teriak Rina lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya..!”,jawabku sambil buru-buru memakai celanaku.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Aku segera mengambil kunci motor lalu berlari menuju garasi untuk memanaskan motorku. Motor Honda CBR berwarna merah kesayanganku yang dulu aku beli bersama ayah. Melihatnya membuatku semakin merindukan ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, ayo cepetan!!”, Rina memanggilku lagi dengan suara yang agak keras memastikan aku sudah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya!”, jawabku seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun membuka garasi dan mengeluarkan motorku. Di depan rumah, aku lihat Rina sudah siap dengan kemeja putih dan celana jeans hitam dengan sebuah bandana biru muda yang membuatnya tampak semakin cantik dan manis. Andai dia bukan adik-ku, aku pasti akan menaksirnya. He.. He..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kak..!!”, teriak Rina lagi dan lagi sambil menaiki motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera memakai helm SHOEI-ku lalu segera menjalankan motor. Bersama CBR-ku, kami melewati padatnya jalan-jalan protokol Surabaya. Matahari pagi pun seperti menyapa kami dengan sinarnya yang hangat. Yah, aku harap hari ini akan berjalan dengan baik-baik saja. Semoga..&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;.....................................&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Asap Hitam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih satu jam kami melintasi kota Surabaya menuju tempat ujian beasiswa S2 Rina. Awalnya kami kira kami sudah telat. Tapi ternyata ada hal lain yang lebih mencengangkan. Kami melihat asap membumbung tinggi dari arah tempat ujian beasiswa akan berlangsung. Aneh. Tapi memang asap itu muncul dari arah yang kami tuju. Sesaat aku menoleh ke belakang. Aku melihat betapa shock-nya Rina ketika melihat kumpulan asap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rin, kamu kenapa?”, tanyaku pada Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, gak papa kok kak.”, jawab Rina dengan sedikit gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Moga saja firasatku salah”, lanjut Rina sedikit berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh? Salah? Maksudnya apa itu? Aku jadi semakin tidak mengerti akan apa yang telah terjadi. Mengapa Rina sampai berkata seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah? Salah apa Rin?’, tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina hanya terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaanku lagi. Dia seperti menyembunyikan sesuatu akan kejadian ini. Melihat itu aku langsung menghentikan mototrku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu apa tadi? Apanya yang salah?”, tanyaku lagi dan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak kak. Ayo kesana.”, pintanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu pun aku langsung segera menjalankan motorku lagi. Aku juga membuang semua pikiran-pikiran buruk-ku yang tadi. Aku berusaha percaya pada Rina. Bersama, kami segera menuju kepulan asap itu berasal. Rasa penasaran kini menghantuiku.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Kira-kira hanya lima menit kami sudah tiba di tempat tujuan. Setibanya disana, kami sangat terkejut. Tempat yang seharusnya berisi para peserta ujian, tempat yang seharusnya penuh dan ramai, tempat yang seharusnya diisi para pencari ilmu, kini telah terbakar. Saat kami tiba pun masih ada ledakan-ledakan kecil. Mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana. Bahkan ada yang tidak utuh. Pemadam kebakaran dan petugas medis juga sibuk memadamkan api dan mengevakuasi para korban. Polisi pun sibuk mengamankan situasi yang kacau itu. Benar-benar tragis. Baru kali ini aku melihat pemandangan yang begitu mengerikan.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Sesaat aku melihat wajah Rina. Dia tampak begitu ketakutan. Sangat ketakutan bahkan. Seperti akan ada sesuatu yang sangat amat buruk akan terjadi. Tapi dia berusaha tetap tenang dan menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu pasti ada yang tidak beres disini. Tapi apa ini ada hubungannya denganku? Apa ini ada hubungannya dengan mimpiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rin, sebenarnya apa yang terjadi?”, tanyaku lagi pada Rina yang tampak ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak apa-apa kok kak. Mungkin hanya ledakan gas.”, jawabnya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku tidak percaya dengan kata-kata Rina. Karena jika ini ledakan gas, mengapa ada mayat yang terpotong-potong? Seperti tubuh mereka dicabik-cabik oleh sesuatu. Tapi menurut orang-orang yang ada di tempat kejadian memang semua ini disebabkan oleh ledakan gas. Tapi apakah wajar ada ledakan gas di sebuah tempat ujian? Bukankah biasanya ledakan gas itu di restoran atau rumah makan? Mengapa harus di tempat ujian? Aku mulai merasa ada yang tidak beres disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duuaarr..!! Tiba-tiba terjadi ledakan yang cukup besar dari gedung yang terbakar itu. Semua orang yang berada di sekitar tempat kejadian sangat terkejut. Mereka ketakutan dan berlarian kesana-kemari. Suasana benar-benar panas. Polisi yang berada di tempat kejadian  berusaha menenangkan massa yang panik. Namun tetap kurang terkendali. Pemadam kebakaran yang berada di tempat kejadian juga berusaha mengevakuasi para korban. Tapi entah kenapa di dalam situasi yang panas itu, perhatianku terfokus ke dalam kobaran-kobaran api yang semakin membesar. Aku melihat sesosok bayangan yang menyerupai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rin, kamu lihat itu?”, tanyaku pada Rina sambil menunjuk ke arah bayangan yang aku lihat tadi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayangan? Bayangan apa? Aku gak lihat apa-apa kak.”, jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh. Aku heran mengapa Rina tidak dapat melihat bayangan itu. Padahal bayangan itu dapat aku lihat dengan sangat jelas. Ini aneh. Belum lagi firasatku yang mulai tidak enak. Mungkin ini salah. Tapi aku merasa seperti ada yang mengawasiku. Ya, aku rasa bayangan itu mengawasiku. Apa ini perasaanku saja atau cuma sugestiku saja? Aku benar-benar bingung. Yah, semoga saja firasatku salah. Cukup lama aku dapat melihat bayangan itu. Tapi tiba-tiba bayangan itu hilang begitu saja di tengah kobaran api. Wew,, mungkin bayangan itu hanya khayalanku saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, kakak kenapa?”, tanya Rina yang membuatku tersadar dari semua pikiran-pikiranku yang mulai tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh? Nggak kenapa-kenapa kok. Tapi tadi aku lihat ada bayangan manusia di dalam kobaran api. Bener Rin kamu tadi tidak lihat apa-apa?”, tanyaku lagi memastikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa ada yang aneh pada Rina. Dia menoleh kesana-kemari seperti mencari sesuatu. Sejenak dia terdiam lalu berlari meninggalkanku tanpa menghiraukan aku yang ada di sebelahnya. Aku heran, mengapa Rina juga jadi ikut-ikutan aneh hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Rina berlari ke dalam kerumunan massa yang panik. Aku tak tahu mengapa saat itu aku hanya mampu terdiam dan tidak langsung mengejarnya. Duarr..!! Tiba-tiba terjadi ledakan yang seolah-olah membangunkan aku dari lamunanku. Aku langsung berlari mengejar Rina yang mulai menghilang di tengah kerumunan massa. Tapi terlalu ramai. Rina hilang dari pandanganku. Aku bingung harus mencarinya kemana. Aku pun berlari kesana – kemari sambil memanggil namanya. Tapi nihil!Aku benar-benar kehilangan dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba langkah kakiku terhenti seketika. Berat sekali untuk melangkah. Entah kenapa kali ini perhatianku teralihkan pada seorang wanita yang berjalan mendekatiku. Aku heran. Aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Seperti aku pernah melihatnya tapi aku lupa. Wanita itu terus berjalan mendekatiku. Aku pikir dia akan melewatiku begitu saja. Ternyata wanita itu berhenti tepat di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya aku menemukanmu.”, kata wanita itu setengah berbisik padaku.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Aku yang mendengar itu hanya bisa terdiam tanpa berani menoleh ke arahnya. Seketika badanku berkeringat. Jantungku pun berdegup sangat cepat. Rasanya aku seperti terkena tekanan yang cukup berat. Walau begitu, aku masih tidak mengerti apa maksud ucapannya. Saat aku menoleh untuk menanyainya, wanita itu hilang. Aku terdiam cukup lama. Tiba-tiba memori-memori yang cukup samar mulai muncul dalam ingatanku. Pikiranku mulai kacau. Saat aku mulai mengingat sesuatu yang hilang, seketika itu pula aku tersadar kalau aku telah kehilangan Rina. Aku bingung harus mencarinya kemana.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Duarr..!! Tiba-tiba terjadi ledakan selanjutnya. Massa yang sebelumnya mulai tenang kini kembali panik dan berlarian kesana-kemari. Disaat itulah aku melihat Rina. Dia berada di dekat... AMBULANCE?? Apa yang dia lakukan disana? Aku pun segera menyusulnya melewati kerumunan massa yang panik dan tidak dapat dikendalikan. Dari jauh Rina seperti sedang berkomunikasi dengan seseorang yang berada di dalam ambulance. Wajahnya sangat serius saat berhadapan dengan orang itu. Seperti menyadari keberadaanku, dia segera meninggalkan ambulance dan berlari ke arahku. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang melayang ke arah Rina. Aku melihatnya dengan seksama. Semakin dekat dan semakin jelas. Sesuatu itu tampak seperti.. Mobil?? Benar itu mobil?? Aku yang sangat terkejut segera berlari ke arah Rina yang hanya bisa terdiam melihat mobil yang akan jatuh menimpanya. Aku pikir aku tak akan sempat. Aku tidak punya cukup waktu untuk sampai di tempatnya. Entah kenapa ketika aku merasa aku akan kehilangan orang yang aku cintai, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang tidak biasa muncul dari dalam diriku. Dalam sekejap saja aku bisa berada di tempat Rina. Bahkan sebelum mobil itu jatuh menimpanya. Tapi kami tak dapat menghindar lagi. Waktu kami tidak cukup untuk melarikan diri. Aku lalu melompat dan mendekap Rina sekuat-kuatnya dan menjadikan tubuhku sebagai tameng untuk melindunginya. Aku pikir inilah akhir hidup kami berdua. Aku pasrah.. Bruuaakk..!! Terdengar bunyi yang cukup keras.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Aku pikir aku telah mati. Tapi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, bangun.. Kakak gak apa-apa kan?”, tiba-tiba suara Rina terdengar olehku.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Mungkin ini hanya ilusiku. Mungkin hanya sebuah ilusi dari seseorang yang telah mati. Namun,, Aw! Ada yang mencubit pipiku! Aku segera membuka mataku dan.. Hei? Aku masih hidup?? Bagaimana bisa?? Bukankah badanku sudah remuk tertimpa mobil?? Eh, mobil? Mana mobil yang seharusnya menimpaku tadi? Bukankah seharusnya mobil itu menimpaku? Saat itu juga aku langsung melihat sekelilingku dan saat itu pula aku menyadari bahwa mobil yang tadinya melayang ke arahku, kini hancur seperti terpental oleh sesuatu. Cukup jauh mobil itu terpental dari dimana tempat benda itu seharusnya jatuh. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku benar-benar tak mengerti. O, iya! Bukannya aku tadi mendengar suara Rina? Aku langsung melihat Rina dan memastikannya baik-baik saja. Tapi yang aku lihat hanya wajahnya yang memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak,,bisa,,minggir gak?”, tanyanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang tadinya mendekap Rina langsung panik dan berdiri melepasnya dari dekapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Rin. Kakak tidak sengaja”, jawabku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina kemudian berdiri dan hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya saja. Tapi aku tetap heran mengapa wajahnya bisa semerah itu. Bukannya aku ini kakaknya ya? Well,, tidak cukup waktu bagiku untuk memikirkannya dan tanpa ba-bi-bu lagi kami menjauh dari tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seberapa jauh melangkah, tiba-tiba seorang lelaki muncul dan menghadang aku dan Rina. Aneh. Lelaki itu tidak melakukan apa-apa. Ia hanya diam layaknya patung di hadapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa? Kenapa menghalangi jalan kami?”, tanyaku pada lelaki itu.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Ia masih tidak bergeming. Yang dia lakukan malah menatap kami dengan tatapan yang tajam bagai singa yang hendak menangkap mangsanya. Kemudian hal yang aneh terjadi. Entah apa sebabnya tiba-tiba ia tersenyum mengerikan pada kami. Rina yang melihat itu pun langsung bersembunyi di belakangku. Keanehan-keanehan lain pun mulai bermunculan. Badannya membesar. Seluruh tubuhnya mulai ditumbuhi rambut-rambut yang tebal. Kukunya memanjang. Belum lagi ekor yang keluar dari bokongnya. Gigi yang tadinya ia perlihatkan pada kami pun berubah menjadi taring-taring yang sangat besar dan tajam. Wajahnya pun semakin lama semakin menyeramkan seolah-olah menyerupai singa. Singa?? Ya, tepatnya manusia setengah singa. Lelaki itu kini telah menjelma menjadi monster yang sangat mengerikan. Benar-benat mengerikan. Makhluk itu menatap kami tajam seperti hendak memangsa kami. Ia pun membuka mulutnya dan terlihat semua gigi-gigi taring yang siap mengoyak apa pun yang di gigitnya.Tapi makhluk itu tidak bergerak. Ia hanya menatap kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal itu, Rina menjadi sangat ketakutan. Aku melihat air mata ketakutan yang hampir menetes dari matanya. Badannya pun gemetaran. Aku pun berusaha menenangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang Rin, dalam situasi seperti ini kita harus tenang.”, bisikku pada Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Aku tahu dia sangat ketakutan. Sebenarnya aku juga takut, tapi aku tetap berusaha memberanikan diri untuk melindungi adikku. Walaupun itu berarti aku harus kehilangan nyawaku, aku siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makhluk apa itu kak?”, tanya Rina sambil berbisik padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya makhluk itu malah bereaksi pada suara Rina. Monster itu pun mendekati kami Kami berdua hanya bisa terdiam saat makhluk itu mendekati kami. Tangan Rina yang memegang tanganku terasa amat dingin. Rina benar-benar ketakutan. Makhluk itu hanya diam sambil menatapku saat jarak kami dan makhluk itu sangat dekat. Kurang lebih dua jengkal dari wajahku. Tiba-tiba makhluk itu mengaum pada kami. Rina langsung menjerit. Di saat itulah makhluk itu bereaksi lagi pada suara Rina. Ia mengangkat cakarnya tinggi-tinggi hendak menyerang kami. Entah kenapa tiba-tiba keberanianku muncul dan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HHHEEEEAAAAHHH...!!!”, teriak-ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DUAG..!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menendangnya dengan seluruh kekuatanku hingga makhluk itu......terlempar?? Mana mungkin?? Masa monster sebesar itu dengan gampangnya terlempar karena tendanganku?? Aku langsung mencubit pipiku untuk memastikan aku tidak bermimpi. Rupanya bukan aku saja yang terkejut. Ternyata semua orang yang berada di sekitarku termasuk Rina juga melihatnya. Mereka hanya melongo seakan-akan melihat suatu kejadian yang sangat ajaib. Sebenarnya aku juga heran. Padahal aku pikir tendanganku tidak kena, tapi kenapa makhluk sebesar itu bisa terlempar?? Ini aneh. Jelas aku tak mungkin punya kekuatan super seperti superhero-superhero di televisi. Tapi sebelum aku menemukan jawabannya, Rina menarikku pergi dari tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;................................&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikuti Rina kemanapun dia menarikku. Rupanya dia menarikku menuju ambulance dimana aku melihat Rina sebelumnya. Saat aku masuk ke dalam ambulance, aku melihat seorang lelaki tua yang sekarat. Darah mengalir dari seluruh bagian tubuhnya yang terluka. Sesaat beliau melihatku dengan seksama. Kemudian beliau tersenyum padaku. Aku tak mengerti apa yang membuatnya tersenyum padaku. Beliau pun memanggil Rina agar lebih mendekat padanya. Ia lalu berbisik pada Rina. Rina juga seperti mengerti apa yang dikatan lelaki tua itu. Tak berapa lama lelaki tua itu pun menghembuskan nafas terakhirnya. Rina yang melihat hal itu langsung memeluk tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya. Aku yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. Aku benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi. Sepertinya ada rahasia besar dalam diriku. Tapi apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama Rina menangisi kepergian lelaki tua itu. DUAR..!! Terjadi ledakan berikutnya. Aku segera melihat keluar ambulance. Ternyata kali ini bukan ledakan di dalam gedung melainkan ledakan sebuah mobil. Rupanya itu ulah monster yang tadi. Sepertinya ia masih mencari Rina. Polisi-polisi yang berada di tempat kejadian juga tidak mampu menghentikan ulah makhluk itu. Bahkan beberapa polisi ikut terluka karena ulahnya. Aku yang melihat kejadian itu segera masuk ke dalam ambulance dan memaksa Rina pergi dari tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rin, ayo kita pergi dari sini! Terlalu berbahaya bagi kita kalau berlama-lama disini!”, seruku pada Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu Rina segera menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Agak lama ia memandangi wajah lelaki tua tadi kemudian menarik tanganku meninggalkan ambulance. Kami pun segera berlari menuju motorku. Tiba-tiba terdengar auman monster itu. Saat aku melihat ke belakang, ternyata makhluk itu mengejar kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak,,! Monster itu mengejar kita,.!”, seru Rina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu! Teruslah berlari!!”, seruku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sekelebat bayangan melewati kami. Ternyata itu bayangan dari monster tadi. Makhluk itu melompat dan mendarat di depan kami! Kami yang kaget pun langsung terjatuh. Kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Monster itu mengaum dan mengayunkan cakarnya lagi pada kami. Aku hanyab bisa memejamkan mataku. Tiba-tiba,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BRUAK!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa terdengar suara yang begitu keras yang terasa sangat dekat denganku. Bukankah seharusnya aku telah terlempar atau terpotong bersamaan dengan suara itu. Tapi mengapa aku masih hidup?? Perlahan-lahan aku pun membuka mataku. Terlihat samar namun semakin lama semakin jelas. Aku melihat seseorang berdiri di depanku. Aku langsung mengusap mataku. Barulah aku tahu ternyata yang berdiri di depanku bukan manusia. Tapi monster yang lain! Aku sangat terkejut. Aku pun segera menoleh untuk mengetahui keadaan Rina. Rupanya ia tidak terluka. Ia hanya pingsan. Namun aku heran. Mengapa ada monster lain yang melindungiku?? Semakin jelas aku pun semakin mengetahui monster seperti apa yang muncul di depanku. Bulunya berwarna perak berkilau. Kuku yang tajam. Ekor yang lebat. Sekilas bagiku makhluk ini tampak seperti serigala! Tapi aku sedikit heran dengan ukurannya yang tidak sebesar monster singa yang menyerangku tadi. Ukuran tubuhnya relatif kecil sukuran diriku bahkan masih kurang dariku. Tubuhnya juga tidak seperti monster yang tadi. Ia tampak seperti wanita dengan lekuk tubuhnya yang khas. Tapi mengapa ia melindungiku?? Lalu dimana monster yang satunya? Rupanya makhluk itu terlempar cukup jauh dari tempatnya tadi. Apa mungkin monster serigala ini juga yang melindungiku tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lepas keterkejutanku, monster singa tadi tersadar dari pingsannya. Makhluk itu mengaum sangat keras hingga membangunkan Rina yang pingsan. Saat Rina terbangun aku pikir ia akan sangat terkejut melihat munculnya monster yang lain. Ternyata tidak. Ia hanya sedikit terkejut lalu memandangi monster serigala yang berdiri di hadapan kami seakan-akan Rina mengerti sesuatu. Makhluk itu pun menoleh ke arah kami. Ia menatapku lama kemudian menatap Rina. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan makhluk itu. Tapi aku merasa seperti ia menyuruh kami pergi dari tempat ini. Aku segera menarik Rina pergi menuju motorku dan pergi meninggalkan tempat ini. Aku segera memacu motorku dengan kecepatan tinggi. Sesaat aku melihat kaca spionku untuk mengetahui keadaan monster serigala itu. Rupanya ia bertempur cukup dahsyat dengan monster singa yang tadi. Tapi mengapa saat melihatnya aku seperti menemukan bagian yang hilang dari diriku? Apa aku mengenalnya? Tiba-tiba tangan Rina melingkar di pinggangku dan ia pun menangis. Aku hanya bisa terdiam tanpa kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;...............................&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1st Chapter oleh Abdillah Yafi Aljawiy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-5166691803969876456?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/5166691803969876456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=5166691803969876456' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/5166691803969876456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/5166691803969876456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/m-13.html' title='M-31'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-8792162861046278326</id><published>2009-08-03T20:59:00.001-07:00</published><updated>2009-08-03T21:22:31.020-07:00</updated><title type='text'>Masih Pagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih pagi. Dan hujan. Orang-orang enggan beranjak dari tempat tidurnya. Menarik selimut mereka lebih panjang agar dingin yang menyeruak tidak terlalu kentara terasa. Kembali bersenandung pada mimpi-mimpi tanpa memedulikan tugas-tugas yang akan menanti sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada beberapa orang yang telah bersiap-siap ke tujuannya masing-masing. Merapikan pakaian mereka yang terhembus angin. Menunggu dengan resah kali-kali aja supir angkotnya juga ogah-ogahan narik lantaran keenakan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan masih menitik. Walaupun tinggal setetes-setetes lambat, tapi tetap saja membuat orang-orang tak tenang. Pasalnya langit masih begitu hitamnya. Pertanda hujan masih lama berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang menjulurkan kepalanya bergantian pada sebuah halte. Beberapa menggosok-gosok tangan mereka agar tetap hangat. Beberapa lebih memilih memegang bawaan mereka erat-erat agar tidak tersapu angin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang juga menunggu dengan resah adalah Seiry. Seragamnya nyaris basah kuyup dalam perjalanan ke halte. Jauh memang jarak yang harus ditempuhnya dari rumah dan tidak ada angkot yang lewat di sekitaran kompleknya. Maklum, komplek kumuh. Jalanannya sempit dan becek. Hujan sedikit, banjir. Makanya ia menenteng sepatunya dan memakai sandal. Bisa-bisa sepatunya juga ikutan basah kuyup. Jaket lusuhnya dibiarkan terbuka karena resletingnya sudah rusak. Lumayan untuk menahan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya angkot yang ditunggunya datang. Seiry menghembuskan nafas lega. Ia segera beranjak naik. Tidak berapa lama angkot yang ditumpanginya berangkat ke tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry melirik jam tangan pria di sebelahnya. Ia tau ia akan telat sepuluh menit dan si Bos bisa marah besar. Tapi ia punya alasan. Hujan. Semoga saja si Bos bisa mentolerir. Lagi pula tidak ada alasan si Bos untuk marah-marah. Selama ini penjualannya bagus. Sangat bagus malah di antara pegawai yang lain. Ia berhasil membuat si Bos tersenyum setiap ia datang melaporkan hasil penjualannya sepulang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kiri, Bang!”, teriaknya pada si supir. Serentak abang supir menepikan angkotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry turun dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada si abang supir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia menuju ke salah satu ruko yang menjual alat-alat elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lapan menit, Ry.”, ujar pria bertubuh mungil ketika Seiry sampai di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue tau, Bos. Sori, tadi ujan. Angkot-angkot jadi lama nyampenya.”, jawab Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang dipanggil si Bo situ hanya tersenyum tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih.”, si Bos menyodorkan barang jualannya pada Seiry. “Kali ini lebih banyak. Si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Big Boss &lt;/span&gt;menaikkan target penjualan. Gue harap lo bekerja lebih keras. Kalo lo berhasil jual habis semuanya, lo dapet bonus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Seiry memasukkannya ke dalam tas. Lalu ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;X&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Langit masih hitam, tapi hujan sudah reda dari tadi. Masih terasa gelap memang, tapi jaket-jaket warna-warni murid-murid sekolah membuat keadaan sedikit lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaket-jaket dengan beraneka gaya dan pastinya tidak murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry tersenyum miris menatap mereka. Ini memang sekolah mahal dan pantas jika yang ada disini adalah anak-anak berduit. Sah-sah saja mereka memakai barang-barang mahal. Tapi bukan itu yang Seiry tertawakan. Yang ia tertawakan adalah betapa tak tau dirinya mereka. Bergaya memamerkan harta orang tua sedangkan masih banyak anak-anak yang harus kerja ekstra untuk makan dan sekolah. Termasuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, tepatnya dua tahun lalu, Seiry juga seperti mereka. Mode adalah nomor satu. Tetapi semuanya berubah drastis. Papinya ketahuan korupsi dan dipenjara. Karena tidak tahan malu, papinya bunuh diri di dalam bui. Menembakkan pistol ke kepalanya sendiri. Sedangkan maminya, kabar terakhir yang didengarnya, dia pergi ke Thailand. Ada lelaki hidung belang yang sudi memeliharanya sebagai wanita simpanan. Seiry tidak heran. Dari dulu ia juga tau kalo mami menikahi papi hanya karena harta. Sampai detik papi terbujur kaku, tidak ada setitik pun air mata menghiasi pipinya. Setelah dia tau kalo semua aset keluarga harus disita untuk melunasi hutang dan tidak ada sepeserpun yang tersisa, dia pergi begitu saja. Meninggalkan anak perempuannya seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Seiry harus bertahan sendiri. Menyambung hidupnya. Karena tidak ada alasan untuk mati. Apalagi mati bunuh diri seperti yang dilakukan papinya. Itu sama saja mengakui kalo ia emang sama seperti papinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;X&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suara cekikikan cewek-cewek di depannya membuat Seiry jengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh, elo semua bisa pada diem gak? Ini pustaka, bukan kantin!”, ketusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek-cewek itu malah saling menatap lalu menaikkan sebelah alis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, elo boleh sok berkuasa. Tapi sekarang enggak! Bokap lo itu udah mati! Bunuh diri lantaran malu ketauan korup! Kenapa sih, elo gak ngikut bokap lo aja? Jadi sekolah ini bisa tenang karna gak ada orang-orang sok kayak lo!”, sahut salah seorang di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan Seiry melempar buku-buku yang tengah dibacanya dengan geram. Buku-buku itu cukup tebal sehingga cukup membuat mereka menjerit histeris. Takut ketimpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhamburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakit jiwa lo emang! Anak besar hasil korup!”, teriak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perih. Seiry menyentuh jantungnya. Berdegup sangat cepat. Mukanya telah tercoreng sempurna dan tidak mungkin kembali bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ayah sialan&lt;/span&gt;! rutuknya dalam hati. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lihat apa yang kau tinggalkan untukku! Hanya rasa malu! &lt;/span&gt;Ia mengupat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ser….”, seseorang memanggilnya. Seiry berbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimo. Anak IPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry mengehentakkan kepala, mengisyaratkan ada apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue butuh ni…”, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo nambah?”, tanya Seiry sambil beranjak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-eh.”, angguk Bimo, ngekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek berkaca mata itu berhenti di depan kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa banyak?”, tanyanya pada Bimo yang mulai ngebersit-bersit hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Double&lt;/span&gt;, deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry masuk dan membuka tasnya. Dikeluarkannya dua bungkus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;snack&lt;/span&gt; kentang. Ia menyerahkannya pada Bimo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok hitam itu tersenyum sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thank’s&lt;/span&gt;, ya! Ntar di siomaynya Pak Aryo!”, ucap Bimo buru-buru pergi ke belakang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;X&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bel pulang berbunyi. Anak-anak menghembuskan nafas lega. Hari masih sangat dingin dan langit masih kelam. Tampak sekali mereka begitu bersemangat hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-guru segera menyudahi pelajaran mereka. Anak-anak berhamburan keluar. Memadati koridor-koridor dan menyerang georbak-gerobak yang berjejer di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry, cewek 18 taun itu menyimpan jaket lusuhnya ke dalam tas. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Snack&lt;/span&gt;nya tinggal tiga bungkus lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ke siomaynya Pak Aryo, Seiry mampir dulu ke kantin. Mengambil barang dagangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Atik, abis gak daganganku hari ini?”, ia melongok ke baskom di seberang meja jualan Mbak Atik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang abis cuma &lt;span style="font-style: italic;"&gt;snack&lt;/span&gt;nya aja, Ser. Kuenya nyisa ni.”, wanita usia duapuluhan itu menyerahkan baskom merah Seiry berikut uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yahh….Makan kue lagi deh, gue male mini.”, kata Seiry lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok kue gue gak pernah abis ya, Mbak Atik? Apa kurang enak kali, ya?”, Seiry bertanya bingung pada Mbak Atik. Yang ditanya hanya mengangkat bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udahlah, gak pa-pa. makasih ya, Mbak! Aku cabut dulu. Anak-anak pasti udah nungguin aku di gerobak Pak Aryo. Laper ni. Apalagi ujan-ujan gini.”, Seiry melambai pada Mbak Atik. Wanita berambut sebahu itu balas melambai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Yo, siomaynya dunk!”, teriak Seiry segera ketika tiba di gerobak siomaynya Pak Aryo, langganannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Aryo mengacungkan jempolnya. Dengan cekatan ia memotong-motong bahan-bahan siomay. Dalam hitungan detik, siomay pesanan Seiry sudah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih, pesenan Nak Seiry. Hari ini Bapak kasih bonus. Paket jumbo.”, pria paruh baya itu menyerahkan sepiring siomay pesanan Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, Pak, makasih banget, ya! Ada apaan ni?”, Seiry sumringah. Ini rejeki. Dan rejeki gak boleh ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin dagangan Bapak diborong sama orang bermobil mewah. Dia ngasih Bapak uang lebih.”&lt;br /&gt;“Tapi bayarnya tetep seporsi kan, Pak?”, cengenges Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Yo, masak Seiry aja yang ditraktir? Kita-kita?”, celetuk Dadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sabar. Nanti kalau ada rejeki lebih lagi Bapak traktir. Lagian di rumah, pasti sudah disiapin makanan buat kalian. Seiry kan endak.”, jelas Pak Aryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo denger tu semua. Lagian pada sirik amat sama gue?”, diusirnya segera sedikit perih di hatinya mendengar kata-kata Pak Aryo barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No, lo yang bayar, kan?”, Seiry menoleh pada Wino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Giliran gue, ya?”, tanya Wino polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mengangguk serentak. Wino mengacak-ngacak rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, terima kartu kredit gak? Wino gak bawa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cash&lt;/span&gt; ni.”, tanya Wino. Masih dengan tampang lugunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngapain lo makan kalo gak bawa duit?”, Bimo memukul kepala Wino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, sakit tau! Gue kirain hari ini jatahnya Alfin yang nraktir Seiry.”, Wino mengusap-usap kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak aja lo!”, teriak Alfin gak terima. “Si Lemot ini emang lah….”, kali ini Alfin yang memukul kepala Wino, tapi gak sekeras Bimo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka serempak tertawa. Wino emang paling enak dikerjain. Dia yang paling sering dijadiin bahan lucu-lucuan sama anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ser, gue mesti cabut duluan ni.”, Galuh, cowok berambut cepat itu merogoh kantongnya. “Nih utang gue.”, dia menyerahkan beberapa lembar uang pada Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue cabut, ya? Pak Yo!”, pamit Galuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian ini kok suka banget ngutang sama Seiry? Abis beli itu bukannya langsung bayar.”, ujar Pak Ayo menasehati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abisnya si Seiry ini gak mau dibayar langsung di sekolah, Pak.”, sahut Dadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Pak Yo. Aku suka was-was bawa duit kemana-mana lama-lama. Kalo gini kan enak. Abis ini langsung pulang.”, Seiry segera menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya Nak Seiry jual &lt;span style="font-style: italic;"&gt;snack &lt;/span&gt;apaan, sih? Kok kayaknya semua pada suka.”, tanya Pak Aryo sambil memungut piring-piring mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kontan terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O….Itu, Pak Yo….Umm…Cuma &lt;span style="font-style: italic;"&gt;snack&lt;/span&gt; biasa aja kok. Tapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;import&lt;/span&gt; punya. Jadi agak mahal dan gak sembarangan ada.”, celoteh Seiry tergagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, Bapak pengen juga donk sekali-sekali nyicipin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;snack&lt;/span&gt;nya Nak Seiry? Masih ada gak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, abis, Pak Yo! Yang nyisa cuma kue.”, cepat Seiry menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu masih ada.”, tunjuk Pak Aryo pada baskom merah Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh…Ini? ini udah ada yang pesen.”, ucap cewek berambut ikal itu buru-buru. “Si Farid. Tau kan, Pak Yo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang rambutnya keriting-keriting, pake kacamata trus kemana-mana bawa-bawa buku. Yang itu bukan?”, Pak Aryo menerka-nerka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, yang itu.”, angguk Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dan temen-temennya bernafas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;X&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seorang cowok bertubuh tinggi dan tegap menjajari langkah Seiry. Menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih ada?”, tanyanya. Seiry menoleh. Mendongak karena cowok ini jangkung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya?”, ia membetulkan letak kaca matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu apaan?”, alis Seiry terangkat sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Snack&lt;/span&gt;.”, jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo pikir gue kantin? Gue gak jualan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;snack&lt;/span&gt;. Gue jualan kue dan udah gue taruh di kantin.”, ucap Seiry langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantang baginya menjual snacknya pada orang asing. Bisa-bisa dia mata-mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry melanjutkan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok itu mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue biasanya ngambil sama si Bos. Tapi katanya mulai sekarang gue harus ngambil sama elo.”&lt;br /&gt;“Lo ngomong apa? Gue gak ngerti!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue udah parah. Gue harus make tiga kali sehari. Sama kayak makan nasi. Tadi pagi gue gak dapet. Gue udah gak sanggup nahan lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry berhenti. Berbalik. Mendongak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar. Muka cowok di hadapannya ini pucat. Dan dia menggigil kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Parah lo.”, ungkapnya prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;X&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Langit masih mendung. Sama seperti kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry duduk, merapatkan punggungnya ke dinding. Memeluk lututnya. Menengadah ke langit kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah lama?”, Seiry bertanya pada cowok di sebelahnya yang mulai bisa mengontrol diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelas lima SD.”, sahut cowok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Parah lo.”, Seiry tertawa pelan. “Bener-bener parah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bosen idup lo, ya?”, Seiry menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo?”, tanya cowok itu balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo kok balik nanya? Lo gak sayang lagi sama diri lo? Padahal lo lumayan ganteng loh…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo naksir?”, mereka saling bertatapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haa?”, Seiry tertawa ngejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin. Bisa dibilang gitu. Gimana kita bisa sayang sama diri sendiri kalo kita gak ngerasa disayangin sama orang-orang sekitar kita.”, ucap si cowok lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Broken home&lt;/span&gt;, ceritanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak juga.”, cowok itu menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”, tanya Seiry sekedarnya. Ia tidak ingin tau, tapi ini salah satu cara baginya supaya pelanggannya gak pergi gitu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat apa cerita ke elo? Apa itu berguna?”, si cowok menatapnya tajam. Seperti terusik mimpi buruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang gak berguna. Lagian gue cuma iseng nanya sama lo.”, jawa Seiry datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas apa? Ya udah kalo lo gak mau cerita. Yang jelas lo bakalan tetep ngerasa sendirian kayak gini.”, Seiry turun dari meja yang didudukinya. “Sepulang sekolah ntar, lo mampir aja ke gerobak siomaynya Pak Aryo, tau lo, kan? Gue bisa nongkrong di sana. Nungguin setoran dari pelanggan. Gue tunggu lo di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue udah dua taun bisnis ginian dan gue dapet banyak temen yang sama-sama ngerasain dibuang, diacuhkan, dibenci. Walaupun mereka semua pemake, tapi masih ada rasa kebersamaan di antara kami.”, Seiry menyapu poni rambutnya ke belakang. Lalu ia pergi meninggalkan cowok itu sendirian. Berjalan hati-hati pada tepi parit. Menuju ke halaman depan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;X&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti hari-hari lainnya, Seiry dan temen-temennya nyempetin diri buat ngumpul di gerobaknya Pak Aryo. Ngisi perut dan ngobrol-ngobrol sebentar sebelum pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini keliatannya Dadang yang lagi punya masalah. Mereka semua duduk membentuk lingkaran. Sedangkan Pak Aryo sibuk melayani pembeli yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasanya gue mu mati aja. Bunuh diri, mungkin.”, Dadang menghela nafas. Suaranya udah gak bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry mengetok kepalanya. Kontan Dadang mendongak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bego lo, ya!”, ucap Seiry sambil mengunyah kentangnya. “Baru jadi kayak elo aja udah mikirin bunuh diri, apalagi jadi kayak gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ser….”, panggil Bimo. Cowok itu menggeleng pada Seiry. Ia tau masalah Seiry yang paling berat di antara mereka. “Jangan dibahas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue bukan mu ngebahas atau minta rasa kasian elo semua atas apa yang nimpa gue. Atau seolah-olah jadiin kalo masalah gue adalah masalah terberat di seluruh dunia. Gue cuman mau elo semua sadar. Kita semua temen. Kita masih bisa pegangan satu sama lain.”, ia menyeruput es jeruknya sebelum melanjutkan perkataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persetan emang sama yang namanya keluarga. Mereka semua bukan manusia. Tapi kalo mereka aja gak peduli sama kita, ngapain kita peduli sama mereka? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Make it simple&lt;/span&gt;. Jangan dibikin ribet.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seiry bener, Dang.”, timpal Alfin. “Kita akan selalu saling ngedukung. Kita semua satu keluarga. Gak ada yang dituakan di sini. Gak ada yang namanya orang tua atau anak. Kita semua sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak usah peduliin bokap lo yang hobi kawin itu. Yang penting &lt;span style="font-style: italic;"&gt;financial&lt;/span&gt; lo terjamin, kan?”, Galuh mencengkram bahu Dadang. Tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang penting kita masih bisa terus sama-sama.”, kali ini si Polos Wino ikut-ikutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halah….Sok bijak lo!”, Bimo ngejitak kepala Wino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya juga elo yang paling suka nangis kalo lagi ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;problem&lt;/span&gt;.”, timpal Alfin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tapi mendadak gue sadar. Gue masih punya elo-elo semua.”, Wino menatap lurus satu persatu temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengerin, Dang. Si Lemot Wino aja bisa ngerasa kayak gitu. Gimana dengan elo?”, ujar Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadang menatap teman-temannya bergantian. Lalu muncullah sesungging senyum. Wajahnya sedikit lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, mewek deh lo!”, ledek Alfin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kampret lo! Najis gue!”, gidik Dadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringai tawa mereka berhenti ketika datang seorang cowok berseragam sama seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, elo.”, sapa Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih duitnya.”, cowok itu menyerahkan uang pada Seiry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek itu langsung menerima tanpa banyak ba-bi-bu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat ia menyimpan uangnya di saku roknya dan cowok itu berbalik pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak gabung dulu?”, Seiry menawari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thank’s&lt;/span&gt;. kapan-kapan.”, lalu ia melanjutkan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiry gak bisa melepaskan pandangannya dari punggung cowok itu hingga Galuh menyadarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa, Ser?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh….Itu pelanggan baru. Katanya biasanya ngambil sama bos gue.”, jawab Seiry buru-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sengak banget gayanya?”, sambung Galuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang.”, Seiry mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;X&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1st Chapter oleh Harleni Desrian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-8792162861046278326?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/8792162861046278326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=8792162861046278326' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/8792162861046278326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/8792162861046278326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/masih-pagi.html' title='Masih Pagi'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-8835263148415162604</id><published>2009-08-03T20:37:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T21:27:30.245-07:00</updated><title type='text'>Moon River</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ZHENGZHOU, 1911&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI REN tidak pernah mempunyai keinginan untuk menjadi permaisuri, apalagi istri seorang pejabat  diktator seperti dirinya. Nasib menggariskan dirinya untuk dipersunting oleh pejabat Ming Ling akibat meninggalnya istri pertama sang pejabat akibat kecelakaan yang terjadi di sungai Huang Ho. Kabarnya istri pertama Ming Ling dibunuh, namun hingga empat tahun lamanya ia menjadi istri sang pejabat, tidak ditemukan siapa pembunuh wanita bernasib naas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kedekatan antara Ayah kandungnya dengan Ming Ling, menyeretnya dalam jurang egoisme orang tua dan mengurungnya secara kejam ke dalam terali-terali bersepuh emas. Ia tidak pernah cemburu apabila didengarnya pejabat itu memiliki dua puluh selir, dan mengetahui jadwal tidur sang pejabat dengan wanita lain, karena ia tidak pernah mencintainya. Yang dicintainya saat ini adalah bayi berumur dua  bulan  yang berada dalam kandungannya, buah hatinya yang didapatkannya dari Ming Ling. Ia tidak peduli darah bayinya merupakan percampuran dari darahnya dengan darah laki-laki yang dianggapnya keparat itu. Ia tetap mencintainya, hanya bayi dalam perutnyalah yang mampu menghiburnya, dan hanya bayi itu yang membuatnya bertahan. Bayi dalam kandungan Mei Ren merangsang otaknya untuk berandai-andai, berharap bahwa suatu saat ia akan keluar dari rumah itu dan membangun kehidupan barunya jauh dari negaranya, tentunya bersama dengan sang jabang bayi tersayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei Ren merasa, mimpinya benar-benar akan menjadi kenyataan. Pemberontakan tentara Bei Yang yang dipimpin oleh Yuan Shikai melawan kaisar Xuantong, memaksa pejabat Ming Ling untuk turut serta menjadi komandan perang dan membantu kaisar mempertahankan dinasti Qing. Mei Ren dan sang jabang bayi pun teracuhkan, pejabat Ming Ling tidak lagi pulang ke rumah. Haw Hwa adalah tukang masak keluarga Ming Ling secara turun temurun dan memiliki pemikiran yang sama terhadap Mei Ren. Ia ingin segera keluar dari istana itu, sebenarnya niatnya untuk berhenti menjadi tukang masak sang pejabat sudah bertahun-tahun lalu diutarakannya. Namun ia masih ingat rona wajah pejabat Ming Ling kala ia menuturkan permintaannya itu, Ming Ling mengancam nyawa Haw Hwa taruhannya apabila berani-berani melangkahkan kaki ke luar dari rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei Ren yang mengetahui niat terselubung dari Haw Hwa, mendekati tukang masak itu dan menyuruhnya menemaninya mengobrol setiap malam di kamarnya. Pejabat Ming Ling hanya menganggap Mei Ren sedang kesepian dan membutuhkan teman walaupun ia tidak suka Mei Ren berteman dengan seorang tukang masak seperti Haw Hwa. Padahal kedua wanita itu sedang menyusun rencana untuk melarikan diri dari rumah itu, tanpa diketahui oleh sang pejabat maupun para pengawalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa, waktu yang dinantikan oleh mereka, akhirnya tiba juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya, tak lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BRUGGE, 1970&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGIN dingin Brugge menerpa rambut pirang Hilde perlahan, sensasinya menambah kesensitifan batin dari wanita Belgia berumur dua puluh lima tahun ini. Hari minggu ini ia tidak mengajak siapapun untuk menemaninya berkeliling Brugge, kota tempat dimana ia berasal dan menghirup udara selama masa umurnya berjalan. Saat ini Hilde ingin sendiri berkeliling Brugge, setelah informasi surat permohonan pengajuan beasiswanya ke Indonesia diterima oleh kantor majalah di pusat kota Brussels, tempat ia bekerja sekarang. Jurnalis majalah ‘Toveren’ yang bertugas di bagian kolom kebudayaan serta gaya hidup ini mendapat pemberitahuan itu tepatnya satu bulan lalu. Dan hari ini adalah hari terakhirnya di Brugge, setidaknya selama tiga tahun ia akan meninggalkan kota ini untuk menimba ilmu kebudayaan masyarakat Jawa di salah satu universitas negeri terkenal di Indonesia, universitas yang berpusat di kota Depok, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Handycam&lt;/span&gt; yang digenggamnya terus menyala, Hilde ingin merekam setiap senti tempat di Brugge yang didatanginya sebagai kenang-kenangan yang akan dibawanya ke Jakarta. Hilde merupakan seseorang yang memiliki kebutuhan sosial tinggi, cenderung mudah merasakan kesepian, oleh karena itu ia akan membawa benda apapun dari kampung halamannya yang mampu melepaskan kerinduan akan keluarganya dan Brugge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu yang dinaikinya kini melewati beranda belakang bangunan-bangunan klasik yang konon kabarnya berusia hampir dua ratus tahun itu. Tanpa henti Hilde terus merekam keseluruhan bangunan serta aktivitas yang berlangsung di depan bangunan-bangunan itu, baik bangunan yang masih berdinding bata atau sudah berlapis semen dengan cat putih. Baginya, tidak ada yang bisa menandingi keindahan wisata air kota Brugge yang dijuluki ‘Venesia dari Utara’ ini, bahkan kota Venesia aslinya sekalipun. Setelah lewat satu jam, Hilde memutuskan untuk pergi ke kawasan museum Groeninge, hendak membeli cenderamata bagi teman-teman di kedubes Belgia di Jakarta, karena setiap akhir pekan selalu digelar pasar loak di dekat museum itu. Semua perjalanannya mengelilingi Brugge berakhir pada pukul sembilan malam, dimana ia mengakhirinya dengan manis, yaitu dengan meneguk secangkir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;coffe-latte&lt;/span&gt; khas kota Brugge yang terletak di samping kanal tempat ia menikmati kesendiriannya di atas perahu tadi. Hilde menyesap sedikit demi sedikit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;coffe-latte&lt;/span&gt;nya memandang pemandangan malam kota Brugge yang indah. Lampu-lampu membingkai kanal, dan bangunan-bangunan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stepped-gabled&lt;/span&gt; yang dicat merah secara seragam di depan kafe itu tampak lebih mempesona dengan rona lampu-lampu yang begitu banyak menghiasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia memperhatikan ke sekeliling kafe, sejak masuk tadi ia tidak memperhatikan nama kafe ini, salah satu kafe di kota Brugge yang baru pertama kali didatanginya. Tak memakan waktu lama untuk Hilde menemukan label kafe ini. Ada di situ, terpampang besar di dinding bar yang terbuat dari kayu jati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Moon River Cafe&lt;/span&gt;’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama yang bagus” gumam Hilde.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melodi lagu Moon River dari Andy William yang baru saja dimainkan di cafe itu membuatnya menghela nafas panjang, merasakan sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba datang menyelusupi hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, ia merasa benar-benar begitu berat meninggalkan kota Brugge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JAKARTA, 1999&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONDISI kesehatan Theresa yang semakin memburuk, membuat kesedihan di hati Aditya semakin terasa. Theresa yang selalu membuatkan makan pagi untuknya itu saat ini sudah tidak dapat lagi melakukan apa-apa setelah penyakit stroke yang menyerang tubuh rentanya dua bulan yang lalu. Kesibukannya yang tanpa henti teramat dibencinya apabila ia melihat kondisi Theresa saat ini, ingin sekali ia meninggalkan semua itu hanya untuk berada di samping Theresa. Merawatnya, memeluknya, menghapus sedikit nyeri yang kian sering dirasakan ibundanya. Namun Theresa tidak ingin sedikitpun membuat Aditya kesulitan, ia berkata pada Aditya bahwa ia sudah cukup puas dengan perawatan yang diberikan oleh kedua pengasuhnya dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; check up&lt;/span&gt; rutin dokter keluarga, yang datang ke rumahnya satu kali seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dendam, ambisi, dan kekayaan yang ada pada dirinya seolah sirna apabila ia sudah berada di samping Theresa. Kadangkala Aditya menidurkan kepalanya di pangkuan Theresa yang sedang duduk di kursi roda, yang sedang menatap kolam maha besar di belakang rumah mewahnya, yang sengaja dibuat Aditya untuk Theresa. Air mata Aditya tidak pernah tidak menetes tiap kali ia melakukan hal itu, karena tiap kali ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Theresa, ia selalu merasakan tangan keriput itu mengelus perlahan kepalanya sambil menyenandungkan lagu kesukaannya. Dan sejak kecil hanya satu lagu yang selalu diingat Aditya, lagu yang paling disuka oleh Theresa, lagu yang paling sering menjadi lagu tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika, semua rasa lelah yang ditanggungnya seolah hilang tak berbekas saat nada serak suara Theresa mengalun di telinga Aditya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Moon River, wider than a mile. I’m crossing you in style someday...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu itu, adalah Moon River dari seorang penyanyi Amerika bernama Andy William. Nada lagu romantis itu selalu menyayat hatinya, walaupun lirik yang dilontarkan tidak sesuai dengan kondisinya. Namun, lagu ini selalu mengingatkan ia pada ibundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We’re after the same rainbows end, waiting round the band, my huckleberry friend. Moon river, and me...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aditya merasakan satu tetes air matanya terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menunggu hingga Theresa menyelesaikan lagu itu untuknya, dan mendengarkan tanya yang selalu dilontarkannya pada Aditya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana harimu, nak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu aku ingin menikah” ucap Aditya spontan, tanpa menjawab pertanyaan Theresa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Theresa mengangkat wajahnya, menatap ibunya. Tangan Theresa kini memegang erat dagu Aditya, raut wajahnya berubah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa gadis itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Zarra, sekretarisku.” jawab Aditya. Ia tidak ingin hidup sendirian dan menangis setiap hari karena merindukan Theresa yang umurnya sudah tak lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangkanya, bibir pucat ibunya merekah. Ia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ia juga suka Moon River?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aditya tersenyum mendengar pertanyaan itu, kemudian mengangguk keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia suka sekali”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NEW YORK, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEW YORK memasuki musim gugur, menimbulkan suasana mistis di setiap sudut mata memandang. Daun-daun yang berguguran tidak sedikitpun merusak pemandangan kota metropolitan yang terkenal tak pernah tidur itu, daun-daun yang berguguran dan mengotori aspal itu justru membuatnya semakin mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kebiasaannya setiap minggu pagi, Niken berkeliling kota New York bersama teman-teman flatnya. Mengisi kekosongan hari dengan berbelanja kebutuhan dan menyesap hiruk pikuk kota termahal di dunia ini dengan gairah anak muda yang mereka miliki. Namun hari ini Niken tidak ditemani oleh siapapun. Pintu kamar teman-temannya tertutup, tidak ada satupun yang menampakkan batang hidungnya. Itu biasa dialaminya apabila beberapa orang diantaranya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka yang masih menjadi salah satu negara bagian di Amerika Serikat, entah Boston atau New Jersey, setiap kali pergantian musim tiba. Sementara yang lainnya, di club sampai pagi, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekali ini Niken menghabiskan libur akhir pekannya di New York secara sendirian, apabila gairah seninya kambuh ia juga lebih suka menjelajahi kota New York seorang diri. Menyinggahi sudut-sudut New York yang menyuguhkan hawa seni, atau mengunjungi berbagai macam ragam galeri tempatnya melarikan diri dengan mengagumi pesona goresan kanvas para seniman Amerika atau menghabiskan satu sampai dua novel klasik di  Public Library. Namun yang akan dilakukannya pagi ini agak berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya. Seperti halnya yang dilakukan Niken selama sebulan terakhir ini setiap minggu pagi, hari ini ia akan menemui seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niken memarkir sepedanya di depan Soho, dan bermaksud untuk ke West Broadway. Ia menuju ke bagian timur, melewati daerah Spring, melewati butik, toko-toko binatang peliharaan, dan berhenti di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;coffe-shop&lt;/span&gt; pusat berbagai kopi eksotik yang terletak di samping toko roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu sudah menunggunya, ia duduk di sudut café, di bangku untuk dua orang. Menunggu Niken bertemankan dengan laptopnya.&lt;br /&gt;Wajahnya seketika cerah saat melihat sosok Niken yang sedang memesan kopi dan kue di etalase café.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What took you so long, pal&lt;/span&gt;?” tanya wanita itu, ketika sosok Niken sudah menghampirinya. Wanita itu menghirup cangkir original coffe-nya. Melihat Niken melepaskan jaket Nike dan mencopot &lt;span style="font-style: italic;"&gt;earphone Ipod&lt;/span&gt; dari telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesiangan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sorry&lt;/span&gt;, Imogene” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;That’s allright&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini, Nick?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niken tersenyum, “Ada galeri bagus yang sedang mengadakan pameran di West Broadway.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imogene balas tersenyum, “Setelah itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Flea Market! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shop ‘till you drop&lt;/span&gt;!” seru mereka bersamaan, kemudian tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imogene adalah teman Niken yang baru sebulan lalu ditemuinya di Public Library. Insting warga Indonesia milik Niken membuatnya menyadari gadis yang sedang berada di tempat peminjaman buku itu adalah gadis yang berasal dari Indonesia. Bukan sekali ini ia bertemu dengan orang Indonesia di New York, namun dari semua hubungan pertemanan yang ia jalin dengan warga bangsanya di negara ini. Imogene merupakan satu-satunya orang yang ia rasa paling sesuai dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Niken yang merasakan perasaan itu, Imogene juga merasakan perasaan yang sama. Dua wanita Indonesia yang sama-sama datang seorang diri saja ke New York ini, kini tidak lagi merasakan kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mempunyai banyak persamaan, terutama oleh satu hal. Keduanya sama-sama menyukai lagu yang berjudul ‘Moon River’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1st Chapter oleh Asrini Mahdia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;www.asrinimahdia.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-8835263148415162604?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/8835263148415162604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=8835263148415162604' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/8835263148415162604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/8835263148415162604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/moon-river.html' title='Moon River'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-8746416546003252822</id><published>2009-08-03T20:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T20:35:06.230-07:00</updated><title type='text'>Permanent Vacantioner</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;BAB 1: PERMANENT VACATIONER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Bukan keinginan Jaka untuk tinggal di pulau terpencil ini. Semua keinginan orang tuanya. Bapak dan Ibu Jaka waktu muda dulu bercita-cita menjadi sepasang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Permanent Vacationer,&lt;/span&gt; yang artinya mereka ingin menghabiskan hidup mereka di suatu tempat wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar hidup Bapak bisa lebih panjang”, itulah jawaban Bapak setiap kali ditanyai oleh Jaka kenapa memilih buat tinggal di pulau terpencil di salah satu sudut negara ini. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kan &lt;/span&gt;kalau hidup di kota kemungkinan besar udara yang kita hirup itu udara kotor, makanan-makanannya pun kemungkinan gizinya kurang, gaya hidupnya pun mungkin bisa jadi tidak sehat. Bisa-bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cepet&lt;/span&gt; mati Bapak nanti kalau tinggal di kota. Kamu gak mau kan Bapak cepet mati Ka’? Kalo Ibumu sih gak mau Bapak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cepet-cepet &lt;/span&gt;mati. Makanya Bapak dan Ibumu memutuskan buat tinggal di pulau ini. Kalau kata kamu ini pulau terpencil sih, ya sebenarnya gak terpencil-pencil amat. Cuma 15 menit kan kalau mau ke pulau utama di barat sana. Gak jauh-jauh amat kok.” Itulah pembelaan Bapak setiap kali Jaka mengeluh tentang keterpencilan tempat tinggal keluarga mereka. Agak sedikit maksa sih jawaban Bapak itu kalau menurut Jaka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Ibunya beda lagi menjawab pertanyaan Jaka. Ibunya tidak menjawab kalau alasannya adalah tidak ingin suaminya tercinta cepat mati kalau tinggal di kota. “Ini cita-cita Ibu ma Bapak dari waktu muda dulu”, jawab Ibunya. “Dulu Bapak ma Ibumu ketemunya kan di salah satu tempat wisata, kamu inget kan ceritanya itu, dulu Ibu pernah cerita juga. Nah waktu itu Bapak dan Ibumu ngobrol dan saling bertukar pendapat. Dengan mesra tentunya.” Ibunya tertawa atau mungkin tersenyum sedikit. “Nah salah satu yang diomongin itu ya ini, tentang hidup di tempat wisata, cari duitnya juga di tempat wisata, jadi bisa wisata sekalian cari duit, sekalian hidup disana. Lha tidak tahunya terwujud apa yang Bapak dan Ibumu ini omongin waktu dulu. Jadilah kita punya penginapan kecil di pulau ini. Ibu sih berharap kamu bisa memahamin itu. Ini cita-cita Ibu dan Bapak dari dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah mendengar jawaban dari Ibu itu, Jaka sudah tidak bisa apa-apa lagi. Tidak bisa membantah lagi. Padahal sebenarnya Jaka merasa agak tersiksa dengan tinggal di pulau terpencil itu. Tidak ada siapa-siapa disini. Kalau dulu sih Jaka merasa senang. Bisa berkeliling pulau. Bisa menelusur berbagai tempat di pulau itu. Bebas pokoknya. Tapi kini ketika Jaka sudah lebih gedhe, dia sudah masuk SMA sekarang, Jaka merasa sedikit tersiksa. Ketemu dengan teman susah. Kalau mau ketemu teman harus menyebrang laut dulu selama hampir 30 menit, bukan 15 menit seperti yang Bapaknya bilang. Begitu sampai di pulau utama, harus berputar-putar dulu baru bisa ketemu sama teman main SMAnya. Itupun dengan bersepeda, tidak bisa memakai kendaraan bermotor, karena memang keluarganya tidak punya. Susah bawa motor atau mobil kesana kemari, kalau dititipkan di pulau utama juga agak rawan, begitulah alasan Bapaknya. Jadilah dia bersepeda. Sepedanya tergolong bagus sih sebenarnya. Sepeda yang agak mahal. Sepeda gunung yang menurut Jaka enak buat dikendarai. Alasan Bapak juga cukup masuk akal, jadi Jaka senang-senang aja dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata butuh waktu hampir satu jam untuk perjalanan bertemu teman di pulau utama. Begitu pula dengan sekolah. Jaka selalu berangkat dari rumah sekitar jam setengah enam. Sampai depan sekolah kira-kira jam setengah tujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu Jaka selalu diantar Bapaknya kalau ke sekolah. Pulangnya juga dijemput. Pakai sepeda tentu saja. Tapi setelah kelas dua SMP Jaka dibelikan sepeda baru dan diberi tanggung jawab untuk berangkat dan pulang dari sekolah sendiri, tidak diantar jemput seperti biasanya. Bapaknya hanya mengantar pakai kapal kemudian Jaka harus bersepeda sendiri ke sekolah. Pertamanya agak takut sih buat Jaka, tapi karena sudah hafal belok-beloknya dimana aja, akhirnya lama-lama biasa juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang membuat Jaka sedikit tersiksa adalah waktu yang dihabiskan untuk perjalanan dari pulau rumah mereka ke pulau utama. Satu jam bukan waktu yang cepat. Walaupun kadang waktu satu jam itu menjadi cepat, entah karena Jaka lupa mengerjakan PRnya sehingga harus mengerjakan ketika perjalanan di laut, atau karena Jaka memilih tidur dan membiarkan Bapaknya mengendalikan kemudi kapal sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan di rumah Jaka sendiri, yang juga menjadi penginapan, biasa-biasa saja. Rutinitas sehari-hari. Membersihkan ini itu, menata ini itu. Kalau si Ibu biasanya memfokuskan dirinya ke kebun yang ada di belakang penginapan. Berkebun adalah salah satu hobi Ibunya Jaka. Berbagai macam tanaman ada di kebun itu. Bibitnya dibeli di pulau utama, cara menanamnya didapat dari buku yang dibeli di toko buku di pulau utama, dan kalau sudah mendapatkan bibit baru yang menarik untuk ditanam dan diteliti oleh tentang bagaimana agar bisa tumbuh dengan baik, pastilah si Ibu jadi sibuk sendiri. Kalau si Bapak lebih suka membaca majalah yang dibelinya di pulau utama. Hobinya yang lain adalah membuat berbagai furnitur dari kayu. Kayunya didapat dari pulau, kalau tidak ya beli di pulau utama. Macam-macam kursi sudah berhasil dibuat Bapak dan sudah tersebar di sudut-sudut penginapan. Bapak juga suka menulis buku, tapi hanya kadang-kadang akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kegiatan Jaka, dia lebih suka membaca buku, bermain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Play Station&lt;/span&gt;, dan tentu saja pergi ke pulau utama di akhir pekan. Sebenarnya setiap dua minggu sekali Bapak, Ibu, dan Jaka pasti pergi ke pulau utama bersama-sama, Ibu mencari bibit tumbuhan baru, Bapak mencari majalah-majalah baru, dan Jaka mencari game-game baru. Walau ada rutinitas seperti itu tapi Jaka setiap akhir pekan pasti selalu bermain ke pulau utama. Kalau tidak bermain ke tempat teman, ya dia mejelajah pulau utama itu, dengan sepeda tentu saja. Ke gunung, ke pantai yang banyak orang kalau sudah waktunya akhir pekan, ke pusat kota yang tidak begitu ramai, ke danau, atau sekedar ke tempat bermain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Play Station&lt;/span&gt; yang ramai setiap akhir pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhir pekan ini Jaka tidak bisa kemana-kemana. Tidak bisa bermain ke pulau utama. Minggu siang ini penginapannya dikunjungi oleh banyak wisatawan yang sudah pesan tempat sejak beberapa hari yang lalu. Wisatawan lokal dan sepertinya dari kota besar semua. Mereka datang bebarengan, tapi tidak satu kelompok. Ada yang datang satu keluarga, ada yang perorangan, ada yang sepasang kekasih. Total yang datang tepat pada hari itu sebanyak 10 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Bapak dan Ibu, juga Jaka sendiri tidak menyangka penginapan akan kedatangan tamu wisatawan sebanyak ini. Biasanya cuma ada satu dua orang yang datang menginap pada suatu waktu. Tetapi sekarang 10 orang pada satu waktu, itu jumlah yang banyak. Bapak, Ibu dan Jaka sebenarnya kaget dan bertanya-tanya sudah sejak beberapa hari yang lalu, ada apa sebenarnya kok tiba-tiba ada banyak orang yang menghubungi penginapan mereka dan pesan tempat, dan semuanya pesan tempat untuk kedatangan pada hari yang sama. Tapi hari minggu itu tidak ada waktu untuk bertanya-tanya. Waktunya bekerja untuk mereka bertiga. Mempersiapkan semuanya untuk kedatangan para tamu wisatawan. Mempersiapkan semuanya sambil mengulang kata-kata yang sama dalam hati, padahal ini bukan masanya liburan, tumben.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1st Chapter oleh Bagas Megantoro&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-8746416546003252822?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/8746416546003252822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=8746416546003252822' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/8746416546003252822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/8746416546003252822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/08/permanent-vacantioner.html' title='Permanent Vacantioner'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-275088188495190564</id><published>2009-07-13T03:38:00.002-07:00</published><updated>2009-07-13T03:49:47.833-07:00</updated><title type='text'>Lajang Lapuk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayangkan jika kau jadi aku. Perempuan berusia 40 (sebenarnya 41 tapi masyarakat berhasil kukelabuhi. Horeee...!!!). Cantik, tinggi, seksi, punya karir cemerlang, dan bergelimang harta. Sekilas tampak sempurna. Tapi salah! Ada satu yang kurang. Di usia hampir setengah abad ini kau—jangankan pendamping hidup—pacar saja tidak punya. Dan kenyataan itu diperparah oleh teman-teman sebayamu yang semuanya telah sukses menikah. Bahkan ada yang sudah nekad memproduksi enam anak. Mau ditaruh di mana mukamu? Stress, sudah pasti. Panik, setiap hari. Jengkel, jangan ditanya! Apa kata tetangga?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Belum, reuni SMA tinggal 2 bulan lagi. Berani jamin! Pasti aku jadi pusat perhatian karena lagi-lagi melenggang sendirian di tengah teman-teman lama yang sedang sibuk memperkenalkan suami/istri mereka pada yang lain. Luar biasa memalukan! Sudah 3 minggu kepalaku migran memikirkan cara agar bisa meloloskan diri dari acara jahanam ini. Tadinya sempat ada niat untuk membakar gedung yang akan dipakai reunian, tapi setelah dipikir-pikir lagi rasanya cara itu agak sedikit kejam. Duuuuh... Gusti... bingungnya minta tobat. Kau pasti setuju, dalam situasi serba salah seperti ini gegar otak adalah alternatif terbaik selain gantung diri di pohon jengkol.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Penderitaanku belum berhenti sampai di situ. Ada yang lebih memalukan dari pada sekedar dipaksa keliling mall mengenakan bikini warna ungu sambil berteriak kalau kau adalah kembaran Jennifer Lopez yang sedang shooting video klip untuk album baru yang sebentar lagi akan diluncurkan ke pasaran. Aku sudah lama gamang karena sampai saat ini tidak tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya. Aku keturunan orang tidak jelas. Bebet, bobot, bibitku masih diragukan kesterilannya. Sialnya, waktu kecil aku diadopsi dari panti asuhan oleh orang yang... aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa? Kata dokter sih ibu palsuku menderita kepikunan dini karena usianya sudah tua. Tapi aku tidak percaya karena ibuku sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda kepikunan, ia malah memperlihatkan ciri-ciri gangguan jiwa (mana ada nenek-nenek pikun yang nyasar ke diskotik didampingi 2 brondong SMA yang sadis gantengnya?). Kau tahu kenapa ibuku menderita gangguan jiwa? Tidak usah repot-repot mengira kalau dia pernah terbentur tabung gas elpiji ukuran tiga kilo setengah ketika sedang masak di dapur, terimakasih banyak. Jawabannya adalah aku—maksudku kehidupan ibuku sama persis sepertiku. Dia bahkan lebih parah karena sampai usia 72 tahun ini belum pernah punya suami.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ajaibnya, sampai sekarang ibuku masih perawan, belum pernah dijajah oleh pria manapun. Aku tahu hal itu karena setiap kali berhasil punya pacar dan mengajaknya ke rumah, tanpa dipersilahkan ibuku akan heboh mempromosikan dirinya sendiri sambil berkata: “Hai, Tampan! Nama tante Gladis, ibunya Tamara. Kau tahu? Tante juga masih perawan, lho! Berminat pindah ke lain hati?” setelah itu ia akan berkedip-kedip genit sambil terus memegangi tangan pacarku. Dan yang terjadi selanjutnya adalah wajah pacarku mendadak pucat. Dengan suara bergetar tiba-tiba pamit pulang. Puncaknya, tengah malam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hand phone&lt;/span&gt;-ku berbunyi, mengeluarkan suara yang sangat kukenal, dengan penuh ketakutan berkata: “Tamara, maaf, aku tahu ini berat bagimu. Tapi aku harus mengakhiri hubungan ini. Kita putus.” Disusul suara ‘tut’ tanda telepon ditutup. Ya, lagi pula siapa yang mau punya pacar anak orang edan? Hal apa coba yang lebih memalukan dari pada punya ibu angkat model begini? Tarzan boleh bingung karena punya ibu gorilla. Aku lebih bingung karena punya ibu setengah gila. Dan aku yakin kau pasti tidak akan menolak jadi orang sinting anyar kalau mengetahui kaulah satu-satunya pewaris tunggal kutukan perawan tua ibuku. Ya Tuhan... cobaan hidup macam apa ini?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tapi tak apa. Di balik ketidak jelasan statusku itu banyak sekali kemungkinan yang bisa saja terjadi. Seperti: siapa tahu aku ini Uwa'nya Britney Spears? Atau anak bibi dari kakak ipar neneknya Madonna? Atau keponakan mantan pembantu tetangganya Mariah Carey? Atau penyanyi ngetop yang sedang naik daun yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;didzolimi&lt;/span&gt; para pesaingnya, digetok pakai palu hingga amnesia lalu dibuang ke Indonesia? Atau, atau, atau, atau, atau... apa saja yang penting bukan wanita kesepian seperti sekarang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bagaimana? Mengetahui kenyataan itu kau pasti tidak sudi walau hanya membayangkan dirimu jadi aku. Begitupun aku. Kadang ada saat di mana aku tidak mau jadi diriku sendiri. Aku lebih sering membayangkan diriku jadi Anggun Cipta Sasmi (ngarep), Christina Aguilera, Beyonce Knowles, Celine Dion, Rihanna, atau mentok-mentoknya jadi Aura Kasih, bukannya Aura Setan yang dijauhi para lelaki. Duuuuuh... Pangeran Penguasa Alam... sudah lengkapkah data-data yang mendukungku jadi kandidat terkuat calon orang edan periode 2009-2014? Kenapa Kau jadikan hidupku tongkrongan favorit semua masalah aneh?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Masih belum cukup? Baiklah, kulengkapi data mengenaskan ini. Kelemahanku yang lain adalah masak. Aku tidak terlalu mahir dalam bidang itu. Pernah suatu ketika calon mertuaku (yang tidak jadi) memintaku untuk masak di rumahnya. Tidak mau ambil pusing, kuputuskan masak yang simpel. Tempe goreng. Sementara keluarga pacarku menunggu masakan dariku di ruang makan, aku malah sibuk bertelepon ria bersama temanku. Dengan panik bertanya apa saja bumbu tempe goreng itu? Kalau sudah matang tempenya berwarna apa? Ketika tempenya kubawa ke ruang makan, pacarku langsung minta putus. Dia mengira aku berusaha meracuni keluarganya dengan tempe gosong buatanku. Tuhan…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Satu lagi. Dosa rasanya kalau tidak mengikut sertakan musibah yang satu ini. Aku yakin kau pasti tidak mau punya teman sinting bin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;crazy&lt;/span&gt; binti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gelo&lt;/span&gt;. Aku punya satu. Namanya Nensih. Selain ibuku, dia juga menjadi salah satu sumber malapetaka putusnya hubungan dengan pacar-pacarku. Termasuk tragedi tempe beracun tadi. Itu adalah hasil karyanya. Dan betapa beruntungnya aku karena kami tinggal satu atap. Di mana ada aku, di situ ada Nensih. Di mana ada Nensih, aku selalu berusaha untuk tidak ada di situ. Tapi walaupun begitu, kami sangat kompak. Apa-apa selalu berdua. Makan bareng, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shoping&lt;/span&gt; bareng, jalan-jalan bareng, nonton bareng, tapi kalau mandi bareng, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;no way&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya alasan kenapa sampai saat ini aku masih bertahan hidup di tengah siksaan batin yang terus mendera adalah karirku yang terus menanjak. Ya, aku boleh dibilang wanita hebat yang mampu menaklukan Jakarta dalam waktu singkat. Bagaimana tidak, di usia yang masih belia (butuh belaian pria) aku sudah punya butik, cafe, dan 3 mini market. Dan tahun ini rencananya aku ingin menjajal peruntungan di bidang kuliner. Lagi pula sudah lama juga aku bermimpi punya restoran sendiri. Kelak—walau tidak yakin—kalau berhasil punya pacar lagi setiap hari aku bisa mengajaknya makan malam tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Ah, cara berhemat yang luar biasa picik. Tapi bukankah semua pria suka calon istri yang pandai berhemat? Hemmm… akan kupertahankan sikap ini. Picik!&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hari tampaknya masih agak gelap. Biasanya yang pertama kali bangun adalah ibuku. Tapi kami sedang bertengkar gara-gara pacarku yang lagi-lagi minta putus setelah berkenalan dengannya. Seperti biasa, setiap kali habis melakukan kesalahan ibuku akan lenyap dari rumah selama 1 atau 2 bulan dengan alasan ingin menenangkan batinnya yang sedang kacau-balau di rumah adiknya, Bibi Susi. Cara melarikan diri yang sangat efektif untuk mencegak meletusnya perang ibu dan anak. Ah, semoga dia tidak kembali lagi. Setidaknya sampai aku menikah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Entah berapa lama suara gedebag-gedebuk dari depan rumah mengganggu tidur. Kulirik jam. Ternyata sudah lumayan siang. Dengan malas aku pergi ke kamar mandi. Ketika sedang dandan perutku terus saja melakukan makar. Rupanya paduan suara di dalam sudah tidak tahan ingin cepat-cepat diisi. Setelah beres aku buru-buru ke ruang makan. Nensih sudah ada di sana. Kenapa makhluk satu ini selalu selangkah lebih maju dariku? Apa-apa pasti dia yang duluan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Cepat sarapan. Sudah jam tujuh.” Katanya sambil mengolesi roti dengan selai. “Untung suara ribut orang pindahan di depan rumah itu membangunkan kita. Kalau tidak, bisa terlambat lagi seperti kemarin.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Oh, jadi rumah kosong di depan itu sudah ada yang menempati.” Kataku akhirnya tahu apa sebenarnya suara gedebag-gedebuk tadi pagi. “Sukurlah, kalau terlalu lama kosong kan seram juga.” Aku mengambil roti dan mengolesinya dengan selai kacang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Tadi ibumu telepon. Katanya dia akan tinggal dua bulan di rumah bibimu. Dia pesan supaya kau jangan menghawatirkannya.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Ah, biarkan saja. Walaupun mau tinggal dua abad aku tidak perduli.” Aku masih marah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Heh, jangan begitu. Biar bagaimanapun dia tetap ibumu.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Memang. Tapi kelakuannya itu.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Ya sudah jangan dibahas lagi. Aku hanya memberitahu.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sarapan berlanjut tanpa ada percakapan lagi di antara aku dan Nensih. Sekali saja dia menyinggung-nyinggung tentang ibuku, perang saudara bisa pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengantar Nensih ke kantornya aku ke butik. Hari ini mendadak butik dijejali manusia-manusia beken. Harap dicatat! Tamaras Boutique adalah salah satu butik terkenal di Jakarta. Langganan peraih penghargaan di setiap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fashion show&lt;/span&gt; besar. Baik skala nasional maupun internasional. Minggu kemarin saja aku kembali meraih penghargaan untuk &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;the best desainer&lt;/span&gt; di Jepang. Ya, hampir semua pakaian yang ada di butik ini adalah hasil rancanganku sendiri. Aku lebih sering menghabiskan waktu menggambar model baju di butik ini. Tapi kalau sedang tidak waras biasanya aku lari ke café. Alasannya karena di café banyak brondong-brondong yang nongkrong. Melihat tampang remaja yang masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fresh&lt;/span&gt; kadang membuat stress hilang. Lumayan. Dan kalau sudah kembali waras aku akan kembali ke butik untuk menggambar model baju lagi. Semua model yang berhasil kuciptakan sangat unik, tidak ada duanya, dan tentu saja elegan. Jadi jangan heran kalau sebagian besar pengunjung butikku adalah artis, istri pejabat, dan para menteri. Tidak sembarang makhluk bisa masuk ke dalamnya. Singkat kata butikku adalah butik elit. Saking elitnya, semua baju yang ada sengaja tidak diberi bandrol agar orang-orang tidak langsung semaput ketika mengetahui harganya. Hebat bukan!&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sudah jam sepuluh. Aku masih duduk santai di belakang kasir sambil menggambar model baju. Sesekali kulirik pengunjung yang datang. Siapa tahu Tom Cruise nyasar ke tempat ini—semoga!!! Kalau benar akan kupeluk, kucubit, kucium, kuremas-remas rambutnya, foto bareng, makan bareng, tapi tidak untuk tidur bareng. Maaf, bukan muhrim.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Setelah harapan berbahaya itu melesat ke langit-langit, seorang gadis berambut panjang masuk diikuti dua manusia setengah wanita setengah pria. Rambut keduanya berwara-warni mirip kemoceng. Dan seolah pelengkap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fashion&lt;/span&gt;, srantai bulu—entah ayam, entah bebek—yang diuntel-untel sengaja dililitkan ke tangan. Sekilas dua makhluk naas ini mirip burung unta yang baru saja sukses melarikan diri dari benua Afrika. Tapi bila dilihat dari cara bicaranya yang nyerocos mereka malah mirip burung Beo. Ah, mana yang benar?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pintu terbuka lagi. Segerombolan ibu-ibu berjubel masuk. Tubuh mereka sangat langsing bak gitar spanyol. Umurnya kira-kira sama denganku. Sambil berceloteh riang mereka cekikikan. Ringan sekali hidupnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Eh, di sana ada yang cocok, lho!” si Baju-merah menunjuk ke pojok, tempat gaun malam dipajang. “Kemarin aku lihat. Ih... gemes, deh!” katanya greget.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Aduh, Jeng Tina, kok baru bilang sekarang.” si Baju-biru menimpali. Agaknya ia kekurangan gaun malam.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Eh, yang di depan tadi juga lumayan, lho.” si Rambut-kriting ikut bersuara. “Hitam-hitam gimana... gitu.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Yang di depan tadi? Sori, ya, bukan level.” si Baju-biru menggeleng ngeri.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kulihat gaun yang dipajang di depan. Ada tulisan diskon 10% di atasnya. Oh, ternyata mereka ibu-ibu gila gengsi. Pasti orang kaya. Bagi manusia seperti mereka diskon adalah sebuah penghinaan besar-besaran. Bisa menurunkan harkat, martabat, dan derajat sampai setara dengan sendal jepit.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Eh, Ayo. Keburu disamber orang.” ajak siBaju-merah. Kemudian gerombolan arisan itu menyerbu pojok yang dimaksud. Di sana mereka menjerit histeris seolah menemukan Anjasmara sedang bersembunyi di antara daster-daster.&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Bahagia sekali hidup mereka. Sementara suaminya sibuk cari uang, mereka malah asik berburu pakaian. Ah, di mana mereka menemukan suami seperti itu. Aku berniat mengikuti jejak suksesnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hand phone&lt;/span&gt;-ku tiba-tiba berdering. Dari Nensih.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Lohaaaa...!!!” sapaku riang. “Ada apa?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Mara, ibumu tadi meleponku. Katanya dia minta ditransfer uang.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Transfer uang? Bukannya dia pergi membawa membawa banyak uang?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Nensih berdecak kesal. “Mana aku tahu.” desusnya. “Dia cuma bilang kalau kau mentransfer uang ada kemungkinan dia akan tinggal satu tahun di rumah bibi Susi.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Ah, pemerasan.” Kataku kesal. Tapi mendadak otakku berpikir jernih. Satu tahun tahun tanpa ibuku. Itu berarti kesempatan punya pendamping hidup akan segera terwujud. “Ok, baik. Nanti akan kutransfer.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Ibumu juga bilang untuk mengetahui informasi lebih lanjut kau disuruh menghubunginya langsung.” Nensih agaknya mulai kesal menjadi penghubung komunikasi antara aku dan ibuku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Oke, akan kuhubungi dia.” Kataku mengakhiri perbincangan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sinting. Ibuku benar-benar sudah sakit jiwa. Sudah terang-terangan melakukan pemerasan dia malah belagak sok sibuk menyuruhku menghubunginya. Dengan kesal kudial nomor. Tersambung.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Hallo, selamat siang. Anda tersambung dengan nomor Nyonya Gladis. Maaf kalau boleh tahu ini siapa, ya?” suara ibuku terdengar sangat menjengkelkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Mamih, berhentikah membuat lelucon konyol.” Aku berang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Sepertinya saya mengenal suara Anda?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Demi Tuhan. Ini anakmu! Tamara!!!” aku berteriak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Oh, Anda. Bagaimana? Anda setuju dengan persyaratan yang saya ajukan?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Berhentilah mengoceh. Sebutkan berapa yang Mamih perlukan?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Oh, Cantik. Aku tahu kau takkan menelantarkan ibumu ini. Sepertinya sepuluh juta cukup. Kalau kau mau dua tahun hidupmu lebih tentram tiga puluh juta juga boleh.” Mamih tertawa genit. Suaranya mengingatkanku pada tokoh pelacur yang sedang memeras lelaki kaya yang semalam tidur dengannya. Dan kalau kemauannya tidak ditiruti dia akan membeberkan skandalnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Akan kutranfer lima belas juta.” Kataku pasrah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Cantik, tunggu sebentar. Aku mau bertanya apakah kau ikhlas memberiku uang sebanyak itu?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Aku anakmu, Mamih. Ikhlas tidak ikhlas aku akan mentransfer uangnya.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu. Semoga harimu menyenangkan.” Kemudian derai tawa kemenangan menutup ocehan Mamih. Mengerikan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dengan kesal kututup &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hand phone&lt;/span&gt;. Pandanganku kembali tertuju ke pintu. Hasrat menggambarku lenyap seketika. Dan tiba-tiba pintu terbuka lagi. Mendadak mataku melotot. Kali ini yang masuk bukan wanita jejadian atau gerombolan arisan seperti tadi. Ini pria berdasi, masih muda, sendirian, tinggi, putih dan… aaaaarrrggghhh… sangat tampan. ku kelojotan. Secepat kilat berlari ke ruanganku untuk memeriksa make up dan penampilan—masih cantik—buru-buru keluar lagi. Si Tampan telah lenyap. Aku celingukan. Kepalaku berputar-putar mencari. Aduuuuuuuh... Tom Cruise-ku hilang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ke depan, tidak ada. Tak mungkin si Tampan berkeliaran di area kutang dan jilbab. Jangan! Pasti dia ada di area pakaian lelaki atau apa saja yang ada sangkut pautnya dengan lelaki. Ah, mungkin di area kemeja atau dasi. Cepat-cepat aku ke sana. Nihil. Duuuuuh... Tampan... di mana dirimu berada? Ketika hendak kembali ke kasir aku menemukannya sedang memilih sepatu. Aha! Kurapihkan pakaian. Tapi tiba-tiba gemuruh orang yang berlarian terdengar. Sekitar sepuluh SPG berhamburan kegenitan ke arah si Tampan. Dengan hasrat memecat seribu karyawan kuhadang mereka. Mataku melirik tajam, penuh ancaman PHK tanpa ampun bagi siapapun yang membangkang. Berhasil. Para SPG bubar barisan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tidak mau membuang waktu. Dengan penuh percaya diri aku mendekati si Tampan. Pura-pura ikut memilih sepatu. Mataku rasanya mau copot. Jantungku seperti mau meledak. Dari dekat lelaki ini terlihat jauh lebih tampan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Subhanallah...&lt;/span&gt; rambutnya hitam mengilap. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astagfirullah... &lt;/span&gt;bibirnya seksi sekali. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahu Akbar&lt;/span&gt;... matanya berwarna biru. Mungkin dia bule atau keturunan Indo. Dan Alhamdulillah... sekarang aku di dekatnya. Wangi parfumnya menggoda hidung untuk terus berada di dekatnya. Tuhan... sempurna sekali makhluk ciptaan-Mu ini.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Otakku berputar setengah mati mencari ide agar bisa mengajaknya bicara. Dapat!&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Maaf, boleh minta tolong?” kataku gugup.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Si Tampan menoleh. “Ya,” jawabnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku tersenyum. “Boleh minta tolong ambilkan sepatu itu.” aku menunjuk sepatu putih di atas kepalaku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Si Tampan membalas senyumku lalu mengambilkan sepatu yang kumaksud kemudian memberikannya padaku. “Ada lagi?” tanyanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Tidak ada.” Aku menggeleng. “ Terimakasih.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Sama-sama.” balasnya. Kemudian dia pergi ke pojok, duduk di kursi dan mencoba sepatu yang ia bawa. Aku mengikutinya, duduk di sampingnya, dan mencoba sepatuku. Jantungku benar-benar mau meledak. Aroma parfumnya semakin menggoda hidung. Kalau direstui aku ingin sekali pingsan di hadapannya. Sukur-sukur langsung diberi nafas buatan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Eh, coba sepatu juga?” aku basa-basi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ia mengangguk sambil tersenyum. Manis sekali.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kulepaskan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;high heels&lt;/span&gt; dan kupakai sepatu putih yang modelnya sungguh sangat aneh. Menyesal aku memilih sepatu ini. Tapi tidak apa-apa, ini hanya pura-pura. “Bagaimana, sepatu ini cocok tidak untukku?” aku menjulurkan kakiku yang telah dibungkus sepatu baru.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Alih-alih berkata 'bagus' si Tampan malah meledak tertawa. Keras sekali sampai beberapa pria yang kebetulan ada di ruangan itu melirik ke arah kami dan langsung ikut tertawa. Ada apa ini? Apanya yang lucu? Wajahku mendadak pucat. Aku salah tingkah. Nyengir sendiri. “Kenapa tertawa?” tanyaku gugup.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dengan susah payah si Tampan berusaha bicara. “Itu kan sepatu laki-laki.” katanya kemudian kembali terbahak-bahak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Rasanya seperti tertimbun apartemen 754 tingkat. Malunya ampun-ampunan. Kenapa aku tidak sadar kalau sekarang berada di area sepatu lelaki. Mataku buta. Pantatku serasa dipaku ke kursi, sulit sekali bergerak. Si Tampan tertawa semakin menjadi-jadi. Mamih... tolong anakmu. Dengan kecepatan cahaya aku kabur. Bersembunyi di ruanganku. Meratapi kebodohanku. Seribu satu satwa kebun binatang kusapa. Mulai dari monyet hingga badak ujung kulon. Tidak ada yang terlewatkan. Namun tanpa gentar, beberapa menit kemudian aku kembali ke medan perang. Kali ini bersembunyi di deretan gaun pengantin. Menunggu si Tampan ke kasir untuk membayar dan saat itu aku akan pura-pura ikut membayar barangku lalu sedikit berbincang-bincang tentang kebodohanku di area sepatu tadi, kemudian kenalan, tukar nomor telepon, janjian, pacaran, dan menikah. Aaaaahhh... sempurna sekali rencana biadabku ini. Apalagi tahun ini Mamih lenyap dari rumah. Sungguh sempurna. Hahahaha…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hampir setengah jam aku bertengger menunggu. Keram mulai menjalar, kesal mulai mengendap, gondok mulai membengkak. Dan ketika semuanya nyaris meledak, akhirnya si Tampan muncul. Dia membawa lumayan banyak belanjaan. Aku meraih baju asal-asalan kemudian mengikutinya dari belakang. Di kasir dia mempersilahkanku untuk membayar lebih dulu. Ah, selain tampan ternyata dia sangat baik.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Terimakasih.” kataku tersipu kemudian memberikan bajuku pada kasir.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Aaaaarrrggghhh...” kasir tiba-tiba berteriak. “Selamat ibu. Akhirnya Tuhan mendengar doa saya. Mana undangannya? Kok belum disebar?” dia mengibarkan gaun yang baru saja kuberikan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kepalaku serasa digetok 500 martil. Bodoh! Kenapa aku mengambil gaun pengantin??? Salah-salah si Tampan mengira aku akan menikah besok. Tapi dengan kecanggihan akal bulusku dalam sekejap alasan untuk mengelak kudapatkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Ah, kau ini ada-ada saja.” aku tertawa renyah sambil memukul pundak si kasir lembut. Tapi terlalu keras sampai si Kasir tersungkur ngusruk. Beberapa kotak berisi uang receh ikut berhamburan diiringi suara gemerincing yang menghawatirkan. Adalah sebuah misteri alam kalau tenaga orang yang sedang jengkel mendadak berlipat ganda. “Ah, maaf.” kataku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Si Kasir bangkit. Merapihkan pakaiannya. Ia cengar-cengir serba salah. Dan... oh... hidungnya berdarah. Mungkin mencium meja atau apa. Rasakan itu bedebah!&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Cepat bungkus gaunnya.” perintahku. “Itu untuk saudaraku.” aku berbohong. Dengan sedikit sentuhan kesombongan kukeluarkan dompet dan mengambil kartu kredit gold.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Loh, ini kan butik Ibu. Tidak usah bayar.” kata kasir dengan wajah bingung. Darah dari hidungnya mengalir semakin deras. Brengsek!&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku berkedip-kedip berusaha memberikan isarat yang semoga saja dipahami.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Mata ibu kenapa?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ah, isarat tidak dimengerti. Kasir tolol!&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Bu, sudah, tidak usah dibayar. Nanti saja saya masukkan ke data pribadi ibu.” kasir masih ngoceh.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tiba-tiba aku sangat berhasrat ikut kursus menjahit. Kalau sudah lihai nanti akan kujahit mulut si Kasir. Aku terus berkedip-kedip. Si Tampan menatapku curiga. Jangan sampai dia mengira aku orang gila yang membeli baju di butikku sendiri. Duh... Tuhan... kenapa aku mendapatkan kasir idiot yang tidak mengerti isarat darurat. Kutendang meja, merharap mengenai kaki si kasir. Meleset, malah mengenai meja dan terlalu keras hingga suaranya berdebam. Aku jejeritan kesakitan. Kini semua orang menontonku. Duh... malunya. Berang! Akhirnya aku pergi keluar.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku bersembunyi di antara mobil. Ada dua ribu sembilan alasan untuk mendekati si Tampan. Sekarang aku akan pura-pura susah membuka bagasi. Dan kalau si Tampan nongol aku akan pura-pura minta bantuan padanya. Ah, sempurna.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pintu terbuka. Yang keluar malah gadis berambut panjang yang diikuti dua banci atraktif tadi. Kuperhatikan. Ah, itu bukannya Anastasya Muldiono, penyanyi muda yang sedang naik daun itu. Lagu Culik Aku Lagi sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;booming&lt;/span&gt; dan menggema di mana-mana. Aku hafal liriknya. Tapi kalau melihat secara langsung tampaknya gadis itu sangat jutek. Ah, masa bodo.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku kembali menunggu. 5 menit, 10 menit, dan ketika aku hendak mengintipnya ke dalam akhirnya si Tampan keluar. Aku gelagapan, berlari serabutan tanpa arah ke mobil. Pura-pura mengeluarkan kunci. “Aduh... susah sekali ya!?” teriaku pura-pura. Jantungku melonjak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“MALIIIIIIIING...!!!”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sebuah teriakan dari ibu-ibu berpakaian aneka warna menggema di parkiran itu. Ada maling di mana? Aku celingukan. Itu bukannya rombongan anti-diskon yang tadi belanja di butik? Dengan tampang murka mereka berhamburan ke arahku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bagai petir di siang bolong. Keledai idiot saja tidak akan jatuh ke lubang yang sama tiga kali. Aku, Tamara Amalia, diteriaki maling oleh grup arisan entah dari Rt mana? Demi tempe-gosong-dan-beracun buatanku tempo dulu, aku sama sekali tidak tahu kalau mobil Taruna berwarna merah ini punya ibu-ibu itu. Apalagi berniat merampoknya. Sungguh, tidak secuilpun ada niat seperti itu. Dadaku serasa sesak. Panas perlahan menjalar naik dari ujung kaki ke ubun-ubun. Pasti wajahku merah padam karena malu. Apalagi banyak orang yang tiba-tiba berdatangan. Duuuuhhh... Penguasa Jagat Raya... apa yang harus kulakukan. Jangan biarkan hamba-Mu mati muda dibakar masa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kakiku bergetar hebat dan dalam hitungan detik semuanya berubah menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar kulihat siluet wajah Nensih yang panik.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Ah, untunglah kau sudah sadar.” Katanya tersenyum.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku hendak bangun tapi kepalaku terasa berat. “Apa yang terjadi? Mana ibu-ibu itu?” tanyaku bingung.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Sudah tidak ada. Kau sekarang berada di rumah. Tadi siang sekertarismu menelepon. Katanya kau pingsan karena hampir digebugi masa.” Nensih cekikikan. “Ini, minum dulu.” Ia membantuku bangun lalu memberiku segelas air. “Bagaimana? Sudah agak mendingan?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku mengangguk lemas.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ternyata tadi siang aku pingsan. Tapi bagaimana nasib si Tampan. Duuuh… aku belum sempat kenalan. Tapi jujur, rombongan ibu-ibu tadi kalau sedang marah sungguh menyeramkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jam 8 malam semuanya kembali normal. Aku sudah bisa tenang. Dan untuk memulihkan emosiku Nensih mengajakku nonton DVD. Film a Cinderella Story yang dibintangi Hilary Duff dan Chad Michael Murray. Ketika film sedang seru-serunya bel pintu berbunyi. Dengan malas aku membukanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seorang pria tampan berdiri di ambang pintu. Tadinya aku hendak menjerit. Tapi tak jadi karena pria itu malah tersenyum. Sungguh manis. Dia memberikan sekotak kue padaku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Maaf, aku mengganggu. Ini ada kue.” Katanya sopan. “Aku penghuni baru di rumah depan. Anggap saja ini sebagai pemberian dari tetangga baru.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku tersenyum. “Terimakasih.” Kataku senang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dari dalam Nensih berteriak, bertanya siapa yang datang. Tapi karena tak kuhiraukan dia akhirnya melihat sendiri. “Mara, siapa yang datang?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Eh, ini tetangga baru kita. Itu loh yang mengisi rumah depan.” Kataku gugup. “Oh, iya, namaku Tamara.” Aku mengulurkan tangan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Andy.” Katanya menjabat tanganku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Setelah berbincang-bincang pendek akhirnya Andy pamit pulang tanpa mau masuk ke rumahku dulu. Katanya masih banyak yang belum dibereskan di rumahnya. Dan kabar baiknya, dia masih lajang. Aaaaaarrrrggghhh…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku dan Nensih buru-buru menyantap kue pemberian si tetangga-baru-yang-tampan. Tapi bunyi bel kembali mengganggu. Aku dan Nensih buru-buru membukanya. Pasti Andy balik lagi. Dan setelah pintu dibuka ternyata ibuku. Di ambang pintu, berlumuran tawa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bibirku langsung monyong mengetahui siapa yang datang. “Bukannya Mamih sedang menenangkan diri di rumah Bibi susi?” kataku judes.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ibu melangkah genit ke dalam rumah seolah dia adalah model yang sedang berjalan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;catwalk&lt;/span&gt;. Ia cengar-cengir tidak jelas sebelum akhirnya tertawa renyah. “Sepertinya perjanjian kita batal.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Apa?” aku kaget.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Iya.” Ia mengangguk. “Naluri keperawananku mengatakan ada seorang pemuda tampan yang tinggal di depan rumah kita.” Katanya centil.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Naluri keibuanmu seharusnya mengatakan bahwa merebut pacar anak sendiri itu adalah perbuatan tidak bermoral.” Kataku berang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Oh, Cantik. Aku suka sekali perbuatan tidak bermoral.” Mamih mengitari sofa. Entah apa maksudnya? “Sangat menantang.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku kehabisan kata-kata untuk meladeni ibu-ibu sinting yang satu ini. Karena tidak mau ada perang teluk akhirnya aku mengalah dan naik ke atas. Tapi tiba-tiba bel berbunyi lagi. Aku buru-buru turun ke bawah. Kulihat ibu juga berlari ke arah pintu. Kami berdua berlomba dan akhirnya aku berhasil membuka pintu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Aaaaaarrrrggghhh…”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kami berdua menjerit histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1st Chapter oleh Zelan Sidik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3194495374800872248-275088188495190564?l=1stchapter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://1stchapter.blogspot.com/feeds/275088188495190564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3194495374800872248&amp;postID=275088188495190564' title='25 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/275088188495190564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3194495374800872248/posts/default/275088188495190564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1stchapter.blogspot.com/2009/07/lajang-lapuk.html' title='Lajang Lapuk'/><author><name>GagasMedia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01981272606307874911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://bp2.blogger.com/_y5LSNowRMgw/R5QzzOGM8rI/AAAAAAAAAG8/eRPzJNHdDbI/S220/red1.gif'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3194495374800872248.post-6471020944771731953</id><published>2009-07-13T03:27:00.000-07:00</published><updated>2009-07-13T03:35:20.454-07:00</updated><title type='text'>Nadia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nadia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Kak, maaf… maafkan aku… cincin itu…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kita harus berangkat sekarang!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak! Aku nggak bakal pergi kalau…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Nadia, Nadia!!! Na…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“WOI!!!!” Terdengar suara penuh amarah yang membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat aku bangkit, membereskan barang-barang dan pergi menemuinya sebelum dia mengamuk. Menemui bossku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ini! Kerjaannya melamun aja, apa kamu nggak bisa kerja yang bener?” Omelan bossku mulai panjang lebar. Aku nggak ngerti, udah seharian ini dia kerjaannya ngomel melulu. Padahal aku udah berusaha selama ini kerja yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vin, take sekali lagi ya!” Seru seseorang memanggil bossku. Bossku hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia menoleh padaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu balik ke mobil, ambilkan handuk dan pakaian ganti. Habis ini kita pulang!” Perintah boss sebelum pergi. Teringat sesuatu, aku memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vin, makan malam belum...” Yah, dia udah pergi. Aku belum buat makan malam. Bagaimana ini? Ya udah deh, yang penting ngambil barang-barangnya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah ngambil barang-barang dan keperluan lainnya, aku menonton bossku bekerja. Bossku adalah seorang bintang film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vincent, umur 20 tahun, pria lajang yang keren, tinggi, ganteng dan cool. Tapi sombong, angkuh, pemarah dan betul-betul nggak sabaran. Entah kenapa profesinya sebagai aktor terus aja meroket. Memang sih, kalau dia udah senyum bisnis, semua wanita bakal mabuk kepayang. Udah gitu, pintar pula. Katanya dia sering loncat kelas, dan sekarang dia udah mau lulus kuliah tanpa kesulitan berarti meskipun sibuk syuting. Vincent, Vinci. Oh iya, nama artisnya kan Vinci.... Vinci apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haaah.... kalau aja nggak punya perjanjian bisnis dengan si licik itu, nggak bakal deh mau jadi asistennya. Emang sih, namanya asisten, yang katanya Cuma membantu membawakan barang dan mengurus semua barang-barangnya selagi dia kerja. Tapi aku juga merangkap pembantu yang mengurus rumah dan makanannya!!! Di suruh ke sana kemari, lalu terus-terusan diomeli, mana tahaaannn!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukh... aku yang masih umur 16 tahun begini, untung aja lagi libur puasa. Mana sekolahku jauh. Haah.... aku harus sabar, harus tabah. Sabarlah Nadia!!! Ini demi tujuanmu sampai kau rela kabur dari rumah!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cut!! Oke!!! Syuting selesai. Bereskan semuanya!!!” Kata Sutradara menghentikan syuting. Dia menghampiri Vinci dan lawan mainnya sambil memberikan selamat. Ada asisten sutradara yang membawakan skrip selanjutnya. Mungkin ada perubahan skenario?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woi!” Panggilnya sambil melemparkan skrip. Kena deh, kepalaku yang jadi sasaran. Aku cepat-cepat membasahkan handuk dan menyerahkannya pada Vinci. Anehnya, dia selalu menerima dengan kening yang mengerut. Herankah? Kalau heran, kenapa nggak ditanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vin, ada sedikit masalah. Aku nggak sempat masak buat makan malam...” Aku melaporkan dengan suara rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“APA?!” Cowok ini sudah mulai naik darah lagi. Meskipun nggak terlalu terpancar dari mukanya, dari nadanya yang naik setengah oktaf udah ketahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar deh, cowok ini. Waktu pertama kali ketemu, aku pikir dia itu robot karya masterpiece ilmuwan terkenal. Habis, keren dan ganteng begini, tapi kalau Cuma berdua atau sendirian, nggak ada ekspresi kehidupan. Tapi kalau udah mengamatinya baik-baik, emosinya terpancar samar-samar, meskipun itu cuma dari nada suaranya aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bisa belanja dulu, baru masak. Tapi kalau mau tepat waktu... berarti harus makan di luar.” Kataku memberikan opsi. Aku melihat jam tangan yang menunjukkan waktu pukul 18.37. Vinci adalah orang yang sangat disiplin dengan waktu. Jadi bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita makan di luar. Tapi meja masing-masing. Ngerti?” Tanya Vinci. Aku mengangguk. “Dan biaya makanmu dipotong dari gajimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk sekali lagi tanpa banyak protes. Ini memang salahku. Jadi semua harus ku tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Vinci ganti baju dan siap pergi kami berangkat ke restoran terdekat. Hm... ada benernya juga sih. Kalau kami jalan bareng, pasti bakal ada gosip. Aku kan bareng sama Vinci gara-gara kerjaan, kalau ada gosip pasti aku nggak bisa kerja sama dia lagi. Dan gagal total targetku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vinci berjalan duluan dan mengambil kursi. Aku mengambil meja persis di seberangnya. Jadi kami berhadapan diantara dua meja. Selalu seperti ini. Jadi terkenang saat kami bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tiga minggu. Ya, benar. Tiga minggu yang lalu aku nekat datang ke rumahnya setelah kabur dari rumah. Aku hanya hidup berdua dengan kakakku, kak Juno, yang sekarang tercatat sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haah... kak Juno. Cowok berumur 20 tahun dengan badan yang tinggi, kurus tapi bertenaga, ganteng, rambut coklat gelapnya sekarang cocok banget. Tatapan dan senyumannya lembut sekali. Benar-benar pangeran berkuda putih. Lagipula dia seorang gentleman. Beda sekali dengan cowok yang bersebrangan denganku sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vinci dan kak Juno. Berumur sama, berpenampilan sama, kharisma sama, tapi karakternya jauh berbeda. Kak Juno... aku kangen. Seandainya kita tidak bertengkar waktu itu... tapi tunggulah kak! Aku nggak bakal membuat kakak khawatir. Aku akan pulang, minta maaf dengan membawa benda yang sangat penting bagi kita berdua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bodohnya aku, Cuma dengan selembar kertas, datang ke rumahnya Vinci waktu itu. Aneh juga dengan keadaan rumah yang sepi. Bell rusak, bahkan di ketok pun nggak ada yang nyahut. Nggak terkunci lagi!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nama : Viná&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Umur : 20 tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pekerjaan : Swasta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tempat Tinggal : Miracle Living Resident, no 14&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya. Itu selembar kertas yang membuatku seperti orang bodoh. Aku mengira pekerjaannya wanita karir yang ceroboh. Melihat rumahnya yang luarbiasa besar, foto-foto wanita yang cantik, dan kamar lux dengan banyak sekali warna abu-abu dan silver. Benar-benar wanita karir yang kaya, pikirku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, aku betul-betul kaget begitu tahu dia laki-laki. Aku kira namanya Vina, seperti yang tertulis di kertas itu. Tapi ternyata namanya adalah Vinci. Haaah... sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sombongnya dia mengajak aku bicara. Kalau nggak benda itu dipegang sama dia, pasti dia sudah kuhajar habis-habisan, meskipun itu bertentangan dengan prinsip karate, dan mungkin aku bisa dilaporkan ke polisi karena tuduhan penganiayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku harus kerja menjadi asistennya minimal tiga bulan untuk menebus benda itu. Astaga... aku disuruh-suruhnya!!! Kayak pembantu aja. Untung aku terbiasa mengurus rumah dan memasak. Habis dulu harus mengurus dua cowok dalam rumah dari kecil. Kalau Cuma si robot yang nggak banyak omong itu, masalah enteng. Cuma selera dan disiplinnya aja yang kelewatan, sampai aku susah. Sudahlah... makan dulu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm? Banyak juga orang-orang sekitar yang berbisik-bisik di sekitar kami. Meskipun Vinci sudah menyamar sedemikian rupa, tetap saja dia menarik perhatian. Untung aja kan, aku nggak semeja dengan dia. Yak, untung-untung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Jangan cemberut, dasar anak kecil.” Kata Vinci begitu kami dalam perjalanan pulang. Mahal banget semua makanan tadi!!! Lebih dari setengah gajiku!!!! Aku kan jadi rugi besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulirik Vinci sebentar. Kurasa nggak ada orang yang selurus dia. Kalau ada yang mengganjal dan mau dikeluarkan, meski sejelek apapun dan membuat orang terluka nggak pernah disensornya satupun. Dan kalau nggak ada yang mau dibicarakan, ya diam saja. Sama sekali nggak ada basa-basinya. Menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa kalau begini terus, kamu nggak bakal bisa mendapatkan cincin ini.” Kata Vinci yang menusuk perasaanku. Tapi aku memilih menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap tangan kiriku. Ada cincin emas yang melingkari jari manisku. Polanya indah, dengan satu mata berlian dengan pola potongan yang membuat kilaunya begitu memancar, seperti pelangi. Pasangan cincin ini melingkari jari manis tangan kiri Vinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah bilang, dengan cara apapun pasti kudapatkan kembali cincin itu.” Kataku pelan. Itu kan satu-satunya warisan dari ayah dan ibuku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cincin pernikahan orangtuaku yang ditinggalkan untukku dan kak Juno. Nggak akan kubiarkan kedua cincin ini terpisah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Vinci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak pernah ngerti pikiran anak kecil. Begitu ngototnya mereka hanya demi sebuah barang yang remeh dan sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kagetnya aku waktu kutemukan cewek histeris yang bersembunyi di lemariku, lalu berteriak nggak karuan karena menyangka aku cowok mesum, padahal aku baru saja selesai mandi. DI RUMAHKU SENDIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek itu kepalanya berada di bawah bahuku sedikit. Bagiku yang 185 cm ini, dia lumayan juga. Rambutnya hanya sampai bahu dan berponi tipis. Rambutnya cukup halus. Badannya kurus, dan wajahnya bisa dinilai imut untuk seorang siswi SMA. Itu kata-kata para kru film yang selalu saja tersenyum kesenangan begitu anak kecil itu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan sajalah, yang penting anak itu bisa berguna untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil itu datang dan mengatakan dia mau melakukan apa saja, asal aku mengembalikan cincin itu padanya. Konyol sekali. Apa sih istimewanya cincin yang dibeli di acara lelang pegadaian? Memang pola ukirannya rumit, dan membuat Via senang. Tapi itu bukan alasan untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kupikir nggak ada salahnya memanfaatkan cewek ini. Dia bisa kupekerjakan untuk mengurus rumah dan mengurus barang-barangku selama aku kerja. Bisa kujadikan asisten dan membuatnya menderita. Tapi tak kusangka, ternyata dia kabur dari rumah!!! Sempat kucurigai dia bukan anak baik-baik. Begitu kusuruh tinggal di rumahku, tanpa ragu dia menyetujuinya!! Memangnya dia pikir dia siapa? Apa dia terbiasa tinggal bersama cowok? Kenapa dia sama sekali tidak ragu, takut, atau bahkan senang. Yang dia pikirkan hanyalah mendapatkan cincin tunanganku ini yang dia bilang milik kakaknya yang labur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kuberitahu manajerku, dia panik sekali. Cewek itu bisa mengancam karirku. Tapi begitu melihat sepertinya dia terbiasa mengurus rumah dan memasak, kupikir tak apa. Apalagi aku baru saja pindah rumah dan belum ada yang tahu alamat rumah baruku ini. Tak masalah, aku dapat tenaga baru yang masih muda dan gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu semangatnya dia bekerja, pagi-pagi aku sudah sarapan. Bahkan dia membuatkan bekal untukku. Aku kan nggak terbiasa makan pagi, apalagi dapat bekal. Tapi sayang sekali menyia-nyiakan makanan, jadi ku makan saja. Sekalian mengetes rasa masakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu itu aku jadi repot mengenalkannya pada semua dia itu asistenku. Banyak juga orang yang nggak percaya, tapi begitu melihat dia begitu semangat membawakan barang-barangku dan mau kusuruh-suruh tanpa banyak protes, aku sudah tahu aku terbebas dari gosip aneh. Lagian dia kan anak kecil, mana mungkin cocok denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga minggu ini dia bekerja untukku tanpa kenal menyerah. Tampaknya dia sangat menginginkan cincin ini, sampai dia melakukan semua pekerjaan serajin-rajinnya. Pagi menyiapkan sarapan, diantara sinar pagi yang menghangatkan udara yang dingin dia menjemur pakaian, lalu membereskan rumah. Memberikanku bekal, dan begitu pulang dia sudah menyiapkan air panas untukku. Bersantap malam, membereskan dapur lalu tidur. Seleranya nggak jelek, dia bisa memilihkan baju untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, meskipun baru tiga minggu, sepertinya kami sudah terbiasa hidup bersama. Tapi aku harus bersikap rasional. Aku dan dia itu orang lain, dan kami juga baru tiga minggu tinggal serumah. Meski rasanya sudah biasa, tapi jangan dibiasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu... melihat senyumnya yang mengembang seiring dengan bangkitnya sinar mentari, aku merasa dia bukan gadis biasa. Juga waktu beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku sama sekali nggak tidur untuk mempelajari naskah, aku bermaksud turun untuk minum kopi. Dari tangga, kulihat dia yang terus saja menatap keluar melihat bulan. Tatapan yang sangat kesepian. Kosong menerawang, seperti memanggil di samar-samar sepinya suasana malam itu. Rasanya mau kupanggil, tapi jiwanya seperti di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menangis. Dia menangis tanpa suara sambil melihat bulan. Airmatanya terus jatuh bercucuran. Sepertinya sakit sekali. Entah apa yang selama ini dialaminya. Esoknya dia sudah semangat kembali, dan aku tak pernah lagi melihatnya menangis. Hanya sekali saja dia menangis, dan itupun tanpa suara. Tanpa ada sinyal apapun. Entah kenapa, sejak saat itu aku terus penasaran apa saja yang ada padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam ini... tanggal 17 ya?” Tanya anak itu tiba-tiba. Kurasa itu nggak perlu dijawab, karena dia sudah melihat kalender berkali-kali. Kukemudikan mobilku tanpa banyak bicara. Sebenarnya dia mau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skrip baru yang diberikan ini bikin repot saja. Kenapa selalu saja ada perubahan skenario padahal ini sinetron striping. Hm... bikin kopi saja dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu ke bawah, kulihat dia berada di ayunan kayu yang berhadapan dengan laut. Banyak orang bilang rumahku modelnya sama dengan sinema ‘Full House’ dasar orang-orang manajemen sialan. Dia terus saja memandang bulan sabit itu. Aku jadi penasaran dan mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vinci... mau menikmati bulan juga?” Katanya begitu menyadari keberadaanku. Dia Cuma pakai piyama, dan nggak pakai jaket sama sekali. Dia duduk sendirian dengan segelas kopi di malam yang dingin ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih...” kupakaikan jaket yang kuambil di rumah. Aku mengambilnya dua. “asisten nggak boleh sakit, nanti bukannya bantu malah bikin masalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi si aktor sendiri juga nggak boleh sakit. Bisa heboh para fansmu di luar sana tahu kamu sakit. Makasih ya...” Kata anak itu pelan. Wajahnya memerah sesaat, tapi dia lalu memandang bulan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vinci... pernah merindukan seseorang? Orang yang sangat berharga bagi Vinci...” Tanya Nadia. Aku menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku... ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cowok yang kamu suka?” Tanyaku. Giliran Nadia menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Orangtuaku. Ibuku meninggal waktu aku tujuh tahun. Ayah bekerja sebagai novelist, kakak yang masih SMP kelas 1, dan aku masih tujuh tahun. Ibu adalah sosok yang anggun, cantik, dan sangat telaten mengurus keluarga. Tapi karena ibu meninggal karena sakit, semuanya berubah.” Nadia terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peninggalannya hanya cincin yang ada di tangan kiriku ini.” Kata Nadia. “Sepeninggal ibu, semuanya jadi kacau. Ayah jadi semakin ceroboh, dan agak konyol. Tapi kami semua bahagia. Sampai akhirnya tiga tahun kemudian, kakak lulus SMP dengan prestasi yang luarbiasa. Dan begitu masuk SMA... ayah meninggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi... orangtuanya meninggal. Apa cincin ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah meninggal karena kecelakaan setelah mengantar kakak. Akhirnya kakak keluar dari sekolah berasrama itu, dan mulai mencari kerja sambilan untuk membiayai kami. Jadi kami hanya tinggal berdua. Empat tahun... hanya berdua. Makan, main, belajar, bahkan kadang tidur bersama selama ini. Dia kakak yang sangat baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi karena itu dia terbiasa tinggal bersama cowok? Wajahnya begitu menceritakan kakaknya... begitu lain. Seperti orang yang sedang kasmaran saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana kakakmu sekarang? Apa karena kalian bertengkar sehingga kamu kabur dari rumah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ini memang orangnya dingin ya? Kakak... sewaktu lulus SMA, ada seorang direktur yang sangat suka dengan prestasinya. Dia menawarkan beasiswa dengan syarat IP diatas 3 dan setelah lulus bekerja untuknya. Dan sekarang dia kuliah di Australia. Aku dititipkan, dan karena cincin itu, aku kabur dari rumah. Puas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meneruskan minum. Jadi begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa 
