Wednesday, February 13, 2008

Mati Suri

-

Mama Belum Mati!
Suasana haru yang penuh dengan isak tangis di pemakaman itu terganggu oleh sebuah teriakan histeris seorang gadis yang berlari-lari ke arah kuburan jenazah yang baru selesai dimakamkan. Gadis berusia belasan tahun itu menjerit-jerit memilukan seperti menahan sakit yang tak terkira. Gadis itu adalah anak tunggal almarhumah yang tampak tak rela dengan kepergian Ibunya.

“MAMA BELUM MATI!! MAMA BELUM MATI!!” Indah berteriak-teriak menubruk kerumunan para pelayat seperti kesetanan. Ia seperti hilang kesadaran dan tak terkendali. Bebearapa orang, termasuk Ayah, Oom, Tante dan sepupunya spontan menahan tubuh Indah mencoba menenangkan. Tapi tenaga dari tubuh gadis itu seperti meningkat berkali-kali lipat dari keadaan normal. Matanya yang telah bengkak dan lebam masih saja mengalirkan air mata sederas air terjun Niagara. Ayahnya memeluk tubuh Indah sekuat tenaga sambil berkata keras mencoba menyadarkan Indah.

“Indah, SADARLAH!!” bentak ayahnya. “Terimalah kenyataan! Ini semua sudah takdir!!” Suami itu tampak lebih tegar meskipun sebagian jiwanya yang dibawa istri tercinta mengguratkan kesedihan yang begitu dalam sama seperti putrinya.

Para pelayat ikut panic dan hanya bisa melihat Ayah dan anak itu dengan perasaan iba. Ada yang ikut menahan tubuh Indah yang meronta-ronta, ada juga yang hanya sekadar menghibur dengan kata-kata ‘sabar, tenang, nyebut! Dan sebagaian hanya berbisik-bisik, sisanya berdoa agar keluarga yang ditinggalkan almarhumah diberi ketabahan, terutama putrinya itu.

“Kasihan anak itu. Ia begitu menyayangi Ibunya sampai tak bisa menerima kenyataan bahwa Ibunya telah tiada.” bisik seseorang di antara kerumunan itu.

“Indah sepertinya menjadi gila!!” wajar saja, anak itu tak percaya takdir. Bahkan dari kesehariannya ia terlihat seperti orang yang tak percaya Tuhan. Ia tahu bahwa kematian tak dapat dielakan. Tapi ini keterlaluan, ia menganggap Mamanya belum waktunya meninggal!” seorang Ibu, tetangga yang tinggal di sebrang rumah Indah yang merasa tahu segalanya tentang keluarga Indah berbisik pula pada suaminya.

“Begitulah jadinya kalau anak tidak dilandasi dasar agama yang kuat Ma. Aku tak ingin Vera nanti seperti Indah!” suaminya itu menatap anaknya yang masih kelas lima SD seolah tak sudi anak gadisnya kelak seperti gadis yang mengamuk di pemakaman itu.

“Cntyha!! Kamu kenal aku lebih dari siapapun! Cuma kamu yang percaya sama dan bisa kupercaya. Kamu percaya kan kalau Mamaku belum meninggal?” Indah bertanya dalam isak tangis dan jeritan histeris serta deraian airmata tak tertahankan. Ia berharap ada seorang saja yang mempercayai kata-katanya. Dan hanya Cynthia, sepupu dan orang terdekatnya yang tahu Indah memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang biasa. Tapi… Cynthia bingung, ini sudah di luar batas dimana ia harus bisa percaya dengan kenyataan yang terjadi di depan matanya.

“Aku percaya Ndah!” jawab Cnthya akhirnya, membuat ayah Indah dan orang tuanya sendiri kaget. Ada sedikit binary harapan dalam mata Indah. “Aku percaya bahwa Tante tak akan pernah meninggalkan kita. Ia hidup abadi di hati kamu Ndah. Di hati kita semua yang menyayanginya.” jawaban Cynthia cukup melegakan semua orang di tempat itu.

Tapi tidak demikian dengan Indah. Ekspresi wajahnya kembali lagi menjadi muram ditambah sedikit kekecewaan yang timbul pada orang yang paling dipercayai dan mempercayainya. Indah terdiam sejenak. Semua yang didekat Indah, yang menahan ronta tubuhnya mengira Indah seperti mulai mengerti kalau Cnthia telah menyadarkan Indah. Perlahan-lahan tangan-tangan yang menahan tubuh Indah mengendur bahkan hamper hamper terlepas.

Rupanya kesempatan itu tak disia-siakan Indah. Dengan cekatan, Indah terlepas seperti sapi gila yang mengamuk menghancurkan kandangnya. Semua orang di prosesi akhir penguburan itu menjadi lebih panic dari sebelumnya. Tak pernah sekalipun semua yang ada di sana menyaksikan suasana pemakaman yang begitu dramatis.

Seperti orang gila Indah mencakar-cakar tanah kuburan Mamanya seperti hendak menggali. Melihat kelakuan anaknya yang sudah tak terkontrol, Ayahnyapun tak bisa menahan amarahnya yang memuncak. Ia begitu murka bercampur malu. Kini, ayah itu yang lepas kendali dan menghampiri anak semata wayangnya untuk menamparnya.

“Akan kubuktikan pada kalian semua yang ada di sini!! Mamaku masih hidup. Ia tersiksa di dalam kuburan ini! Kehabisan nafas dan minta tolong padaku. Pada kita semua!!”

“INDAH!!”

Kata panggilan itu yang terakhir kali didengar indah> Untuk pertama kali dalam hidupnya, ayahnya menampar Putri kesayangannya sendiri dengan sangat keras. Indah tersungkur di depan kuburan Mamanya, ia pingsan dengan darah yang keluar dahinya karena membentur papan kuburan. Pipi, kepala dan hatinya sangat sakit sekali.

“Mama…” kata terakhir yang diucapkannya dalam ksadaran terakhirnya pula. Dan diantara sadar dan tidak, dalam waktu seperseribu detik ia melanjutkan, “MAaf… Indah tidak bisa menyelamatkan Mama…”
***

Kalian percaya bahwa ada kehidupan setelah mati? Atau ada yang namanya reinkarnasi; bahwa kita akan terlahir dan hidup kembali dalam dunia dan kehidupan yang berbeda dengan sebelumnya? Kalian percaya bahwa surga dan neraka itu ada? Atau yang lebih sensitive dan hedonis; kalian percaya adanya Tuhan; pencipta segalanya yang membuat kehidupan, kematian serta surga dan neraka?

Silakan jawab dalam hati kalian sesuai dengan kepercayaan dan keimanan masing-masing. Aku tak akan mengganggu dan mempengaruhi kepercayaan kalian dengan kalimat-kalimatku yang jika terucap akan menjadi sebuah kontroversi. Sembilan puluh sembilan persen dari kalian taka nada yang setuju dengan apa yang kupercaya. Bahkan aku yakin dari kalian akan ada yang menghujat dan mengklaim diriku sebagai setan berwujud manusia yang akan menyesatkan kalian. Jadi, mari kita sama-sama diam dan mencari topik lain.

Aku percaya kehidupan karena sedang mengalaminya. Juga percaya kematian karena sering menyaksikannya. Keduanya begitu jelas. Begitu dekat dan nyata. Tapi jangan lupakan hal yang ada di antara keduanya. Hal yang mungkin tak semua orang bisa atau pernah mengalaminya. Keadaan di antara hidup dan mati. ‘Mati Suri’.

Kau tak merasa hidup tapi juga belum mati. Jantungmu berhenti berdenyut tapi kau masih merasa hidup dalam jasadmu sendiri. Atau sebaliknya, semua organ dalam dan luar tubuhmu masih berfungsi, tapi kau hilang kesadaran dan syaraf otakmu kehilangan fungsinya. Keadaan ini adalah apa yang disebut dengan ilmu medis dengan keadaan ‘koma’. Mungkin para ahli medis dan ahli bahasa sependapat dengan mengibaratkan kehidupan seperti spasi dan kematian adalah titik. Maka mati Suri adalah koma.

Aku punya sebuah masa lalu dan kelebihan yang tidak mungkin bisa kalian percayai jika tak kuceritakan dan kuperlihatkan buktinya. Tapi biarlah itu menjadi misteri yang tersimpan dalam memori.

Aku hanya ingin mengundang kalian semua yang pernah merasakan hal itu. Yang pernah koma dan bisa melaluinya dengan selamat untuk kemudian hidup lagi. Yang pernah hidup dalam ruang ICU dengan selang-selang infuse dan peralatan medis tapi sebenarnya nyaris sedang menuju kematian.

Atau yang pernah mengalami amnesia yang kini sudah sembuh ataupun belum dari ingatannya. Karena banyak yang mengatakan orang yang amnesia itu seperti diberi kesempatan hidup dua kali. Bisa memulai kehidupan lain dari nol tanpa mengetahui kehidupan sebelumnya. Seperti yang pernah Mati suri sepertiku.

Atau yang merasa yakin sepenuh hati bahwa dirinya adalah bukan dirinya. Bahwa anda adalah jiwa yang bereinkarnasi yang terperangkap dalam tubuh orang lain dan salah terlahir masuk ke zaman ini, tapi tak bisa kembali dan tak tahu caranya hingga mau tak mau tetap menjalani hidup ini dengan mencari identitas diri. Sma seperti yang pernah mengalami Mati Suri.

Juga buat kalian yang mempunyai ‘kelebihan’ yang tidak dimiliki atau hanya dimiliki oleh segelintir manusia. Yang berhubungan dengan metafisik, supra natural, hal-hal mistik dan ganjil seperti bisa meramalkan masa depan atau melihat mahluk gaib dan semacamnya.

Mari bergabung denganku bersama orang-orang yang mencari tujuan hidup. Yang bertanya-tanya ‘Kenapa harus hidup jika kemudian harus mati lagi?’, ‘Kenapa dilahirkan jika kelak akan dikuburkan?’, ‘Kenapa kita berbeda dengan orang lain dan manusia-manusia normal lainnya?’, ‘Kenapa kita merasa spesial tapi sekaligus terasingkan dari dunia fana ini?’

Mari kita bertemu di dunia maya ini. Berdiskusi dan mencari solusi. Mungkin sesekali bertemu di dunia nyata di antara sekumpulan manias-manusia normal yang merasa tak punya beban dan tanggung jawab dengan menjalani hidup apa adanya.

Mari kita ciptakan dunia kita sendiri. Kita ciptakan dunia abadi dan pergi kea lam itu; alam mati suri yang akan kita temukan. Dunia Utopia dimana tak ada kebenaran dan kejahatan, pahala dan dosa. Yang tidak ingin hidup di dunia fana tapi tak mau mati saja dan ‘tak ada’. Yang ingin jasadnya tak rusak tapi tak mau diabadikan seperti binatang yang diawetkan di museum. Yang peraca bahwa dunia sejenis alam mimpi itu ada jika kita cari.

Jika kalian sepemikiran denganku, segila aku dan setak normal aku, mari bergabung. Kirimkan email kosong ke alamat milis di bawah. Kita akan membicarakannya, mencari solusinya dan menuju ke sana…

Hanya bagi yang merindukan kematian tapi tak menginginkannya. Yang merasa hidup ini adalah bukan untuk ‘sekadar hidup’ tapi tak pernah berpikir bodoh untuk bunuh diri. Untuk yang takut pada kedatangan maut tapi senang dan berani membicarakannya. Untuk yang ingin merasakan keabadian dalam kematian yang menghidupkan…

Salam,
Suri
1st Chapter by Ceko, pemenang Lovefool Writing Contest

Read More ......

Monday, February 4, 2008

CADANZA

-

BAB 1
MATEMATIKA DAN JUPITER



“FIDEL, bangun! Ini sudah siang, nanti kamu terlambat. Rotimu hampir dingin dan Papa sudah menunggu di bawah, jangan sampai Papa terlambat sampai di kantor gara-gara menunggumu. Ayo, cepat mandi!” kata Mama panjang lebar. Dan sudah pasti mendengar teriakan “Bangun Pagi” seperti itu jelas membuatku terbangun, tapi belum membuatku sadar atau setidaknya benar-benar bangun. Seperti biasa, kupaksa mataku untuk melirik ke jam weker di samping tempat tidurku untuk tahu jam berapa sekarang, dan butuh 5 menit lagi untuk bisa keluar dari bed-cover yang hangat ini. Apalagi wajah Bu Angela yang menyebalkan itu sudah menari-nari di otakku—entah di bagian sebelah mana mengingat sepertinya otakku sudah penuh dengan rumus matematika dan grammar bahasa inggris. Wali kelas 11 itu memang terkenal galak, tapi untuk siswa laki-laki Bu Angela adalah seorang guru yang centil, bahkan menor mengingat blush on atau lipstik yang dipakainya kadang berlebihan. Menurutku, Bu Angela sangat pilih kasih. Lihat saja sikapnya yang membeda-bedakan antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan. Dia bisa sangat ramah dengan Moreno—kakak kelas yang jago basket dan ganteng itu-, tapi sikapnya berubah 360 derajat ketika dengan Daanish—teman sekelasku yang seorang model majalah remaja itu. Ya, kuakui Daanish Kaemita itu memang cantik, badannya tinggi langsing, dengan rambut hitam panjang lurus seperti model iklan shampo, dan berkulit putih. Sempurna dan sepertinya tanpa cacat sedikitpun. Jelas saja, Bu Angela tidak menyukainya. Dan aku juga. Siapa sih yang nggak sirik melihat cewek sesempurna itu. Apalagi melihat cowok-cowok di sekolahku berebut untuk menjadi pacarnya. Sekolah sepertinya menjadi tidak nyaman ketika cewek bernama Daanish Kaemita itu pindah ke sekolah ini. Daanish adalah mimpi buruk bagiku.

“Fidel!!!” suara Mama mengagetkan aku. Gawat. Harus buru-buru mandi nih. Hanya perlu 3 menit untuk mandi, dan 2 menit untuk berpakaian, memakai loose powder dan lipgloss. Pakai sepatunya biar di mobil saja. Beres.

“Ayo, Pa, berangkat. Fidel udah siap nih.” Kataku buru-buru menuruni tangga, menuju ruang makan tempat Papa dan Mama disana.

“Roti dan susunya, Del.” Mama mengingatkan sarapan pagiku. Menu sarapan yang tidak berubah dari waktu aku TK dulu sampai sekarang kelas 11 di Santa Laurensia. Sebenarnya aku lagi nggak selera makan roti isi daging buatan mama itu, tapi daripada kena omel Mama jadi terpaksa ku makan. Apalagi kalau harus mendengar cerita Mama tentang kelaparan di Afrika sana, bisa-bisa aku terlambat sekolah.

“Ma, kita berangkat dulu ya.” Kata Papa sambil mencium kening Mama. Uh, bikin ngiri aja.

“Daaagghh, Mama. . .”kataku sambil menenteng sepatu All Star yang sudah buluk itu, untuk kupakai di dalam mobil nanti.

“Del, telat lagi? Kok baru nyampe sih jam segini?”tanya Mona. Mona adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki. Walaupun dari luar kelihatan tidak meyakinkan—mengingat Mona memakai kacamata dan selalu menenteng buku kemanapun dia pergi, namun dia bukanlah orang yang membosankan. Ya, walaupun kadang-kadang bisa sangat menyebalkan mengingat kelambatannya dalam menganalisa sesuatu atau lebih tepatnya berpikir.


“Nggak telat, kok. Nih, tepat waktu.” Kataku sambil menunjukkan jam Baby-Gku ke Mona, yang menunjukkan pukul 7.

“Sudah siap, Del?”kata Mona sambil mengeluarkan alat tulis dan selembar kertas.

“Siap apa?”

“Siap ulangan donk,”kata Mona santai. “Kalau lihat kamu sesantai ini, pasti sudah belajar ya?”

“HAH? Ulangan apa, Mon?”. GAWAT.

“Selamat pagi, anak-anak. Sudah siap ulangan hari ini? Sekarang siapkan alat tulis kalian dan selembar kertas ya. Seperti biasa jangan lupa tulis nama, nomer absen, dan kelas di pojok kiri atas. Ibu akan membagikan soalnya sekarang.”

Ulangan Matematika?? Kok bisa aku melupakan hal penting seperti ini? Semalam apa yang kulakukan? Dan kenapa Mona nggak mengingatkan kalau hari ini ada ulangan matematika. Gawat. Sudah jelas nilai merah ditangan.

“Nah, anak-anak, selamat mengerjakan. Jangan ribut, dan kerjakan sendiri-sendiri. Waktu kalian adalah 45 menit.”

Aku melihat kertas berisi soal-soal matematika itu, dan mencoba memahami. Tentukan turunan fungsi-fungsi berikut: f(x) = 99x – 10. Dan 9 soal lainnya adalah soal yang sama tentang turunan fungsi. Dan aku, thanks God, sama sekali nggak ngerti. Aku melirik Mona—sial, Mona pasti bisa, mengingat dia les privat matematika seminggu 3 kali. Dan keringatku terus mengalir. Detik demi detik, pulpen hi-tecku itu belum juga mengisi soal-soal sialan itu. Dan aku harus terpaksa putar otak, memikirkan kemungkinan dari jawaban-jawaban itu. Bermodal rumus matematika yang masih setia bermukim di otak, aku mencoba mengerjakan. Satu, dua, lima soal. Masih ada 5 soal lagi dan jam di tanganku sudah menunjukkan 15 menit lagi. Dan keringat dingin pun mengalir tanpa diminta. Dalam hati aku merutuki, kenapa harus ada pelajaran bernama matematika ini? Pelajaran dengan angka-angka yang rumit—menyiksa, dan hanya membuat kepala migran saja.

“Baiklah, anak-anak, waktu sudah habis. Silakan jawaban kalian dikumpulkan. Dan hasil ulangan ini akan ibu bagikan pada waktu pelajaran matematika lusa. Selamat pagi.” Kata Bu Tina meninggalkan kelas. Sebenarnya Bu Tina ini adalah guru yang baik—ya, setidaknya lebih baik dari Bu Angela yang genit itu. Tapi tetap saja tidak membuatku menyukai matematika.

“Mon, tadi bisa nggak ulangannya?”

“Ya, gitu deh.”

“Bisa nggak?”tanyaku ulang, berharap jawaban Mona lebih jelas.

“Nggak juga. Ada yang nggak bisa tadi.”

“Tapi yakin dapat nilai bagus kan?”

“Nggak tahu. Ya, semoga sih. Kenapa sih, Del, kok nanya terus? Kamu sendiri tadi bisa nggak?”

Dengan pasrah aku menggeleng. “Semalam aku nggak belajar, Mon. Aku lupa kalau hari ini ada ulangan. Lagian, semalam kenapa kamu nggak kasih tahu aku kalau ada ulangan matematika?”

“Del, bukannya semalam aku udah telpon ke rumahmu. Yang ngangkat telponnya Mas Capung, terus dia bilang kamu lagi belajar. Makanya aku titip pesan aja sama Mas Capung, biar disampaikan ke kamu. Ya, itu, cuma ngingetin kalau ada ulangan hari ini. Emang nggak disampein ya?”

Dasar Capung, semalam dia nggak bilang apa-apa tuh. Pasti lupa, atau malah sengaja. Awas ya, nanti di rumah. Sebel. Karena masih kesal akibat ulangan tadi, membuatku nggak bersemangat di pelajaran kedua dan ketiga. Bertambah kesalnya karena Mona nggak berhenti menggangguku dengan pertanyaan, “Del, kamu nggak papa? Kok cemberut? Ngambek ya? Laper? Tenang, Del, bentar lagi istirahat kok. Kita jajan bakso ya nanti.” Aduh, Mon, please deh.

Akhirnya bel sekolah yang aku tunggu-tunggu bunyi juga. Bel tanda istirahat. Dan itu artinya, saatnya ke kantin. Aku dan Mona—seperti biasa, menjadi yang pertama keluar dari kelas dan buru-buru menuju kantin, memesan bakso Pak Min dan semangkuk es campur.


“Mon, hari ini kamu yang traktir ya.” Kataku sambil menuangkan sambal dan saus tomat banyak-banyak ke mangkuk baksoku.

“Kok aku, Del? Bukannya sekarang giliranmu yang mentraktir?”

“Iya sih. Tapi hari ini aku lupa bawa uang, Mon. Jadi kamu aja, ya.”

“Hai, cewek-cewek. Boleh gabung?”suara cowok dari arah belakang dan menepuk bahuku dan Mona. KERAS.

“BONI!!” Teriak kami berdua.

“Mau donk, baksonya.” Kata Boni siap merebut bakso yang sudah hampir masuk ke mulutku.

“Pesan sendiri sana. Mona yang traktir kok.” Kataku langsung melahap bakso yang jadi inceran Boni itu.


“Bener, Mon? Pak, baksonya satu lagi ya!!”teriak Boni ke Pak Min.

“Eh, asal aja nih Fidel. Nanti kalau uangnya nggak cukup gimana? Aku kan cuma bawa uang sedikit hari ini.”

“NGUTAAANGG. . .”aku dan Boni serempak menjawab, mengingat kebiasaan kami yang suka nge-bon di kantin.

“Yeee. . . Emangnya kalian.” Kata Mona sambil berdiri dan mengeluarkan selembar uang 10 ribu dari dompet billabongnya. “Nih, aku baik kan. Besok gantian kalian yang bayar. Awas kalo nggak.”

Oh, hari ini benar-benar membosankan. Jam istirahat sudah habis, sekarang saatnya pelajaran bahasa inggris. Hari senin adalah hari dengan daftar pelajaran yang membosankan. Matematika, sejarah, bahasa inggris dan beberapa daftar pelajaran membosankan lainnya.

“Del, udah tahu belum hot news di sekolah kita?”

“Apaan? Bu Angela akhirnya nikah? Atau Daanish main sinetron?”

“Salah semua. Yang bener, ada murid pindahan dari Jakarta. Cakep lho, aku udah liat kemarin.”

“Cowok apa cewek?”

“Ya, cowok lah Del. Kalau cewek, ngapain aku cerita.”

“Kali aja. Cowok itu kelas berapa?”

“Kelas 11 juga. Sebelah kelas kita.”

“Sekelas sama Daanish donk. Wah, pasti jadi inceran Daanish and the gank.

“Iya. Tambah susah deh usaha kita buat mendapatkan cowok.”

“Kita? Emang si Melky mau ditaruh mana?”

“Oh iya ya. Hampir lupa sama si Honey Bunku.”

Dasar Mona, pacar sendiri lupa. Melky adalah pacar Mona. Tepatnya, pacar pertama. Melky anak kelas 10, dan itu artinya Mona pacaran sama adik kelas atau brondong. Aku dan Boni sering meledek Mona karena mau pacaran sama brondong. Tapi Mona selalu bangga, dan bilang, “Masih mending kan punya pacar daripada nggak punya?”. Sindiran yang halus mengingat sampai detik ini aku belum juga punya pacar.Entah kenapa belum ada satupun cowok-cowok di sekolahku yang berhasil memikat hatiku. Nggak ada yang seganteng Christian Sugiono, yang cool seperti Nicholas Saputra, atau minimal yang manis seperti DJ Winky. Cowok-cowok ganteng disekolah bisa dihitung pakai jari, dan sudah pasti mereka nggak mungkin melirik aku. Yang pasti mereka mengincar cewek cantik dan populer seperti Daanish. Uh, kalau semua cowok ganteng naksir Daanish itu artinya nggak akan ada cowok buatku. Dan aku bisa jadi selamanya menjomblo. Benar-benar kisah yang tragis.

“Mon, pulang sekolah ke Amplaz yuk. Nomat.”

“Aduh, hari ini nggak bisa, Del. Sori ya, aku harus jaga CADANZA, soalnya Mama nanti ada arisan. Bukannya Mamamu juga arisan nanti, Del?”

“Oiya. . Hari ini arisan Ibu-ibu “pejabat” ya? Yes, kalau gitu aku main ke tempatmu aja ya, Mon?”

“Hah? Arisan ibu-ibu pejabat? Maksudnya, Del?”

“Iya. Arisan Mamamu sama Mamaku tuh udah kayak arisannya ibu-ibu pejabat aja.

Ngumpulnya aja di café-café yang mahal, udah gitu pakai ada dress code segala lagi. Belum lagi uang arisannya 1 juta tiap orang. Buang-buang duit aja deh, Mama-mama kita.”

“Seru kali, Del. Kita bikin arisan juga, yuk. Tapi 50 ribu aja. Gimana?”

“Ogah.”

“Ah, Fidel. . .”

Bel sekolah tanda sekolah berakhir berbunyi. Akhirnya, it’s time to fun. Aku harus bersenang-senang setelah hari ini dipusingkan oleh matematika sialan itu dan pelajaran lainnya yang semuanya membosankan. Kenapa sih orang harus sekolah? Bangun pagi, berangkat jam 7 dan baru pulang siang harinya. Kenapa Mama nggak ngebolehin aku Home Schooling aja ya. Tapi kalau Home Schooling tetap ada matematika kan. Huh, itu sih sama aja. Cuma enaknya, kita nggak perlu bangun pagi untuk ke sekolah dan pakai seragam. Tapi nggak enaknya, nggak punya teman dan pasti nggak ada yang namanya jajan di kantin. Bagaimanapun, sekolah masih tetap menyenangkan daripada nggak sekolah.


“Del, jadi ketempatku nggak? Aku bawa motor sendiri nih.”

“Iya deh, aku ikut.”

“Eh, Del. Liat tuh di depan.” Kata Mona menunjuk ke arah gerbang sekolah.

“Apaan sih?”

“Itu tuh. Itu anak barunya.”

Dan mataku langsung tertuju pada sesosok pria bertubuh tinggi dan berkulit putih itu. Mirip Samuel Heckenbucker pemain sinetron itu. Ganteng.

“Cakep ya, Del?”

Aku masih terpesona dengan sosok cowok di depan gerbang sekolah itu. Akhirnya ada juga yang “bening” di sekolah. Seandainya. . .

“Del, nggak lagi melamun kan?”

“Ng. . . Nggaaakk. Eh siapa sih nama anak baru itu, Mon?

“Hmm, kalau nggak salah ada nama planetnya. Venus, Mars atau. . .” Mona mencoba mengingat-ingat. Payah. Bakal lama nih. “Ohya, kalau nggak salah Jupiter.”

“Namanya Jupiter? Wah, keren.” Nama yang unik.

“Del, jadi pulang bareng nggak?”

“Iya. Yuk. . .” Kataku semangat. Ah senangnya, sekarang sudah ada cowok yang bisa dijadikan obyek flirting, kataku dalam hati. Dan jangan sampai Daanish akan merebutnya dariku. Kali ini aku harus menang. Harus.


1st Chapter by: Yoan

Read More ......