Friday, April 4, 2008

SMP (Saya Mau Pulang)

-

Ke Jakarta Aku kan Kembali...
Hari ini adalah hari Rabu yang penuh kegundahan dalam hati gue. Hari terakhir gue akan bersekolah di SMP xxx (edited) di Jakarta Timur. Hari terakhir gue akan mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia dari Ibu Rukmiyah yang sangat royal. Namun, tidak dicintai siswanya. Ibu Rukmiyah royal dalam memberi ulangan tiap minggu. Entah bagaimana caranya, Ia tidak pernah kehabisan soal untuk ulangan. Tidak heran banyak siswa yang sering mengeluh sakit perut dan ijin ke ”belakang” ketika Ibu Rukmiyah mengajar. Tentunya mereka tidak kembali lagi ke dalam kelas. Mereka tersesat di dalam kantin. Di kantin hanya jual makanan, tidak ada peta. Mereka baru akan menemukan jalan keluar ketika bel pergantian pelajaran sudah berbunyi.

Ini pun hari terakhir gue bisa makan siomay dari kantin bang Asep, yang sering gue jadiin kreditur tempat ngutang. Dan hari ini pun gue masih tetep ngutang. Kasian bang Asep, dia engga tau kalo besok gue udah pindah ke Sukoharjo. Ikhlaskan semua hutang gue ya bang. Jangan nyantet gue dari kantin setelah gue pindah yah.

Banyak banget kenangan yang sudah terukir kuat dalam hati gue. Tempat ini, suasana ini, hawa udara ini, teman-teman di sini, tidak mudah untuk berpaling dari semuanya. Sebagian dalam hati gue, sudah tertambat di tempat ini.

‘TEEETTT......TEEEETTTT!!!....’
Bel sekolah sudah berdengung dengan maha agungnya, menggugah sebagian siswa yang sedang berkonsentrasi dalam pelajaran untuk segera merapikan buku di meja belajarnya, dan menggugah sebagian siswa lain untuk segera menyeka iler yang keluar karena tidur yang terlalu lelap. Bahkan ada sebagian lain yang membetulkan letak isi dalam celananya yang kelihatan menonjol. Entah mimpi indah macam apa yang mereka dapatkan tadi.

Semua mulai merapikan buku-buku pelajaran dan alat tulisnya. Gue juga segera merapikan meja belajar gue. Masukin buku pelajaran yang ditengahnya ada komik ’kariage kun’ ke dalam tas. Pelajaran yang gue dapet di sekolah kebanyakan bukan dari penjelasan guru atau buku pelajaran, tapi dari komik. Setiap buka buku pelajaran, pasti selalu terhalang komik yang nyempil tepat ditengah-tengahnya. Pantas, tingkat kecerdasan gue engga pernah bertambah sejak kelas tiga SD. Saat gue mulai bisa baca komik. Begitu semua barang sudah masuk ke dalam tas, gue sebagai ketua kelas harus menyiapkan teman-teman untuk memberi salam kepada Ibu Rukmiyah tercinta, supaya beliau segera pergi dari singgasananya di depan ruang kelas dan teman-teman bisa pulang.

”Siaap gerak...Berdoa mulai....Selesai.....Beri hormaat!!” Kata gue menyiapkan teman-teman.

”Selamat sore bu guruuuu....” Sahut seluruh kelas

”Hemm.” Jawab Ibu Rukmiyah dingin. Pantas saja hingga sekarang Ibu Rukmiyah belum menikah, padahal jika ditaksir, umur Ibu Rukmiyah sudah kepala empat, meskipun dia selalu mengaku masih perawan berumur dua puluh sembilan tahun. Perawannya bisa dipercaya, umur dua puluh sembilannya jelas penyesatan umat. Namun, semua kerut di wajah Ibu Rukmiyah tidak dapat lagi disembunyikan dengan baik oleh make-up tebal, 3 cm dari kulit, yang dipakainya. Make-up nya malah bikin Ibu Rukmiyah kayak aktor pantomim.

Entah, orang konyol dari mana yang membuat peraturan untuk melakukan kegiatan ”hormat” ini setiap hari. Bagian doanya siy engga apa-apa, tapi untuk perintah ”siap gerak” dan ”beri hormat” membuat kita serasa hidup dalam dunia militer. Yang begitu keluar kelas kita akan diberondong oleh senapan mesin dan para sniper handal. Mungkin mereka lupa, kompeni udah lama diusir dari bumi pertiwi.

Begitu Ibu Rukmiyah meninggalkan kelas, gue maju ke depan, tepat di depan papan tulis. Gue menghadap ke arah temen-temen yang udah siap pada mau kabur pulang. Gue mau bikin pengumuman terpenting dalam sejarah dan akan menggebrak mata dunia sebagai kejadian paling menghebohkan di abad ini. Berat banget rasanya mau bilang ini ke seluruh penduduk kelas. Lidah gue kelu.

”Temen-temen semua...Gue cuma mo bilang, hari ini gue terakhir sekolah di sini. Mulai besok, gue akan pergi, pindah sekolah ke Sukoharjo...Kalo misalnya...gue ada salah...Maapin yah...” Gue langsung diam seribu bahasa. Engga tau musti ngomong apalagi.

Gue tahu mereka bakalan sedih banget setelah gue engga ada. Mereka engga bakalan rela ngelepas kepergian gue begitu aja, khususnya para kaum hawa. Bukan, bukan karena mereka simpati apalagi naksir sama gue. Mereka inget kalo gue masih punya utang. Hampir satu kelas pernah gue utangin. Sampe-sampe gue bingung, gue utang ke siapa aja dan berapa jumlahnya.

”Hah? Lo mo pindah Ndra? beneran? kok engga bilang-bilang dari kemaren siy?” Kata Eni. Yang artinya ”Kenapa lo engga bilang dari kemaren, kan gue bisa nyiapin air comberan dulu buat nyiram lo”

”Serius niy lo mo pindah? Terus kita-kita gimana?” Kata visina. Yang artinya ”Terus, utang-utang lo ma kita-kita gimana?” (relakan ya non)

”Kita bakal kehilangan lo Ndra...baik-baik ya lo di sana.” Kata Mega. Yang artinya “Lo jangan balik-balik lagi ke sini ya”

Meskipun gue tahu betul isi hati mereka, paling engga, kata-kata manis mereka aja yang gue denger. Kata-kata mereka dimulut jauh terdengar lebih syahdu ketimbang jeritan hati mereka. Bahkan anak-anak cowok yang duduk di belakang udah pada mulai menitikkan air mata. Mereka coba sekuat tenaga untuk menampilkan kesan sedih. Sayang, mereka aktor yang buruk. Raut wajah memelas kayak orang puasa tujuh hari tujuh malam, tapi diiringi dengan bibir yang tersenyum penuh kemenangan. Menandakan betapa bahagianya mereka dapet kabar kepindahan gue. Mereka masih inget waktu gue sering ngisengin mereka. Naruh permen karet di kursi, ngelempar kertas ke kepala orang setelah diisi kapur batangan, nyembunyiin sepatu pas jam olahraga ke tong sampah, ngebuang rokok yang disembunyiin di toilet di ganti choki-choki, hidup gue betul-betul penuh warna keusilan. Gue bakalan kangen semua kelakuan gue disini. Mereka yang engga.

Setelah pengumuman yang begitu menggemparkan dunia itu, gue balik ke bangku gue. Gue duduk dan diam membisu. Temen-temen yang lain mulai antri. Mereka nyalamin gue satu persatu. Kayak pas hari Lebaran. Bedanya, gue engga ngasih THR. Mereka ngucapin selamat jalan. Satu demi satu mereka mulai meninggalkan ruangan kelas. Meninggalkan gue yang duduk sendiri. Begitu mereka hilang dari pandangan, sayup-sayup terdengar suara ”Horee!!” atau ”Yesss!!” Ah, mereka memang teman-teman yang berhati besar. Meski sedih karena kehilangan gue, mereka masih bisa menghibur diri mereka sendiri. Setidaknya, itulah yang gue ingin mereka untuk lakukan.

Eni, Visina, Mega, dan Anjar mulai mendekati gue. Mereka adalah sahabat-sahabat gue dari jaman bau kencur di SD. Sekarang mulai bau asem. Kita masih satu sekolah di SMP dan sekelas pula. Kita saling jabat tangan dan berpelukan, untuk menandakan rasa akan kehilangan. Tentunya gue cuma berpelukan sama Anjar. Dia cowok satu-satunya diantara mereka. Pasti yang liat adegan pelukan mesra ini bakalan ngira kalo gue udah berubah haluan jadi hombreng (baca: homo). Sebetulnya gue engga mau. Akika juga filih-filih loh bo kalo jadi hombreng, benci deh. Tapi Anjar begitu bernafsu, sambil terisak-isak langsung meluk gue. Sial. Dia sekalian meper ingus nya yang engga sembuh-sembuh dari lahir. Tapi...jangan sambil pegang-pegang pantat gue donk. Tobatlah kau Jar. Carilah pasangan homo lainnya setelah kepergian gue yah. Eni, Visina, dan Mega cuma memberi jabat tangan dan sekedar cipika-cipiki, soalnya pas gue baru ambil ancang-ancang mau meluk mereka, mereka sudah mengepalkan tangan untuk tanda penolakan. “Gue tonjok lo kalo sampe meluk gue.” Begitulah kira-kira arti kepalan tangan maut para anggota Charlie Susah (baca : Angel) ini. Tampaknya mereka engga mau ketularan virus ganteng dari gue. Karena gue jauh dari kesan itu.

Di luar kelas sudah gelap. Gue memang masuk kelas siang. Jadi kalo jam pulang sekolah, hari sudah mulai malam. Bareng dengan empat anak imbisil tadi, gue mulai beranjak meninggalkan kelas. Setelah sampai di gerbang sekolah, kita semua berpisah. Arah pulang ke rumah kita berlainan. Mereka mulai berjalan setelah mengucapkan ”Pokoknya Elo kudu maen-maen ke sini lagi” dan ”Sekalian buat bayar utang lo.”

Gue sendiri, masih tetap berdiri memandang sekeliling gue. Gue lihat ke arah gedung sekolah, bangunan tua yang tiap hari selalu gue datangi dengan rasa malas ini sudah menyimpan banyak kenangan. Tempat yang engga gue sangka kalo gue akan merindukannya. Gue beralih melihat ke arah temen-temen gue yang berjalan menjauh. Rasanya seperti mimpi jika besok gue sudah engga akan bisa bertemu mereka lagi. Padahal selama enam tahun terakhir ini, gue selalu bertemu mereka setiap hari. Setelah bayang semua temen gue hilang dalam kegelapan, gue baru mulai melangkah meninggalkan sekolah. Jalan sendirian diheningnya malam. Suasana yang gelap, angin yang berhembus semilir, terbesit semua kenangan yang sudah gue laluin di sini. Semua semakin menambah haru biru di hati gue.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Akhirnya hari itu tiba. Hari dimana gue harus didepak keluar dari Ibu nya kota. Begadang semalaman memang engga baik buat kesehatan. Tapi itu bukan alasan kenapa gue sampai sekarang belum bangun dari karpet tempat gue tidur semalam. Karpet menjadi pilihan tempat tidur terbaik setelah semua barang diangkut truk menuju Sukoharjo, ketimbang harus tidur di bathtub. Gue masih pengen lama-lama tidur di karpet. Semakin lama gue bangun, itu berarti semakin lama gue berada di Jakarta. Pengennya gue tiduran sampe setahun lagi, tapi takut keburu dikubur duluan.

”Hendraaaa...bangun!!! Entar engga keburu sama keretanya lho.” Teriakan nyokap mulai menggema. Tapi gue masih males-malesan mau bangun. Kecuali rencana pindahnya dibatalin.

”Mandi sana draaa...!!” Nyokap mulai menunjukkan tanda-tanda ngamuk kayak kalo dapet haid hari pertama. Tapi gue tetep kekeh mau tiduran aja meskipun cuma lima menit lebih lama.

PLAAAKK!!!
”WADOOOH...?!!” Gue teriak tanda protes. Gue langsung bangun dari tempat gue tiduran. Kepala gue yang berisi penuh ide-ide penuntutan kenaikan uang jajan ini dicium gagang sapu. Gue cuma bisa megangin kepala gue yang kayaknya bakalan benjol. Ternyata yang memulai gara-gara adalah makhluk hitam tanpa bulu, kakak ‘cowok’ gue. Gue heran, kenapa bisa punya kakak kayak dia, padahal dikeluarga gue engga ada yang berkulit hitam legam. Dan, dia satu-satunya makhluk yang memiliki pori-pori tersumbat, buktinya dia sama sekali engga punya bulu kaki apalagi bulu dada. Kakinya lebih mulus dari tante-tante ganjen yang tiap minggu ke salon. Cuma dikemas dalam kulit gelap. Tidak menarik untuk dilihat. Mungkin waktu lahir, dia jatuh ke aspal panas lantaran keburu lahir duluan waktu nyokap diangkut becak. Itu alasan gue panggil dia Dakocan.

”Mandi sana!!” Teriak Dakocan

”Iya-iya, berisik ne.” Jawab gue sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi sambil megang kepala gue yang masih kerasa sakit.

Di kamar mandi, gue nikmatin setiap tetes air yang melewati badan gue. Gue lihat semua sudut kamar mandi tanpa terlewat se-inchi pun. Mungkin suatu saat nanti engga bisa gue lihat lagi. Gue jadi inget, dulu waktu dihukum nyokap lantaran main sampe kemaleman, gue dikurung di kamar mandi. Tapi yang ada, gue malah mainan air, dan ngehabisin shampo nyokap yang baru aja dibeli paginya. Walhasil, karena keputusannya yang salah udah ngurung gue di kamar mandi, nyokap malah kudu nyikat kamar mandi buat ngebersihin kelakuan gue, lantaran kamar mandi jadi bau shampo dan lengket semua. Gue jadi senyum-senyum sendiri inget kelakuan jaman Tk dulu. Dan hari itu, jadi hari mandi paling lama dalam hidup gue.

“CEPETAAAANNN!!!” Upss, dakocan mulai darah tinggi. Gue kudu cepet-cepet nyelesein mandi, sebelum pintunya didobrak makhluk hitam rabies.

Selesai mandi, perut gue mulai terasa keroncongan. Cacing-cacing dalam tubuh gue pasti udah pada demo menuntut jatah hariannya. Nyokap sama dakocan udah sarapan duluan. Pakai makanan sisa semalem, dan engga ada sisanya lagi. Padahal menurut pengakuan nyokap, udah disiapin pas buat tiga porsi sarapan. Pasti itu kelakuan tak berkepri-adik-an dari si dakocan yang ngehabisin jatah makan gue juga. Gue nunggu ketroprak lewat aja. Makanan khas Jakarta yang mungkin engga bakalan gue makan lagi di tanah Jawa.

Teng...Teng...Teng...!!!
Wah itu dia bunyi khas orang jualan ketoprak. Bunyi perpaduan harmonisasi antara sendok dengan piring menggunakan nada dasar C = sol dan irama 4/4 = 1. Mudah untuk mengenalinya. Bagi yang tidak tuna rungu. Ternyata yang lewat adalah bang Amat. Langganan gue makan di portal depan komplek kalo berangkat sekolah.

”Bang Amat...ketoprak nya satu donk...kayak biasa ya”

”Loh, kagak sekolah lo Ndra, bolos ya?” tanya bang amat

”Enggalah bang, ni mo pindahan, ke Jawa tengah, bis sarapan berangkat”

”Kebetulan dong...”sahut bang Amat

”Kebetulan kenapa bang?”

”Entar bayarnya sekalian sama hutang lo minggu kemaren ya”

Gue jadi pengen makan bubur ayam aja.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Dengan naik kendaraan umum, gue, dakocan, sama nyokap pergi ke stasiun. Bokap udah berangkat ke Sukoharjo duluan kemarin, bareng sama truk yang ngangkut barang-barang dari rumah. Bokap didaulat jadi pengawal barang-barang supaya sampai tempat tujuan dengan selamat. Kumis bokap yang tebel pasti bisa buat nakut-nakutin sopir truknya.

Lama banget nunggu keretanya datang, detik berubah menjadi menit, kereta belum tampak. Menit berubah menjadi jam, kereta nya masih sarapan kali. Kereta yang telat datang, selalu setia ditunggu oleh penumpangnya, coba kalo penumpangnya yang telat, pasti keretanya langsung ngeloyor main pergi aja. Engga Sopan. Gue coba menunggu dengan sabar sambil baca komik. Kali ini komiknya ’Kotaro’. Gue banyak belajar cara iseng yang baik dan benar dari komik ini. Akhirnya, setengah jam berikutnya keretanya sudah datang. Untung deh. Jadi kita engga perlu nginep di stasiun. Gue masukin komik gue kedalem tas yang gue bawa. Gue berdiri dari tempat gue duduk. Pas gue lihat ke arah keretanya, gue lihat si Dakocan udah siap-siap naik kereta. Dia ada di depan pintu kereta sambil bawa kardus ditangan. Loh?! Ngapain tu anak?! Gue heran. Kenapa dia ninggalin gue sama nyokap masuk kereta duluan. Emang dia tau apa tempat duduknya yang mana?

”Bu, mas Sanjaya udah mau naik kereta tuh.” Si dakocan ini nama aslinya Sanjaya. Nama yang terlalu bagus memang, jika dilihat dari fisiknya. Gue narik-narik tangan nyokap gue. Gue heran kenapa nyokap nyantai aja, ngebiarin si Dakocan masuk kereta sendirian. Mungkin nyokap pengen menghilangkan aib wajah jelek dalam tradisi keluarga yang dibawa kakak gue.

Gue tarik terus tangan nyokap gue. Tapi nyokap engga bergeming sama sekali. Gue lihat si Dakocan mulai naik ke kereta. Gue makin keras narik tangan nyokap gue. Tapi tetep aja, nyokap engga beranjak selangkahpun. Gue mulai ngerasa iba sama Dakocan. Dia bakal menempuh perjalanan panjang sendirian tanpa dia sadari. Gue lihat Dakocan dikelilingi orang-orang yang berjubel di depan pintu kereta buat bisa masuk ke dalam. Setelah gue amati lagi, diantara jubelan manusia itu, ada nyokap gue. HAAAHH??? Terus, tangan yang gue tarik dari tadi ini siapa? Penuh ketakutan, was-was, dan keringat dingin membanjir, gue lihat ke belakang, ke arah tangan yang semenjak tadi gue tarik terus. Tampak tante-tante berpostur super subur dengan wajah yang kebingungan memandang ke arah gue. TIDAAAKK!!! Kalau misalnya nanti dia nanya “Kamu kenapa nak? ngapain narik-narik tangan tante?” Gue bakal jawab ”Emm...latihan tarik tambang tante.“

Gue langsung ngelepas tangan si tante yang dari tadi gue tarik-tarik. Pantes dia engga bergerak selangkahpun meski udah gue tarik sekuat tenaga. Badannya aja segede pemain sumo yang ke sentup tawon, sedangkan gue, kayak Aming yang kelindes bus. Gue mulai lari sekenceng-kencengnya ke arah nyokap. Jangan sampe gue ketinggal, terus jadi anak jalanan baru di Jakarta. Jakarta udah engga terima anak jalanan baru. Kolong jembatan udah penuh. Gue lari sekuatnya, sampe nubruk nyokap.

“Loh, kamu bukannya tadi di depan sama mas Sanjaya?”

Yap!! Nyokap ternyata udah lupa sama keberadaan gue. Kalo nyokap aja lupa sama gue, apalagi si Dakocan. Kalaupun dia inget, Dakocan bakalan milih buat pura-pura lupa.

Dengan diiringi deru suara kereta api yang mulai berjalan perlahan, gue mulai bergerak meninggalkan kota Jakarta. Menuju kota baru di sebuah tempat bernama Sukoharjo di Jawa Tengah. Gue cuma bisa terdiam, meninggalkan semua kenangan dan mimpi indah yang pernah terjadi. Kadang gue berharap jika semua ini hanya mimpi semata. Begitu gue buka mata, semua masih berjalan seperti biasanya, bermain dengan teman yang sama, pergi ke sekolah yang sama, pulang ke rumah yang sama. Tapi yang terjadi sekarang, semua begitu nyata. Gue akan meninggalkan kota Jakarta untuk waktu yang tidak menentu. Tapi, suatu saat gue bakal balik ke sini. Entah kapan. Pasti. Janji gue dalam hati.

1st Chapter by "Mr. Nice Guyy Am I"

Read More ......

Love Tragedy of A Beauty Berlian

-

CHAPTER I


Suasana di Kota Metropolitan sangat cerah. Matahari bersinar terik dan udara hangat berhembus dari jendela ke jendela. Hari ini adalah Hari Minggu di Bulan Juni.

Saat ini, didalam sebuah rumah bergaya klasik yang terletak di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, tepatnya didalam sebuah kamar yang terletak di lantai dua, Berlian, seorang gadis belia berwajah cantik dengan paras yang kebule-bulean ini sedang asyik berbicara di telefon dengan Chery, sahabat karibnya. Jam dinding yang bertengger di dinding berlapis warna merah muda sudah menunjukkan pukul 9.45 pagi dan Berli, sapaan akrab Berlian, masih bermalas-malasan diatas ranjangnya. Keadaan kamar Berli pun saat itu lebih berantakan daripada kepingan pesawat Adam Air yang jatuh, namun keadaan yang seperti itu tak kerap membuat hati Berli tergerak untuk merapikannya. Dia terlalu lelah melihatnya apalagi membereskannya. Majalah-majalah fashion berserakan diatas karpet bulu berwarna ungu dan bergulat dengan CD-CD love song-nya. Sekedar catatan saja, Berli ini termasuk orang yang girly banget, sensitif dan romantis, jadi tidak heran kalau koleksi Cdnya kebanyakn lagu-lagu yang bisa bikin dia nangis bombay.

Kini, Berli beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju sofa abu-abu yang terletak dekat jendela kamarnya. Ia pun duduk disitu seraya terus bercakap-cakap dengan Chery ssambil memintal-mintal rambutnya yang hitam sepunggung dengan jari telunjuknya.

”Duuuh..Gue BT banget nih,Cher!!” keluh Berli mengadu kepada Chery sambil mengacak-acak rambutnya. Bibir merahnya cemberut dan dahinya menegernyit.

”Emang kenapa,Ber? Baru semalem lo nge-date sama Gio,eh sekarang udah BT lagi. Gimana sih?” tanggap Chery dari ujung sana. Sergio atau cowok yang akrab disapa Gio ini adalah seseorang yang sudah dua tahun belakangan ini mengisi hari-hari Berli. Gio yang tak lain kakak kelas Berli di Paschool (Pasadena International School), tempat mereka menimba ilmu sama-sama dari Senin sampai Jumat. Gio merupakan seorang pemuda yang cuek, dikenal juga sebagai kapten tim basket Paschool dan sudah hampir tiga tahun dipercaya untuk menjabat posisi ketua OSIS karena otaknya yang encer. Hal ini tentu saja membuat cewek-cewek Paschool pada iri sama Berli, terlebih lagi Tasya,kakak kelas Berli yang juga teman satu kelas Gio.

”Yaah BT aja!!” lanjut Berli manyun.

”Tapi kan ada alesannya,Ber..Cerita dong sama gue. Eh,tapi semalem bukannya lo ngerayain dua tahun jadian lo sama Gio?” tanya Chery heran.

”Iya, tapi tetep aja gue BT!” jawab Berli, ”Cher, lo tau kan gimana gue sayangnya sama Gio?”

”Iya gue tau, terus kenapa?” Emang semalem kencan lo gagal ya,Ber?” selidik Chery ingin tahu.

“Ngga,Cher. Malah semalem tuh Gio romantis banget, dia ngasih cincin emas putih buat gue,Cher.” Cerita Berli.

“Oh ya?? Terus?? Kenapa lo BT??” protes Chery.

“Gimana gue ngga BT?! Selama gue jadian sama Gio, dia ngga pernah bilang sayang ke gue,Cher!! Bahkan semalem pun pas dia ngasih cincin ke gue, dia Cuma bilang ’Beib,aku cuma bisa kasih ini ke kamu,semoga kamu suka ya’, gitu doank,Cher!!” seru Berli.

”Aduh,Berli...Gio kasih cincin itu ke lo karena dia sayang sama lo, jadi ngga masuk akal kalo lo BT gara-gara Gio ngga pernah bilang sayang ke lo!!” jelas Chery.

”Tapi selama gue jadian sama dia,baru satu kali dia bilang sayang ke gue,Cher, itu pun waktu dia nembak gue!!” umbar Berli sedih.

” Ber,kalo kita sayang sama orang, kita ngga harus selalu bilang sayang ke orang itu kan? Contohnya Gio, mungkin cara dia nunjukkin sayang ke lo ya dengan cara kasih cincin itu.” terang Chery meyakinkan sahabatnya yang sedang gelisah itu.

”Gue ngga perlu cincin,Cher, selama dua tahun gue nunggu Gio bilang sayang ke gue tapi sekalipun ngga pernah dia lakuin” adu Berli kepada Chery.

”Hh..” Chery menghela nafas,”Lo sendiri seberapa sering sih bilang sayang ke Gio?” Chery balas tanya.

”Ya ampun,Cher..All the time!! Setiap kita ketemu,setiap kita telefon atau SMSan, gue pasti selalu bilang kalo gue sayang banget sama dia! Tapi lo tau dia jawab apa? ’Iya,aku tau’!! Gue capek,Cher!!” erang Berli yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Gio.

”Ya udah..Ya udah..Lo tenang ya, saran gue mendingan lo omongin masalah ini ke Gio,Ber. Biarpun menurut gue itu masalah sepele tapi gue ngrti kok perasaan lo gimana” tanggap Chery.

”Tapi gue takut Gio ngerasa gue kayak anak kecil,Cher..Gue ngga mau nanti kita malah jadi ribut hanya gara-gara masalah ini. Lo tau kan gue sayang banget sama Gio,Cher..” ulang Berli sambil memindahkan wireless phone-nya ke telinga kirinya.

”Iya iya..Tapi masa Gio ngerasa gitu sih? Ngga mungkin lah, sebagai cowok mestinya dia ngertiin lo dong,Ber” sahut Chery.

”Hh..” Berli menarik nafas panjang . Matanya menerawang jauh keluar jendela,”Entar deh gue coba” lanjutnya.

”Udahlah,Ber..Ngga usah terlalu dipikirin ya, semua orang juga tau kalo Gio tuh juga sayang banget sama lo” hibur Chery yang masih terus meladeni Berli.

”Ternyata kata sayang itu mahal ya,Cher..” ujar Berli lirih.

”Mahal sih mahal, tapi emang cowok lo aja yang jual mahal!!” protes Chery lagi.

”Hehehe..”Berli terkekeh,”Sok tau lo!!” sangkalnya.

” Nah gitu donk ketawa..Daritadi kek!!” celoteh Chery yang sedikit ikut terkekeh.

”Eh,siapa tuh??” seru Berli pelan sambil memandang ke bawah seberang rumahnya. Tangan kirinya masih menahan telefon di telinganya, sedangkan tangan kanannya sibuk menyibakkan tirai jendelanya agar pandangan matanya lebih jelas.

”Ada apa,Ber??” tanya Chery penasaran.

”Lo tau kan rumah yang didepan rumah gue itu kosong?” Berli balas tanya tanpa melepaskan pandangannya.

”Iya, emang kenapa?” jawab Chery.

”Kayaknya sekarang ada tetangga baru yang nempatin rumah itu deh, nih gue lagi liatin cowok yang lagi nyuci mobil di depan rumah itu. Mentang-mentang mobilnya Jaguar,nyucinya sok-sok didepan rumah. Emang tuh orang ngga mampu bayar car wash apa??” seru Berli mengernyitkan dahinya.

”Serius lo??” tembak Chery tambah penasaran.

“Dua rius!!” sahut Berli sambil memicingkan matanya agar cowok itu lebih terlihat rupanya,”Gila!! Baru kali ini gue liat orang nyuci Jaguar ceroboh banget!!”

”Eh,cowoknya kayak gimana,Ber??” Chery bertanya dengan nada tidak sabar.

”Yang pasti dia tinggi banget,Cher,rambuatnya cepak berantakan gitu deh, kayaknya orangnya putih, dari sini keliatan agak bule gitu” ujar Berlli menggambarkan sosok cowok itu kepada Chery.

”Terus?Terus??” Chery tidak puas.

“Terus apa lagi ya?Dia Cuma pake celana pendek warna hitam sama kaos kutang,hehehe…” tambah Berli terkekeh lagi.

”Terus??” Sambung Chery.

”Udah ah!!” selak Berli,”Rasanya gue udah kaya Berli Si Tukang Intip!!” Berli memalingkan wajahnya.

”Yaaah Berli!! Ngga asik lo ah!!” protes Chery,”Masa segitu doank??Ayo donk,Ber,liat lagi..Please!!” mohon Chery penasaran.

“Cheryyy…Kan tadi gue udah kasih cirri-cirinya!!” sergah Berli yang kini sudah berpaling.

”Masa segitu doank??” ulang Chery cemberut,”Cepetan liat lagi,Ber!!” pintanya.

”Hh..”Berli memutar bola matanya dengan kesal lalu menyibakkan kembali tirai jendelanya untuk meliahat Si Bule tadi.

”Apa yang lo liat??” serbu Chery ingin tahu segera.

”Sabar dong,Mbak!!” sahut Berli seraya mencari-cari sasarannya itu,”Yaaah pokoknya body-nya oke lah, otot tangannya pada nonjol-nonjol gitu,Cher,hahaha...”
”Oups..I love it!!” desah Chery sedikit bitchy,” Terus?? Eh,kira-kira umurnya berapa,Ber??”

”Paling seumuran sama Gio...Oh,shit!!” Tiba-tiba Berli teringat Gio.

”Kenapa lo??” tanya Chery.

”Gio,Cher..Kalo gue ngeliatin cowok lain sampe kayak gini kan sama aja gue selingkuh kecil.” jawab Berli panik,”Aduh mampus gue..Pasti nanti gue kena karma nih,Cher!!”

”Gokil!! Ya ngga lah!! Lo naif banget sih,Ber?? Emangnya lo tau apa yang dilakuin Gio dibelakang lo? Ngga kan? Ya udah nyantai aja kali,Ber..Lanjut dong!!” kata Chery bawel, Berli pun menurut dan kembali menatap sang arjuna baru dari balik jendela kamarnya.

”Hh....Cowok itu udah ngga ada,Cher.” Ucap Berli sambil terus mencari-cari.

”Yaaah...Gara-gara lo sih,Ber!!” gerutu Chery kecewa.

”Yeee kok jadi gue yang disalahin?!” Berli cemberut seperti kebiasaannya. Tak lama kemudian cowok itu muncul dari samping mobilnya,”Eh itu itu itu dia muncul lagi,Cher!! Ternyata dia abis bersihin roda belakang mobilnya!! Hahahaha..” Berli tertawa senang karena berhasil menemukan pemandangan indah itu kembali.

”Sekarang dia lagi ngapain,Ber??” tanya Chery yang tak ada bosan-bosannya.

”Dia lagi berdiri aja sambil ngeliatin mobilnya,kayaknya gebetan lo itu kecapean deh,Cher,hehehe...” Jawab Berli menebak.

”Ouuh..Kaciaaan...” desah Chery lagi. Mereka berdua cekikikan.

”Aduh!!” sergah Berli terkejut saat cowok itu membuka kaos kutangnya lalu menggunakannya untuk mengelap atap mobilnya.

”Berli, lo kenapa?? Dia ngapain,Ber??” tandas Chery.

”Oh God..!!” Berli balas menyeru lalu menutup tirai tipis jendelanya,”Haaa gilaaaaa,paraaaah...” celotehnya.

”Dia ngapain??” ulang Chery tak ada habisnya.

“Tadi dia buka kaosnya,Cher!!” sahut Berli gugup.

”Terus??” dorong Chery.

”Teruus...Teruus...Dia pake kaos itu buat ngelap atap mobilnya. Gila,Cher..Perutnya mirip papan penggilas pakaian!! Sixpacks abis!!” erang Berli liar.

”Huahahahaha!!!” tawa Chery meledak. ”Aduh,gue mau liat,Beeeer!!”

“Hh..Sumpah,gue ngga mau liat lagi,Cher!!” timpa Berli kapok.

“Ber,kira-kira namanya siapa ya?” tukas Chery sambil terkekeh licik.

”Jangan mulai deh!! Jangan macem-macem ya,Cher!! Kalo lo mau tau namanya silakan kenalan sendiri sama tuh cowok. Pokoknya gue ngga mau main api sama Gio!!” tanggap Berli sudah lelah.

”Ya Tuhan,Ber..Apa salahnya sih kenalan doank?Ngga nyampe lima menit kalee..” protes Chery.

”Pokoknya NGGA!! Ngga ngga ngga!!” pinta Berli.

”Ih Berli jahat,ngga sayang sahabat!!” gumam Chery.

”Halah halah..Udah diem lo,ngga usah komentar lagi. Lagian gebetan lo dimana-mana,masa belom puas juga!!” ejek Berli yang yakin sekali kalau sekarang Chery pasti lagi cemberut.

”Hehehe..” Chery cekikikan genit.

”Tuh kan ketawa!! Dasar centil!!” ulang Berli.

”Tapi lo juga suka kan,Ber??” pancing Chery.

”Heh!! Gue udah punya Gio ya, jadi gue ngga akan genit sama cowok lain lagi!!” bantah Berli.

”Yakiiiin...?” goda Chery menahan tawanya.

”Lo jangan pancing-pancing gue deh,Cher!!” tindas Berli kesal.

“Hahahaha…” Chery terbahak-bahak.

“Setan lo!!” pekik Berli. Tiba-tiba Berli terkejut saat melihat cowok tadi kini sedang menengadah keatas dan balik menatapnya, “Mampus gue!!” lanjutnya.

”Kenapa,Ber?” tanya Chery.

”Mampus!! Gue ke-gap,Cher!!” seru Berli sambil bersembunyi di balik tirai jendelanya.

”Ke-gap sama siapa?” Chery bingung.

”Ya sama tuh cowok lah,Dasar Lemot!!” Berli mencoba menenangkan dirinya yang gemetar.

”Huaahahahaha...” Chery kembali terbahak-bahak, ”Ketauan ya,Ber, ternta dariadi lo masih ngeliatin dia!! Berli.. Berli..Kalo suka ya bilang aja!!” canda Chery ,masih terus tertawa.

”Gila lo!!” sergah Berli, ”Udah ah,gue mau turun dulu. Entar gue telfon lo lagi deh. Jantung gue masih deg-degan nih,Cher!!Hh..” Berli menutup matanya sejenak untuk menenangkan perasaannya.

”Hehehe...Ya udah sana tenangin diri lo dulu,kasian banget sih sahabat gue yang satu ini!!” ledek Chery tersenyum simpul.

”Huhuhu..Ya udah deh,thanks ya,Cher!!” ujar Berli menutup percakapan.

“Bye,Beib!!” Berli dan Chery saling menutup telefonnya. Berli pun beranjak dari sofa abu-abunya kemudian bergegas keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.

Di ruang tamu, Gadis, kakak sepupu kesayangan Berli sedang duduk di sofa besar berwarna cokelat yang terbuat dari kulit sambil membolak-balik lembaran majalah Cosmopolitan. Berli tersenyum senang melihat kakak sepupunya berada dirumahnya.

”Gadiiiiis...” panggil Berli manja seraya berjalan ke arah Gadis yang menoleh. Dimata Berli, Gadis memang seorang gadis yang cantik bertubuh semampai, rambutnya hitam panjang, matanya indah berpadu dengan alis yang tebal dan ia juga sangat penyayang. Perbedaan usia antara Berli dengan Gadis pun tak terlalu jauh, hanya beda dua tahun. Namun satu hal yang membuat Berli salut pada Gadis adalah kenyataan bahwa Gadis telah berhasil memboyong beasiswa dari sekolahnya dulu, sehingga kini ia tercatat sebagai mahasiswi perhuruan tinggi negeri di bilangan Depok.

”Hey,Ber..” sahut Gadis membalas senyuman adik sepupunya itu, ”Baru bangun ya? Gue kira lo pergi,Ber,.,” lanjut Gadis yang melihat Berli masih terkurung dalam baju tidur bergambar Betty Boop-nya.

”Hh...” Berli memberi Gadis sebuah pelukan hangat, ”Iya gue baru bangun,Dis,belom ada rencana mau pergi kemana hari ini” ucap Berli yang kemudian duduk disebelah Gadis yang memakai setelan celana jeans dan tank top hitam.

”Ya udah diem dirumah aja,Ber..Secara lo kan weekend selalu keluyuran ngga jelas” ucap Gadis menatap Berli yang lagi ikutan membaca sebuah artikel di majalah yang sedang dipegangnya.

”Iya nih,lagipula gue juga mau curhat kok sama lo,Dis” tanggap Berli.

”Curhat apa lagi sih,Ber?” tanya Gadis yang sudah hafal diluar kepala kalau topik yang akan dicurhatkan oleh Berli pasti tak lain tentang cowok.

”Gio...” jawab Berli datar.

”Kenapa lagi sama Gio?” tegur Gadis yang memang cukup banyak dengar keluhan Berli te ntang Gio, ”Bukannya kalian baru dua tahunan?”

”Iya,tapi lama-lama gue aneh deh sama Gio,Dis..” ujar Berli tanpa ekspresi, ”Lo tau ngga? Selama dua tahun gue jadian sama dia, sekalipun dia ngga pernah bilang sayang sama gue,Dis, kecuali pas waktu dia nembak gue”

”Bilang sayang itu kan bukan suatu keharusan,Ber..” terang Gadis tanpa bermaksud membela Gio.

”Tapi menurut gue itu penting,Dis..” bantah Berli. Gadis hanya menggeleng pelan.

”Pentingnya dimana? Sekarang gini deh, lo lebih pilih mana? Gio bilang sayang ke lo ribuan kali padahal dibelakang lo dia ngeduain lo, atau dia ngga pernah bilang sayang ke lo seperti yang lo bilang tadi tapi dia selalu jaga kesetiannya sama lo?” jelas Gadis mulai menganalisa.

”Ya mendingan ngga pernah bilang sayang tapi setia,Dis,tapi aneh aja ada di posisi gue sekarang” sangkal Berli manyun.

”Ber..Kata sayang itu ngga menjamin kelakuan seseorang, yang penting selama dua tahun ini lo happy kan sama Gio?” tuding Gadis tanpa menghakimi adik sepupunya itu.
Iya sih..Tapi jujur ya,Dis..Sebenernya belakangan ini gue juga mulai ngerasa aneh sama kelakuan Gio” umbar Berli.

”Aneh gimana?” tanya Gadis tak mengerti.

”Gio tuh sekarang beda,Dis..Udah hampir seminggu dia ngga pernah main kesini,apalagi kalo ada Bevan” jawab Berli bercerita. Bevan adalah adik laki-laki Berli yang berusia 13 tahun, ia masih duduk di kelas 7 dan bersekolah di Paschool juga.

”Hah? Bevan? Apa hubungannya Bevan sama Gio,Ber?” tukas Gadis bingung, ”Bukannya mereka akrab?”

”Gue juga ngga ngerti,Dis..Terakhir mereka ketemu pun Bevan cuek banget sama Gio” jelas Berli mengernyit.

”Namanya juga anak kecil,Ber,masih suka berubah-ubah sikapnya kan?” selak Gadis berusaha untuk tetap netral.

”Mungkin” jawab Berli datar, ”Oh iya,Dis..Lo tau ngga ada tetangga baru didepan rumah?” Berli mulai membuka percakapan dengan menari info tentang si arjuna.

”Oh tau..” sahut Gadis yang belum selesai bicara sudah dipotong oleh Berli.

”Namanya siapa,Dis??” tembak Berli.

”Aduh!! Makanya dengerin gue dulu dong,Ber..” protes Gadis, ”Gue emang tau ada tetangga baru yang nempatin rumah depan tapi gue ngga tau mereka siapa, apalagi namanya.” lanjutnya.

”Oooh..” Berli menunduk, ” Gue kira lo tau, Dis..”

”Kenapa ngga kenalan aja? Pasti lo lagi ngincar cowok yang tadi nyuci mobil Jaguar kan?” tebak Gadis menyeringai.

”Idih!! Enak aja!! Bukan gue yang ngincer dia,Dis, tapi Chery!!” Berli ngeles sambil tersipu malu.

”Oooh Chery..Kirain Berliiii..Hehehehe...” goda Gadis tertawa pelan melihat Berli yang salah tingkah.

”Sumpah,Dis..Daritadi tuh gue telfon-telfonan sama Chery, dia penasaran banget sama tuh cowok” tegas Berli cemberut, entah untuk yang ke berapa kali.

”Hehehe...Emang ganteng ya,Ber?” pancing Gadis ingin tahu.

”Mm....” Berli pura-pura berpikir keras, ”Ganteng ngga ya??”

”Halah halah! Ngga usah jaim deh lo!! Ganteng ngga,Ber?” ulang Gadis yang kini mulai penasaran dengan sosok tetangga baru itu.

”Ih Gadis!! Mana gue tau dia ganteng atau ngga? Gue kan belom pernah ketemu dia face to face,Dis!!” sangkal Berli untuk kedua kalinya.

“Emangnya gue ngga tau daritadi lo ngeliatin dia lagi cuci mobil dari jendela??Hh..” selak Gadis memaksa Berli untuk mengaku.

”Hahaaha sok tau lo,Dis!!” Berli tertawa dengan pipi yang merona merah karena menahan malu.

”Udah jujur aja sama gue,tuh cowok ganteng ngga,Ber?” dorong Gadis, ”Tadi sih gue sempat liat sekilas, kayaknya dia agak-agak bule gitu,Ber..” tambahnya.

”Iya emang agak bule-bule gitu tampangnya,Dis,body-nya juga oke,tangan sama perutnya berotot gitu” celoteh Berli tidak sadar kalu Gadis sedang cekikikan sendiri.

”Tuh kaaaan ketauan ya...” ejek Gadis tak kuasa menahan tawanya.

”Ih Gadis!! Rese banget sih lo mancing-mancing gue!! Tau ah,males gue!!” pinta Berli ngambek.

“Makanya jujur aja sama gue,tuh cowok ganteng kan?” ulang Gadis kembali.

”Hh...”Berli menatap kakak sepupunya dengan wajah merah padam, ”BANGET!!” seru Berli kemudian bergegas berlari menaiki tangga meninggalkan Gadis diruang tamu menuju kamarnya.

”Apa gue bilang?!” Gadis melemparkan bantal sofa yang berbentuk segi empat ke arah Berli yang sudah ngacir ke lantai dua.

”Sok tau lo Dis!!” seru Berli yang kini sudah berada di kamarnya.

”Gue bilangin Gio loh!!” pekik Gadis bercanda. Ia pun kembali membolak-balik Cosmopolitan yang menganggur dipangkuannya.
***
Sunday, June 2006

Dear Diary…
Dee,hari ini ada tetangga baru di depan rumah.. Cute banget,tapi gue harus bisa control diri supaya ngga keterusan. Gue ngga mau main api sama Gio karna gue cinta mampus sama dia. Gue bener-bener ngga mau kehilangan Gio Dee..



Berli sayank Gio....
1st Chapter by Vanesa

Read More ......