Friday, June 5, 2009

3G: Bepe Squad

-

Prolog.


Kita semua melingkar dan saling merangkul satu sama lain. Aku, Ebol dan Bulba. Sebentar lagi maut kan menerjang kita. Kita salah jalan dan menemukan jalan buntu dimana di sebelah kiri ada sebuah gang kecil. Gang kecil dengan lebar yang hanya cukup untuk 1 orang lewat.

Kita dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit. Kenyataan bahwa di belakang kita banyak preman-preman bertato naga bahkan bekicot pun hadir di muka kita sembari memegang parang, golok, celurit, dan gunting rumput.

Ini semua tentang kenyataan pahit. Kenyataan pahit tentang hidup. Hidup yang harus dihargai. Hidup yang memang harus berarti.

Kita selalu berpikir dan berpikir. Di bawah rembulan yang mulai sabit. Di antara keak gagak mengikik. Dan dengan keringat basah yang bercucur kemudian jatuh menghujam tanah dengan kejam. Kita semua gemertakkan gigi kita dengan suara yang sama. Gigi kita gemertak tanda bingung harus apa. Bukan karena geram ingin menghajar mereka segera.

Kita semua masih melingkar dan masih termenung satu sama lain menatap masing-masing wajah diri kita melalui kita juga. Kita berjanji bahwa setelah hari ini lewat dengan kejam maka esok hari harus lebih kejam, dan seterusnya hingga kami menemukan titik indah bernama cahaya.

“Mereka harus tahu, bahwa kita adalah 3G bukan GPRS. Bung!” kata Bulba menggarangkan mulutnya yang penuh polesan hitam.

“Mereka juga harus tahu, bahwa 3G punya kekuatan yang berbeda.” Tambah Ebol memotivasi.

“Kita bukan pengecut!!!” teriakku

----------------------------------------------------



BAB PERTAMA BUNG!


Bepe Squad
Siapa bilang hidup itu susah? Siapa bilang juga hidup itu menyakitkan. Tidak semua orang mengatakan seperti itu. Hanya persepsi sebagian orang saja yang kurang menikmati hidup yang ala kadarnya. simple namun bermakna. Tidak hanya duit, duit dan duit melulu. Hingga timbul istilah UUD—ujung-ujungnya duit. Ada bukti konkrit tentang kita yang tanpa uang juga senang dan selalu bahagia. Tak peduli rumah sedang dilanda bencana uang ataupun problem keluarga yang terus menghujam. Ibarat lagu jaman baheula.

begini nasib, jadi bujangan. Kemana-mana. Asalkan suka. Tiada—orang yang melarang. Hati senang walaupun tak punya uang oooi….

Memang tak ada hubungannya bung! dengan lagu itu. Kita memang orang gila dari segala orang gila. Namun kegilaan kita bukan aksi the jackals yang hidup dengan kegilaan mereka dalam menantang maut. Kegilaan kita terbentuk dalam sebuah wadah jahil untuk menghibur diri kita. Bahwa tanpa uang. Kita bisa bahagia. Tanpa uang, kita bisa beli apa saja—tapi kita tidak mencuri, tidak pula mengamen di pinggiran jalan yang akan membuat kondisi keluarga kami terpuruk. Dan yang terakhir. Tanpa uang kita bisa mendapatkan cinta yang kita mau. Uang kita adalah persahabatan.

Penggalan lagu yang jelas aku lupa nama kelompoknya itu mencap di kepalaku seperti stemple lunas di jidat. Tanda bahwa uang bukan segala-galanya—biarpun segala-galanya butuh uang. Kita bebas dari ketertarikan uang dari kata inti lunas itu sendiri. Uang bukan tuhan, tuhan saja tak punya dompet buat nyimpen uang. Jadi buat apa uang itu dipertuhankan.

Sudahlah sejenak kita lupakan uang. Saatnya bercerita. Kurang baik terlalu banyak basa basi. Nanti banyak lembar kertas yang habis gara gara bahasa yang basi itu.

***

Ada sebuah komplek bernama Komplek Bahagia Indah. Letaknya mungkin sekitar 10 menit dari tol buahbatu. Tak pasti memang. Bila dalam keadaan macet, mungkin bisa 20 menit bahkan setengah jam. Semua orang disibukkan dengan rutinitas sehari-hari.

Bandung memang bukan kota cosmopolitan seperti Jakarta. Bandung adalah kota dingin yang sekarang mulai panas. Panas cuacanya dan panas kehidupannya juga kata orang susah.

Bicara tentang orang susah, kita termasuk orang susah yang hidup bahagia. Kita masuk pada sebuah komunitas yang kita buat sendiri. Komunitas dengan nama Bepe Squad alias Berondong Penjahil Squad. Bahasa inggris di belakangnya hanya ingin terlihat eksis. Aneh saja kalau disebut Perkumpulan Bepe atau Barudak Bepe. Heu.. rancu dan kurang enak didenger.

Pendiri Bepe Squad sendiri adalah temanku sejak kecil yang terkenal dengan rambutnya yang seperti kepala budha. Dia biasa dipanggil Bulba, padahal nama aslinya bukan itu. Dia dipanggil Bulba juga bukan karena kepalanya suka ngebul dan basah. Namanya hanya sebuah singkatan dari teman-teman yang suka mengejek rambutnya yang sepertu bulu jemut di bawah perut. Kalau boleh tidak disensor. Bulba kepanjangan dari bulu baok.

Bulba sang frontalis. Sikapnya sangat keras kepala dan sedikit egois masalah cinta. Perawakannya yang jangking—jangkung dan ceking, diikuti bentuk tubuhnya yang rata namun sedikit berbadan. Bulba mahasiswa Universitas Jatinangor. Ahli design grafis dan pintar animasi. Biarpun dia termasuk mahasiswa tua karena menghabiskan D3nya dengan masuk semester 7—Bulba tetap percaya diri dengan keras kepalanya. Bulba juga gila baca buku sejak kecil. Dia bukan kutu buku tentang rumus kimia ataupun rumus yang banyak angka dan hitungannya. Bulba pecinta buku-buku sekelas Seno Gumira Ajidarma, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti,dll. Penulis sastra lama yang dia suka. Walaupun terkadang Bulba tidak menepis dirinya suka novel remaja seperti Cintapucino-nya Icha Rachmawati dan Lupus-nya Hilman. Intinya Bulba adalah sosok frontalis, humoris, kutu bukuis, dan tak suka najis biarpun dia kadang suka kelewat narsis dengan wajahnya yang kearab-arabis.

Di bawah Bulba ada nama selanjutnya pendiri Bepe Squad. Lobe julukannya. Itu juga singkatan. Bukan singkatan ‘lo bego’ bukan pula singkatan ‘lo benalu’. Tidaklah lain selain nama keren saja. Seperti halnya geng motor bandung yang terkenal brutalnya seantero Indonesia. Mungkin bisa dilihat di cat tembok putih yang mampang di rumah salah seorang penghuni Komplek Bahagia Indah, semprotan pilok dengan tulisan.

DALBO-XTC

MARLON- BRIGEZ

Jujur saja tak ada keren-kerennya masuk geng motor brutal itu. Nama aslinya mungkin Ujang Asep atau bahkan Tarjo. Lobe juga pernah masuk geng motor tersebut. Namun dia keluar karena tak ada hal positif yang dia dapat selain kebut-kebutan. Serang sini serang sana. Ribut sini ribut sana. Segala macamnya itu lah yang membuat Lobe yang wajah dan rambutnya mirip Ariel Peterpan ini keluar dan memutuskan ikut mendirikan Bepe Squad. Lobe menyukai kegilaan yang menghasilkan sebuah kepositifan public. Bukan ingin dibilang keren atau bahkan ditakuti tukang bala-bala. Secara jujur Lobe tidak suka geng motor Bandung yang bisanya main kroyok bukan one by one. Tidak gentle dan tidak mencerminkan geng yang bisa dibilang keren. Singkat kata Lobe mengecap geng motor jenis itu tak bermutu.

Lobe mungkin nama yang pantas untuk sikapnya yang tenang, cool, dan wajahnya yang rupawan. Lobe juga disukai banyak wanita di Komplek Bahagia Indah. Hanya saja dia pemalas kelas kakap. Dia tak pernah mau bekerja padahal dia memiliki intelejensi yang tinggi. Setengah otak Lobe adalah Albert Enstein dan setengahnya lagi adalah otak Garfield yang terkenal dengan kucing yang malas. Lobe menjadi bulan-bulanan omongan Ibu-ibu Komplek Bahagia Indah yang terkenal dengan punya acara gossip seperti infotainment di tv-tv—karena dia pengangguran namun pintar.

Di bawah Lobe yang terakhir ada aku. Berambut hampir seperti Lobe namun lebih gondrong darinya. Wajahku juga sedikit kearab-araban seperti Bulba. Namun sedikit lebih sederhana karena tampang orang awak terlihat dari logatku yang agak melayu. Wajahku mirip seperti vokalis Drive, Anjie. Aku sering dikatakan orang aneh oleh Bulba dan Lobe karena sifatku yang tak menentu. Hari ini ceria, besok diam. Hari ini berwajah segar besok tiba-tiba murung. Lusa aku ikut nongkrong lusanya kemudian aku menyendiri. Mereka tak pernah mengerti akan sifatku namun tak pernah mengaggapku orang yang misterius. Mereka juga tak menampik aku punya kepribadian ganda. Kadang baik kadang jahat. Namun tak sampai membunuh ataupun mengancam. Melainkan jahil sejahil-jahilnya. Jahilnya bisa dibilang keterlaluan dan jahat bagi mereka. Tapi entah mengapa aku sadar dan menganggap aku biasa-biasa saja. Aku hanya berpikir kalau mereka berdua terlalu banyak menciptakan sugesti tentang sifatku yang tidak-tidak. Walaupun begitu aku selalu diterima dalam kondisi apapun. Sedang punya ataupun tak punya uang. Sedang bermasalah ataupun sedang tak bermasalah. Dan sedang suka maupun duka. Kami bertiga adalah teman sejati yang berjanji seperti Three Musketeers. Berjanji di sebuah pos satpam dan mendirikan Bepe Squad. Janji kami bukan untuk rakyat, tapi untuk diri kita pribadi dan kehidupan remaja kami.

“Apapun keterlaluan hidup kita. Kita hidup dijalan yang lurus. Kita bertindak atas dasar tanggung jawab. Kita berbuat atas dasar kebersamaan, dan kita mau atas dasar kesepakatan. Harta dan tahta memang menggiurkan. Tapi lebih menggiurkan lagi montoknya bemper Julia Perez,” Kata Bulba menyodorkan lengannya ke tengah-tengah.

“Jangan liat kita dari luar. Liat kita dari dalam. Kalau mereka liat kita dari luarnya saja, maka kita tunjukkan niat baik kita setulusnya. Kita harus menjadi panutan. Sekalipun tindakan kita hanyalah show off saja. Jikalaupun kita punya kebejatan, lebih baik bejat diri saja, jangan menularkan pada orang lain. Misalnya nonton Miyabi berjamaah,” ikrar Lobe yang diakhiri dengan senyum kecil di sudut bibirnya.

“Tak ada uang bukan tak senang, tak ada masalah bukan tak susah. Lebih baik kita berbagi dan mau mengasihi satu sama lain. Saling menghargai dan mau mendengarkan keluhan sahabat kita siapapun nanti. Saling memberi tahu bila ada wanita mandi dan kita intip bareng-bareng. Tapi jangan mencemarkan apalagi merekamnya. Cukup tahu dan membandingkan bahwa body mereka tak lebih bohai dari Dewi Persik,” ikrarku mengucap juga namun kali ini cukup serius.

“Ah… basi. Gak lucu! Ganti!” celetuk Bulba

“Iya Rey, kampungan banget sih ngintip orang mandi. Bawa-bawa Dewi Persik pula lagi. Engga elit, Luna Maya kek.”sambung Lobe

“Maunya sih gitu bung! Tapi Luna Maya tak selamanya seksi. Lagipula dia kan sekarang janda. Sama aja dong kaya Dewi Persik.” Jawabku pede.

“Janda?!” tanda tanya besar di atas kepala Lobe dan Bulba.

“Dasar goblok, yang janda itu Maya Ahmad. Bukan Luna maya.”degung Bulba menjadikanku objek penderita—disambung Lobe yang menusuk pinggangku dengang telunjuknya.
“Whuu!” Lobe menyoraki.

“hehe” dan akupun tersenyum kecil.

***

Bulba
Terik matahari memang panas menyemprot muka Bulba dengan sinar yang engga ketulung panasnya. Sesekali dia menyeka keringat yang ia usap lalu membuang keringat itu ke aspal. Bulba baru saja pulang dari omelan Pak Dosen yang mencercanya untuk segera menyelesaikan Tugas Akhir sebelum dia akan menjadi mahasiwa abadi untuk yang kesekian kalinya (sebelumnya ada mahasiswa abadi yang menghabiskan D3 13 semester).

Bulba kini sampai di sebuah lapangan futsal terbuka alias outdoor. Fasilitas yang disediakan pihak property Komplek Bahagia Indah yang letaknya berada di tengah-tengah komplek berisi 200 kepala keluarga.

Bulba datang sembari menggelengkan kepalanya berkali-kali. Membawa ransel berisi buku-buku sastra lamanya, dan mendatangi pos satpam yang letaknya di sudut lapangan futsal.
“Nasib-nasib, kapan gua lulus kalo SP(semester pendek) gua cuma dapet D.”gerutu Bulba pada Muslih penjaga satpam.

Muslih yang akrab disapa Mus oleh Bulba dan kawan-kawan adalah satpam panutan. Sangat dekat dengan anak-anak muda karena di umurnya yang kepala tiga, tetap berjwa muda dan sangat mandiri. Kerja sampingannya adalah jadi kuli bangunan dan berkebun di atas tanah yang sedang dalam sengketa.

Cik atuh euy, tong ngeluh wae hirup teh. Moal matak beunghar. (Ayolah, jangan mengeluh terus menerus hidup, tuh. Tidak akan pernah bisa kaya).” Kata Mus dengan logat sundanya.

Sanes ngeluh ,mus (Bukan begitu, Mus) . Saya juga berusaha buat beunghar. Kieu-kieu oge usaha (kaya gini gini juga),” balas Bulba.

Bulba dekati Mus.

“Gimana kalau kita buat rencana busuk bung Mus?” Bulba membuka pembicaraan yang menjurus pada kejahilan.

Deuk naon? Deuk ngajailan? Saha deui anu deuk dijailan teh, galling?! (Mau ngapain? Mau jahilin orang lagi? Siapa lagi yang mau dijahilin, galling?!)” kritik Mus menghina rambut Bulba yang juga mirip mie.

“ Gimana kalau saya datang ke rumah anda ! lalu saya suruh anak anda mandi, kemudian saya intip dia ketika sedang mandi. Anda bilang anak perempuan anda lebih seksi dari Julia perez bung Mus. Dan itu buat saya penasaran. Tahu sendiri lah! Kakanda Bulba ini, ngefans berat sama Julia Perez. Sampe-sampe saya mau suruh Bu Datuk (Ibunyah Bulba) mengganti nama saya jadi Bulba Perez. Bagaimana bung Mus?” Bulba kali ini membuat Mus geram dan menjewer telinga Bulba.

Ngomong naon, bieu? (Bicara apa tadi?)” Mus semakin menaikkan tangannya.

“Ampun, Bung Mus! Bercanda doang,” teriak Bulba kesakitan sambil tertawa cengengesan.

“borokokok sia. Budak urang oge ( dasar sialan, anak saya juga) mau di sikat!” kata Mus geram.



Lobe
Apalah kegiatan malas Lobe selain Tidur di siang hari. Malam adalah siang. Dan Pagi adalah sore. Ketika Pagi orang lain berolah raga, maka sore harinya Lobe juga berolah raga dengan tangan alias bermain game online berjudul Ayo Dansa.

Hari ini masih siang— jadi Lobe masih asyik menikmati mimpinya dengan kisah seribu satu khayalnya tentang. “Cara Menjadi General Manajer Langsung, Tanpa Berusaha”

“Ebi, bangun! Udah siang. Makan jig.” Kata Ibu Laila yang tak lain adalah Ibu Lobe.

Lobe sebenarnya mendengarkan suara Ibunya yang sedang membangunkannya dari mimpi. Namun dia anggap suara itu adalah suara hantu yang coba mengganggu mimpinya menjadi kaya.

“Ebi, bangun! Itu Ibu buatin sop buntut kesukaan Ebi.” Ibu Laila selalu berusaha agar anaknya bangun dan sesegera mandi lalu melakukan ritual hidupnya lebih baik. Ibunya memanggil Lobe dengan sebutan Ebi.

Lobe suka sop buntut. Tapi didalam mimpinya ada tenderloin steak yang disajikan dengan blackpepper sauce—ditambah banana split melengkung dengan mesra di atas mangkuk—membuatnya lebih betah makan di dalam mimpi daripada makan sop buntut kesukaannya.

“Ebi, bangun kamu teh! Ibu mau arisan. Kunci pintu. Atau ibu tinggal dengan pintu tak terkunci, biar kamu dibunuh sama maling. Awas banyak perampokan sekarang ,mah!” bujukan kali ini membuat Lobe bangung dari tidurnya dan membuka mata selebar-lebarnya.

“Iyah, Ebi bangun mah!” kata Lobe yang sadar dari mimpinya yang diganggu.

Euleuh euleuh budak teh, meuni haroreameun pisan (ya ampun, nih, anak pemalas banget). Denger mo dibunuh baru bangun.” Ibu Laila menggelengkan kepalanya.

“Bukan karena itu, Mah! Kalo dirampok; Ebi, kan, boke alias kere. Masa maling mo bunuh orang kere yang gak ada duitnya—yang ada juga—Ebi yang bunuh malingnya, karena maling pasti punya stok uang hasil rampokan. Betul gak, Mah?! Hehehe….” Canda Lobe pada Ibunya.

“Bedegong boga budak, teh (Dasar nakal punya anak, tuh). Udah kunci pintu, mandi sana, trus makan. Sudah disediain di atas meja, makan tuh!”

“Bentar mah?!” tahan Lobe

“Apalagi Ebi,” Ibu laila kesal

“Ebi bangun karena Ebi belom dikasih uang jajan. Mamah kok maen pergi aja. Hehehe…” Lobe cengengesan.

“Halah. Kamu tahunya tidur, makan, minta duit, kapan atuh ngasih duitnya sama Mamah?” gerutu Ibu Laila sembari membuka dompet kecil dari dalam tas corak rotan yang dijinjingnya.”Nih!” Ibu Laila memberikan selembar uang dua puluh ribu.

“Entar kalo Ebi udah jadi General Manager Hotel berbintang. Baru Ebi kasih Mamah duit.” Kata Lobe girang menyambut uang bergambar Oto Iskandar Dinata itu.

“Ngimpi kali ye!” ejek Ibu Laila pada Lobe.

Lobe tinggal berdua dengan ibunya. kedua Kakaknya sudah menikah dan Ayahnya sudah meninggal karena umur memang sudah saatnya.

Ibu Laila akhirnya pergi keluar dan Lobe asyik kegirangan diiringi loncat-loncatan seperti penyanyi rock. Kemudian dia membuka laci. Mengambil piringan film bergambar wanita jepang.
“Saatnya nonton Miyabi. Hehehe…” Lobe tertawa sendiri.




Aku
Melamun dan melamun. Itu kegiatan yang biasa kulakukan. Hari ini aku sedang suka menyendiri. Apalagi siang hari yang panasnya engga ketulungan. Mau tidur, bukan seleraku. Mau makan, aku kenyang. Padahal dengan 162 Kg dan 49 Kg adalah postur ceking untuk ukuran lelaki jantan.

Aku, Bulba dan Lobe memiliki persamaan, yaitu: tak memiliki seorang Ayah alias yatim. Ayahku meninggal ketika aku masih duduk di bangku SMP. Ayah meninggal setelah melakukan 15 kali operasi kanker usus yang dideritanya. Sejak itu aku selalu menjadi orang yang tak menentu karakternya. Mama bilang bilang karakterku aneh. Kadang aku dingin seperti kulkas, kadang emosiku meledak-ledak seperti meriam siap letus, kadang bijaksana lalu mendadak kekanak-kanakan, kadang berpikiran positif tapi kadang si hawa negatif suka keluar juga.

Kakakku bilang aku tak berprinsip, padahal prinsipku ada. Namun lebih senang membiarkan prinsip itu menggali diri dengan sendirinya, sehingga prinsipku adalah sebuah hati dengan segel ‘Rahasia Negara’

Aku paling berbeda dari kedua temanku. Aku tak begitu ketagihan jahil seperti Bulba dan Lobe. Tetapi bila aku sudah jahil, maka aku pemilk ide jahil terparah. Bisa buat mereka yang kujahili malu semalu-malunya. Tak peduli itu tetangga bahkan gelandangan sekalipun.

Aku juga disebut-sebut sebagai pria odipus kompleks oleh Bulba dan Lobe. Dari 7 wanita yang pernah kupacari tak ada yang muda. 3 (tiga) di antaranya lebih tua 4 tahun, dan 4 (empat) nya lagi 7 tahun lebih tua. Aku sadar bahwa aku menyukai wanita cantik dan berbodi bohai. Itu adalah hal yang wajar, namun entah kenapa wanita yang kusukai baru kuketahui umurnya setelah berhubungan lama—bahwa umur mereka jauh di atasku. Bisa dikatakan kasusku mencari pacar adalah Odipus Kompleks by Accident (OKBA). Karena Aku tak tahu alias teuing. Sudah terlanjur cinta menyangkut di hati. Sulit dilepaskan seperti tindikan di bujal. Bila dilepas semua kucing pun akan menutup telinga.

Bulba Calling…….

Bulba : Halo ganteng, ke lapang (futsal) dong!

Aku : Males—panas ba.

Bulba : Ayolah, sekali-kali kita berjemur kaya bule-bule. Kemudian menatap matahari.

Aku : Buat apa berjemur bung? Ga cocok. Menatap matahari juga kaya orang bego.

Bulba : Setidaknya kita buta sama-sama.

Aku : Engga elit bung! buta gara-gara nemenin elo ikut bego. Mending cewek. Entar gua dikira homo.

Bulba : Yaa..yaa…ngerem aja elo di rumah kaya penganten baru.

Aku : Iya iya, gua ke lapang. Ajak Lobe Ok!

Bulba : Jelas dong. Bye.

Aku : Bye

End Call

Inilah saatnya Bepe Squad beraksi. Menghabiskan masa remaja dengan hal yang berguna tanpa meninggalkan rutinitas bernama keren sosialisasi. Sosialisasi yang berwajah kejahilan untuk membuat orang lain malu dan mengenal kita semua. Biarpun pada akhirnya kita selalu mengucap maaf.

***

1st Chapter by Rey Khazama

Read More ......

Vega Syndrome

-

Satu



Den Haag, Belanda…

Ancang-ancang lari aku nggak nampak untuk jedah sedikitpun. Kutarik membelah aspal biar tenggat waktu aku bisa lebih baik. Bus besar pun nggak bakal aku peduli, karna hari ini tepat ke tiga belas kalinya aku kesiangan. Bisa ditebak angka apa itu? Angka sial, tentunya plus keterlambatan basi lagi. Ya… ya… ya… aku terlambat, pasti dapat bonus rentetan ocehan Mr. Willy. Fuuih! Semakin menambah kebodohan yang aku lakuin. Aku harus sampai secepatnya atau pesangon akhir bulan ini nggak mampir dalam kantongku.

Sedikit lagi aku sampai di depan cafe. Lariku kini lebih kencang, dan mungkin sepuluh menit lagi kaki aku akan protes karna kelelahan.

Aku menarik napas perlahan, mengatur nada engah dari alur hidungku. Di depan, cafe sudah menunggu kerjaku. Aku mengendap masuk sebelum ketahuan Mr. Willy. Selangkah aku menyerong meja. Tiba-tiba ada yang menahan aku dengan kuat, tepat di ujung sepatuku. Cepat sekali terjadi dan… aku terjungkal jatuh kemudian, berlanjut dengan insiden aneh. Menempel bibirku di lantai cafe. Uh! nyeri langsung menyerangku seperti penyakit kronis. Oh, pagiku yang buruk.

Kakiku tersangkut kursi, juga seluruh tubuh merebah sakit di lantai cafe. Sudah pasti hadiah karna aku kualat.

Lima menit aku menenangkan diri, buru-buru aku menegak, agar nggak banyak orang melihat tingkah anehku. Lelucon pagi hari yang basi abis!

Bayangan buram dari mataku nampak menghilang. Oh lagi! Pemandangan nggak banget sudah siap menjamahku. Di sudut tembok semeter dariku, hadir Mr. Willy si empunya cafe. Bersiaplah aku! Ocehannya dengan aksen bahasa Belanda pasti membombardir kupingku. Untung aku nggak begitu paham bahasa Belanda, jadi semarah apapun Mr. Willy padaku nggak bakal aku peduli.

Nampak berapi-api wajah kesal Mr Willy. Sudah kuduga! Terus saja marah biar puas dengan bahasa Belanda yang aneh itu.

Kerjaku untuk mengisi liburan musim panas hampir selesai. Dan persis beberapa jam lagi berakhir masa kerjaku di cafe ini, lalu sepuluh hari dari sekarang liburanku tamat di akhir Agustus. Rasanya tiga bulan ini, membuat aku lebih mandiri. Walau harus kuterima ocehan basi, minimal ada sedikit kebanggaan.

Sebelum marah Mr. Willy naik ke ubun-ubun aku bergeser menjauh. Mataku tertahan, kecutan senyum menyapaku. Senyum yang lumayan indah. Bisa membuat lelaki manapun jatuh cinta. Pemilik senyum itu, Kania. Ya! Dia Kania, aku sih lebih suka plesetin namanya jadi Kanye.

Setahun ini Kanye teman terbaikku di Belanda. Teman sekampusku. Juga bercikal bakal dari Indonesia. Kami mengambil study international yang nawarin basic bahasa Inggris, jadi nggak usah repot-repot aku belajar bahasa Belanda. Berkali-kali juga Kania ngebet mengajariku bahasa lain, tapi aku malah menyerah, mending disuruh belajar bahasa Eskimo sekalian. Setahun sekolah di Haagse University of Professional Education, menambah skill bahasa Inggris-ku.

Goedemorgen .”

“Kenapa senyam-senyum. Kaget ngeliat aku makin cantik?”

Kania menangkap gelagatku.

“Nggak tuh! Cantik? masih mending si Chatty, puppy-nya Mr. Willy.”

“Ko nyamain aku ma anjing,” gerutu Kania.

Aku membalasnya dengan kedipan nakal. Tatapanku lurus darinya, tertangkap satu bayangan yang biasa di mataku. Sosok itu, terpaku di depan cafe. Sosok melongok, diam, melihat ke dalam dan menunggu.

“Dia masih di sini? Mirip security ya!”

“Siapa? Toby? Jelas dong!”

Aku berdehem melihat tingkah Kania yang segera berseri-seri dua kali lipat dari biasanya. Dua rona pipinya menjadi lebih merah.

Toby, tepatnya Toby De Ad. Pacar Kania sejak enam bulan lalu. Satu kampus dengan aku juga Kania. Memilih jurusan yang sama, Communication Management. Keren? Ya pastilah si bule ini keren tentunya. Dia layaknya pengawal presiden, siap antar jemput. Selalu nangkring setiap pagi dan sore di depan cafe hanya untuk Kania. Bisa dua jam betah bertengger, Asli! Setia abis. Kayaknya si Toby bakal jadi perangko abadi nih.

“Kamu jadi balik?”

“Jadi, sebelum liburan musim panas benar-benar selesei. Semua urusan pun udah aku set rapi. Siap beres,” ucapku santai.

Aku melangkah mundur, niatku menjejal ruang belakang. Nggak kulihat sekat besar, langsung saja tembok cafe melahap wajah ini. Terbentur keras hingga lima bintang berputar-putar di kepalaku. Sial! Lagi dan lagi. Ingin segera aku mencincang tembok besar ini. Tambahkan juga pukulan keras di kepalaku biar sekalian lengkap kesialan aku hari ini!

Aku mengoleng pusing.

Terdengar tawa Kania muncul meledekku. Uh kesal…! Dia menertawaiku.

***

“Lo kenapa nggak pernah bilang ke gue sebelumnya. Lo akan jauh di sana dan gue nggak tau kapan lo hadir di sini lagi, setidaknya ngucapin sesuatu yang bisa ngebuat gue ada di dekat lo.”

“Ega, kamu harus percaya aku.”

“Percaya, Al? rasanya itu emang gampang. Tapi Al kita jauh. Dan gue…”

“Aku bisa lebih setia dari seribu malaikat.”

“Gue nggak tau lagi. Yang pasti pikiran gue udah kacau.”

“Kacau! Gimana dengan janji tadi?”

“Ale, gue tau. Bahkan nggak bakal hilang janji tadi dalam benak gue. Tapi lo bisa bayangin lima menit lalu lo bilang unek-unek hati lo pada gue. Dan lo pun tau, gue ngerasa hal yang sama seperti lo. Kini! Lo bilang harus lanjutin sekolah di Belanda untuk waktu yang lama... Gue nggak bisa ngejalanin hubungan long distance!”




“Percayalah. Aku yakin kita bisa ngelewatin semuanya. Kita bisa email-emailan, bisa nelpon atau smsan…”

“Nggak segampang itu, Al! Gue tetap nggak bisa.”

Jalan Ega beberapa senti melewati bayangan di depannya.

“Ega, Please!”

Terhenti Ega seketika, badannya kemudian membalik, “Percayalah gue akan selalu setia nungguin lo.” Tangan Ega naik menyusuri satu lingkaran cincin yang tersemat manis di jarinya.

Sorry, Ale. Gue nggak bisa make hadiah ini. Akan gue pakai jika lo balik hanya untuk nemuin gue lagi. Dan gue akan nepatin janji gue. Gue akan selalu ada untuk lo!”

Ilusi setahun lalu di pantai Lombok, kini datang menghujamku lagi. Membuatku mengingat semua tentang Ega. Jauh dari kerumanan siswa lain aku menarik Ega menikmati malam pantai Lombok. Menjauhi acara perpisahan sekolah yang membosankan. Aku dan Ega menyusuri pantai hingga kuungkapkan rasa hatiku yang berbuntut asa-menggantung.

Kini mataku naik menjamah bintang-bintang di permukaan langit Den Haag. Lagi! Tubuhku terpaku duduk di jendela flat-ku sambil berayun kaki santai. Tangan aku naik mengikis lembut cincin pengembalian dari Ega.

Di lantai tiga ini, aku bisa menikmati semuanya. Puluhan rumah berarsitek Eropa, juga suguhan seribu bintang yang terasa unik menyiram rasa kangenku terhadap Jakarta. Malam ini, Den Haag lebih indah. Parodi polusi cahaya menggeliat setiap sudut kota. Mengagungkan! Aku berharap semoga Jakarta suatu saat seperti ini, dan hanya ada aku dan Ega, selamanya…

Ega, aku akan balik. Liburanku sepuluh hari akan aku tuntaskan di Jakarta. Dan kusembuhkan asa-menggantung, penyakit kronis stadium tak terlacak ini.

Aku tersentak kaget tiba-tiba. Terdengar bunyi gaduh dari ujung koridor flat-ku. Bunyi aneh. Buru-buru kumasukan cincin dalam kantong. Aku berlari panik menyusuri arah pintu, sambil mengintai pelan.

Dengan cepat, pintu flat terbuka sendiri. Sial! Daun pintu menimpukku dengan keras. Nyeri menyerangku sekian detik. Sakit minta ampun.

“Ngapain ngoleng kayak kapal mau tenggelam,” suara Kania menyambut aku lalu menyerong langkah melewatiku.

“Kapal tenggelam! Akibat kamu ngebuka pintu, kepalaku kejedot. Sakit tau!”

Terdengar tawa lucu Kania, “Bisa-bisa sepuluh menit lagi, kamu kena geger otak.”

“Nyumpahin aku! Nggak lucu Kanye! Sama sekali gak lucu!”

“Udah berapa kali aku bilang. Aku bukan Kanye. Tapi K-A-N-I-A. Kenapa nggak nambahin West sekalian biar lengkap jadi Kanye West. Trus aku ganti kelamin. Puas?”

“Gitu aja marah. Orang cantik nggak boleh marah. Dilarang keras.”

“Gombal abis! Katanya lebih cantik puppy-nya Mr. Willy. Sekarang ngerayu abis. Nggak mempan. Lebih ampuh gombalnya Toby.”

Seketika mataku mendelik wajah Kania dengan lekat, ada perubahan di bagian pelipis Kania.

“Pelipis kamu sepertinya lebam.”

“Oh ini… aku kejedot pintu.”

“Hush! Ternyata apes nggak kemana-mana. Aku tau, hasil kejedotku kayaknya nular dari kamu.”

Aku menyusul langkah Kania menuju sofa panjang.

“Ngapain malam-malam ke sini.”

“Gak, aku hanya mau ngasih ini. Besok kamu kan udah pergi.” Tangan Kania menggenggam kubus lucu.

“Hadiah? Aku tau, kamu nggak mau kan aku balik. Kangen?”

“Enak aja! Emang muka kamu ngangenin!”

“Iya,” jawabku percaya diri.

Deheman Kania muncul meledekku, “Lalu Association Young Communication Management itu, bukannya kamu ngebet banget. Pendaftarannya terakhir besok loh. Jangan sampai sia-sia begitu saja. Apalagi dananya gratis. Dan nggak semua mahasiswa ngedapat rekomendasi seperti kamu. Aku dengar, penelitian kali ini di Barcelona.”

“Ya aku tau, Barcelona.” Aku berdiam sejenak. Spontan dengusanku keluar. Kota itu! Kota yang paling aku tunggu, melebihi Paris sekalipun.

“Tekad aku udah bulat. Bukankah untuk ngejar sesuatu, kita harus ngorbanin yang lain? Aku bakal balik ke Indonesia. Dan pastinya kali ini aku gagal gabung dalam penelitian. Lagian aku bisa ikut kelompok penelitian tahun depan, walau tujuannya bukan Spanyol. Udahlah, aku harus kembali ngejar angan aku.”

Kania menatapku heran.

Please… selama aku balik, tolong jaga flat aku. Aku percaya kamu.”

***

Bunyi itu lagi! Yang sama semalam!

Aku harus bangun karna kaget. Bunyi itu memberhanguskan tidurku yang nyenyak. Padahal mataku masih betah nyaman dalam kepulasan. Selimut kutarik malas. Aku setengah sempoyongan menuju pintu. Sepertinya ngantuk masih membuntutiku. Akan kuselediki, bunyi gaduh itu.

Aku menguap, dan bunyi gaduh itu hilang lagi setelah langkahku tepat di depan pintu flat.

Tangan aku meraba pintu. Kubuka lebar. Dan…

Teriakan besar kudengar tepat membombardir telinga. Di hadapanku Kania berdiri sambil histeris. Tangannya naik menutupi dua bola matanya.

“Ngapain kamu… Ale! Cepat pergi…!” teriak lantang Kania.

Kaget menyergapku. Pagi-pagi sudah kumakan dua suara aneh. Seketika juga turun mataku memperhatikan diri. Aku hanya memakai celana pendek saja dan bertelanjang dada. Shit! Langsung saja buru-buru kututup pintu flat dengan cepat. Agar nggak banyak orang menikmati lawakan yang nggak lucu pagi ini. Cukup sepasang mata saja dan jangan tambah dengan mata-mata lain.

Aku membalikan badan. Ya! Hanya Kania saja, batinku menarik asa lega.

Indra penglihatanku menumpu pada digital yang berpendam manis di dinding. Jam sembilan pagi! Aku hampir terlambat. Pesawatku akan segera take off setengah jam lagi. Tanpa peduli apapun, ancang-ancang kakiku super kilat menerobos pintu kecil di pojokan kamar. Hampir saja menabrak wastafel.

***

Hanya butuh sepuluh menit, aku sudah rapi. Koper dan segala urusan mengenai paspor, visa udah beres. Sempurna! Aku siap menuju bandara.

Aku menggulung lengan kemeja, hingga menyentuh ujung siku. Mataku turun rembug dari pintu flat. Hingga nampak koper hitam kecil di samping. Jemariku masih menggerakan kunci perlahan. Kutinggalkan koperku di koridor. Aku harus menuju kamar nomor tujuh. Aku harus berpamitan pada Kania, sekaligus kutitipkan kunci flat-ku. Aku yakin si Kanye bisa menjaga flat-ku.

Kakiku melibas lantai tiga dengan sigap. Di depan flat tujuh berdiri Kania. Lekukan tangannya seperti menahan pelipis. Di sampingnya berdiri Toby, si perangko. Pasangan ini memang setia. Lebih dari sekedar serasi.

Aku mendekati keduanya. Kulepas satu senyum andalanku. Langsung rangkulan ala koboi aku melekat hangat pundak Toby.

“Kan, this is my key. Please, keep my flat.”

Kania mengambil kunci itu.

Aku menatap dua sahabat terbaikku, “Toby, Kan… Sorry I’ve got to go now.”

Take care of yourself,” sambut Toby padaku.

Aku iri dengan kedekatan keduanya. Andai aku dan Ega seperti ini… dan bisa kubalikan kenangan pantai Lombok. Ya! Pengorbanan Barcelona akan terganti dengan kenangan Lombok.

Jalanku kembali berlawanan arah. Niatku mengangkut koper hitam kecil di depan flat. Bakal ada kerinduan mendalam yang aku tinggalin di Den Haag. Tanpa semenit berlalu, tiba-tiba benar, asa kerinduan menyergapku. Aku terhenti sejenak. Membiarkan asa itu menjalari seluruh tubuhku.

Ega… kataku terakhir lalu menapaki kaki meraih anak tangga menuju lantai bawah.
***


1st Chpater oleh Ello Aristhosiyoga
http://elloaristhosiyoga.blogspot.com

Read More ......