Monday, April 20, 2009

Kasak Kusuk

-BERANGKAT SEKOLAH

Sebuah perjalanan

“ngenggg……Ngeeengg..” gemuru motor bebek cecep menembus dinginnya udara bandung di pagi hari. Tubuhnya menahan dingin. Belasan jerawat di wajah memekar merah terbeku udara.

“eeeeeeehhhh….di..ngin” ungkap cecep.

Inilah awal buruk yang selalu di alami cecep. saat setiap hari harus menjemput asep. Seorang sahabat terbaik, tersetia bahkan sampai tertolol.

Namun dia tetap percaya akan adanya happy Ending. Suatu akhir bahagia. Di mana sang pahlawan bisa mengalahkan penjahat. Dan pastinya bisa mendapatkan cintanya dengan sebuah ciuman.

Itulah cecep, seorang lelaki pemuja wanita. yang melapisi fisknya yang pas-pasan dengan kinerja cinta yang fantastik.

“cep…kok motor bebek elu, lenglong banget jalannya??” tanya asep.

Tersentak cecep tersadar dalam mimpi.

“bener lu?”

Cecep kurang yakin akan argument yang di lontarkan asep. Dia tak percaya, lelaki bertubuh besar namun berwatak sekelas amuba ini. Bisa membedakan antara ban berputar dan tidak berputar.

Cecep pun berhenti dan sejenak memeriksa motor bebeknya.

Di lihat – di terawang – di raba – di usap – ahh nikmat…

“wah…betul. Ban gua kempes”

Cecep sejenak melihat asep. Dan mencurigainya sebagai pengkhianat Negara. Yang berusaha menhancurkan masa depannya sebagai presiden, dengan cara melubangi ban motornya. Dengan pertimbangan cecep tak sekolah dan tak belajar. yang akan membuatnya idiot dan gagal merekahkan cintanya dengan ibu Negara.

“sep, elu gigit ban motor gua ga?” tanya cecep penuh curiga.

Cecep melirik gigi asep yang semuanya taring. Dia pun memandang dengan penuh kecurigaan. Suatu pandangan sinis yang ia contoh dari film-film luar negeri. Suatu pandangan yang selalu muncul dari para polisi FBI, yang sedang menginvestigasi para tawanan teroris. Dengan hiasan, sesekali mengangkat halis.

“enggak ko cep. Gua yakin”

“yakin loh.!!” masih curiga cecep.

“beneran cep, gua yakin. Kalau gua mau makan ban loh. Sekalian aja ma elunya gua sate”

“hah……..” cecep terkejut saat sahabatnya sendiri ternyata adalah seorang kanibal. Dia menyisihkan baju. Mencubit dan menjilati tangannya.

“asam…bagus. daging gua gak enak. Jadi gak mungkin gua jadi korban selanjutnya asep.” Gerutu cecep dalam hati.

Akhirnya cecep pun berfikir. Mencari jalan keluar masalah yang sedang mereka alami. Cecep pun mernyeleksi beberapa pilihan yang ia dapat.

1. gua nyari bengkel…..asep tunggu di di sini. Tapi tunggu dulu. Bisa-bisa asep kelaparan dan mencabik-cabik motor gua. Enggak-enggak…enggak.. boleh…….

2. asep nyari bengkel……….gua tunggu di sini. Ide bagus. Tapi, bisa aja asep membuat masalah dan membawa ribuan masa yang membawa senjata-senjata tajam……

“cep…lari-lari…”

“kenapa lu sep”

“gua ngebunuh orang”

Raut mimpi cecep membayangkan akibat dari pilihan ke dua.

Akhirnya dia pun memikirkan untuk menggunakan pilihan ke tiga

3. oke..jadi gini. Gua tetep berada di sini, dengan ngikat asep dalam sebuah pohon. Lalu gua kasih makan asep pake rumput. Setelah itu gua kasih sepeda motor gua uang. Tuk mencari bengkel sendiri. Ia…ide bagus….

cecep melihat sekeliling. Dia tak melihat ada satu pun pohon di sekitarnya. Dia pun mengurungkan niatnya. dengan alasan. tak bawa tali dan tak ada pohon untuk mengikat asep.
Di sela-sela kritis, cecep kembali berfikir. Namun sayang, hanya pikiran-pikiran kotor yang muncul

“gua ke bengkel….dan ketemu wanita bugil. Enggak-enggak…enggak boleh. gua tipe lelaki setia..”

“gua ke bengkel…dan ketemu sama luna maya. Enggak-enggak…enggak mungkin…mustahil”

Akhirnya dengan penuh rasa kecewa. Cecep pun terpaksa memilih pilihan ke dua. dengan efek samping dirinya menjadi amukan masa.

“sep…gini aja. Elu cari bengkel. Dan gua tunggu di sini”

“iya…cep” angguk-angguk asep.

“tapi, kalau di pasar elu maling semangka…perkosa pedagang semangkanya…lalu bunuh suami si pedagang semangka. Lalu elu di kejar-kejar masa yang ingin muitilasi elu. Elu ingat jangan bawa masa itu ke gua.”

“oke…cep. Gua siap?? Tapi gua harus bawa kemana masanya??”

“elu bawa aja ke stadion sepakbola, yang lagi ada pertandingannya” sambil tunjuk cecep ke stadion yang harus asep tuju nantinya.

“jadi….saat elu masuk ke stadion. Elu arahin masa ke supporter di sebelah utaranya. Ingat, jangan ke sebelah selatan. Soalnya itu sahabat-sahabat kita sesama pecinta PerXXXX”

“oke…oke…gua ngerti” angguk-angguk kembali asep.

Cecep memegang tangan asep. Sambil menatap. Dia menikmati saat saat terakhir perjumpaannya. dengan seorang sahabat sejati, yang tak akan pernah lekang dalam hidupya.

“gua janji. Gua gak bakalan lupa jasa-jasa lu”

Cecep tak yakin asep akan selamat. Dari amukan ribuan bahkan puluh ribuan pedagang dan suporter sepakbola. Dia pun berjanji dalam hati, akan membuat suatu monumen khusus bagi asep. Dan memberikan penghargaan baginya. Dengan memberikan hari libur nasional setiap tanggal 30 februari. Saat dirinya menjadi presiden nantinya.

“elu…kenapa cep. Serius banget. Biasa aja kali” jawab lugu asep. Dia tak tahu bahwa nyawanya akan segera terancam.

Asep pun pergi dengan perkasa. Dia bagaikan seorang ksatria yang pergi untuk maju ke medan perang. Di mana mereka selalu pulang tanpa beberapa organ, atau bagian-bagian dari tubuh mereka. Yang hilang di makan teman sendiri yang kelaparan.

“selesai…..gua aman…” ungkap cecep sangat lega. Saat cita-citanya menjadi presiden tetap terjaga. dengan harapan cinta yang juga masih besar. Cecep hanya memandang jam tangan di tangan kirinya.

“baru jam 06.30. ma..sih lama….”

Cecep hanya bersantai ria duduk di jok motor. Sambil membayangkan permaesuri hatinya yaitu indah.

**********

Mimpi

Cecep sedang termenung berat dalam mimpi. ia membayangkan masa masa indah dengan permaesuri.

“permaesuri indah, kamu cantik sekali”

Itulah indah, seorang wanita yang telah enam tahun ia kenal. Dan enam tahun kurang juga ia cintai. Seorang wanita anggun dan pintar teman sekelas cecep.

“permaesuri indah, apakah kau cinta padaku” tanya raja cecep pada permaesuri.

Raja cecep hanya duduk santai, menikmati suap demi suapan anggur yang terlontar dari tangan halus sang permaesuri. Sang raja pun, hanya menatap. menikmati ke indahan tubuh serta paras sang perrmaesuri.

“cinta raja……” jawab lembut sang permaesuri.

Permaesuri saat itu hanya memakai baju yang sangat tipis. Sebuah baju yang hanya menutupi bagian atas lutut serta bagian bawah dari dagu. Bisa di bilang, sang permaesuri saat iu setengah telanjang.

“tubuh kamu indah sekali….” Penuh dengan nafsu serta kebejatan raja merayu.

Sang permaesuri hanya terdiam senyum. Dia hanya geli saat sang raja menyelusuri seluk beluk tubuhnya.

“aaahhh…jangan. Raja….jangan” malu-malu beringas sang permaesuri.

Sang raja bergejolak, saat permaesuri indah dengan relanya merebahkan tubuh indahnya. Terlihat, suatu keindahan pegunungan beserta dengan hutan lindung terpangpang lebat di depan mata sang raja cecep.

“bbbbbbbrrrrrrrrrr….” Bergetar sang raja. Akhirnya terjadilah peperangan yang terlanjur terlalu dini antara sang raja dengan permaesurinya.

“sini dong raja” ajak sang permaesuri ke kasur.

“ciiiiaaaaaaaaat…tttttt…” loncat sang raja memeluk sang permaesuri ke kasur. Dan akhirnya……..

cep…gue malu di peluk ma elu

Sang raja terbangun dari mimpi. Dan ia membuka mata. Dan terkejut saat gorilla hitam sedang ia peluk.

“haaaaa…..sep. elu masih hidup.” Terkejut cecep sambil melepaskan pelukan mesranya pada asep.

Inilah contoh salah satu adegan terlarang di Indonesia. Yang seharusnya tersensor rapi. Tak beredar di kalangan anak muda, apalagi anak kecil. Suatu adegan yang lebih bejat. Dari adegan-adegan pemerkosaan di film-film India. Atau adegan-adegan percintaan di film james bond. Di mana dua orang lelaki sedang bercinta ria.

“mas….bisa ga. Nanti dulu bercintanya. Kami sibuk nih” jawab seorang lelaki botak di sebelah timur cecep.

Cecep pun mengalihkan pandangan dan melihat puluhan orang telah mengepung mereka. cecep pun berfikir, kejahatan apa yang sudah di lakukan asep.

1. membunuh pedagang semangka…ga mungkin. tukang semangka mantan atlet karate. Gak mungkin asep bisa membunuhnya dengan mudah

2. membunuh pedagang daging…bisa. Tapi pedagang daging selalu bawa kampak atau juga golok untuk memotong daging jualannya. Jadi Gak mungkin asep bisa membunuhnya dengan tangan kosong. Itu mustahilll……

3. membunuh tukang gorengan di pasar….ya betul bisa-bisa. Karena gak mungkin pedagang gorengan, merelakan menumpahkan minyak goreng panas ke muka asep. Karena minyak goreng sekarang lagi mahal buuangget. Ia bisa… logis…logis…

Cecep pun berdiri. dia menatap Puluhan orang yang membawa benda-benda berat. Seperti Kunci inggris, tang dan alat-alat bengkel lainnya. Cecep pun berargumen.

“jujur…gua gak kenal dia” cecep membela diri. Dia tak ingin dirinya muncul di Koran. Saat terjadi pembantaian dua orang anak sma. Yang di bantai oleh sekelompok montir idiot. Cecep bersandiwara tak kenal asep.

Semua orang hanya menatap. Mereka mulai mengacung-ngacungkan alat pembantaian mereka.
Cecep mulai kritis. Dia memandang asep yang masih tergeletak akibat persetubuhannya dengan cecep tadi.

“sialan luh sep. lu bawa maut ke gua”

Cecep pun berfikir kembali. Mencari jalan keluar dari pambantaian oleh montir-montir bengkel. dia pun mulai mencari beberapa benda tajam, besar atau juga benda-benda yang keras sebagai pertahanan sementara. Sambil menunggu polisi datang dan menyelamatkannya.

“sialan ga ada Apa-apa…??”

cecep mulai berfikir, andai saja superman bisa ada di indonesia. Mungkin saja sekarang ia bisa selamat, dan pulang ke rumah. Namun sayang, UUD pornografi membuat superman tak bisa berkeliaran bebas di Indonesia. Karena pemakian celana dalam di tempat umum adalah hal yang ganjil di Indonesia.

Akhirnya Cecep mrengacungkan tangan, dia menyerah.

Untuk sementara cecep menyerah. Untuk menyelamatkan masa depannya sebagai persiden dan membina rumah tangga bersama indah. Dan di kala ia sudah menjadi presiden, ia akan melarang dan memfatwa haram adanya bengkel-bengkel di Indonesia. Dengan penggantinya, mempersatukan bengkel kendaraan dengan dokter kandungan.

“pak sepeda motor saya susah hidup. Kenapa yah…???” tanya seorang pasien.

“Sini saya lihat…”

Si dokter berfikir dan mencba memeriksa motor si pasien.

“oh…..sepertinya motor anda sedang mengandung”

Terkejut sang pasien

“hah…mengandung. Tapi dok, siapa yang menghamili sepeda motor saya”

Dokter pun menjawab. “mungkin saja sepeda motor tetangga anda”

Si pasien pun akhirnya menangis.

Itulah khayalan cecep.

“gua nyerah..” sandiwara cecep.

Orang-orang itu haya memandangnya. Memandang dengan penuh rasa iba.

“biarin aja. Yang penting gua selamat”

“yang ini pak. Motornya….” Beritahu asep kepada salah seorang di sebelah selatan cecep.

“LLLLoooohhh…kok. Jadi gini” heran cecep sambil menggaruk-garuk punggung asep.

“eh…cep elu ngapain garuk….garuk punggung gua.”

“enggak ko”

Orang itu pun, memperbaiki motor cecep. Menambal bannya, mengompakan bannya dan membersihkan seluruh penjuru motor cecep.

“ayo dong semua bantu…..” teriak seseorang di sebelah tenggara cecep

“iya…..” teriak semua.

Akhirnya semua membantu memperbaiki motor cecep. cecep masih terheran-heran. Sementara asep menjilat-jilati sebuah permen kaki, yang di berikan oleh salah seorang dari masa yang ia bawa. Akhirnya dengan penuh kemaluan cecep bertanya akan semua yang asep bawa.

“sep, me..reka ma..u ban…tu kita” gagap tanya cecep.

“he’ehh…bener...” Jawab asep sambil menjilat-jilati tangan asep.

“tapi kok…banyak banget orangnya. Gua bilangkan, Cuma bawa satu sampai dua orang”

“mereka yang mau kok….”

“mereka yang mau….” Tambah heran cecep.

“ia mereka yang mau…..”

Cecep pun memberikan isyarat bahwa ia masih belum mengerti. dengan cara membuka mulut lebar-lebar dengan mata yang melotot penuh dengan kebingungan.

“Jadi gini cep. Saat gua di pasar tadi” asep pun mau menjelaskan. Asalkan dengan syarat dia bisa menjilat-jilati tangan cecep.


Di pasar

Asep sedang kebingungan mencari seseorang untuk memperbaiki motor cecep.

“pak bisa bantu saya pak??..” tanya asep kepada pedagang siomay.

“bantu apa de…???” jawab balik.

“motor saya mogok…bisa gak pa, bantu??”

Si pedagang menatap muka asep. Dia tak tega untuk menjawab “tidak”. Tapi karena keterbatasan kemampuan akhirnya dia harus menjawab “tidak”.

“gak bisa de…saya Cuma pedagang siomay. Bisanya Cuma nusuk dan masukin siomay ke piring. Kalau ade mau, tanya aja ke tukang cukur di sana, mungkin saja bisa.” Dengan penuh rasa belas kasih dan keinginan yang besar unuk membantu, pedagang siomay melepas asep ke tukang cukur.

“pak….bisa gak bantu saya…??”

“bantu apa de..” jawab si tukang cukur

“motor saya mogok….”

Penuh dengan haru…tangis dan air mata, semua orang di tempat cukur itu menangis. Melihat seorang anak tak berdaya meminta belas kasihan kepada semua orang.

“maaf de…saya gak bisa bantu. Saya hanya bisa motong rambut orang. Kalau ade mau, silakan tanya ke pandai besi di sebelah sana. Mungkin saja dia bisa bantu.” Sambil menangis si tukang cukur.

Serentak seluruh orang yang berada di situ berteriak histeris. Mereka tak tega melihat. Seorang anak manusia tersiksa mencari bantuan.

“gua gak tega…ga tega. Kita harus bantu dia” teriak seorang bapak-bapak yang sedang di gunduli rambutnya oleh si tukang cukur.

Serentak seluruh orang terbakar semangatnya untuk membantu asep. Mereka pun menyisihkan lengan baju. Tak melihat siapa mereka dan dari mana mereka. Mereka bersatu untuk membantu asep. dengan mengajak juga orang lain untuk bersama-sama membantu.

Sementara, asep masih mencari seseorang yang bisa membantu dia memperbaiki sepeda motor cecep. Dia pun mengikuti anjuran yang di sarankan oleh setiap pedagang dan tukang di pasar.

“kalau anda mau silakan saja ke sebelah sana……..” rangkuman jawaban dari semua pedagang dan tukang di pasar.

Silsilah pencaraian asep untuk mencari orang yang bisa memperbaiki motor cecep.

Tukang siomay – tukang cukur – pandai besi – pedagang semangka – pedagang bakso – toko emas – pedagang beras – pedagang daging – pedagang cireng - pedagang mainan………………sampai yang terakhir pedagang cabe merah.

Akhirnya, seisi pasar berteriak dan menangis histeris. medengar cerita tragis yang terlontar dari mulut asep.

“motor saya mogok….bisa bantu ???”

Asep terus mencari sampai pada akhirnya semua pedagang dan tukang di pasar mau membantunya. Semua pun kompak menghampiri asep. Sambil mengambil perkakas bengkel yang mereka punya.

“ade…stop!! Kami akan bantu.” Jawab seorang pedagang semangka.

Asep melihat puluhan orang akan membantunya.

Akhirnya, Asep pun menggiring mereka ke tempat di mana cecep berada. Dan di sepanjang jalan, asep di beri makan dan minum.

“enak ga…” tanya pedagang nasi uduk

“enak…….”

“kenyang ga..” tanya pedagang bubur ayam.

“enggak….”

Dan pada akhirnya sampilah ke sini. Singkat cerita asep.

“cep…elu. Gak kenapa-napa kan. Gua tinggal lama di sini”

“enggak ko….gua seneng” cecep hanya terbengong.

“ini gak masuk akal…gua pasti lagi mimpi”

Setelah selesai memperbaiki motor asep. Para pedagang pasar itu pun Pergi. Dengan sebelumnya berpamitan, dengan memberikan uang dan beberapa makanan untuk asep.

“nih de asep, ada makanan dan sedikit uang dari kami..”

Itulah uang dan makanan yang mereka kumpulkan secara sukarela. Uang itu pun di terima oleh asep.

“makasih yah..”

“hati-hati di jalan….” Seru seorang pedagang es teler.

Cecep pun menghidupakan motor dan bergegas pergi ke sekolah. Di melihat jam tangannya sudah menunjukan jam delapan , mereka sudah terlanjur terlambat.

Asep pun melambaikan tangan tanda suatu perpisahan.

“dadahhhh…….”

Mereka pun melakukan perjalanan lanjutan menuju sekolah.

**********


1st Chapter by Muhammad Fatoni

Read More ......

Chubbyluocious

-

“eh, gajah bengkak lewat. Awas ati-ati ntar ketrabak loh.”

Aku masih cuek dan berjalan menuju bangkuku.

“eh, pegangan! Tiba-tiba ada gempa mendadak nie waktu Nicky lewat!”

Anak-anak sekelas tertawa semua. Aku mulai malu. Dera berjalan menuju bangkuku.

“kenapa, Nick? Nyata kan. Kalo badanmu itu segede gajah bengkak!”


“Nicky gajah bengkak... Nicky gajah bengkak... Nicky gajah bengkak...”

Aku semakin malu dan berlari keluar kelas. Aku menangis. Sedangkan Dera yang masih di dalam kelas terus-terusan tertawa. Sampai aku lulus SD pun julukan itu masih ada. Bahkan di umurku yang ke tujuh belas pun, julukan itu masih ada. Aku benci Dera, sampai kapanpun!

Hari minggu ini udaranya seger banget. Langit juga cerah. Pokoknya perfect day, lah. Apalagi nanti, aku bakal jalan sama Fritz, gebetanku. Bisa di bilang kalo aku mau ngedate sama Fritz kan??? Cihuyyy...

“Nick, nanti kamu jangan pergi kemana-mana yah.” Ujar mama sambil memasak.

“kenapa, ma? Aku kan mau pergi sama Fritz!” Ujar ku protes. Sungguh! Aku ngga rela kalo hari ini aku ngga jadi jalan sama Fritz. Aku bakal ngambek sama mama, kalo aku tetep ngga di bolehin pergi sama Fritz!

“Dera hari ini mau datang ke rumah, jadi...”

“apa ma! Dera mau dateng. Duh, ma...kenapa ngga dilarang aja sie???” potongku.

“kok dilarang sie, Nick. Dulu kamu kan pernah dekat sama Dera masa kamu ngga kangen sama dia?”

“kangen? Aku kangen sama Dera? Ngga mungkin! Pokoknya aku tetep mau pergi sama Fritz!”

“ngga bisa. Kita sebagai tuan rumah harus menyambut tamu, Nick. Apa kata Dera kalo dia dateng tapi kamu ngga ada?”

“ya ngga tau! Mama tanya aja sama Dera. Dia mau ngatain aku apa?” Ujarku ketus. Ngapain coba Dera harus di sambut? Kayak tamu kehormatan aja. Yang ada juga tamu yang ngga diharapkan!

“Nicky...pokoknya mama mau kamu jangan pergi kemana-mana. Mama pengen kamu dirumah aja bantuin mama masak.”

Aku melihat ke dapur. Mama masak banyak banget! Kayak ada acara aja. “mau ada arisan ma?”
“ngga.”

“kok masak banyak banget?”

“kan Dera mau kesini.”

Ya ampun mama.... “ya udah masak aja yang banyak, ntar biar Dera yang habisin semua!” Ujarku ketus. Mama hiperbola banget sie. Cuma Dera yang dateng. Dera, saudara-saudara! Bukan presiden yang dateng, mama masak banyak banget. Enak-enak lagi!

Mama tersenyum. “jangan ketus gitu dong, Nick.”

“lagian ngapain sie ma, dia dateng ke Purwokerto.”

“Dera mau sekolah disini lagi pula...”

“hah! Dera mau sekolah disini!”Potongku. Aku kira omongan mama waktu itu cuma bercanda, ternyata beneran. Padahal aku berharap banget dia ngga pernah balik lagi kedalam kehidupanku.

“Nicky! Udah dua kali ya mama bicara dipotong sama kamu. Ngga sopan!”

“iya..iya... Nicky kan cuma kaget aja. Emang masih ada lanjutannya?”

“masih. Dera juga mau tinggal disini.”

“apa! Aduh mama.... Mama kenapa ngga bilang sama Nicky? Ngga diskusi sama Nicky? Ngga tanya sama Nicky dulu, Nicky setuju atau ngga Dera mau tinggal disini. Lagian mama tau dari mana Dera udah mau tinggal disini?”

“kan kemarin, Tante Lusi telepon buat bicarain hal ini.”

“trus kenapa kemaren mama ngga bilang sama Nicky tentang hal ini?” Sumpah! Aku udah mulai marah sama mama. Kenapa hal ‘sepenting’ ini ngga bilang dulu sama aku!

“yah, mama tau, kamu pasti ngga bakal setuju.”

“mama udah tau Nicky ngga setuju! Kenapa masih di terusin juga!!” Aku mulai teriak-teriak. Air mata udah mulai menggenang. Pasti bentar lagi nangis deh!

“mama kan ngga enak sama Tante Lusi, Nick.” Ujar mama halus.

“tapi mama ngga peduli sama perasaan Nicky kan? Nicky marah sama mama!” Aku berlari-lari menuju kamar. Bodo deh sama bunyi gedebukan yang aku hasilkan dari kakiku yang segede kaki gajah.

Di pinggir tempat duduk, aku mulai menangis. Ini juga yang aku sebel dari diriku. Terlalu emosional. Bentar nangis, bentar ketawa. Bentar marah, bentar diem.

Tok..tok..

“Nick, mama boleh masuk?”

Belum aku jawab, pintu kamarku sudah dibuka sama mama.

“mama mau bicara sama kamu.” Mama memeluk bahuku. “mama tau mama salah, ngga bilang dulu sama kamu. Seandainya kamu kayak Dera, yang dia kenal di Purwokerto kan cuma kita, Nick. Kasian Dera kalo tinggal sendirian.”

“kan dia bisa ngekos. Lagi pula katanya dia kenal sama daerah di Purwokerto.” Ujarku disela-sela isak tangisku.

“keadaan Purwokerto kan udah berubah. Purwokerto udah beda dengan Purwokerto sepuluh tahun yang lalu. Mama takut nanti dia kesasar. Lagipula kalo kita ke Singapura, giliran Dera yang jadi guide buat kamu dan mama.”

Kalo mama udah ngomong lembut kayak gini, aku jadi ngga tega deh. Yah, mau gimana lagi. Yang bisa aku lakuin cuma setuju sama usul mama. “yah, Nicky bisa apa? Nicky cuma bisa nurutin mama aja.” Kataku akhirnya.

Mama tersenyum. “gitu dong. Nicky emang anak mama yang paling bisa ngertiin mama.” Mama memeluk dan mencium keningku.

“sekarang mama minta tolong kamu nunggu di ruang tamu yah. Siapa tahu nanti Dera datang.”
Dengan berat hati aku mengangguk.

To : Fritz
Sr, aq gk bs nemenin u.sx lg mupz...

Yah,batal kencan sama Fritz deh. Sebel! Awas yah kalo Dera dateng, dia kudu tangung jawab atas batalnya acara kencanku dengan Fritz!
,,,

Sekarang aku lagi ngejogrok di ruang tamu menunggu ‘tamu Agung’-nya mama. Nyebelin banget! Ngapain coba, Dera balik kesini? Ngga inget dia udah pernah nyakitin atinya aku, ngga minta maaf lagi!

Tok..tok..

Aku berjalan menuju pintu dengan malas-malasan.

Kriet..

Aku mendongak melihat kira-kira siapa yang datang.

Ha! Siapa nie...Cakep banget!

Ngga mungkin nyari aku kan????

Tapi lebih ngga mungkin lagi, kalo cowok ini cari mama. Emangnya mama Tante girang yang suka sama brondong!

Dan dengan begonya aku masih berdiri bengong menatap cowok cakep yang masih berdiri di depanku. Tiba-tiba cowok itu tersenyum. Dia senyum sama siapa? Masa sama aku?

Ngga mungkin!

Tapi kan ngga ada orang lain lagi di depan dia kecuali aku!

“hay, Nick.”

He...? Cowok itu tau namaku?

“Dera! Kamu sudah datang? Kesasar ngga?” Ujar mama sambil melongok di balik bahuku.

Tadi mama bilang siapa?

“Dera?” Ujarku ngga percaya. Ngga mungkin banget kan cowok cakep yang mukanya mirip Lee Dong Wook ini Dera. Apalagi Dera yang itu!

Aku masih inget banget muka Dera waktu jaman esde. Emang dia kurus. Tapi kurus kering! Pipinya aja ampe kempot! Pokoknya bisa digambarkan dengan satu kata. Menyedihkan!

Dan cowok yang sekarang berdiri di depanku ngga meninggalkan jejak sedikitpun tentang Dera kecil!

Kulitnya putih, badannya yang kurus ngga-gendut ngga, cara pakaiannya yang modis. Pokoknya cakeeeeeeeeepppppppppp buanget!

“iya, ini aku. Dera. Kalo kamu lupa, nama panjangku Gwinov Derandino.” Ujar Dera sambil memamerkan gigi putihnya.

Bener! Ini Dera yang itu. Dan dengan gobloknya aku malah terkagum-kagum sama dia! Seseorang yang aku benci selama sepuluh tahun!

Aku berbalik. Ngapain juga aku berdiri kelamaan di sini. Ngga ada manfaatnya!

“kamu mau kemana, Nick?” Tangan Dera menahan tanganku.

“mau masuk!”

“lho, kok masuk Nick. Bantuin Dera dulu dong, Nick.” Ujar mama.

Duh! Ngapain juga mama ngomong kayak gitu. Tambah gede aja kepala tu anak!

“bantuin apa?” Tanyaku malas-malasan.

“bantu Dera bawa barang-barangnya ke kamar.”

“Dera bisa sendiri, ma. Buktinya, dia kesini bawa tas-tasnya sendiri kan? Jadi dia ngga butuh bantuan Nicky.”

“Dera kan capek Nick.”

“kalo capek ya duduk dulu. Baru angkat tas-tasnya dia di bawa ke kamarnya.” Ujarku ngeyel.

“Nicky! Mama yang minta tolong ke kamu. Bukan Dera!” Ujar mama agak keras.

Ih, mama lebay. Gitu aja ngambek.

“sini tasmu!” Ujarku.

“ngga usah, aku bisa sendiri.”

“udah, Der. Biar Nicky bantu kamu. Kamu pasti capek.” Ujar mama.

“udah! Ngga usah jual mahal. Siniin tasmu. Jangan buat aku dalam masalah deh.” Ujarku ketus.

Dera menyerahkan tasnya yang paling besar. Buset! Berat banget! Dera pasti mau ngerjain aku.

“kamarnya Dera di lantai atas, Nick.”

Dilantai atas? Ok! Berarti kalo aku nonton tv dilantai bawah, berarti jauh dari gangguan...

Apa?!

Lantai atas!

Kamarku kan dilantai atas! Dan kamar di lantai atas cuma ada dua. Dan kamar itu bersebelahan sama kamarku! Jadi, Kamar Dera dan aku bersebelahan?!

Aku menoleh ke mama. Mama menatapku dan tersenyum seolah meminta maaf.

Nyebelin! Bukannya di jauhin, tapi sama mama malah di deketin!

Aku membuka pintu kamar Dera.

“ini kamarmu.” Aku meletakkan tas dilantai. Sungguh! Aku kepengen mendengar penjelasan mama, ngapain Dera ‘ditaruh’ deket-deket sama aku!

“kamar mu dimana, Nick?” Tanya Dera.

“disebelah kamarmu.” Ujarku tanpa menatap Dera.

“ooo...”

“jangan pernah ganggu aku selama kamu disini. Anggap aja aku orang lain. Jadi antara aku dan kamu ngga ada urusan sama sekali.” Ujarku sebelum meninggalkan Dera.

Mama! Duh, mama mana sie. Aku kudu minta penjelasan sama mama.

“mama!”

Hening. Ngga ada jawaban.

“mama! Nicky ngambek nie kalo mama jawab juga.”

“mama lagi di belakang!”

Aku berjalan menuju kebun belakang.

“mama. Ngapain sie, Dera ‘ditaruh’ disebelah kamarku? Kenapa ngga di kamar tamu yang ada di lantai bawah?” Ujarku protes.

“kamar bawah belum dibersihkan, Nick.”

“mama sengaja kan? Kalo Dera emang mau ‘ditaruh’ dikamar bawah, pasti kamar itu udah dibersihkan jauh-jauh hari.”

Mama nyengir. Jangan heran! Mamaku itu walaupun umur udah kepala tiga tapi jiwa masih muda. Jadi masih suka cengar-cengir juga. “ kok ‘ditaruh’ Nick. Di tempatkan. Jadi lebih manusiawi.”

“bodo! Iya kan ma?”

“apanya?”

“aduh... Mama! Nicky males ngulang pertanyaan!”

Mama terkekeh.“yah, kan kalian bisa belajar bersama. Lagipula nanti kalian satu sekolahan.”
“apa ma! Satu sekolah?”

Mama mengangguk.

“mama kenapa ngga diskusi sama Nicky dulu sie?” Aku udah bener-bener marah sama mama. Mungkin kalo masalah Dera yang tinggal dirumah dan kamar Dera yang bersebelehan sama aku, aku masih bisa tolerir. Tapi kalo masalah sekolah, emang ngga ada sekolah yang lain kecuali sekolahku! Purwokerto memang kota kecil, tapi SMA kan ngga cuma satu! Ada puluhan bahkan ratusan. Ngga tau tepatnya berapa. Aku ngga pernah ngitung!

“yah, pertimbangan mama kan kalian bisa bareng-bareng terus. Berangkat bareng, belajar bareng...”

“bertengkar bareng, berkelahi bareng. Gitu mau mama?” Sambungku.

“ya ngga dong Nick.”

“Nicky kan udah bilang sama mama kalo Nicky ngga mau dekat-dekat sama Dera!”

“ya, mama minta maaf. Jangan ngambek dong Nick.”

“Nicky ngga ngambek! Nicky marah!” Aku berjalan menuju kamarku. Kepengen mengurung diri! Ini semua gara-gara Dera.

Aku menapaki tangga.

Pintu kamarku terbuka!

Dan… Oh, ngga!

Berantakan!

Aku segera berjalan menuju kamar sebelah.

“Der! Kamu apakan kamarku?!”

“tadi aku cuma pinjem isolasi sama gunting.” Dera mengacungkan kedua barang itu tanpa ekspresi bersalah sedikitpun.

“tapi kenapa kamu berantakin kamarku?!”

“yah, gara-gara nyari kedua barang ini jadi ngga sengaja aku berantakin deh. Sory yah. Lagipula, kamu kan bisa merapikannya lagi.”

Sudah cukup! Baru sehari Dera dirumahku udah menimbulkan efek yang cukup hebat buatku.

Cepet kesel!

,,,,

1st Chapter oleh Feryani Aldyningtyas

Read More ......