Tuesday, May 26, 2009

Tapi Percaya Kan!: Kisah Sedih Penuh Tawa

-

Pukul 11 malam, tapi Arel masih duduk di atas kasurnya yang teronggok begitu saja di lantai, mengamati layar laptopnya yang menyala. Beberapa majalah frencise dan majalah pria bertebaran di lantai.

“Rel? Arel, Kamu dengerin Ibu to,” sebuah suara wanita setengah baya terdengar dari handphone yang sengaja dia loudspeaker sekenanya.

“Hmm… ya Bu,” Arel tidak berminat menanggapi telepon dari ibunya itu.

“Alah Rel, kamu itu memang sulit dinasehati. Pie to Pak, iki lo anak mu itu ngeyel kalo di kasih tau,” keluh ibu.

“La itukan berkat kamu yang terlalu memanjakan dia,” terdengar suara bapak di telepon.

“Loh kok aku yang disalahin to? Bapak yang terlalu gak peduli dengan Arel,” bela ibu.

“Bu, sudahlah Arel sudah dewasa, biarlah dia menentukan apa yang harus dia lakukan, kita orangtuanya tidak usah ikut campur,” kata bapak bijak.

“Na, liat kan?! Gara-gara sikap bapak ini Arel itu jadi gak mikirin masa depannya. Pak, memangnya Bapak gak hawatir kalo Arel kenapa-kenapa? Arel tu anak kita satu-satunya Pak,”
“La terus Harum bukan anak kita?”

“Ya lain. Arel kan anak laki-laki.Llagipula Harum sudah berkeluarga Pak, sudah beres urusan kita,”

“Eh Rel, mbok ya denger to Rel, ibu sama bapak di sini sudah kangen sama kamu, kapan kamu bawa calon mu ke rumah? Ibu sama bapak ini sudah tua, selagi ibu dan bapak masih ada Rel, kami pingin mendampingi pernikahan kamu,” ibu Arel mulai terisak di ujung telepon.

Kalau sudah begini Arel pun tidak bisa pura-pura tidak mendengar suara ibunya itu. Karena entah mengapa hati Arel tidak pernah tega mendengar keluh kesah wanita itu.

“Bu, ibu dan bapak tenang aja ya. Arel janji, Arel akan pulang secepatnya. Oke Bu? Ibu jangan sedih lagi ya, nanti kerutannya tambah banyak lo. Katanya mau mendampingi Arel waktu nikahan nanti, Arel malu ah kalo ibu banyak kerutannya gitu,” Arel menggoda ibunya.

“Walah-walah Rel, kamu itu emang bisa aja,” terdengar tawa ibunya dari ujung telepon.

“Yo wis Bu, sudah malam, ibu tidur gih, jangan lupa minum obatnya, jangan banyak pikiran Bu, ibu tidur ya,”

“Ya sudah kalau begitu. Besok-besok ibu telepon lagi. Kamu juga jaga kesehatan, jangan banyak begadang, jangan lupa makan, ibu liat fotomu yang terakhir kurusan lo Rel. Makanya kamu tu segera menikah, jadi ada yang ngerawat Rel,”

Arel menghela nafas panjang, apapun pembicaraannya selalu saja mengarah ke pernikahan. Itu juga yang membuat Arel malas mengangkat telepon dari ibunya.

“Iya Bu, doain aja ya,” jawab Arel.

“Iyo, asalamualaikum…”

“Waalaikum salam,” jawab Arel pelan.

Pembicaraan dengan ibunya membuat Arel kehilangan minat pada laptopnya yang menyala. Diambilnya kaleng minuman ringan yang tinggal setengahnya dan Arel keluar dari kamarnya, duduk di beranda yang menghadap ke keramaian kota. Lampu-lampu jalan dari mobil-mobil dan gedung-gedung di sekelilingnya membuatnya makin merasa jauh dari keramaian. Dihidupkannya sebatang rokok, dihirupnya dalam-dalam seolah-olah asap beracun itu bisa memenuhi rongga-rongga yang kosong di dalam dirinya.

Hayalannya terbang tinggi menembus awan-awan yang menghitam tanpa bintang. Ingatannya kembali pada sosok yang pernah mengisi kehidupannya. Dia masih ingat harum tubuh wanita itu, rambutnya yang tertiup angin, matanya yang berbinar, dan senyumannya yang membuat jantung Arel berdegup kencang.

Saat itu Ruski, sahabat Arel sejak kecil yang mengenalkannya pada Sherin, yang saat itu baru masuk perguruan tinggi yang sama. Waktu pun berlalu, berganti dari hari ke hari, bulan berganti tahun, tahunpun silih berganti. Rasanya mereka sudah seperti Romeo dan Juliet saja, bisa di bilang seluruh pelosok kampus mengetahui pasangan ini. 5 tahun bersama tidak pernah ada pertengkaran yang begitu berarti.

Rasanya kisah cinta ini terlalu sempurna. Sampai beberapa hari setelah hari wisuda Arel, Arel harus pergi beberapa bulan menemani Harum, kakak perempuannya yang sedang hamil besar di Surabaya. Saat itu suami Harum sedang tugas di Kalimantan. Berat rasaanya berpisah dari Sherin. Arel tau ini hanya untuk beberapa bulan, setelah itu dia akan kembali lagi ke sini bersama-sama Sherin. Rasanya terlalu cengeng untuk bersedih.

“Pergilah Rel, paling lama Cuma 3bulan kan?! Gak usah khawatir, kita masih bisa saling telepon kan,” Sherin menenangkan Arel sebelum Arel berangkat ke Surabaya bersama ibunya.
Arel tertawa getir, “Benar kata Sherin, tak perlu ada yang dihawatirkan. Aku saja yang cengeng,” pikir arel.

“Anggap aja liburan Rel, kan kuliah mu yang sudah sekian lama ini akhirnya selesai juga. Aku pikir kamu gak akan lulus-lulus Rel,hahaha,” Sherin tersenyum menyentuh bahu Arel.

“Hmmm mulai lagi deh. Tapi makasih ya Sher, kamu yang sudah ngasih aku semangat. Kalau nggak lulus tahun ini aku pasti di DO ya sudah kelamaan gak lulus-lulus,” Arel tersenyum.

“Habis kamu tuh kebanyaan sibuk naik gunung, turnamen olahraga ini itu lah. Coba kalau kamu fokus kuliah saja dulu pasti sudah lulus dari kemaren-kemaren,” kata Sherin.

“Iya-iya Bu. Kamu tuh ya, lama-lama kaya ibuku. Yang penting aku kah sudah lulus sekarang,” Arel membela diri.

“Iya iya…” kata Sherin manja.

Arel mencium kening Sherin sebelum dia pergi.
***

Pagi-pagi Arel sudah bangun, menyilang kalender di kamarnya sebelum solat subuh, lalu turun ke bawah menemui kakaknya yang sedang duduk di teras sambil berjalan mondar-mandir.

“Pagi Mbak,” Arel duduk di kursi sambil memperhatikan kakaknya.

“Gak sarapan Rel?” tanya kakaknya.

“Nanti lah. Sudah ada kabar dari Mas Danu?” tanya Arel.

“Belum Rel, Mas Danu bilang mungkin kerjaannya baru selesai bulan depan. Mbak juga gak ngerti, padahal mbak melahirkan kurang dari sebulan lagi,”

“Memang sudah mules?” kata Arel dengan hening berkerut.

“Kamu tau apa soal mules Rel,” Harum tersenyum.

“Ya kalau sudah mau melahirkan biasanya mules kan?” kata Arel sok tahu.

“Hmmm, sudahlah jangan banyak tanya, kamu udah gak betah ya di sini,” tebak Harum.

Arel hanya tersenyum. Begitulah Arel setiap hari selalu menanyakan kapan suami kakaknya akan pulang dan apa Harum sudah mules. Karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu Sherin. Apalagi akhir-akhir ini Sherin susah di hubungi. Setiap di telepon pasti dia sedang sibuk mengerjakan tugas akhirnya.

“Kasihan Sherin. Pasti dia sibuk banget. Kalau aja aku ada di sana di saat-saat seperti ini,” pikir Arel.

“Rel! Arel! Cepat Rel!” suara Ibu memanggil dari bawah.

“Arel melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 2 malam, secepat kilat dia turun mencari suara ibunya. Ibunya ada di kamar Harum yang terbuka.

“Cepat keluarkan mobil! Sepertinya mbakmu sudah akan melahirkan,” kata Ibu panik.

Arel mengeluarkan mobil dengan tergesa-gesa, membantu kakaknya ke mobil, dan segera menuju rumah sakit secepat yang dia bisa.

Sudah hampir jam sepuluh pagi saat Ibu membangunkan Arel yang terlelap di ruang tunggu.

“Rel, jemput mas mu di bandara, ya. 1 jam lagi dia sampai,” kata ibunya.

Masih setengah mengantuk saat Arel menjemput Danu di bandara. Saat sampai di rumah sakit lagi, Harum sudah melahirkan, tapi kamar yang harusnya di penuhi senyuman dan tawa bahagia hanya hening dan dingin. Ibu memeluk tubuh Danu yang baru mencapai pintu, wajahnya penuh air mata.

“Anakmu Dan..,” ibu tidak melanjutkan kata-katanya.

Danu mematung seperti tersambar petir, Harum masih terbaring di tempat tidur.

Arel melihat wajah Danu yang berubah dari panik menjadi kosong. Di peluknya erat tubuh wanita tua yang masih menangis di dadanya.

“Jangan sedih Bu, gak apa. Mungkin Tuhan belum mempercayakannya. Sabar Bu,” Danu memcoba menguatkan ibu mertuanya itu, walaupun dia tau hatinya lebih hancur lagi.

Beberapa hari setelah itu Arel dan ibunya kembali ke rumah. Danu dan Harum juga ikut, ada baiknya untuk sementara mereka meninggalkan Surabaya. Seharusnya Arel bahagia bisa bertemu Sherin. Tapi rasanya hatinya masih sedih menyaksikan kematian keponakannya itu. Yang ada di benaknya hanya wajah ibu yang bersimbah air mata, wajah Mas Danu yang kosong dan berusaha tegar, juga jeritan frustasi kakaknya.

Tidak ada yang menyinggung soal kelahiran atau soal keadaan Harum di rumah. Bapak yang menyambut kedatangan mereka pun hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Segala yang terjadi sampai-sampai membuat Arel lupa menghubungi Sherin.

“Ya Tuhan, Sherin!” Arel langsung menuju kamar mandi, segera berpakaian dan menemui Sherin malam itu juga.

“Lebih baik gak usah dihubungi dulu, dia pasti kaget,” Arel tersenyum memikirkan bagaimana terkejutnya Sherin melihat Arel sudah pulang.

“Pasti akan jadi kejutan yang sempurna,” pikir Arel.

Arel tidak bisa berhenti menyunggingkan senyum, jantungnya berdebar-debar, bulu kuduknya serasa berdiri, karena terlalu bersemangat. Di parkirkannya mobil agak jauh dari rumah Sherin.
Arel berjalan perlahan-lahan seperti pencuri. Disembunyikannya kuntum-kuntum mawar yang ia bawa untuk Sherin. Arel membuka pagar yang tidak terkunci perlahan-lahan. Saat mencapai teras rumah Sherin, kepala Arel menjadi berat, sepertinya hujan es menghujam hatinya, beribu lebah menyengat membuatnya kelu dan tidak bernafas. Tanganya gemetar mencengkram mawar yang dia bawa.

Sherin yang sedang berciuman di teras rumahnya terkejut setengah mati.

“Arel…” Sherin terbata, sementara laki-laki yang bersamanya tak kalah gugupnya.

“Surprise…! Kamu kagetkan?!” Arel tersenyum getir menatap wajah laki-laki yang sedang bersama Sherin.

“Rel, gw… gw bisa jelasin Rel,” laki-laki itu maju beberapa langkah dengan gugup.

“Berhenti loe di situ! Gak ada yang perlu di jelasin. Gw rasa semuanya sudah jelas. Makasih ya Ki, loe memang sahabat terbaik gw, terima kasih elo sudah berbaik hati menggantikan posisi gw saat gw gak ada di sini,” Arel melemparkan wamar itu ke wajah Ruski.

“Arel tunggu!” Sherin menghadang langkah Arel.

“Rel, maafin aku… Aku…”

“Sorry, but I can’t,” Arel meninggalkan Sherin, meninggalkan serpihan-serpihan hatinya yang berhamburan.

Jantungnya berdebar lebih kencang dari saat ia datang, tangannya terkepal kuat. Jalanan di depannya terlihat kabur, hanya lampu-lampu yang menjadi semakin memudar. Dan bayangan Sherin yang berciuman dengan sahabatnya terus terbayang, sejak saat itu, sampai sekarang, saat lampu-lampu menjadi kabur oleh air mata, sama seperti dulu.
***

“Arel… kamu masih sama bodohnya,” gumam Arel pada dirinya sendiri sambil menghapus air matanya sebelum mengalir keluar.

Dihisapnya lagi rokoknya yang tingggal setengah, dikepulkannya asap rokok itu tinggi-tinggi, seolah-olah dengan begitu bayangan Sherin dan Ruski bisa hilang dari kepalanya. Empat tahun sudah berlalu dari kejadian itu, tapi seperti baru kemarin saja terjadi. Kejadian yang membuatnya memutuskan pergi meninggalkan keluarganya, meninggalkan kota kelahirannya, tapi ternyata tetap tidak bisa membuat kepedihan meninggalkannya. Bayangan masa lalu itu terus mengikutinya kemanapun dia pergi, merasuki setiap nafas dan aliran darahnya, membuat Arel tidak peduli pada cinta. Karena untuknya, cinta hanya meninggalkan luka-luka yang dalam. Mungkin lebih tepat disebut takut daripada tidak peduli.
***

Chintya Mutiara

Read More ......

The MD: Mom Devil

-

Mom Devil adalah sekelompok petualang yang berasal dari bangsa effrots. Mereka adalah para petualang yang sangat pemberani, selalu berani menghadapi berbagai macam tantangan tanpa ada kata menyerah dalam diri mereka. Kebahagiaan dan keceriaan selalu menghiasi hari-hari mereka. Namun jalan hidup mereka berubah, ketika datang tamu misterius yang meminta bantuan untuk menjalankan tugas yang amat sangat berat. Entah apa yang membuat mereka terlalu bersemangat, mungkin keyakinan untuk berhasil sudah terbayang dalam fikiran mereka masing-masing. Hingga suatu saat nanti mereka mengetahui sebuah rahasia berharga, yang ternyata dapat memecah belah persahabatan dan persaudaraan mereka, namun sampai pengertian itu dapat mereka mengerti, bahwa salah satu diantara mereka harus diselamatkan, sebelum sesuatu dengan kemungkinan terburuk akan menghiasi kehidupan mereka.
------


BAGIAN 1


Kota Front bisa juga disebut sebagai kota sihir, karena disana hidup para bangsa Vilt yang sebagian besar merupakan para penyihir. Hanya sedikit bangsa Effrots yang tinggal disana. Vilt adalah makhluk yang sangat aneh, tubuh mereka seperti manusia, jari mereka panjang-panjang dengan kuku yang sangat runcing dan tajam. Tubuh mereka sangat kuat, kulit mereka keras seperti batu, sehingga sangat sulit untuk dilukai, dan ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari ukuran tubuh manusia pada umumnya.

Wajah mereka sebagian besar seperti binatang, hidungnya mancung dan mata yang menyeramkan. Mereka menutupi bentuk wajah itu dengan topi yang merangkap sebagai jubah mereka yang semuanya serba hitam dan terdapat gambar naga putih dibagian belakangnya.

Bangsa Vilt adalah bangsa penyihir-penyihir barbar. Hidup dengan aturan mereka sendiri yang tidak berperi kemanusiaan. Menghidupi diri dengan merompak. Para pengelana selalu siap dengan upeti bila bermaksud melewati daerah yang ditinggali oleh bangsa Vilt, bila masih sayang dengan nyawa mereka. Setiap hari dihiasi dengan pertempuran berdarah antar mereka sendiri untuk menjajal ilmu sihir masing-masing. Walaupun pertempuran itu tidak berujung kepada maut, namun cukup untuk memperlihatkan siapa yang kuat. Bangsa Vilt, laki-laki dan perempuan, rata-rata menguasai ilmu sihir pertarungan dengan elemen api. Mereka dapat menciptakan api, kecil ataupun besar tergantung dari kemampuan masing-masing, dari setiap ujung jarinya dan melemparkan kepada lawannya. Semakin tinggi ilmu sihir seorang bangsa Vilt, semakin ia dapat menyalakan sebentuk api dari mana saja di bagian tubuhnya. Bahkan, konon, penguasa bangsa Vilt terdahulu dapat menyalakan api dari udara kosong tanpa menggerakkan sedikit pun anggota tubuhnya, dan menguasai ilmu tertinggi sihir api bangsa Vilt, Inferno. Namun tidak pernah ada orang yang masih hidup yang pernah menyaksikan kebrutalan sihir Inferno ini. Ilmu ini diturunkan secara rahasia, hanya kepada keturunan dari penguasa Vilt yang saat ini ditengarai dimiliki oleh seorang putri bangsa Vilt yang dibawa pergi oleh ayahnya sejak lahir.

Lain lagi dengan bangsa Effrots yang tinggal jauh dari pusat kota Front. Mereka jauh lebih sempurna. Tak ada yang berwajah aneh seperti para Vilt, hanya saja di antara mereka memang banyak yang juga memiliki kekuatan sihir. Kehidupan sehari-hari mereka sangat bertolak belakang dengan bangsa Vilt, meski mereka tinggal dalam satu kota yang sama. Effrots adalah bangsa yang cinta dengan perdamaian. Sehingga semangat saling tolong menolong pun mereka terapkan untuk bersama-sama menghadapi hari-hari yang selalu penuh dengan tantangan.

Tak jauh diseberang sungai, banyak tinggal para Effrots yang sebagian besar berasal dari kota Correctiondart. Kota yang sekarang disebut sebagai kota kematian semenjak runtuhnya kerajaan Yugos. Karena kemarahan Yugos yang disebabkan hilangnya Putri Naima yang akan dia jadikan tumbal untuk Raja Iblis, sebagai syarat agar dia mendapatkan kesaktian yang tiada banding membuat ia murka. Ia menghancurkan apa saja yang ada disampingnya, entah itu pengikutnya, benda-benda pusaka, bahkan Istananya pun ikut menjadi sasaran kemarahannya. Banyak penduduk yang tinggal tak jauh dari kerajaan itu juga ikut menjadi sasaran kemarahan Yugos. Ia terbang dengan naganya dan memporak-porandakan Kota Correctiondart, sehingga banyak korban tak berdosa berjatuhan dan penduduk yang selamat pergi meninggalkan kota itu. Hingga saat ini tiada satu orang pun yang berani memasuki daerah menakutkan itu. Konon katanya sekarang Yugos bersama dengan naganya dikurung didalam cermin api oleh raja iblis karena ia tak mampu memenuhi janjinya. Anehnya, meski cermin itu membahayakan banyak para orang-orang yang tersohor dengan kehebatan kekuatannya menginginkan benda itu, yang ternyata didalamnya tersimpan sesuatu. Namun kebanyakan orang yang berhasil masuk ke dalam kota kematian tidak dapat kembali lagi. Itulah sebabnya kenapa Correctiondart disebut sebagai kota kematian.

Keluarga Mr. Adams dan Mrs. Anggie salah satunya. Mereka adalah orang yang baik hati. hidup dalam ketenangan dalam keluarga yang bahagia. Mr. Adams adalah salah satu orang yang berasal dari kota kematian itu. Pria yang bertubuh kekar ini mempunyai hobi merakit skateboard. Tubuhnya memang kekar meski tinggi badannya belum cukup memungkinkan untuk dia disebut sempurna. Mr. Adams memiliki kekuatan sihir yang cukup kuat, dengan kekuatan sihir-nyalah ia membuat skateboard rakitannya itu dapat melaju dengan kecepatan super. Tak seperti Mrs. Anggie yang hanya ibu rumah tangga biasa, yang setiap hari pekerjaannya hanya mengurus rumah agar tampak bersih, rapi dan indah. Juga harus melayani Mr. Adams dan anak-anak nya. Memang lelah rasanya melakukan pekerjaan seperti ini setiap hari, namun Mrs. Anggie melakukannya dengan sepenuh hati. Dia bisa memanfaatkan kekuatan sihir yang ia miliki untuk meringankan pekerjaan nya. Ya-walaupun hanya sedikit kekuatan yang mampu ia kuasai.

Mr. dan Mrs. Adams mempunyai satu orang anak namanya Franska. Dia adalah anak bawaan dari Mr. Adams sebelum ia menikah dengan Mrs. Anggie. Franska adalah gadis yang manis, badannya tidak terlalu tinggi seperti Mrs. Anggie, alisnya tebal dan bulu matanya yang sedikit lentik membuat ia bangga akan dirinya. Franska juga rajin dan senang dengan tantangan, otaknya sangat cerdas dan pintar, dengan bakat ilmu sihir yang ia dapatkan dari ayahnya. Bersama dengan teman-teman yang diangkat anak oleh kedua orang tuanya, ia berpetualang mengunjungi tempat-tempat yang aneh dan bertemu dengan hal-hal yang aneh. Mereka adalah Alizein, Bone, Zeline dan Parker. Dan mereka menyebut dirinya sebagai Mom Devil.

Bone adalah anak yang paling besar diantara mereka semua, bentuk badannya tinggi besar dengan perutnya yang buncit. Namun kelebihannya adalah ia mempunyai ilmu pengetahuan yang sangat luas tentang sejarah sihir, dibanding teman-temannya yang lain. Kerjaannya hanya makan-makan-makan dan makan, tak ketinggalan juga kejahilannya yang selalu mengganggu teman-temannya. Meski Bone badannya besar, tapi kecepatan larinya luar biasa kencang. Bagi Bone badan besar bukanlah alasan untuk orang bermalas-malasan, tapi baginya badan besar malah memberikan ia motivasi untuk lebih giat berolahraga dan melakukan aktifitas yang menyehatkan agar badannya bisa menjadi lebih kurus. Ya-walaupun kecil kemungkinan untuk behasil, tapi setudaknya masih ada harapan, walau membutuhkan waktu yang lama.

Ia tak pernah ingin tau apa alasan keluarga Mr. Adams mengangkat dirinya menjadi anak mereka. Hal utama yang ia tau sekarang adalah ia harus membalas kebaikan mereka, meski hanya sekedar membuat mereka bangga akan dirinya. Karena mereka telah merubah kehidupan Bone yang dulu kelam menjadi indah bagai taman lagit. Dia memang tak pernah ingin mengingat masa lalunya ketika ia masih berada di Portrait, tempat dimana dia diasuh sebelum mendapat kebebasan. Setiap hari ia hanya dikekang dan dipaksa untuk membersihkan seluruh rumah, ia juga diperlakukan seperti budak, memakan makanan sisa dari hewan peliaraan dan sama sekali tidak diberikan tempat yang layak dan nyaman untuk beristirahat. Huh........! memang mengharukan, tapi kini ia sudah melupakannya.

Lain halnya dengan Zeline dan Parker, mereka adalah anak kembar yang baru berusia 10 tahun. Perbedaan mereka sangat jauh. Zeline adalah laki-laki gagah yang berkulit putih, tinggi dan berwajah manis. Sedangkan Parker, ia memang tidak terlalu pendek, namun jauh lebih pendek dari Zeline, rambutnya keriting ikal seperti mie, dan anehnya ia berkulit hitam. Mungkin tidak cukup mengherankan jika orang tua mereka juga demkian. Hanya sayangnya tidak ada satu orangpun yang mengetahui siapa orang tua mereka. Sebuah hal yang mereka pikirkan saat ini adalah kenapa Mr. Dan Mrs. Adams lebih perhatian pada Franska, padahal mereka adalah anak yang paling kecil. Tak perduli dengan badai yang menerjang, bagai ombak yang bergulung-gulung menghempas batu karang, mereka tetap terus berusaha melakukan hal-hal baru yang cukup aneh dan memprihatinkan hanya untuk mendapatkan perhatian lebih dari Mr. Dan Mrs. Adams. Sering emang merasa heran, namun Zeline dan Parker tidak ingin menunjukkan rasa keingintahuan mereka, semenjak mereka mengetahui dan mampu memahami apa yang disebut dengan anak angkat. Mereka memang pemberani, fisik mereka kuat seperti para perompak, namun ada satu hewan yang paling mereka takuti, hewan itu adalah kera laba.

Satu lagi anggota MD (sebutan untuk Mom Devil), dia adalah Alizein. Untuk membicarakan orang yang tampan dan di puja banyak orang ini memang memerlukan kata-kata yang indah dan cocok untuk menyebut tentang sifat dan dirinya. Pria tampan bertubuh kekar dan berwajah manis ini dipandang sempurna oleh semua orang. Kulitnya nya putih dengan ada bekas luka didahinya. Namun badannya kurus tinggi semampai meski ia bertubuh kekar. Baginya bergabung dengan anggota MD itu sangat menyenangkan. Berpetualang untuk memperbanyak ilmu pengetahuan membuat Zein Lebih hebat mempergunakan sihirnya, dan mencintai Frans adalah anugrah terbesar baginya, bagaikan pungguk merindukun bulan, karena ia mencari sesuatu yang tak pasti, menunggu hati yang ia cari untuk mau bersinggah di hati nya, dan selalu berusaha melakukan yang yang terbaik sampai Frans bisa mengerti. Ia mahir dalam membuat kaca mata tembus pandang, yang bisa melihat sesuatu yang ada dibalik dinding hingga menyamai sejauh mata memandang. Mungkin itu juga yang membuat ia banyak tau tentang rahasia orang, karena ia selalu mengintip apa yang dilakukan mereka. Sesuatu yang baginya buruk adalah bukan mengerjakan hal-hal yang tadi, melainkan untuk mencari orang tua kandung nya adalah hal yang ia anggap konyol. Mendapat kasih sayang dari Mr. dan Mrs. Adams sudah cukup baginya untuk mendampingi petualangan hidupnya.
* * *

Die Poenya

Read More ......