Wednesday, September 30, 2009

1st Chapter

-

Adios, Amelia


“Ardith, aku tak setuju jika kau benar-benar berniat kuliah di London!”

Aku tak mengalihkan perhatianku dari Foie Grass yang ada di hadapanku. Mère mulai berbicara dengan cepat, bahasa Prancis yang digunakannya seakan mulai membakar telingaku. Aku kesal, bukan karena aku dianggap lebih mencintai Inggris dari pada Prancis tapi karena sikap Mère yang terlampau berlebihan kepadaku.

“Apa tepatnya yang membuatmu tak setuju Mère?” Aku masih mengiris Foi Grass-ku dengan gerakan-gerakan yang tak penting sebagai bentuk perwakilan emosiku. Seakan aku tak terlalu menanggapi apa yang sedang dibicarakan oleh Mère.

Rasanya mengesalkan sekali jika mengetahui kau masih diatur-atur oleh orang tua yang berpikiran terlalu kolot.

“Kukira itu sudah jelas Ardith! Aku sudah mendaftarkanmu ke Harvard, Oxford, bahkan Darmouth, dan kau lebih memilih University of London? Itu sulit dipercaya Ardith!”

Sejenak kulihat wajah Mère, dia menatapku tak percaya, seakan aku sudah melakukan hal besar yang bisa mencoreng nama keluarga. Padahal ia tak sadar kalau telah mengucapkan salah satu universitas di London.

Aku meletakan serbetku di atas meja makan, dan aku tahu Mère mendelik padaku. “Dan apa salahnya dengan itu Mère?” ujarku kesal.

Aku tahu kali ini aku sudah sedikit keterlaluan, bahkan Père sekalipun berhenti mengiris Foie Grass-nya. Menatapku dengan pandangan datar, Mère mulai terlihat marah, yeah aku tahu itu.

“Itu sekolah negri Ardith!” Mère memutar bola matanya, seakan mengucapkan kalimat itu menandakan dirinya gila telah mendengar anaknya akan masuk ke sebuah tempat yang mustahil.

Aku hanya menatapnya, mungkin sekarang wajahku terlihat sedatar Père, dan aku tak begitu peduli dengan perubahan wajah Mère ketika melihat wajahku yang berubah datar.

“Banyak orang miskin dan tak sederajat dengan kita disana.” Mère mulai menghela nafasnya dengan tak sabar. Entah sejak kapan topic mengenai ‘orang miskin’ menjadi bahan pembicaraannya di atas meja makan.

Aku tergelak, sungguh itu lucu untukku. Mère menatapku semakin kesal, aku sudah terlalu banyak melanggar menner dari tadi, termasuk tertawa di atas meja makan. Dan aku tahu Mère sangat tidak menyukai itu. Bahkan aku cukup tahu dengan jelas kalau ia tak akan menolerir pelanggaran aturan di kastil ini, atau bahkan dimanapun jika itu terjadi didepannya. Sekali lagi kukatakan ia itu kolot.

“Lalu apa? Kau tak berfikir akan ada kisah Cinderella disini kan Mère?” jawabku acuh.

Sesaat suasana ditempat itu menegang, senang rasanya mengetahui bagaimana efek kata-kataku pada mereka. Baik Mère dan Père menatapku dengan tajam, dan bisa kau bayangkan bagaimana Mère begitu marah karena aku sama sekali tak berniat mengerti apa yang sedang dibicarakannya.

“Jaga sikapmu Ardith!”

Mataku beralih kepada Père yang tak lagi memotong Foie Grass-nya dengan wajah datar. Dan memandangku, aku hanya mengangkat bahu tak memberikan jawaban apapun ataupun reaksi lainnya. Karena jika aku menunjukan sedikit saja perubahan sikap, maka aku akan berada dalam kondisi yang sangat tak baik. Ini menyangkut Père, dan segala hal yang menyangkut Père, artinya berbahaya.

“Apa alasanmu untuk menolak semua Universitas yang diajukan Mère-mu?” suara Père terdengar berwibawa, tentu saja. Bahkan aku tak melihatnya lepas kendali walaupun aku telah melakukan susuatu yang tidak pantas di meja makan. Manusia tanpa emosi! Mungkin itu lebih cocok untuknya.

“Aku butuh tantangan, sesuatu yang lain. Aku punya kehidupan sendiri yang bisa kuatur. Tentu aku paham sejarah keluarga ini, dan sampai kapanpun aku akan tetap mengingatnya. Tapi duniakukan tak sebatas yang kalian ciptakan.” Aku menatap Père, dengan keyakinan terhadap argumentasiku.

Père terlihat menimbang-nimbang jawabanku.

“Baiklah, aku mengijinkanmu.”

BRAK!

“Tidak!”

Aku memutar bola mataku, Mère memukul meja dengan keras. Bahkan ia tak lagi duduk dengan anggun di kursinya. Tapi aku tak peduli dengan apa yang dikatakan Mère selanjutnya. Kalimat-kalimat pertentangan yang hanya ditanggapi dengan singkat dan datar oleh Père seperti biasanya. Bagiku, persetujuan dari Père itu cukup.

***

“ ‘Tidak akan ada kisah Cinderella,’ eh?”

Aku mengangkat kepalaku enggan, dan dari atas tempat tidur aku bisa melihat Bellinda masuk dengan mengulum senyum. Biasanya aku selalu melihatnya pura-pura berlaku profesional dengan tak berbicara padaku selain urusan jadwal-jadwalku. Tapi terkadang hal-hal kecil sepertti ini bisa merubah kepribadiannya, itu sedikit membingungkan.

Aku kembali merebahkan kepalaku, memejamkan mataku dan membuat tubuhku nyaman di atas tempat tidurku. Bellinda bergerak maju, dan duduk di ujung tempat tidurku. Terkadang aku tak habis fikir bagaimana aku bisa menerima wanita berumur 28 tahun itu untuk duduk didekatku, padahal aku tak suka perempuan manapaun yang mencoba untuk mendekatiku.

“Aku suka pemilihan katamu.” Ia tergelak, suara tawa Bellinda terdengar renyah.

Aku masih tetap pada posisi awalku, sama sekali tak merubah posisiku meskipun suara tawa Bellinda memberitahuku kalau mungkin ia akan berbicara dengan santai padaku. Namun aku bahkan tak membuka mataku, apalagi berbicara untuk menanggapi kata-katanya.

Aku mengenal Bellinda, bahkan sejak umurku 5 tahun. Keluarganya sudah mengabdi pada keluarga Harcourt sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Keluarga Harcourt bahkan sudah menganggap mereka bagian dari Harcourt. Walau jelas, masih juga ada perbedaan yang jelas pada status social. Tak semudah itu bagi Harcourt untuk menaikan derajat pada pelayannya, seberapa lamanyapun mereka telah mengabdi untuk keluarga ini. Dan aku memahami itu dengan jelas, sehingga kadang aku bahkan tak peduli dengan para pelayanku, tak terkecuali Bellinda tentu saja.

“Jadi, kau sudah tahu kalau Seigneur mengirimkan Ford GT silver untukmu di London?” suara Bellinda terdengar acuh.

Aku membuka mataku, dan seakan bisa melihat mobil itu dihadapanku, mencoba untuk membayangkan detail body-nya.

“Keren, edisi terbatas dari Ford,” ujarku tanpa semangat. Tapi aku tahu Bellinda bisa mengetahui bagaimana tertariknya aku dengan mobil itu. Alasan menyenangkan menjadi seorang Harcourt, kau bisa memiliki apapun yang kau inginkan.

***

Lupakan perjalanan yang panjang antara Versailles menuju London. Bahkan Mère dan Père tak mau menginjakan kaki mereka di London, dengan segala alasan yang mereka punya tentu. Aku tahu mengapa mereka begitu membenci kota London, semua berhubungan dengan sejarah keluarga Harcourt. Jelas itu alasan Père, tapi bagi Mère tak ada alasan baginya menginjakan kaki ke London jika itu tak terlalu penting untuknya, ia terlalu mencinta Prancis, aku bisa mengerti dengan hal itu. Dan Aku? Oh tidak peduli, tidak ada alasan bagiku untuk peduli tentang kehadiran mereka disini sekalipun, karena setidaknya aku masih memiliki Bellinda.

Aku menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Dikamar yang bahkan tak pernah aku ingat. Yeah, itu salah satu rumah musim panas milik keluarga Harcourt, tapi yang aku ingat rumah ini hanya pernah digunakan selama dua kali musim panas. Pembuangan materi, istilah yang tepat mungkin. Lalu kenapa? Keluargaku memiliki kekayaan berlimpah, dan memiliki sejarah yang kelam dibalik kekayaan itu tentu saja. Dan rasanya, untuk hal tak penting seperti ini tak perlu dipermasalahkan.

Mataku memandang berkeliling, tidak buruk juga kamar ini. Aku suka putih dan seluruh interior kamar juga berwarna putih, kurasa Bellinda ikut campur dalam mengubah interior kamar ini. Baguslah, aku suka dengan daya pikirnya yang cakap tanggap.

“Mau kubawakan makan siang Ardith?”

Bellinda, dengan pakaiannya yang kasual—rasanya hampir setiap hari ia memang selalu memilih untuk berpakaian secara kasual—masuk kekamarku dan melipat kedua tangannya, berdiri didepanku. Aku hanya meliriknya sekilas, masih berbaring dengan menumpukan kepalaku dengan kedua tangan.

“Non, merci,” jawabku singkat, kembali memejamkan mata. Perjalanan dari Prancis itu cukup melelahkan.

Bellinda tak segera beranjak dari kamarku, aku kembali membuka mataku dan kini memutuskan untuk duduk tegak diatas tempat tidurku yang berseprai putih, dengan garis-garis putih biru pada selimutnya. Aku bahkan baru sadar kalau disebrang mejanya ada TV plasma 29” beserta perlengkapan audio lengkap. Ok, itu cool. Aku memandang Bellinda, dari balik kacamata bingkai putihnya, Bellinda balik memandangku.

“Apa?” tanyaku, meminta penjelasan mengapa ia masih juga berada disitu.

Bellinda tak mengatakan apapun, dan sebuah senyum terlukis diwajahnya. Sungguh, itu memuakkan. Maksudku tidak begitu buruk, hanya saja aku tidak terlalu suka jika ia tersenyum. Aku benci jika ia sudah melakukannya, karena hal-hal fomal yang menurutku konyol akan mulai ia lontarkan. Aku menunggu, dan Bellinda mulai mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul hitam. Tentu saja aku tahu buku apa itu.

“Menurut jadwal, kau harus mengikuti test kecil besok. Aku sudah mengurus semua yang kau butuhkan untuk University of London. Dan ku rasa aku pasti bisa mengantarmu jam sembilan tepat disana, jadi—”

“Kau tak akan kemana-mana Bellinda, setidaknya tidak denganku. Aku akan pergi sendiri.” Aku memotong kata-katanya.

Aku tak memmperdulikan tatapan Bellinda yang tampak terkejut oleh sikapku. Sama tak pedulinya aku dengan jadwal-jadwal yang sudah diaturnya untukku. Aku justru mengambil ponsel dari kantonng jins ku dan mulai mengetik-ngetik pesan.

“Tak bisa, aku sudah mengatur jadwal!”

“Dan aku tak peduli pada jadwalmu Bellinda, kau tahu itu.”

“Kau tak punya SIM.”

“Dan tentunya aku bisa mempercayakan hal remeh itu padamu bukan?”

Bellinda diam sejenak, ia tahu bahkan seberapa dekatnya ia denganku sekalipun ia akan tetap memposisikan dirinya sebagai pelayan. Memang begitu seharusnya, dan cukup senang mengetahui Bellinda sadar dengan posisinya. Aku meliriknya sekilas, dan dari sudut pandangku aku bisa melihat kalau Bellinda terlihat terluka. Itu membuatku merasa sedikit tak nyaman. Aku tahu, seharusnya tak seorang Harcourt-pun boleh merasakan hal itu untuk seorang pelayan. Tapi aku sudah mengenal Bellinda cukup lama, itu tentang 13 tahun hidupku.

Aku memutar bola mataku, duduk tegak, memandang wajahnya benar-benar kearah wajahnya. Bellinda adalah wanita berwajah pucat, dengan mata hijau dan wajah berbentuk hati. Rambutnya hitam panjang, sedikit bergelombang. Dan seperti setiap orang yang pernah mengahabiskan waktu-waktunya di kastil Harcourt, wajah Bellinda tampak tegas. Ia bijaksana, dan teratur. Sebagai seorang pelayan, ia sempurna.

Tanganku berhenti mengetik pesan pada ponselku. Bellinda menyadari bahwa aku sedang menatapnya. Namun wajahnya kembali terlihat tegas. Dengan agak sedikit canggung, ia membetulkan letak kacamata berbingkai putihnya.

“Aku khawatir—“ ujarnya lambat.

Aku membiarkannya berbicara, walau aku yakin aku pasti akan segera menyesalinya. Ini akan menjadi momen yang paling tidak menyenangkan sepanjang sisa siang ini. Bagian-bagian dramatis atau melankolis bukanlah hal yang menyenangkan untukku. Opsi lain yang bisa kupilih adalah pergi meninggalkan Bellinda di kamar itu, dan membiarkan ia mulai mengeluh pada tiang tempat tidur. Tapi aku bergeming, karena sebuah alasan bodoh yang bisa aku terima. Sekali lagi, ini adalah tentang 13 tahun hidupku.

“Aku tak bisa meninggalkanmu, ini London dan aku punya tanggung jawab terhadap hampir seluruh hidupmu. Aku tak ingin mengatakan bahwa London mungkin akan lebih keras dari Paris—maksudku, aku tak ingin menemui mu di kantor polisi karena tersesat. Aku menyayangimu hingga aku tak bisa untuk melepasmu.” Ia mengakhiri kalimatnya yang panjang-panjang. Wajahnya tetap datar walau dengan baik tersimpan kekhawatiran disana.

Wajahku masih datar, aku tahu itu. Sekali lagi, ini memang tentang 13 tahun kehidupanku, tapi aku tak akan repot-repot untuk mencoba bertahan tetap mendengarkan Bellinda dengan baik agar wanita itu senang. Aku cukup muak untuk mendengar kata-kata melankolis lainnya yang bisa ia lontarkan. Jadi sebelum aku benar-benar harus mendengarkannya, aku tahu kalau perbincangan ini harus segera dihentikan.

“Aku tak peduli tentang kekhawatiranmu padaku Bellinda. Dan kau perlu tahu, kau telah menghinaku dengan kalimatmu itu. Jadi, aku tak ingin mendengarmu mengatakan apapun lagi padaku. Pergi dari sini, dan bereskan masalah SIM-ku segera!” aku mendengar suaraku tegas dan keras, lebih dari pada yang bisa aku bayangkan.

Itu memang benar, Bellinda telah menghinaku, seorang Harcourt. Apa maksudnya dengan ‘mencintaiku’, ‘tak ingin melepaskanku’, ‘London terlalu keras untukku’, dan lain-lainnya. Membuatku merasa seperti anak perempuan berusia 10 tahun? Bellinda seharusnya menyesal telah mengatakan hal itu padaku. Bahkan ia sebenarnya tak punya hubungan apapun denganku, hanya karena ia telah mengasuhku selama 13 tahun tak berarti ia bias mengaturku, statusnya masih pelayanku.

Bellinda tahu tentang semua sifatku, bagaimana aku begitu keras. Ia tak tampak tersinggung dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Ia justru terkejut, dan benar-benar mengerti telah melakukan kesalahan. Sebuah kesalahan besar kurasa. Ia menatapku sesaat sebelum berbalik menuju pintu kamarku, dan tanpa mengatakan apapun lagi ia menghilang dibalik pintu kamarku.

Aku menghela nafasku, dan kembali meraih ponselku, mulai mengetik-ngetik pesan lagi. Rasanya aku butuh penyegaran apa lagi kata-kata Bellinda yang telah membuatku mual. Jariku sudah terarah menuju tombol “OK”, dan dalam sekejap saja pesan itu telah terkirim. Aku melempar ponselku ke sisi tempat tidur dan kembali berbaring.

To: My Candies
Hi! Aku sudah berada di London. Kutunggu kau jam 15.00 di taman Warren St.

***

Ford GT Silverku berbelok di Kingsway. Dari jauh aku bisa melihat bangunan putih yang akan menjadi kampusku nanti. Beberapa orang yang dilewati oleh mobil ini tampak kagum, tentu saja Ford GT mobil Sport terbatas, dan aku tahu tak semua orang bisa memilikinya. Lagi pula apa peduliku mengenai mereka?

“This is cool, Ardith benar-benar cool!” Candies meraba dasbor dan turun hingga menyentuh radio.

Aku memutar bola mataku, mengherankan sekali, bahwa salah satu anggota keluarga Harcourt berkata seperti itu, dan menatap barang yang bahkan bisa dimilikinya dengan pandangan memuja.

Candies sepupuku, ia keponakan Père, ibunya—Cyrene adalah anggota keluarga Harcourt yang diusir. Keluarga Harcourt tak diijinkan bergaul dengan kalangan bawah. Namun itu yang terjadi pada Cyrene. Ia memilih orang yang salah , manusia dari kalangan bawah dan merupakan seorang dokter miskin. Aku ingat, bagaimana keluarga Harcourt mencelanya, karena akhirnya setelah 10 tahun, Cyrene kembali membawa kedua anaknya di pesta ulang tahun Grandmère. Dan pada hari yang sama, akhirnya Cyrene kembali diakui, termasuk kedua anaknya. Tentu saja itu tak berlaku untuk suaminya yang sama sekali tak pantas berada bersama para keluarga Harcourt.

“Sejujurnya, aku kaget mendapat SMS darimu tadi siang,” Candies memandang jendela.

Aku tak tahu bagaimana ekspresinya. Namun kemudian ia berbalilk menatapku. Dan seprti yang aku tahu, Candies selalu tersenyum, lembut dan hangat, itu yang selalu membuat aku nyaman berada didekatnya. Aku mencengkram stir lebih kuat, angin berhembus melewati rambut Candies, membawa harum leci padaku, parfum yang selalu digunakannya.

“Apa yang membuarmu berfikir untuk pindah ke London Ardith? Pastinya Eglantine dan Gaylord tidak menginginkan itu bukan?”

Aku tahu Candies masih menatapku, tapi aku tak ingin memandangnya, mataku terpaku pada jalan lurus si Kingsway, semakin mendekati London School of Economic—LSE.

Candies tak perlu tahu alasanku sebenarnya. Aku tak ingin memberitahu ia bahwa aku masuk ke universitas yang sama dengannya justru karena ia berada didalamnya. Aku mengejarnya hingga ke London adalah hal yang paling bodoh, tapi aku tetap melakukannya. Hanya saja lebih baik Candies tak perlu tahu hal itu.

“Aku tak perlu menjawabnya!” ujarku singkat.

Samar aku mendengar Candies bergeser di tempat duduknya dari sudut mataku aku melihat Candies kembali memandang hal-hal ak menarik dari jendela mobil yang terbuka.
“Lucu, kau berbicara bahasa Inggris. Aku jarang mendengar keluarga Harcourt menggunakan bahasa Inggris.” Candies tertawa, sangat samar tapi aku bisa mendengarnya. “Apapun alasanmu, pasti itu sangat penting bukan?”

Tak ada yang lebih penting darimu, aku sadar itu! Karena itulah aku berada disini, meskipun betapa sulitnya aku memperjuangkan pilihan ini. Tapi bahkan walau itu sulit sekalipun, aku tak pernah berniat untuk pergi dan melapaskanmu begitu saja, sebagian diriku sadar bahwa mungkin baik Père ataupun Mère tak akan setuju alasanku ke London jika mereka mengetahuinya. Tapi aku tak akan menyerah, bukankah memang seperti itu yang harus aku pertahankan?

“Besok aku ada tes,” ujarku, memberi tahu.

Entah mengapa keinginan itu muncul begitu saja, memberitahu Candies bahwa kini aku akan menjejaki dunia yang sama dengannya. Candies berbalik, begitu cepat, mata coklatnya memandangku dengan begitu terkejut, aku menoleh, balas memandangnya dengan wajah datar. Candies kembali menggeser posisinya berhadapan denganku dari kursi disebelahku.

“Ujian di awal masuk? Kau mau kuliah dimana?” tanyanya hati-hati.

“LSE” ujarku cepat, kembali memfokuskan penglihatanku pada jalan didepanku.

“Waw! Itu kejutan! Aku juga sekolah disana.” Suara Candies terdengar riang.

Aku hampir tertawa, justru karena ia berada disana aku memilih tempat itu. Tapi alih-alih tertawa aku hanya terbatuk samar, bersikap seakan-akan tak begitu peduli dengan apa yang baru saja dikatakannya beserta dengan keterkejutannya.

“Kau bisa berangkat bersamaku kalau begitu,” ucapku terdengar acuh.

Jelas aku tak pernah mengajak siapapun untuk bisa pergi bersamaku, terlebih lagi dengan gadis didepanku ini, itu memalukan, tapi harus kuakui aku merasa sedikit aneh dan tak nyaman. Rasanya ketidak pedulianku jadi terasa begitu samar dan kepura-puraanku jadi begitu terasa nyata.

Ford GT ku berbelok di Houghton St, melewati LSE, dan masih terus melaju.

“Tidak, aku ingin tinggal di asrama tahun ini, keluargaku pindah ke Liverpool, Dad mendapatkan panggilan disana.”

Tanganku semakin mencengkram kemudi dengan kuat. Rasnya sulit dipercaya jika aku harus mendengar sebuah penolakan, seingatku dalam kehidupanku yang nyaris sempurna aku tak pernah dihadapkan kepada sebuah penolakan, baik dari siapapun itu. Layaknya seorang tuan muda, mungkin. Namun aku tetap memasang wajah datarku, Ford GT silver-ku kini melewati taman, tapi aku masih terus mengemudi, bahkan semakin menambah kecepatan laju mobilku.

“Kau bisa inggal ditempatku kalau kau mau—maksudku, kau juga seorang Harcourt.” Aku melirik perubahan ekspresi diwajah Candies dari ujung mataku, tapi aku malah melihatnya tersenyum padaku.

“Tidak bisa Ardith, bagaimanapun juga itu tak pantas.”

Wajahku mengeras, itu jawaban yang sedikit tak kuharapkan.

“Ada Bellinda, dan beberapa pelayan. Lagipula kau—sepupuku.” Aku menekankan gigiku saat mengucapkan kata-kata terakhir. Rasanya aneh dan sebagian diriku tak bisa menerimanya, aku hampir tak pernah menggapnya seorang sepupu.

Candies menggeleng pelan, seakan ia baru saja mendengar sebuah kesalahan dalam kata-kataku, seakan aku mengatakan sesuatu yang membuatnya tak percaya. “Tidak Ardith, tidak. Aku tetap tak bias. Terutama Bellinda, oh kau pasti tahu bagaimana bagian dari Harcourt begitu merendahkan keluarga—”

“Dia bukan anggota Harcourt, Candies!” Aku menggertakan gigiku, menahan amarah.

Bagaimana Candies bisa berfikir bahwa Bellinda termasuk bagian dari keluaraga Harcourt! Itu bisa dibilang penghinaan! seharusnya Candies-pun tahu kalau bahkan keluarga Harcourt begitu membenci orang-orang yang tak sederajat dari mereka, tidakkah ia di beritahu oleh Cyrene tentang sejarah keluarga ini? Seharusnya ia tak boleh mengatakan hal itu. Aku tak bisa bayangkan bagaimana kalau Grandpère dan Grandmère mendengarnya. Kurasa Candies akan benar-benar dipaksa untuk mempelajari lagi sejarah Harcourt, tentang alasan-alasan bagaiamana keluarga ini begitu memperjelas status social mereka.

“Bahkan mau tak mau, Dia seharusnya bisa menghormatimu Candies!” lanjutku, masih terdengar marah.

Aku bisa merasakan ketegangan dari tubuh Candies, ia takut, takut karena aku marah padanya. Namun, tak berapa lama ia mulai menguasai dirinya, dan menyentuh tanganku dengan lembut. Aku tak menggubrisnya, dan memandang lurus-lurus ke depan, ke arah yang sedikit berliku. Membiarkan Candies semakin merasa bahwa dirinya salah, dan ia memang salah.

“Tidak-tidak, aku masih menyanjung tinggi drajat mereka Ardith. Menghormatinya.” Candies, dengan suaranya yang terdengar lembut tampaknya tengah berusaha untuk meredakan amarahku.

Ia masih menyentuh lenganku, aku tak ingin berdebat dengannya hari ini, jadi aku hanya diam tak menanggapi kata-katanya dan membiarkan sisa perjalanan itu dealam hening.

***

Ini hari yang cerah, setidaknya itu yang dikatakan Bellinda saat aku bahkan baru menyendokan supku ke mulut. Tapi aku tak terlalu peduli dengan semua kata-katanya tentang cuaca hari ini, lagi pula Ia juga memang tak berbicara padaku. Saat ini pukul 07.30 malam, dan aku tengah duduk di sebuah meja makan panjang yang memiliki delapan bangku. Makan malamku, tak berbeda dengan ketika berada di kastil Harcourt—aku tak melebih-lebihkan kastil itu, keluarga Harcourt memang tinggal dikastil besar, kuno—tak terkecuali menunya, menu makan malam yang lengkap. Bellinda menyiapkan makanan Prancis seperti yang biasa aku santap. Dan seperti halnya di Prancis, Bellinda tak makan satu meja denganku. Seberapa dekatnya pun kami, ia akan tetap makan setelah aku makan, dan selama itu, ia akan berdiri tak kurang satu meter dariku untuk mengatur menu yang ada di hadapanku. Aneh rasanya memakan makan malam dengan menu lengkap seorang diri.

Akhirnya aku selesai memakan dessertkju, sebuah pudding caramel dengan vla coklat, aku menyukai makanan manis dan Bellinda selalu tersenyum jika mengingat itu. Aku tak peduli tentang apa penilaiannya terhadap makanan kesukaanku, bahkan aku tak peduli dengan seluruh hidup yang dijalani Bellinda. Ia hanya seorang pelayan, tentu aku mengingat hal itu, dan dari kecil aku telah diajarkan untuk mengingat status social yng aku miliki, yang artinya adalah, bahwa aku harus tahu kalau Bellinda hanyalah seorang pelayang yang tak memiliki sesuatu yang harus aku perdulikan.

Setelah makan malam, aku tak ingin melakukan apapun, kecuali duduk di tepi tempat tidur, dan menyenderkan tubuhku dikepala tempat tidur. Kusumbat telingaku dengan earphone, dan discmanku memperdengarkan kumpulan lagu-lagu Linkin Park. Aku bersenandung pelan, mataku terkonsentrasi penuh dengan buku yang aku pegang ditangan kanan, dan mengangkatnya sejajar dengan wajahku. Mataku menyusuri setiap baris dari buku itu, besok ada tes kecil sebelum benar-benar akan memeluai kehidupan kuliahku.

Beberapa saat berlalu, dan aku dapat mendengar suara ketukan pelan di pintu. Aku tak mengalihkan perhatianku dari buku yang berisikan kumpulan soal yang tengah aku baca, namun aku bergumam pelan untuk mempersilahkan siapapun yang berada dibalik pintu kamarku itu untuk masuk. Tanpa membuka pintupun aku rasa aku sudah tahu siapa yang berada dibalik pintu itu. Dan seperti dugaanku, Bellinda masuk dengan pakaian kasualnya yang biasa, kali ini dengan rok hitam selutut dengan haris abu-abu tipis dan kemeja hitam berkerah tinggi. Aku pikir ia lebih cocok bekerja di pemakaman disbanding menjadi seorang asisten pribadi.

“Aku sudah menyiapkan seluruh perlengkapan yang kau butuhkan, aku juga sudah mengurus SIM-mu.” Bellinda berdiri kaku dihadapanku.

Aku meliriknya sekilas, sebelum kembali masuk kedalam kosentrasiku lagi. Dan tak berapa lama, aku bisa mendengar langkah kaki Bellinda, meninggalkan kamar itu, dan menutup pintunya.

***


1st Chapter oleh Zahrina Noorputeri

Read More ......

Tuesday, September 29, 2009

Awal dari Akhir

-

BAB 1
AWAL DARI AKHIR

“AWASSSS!!!!!”

Hanya itu yang bisa Jiya teriakkan bersama beberapa orang yang berada di sekitarnya pada Tris, putri bosnya, yang tiba-tiba saja berlari ke tengah jalan raya untuk mengambil bola basketnya yang tergelincir dari tangannya. Kalau saja Jiya tidak segera berlari untuk menarik Tris, saat ini dia pasti sudah terlindas mobil yang saat itu sedang melintas.

Dengan bantuan orang-orang, Jiya berdiri—dia terjerembab ke pinggir jalan raya dengan Tris di pelukannya—dan kemudian berusaha menenangkan Tris yang menangis ketakutan. Dengan wajah amat cemas dia berusaha membuat Tris diam, karena tangisnya makin lama makin keras. Orang-orang mengerumuni mereka, menanyakan apa dia dan Tris baik-baik saja.

“Kau tida apa-apa, Tris?” tanya Jiya, sambil mengusap-usap punggungnya. Baju seragam sekolahnya kotor karena debu.

“Takuu...uutttt... Tante,” isak Tris sesenggukan, sambil memeluk erat bola basketnya. Kedua pipinya basah karena air mata.

Lea meneliti tubuh kecil Tris dengan teliti, apakah ada luka atau tidak. Dia mengembuskan napas lega saat tidak menemukan satupun luka pun di tubuhnya. Tergores pun tidak.

“Mbak, Mbak harus ke klinik tuh,” cetus seorang wanita yang berada di sebelah Jiya. “Siku Mbak berdarah.”

Jiya melepaskan pelukannya dan segera melihat sikunya yang memang terasa perih.

“Cuma luka lecet,” katanya, setelah melihat lukanya. Dia mendongak ke arah si wanita dan tersenyum, “Terima kasih,” ucapnya.

“Untung banget ya. Kalau nggak, anak itu pasti...”

“Namanya juga anak-anak...”

“Aduh, ngeri banget melihatnya tadi...”

Orang-orang berbisik dan berkasak-kusuk di sekeliling mereka. Jiya cepat-cepat menggendong Tris, hendak membawanya segera meninggalkan tempat itu.

“Kita pulang ya, Sayang,” kata Jiya, berbisik lembut di telinga Tris yang masih terisak pelan.

Dia mengangguk dan meletakkan kepalanya di bahu Jiya.
Jiya mengucapkan terima kasih buru-buru pada semua orang yang telah membantunya, dan baru saja beranjak pergi saat seorang pria berkata padanya dengan nada cemas.

“Kalian berdua tidak apa-apa, kan?”

Jiya hanya tersenyum dan buru-buru menyahut, “Ya, kami berdua baik-baik saja.”

“Maaf, saya tidak melihat...”

“Bukan salah Anda. Maaf saya harus cepat-cepat. Permisi,” sela Jiya cepat-cepat, tanpa melihat jelas wajah pria itu. Dia, seraya menggendong Tris, menghentikan taksi yang kebetulan melintas dan naik ke atasnya.

Pikiran Jiya kacau, memikirkan reaksi Nirmala, ibu Tris dan juga bosnya, bila mengetahui kejadian itu nanti. Dia pasti akan sangat kesal dan mencecarnya dengan seribu macam kesalahan yang bisa ditemukannya dalam pekerjaannya. Lalu, dia, tentu saja, akan bercerita pada Bram, bosnya yang satu lagi, yang adalah suami dan juga ayah Tris, yang juga akan cemberut padanya dan tidak akan menegurnya selama satu hari penuh. Tris, meskipun tidak terluka, tampaknya agak terguncang, karena sepanjang perjalanan menuju kantor orang tuanya, dia diam saja. Bergelung di dalam pelukan Jiya.

Memang kau ada dimana waktu itu?” tanya Nirmala dengan nada sinisnya yang khas, begitu Jiya menceritakan insiden tersebut. Tris kini berada di pangkuannya, menyandarkan kepala di bahunya.

“Tentu saja bersama Tris, Mbak,” kata Jiya. Dia berusaha sekali untuk tidak kelihatan tersinggung dengan pertanyaan Nirmala barusan—seolah saja dia membiarkan anaknya keluyuran sendiri. “Saya tidak pernah ninggalin dia, kok.”

“Tapi, aneh aja. Kok bisa Tris lari ke tengah jalan,” tukas Nirmala. Dia tidak melihat pada Jiya, sehingga tidak melihatnya membeliakan mata.

“Bolanya tiba-tiba jatuh, dan dia langsung lari mengejarnya. Dan saya tidak menyangka dia melakukan itu,” kata Jiya, membela diri. Dia kesal sekali, karena Nirmala terang-terangan menyalahkannya atas sesuatu yang seratus persen bukan kesalahannya. Apalagi sebenarnya dia bukan pengasuh anaknya.

“Oke. Saya hanya mau tanya itu saja, kok. Thank you.”

Saat Jiya kembali ke meja kerjanya—dia adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan marketing communication—Dani, teman sekantor dan juga sahabatnya, sedang duduk di atas mejanya. Seringai lebar terhias di wajahnya yang bulat. Rambut hitam lurusnya menutupi sebagian dahinya.

“Kena omel?” tanyanya, begitu Jiya duduk di kursinya.

“Kena sindir lebih tepatnya,” sahutnya jengkel. Dia kembali melihat sikunya yang lecet, dan membungkuk untuk melihat kaki belakangnya yang terluka gores. “Dia bahkan tidak peduli dengan lukaku.”

Dani tertawa. Dia menyodorkan kotak P3K di sebelahnya, yang tidak dilihat Jiya sama sekali. “Beri Betadine dulu.”

“Yap. Sebaiknya begitu,” timpal Jiya, mengembuskan napas perlahan.
Dani baru saja akan bicara, ketika tiba-tiba terdengar Nirmala berseru dari dalam ruangannya, memanggil Jiya.

“Sore ini, aku pasti akan sibuk sekali,” kata Jiya getir, membelalakan mata pada Dani, yang hanya bisa terkekeh. Dia bangkit dari kursinya, “Wish me luck,” pintanya dan segera berjalan tertatih-tatih menuju ruangan Nirmala.

Benar saja dugaan Jiya, kalau Nirmala akan menjadikannya bulan-bulanan sore itu. Dia terus menegur Jiya dengan kesalahan-kesalahan yang bisa dia temukan. Seperti berita acara untuk klien yang belum selesai dikerjakannya, gelas di meja Nirmala dan Bram yang belum sempat digantinya, beberapa email yang belum dikirimkannya, lantai ruangannya yang kotor, jendela ruangannya yang berdebu, dan hal-hal lain yang makin lama kedengaran semakin mengada-ada. Untungnya, Bram sedang rapat di luar, sehingga Jiya tidak perlu melihat wajah cemberutnya. Tapi, dia yakin kalau Nirmala pasti sudah memberitahunya. Suami istri itu memang sangat kompak dan cepat dalam hal ‘marketing dan komunikasi’.

“Lantai ruangan kotor, aku yang disuruh nyapu. Ngelap kaca,... memangnya kerjaanku merangkap office boy?” gerutu Lea pada Dani yang berjalan di sebelahnya. Mereka baru saja keluar dari mall, sepulang membelikan kado ulang tahun untuk pacar Dani. “Kalau begitu pecat saja Mas Kirman, biar aku yang gantikan,” katanya lagi, sementara Dani hanya bisa terkekeh. “Dan bagaimana aku bisa menyelesaikan semua pekerjaanku, kalau aku juga harus selalu menyediakan waktu untuk ngurus anaknya? Sebenarnya aku ini nanny—pengasuh, atau sekretaris?”

“Kenapa kau tidak mengundurkan diri saja?” tanya Dani, “Daripada kau stres. It’s been two years.”—Ini sudah dua tahun. “Dan mereka tetap memperlakukanmu seperti itu.”

“Aku butuh uangnya,” kata Jiya lemah, memandang kosong ke arah depan. Menatap punggung orang-orang yang berjalan di depan mereka, menyusuri trotoar yang padat.

“Cari kerja lagi. Yang lebih baik.”

“Aku malas. Lagipula siapa yang mau menerimaku?”
Dani menghela napas dan menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya menghadap Jiya yang juga melakukan hal yang sama. Orang-orang yang berjalan di belakang mereka, terpaksa berbelok untuk menghindari mereka.

“Kau terlalu meremehkan diri sendiri, Jiya,” kata Dani, menatap mata Jiya lekat-lekat.

“Aku tidak mengerti kenapa pikiranmu sangat dangkal bila menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan dirimu.”

“Bukannya begitu, aku hanya ingin bersikap realistis,” sanggah Jiya, seraya mengangkat bahunya. Mendongak menatap Dani yang memang lebih tinggi darinya.

“Bagiku kedengaran pesimis.”

Jiya mengembuskan napas, sambil memutar kedua matanya ke atas, dan kembali berjalan. “Ayolah, Dan. Aku hanya lulusan SMU, meskipun aku pernah berkuliah tiga tahun yang akhirnya putus di tengah jalan. Mana ada lagi perusahaan yang mau memekerjakan secara profesional lulusan SMU seperti aku? Jujur, bekerja di perusahaan sekarang... merupakan keberuntungan untukku,” kata Jiya. “Meskipun gajinya tidak seberapa, tapi, aku hidup. Dan I love my job!

No, you don’t,” sergah Dani cepat-cepat seraya menggelengkan kepalanya sambil merendenginya, “Kalau kau cinta pekerjaanmu, kau tidak akan mengeluh setiap pulang kerja. Kau akan ceria saat berangkat ke kantor di pagi hari. Yang aku perhatikan, ekspresimu selalu cemas, dan kau langsung panik begitu tahu bos-bos datang. You freak out.”—Kau ketakutan.

“Aku... tidak begitu,” sangkal Jiya ragu-ragu. Dalam hati dia membenarkan kata-kata Dani. Karena memang itulah yang dia rasakan setiap hari di kantor. Pulang kerja, dia akan mengeluhkan berbagai hal mengenai pekerjaan dan sikap bosnya. Seakan topik tersebut tidak pernah ada habisnya.

“Belum lagi, kau harus tiap hari menjemput Tris. Kau benar-benar ... dalam situasi berbahaya,” Dani melanjutkan komentarnya, “Karena bila terjadi apa-apa dengan anak itu, mereka akan mengacungkan telunjuk ke dirimu, menyalahkanmu. Seperti tadi.”

“Itu bukan seratus persen salahku. Aku kan hanya menjemput! Selebihnya bukan urusanku,” bantah Jiya, mendelik jengkel.

“Nah! Kalau begitu, kenapa kau sok jadi sukarelawan? Orang tuanya saja tidak peduli. Di kantor siapa yang peduli selain kau?”

Mata Jiya membulat, dia memandang Dani dengan pandangan bingung, “Kalau itu... aku hanya kasihan.”

“Kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri dulu, Jiya?”

“Aku hanya... Tris anak kecil. Dia tidak salah kan?”

Dani menaikkan sebelah alisnya. “Rasa kasihan adalah kelemahanmu yang paling besar.

Kau membuat semua orang mudah merendahkanmu.”

Jiya mengangkat bahu, “Mungkin memang begitu,” timpalnya menerawang.

“Bagaimana dengan hubunganmu dengan Sebastian?” Dani mengganti topik bicara.

“Baik-baik saja?”

“Kelihatannya begitu,” jawab Jiya, mendengus tersenyum.

“Kau kedengarannya tidak yakin.”

“Itu karena, ya,... aku dan dia sibuk belakangan ini dan kami jarang ketemu, hanya menelepon. Tapi...” Jiya mengangguk-anggukan kepala. “Kami baik-baik saja—aku rasa.”

“Ya. Aku hanya memastikan kehidupan cintamu tidak sama menyedihkannya dengan pekerjaanmu.” kata Dani terkekeh.

“Kami sudah empat tahun pacaran,” kata Jiya, “Sudah sering mengalami hal-hal aneh. Jadi, yah... we’re okay.”

Dani berhenti dan memandang Jiya, “Kalau saja aku bukan gay, aku akan menjadikanmu pacarku.” Jiya tersenyum lebar dan menggelengkan kepala. “Kau cewek baik. Kau berhak mendapatkan yang terbaik.”

“Thanks,” gumam Jiya penuh terima kasih. “Kata-katamu... berarti sekali untukku.”

Dani tertawa kecil, kemudian menghela napasnya kembali, memandang ke arah jalan raya yang ramai. “Kalau begitu, bye. See you tomorrow,” katanya berpamitan. “Perlu kupanggilkan taksi?”

Jiya menggeleng buru-buru, “Tidak usah. Kau lebih baik cepat pergi, biar tidak terlambat.” katanya, melempar cengir lebar.

Dani balas nyengir, lalu mengecup pipi Jiya dan melambaikan tangan, melanjutkan berjalan, sementara Jiya masih diam di tempatnya, memandangi punggung Dani yang bergerak menjauh. Kemudian terpikir olehnya untuk menelepon Sebastian. Hanya ingin mengetahui keadaannya. Sudah dua hari dia tidak berjumpa atau meneleponnya. Dan Sebastian sebaliknya.

“Halo,” sapa Jiya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya, begitu Sebastian menjawab.

Halo, Jiya,” sahutnya dari seberang. Kelihatannya dia sedang berada di jalan raya, karena terdengar bunyi klakson mobil beberapa kali di belakangnya.

“Hai. Aku hanya ingin tahu kabarmu,” kata Jiya, sambil menjulurkan kepala melihat kalau-kalau ada taksi kosong lewat.

Oh. Aku baik. Hanya agak sibuk. Aku ingin menelepon tapi aku takut kau juga sibuk.

“Ya.. Kita berdua sibuk,” kata Jiya tertawa, “Aku sampai lupa meneleponmu. Sori.”

Tidak apa-apa. Aku ngerti,” sahut Sebastian buru-buru.

“Kita bisa ketemu malam ini?” tanya Jiya, seraya mengeratkan tali tas di pundaknya.

“Ummm... Kayanya nggak,” jawab Sebastian ragu. Jiya langsung mengernyit kecewa. “Aku ada meeting dengan klien di restoran. Agak penting dan...”

“Hei. Tidak apa-apa kok. Besok kalau begitu?”

“Besok....? Oke,” kata Sebastian, tertawa pelan.

“Besok kalau begitu.” gumam Jiya senang.

“Oke. Maaf, Jiya. Aku harus tutup teleponnya, aku sudah sampai di restoran,” Sebastian memberitahunya. Jiya menganggukan kepala dan mengatakan “Oke” dan dia segera menutup teleponnya.

Jiya mendengus tersenyum, dan sambil memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam tas, dia bergumam berulang-ulang, “We’re okay. We’re all okay,” sambil melihat ke arah jalan lagi, menanti taksi lewat. Hari sudah gelap dan gerimis kecil mulai turun, membuatnya agak menggigil. Namun, sejenak kemudian, dia tertegun. Matanya terpaku ke seberang jalan. Tepatnya ke seorang pria yang baru saja keluar dari mobil sedan hitam, yang terparkir di halaman sebuah restoran di seberang jalan.

Jiya tersenyum. Hatinya selalu merasa gembira kapan pun melihat Sebastian. Dia mendadak merasa sangat rindu padanya dan berpikir untuk melihatnya sebentar. Dengan mantap dia menyeberang dan dengan setengah berlari masuk ke halaman restoran itu.
Dia pakai jas. Pasti pertemuan penting sekali. Tidak usah masuk. Lihat saja dari kaca, gumam Jiya dalam hati, sambil terus melangkah. Gerimis semakin deras membuat tubuhnya basah. Namun dia tidak peduli. Toh, aku bawa payung, pikirnya.

Tidak seperti orang-orang yang bergerak masuk melalui pintu restoran tersebut, Jiya memlilih untuk berdiri di depan kaca besar yang dapat melihat tembus ke dalam. Dia mencari-cari sosok Sebastian dan langsung tertegun begitu menemukannya.

Sebastian sedang berbicara dengan seorang wanita sangat cantik yang duduk tepat di sebelahnya, mengenakan gaun hitam bertali satu yang memamerkan pundaknya yang kecil dan mulus. Mereka duduk bersama beberapa orang lain yang hanya terlihat punggungnya saja, mengitari meja bundar besar dengan beberapa piring makanan berada di depannya. Sebastian dan wanita itu terlihat akrab dan bahagia. Bahu mereka bersentuhan, dan mereka saling bertatapan penuh arti, membuat kepala Jiya panas dan tubuhnya gemetar. Kakinya terasa beku, tidak bisa dirasakannya lagi. Hujan yang turun semakin deras pun tidak dirasakannya. Jiya tidak tahu apa perasaannya saat ini. Apakah marah, sedih atau apa? Yang dia lakukan hanya bisa tertegun melihat pemandangan di balik kaca di depannya.

Jiya memejamkan kedua matanya sejenak, dan air mata meluncur turun ke pipinya. Dia menundukkan kepala, merogohkan tangan ke dalam tas, mencari telepon genggamnya. Dia menekan salah satu tombolnya sekali, kemudian menempelkannya ke telinganya.

Menunggu sambil terus memperhatikan Sebastian yang kini sedang berbicara melalui telepon genggamnya.

“Halo,” sapanya dengan suara agak pelan. Sementara suara orang bicara di belakangnya terdengar keras.

“Kau dimana?” tanya Jiya, tanpa melepas pandangannya dari balik kaca.

“Aku sedang bersama klien,” jawab Sebastian cepat-cepat. Jiya melihat dia menyembunyikan wajahnya saat mengatakan itu, “Aku sibuk. Nanti aku telepon kembali.”

“Aku di luar. Melihatmu,” kata Jiya dingin. “Siapa wanita itu?”

Mendadak Sebastian menengadahkan wajahnya ke arah kaca di mana Jiya sedang memandangnya. Wajahnya langsung pucat.

“Aku tunggu penjelasanmu malam ini. Aku akan ada di flatku,” kata Jiya lagi, lalu mengakhiri teleponnya. Setelah itu tanpa melihat ke arah Sebastian lagi, dia memutar tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

Hujan turun lebih lebat dari sebelumnya, membuat badannya basah kuyup. Tapi dia tampaknya sudah tidak peduli lagi, dia juga tidak menghiraukan pandangan semua orang yang melihatnya berjalan menyeberangi jalan raya dan berjalan menyusuri trotoar dengan tatapan kosong, seperti layaknya mayat hidup. Dia masih bengong sampai akhirnya dia memutuskan untuk berteduh di emperan toko yang telah tutup. Bersandar di trolinya yang tertutup, dan merosot ke bawah, berjongkok sambil mengapit tasnya. Di sana dia menangis terisak-isak.

***

Sebastian datang saat jam di dinding ruang tamu Jiya menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit. Dan Jiya baru saja keluar dari kamar mandi dengan seluruh kulit kaki dan tangannya kisut karena terlalu lama berendam. Begitu sampai di flatnya tadi, tanpa melepas pakaiannya dulu, dia langsung berlari ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan shower, membiarkannya menggenang sampai memenuhi bath tub. Sempat tergoda untuk menenggelamkan diri, tapi cepat-cepat di tepisnya, kemudian menangis sekeras-kerasnya sampai puas.

Tidak ada satu pun yang mulai bicara. Sebastian hanya duduk termenung di sofa ruang tamu, menatap ke arah televisi yang sedang menayangkan acara entah apa, yang bahkan tidak ditontonnya sama sekali, sementara Jiya berada di dapur memasak makan malam. Kedua matanya merah dan bengkak akibat kebanyakan menangis.

Akhirnya setengah jam kemudian saat Jiya berdiri bengong di depan meja dapur—dia sudah selesai memasak lima belas menit yang lalu—Sebastian berjalan perlahan ke arahnya—dia sudah melepas jas hitam yang dipakainya saat baru saja datang dan telah merenggangkan tali dasinya—kemudian berhenti tepat di depan meja makan, berdiri beberapa kaki dari tempat Jiya berdiri.

“Bisakah kita duduk? Di sini?” tanyanya, sambil mengedikkan kepala ke arah kursi makan di belakangnya.

“Kau saja yang duduk. Aku lebih nyaman berdiri di sini,” sahut Jiya dingin.

Sebastian mengangguk, perlahan menarik kursi, duduk dan menundukkan kepalanya, melihat lantai keramik di bawahnya. Jiya memerhatikannya, menunggunya mengatakan sesuatu. Sejenak kemudian Sebastian mendongak, menatapnya dan perlahan bicara.

“Aku... minta maaf,” katanya, dengan rona muka amat bersalah. “Seharusnya aku mengatakan semua ini padamu sejak lama.”

“Jadi sudah lama?” tanya Jiya, tetap dengan nada dingin yang sama. “Sejak?”

“Enam bulan yang lalu.”

Jiya mendengus tidak percaya mendengar jawaban Sebastian. Jadi dia sudah dibohonginya sejak lama. Jiya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Air mata meluncur lagi dari matanya.

“Jiya. Aku...”

“Bukannya kita sudah sepakat kalau salah satu dari kita jatuh cinta pada orang lain, kita akan jujur dan mengatakannya, agar tidak membuat salah satu dari kita sakit hati?” sela Jiya sebelum Sebastian menyelesaikan kalimatnya. “Dan kau.... udah menemui orang lain sejak setengah tahun lamanya? Dan tetap bersikap biasa padaku? Apa maksudmu?”

Sebastian menghela nafasnya dan menundukkan kepala. Wajahnya terlihat amat pucat.

“Aku hanya..... Tadinya aku iseng.”

“Iseng?” sambar Jiya tidak percaya, “Hal seperti ini, kamu anggap iseng?!”

“Ya... aku iseng,” sahut Sebastian cepat. Mendongak menatap Jiya. “Aku hanya ingin merasakan bagaimana kalau aku memiliki orang lain selain dirimu. Dan...”

“Dan?” kata Jiya berang, “Dan apa, Bas?!”

Sebastian menghela nafas, menunduk dan berkata pelan, “Aku jatuh cinta padanya.”

“Kau jatuh cinta padanya karena dia mau tidur denganmu?” tanya Jiya, dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Karena kau tidak mendapatkan itu dariku?”

“Jangan KONYOL Jiya!” tegur Sebastian, mendelikkan mata padanya. “Aku tidak serendah itu.”

“Lalu apa? Kita sudah empat tahun pacaran. Mengalami masa-masa sulit berdua. Aku mencintaimu lebih dari apa pun. Kenapa... kenapa... kau melakukan ini padaku?” isak Jiya.

“Kau kira... aku tidak mencintaimu?” kata Sebastian, mengerutkan dahinya. Kelihatan agak tersinggung, “Aku... sangat mencintaimu Jiya. Kau sangat berarti untukku. Kau cantik, sangat baik, tapi...” Dia berhenti sejenak. Jiya diam, menunggunya melanjutkan kata-katanya. “Tapi... aku butuh seseorang yang hidup.”

“Maksudmu aku tidak hidup, begitu?”

“Bukan. Maksudku... aku butuh seseorang yang bisa membuatku...” Sebastian mengangkat kedua tangannya, kesulitan mencari kata yang tepat. “—ceria. Yang bisa membuatku bersemangat melakukan banyak hal. Bisa berbagi semua hal denganku. Tidak selalu mengeluh dan menangis seperti... dirimu.”

Mulut Jiya menganga. Kata-kata Sebastian barusan membuat hatinya sangat perih seperti diremas dengan duri. Itukah penilaian Sebastian tentang dirinya selama ini? Dia menggambarkan Jiya sebagai sosok yang menyedihkan.

“Aku tidak selalu mengeluh dan menangis,” Jiya membantah, walaupun dengan nada tidak yakin. “Aku tidak seperti ITU.”

“Kau selalu mengeluh,” kata Sebastian tidak sabar, “Kau mengeluh tentang pekerjaanmu, bosmu. Setiap hari, setiap saat. Kau menangis. Kau tidak percaya diri. Kau selalu menuntutku untuk bersamamu selama dua puluh empat jam selama tujuh hari. Kita bahkan belum menikah Jiya,” kata Sebastian berapi-api. “Dan kau sudah membebani batinku sedemikian beratnya.”

Jiya tercengang. Sementara Sebastian berusaha mengendalikan dirinya, menarik napas perlahan, sambil memandang ke arah lain. Hening sesaat. Baik Jiya maupun Sebastian tidak ada yang bersuara, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lalu setelah lewat beberapa detik, Sebastian membuka mulutnya sedikit, memandang ke arah Jiya, yang masih berdiri bengong, tidak bergerak sedikit pun.

“Aku... sudah memutuskan,” dia bergumam pelan. Jiya mendongak, balas memandangnya.

“Aku tidak bisa menjalani semua ini lagi,” lanjutnya sambil menggelengkan kepala.

Jiya merasa lantai flatnya runtuh seketika, dengan dia bergantung gamang, tidak berpijak atau pun jatuh ke bawah. Air mata meluncur turun dari kedua matanya yang besar.

“Maksudmu, kau ingin kita putus?” tanyanya dengan suara parau.
Sebastian mendesah, menunduk sejenak, kemudian menjawab, “Maaf, Jiya. Demi kebaikan kita berdua.”

Jiya mengisak tertahan. Hatinya luar biasa sakit. Jantungnya berdetak kencang sekali, menyakiti dadanya dan kepalanya nyeri seperti diremas. Dia tidak ingin kehilangan Sebastian. Dia tidak bisa hidup tanpanya.

Please, Bas. Jangan seperti ini,” Dia memohon kepada Sebastian, pelan-pelan melangkah mendekatinya. “Aku minta maaf, aku janji akan berubah.”

“Aku tidak bisa,” kata Sebastian, memandang Jiya dengan prihatin. “Aku mencintai orang lain, Jiya.”

Jiya cepat-cepat menghampiri Sebastian, dan meraih tangannya. “Tapi... kau masih mencintaiku. Kau bilang sendiri tadi.”

“Aku memang akan selalu mencintaimu, tapi... cintaku padamu,... sudah berubah,” kata Sebastian, “Kita masih bisa berteman, Jiya.”

Air mata Jiya semakin banyak mengalir, membuat wajahnya berkilat-kilat. “Aku tidak bisa hidup tanpamu, Bas. Kau tahu itu.”

“Kau bisa. Kau kuat, kau pasti bisa,” kata Sebastian menyemangati. “Kalau aku terus bersamamu, hanya akan menyakitimu, Jiya. Karena hatiku bukan untukmu lagi. Tolong mengertilah.”

“Bas, please...” kata Jiya, terisak sedih, menundukkan kepalanya, sambil mengusap tangan Sebastian. “Jangan tinggalkan aku....”

“Jiya, please...” balas Sebastian pelan, memandangnya dengan penuh iba. “Aku tidak bisa.”

“Aku janji akan melakukan apa pun...” kata Jiya, mengangkat wajahnya untuk menatap Sebastian. “Kalau kau mau aku akan tidur denganmu.”

“Jangan merendahkan aku, Jiya,” kata Sebastian, mengernyitkan alisnya. “Aku tidak ingin itu. Aku menghormatimu. Kau salah paham.”

“Aku tidak...”

“Selamat malam, Jiya,” sela Sebastian, melepaskan tangannya dari genggaman Jiya.

Kemudian berbalik, dan melangkah menuju ruang tamu.

“Bas... tunggu!” Jiya berusaha mengejar Sebastian.

“Istirahatlah, Jiya. Aku harus pergi,” kata Sebastian, tanpa memandang Jiya. Dia menyambar jasnya di atas sofa dan bergegas pergi menuju pintu.

“Bas!”

Suara pintu ditutup dengan keras, dan sosok Sebastian sudah menghilang dari pandangan Jiya. Dia telah pergi. Meninggalkan kesunyian yang menyayat di ruangan itu. Jiya terpuruk di lantai, masih tidak percaya kalau Sebastian telah memutuskannya. Mengakhiri hubungan dengannya. Begitu saja. Tanpa ada ucapan selamat tinggal, pelukan atau ciuman di pipi. Terjadi begitu saja. Dan Jiya masih merasa dia akan kembali besok. Bersikap kalau tidak ada yang terjadi malam ini.

Seperti orang gila, Jiya berulang-ulang memandang berkeliling lantai ruang tamunya. Untuk apa, dia juga tidak tahu. Hatinya sangat terluka, seperti tercabik-cabik dan hanya menyisakan setengah bagian saja. Membuatnya tubuhnya merasa hampa luar biasa. Kosong tak berjiwa.

***


First Chapter oleh Putu Indar Meilita
http://indarmeilita.blogspot.com/

Read More ......