Tuesday, February 19, 2008

Inilah Rasanya Minggat

-

PROLOG


Surabaya, Sabtu, 23 Februari 2007, 13.49


Mina:
Kuayunkan tanganku ke dalam air kolam, badan terasa nyaman biarpun sudah sejam berada di kolam renang yang hangat. Ya, inilah yang kulakukan setelah melepas penat melewati dua bulan untuk mendapatkan kehidupanku yang baru. Kalau enggak berolahraga beberapa hari saja aku merasa seperti pecandu narkoba yang sedang sakaw. Lagipula aku suntuk kalau cuma tidur dirumah menemani Oma dan adik laki-lakiku yang masih duduk di bangku kelas dua SMA. Dan mungkin inilah kali terakhir sebelum aku, Ronal dan Oma berangkat ke Malang besok. Tapi aku enggak mau terpikir soal pindah ke Malang besok. Yang kupikirkan sekarang, aku mau hangout kemana lagi ya setelah puas berenang disini?

Rambutku yang biasanya halus sekarang terasa lepek, jadi kuputuskan saja untuk pergi menata rambutku ke Salon langgananku Acacia di Jalan Pucang Anom. Banyak salon yang bisa kukunjungi dari sini, tapi di Acacia-lah aku bisa ngobrol dan bertatap muka dengan penata rambut cowok bergaya metroseksual yang belum pernah memberikan nama aslinya kepada diriku, siapa lagi kalau bukan “Joni”. Tapi setiap kali aku ke Acacia, yang paling akrab denganku adalah Kak Andien yang suka menyambutku dengan kalimat “Mina-san, mau ditata rambut seperti apa hari ini?”

Itulah Kak Andien, yang selalu akrab dan dekat dengan diriku. Aku mengaguminya karena bagiku, dia bukan hanya seorang penata rambut profesional, tetapi juga seorang senior bagiku, dan menjadi orang yang bisa akrab denganku.

Kulepaskan pikiranku dari angan-angan di salon Acacia dan kuangkat tubuhku dari kolam yang hangat ini. Sewaktu aku mengangkat diriku sendiri, aku selalu merasa ada seorang, bahkan beberapa cowok melirik tubuhku. Bukannya aku gede rasa, tapi aku sendiri merasa tubuhku cukup menarik perhatian mereka.

Masuk kedalam kamar ganti wanita, kupilih kamar mandi yang letaknya paling ujung, kudorong lagi pintu kamar mandi ini dan kuputar handle shower cold dan hot sekaligus, tapi enggak sampai maksimal. Sial, aku baru sadar kalau aku lupa membawa shampoo-ku sendiri, padahal aku enggak pernah percaya berkeramas dengan shampoo enggak jelas di kamar mandi kolam renang. Tapi daripada rambutku rusak, kuambil secuil shampoo di kamar mandi. Aku enggak mau berlama-lama untuk mandi, sekitar lima menit saja sudah cukup buat mandi disini.
Kemudian kurogoh tasku untuk mengambil pakaian. Kulepas dengan pelan-pelan swimsuit-ku dan kumasukkan ke dalam tas bersama tube sabun cair dan handuk pribadiku kedalamnya, dan segera kupakai pakaianku, yang dari atas kebawah semuanya bernuansa sporty.

Kutinggalkan THR Mall Surabaya yang mulai terlihat lebih ramai daripada waktu aku datang kesini untuk berenang, kemana lagi kalau bukan ke Acacia, salon langgananku di tengah kota Surabaya, dan perlu waktu beberapa menit bagiku untuk menuju kesana, tapi lalu lintas disekitar Surabaya pusat hari ini enggak begitu ramai. Taksi yang kupesan pun enggak kutunggu terlalu lama. Taksi yang kutumpangi kali ini dikemudikan sopir yang menarik, badannya gemuk dan berkumis lebat, dan berjambang tipis. Melihat wajahnya yang brewok dan berbadan gendut, aku mengira dia seorang tokoh kartun masa kecilku, Brutus, yang jadi musuh Popeye. Lucu juga melihatnya, tapi melihat tatapan matanya yang tajam dan keras, mungkin mencerminkan sifat aslinya yang keras seperti Brutus. Dia hampir enggak mengajakku mengobrol sepanjang perjalanan. Tapi, ketika taksi sudah berhenti di depan Acacia, dia tersenyum ramah, jadi aku memberinya Rp 15.000,- perak, kelebihan Rp 1.000,- dari tarif yang tertera di argo taksinya. Bapak sopir bertampang Brutus ini langsung merogoh kocek celana panjangnya untuk mencari selembar uang kembalianku, tapi kukatakan agar kembaliannya dipegang dia saja, kebiasaan yang sama dengan seseorang di Bandung yang sudah mengubah hidupku beberapa hari dan baru pulang kemarin. “Enggak usah pake kembalian, Pak. Ambil aja kelebihannya buat Bapak, ya?”
“Wah, trims banget, Jeng. Semoga saya bisa mengantar gadis secantik Anda lagi.” Tutur supir taksi bertampang Brutus itu dengan ramah. Ternyata nada bicaranya enggak seseram yang kukira. Setelah Bapak itu pergi dengan taksinya, aku masuk kedalam salon, kudorong pintu salon.

Masuk kedalam salon, suara sambutan yang enggak asing lagi langsung membuat perhatianku tertuju kepada Kak Andien. “Mina-san, apa yang bisa kubantu hari ini?” Begitulah sambutan “standar” Kak Andien, hari ini aku cuma mau dicuci-blow saja, enggak nyaman lagi dengan rambutku yang lepek ini meski sudah kubasuh dengan keramas di kolam renang THR Surabaya Mall tadi.

Puas setelah rambutku apik lagi, aku keluar dari Acacia dan bergegas ke Tunjungan Plaza, tapi kali ini kuputuskan untuk jalan kaki saja, selain jaraknya enggak terlalu jauh dari salon, toh aku juga ingin membuat tubuhku aktif lagi dengan berjalan kaki.

Enggak perlu waktu lebih dari setengah jam, aku sudah berada di depan gerbang pintu utama Tunjungan Plaza, mall yang sudah jadi teman tongkronganku sejak usia SD. Disini biasanya aku juag bermain ice-skating, tapi kuurungkan niatku untuk meluncur diatas lintasan es, badanku sudah lemas untuk berenang dan berjalan kaki sampai kesini, dan kalau aku sampai telat janjian ke restoran fastfood dengan Ronal, bisa-bisa dia marah dan minta ditraktir banyak makanan, waktu Ibu masih ada, dia malah suka mengeluhkan kesalahanku ke Ibu. Mungkin kalau sekarang dia bakal mengadu ke Oma? Dasar cowok anak mami, masa sudah SMA masih mengadu ke orangtua cuma gara-gara masalah sepele? Tapi biarpun begitu, dia tetap adikku. Aku harus mengayomi dia sebagai kakak yang baik.

Masuk ke gerai fastfood A&W yang isinya makanan favorit adikku, kutolehkan kepalaku celingak-celinguk ke kiri-kanan untuk mencari Ronal, ternyata dia lagi asyik mendengarkan ipod shuffle-nya.

Tanpa basa-basi lagi aku langsung duduk didepannya, dan dia langsung kaget melihat kehadiranku persis bocah yang berpapasan dengan hantu dikasur tidurnya sendiri.

“Aduh!! Kak Mina ngagetin aku aja!”

“Ah, kamu sendiri yang kaget... sombong nih... kakaknya datang enggak disapa baik-baik.”

“Iya deh, makanan yang Kak Mina mau udah kupesan kok.”

“Oh, thanks, my brother.”

Adikku sudah memesan pesanan favoritku di A&W, sepotong Fish Sandwich dan Chicken Soup, tanpa soft drink tentunya. Ya, aku enggak mau menambahnya dengan nasi. Alasannya, apalagi kalau bukan karena bisa mengancam dietku. Meski aku bukan cewek pengidap anoreksia nervosa atau bulimia nervosa, apa artinya aku berenang dan berjalan kaki pergi kesini kalau kemudian aku makan fastfood sebanyak yang dipesan adikku. Tapi apa yang dipesan Ronal benar-benar membuatku cuma bisa menahan air liur menetes, dia memesan dua potong crispy chicken dan nasi yang masih ditambah dengan soft drink 7 Up. Terbayang olehku berapa banyak lemak yang masuk kedalam tubuhnya, tapi dia tetap saja kurus. Itulah yang kadang-kadang membuatku merasa enggak beruntung dilahirkan sebagai cewek.

Sambil menghabiskan makanan kami berdua, adikku menawarkan speaker kanan ipod-nya.
Enggak lupa, kubuka ponsel SE Z610i kesayanganku, teringat kalau besok aku pergi ke Malang, aku harus mengabari dia. Jadi kuketik dan kukirim sms-ku ke ponselnya.

Hi, my soulmate. Gimana kabar km? Baik kan? Bsk aku mau ke Malang, kamu lg ngapain? Bsk aku mau memulai hidup baru disana, doain aku ya. Aku kangen banget sama kamu. Awas kalo gak bls, aku kutuk kamu jd pangeran kodok.
From : Mina, Your soulmate


Kututup ponselku, mudah-mudahan dia bisa segera membalasnya dengan manis, dan kuteruskan acara makanku dengan Ronal.

Biarpun kami sepasang kakak-adik yang beda banget tapi inilah salah satu bentuk keakraban kami sebagai saudara sedarah. Siapa bilang saudara sedarah enggak bisa akrab? Terlebih setelah melewati beberapa hari kepergiannya dariku. Ya, aku juga pernah melepas tanggung jawab dari menjaga adikku, bahkan menjaga mendiang Ibuku. Dan itu sudah satu bulan sejak aku pulang kerumah, kembali kepada sisa keluargaku sekarang.

Bandung, Sabtu, 23 Februari 2007, 15.34

Dani:
Gue jalankan Toyota Yaris putih kesayangan gue disepanjang Jalan Cihampelas yang macetnya ampun-ampunan. Sudah lebih dari sebulan lewat perjalanan liburan gue Yogya dan Surabaya, yang membuat gue bertemu dengan seseorang yang kepribadian yang unik banget, menjiwai romantisme hidup, juga memberi gue pelajaran hidup yang sudah gue tahu tapi enggak gue sadari sebelumnya. Pelajaran hidup kalau kita semua, manusia itu enggak pernah bakal bisa hidup dalam kesendirian. Ah, sudahlah, ngapain juga gue mesti memikirkan itu, toh yang penting cewek itu mendapatkan kebahagiaan baru.

Arloji Swiss Army-gue menunjukkan pukul 15.34. Pantesan, sepanjang Jalan Cihampelas benar-benar ramai oleh mobil dan motor yang jumlahnya menyemut. Kecepatan mobil yang gue kemudikan sepertinya enggak lebih cepat dari kecepatan seekor bekicot. Wajarlah, gimana mungkin pada waktu seperti ini Cihampelas enggak ramai? Semua orang Bandung, bahkan pendatang dari Jakarta, Bogor, sampai yang datang dari luar Jawa Barat juga bakal melewati sebuah jalan yang menjadi tempat belanja celana jeans dan kaos oblong pada masa kejayaannya di era 90-an ini. Jujur aja, bukannya gue membenci adat masyarakat sekitar Bandung, tapi menjalankan mobil ataupun motor di Bandung seperti siap beradu dengan maut aja. Sudah enggak aneh lagi kalau sepeda motor yang berada di dekat mobil gue atau mobil lain mengambil celah, enggak peduli atau malah enggak sadar kalau ada bahaya tertabrak oleh mobil, sesama motor, angkot, bahkan pejalan kaki. Beginilah suasana menggunakan di jalan Kota Kembang yang kini penuh sesak dengan berbagai jenis kendaraan. Tetapi, gue yang punya janji pertemuan dengan teman alumniku di masa SMA dulu, enggak bakal menyia-nyiakan kesempatan ini, soalnya kapan lagi gue bisa melakukan pertemuan dengan teman-temanku di masa SMA dulu? Mungkin nasib mereka enggak beda jauh dengan gue ya. Baru lulus kuliah, sudah bekerja, masih kuliah atau jangan-jangan masih menganggur? Apapun status mereka sekarang, itu bukan masalah gue. Lagipula, hari ini paman dan bibi gue sedang ada urusan ke Jakarta, sedangkan gue cuma sendirian di rumah kalau gue enggak diundang reuni atau kemana-mana hari ini. Kusetel beberapa kali radio di mobil gue, enggak ada yang menyiarkan lagu yang merangsang telinga gue untuk mendengarnya, atau cuma sekedar menarik untuk didengar selintas. Dan sialnya, gue juga lupa membawa CD jacket berisi musik-musik favorit gue yang biasa gue bawa waktu menyetir mobil.

Akhirnya, setelah melewati setengah jam yang bikin capek cuma untuk melintasi Jalan Cihampelas, gue bisa sampai juga di Cihampelas Walk. Ya, mall kecil yang terletak di tengah-tengah gerai jeans dan distro ini selalu saja penuh pengunjung, dan keramaiannya seperti enggak kenal waktu. Sebenarnya, gue malas kesini kalau keramaian Cihampelas sampai kaya’ begini. Tapi, kesepakatan pertemuan alumni SMA yang ditentukan oleh ketua angkatan kelas gue, Mikail, membuat gue mesti bersikap nrimo, lagian kapan lagi gue bisa reuni dengan sahabat-sahabat alumni SMA-gue? Dan gue memang sering merindukan masa-masa pergaulan dengan mereka yang manis, masa-masa itu sudah jadi kenangan hampir lewat sepuluh tahun.
Gue coba saja untuk membawa mobil ke basement lantai dasar. Gue pikir di waktu ramai kaya’ begini, bisa mendapat parkir di taman parkir diluar gedung saja kaya’ nyari satu jarum benang di tumpukan jerami. Dugaan gue enggak meleset. Koridor masuk menuju taman parkir malah sudah diblokir, gue harap mudah-mudahan gue bisa dapat tempat parkir lebih cepat di basement lantai dasar.

Entah keberuntungan macam apa yang gue dapat, baru saja kubawa mobilku masuk kedalam basement, di dekat pintu masuk ada sebuah mobil BMW hitam yang baru saja keluar. Betul-betul kemujuran yang enggak gue kira, soalnya kalau gue enggak semujur ini, mungkin gue harus keluar lagi untuk mencari parkir di luar. Menurut kesepakatan kami kemarin, meeting point kami di food court dekat bioskop jam 16.30, jadi gue belum telat.

Gue parkirkan saja mobil gue dalam posisi mundur, biar nanti gampang keluar dari tempat parkir. Mestinya Jonathan, Miya dan Mikail sudah datang lebih dulu, soalnya mereka semua yang jadi “koordinator lapangan” pertemuan alumni kelas 3 IPS 1 SMA Negeri Citarum Angkatan 2003, yang sebenarnya enggak bakal dihadiri oleh semua anggota angkatan kelas kami. Maklum deh, kebanyakan dari angkatan kami waktu lulus kaya’ sudah pada enggak betah lagi untuk tinggal di Bandung. Ada teman alumni kami yang kuliah di Jakarta atau kota di sekitar Pulau Jawa seperti Jogja, Bogor, Semarang, dan Surabaya. Itu sih biasa, tapi yang enggak biasa adalah hampir dari setengah anggota kelas kami merantau ke luar Jawa, entah untuk mencari kerja atau kuliah. Yang masih kuliah atau bekerja di Bandung dari lulusan kami, bisa dihitung dengan jari, tinggal sekitar lima belas orang saja. Dan gue betul-betul menikmati kenangan-kenangan manis pergaulan yang kualami dimasa SMA dulu, sampai gue kuliah di Studi Ekonomi Manajemen di Bandung.

Tapi, biar gimanapun juga, bagi gue masa SMA adalah masa yang paling indah. Bodoh banget namanya kalau melewatkan masa SMA cuma dengan serius belajar di sekolah melulu. Masa SMA dan kuliah mungkin bisa sama-sama dinikmati orang sebagai masanya menikmati perkembangan fisik, mental, dan wawasan yang sambil tumbuh dewasa. Jadi, sudah bukan anak-anak yang bertubuh remaja seperti SMP lagi. Tapi, masa kuliah juga bisa dibilang masa transisi yang berat. Dan gue rasa itu enggak cuma dilewati oleh gue, gue yakin pasti dialami oleh orang-orang seusia gue pada masa kuliahnya. Gimana enggak? Gue memang sudah diberi kebebasan dari orang tua untuk belajar secara mandiri, mulai memikirkan masa depan sendiri, bermain tanpa batas-batas dari orangtua. Tapi di balik kebebasan itu, muncullah tekanan belajar dalam menjalani kuliah, yang tentu saja bakalan ditambah godaan main bareng teman sebebas-bebasnya dan kebijakan kampus yang selalu dirasa mempersulit mahasiswa, membuatku berpikir kembali soal kebebasan yang diraih pada masa kuliahku. Kebebasan itu kayaknya dibayar mahal dengan kemandirian penuh menghadapi tantangan dunia luar dan masa dimulainya kemandirian seorang anak kepada kedua orangtuanya.

Kalau masa SMA, jelas sebuah masa yang paling menyenangkan dalam hidup gue. Kegiatan belajar di sekolah jelas masih saja diatur dan diarahkan oleh guru-guru di sekolah, tapi kami juga sudah diarahkan untuk lebih bebas dalam menambah wawasan sendiri, melaksanakan kegiatan di luar sekolah, dan tentu saja bermain. Masa yang penuh dengan bermain, bermain, dan bermain! Betul-betul momen selama tiga tahun yang enggak bakal pernah gue lupakan. Tapi, bodoh juga namanya kalau cuma bisa jadi orang yang senang mem-flashback kehidupannya sendiri, entah kenangan manis ataupun pahit. Gue juga sadar, kalau kebahagiaan enggak mesti diraih pada satu masa saja, kalau hidup dibawa fun dan easy-going, kesulitan hidup kaya’ apapun juga bakal terasa mudah, kan? Anggap saja kalau kesulitan hidup yang kita lewati itu sebagai warna kehidupan. Kalau segala sesuatu jadi penuh warna, kita bisa jadi orang yang bahagia juga punya pandangan luas, enggak memandang dunia selalu dari sisi putih, apalagi dari sisi hitam melulu. Wah, gawat kalau melihat dunia dengan sudut pandang hitam terus.
Gue hentikan mobil gue sekitar satu meter sebelum bemper belakang mobil menyentuh tembok parkir, dan gue pastikan kunci setir maupun karcis loket parkir sudah gue simpan dalam casing ponsel gue. Kalau enggak begini, bisa-bisa gue menjatuhkan atau lupa di mana gue menyimpan karcis loket, kebiasaan jelek yang pernah mengidap pada diri gue waktu gue baru dipercaya memegang mobil waktu SMA. Berabe!

Gue langkahkan kaki gue menuju tangga pintu masuk basement, dan gue langkahkan kaki dengan setengah berlari ke lantai teratas dengan eskalator. Dan hanya perlu semenit buat gue untuk mencapai food court.

Dasar nasib, ini persis seperti yang gue alami waktu SMA dulu, waktu gue masuk ke dalam kelas di pagi hari, hampir setiap hari gue jadi orang yang datang paling pagi, hampir setengah jam sebelum temanku masuk kedalam kelas. Masa lalu yang terulang kembali, di lain waktu, ruang, dan suasana tentunya. Salah satu teman baik gue, Prabowo sampai menjuluki gue orang yang suka school-stay alias menginap di sekolah, jadi wajar saja kala gue sampai di kelas yang pertama untuk setiap paginya. Buset! Kata Jonathan, meja yang akan menjadi meeting point kami bisa dimana saja, yang penting siapa saja yang pertama kali datang sudah harus mencari tempat duduk, dan mejanya punya kursi yang jumlahnya bisa diduki sepuluh orang. Untungnya, gue menemukan dua meja foodcourt yang disusun menjadi satu baris berisi delapan kursi, lagi-lagi gue beruntung. Tahu sendiri deh kalau gue gagal mendapatkan meja untuk pertemuan, sesuai usul Jonathan, yang pertama datang tapi gagal mendapatkan kursi buat semua dihukum mentraktir semua anggota kami yang datang. Hukuman yang menyebalkan untuk isi dompet gue.
Kulihat arloji gue, masih jam 16.22. Aneh juga, setelah gue bertemu dengannya, gue jadi orang yang awas soal waktu. Sedikit-sedikit lihat jam tangan.

Tiba-tiba dering handphone gue berbunyi, kayaknya ada sms masuk, gue pandang layarnya, memang ada message masuk. Ternyata nomor dia yang masuk kedalam hp gue.

Hi, my soulmate. Gimana kabar km? Baik kan? Bsk aku mau ke Malang, kamu lg ngapain? Bsk aku mau memulai hidup baru disana, doain aku ya. Aku kangen banget sama kamu. Awas kalo gak bls, aku kutuk kamu jd pangeran kodok.
From : Mina, Your soulmate


Mina. Dia memang sudah berubah. Dia betul-betul sudah jadi cewek yang ideal buat gue, meski gue sadar kalau gue dan dia memang cukup jadi sepasang teman setia saja. Kubalas lagi sms-nya.

Hi, i hope you always happy @ Malang. I’m still gathering with my best friends @ ciwalk ^0^. Your bright future is belong you 4 ever. OK? C U
From : Prince of Parahyangan as Dani ^_^


Gue harap dia bisa menjalani hidup barunya di Malang.
Gue alihkan lagi perhatian gue ke sekitar mall sambil menunggu sms balasan darinya. Dengan setengah bingung, gue torehkan kepala ke sisi kanan, melihat siapa yang datang, ternyata Jonathan dan Melly! Gue sapa mereka dengan salam khas geng kelas kami di masa SMA, dua telapak tangan bertepuk bareng!

“Hey, kamu! Baik-baik aja kan?!” tanya Jonathan semangat.

“Hei, frens. Akhirnya kamu datang juga... !” kujawab salam Jonathan diikuti senyuman Melly, istrinya yang baru dinikahi dua bulan lalu.

Sungguh reuni awal yang manis. Jonathan dan Melly memang sudah menikah. Yang menarik dari Jony, sapaan akrab buat Jonathan adalah istri yang sudah menjadi pacarnya semasa SMA ini kira-kira sudah mengandung anak berapa bulan ya? Gue ajak duduk dua teman lama yang enggak tahunya sudah memulai bahtera kehidupan keluarga ini. Minder juga melihat mereka, soalnya gue sendiri jangankan berkeluarga, punya pacar pun belum. Malahan kedua orangtua gue bercerai. Memang, gue menjalani semua masalah ini dengan enteng-enteng saja, toh gue sendiri juga enggak mau terbawa kesedihan sampai didramatisir. Tapi, itu juga mengingatkan gue akan kenangan dengan gadis itu, gadis yang pergi minggat dari Surabaya itu, yang gue temui waktu gue pelesir di Jogja, yang baru saja gue balas sms-nya dari dia barusan. Kenangan yang enggak bakal gue lupakan sampai kapanpun. Dan mudah-mudahan pertemuan dengan sahabat-sahabat alumni masa SMA-gue ini bisa melupakan sesaat perjalanan pelesir gue dua bulan yang lalu itu. Ya, dua bulan yang yang lalu, kenangan yang manis, asem, dan asin, persis slogan iklan permen.

1st Chapter by Aditya Renaldi

Read More ......

Wednesday, February 13, 2008

Mati Suri

-

Mama Belum Mati!
Suasana haru yang penuh dengan isak tangis di pemakaman itu terganggu oleh sebuah teriakan histeris seorang gadis yang berlari-lari ke arah kuburan jenazah yang baru selesai dimakamkan. Gadis berusia belasan tahun itu menjerit-jerit memilukan seperti menahan sakit yang tak terkira. Gadis itu adalah anak tunggal almarhumah yang tampak tak rela dengan kepergian Ibunya.

“MAMA BELUM MATI!! MAMA BELUM MATI!!” Indah berteriak-teriak menubruk kerumunan para pelayat seperti kesetanan. Ia seperti hilang kesadaran dan tak terkendali. Bebearapa orang, termasuk Ayah, Oom, Tante dan sepupunya spontan menahan tubuh Indah mencoba menenangkan. Tapi tenaga dari tubuh gadis itu seperti meningkat berkali-kali lipat dari keadaan normal. Matanya yang telah bengkak dan lebam masih saja mengalirkan air mata sederas air terjun Niagara. Ayahnya memeluk tubuh Indah sekuat tenaga sambil berkata keras mencoba menyadarkan Indah.

“Indah, SADARLAH!!” bentak ayahnya. “Terimalah kenyataan! Ini semua sudah takdir!!” Suami itu tampak lebih tegar meskipun sebagian jiwanya yang dibawa istri tercinta mengguratkan kesedihan yang begitu dalam sama seperti putrinya.

Para pelayat ikut panic dan hanya bisa melihat Ayah dan anak itu dengan perasaan iba. Ada yang ikut menahan tubuh Indah yang meronta-ronta, ada juga yang hanya sekadar menghibur dengan kata-kata ‘sabar, tenang, nyebut! Dan sebagaian hanya berbisik-bisik, sisanya berdoa agar keluarga yang ditinggalkan almarhumah diberi ketabahan, terutama putrinya itu.

“Kasihan anak itu. Ia begitu menyayangi Ibunya sampai tak bisa menerima kenyataan bahwa Ibunya telah tiada.” bisik seseorang di antara kerumunan itu.

“Indah sepertinya menjadi gila!!” wajar saja, anak itu tak percaya takdir. Bahkan dari kesehariannya ia terlihat seperti orang yang tak percaya Tuhan. Ia tahu bahwa kematian tak dapat dielakan. Tapi ini keterlaluan, ia menganggap Mamanya belum waktunya meninggal!” seorang Ibu, tetangga yang tinggal di sebrang rumah Indah yang merasa tahu segalanya tentang keluarga Indah berbisik pula pada suaminya.

“Begitulah jadinya kalau anak tidak dilandasi dasar agama yang kuat Ma. Aku tak ingin Vera nanti seperti Indah!” suaminya itu menatap anaknya yang masih kelas lima SD seolah tak sudi anak gadisnya kelak seperti gadis yang mengamuk di pemakaman itu.

“Cntyha!! Kamu kenal aku lebih dari siapapun! Cuma kamu yang percaya sama dan bisa kupercaya. Kamu percaya kan kalau Mamaku belum meninggal?” Indah bertanya dalam isak tangis dan jeritan histeris serta deraian airmata tak tertahankan. Ia berharap ada seorang saja yang mempercayai kata-katanya. Dan hanya Cynthia, sepupu dan orang terdekatnya yang tahu Indah memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang biasa. Tapi… Cynthia bingung, ini sudah di luar batas dimana ia harus bisa percaya dengan kenyataan yang terjadi di depan matanya.

“Aku percaya Ndah!” jawab Cnthya akhirnya, membuat ayah Indah dan orang tuanya sendiri kaget. Ada sedikit binary harapan dalam mata Indah. “Aku percaya bahwa Tante tak akan pernah meninggalkan kita. Ia hidup abadi di hati kamu Ndah. Di hati kita semua yang menyayanginya.” jawaban Cynthia cukup melegakan semua orang di tempat itu.

Tapi tidak demikian dengan Indah. Ekspresi wajahnya kembali lagi menjadi muram ditambah sedikit kekecewaan yang timbul pada orang yang paling dipercayai dan mempercayainya. Indah terdiam sejenak. Semua yang didekat Indah, yang menahan ronta tubuhnya mengira Indah seperti mulai mengerti kalau Cnthia telah menyadarkan Indah. Perlahan-lahan tangan-tangan yang menahan tubuh Indah mengendur bahkan hamper hamper terlepas.

Rupanya kesempatan itu tak disia-siakan Indah. Dengan cekatan, Indah terlepas seperti sapi gila yang mengamuk menghancurkan kandangnya. Semua orang di prosesi akhir penguburan itu menjadi lebih panic dari sebelumnya. Tak pernah sekalipun semua yang ada di sana menyaksikan suasana pemakaman yang begitu dramatis.

Seperti orang gila Indah mencakar-cakar tanah kuburan Mamanya seperti hendak menggali. Melihat kelakuan anaknya yang sudah tak terkontrol, Ayahnyapun tak bisa menahan amarahnya yang memuncak. Ia begitu murka bercampur malu. Kini, ayah itu yang lepas kendali dan menghampiri anak semata wayangnya untuk menamparnya.

“Akan kubuktikan pada kalian semua yang ada di sini!! Mamaku masih hidup. Ia tersiksa di dalam kuburan ini! Kehabisan nafas dan minta tolong padaku. Pada kita semua!!”

“INDAH!!”

Kata panggilan itu yang terakhir kali didengar indah> Untuk pertama kali dalam hidupnya, ayahnya menampar Putri kesayangannya sendiri dengan sangat keras. Indah tersungkur di depan kuburan Mamanya, ia pingsan dengan darah yang keluar dahinya karena membentur papan kuburan. Pipi, kepala dan hatinya sangat sakit sekali.

“Mama…” kata terakhir yang diucapkannya dalam ksadaran terakhirnya pula. Dan diantara sadar dan tidak, dalam waktu seperseribu detik ia melanjutkan, “MAaf… Indah tidak bisa menyelamatkan Mama…”
***

Kalian percaya bahwa ada kehidupan setelah mati? Atau ada yang namanya reinkarnasi; bahwa kita akan terlahir dan hidup kembali dalam dunia dan kehidupan yang berbeda dengan sebelumnya? Kalian percaya bahwa surga dan neraka itu ada? Atau yang lebih sensitive dan hedonis; kalian percaya adanya Tuhan; pencipta segalanya yang membuat kehidupan, kematian serta surga dan neraka?

Silakan jawab dalam hati kalian sesuai dengan kepercayaan dan keimanan masing-masing. Aku tak akan mengganggu dan mempengaruhi kepercayaan kalian dengan kalimat-kalimatku yang jika terucap akan menjadi sebuah kontroversi. Sembilan puluh sembilan persen dari kalian taka nada yang setuju dengan apa yang kupercaya. Bahkan aku yakin dari kalian akan ada yang menghujat dan mengklaim diriku sebagai setan berwujud manusia yang akan menyesatkan kalian. Jadi, mari kita sama-sama diam dan mencari topik lain.

Aku percaya kehidupan karena sedang mengalaminya. Juga percaya kematian karena sering menyaksikannya. Keduanya begitu jelas. Begitu dekat dan nyata. Tapi jangan lupakan hal yang ada di antara keduanya. Hal yang mungkin tak semua orang bisa atau pernah mengalaminya. Keadaan di antara hidup dan mati. ‘Mati Suri’.

Kau tak merasa hidup tapi juga belum mati. Jantungmu berhenti berdenyut tapi kau masih merasa hidup dalam jasadmu sendiri. Atau sebaliknya, semua organ dalam dan luar tubuhmu masih berfungsi, tapi kau hilang kesadaran dan syaraf otakmu kehilangan fungsinya. Keadaan ini adalah apa yang disebut dengan ilmu medis dengan keadaan ‘koma’. Mungkin para ahli medis dan ahli bahasa sependapat dengan mengibaratkan kehidupan seperti spasi dan kematian adalah titik. Maka mati Suri adalah koma.

Aku punya sebuah masa lalu dan kelebihan yang tidak mungkin bisa kalian percayai jika tak kuceritakan dan kuperlihatkan buktinya. Tapi biarlah itu menjadi misteri yang tersimpan dalam memori.

Aku hanya ingin mengundang kalian semua yang pernah merasakan hal itu. Yang pernah koma dan bisa melaluinya dengan selamat untuk kemudian hidup lagi. Yang pernah hidup dalam ruang ICU dengan selang-selang infuse dan peralatan medis tapi sebenarnya nyaris sedang menuju kematian.

Atau yang pernah mengalami amnesia yang kini sudah sembuh ataupun belum dari ingatannya. Karena banyak yang mengatakan orang yang amnesia itu seperti diberi kesempatan hidup dua kali. Bisa memulai kehidupan lain dari nol tanpa mengetahui kehidupan sebelumnya. Seperti yang pernah Mati suri sepertiku.

Atau yang merasa yakin sepenuh hati bahwa dirinya adalah bukan dirinya. Bahwa anda adalah jiwa yang bereinkarnasi yang terperangkap dalam tubuh orang lain dan salah terlahir masuk ke zaman ini, tapi tak bisa kembali dan tak tahu caranya hingga mau tak mau tetap menjalani hidup ini dengan mencari identitas diri. Sma seperti yang pernah mengalami Mati Suri.

Juga buat kalian yang mempunyai ‘kelebihan’ yang tidak dimiliki atau hanya dimiliki oleh segelintir manusia. Yang berhubungan dengan metafisik, supra natural, hal-hal mistik dan ganjil seperti bisa meramalkan masa depan atau melihat mahluk gaib dan semacamnya.

Mari bergabung denganku bersama orang-orang yang mencari tujuan hidup. Yang bertanya-tanya ‘Kenapa harus hidup jika kemudian harus mati lagi?’, ‘Kenapa dilahirkan jika kelak akan dikuburkan?’, ‘Kenapa kita berbeda dengan orang lain dan manusia-manusia normal lainnya?’, ‘Kenapa kita merasa spesial tapi sekaligus terasingkan dari dunia fana ini?’

Mari kita bertemu di dunia maya ini. Berdiskusi dan mencari solusi. Mungkin sesekali bertemu di dunia nyata di antara sekumpulan manias-manusia normal yang merasa tak punya beban dan tanggung jawab dengan menjalani hidup apa adanya.

Mari kita ciptakan dunia kita sendiri. Kita ciptakan dunia abadi dan pergi kea lam itu; alam mati suri yang akan kita temukan. Dunia Utopia dimana tak ada kebenaran dan kejahatan, pahala dan dosa. Yang tidak ingin hidup di dunia fana tapi tak mau mati saja dan ‘tak ada’. Yang ingin jasadnya tak rusak tapi tak mau diabadikan seperti binatang yang diawetkan di museum. Yang peraca bahwa dunia sejenis alam mimpi itu ada jika kita cari.

Jika kalian sepemikiran denganku, segila aku dan setak normal aku, mari bergabung. Kirimkan email kosong ke alamat milis di bawah. Kita akan membicarakannya, mencari solusinya dan menuju ke sana…

Hanya bagi yang merindukan kematian tapi tak menginginkannya. Yang merasa hidup ini adalah bukan untuk ‘sekadar hidup’ tapi tak pernah berpikir bodoh untuk bunuh diri. Untuk yang takut pada kedatangan maut tapi senang dan berani membicarakannya. Untuk yang ingin merasakan keabadian dalam kematian yang menghidupkan…

Salam,
Suri
1st Chapter by Ceko, pemenang Lovefool Writing Contest

Read More ......

Monday, February 4, 2008

CADANZA

-

BAB 1
MATEMATIKA DAN JUPITER



“FIDEL, bangun! Ini sudah siang, nanti kamu terlambat. Rotimu hampir dingin dan Papa sudah menunggu di bawah, jangan sampai Papa terlambat sampai di kantor gara-gara menunggumu. Ayo, cepat mandi!” kata Mama panjang lebar. Dan sudah pasti mendengar teriakan “Bangun Pagi” seperti itu jelas membuatku terbangun, tapi belum membuatku sadar atau setidaknya benar-benar bangun. Seperti biasa, kupaksa mataku untuk melirik ke jam weker di samping tempat tidurku untuk tahu jam berapa sekarang, dan butuh 5 menit lagi untuk bisa keluar dari bed-cover yang hangat ini. Apalagi wajah Bu Angela yang menyebalkan itu sudah menari-nari di otakku—entah di bagian sebelah mana mengingat sepertinya otakku sudah penuh dengan rumus matematika dan grammar bahasa inggris. Wali kelas 11 itu memang terkenal galak, tapi untuk siswa laki-laki Bu Angela adalah seorang guru yang centil, bahkan menor mengingat blush on atau lipstik yang dipakainya kadang berlebihan. Menurutku, Bu Angela sangat pilih kasih. Lihat saja sikapnya yang membeda-bedakan antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan. Dia bisa sangat ramah dengan Moreno—kakak kelas yang jago basket dan ganteng itu-, tapi sikapnya berubah 360 derajat ketika dengan Daanish—teman sekelasku yang seorang model majalah remaja itu. Ya, kuakui Daanish Kaemita itu memang cantik, badannya tinggi langsing, dengan rambut hitam panjang lurus seperti model iklan shampo, dan berkulit putih. Sempurna dan sepertinya tanpa cacat sedikitpun. Jelas saja, Bu Angela tidak menyukainya. Dan aku juga. Siapa sih yang nggak sirik melihat cewek sesempurna itu. Apalagi melihat cowok-cowok di sekolahku berebut untuk menjadi pacarnya. Sekolah sepertinya menjadi tidak nyaman ketika cewek bernama Daanish Kaemita itu pindah ke sekolah ini. Daanish adalah mimpi buruk bagiku.

“Fidel!!!” suara Mama mengagetkan aku. Gawat. Harus buru-buru mandi nih. Hanya perlu 3 menit untuk mandi, dan 2 menit untuk berpakaian, memakai loose powder dan lipgloss. Pakai sepatunya biar di mobil saja. Beres.

“Ayo, Pa, berangkat. Fidel udah siap nih.” Kataku buru-buru menuruni tangga, menuju ruang makan tempat Papa dan Mama disana.

“Roti dan susunya, Del.” Mama mengingatkan sarapan pagiku. Menu sarapan yang tidak berubah dari waktu aku TK dulu sampai sekarang kelas 11 di Santa Laurensia. Sebenarnya aku lagi nggak selera makan roti isi daging buatan mama itu, tapi daripada kena omel Mama jadi terpaksa ku makan. Apalagi kalau harus mendengar cerita Mama tentang kelaparan di Afrika sana, bisa-bisa aku terlambat sekolah.

“Ma, kita berangkat dulu ya.” Kata Papa sambil mencium kening Mama. Uh, bikin ngiri aja.

“Daaagghh, Mama. . .”kataku sambil menenteng sepatu All Star yang sudah buluk itu, untuk kupakai di dalam mobil nanti.

“Del, telat lagi? Kok baru nyampe sih jam segini?”tanya Mona. Mona adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki. Walaupun dari luar kelihatan tidak meyakinkan—mengingat Mona memakai kacamata dan selalu menenteng buku kemanapun dia pergi, namun dia bukanlah orang yang membosankan. Ya, walaupun kadang-kadang bisa sangat menyebalkan mengingat kelambatannya dalam menganalisa sesuatu atau lebih tepatnya berpikir.


“Nggak telat, kok. Nih, tepat waktu.” Kataku sambil menunjukkan jam Baby-Gku ke Mona, yang menunjukkan pukul 7.

“Sudah siap, Del?”kata Mona sambil mengeluarkan alat tulis dan selembar kertas.

“Siap apa?”

“Siap ulangan donk,”kata Mona santai. “Kalau lihat kamu sesantai ini, pasti sudah belajar ya?”

“HAH? Ulangan apa, Mon?”. GAWAT.

“Selamat pagi, anak-anak. Sudah siap ulangan hari ini? Sekarang siapkan alat tulis kalian dan selembar kertas ya. Seperti biasa jangan lupa tulis nama, nomer absen, dan kelas di pojok kiri atas. Ibu akan membagikan soalnya sekarang.”

Ulangan Matematika?? Kok bisa aku melupakan hal penting seperti ini? Semalam apa yang kulakukan? Dan kenapa Mona nggak mengingatkan kalau hari ini ada ulangan matematika. Gawat. Sudah jelas nilai merah ditangan.

“Nah, anak-anak, selamat mengerjakan. Jangan ribut, dan kerjakan sendiri-sendiri. Waktu kalian adalah 45 menit.”

Aku melihat kertas berisi soal-soal matematika itu, dan mencoba memahami. Tentukan turunan fungsi-fungsi berikut: f(x) = 99x – 10. Dan 9 soal lainnya adalah soal yang sama tentang turunan fungsi. Dan aku, thanks God, sama sekali nggak ngerti. Aku melirik Mona—sial, Mona pasti bisa, mengingat dia les privat matematika seminggu 3 kali. Dan keringatku terus mengalir. Detik demi detik, pulpen hi-tecku itu belum juga mengisi soal-soal sialan itu. Dan aku harus terpaksa putar otak, memikirkan kemungkinan dari jawaban-jawaban itu. Bermodal rumus matematika yang masih setia bermukim di otak, aku mencoba mengerjakan. Satu, dua, lima soal. Masih ada 5 soal lagi dan jam di tanganku sudah menunjukkan 15 menit lagi. Dan keringat dingin pun mengalir tanpa diminta. Dalam hati aku merutuki, kenapa harus ada pelajaran bernama matematika ini? Pelajaran dengan angka-angka yang rumit—menyiksa, dan hanya membuat kepala migran saja.

“Baiklah, anak-anak, waktu sudah habis. Silakan jawaban kalian dikumpulkan. Dan hasil ulangan ini akan ibu bagikan pada waktu pelajaran matematika lusa. Selamat pagi.” Kata Bu Tina meninggalkan kelas. Sebenarnya Bu Tina ini adalah guru yang baik—ya, setidaknya lebih baik dari Bu Angela yang genit itu. Tapi tetap saja tidak membuatku menyukai matematika.

“Mon, tadi bisa nggak ulangannya?”

“Ya, gitu deh.”

“Bisa nggak?”tanyaku ulang, berharap jawaban Mona lebih jelas.

“Nggak juga. Ada yang nggak bisa tadi.”

“Tapi yakin dapat nilai bagus kan?”

“Nggak tahu. Ya, semoga sih. Kenapa sih, Del, kok nanya terus? Kamu sendiri tadi bisa nggak?”

Dengan pasrah aku menggeleng. “Semalam aku nggak belajar, Mon. Aku lupa kalau hari ini ada ulangan. Lagian, semalam kenapa kamu nggak kasih tahu aku kalau ada ulangan matematika?”

“Del, bukannya semalam aku udah telpon ke rumahmu. Yang ngangkat telponnya Mas Capung, terus dia bilang kamu lagi belajar. Makanya aku titip pesan aja sama Mas Capung, biar disampaikan ke kamu. Ya, itu, cuma ngingetin kalau ada ulangan hari ini. Emang nggak disampein ya?”

Dasar Capung, semalam dia nggak bilang apa-apa tuh. Pasti lupa, atau malah sengaja. Awas ya, nanti di rumah. Sebel. Karena masih kesal akibat ulangan tadi, membuatku nggak bersemangat di pelajaran kedua dan ketiga. Bertambah kesalnya karena Mona nggak berhenti menggangguku dengan pertanyaan, “Del, kamu nggak papa? Kok cemberut? Ngambek ya? Laper? Tenang, Del, bentar lagi istirahat kok. Kita jajan bakso ya nanti.” Aduh, Mon, please deh.

Akhirnya bel sekolah yang aku tunggu-tunggu bunyi juga. Bel tanda istirahat. Dan itu artinya, saatnya ke kantin. Aku dan Mona—seperti biasa, menjadi yang pertama keluar dari kelas dan buru-buru menuju kantin, memesan bakso Pak Min dan semangkuk es campur.


“Mon, hari ini kamu yang traktir ya.” Kataku sambil menuangkan sambal dan saus tomat banyak-banyak ke mangkuk baksoku.

“Kok aku, Del? Bukannya sekarang giliranmu yang mentraktir?”

“Iya sih. Tapi hari ini aku lupa bawa uang, Mon. Jadi kamu aja, ya.”

“Hai, cewek-cewek. Boleh gabung?”suara cowok dari arah belakang dan menepuk bahuku dan Mona. KERAS.

“BONI!!” Teriak kami berdua.

“Mau donk, baksonya.” Kata Boni siap merebut bakso yang sudah hampir masuk ke mulutku.

“Pesan sendiri sana. Mona yang traktir kok.” Kataku langsung melahap bakso yang jadi inceran Boni itu.


“Bener, Mon? Pak, baksonya satu lagi ya!!”teriak Boni ke Pak Min.

“Eh, asal aja nih Fidel. Nanti kalau uangnya nggak cukup gimana? Aku kan cuma bawa uang sedikit hari ini.”

“NGUTAAANGG. . .”aku dan Boni serempak menjawab, mengingat kebiasaan kami yang suka nge-bon di kantin.

“Yeee. . . Emangnya kalian.” Kata Mona sambil berdiri dan mengeluarkan selembar uang 10 ribu dari dompet billabongnya. “Nih, aku baik kan. Besok gantian kalian yang bayar. Awas kalo nggak.”

Oh, hari ini benar-benar membosankan. Jam istirahat sudah habis, sekarang saatnya pelajaran bahasa inggris. Hari senin adalah hari dengan daftar pelajaran yang membosankan. Matematika, sejarah, bahasa inggris dan beberapa daftar pelajaran membosankan lainnya.

“Del, udah tahu belum hot news di sekolah kita?”

“Apaan? Bu Angela akhirnya nikah? Atau Daanish main sinetron?”

“Salah semua. Yang bener, ada murid pindahan dari Jakarta. Cakep lho, aku udah liat kemarin.”

“Cowok apa cewek?”

“Ya, cowok lah Del. Kalau cewek, ngapain aku cerita.”

“Kali aja. Cowok itu kelas berapa?”

“Kelas 11 juga. Sebelah kelas kita.”

“Sekelas sama Daanish donk. Wah, pasti jadi inceran Daanish and the gank.

“Iya. Tambah susah deh usaha kita buat mendapatkan cowok.”

“Kita? Emang si Melky mau ditaruh mana?”

“Oh iya ya. Hampir lupa sama si Honey Bunku.”

Dasar Mona, pacar sendiri lupa. Melky adalah pacar Mona. Tepatnya, pacar pertama. Melky anak kelas 10, dan itu artinya Mona pacaran sama adik kelas atau brondong. Aku dan Boni sering meledek Mona karena mau pacaran sama brondong. Tapi Mona selalu bangga, dan bilang, “Masih mending kan punya pacar daripada nggak punya?”. Sindiran yang halus mengingat sampai detik ini aku belum juga punya pacar.Entah kenapa belum ada satupun cowok-cowok di sekolahku yang berhasil memikat hatiku. Nggak ada yang seganteng Christian Sugiono, yang cool seperti Nicholas Saputra, atau minimal yang manis seperti DJ Winky. Cowok-cowok ganteng disekolah bisa dihitung pakai jari, dan sudah pasti mereka nggak mungkin melirik aku. Yang pasti mereka mengincar cewek cantik dan populer seperti Daanish. Uh, kalau semua cowok ganteng naksir Daanish itu artinya nggak akan ada cowok buatku. Dan aku bisa jadi selamanya menjomblo. Benar-benar kisah yang tragis.

“Mon, pulang sekolah ke Amplaz yuk. Nomat.”

“Aduh, hari ini nggak bisa, Del. Sori ya, aku harus jaga CADANZA, soalnya Mama nanti ada arisan. Bukannya Mamamu juga arisan nanti, Del?”

“Oiya. . Hari ini arisan Ibu-ibu “pejabat” ya? Yes, kalau gitu aku main ke tempatmu aja ya, Mon?”

“Hah? Arisan ibu-ibu pejabat? Maksudnya, Del?”

“Iya. Arisan Mamamu sama Mamaku tuh udah kayak arisannya ibu-ibu pejabat aja.

Ngumpulnya aja di café-café yang mahal, udah gitu pakai ada dress code segala lagi. Belum lagi uang arisannya 1 juta tiap orang. Buang-buang duit aja deh, Mama-mama kita.”

“Seru kali, Del. Kita bikin arisan juga, yuk. Tapi 50 ribu aja. Gimana?”

“Ogah.”

“Ah, Fidel. . .”

Bel sekolah tanda sekolah berakhir berbunyi. Akhirnya, it’s time to fun. Aku harus bersenang-senang setelah hari ini dipusingkan oleh matematika sialan itu dan pelajaran lainnya yang semuanya membosankan. Kenapa sih orang harus sekolah? Bangun pagi, berangkat jam 7 dan baru pulang siang harinya. Kenapa Mama nggak ngebolehin aku Home Schooling aja ya. Tapi kalau Home Schooling tetap ada matematika kan. Huh, itu sih sama aja. Cuma enaknya, kita nggak perlu bangun pagi untuk ke sekolah dan pakai seragam. Tapi nggak enaknya, nggak punya teman dan pasti nggak ada yang namanya jajan di kantin. Bagaimanapun, sekolah masih tetap menyenangkan daripada nggak sekolah.


“Del, jadi ketempatku nggak? Aku bawa motor sendiri nih.”

“Iya deh, aku ikut.”

“Eh, Del. Liat tuh di depan.” Kata Mona menunjuk ke arah gerbang sekolah.

“Apaan sih?”

“Itu tuh. Itu anak barunya.”

Dan mataku langsung tertuju pada sesosok pria bertubuh tinggi dan berkulit putih itu. Mirip Samuel Heckenbucker pemain sinetron itu. Ganteng.

“Cakep ya, Del?”

Aku masih terpesona dengan sosok cowok di depan gerbang sekolah itu. Akhirnya ada juga yang “bening” di sekolah. Seandainya. . .

“Del, nggak lagi melamun kan?”

“Ng. . . Nggaaakk. Eh siapa sih nama anak baru itu, Mon?

“Hmm, kalau nggak salah ada nama planetnya. Venus, Mars atau. . .” Mona mencoba mengingat-ingat. Payah. Bakal lama nih. “Ohya, kalau nggak salah Jupiter.”

“Namanya Jupiter? Wah, keren.” Nama yang unik.

“Del, jadi pulang bareng nggak?”

“Iya. Yuk. . .” Kataku semangat. Ah senangnya, sekarang sudah ada cowok yang bisa dijadikan obyek flirting, kataku dalam hati. Dan jangan sampai Daanish akan merebutnya dariku. Kali ini aku harus menang. Harus.


1st Chapter by: Yoan

Read More ......