Monday, March 23, 2009

Untitled

-

“Apa?”
“Cowok itu… harus bisa ngeyakinin gue… kalo cinta dia lebih besar daripada cinta gue... Vido, Alex, Freddy dan Andrie ke lu. Selama dia nggak bisa ngebuktiin itu semua… gue nggak bakalan ngijinin lu pacaran, Nya.”
Semua terdiam. Kata-kata Marell membuat semuanya terperangah. Syarat yang diajukan Marell bukan syarat yang berhubungan dengan fisik atau pun otak seperti yang diajukan oleh empat orang teman kentalnya itu. Marell malah mengajukan syarat yang paling utama… syarat yang paling inti dari sebuah percintaan, yaitu masalah hati.
“Apaan sih kalian...?” Anya menundukkan kepalannya dan bersungut tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh keempat sahabatnya itu, “Kalo gitu kapan gue bisa punya cowok…”
“Ya sampe lu ketemu ama cowok yang memenuhi syarat-syarat itu…,” Freddy membalas perkataan Anya dengan kesan acuh tak acuh.
“Satu lagi…,” Alex mengeluarkan suarannya, “Dia nggak boleh bikin lu nangis.”
“Kalo nangis bahagia gimana, gol?”
“Apaan tuh gol?”
“Dogol!” Vido tertawa pelan berhasil menjahili Alex sekali lagi.
“Ya kalo itu sih lain cerita, bego!”
Marell kemudian berdeham pelan, “Pulang yuk! Udah jam 10 lebih nih…”
“Anak rumahan lu! Biasanya juga lu di jalanan sampe jam 3 pagi!” Freddy menyindir Marell yang terlihat lembek.
“He! Lu pikir sekarang kita lagi nge-track apa? Ada Anya, gol!”
“Sindrom… sindrom…”
“Diem lu pada!” Marell bangkit dari duduknya, “Pulang, Nya.”
“Bentar lagi aja, Rell.”
“Nggak. Besok kan masih sekolah. Cepet.”
“Rese lu!”
“Iya, iya, iya… terserah lu aja. Tapi sekarang lu harus pulang.”
Anya masih duduk di tempatnya. Ia mengapit lengan Alex dan Andrie yang duduk di kiri-kanannya. Marell menggeleng dan berjalan ke belakang Anya dan menepuk pundak Anya, “Nya… udah malem… Pulang yuk!” Anya masih tak bergeming, “Besok pagi lu kesiangan.”
“Pulang gih, Nya…,” Andrie mendukung Marell.
Anya menghembuskan nafasnya. Padahal hari ini dia merasa senang karena bisa berkumpul dengan kelima ‘penjaganya’ itu. Tapi lagi-lagi… karena sindrom kebapakan mereka semua… Anya terpaksa mengalah (lagi-lagi). Anya berdiri dari duduknya dan dengan wajah di tekuk memandang Marell. Marell menyentil pipi Anya, “Kontrol tuh muka.”
“Rese lu….”
Marell tersenyum dan menggenggam tangan Anya, “Duluan,” Marell berpamitan pada keempat temannya yang masih betah duduk di tempatnya tanpa bergerak.
“Yo. Ati-ati lu! Jangan ngebut-ngebut.”
“Sip.”
“Jaga Anya.”
“Sip.”
Marell melangkah keluar dari warung tenda itu bersama dengan Anya. Marell kemudian menyerahkan sebuah helm berukuran lebih kecil dari helmnya dan ditempel stiker huruf A kepada Anya, “Pake.”
“Rese lu.”
“Iya…,” Marel tersenyum memandang tampang Anya yang masih kelipet-lipet itu.
“Rese.”
“Iya, iya…,” Marell naik ke atas motornya dan menyalakan mesin motornya, “Naik.”
Anya naik ke atas motor Marell dan memeluk pinggang Marell dan membiarkan kepalanya menyandar pada punggung Marell, “Rese… Lu paling rese sedunia…”
“Iya, iya… Pegang yang kuat ya… Jangan ketiduran lu.”
Anya tak membalas perkataan Marell lagi. Anya sekarang memilih tersenyum, menikmati kehangatan punggung Marell yang selama satu tahun ini selalu menemaninya. Marell tak pernah memarahi dirinya, membentakknya, begitupun dengan ketiga sahabatnya yang lain. Semua yang dilakukan oleh keempat sahabatnya itu, pastilah, terbaik untuk dirinya. Terkadang Anya memang merasa jengah dengan semua perhatian yang sedemikian banyaknya. Dia merasa menjadi sosok yang manja di depan keempat orang yang selalu berada di sampingnya itu. Terlebih setelah kepergian Nickho… keempat sahabatnya itu menjadi semakin over-protective terhadap Anya. Membuat Anya takut jika semua perhatian itu hanya semata-mata rasa kasian… atau sebatas tanggungjawab atas permintaan Nickho…
“Rell…”
“Hm?”
Anya terdiam sejenak. Anya mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk pertanyaannya, “Kalian semua… baik banget ya…”
“Lu ngomong apa sih?”
“Kalian… ngelakuin semua itu… maksud gue, kalian ngejaga gue sampe saat ini bukan karena semata-mata… kasian kan?”
Marell terdiam. Dia tak menjawab pertanyaan Anya.
“Rel…”
“Bisa nggak kalo nanya tuh mikir dulu?"
Anya terdiam mendengar perkataan Marell. Dikencangkannya pelukannya pada Marell. Betapa bodoh dirinya ini… Mengapa bisa berpikiran seperti itu. Anya memejamkan matanya dan berkata pelan, “Sorry…”
Marell melepaskan tangan kirinya dari setir motornya dan menepuk tangan Anya yang melingkar di pinggangnya, “Jangan pernah mikir kayak gitu lagi…”
“Iya…”
Perjalanan pun kembali hening… hanya sesekali terdengar suara angin dan daun yang tertiup angin malam…



1st Chapter oleh Melly P. K. R.

Read More ......

Empat Jemari

-

10 tahun silam…

Sutra hitam itu tergerai indah dibahu gadis yang duduk tertunduk didepan teras rumahku. Matanya melelehkan kristal cair yang sarat akan kepedihan. Bibirnya bergetar menahan luka yang hampir menggerogoti hati dan tubuhnya. Beban yang harus ditanggung seorang gadis berumur empat belas tahun yang baru sekuning muda bakal kunyit dalam tanah..
Berat..
Perih..
Goyah..

Kupeluk Ia dan berkata lewat usapan lembut tanganku yang tak pernah merasakan apa yang tengah dirasakannya bahwa Ia aman bersamaku disini. Dirumahku, dirumah sahabatnya yang akan selalu ada kapanpun waktu dan kebahagiaan pergi sejenak meninggalkannya. Kusentuh sutra hitam itu, kuhapus kristal cair itu dan mengajaknya tersenyum. Tersenyum pada dunia, tersenyum pada kepedihan..

“Ada apa Nit?”. Aku berusaha mengurangi bebannya dengan senyumku. Senyum seorang gadis tiga belas tahun.

Bahunya berguncang hebat. Ia makin erat memelukku. Hatiku pun semakin sakit dipeluk oleh tangis penderitaannya. Pilu aku mendengar seguknya. Tak pernah kulihat Ia semenderita ini walau aku tahu bahwa sampai hidupnya ini Ia masih dan memang menderita.

“nyokap gue ta..kakak gue…”. Tak sanggup Ia teruskan kata-katanya. Bahunya kembali berguncang.
Kubelai dan kupeluk Ia dengan erat. Dalam pelukku padanya aku berdoa pada Tuhan, “Ya Tuhan, berikanlah Ia kebahagiaan seperti aku merasakan kebahagiaan. Buat aku selalu ada untuknya” .

“Kenapa Nit? Coba cerita sama gue ya..”. kuberikan air putih untuk minumnya, berharap air pemberian Tuhan yang dapat memadamkan api dapat pula memadamkan penderitaan yang ditanggungnya.

“gue…gue dipukulin sama nyokap dan kakak gue…”
Langit malam berbintang dan berbulan. Namun mengapa aku merasa kalau aku mendengar lecutan petir didalam kepalaku ?.

”Astaghfirullah...kenapa Nit ? gara-gara apa ? ”. aku yang tak pernah merasakan memiliki ibu dan kakak tiri seperti sahabatku Anit berusaha mempelajari apa yang dialaminya.
Mengalirlah semua kisah hari itu. Kisah terpedih yang pernah kudengar saat umurku tiga belas tahun.

“bokap gue ngga pulang Ta..udah beberapa hari. Ngga kirim uang juga buat nyokap tiri gue. Kata nyokap tiri gue, bokap gue punya istri muda lagi. Rambut gue dijambak nyokap gue, gue ditampar sama kakak tiri gue, ditendang. Nyokap gue bilang kalo gue anak bawa sial, anak haram...gue ngga tahan Ta, gue selalu jadi pelampiasan marah nyokap dan kakak tiri gue...gue mau mati aja ”. bibirnya semakin bergetar...tangisnya pecah.

Dalam pejam mataku aku kembali bertanya pada Tuhan, ‘Ya Tuhan, cobaan macam apa yang tengah kau berikan pada gadis empat belas tahun ini. Aku sebagai gadis tiga belas tahun pun tak mengerti apa yang harus kukatakan padanya. Pada sahabat tersayangku yang menanggung beban yang entah patutkah disandang gadis hitam manis dan penuh tawa ini’.




1st Chapter oleh Talitha Lubis

Read More ......

The Smile

-

Dingin—

Angin musim dingin berhembus pelan merembes dinding kastil yang tebal. Pinggiran danau tampak mulai tertutupi lapisan es tipis yang tak lama lagi akan menutupi seluruh permukaannya. Suasana musim gugur yang coklat, muram, dan bergelimang daun-daun kering mati akan menghilang. Digantikan dengan musim dingin bersalju yang putih pucat, seakan-akan siap membekukan siapa saja yang dengan cerobohnya keluar ke udara terbuka tanpa dipersenjatai jubah hangat ataupun syal tebal.

Kastil itu berdiri kokok di atas bukit. Menjulang gagah menantang angin dingin yang menerpa dari setiap sisi bukit. Atapnya, yang dipenuhi salju putih pucat, seakan tak mau pernah kalah dari rendengan hujan badai salju yang ganas. Keenam menaranya menjulang tinggi menghadap langit kelabu musim dingin. Keempat menara tertingginya mencakar langit dan tak tergoyahkan hanya karena hembusan angin beku. Kastil itu, adalah bekas benteng Kerajaan Inggris pada abad ke-12. Kastil tua bernama Westmistress itu seakan tak lekang oleh waktu. Dinding-dinding tebal dari batunya tetap kokoh berdiri, tak tergoyahkan.

Kastil megah itu kini beralih fungsi menjadi sebuah institusi pendidikan terkenal di seantero Inggris bernama Buckingham Institue. Sebuah sekolah ternama di mana anak para bangsawan dan konglomerat Inggris mengenyam pendidikan. Kastil itu terbagi menjadi beberapa bagian—Sayap Barat, Sayap Tengah, dan Sayap Timur. Tiap koridor, lantai, dan lorongnya bernuansa abad Renaissance yang sangat kental. Banyak sekali ruangan di kastil itu, sehingga sangat cocok untuk dijadikan ruang kelas. Will berada di sayap utara sekarang. Menerima pelajaran sejarah, yang tentu saja, membosankan. Putra seorang bangsawan Duvall itu terkantuk-kantuk mendengarkan ocehan gurunya yang seperti dengungan lebah di depan kelas. Setidaknya Ia masih bisa bertahan. Tak seperti beberapa anak tolol yang dengan tampang idiotnya benar-benar tertidur beralaskan buku tebal terbuka yang, tentu saja, tergenangi ceceran air liur menjijikkan—tolol...

Perpustakaan adalah tujuan Will selanjutnya setelah pelajaran Sejarah yang membosankan. Hanya perpustakaanlah tempat yang menurut Will paling tenang, hangat, dan tak berisik. Bagaimana mau berisik? Nona Pince,—penjaga perpustakaan sekolah—terkenal sangat galak dan tak segan-segan untuk melontarkan pandangan tajam menusuk kepada siapa saja yang mencoba ribut dan berisik di perpustakaannya. Jadi mau tak mau para murid yang hendak berbicara harus rela memelankan suaranya hingga menjadi bisikan kalau tak mau menerima 'pandangan-tajam-menusuk' andalan wanita berperawakan kurus bagai burung Nasar itu. Will tak terlalu keberatan dengan peraturan itu. Karena pada dasarnya Will adalah anak yang hanya berbicara seperlunya. Ia juga suka menyendiri. Tenggelam dalam buku-buku tebal perpustakaan atau hanya sekedar duduk-duduk di taman. Sendirian tentu saja..

Namun tiba-tiba Will menangkap suara sesuatu ketika berada di koridor lantai 2. Syal hijau tetap melilit aman lehernya saat itu. Hangat. Tapi telinganya ditajamkan. Alunan lagu? Disaat seperti ini? Di sana tampak tak ada siapapun. Hanya ada Will yang berdiri sendirian sepanjang koridor. Sepertinya suara itu berasal dari salah satu kelas kosong yang ada di lantai itu. Seseorang atau sesuatu sedang memainkan gramaphone yang biasanya ada di tiap kelas kosong. Tapi, untuk apa? Oho— Will sudah bisa menebak, pasti untuk Pesta Dansa. Will sedikit mengernyitkan alisnya. Lagi-lagi latihan untuk Pesta Dansa konyol. Heran, semangat sekali sih gadis-gadis itu—?

Bocah berambut kecoklatan dan bermata kelabu itu sedikit berjingkat menuju ke arah pintu kelas kosong yang terbuka di ujung koridor. Will tak mau seseorang, atau sesuatu, itu mengetahui ada yang diam-diam mengintipnya. Seleret cahaya menyeruak keluar dari dalam ruangan itu. Menciptakan sebuah jalan cahaya berbentuk persegi yang memanjang dari lantai ke dinding. Will semakin dekat ke arah pintu itu. Dilongokkannya kepalanya sedikit. Hanya ingin tahu siapa gadis tolol yang melakukan latihan dansa konyol untuk pesta dansa dengan lagu aneh seperti ini—tak lebih. Dan Will akhirnya tahu, sesosok gadis tampak berdiri di tengah ruangan sambil melakukan gerakan-gerakan aneh—setidaknya aneh buat mata seorang Willard. Will hanya bisa mengamati gadis berambut pirang itu.

Lagu aneh dengan vocal suara seorang laki-laki yang berduet dengan suara melengking ganjil itu masih mengalun dari gramaphone. Sementara Will juga masih tertegun di depan pintu kelas kosong yang terbuka, memperlihatkan pemandangan yang tak kalah ganjilnya dengan lagu tadi. Seorang gadis, sendirian di kelas itu dan tampak sedang melakukan gerakan-gerakan yang membuat Will mengernyit. Seakan gerakan-gerakan itu bakal membuat siapa saja yang memandangnya pingsan seketika. Gadis itu berjoged sendiri diiringi dengan lantunan lagu ganjil tadi. Ha! Will berani bertaruh demi Kancut Para Politikus Korup, kalau gadis itu sedang melakukan suatu bentuk latihan dansa untuk menyambut Pesta Dansa yang diadakan sekolahnya tak lama lagi. Will kembali mengernyit keheranan. Bagaimana tidak? Seluruh kastil—bahkan di tiap sudutnya—dipenuhi oleh anak-anak yang gencar-gencarnya mengadakan acara 'Latihan Dansa'. Sebegitu pentingnyakah pesta itu?

Will masih tak mengerti untuk apa acara—yang menurutnya konyol—itu diadakan. Membina persatuan dan kesatuan? Jelas bukan, karena harus berpasangan kalau mau datang ke pesta itu. Dan itu hanya 2 orang. Kesatuan 2 orang? Pacaran? Weird— Selain itu yang boleh datang hanyalah murid tahun ketiga ke atas. Kecuali ada murid tahun ketiga yang memutuskan untuk mengajak adik kelasnya untuk berpasangan dengannya. Sekali lagi, itu konyol. Will bersyukur sekali kalau hanya tahun ketiga ke atas yang boleh menghadiri pesta itu. Maka dia tak bakalan terlihat sangat tolol karena dengan berani dan begonya turun ke lantai dansa dan, tentu saja, berdansa. Oh, Will tak bisa membayangkannya. Tak mau membayangkannya lebih tepatnya. Bagaimana bisa seorang Willard turun dan berdansa dengan seseorang di lantai dansa. Celaka tigabelas, berdansa pastilah bakal menjadi hal paling berani yang pernah Will lakukan selama ini. Berdansa? Tidak, terima kasih—

Will, bukannya kau tadi mau ke perpustakaan? kata suara di dalam kepala Will mengingatkan. "Iya, iya... Aku tahu.." timpal Will kesal. Siapa yang mau berlama-lama di sini? Bisa-bisa nanti terjadi sesuatu yang sangat tak diharapkan. Will harus segera meninggalkan tempat ini, ke tujuan awalnya. Will lalu berbalik, sambil sedikit berjingkat supaya gadis pirang itu tak sadar kalau ada Will di situ. Anggap aku tak ada, anggap aku tak ada—

Lagu yang mengalun kini berganti. Berubah menjadi lebih aneh serta ganjil. Suara melengking memenuhi ruangan itu hingga terdengar oleh telinga Will yang walaupun berada di luar ruangan tapi masih bisa mendengar lagu aneh tersebut. Sedetik kemudian, hal yang ditakutkan Will benar-benar terjadi. Gadis itu menyadari kehadirannya dan kemudian memanggilnya--meneriaki lebih tepatnya. Will cepat-cepat menoleh sambil sedikit berharap kalau gadis itu hanya sekedar memanggil. Tapi sekali lagi Will salah. Gadis itu telah dengan sangat cekatan dan gesit berpindah dari tempatnya berdiri dan berjoget di tengah ruangan, ke sebelahnya.

”AYO! Ikut berdansa denganku!” seru gadis bermata hijau gelap itu seraya menarik--secara brutal--salah satu lengan Will. Menyeretnya masuk ke tengah ruang kelas kosong. Di mana musik gramaphon terdengar makin keras dan jelas.

“What the—? Hei—,” seru Will. Ada sedikit nada kegetiran di suaranya saat itu. Hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Gadis itu mengajaknya berdansa—oh, kata 'memaksa dan menyeret' Will rasa lebih tepat untuk menggambarkan ajakan itu.

Will mencoba untuk melepaskan tangan gadis itu dari salah satu lengannya. Tapi terlambat, Ia telah berada di tengah ruangan sekarang. Gadis pirang bermata hijau itu tampak sedang berbahagia hati dan dengan sangat antusias mengajak Will bergerak mengikuti irama. Mengikuti gerak menunjuk aneh yang dilakukan gadis itu.

Pergi—pergi sekarang juga dari tempat ini, Willard! Tinggalkan gadis ini di sini. Biarkan dia melakukan hal konyol nan tolol bernama dansa itu di sini. Tanpa dirimu! Intruksi di kepalanya benar-benar bernada perintah, cemas, dan panik sekarang. Will tahu, kalau Ia berdansa, setidaknya bakal ada sepasang kaki yang akan gepeng terinjak kaki Will. Will, bisa dikatakan, idiot dalam hal satu itu. Maka Will hanya berdiri saja, memandang dan mengernyit ke arah gadis yang kembali mulai berjoget sesuai lagu bergenre disko itu. Will tak mau berdansa. Samasekali tak mau...

Tapi masalahnya, bagaimana Will bisa melepaskan diri dari situasi konyol ini? Yang Ia lakukan hanyalah terus memandangi gadis itu memperagakan gerakan-gerakan dansa lucu yang entah mengapa membuat Will makin membenci even Pesta Dansa sekolahnya yang akan diadakan pada malam Natal itu.

”Ayo bergeraklah. Jangan hanya diam seperti patung dong,” gadis itu kembali mengajak Will sambil tetap berjoged aneh. ”Jangan bilang kau tak bisa berdansa ya?”

”Tidak, aku hanya tak mau saja melakukan hal konyol seperti 'latihan dansa'-mu ini,” jawab Will dengan ketus. Uh-oh, tolol kau Will. Apa yang kau katakan? Kau bisa menyinggung perasaan gadis itu. ”Err—lebih baik aku pergi.”

Tapi—

Yang selanjutnya terjadi adalah hal yang paling tidak Will inginkan. Gadis itu seketika meraih tangan Will dan melingkarkannya di pinggangnya. He? Bisa dipastikan muka Will sekarang sudah memerah layaknya udang rebus mentega. Gadis ini gila! pikir Will. Apa yang akan dilakukannya? Benar-benar mengajaknya berdansa? TIDAAKK

”Hei, hei! Aku tak mau. Kau—apa-apaan ini?” Will mencoba melepas 'cengkraman' gadis itu, tapi tak tega. Sangat tak jantan kalau kau berlaku kasar kepada seorang gadis. Terlebih gadis itu, yang ada di pelukan Will, bisa dikatakan sangat manis.

”Ahaha... Relax, Mister—kita hanya berdansa. Tak lebih—,” sahut gadis itu sambil tertawa. ”—dan ngomong-ngomong, kau sudah dapat pasangan dansa untuk Natal besok? Mau datang denganku?”

Geez, sekali lagi, gadis ini benar-benar gila! Mereka kan belum saling kenal? Bagaimana mungkin gadis itu mengajak Will ke Pesta Dansa. Jelas saja Will merasa sangat canggung.

”Eng—apa maksudmu? Mengajak ke pesta dansa, eh?” tanya Will dengan masih melakukan gerakan berputar-putar di sekeliling lantai kelas kosong itu.

”Tentu saja, kau idiot! Yep—aku mengajakmu. Dan kalau kau mau, kau akan kulepas,” ujar gadis itu sambil menyeringai jahil. Sudah terlihat jelas, Will dipermainkan. Tapi ada sesuatu pada gadis itu yang membuat Will tak bisa menolak. Tanpa terasa pula sejak tadi Will dan gadis tak dikenal itu berdansa. Muka Will tentu saja masih memerah dan panas saking malunya.

”Kau bercanda kan?” tanya Will sambil menghentikan langkahnya. Sudah cukup dansanya. Ia merasa seperti udang rebus sekarang. Malu, tapi tertarik. Walaupun sebenarnya Will masih sangsi Ia akan nyaman berada di antara kumpulan anak-anak konyol yang menghadiri pesta dansa nanti. Tapi gadis ini, berani. Will, bisa dikatakan, sedikit terpesona dengan gadis pirang bermata hijau tua yang ada di hadapannya sekarang.

”Tidak. Dan sekarang, jawab ajakanku. Kau mau—atau tidak? Cepatlah, sebentar lagi pelajaran Aritmatika-ku akan segera dimulai. Coba kau tahu betapa mengerikannya guru yang mengajar pelajaran itu,” tuntutnya mulai tak sabar. Diliriknya jam di tangan kanannya sembari melepaskan pelukan Will di pinggangnya. Will sedikit lega mereka tak berada dalam posisi canggung seperti tadi. Hal ini memberikan dampak yang signifikan pada Will. Yang semula berbicara terbata-bata karena canggung, kini kembali jadi seperti Will yang biasanya. Tatapan dingin kembali ditampakkan oleh matanya.

”Uh—oke. Kalau kau memaksa,” jawab Will dengan nada yang sebisa mungkin Ia datarkan agar tak terdengar seperti orang yang gugup. Will tidak mau menjadi gugup hanya karena seorang gadis. Walaupun begitu, Will agaknya sedikit menyukai gadis itu. Terlebih senyum jahilnya. Suatu saat mungkin—akan terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Mungkin— ”Tapi, nama. Kita bahkan belum berkenalan.”

”Nama? Oh, aku lupa—," cengiran jahil itu kembali menghiasi wajahnya. Sesaat tampaknya wajah Will kembali memerah. Tapi Will buru-buru berusaha menguasai diri. Hei, kau kenapa Will? “—aku Louisa, panggil saja Lou.”

“Aku Willard—Willard Duvall. Panggil saja Will—”


* * * *


Tiga minggu berlalu sejak 'Insiden Latihan Dansa' itu terjadi. Sejak saat itu, Lou dan Will sering menghabiskan waktu senggang mereka bersama-sama. Hanya untuk sekedar duduk-duduk di taman, disela-sela pergantian jam pelajaran. Mereka membicarakan banyak hal bersama. Tentang keluarga Will, tentang keluarga Lou, semua. Bahkan mereka membicarakan keadaan Inggris yang notabene saat itu sedang mengalami gejolak Revolusi Industri. Obrolan berat diselingi dengan obrolan ringan dan senda gurau. Mereka mengobrol tentang apa saja yang dapat dilahap dan dikupas sebagai bahan obrolan. Apapun. Dengan begini keduanya akan bisa selalu mempunyai alasan untuk tetap bersama. Dan yang pasti, mereka menantikan saat-saat Pesta Dansa--well, hanya Lou yang antusias sebenarnya. Will hanya menuruti gadis itu.

Malam Natal telah tiba. Pelajaran-pelajaran pada hari itu ditiadakan. Anak-anak dipersilahkan menyibukkan diri berdandan untuk menyambut Pesta Dansa. Aula Besar kastil telah di dekorasi sedemikian rupa sehingga di sana-sini telah berdiri banyak pohon cemara besar yang telah dihiasi berbagai macam ornamen. Aula yang sebelumnya tampak muram dengan hiasan-hiasan dinding usang, kini berubah menjadi indah. Seakan disulap. Will sedikit kagum kepada para pendekor aula itu, lumayan. Para pemusik juga tampaknya telah didatangkan oleh sekolah dari London. Sementara itu anak-anak masih juga berseliweran kesana-kemari, Will masih tetap duduk-duduk santai di salah satu sudut aula yang belum di dekor. Lou berbicara cepat di sampingnya dengan seorang gadis. Mungkin temannya. Will tak mau menguping tentu saja, tapi pembicaraan kedua gadis itu terdengar jelas. Tentang gaun. Will hanya bisa memutar mata dan kembali memandang berkeliling. Obrolan wanita.

”Ayo, kita segera bersiap-siap. Ini sudah pukul 5,” kata Lou tiba-tiba. Bukan kepada teman gadisnya, melainkan kepada Will.

”Oke—aku tunggu kau di depan Aula tepat pukul 7,” kata Will. Kemudian kedua anak itu beranjak pergi dari aula. Menuju kamar masing-masing. Will ke kamar asrama putra di menara Utara, semnetara Lou ke kamar asrama putri di menara Selatan. Will sudah menyiapkan sebuah setelan jas hitam di kamarnya. Kiriman dari rumah. Sambil berjalan Will berharap, jubahnya tak terlalu konyol.


* * * *


Malam telah turun. Di kaki tangga berdiri seorang anak laki-laki. Bersetelan jas hitam mahal yang baru dikirimkan Mum-nya. Rambutnya ditata dan disisir rapi, tak seperti biasanya; berantakan, acak-acakan, dan tak terawat. Wangi-wangian semerbak menguar dari tubuh bocah berumur 16 tahun itu. Dengan gugup, Ia melirik arloji perak yang melingkar di tangan kirinya. Sepatu mengkilatnya, mengetuk-ketuk lantai batu dengan tak sabar. Bocah itu memandang berkeliling. Banyak anak-anak lain berseliweran kesana-kemari, mencari pasangannya di tempat yang telah ditentukan. Ya, seperti bocah itu.

♫♪And when you rise in the morning sun♫♪
♪♫I feel you touch my hand in the pouring rain♪♫

Alunan lagu mendayu terdengar dari arah Aula Besar, tempat di mana Pesta Dansa diadakan. Bocah itu makin gelisah dan makin sering melirik arlojinya.

”Gosh, dia terlambat—,” umpat bocah bersetelan jas itu.
Menit demi menit berlalu, bocah itu masih menunggu dengan sabar sementara yang lain sudah menuju ke Aula. Kakinya makin cepat Ia ketuk-ketukkan ke lantai sambil bersandar pada pegangan paling bawah anak tangga. Perasaan bocah itu campur aduk. Gelisah, gugup, bimbang. Haruskah Ia menghadiri Pesta konyol ini? Kemudian akhirnya, yang ditunggu menampakkan diri.

Di puncak tangga, berdiri seorang gadis. Gaun gemerlapnya berwarna putih pucat sepucat salju yang ada di luar kastil. Rambut gadis itu digelung ketat ke atas, menampakkan leher jenjang berhiaskan kalung cantik, secantik pemakainya. Gadis itu turun perlahan menghampiri si bocah yang kini berlagak memberengut, berusaha menutupi ketakjubannya melihat pasangan dansanya malam ini. Gadis itu tersenyum, tipe senyuman yang mungkin saja dapat menjinakkan seekor singa jantan.

”Kau terlambat, Lou—” ujar bocah laki-laki itu ketus. Meskipun begitu, wajahnya memerah entah kenapa. ”—sudah waktunya, ayo.”

Sorry—sepatuku, hampir-hampir tak muat,” kata Lou membela diri. Senyuman biasa tetap merekah di wajahnya.

”Uh, oke,” timpal Will sambil menyodorkan sebelah lengannya, bermaksud untuk diapit gadis itu. Keringat mulai menetes di pelipisnya. Tegang, gugup—

”Oke. Aku bersamamu—dan kau tak usah gugup. Dan berhentilah mengetuk-ketukkan kakimu, berisik,” Lou memasang senyuman lagi. Tapi senyuman yang lain, senyuman favorit Will, senyuman jahil khas Louisa. “Oh, satu lagi—ingat, jangan menginjak kakiku ya?”


♪♫And you come to me on a summer breeze♫♪
♫♪Keep me warm in your love♪♫

Will tak menjawabnya, karena yang dilakukannya selanjutnya adalah berjalan menuju pintu Aula sambil tetap menatap wajah gadis itu tak berkedip. Ia tak mau barang sedetik saja terlewatkan malam itu. Pesta Dansa bisa diatasi asal ada Lou di sampingnya. Will tak perlu khawatir akan mati kebosanan di dalam sana. Karena Ia sadar dan tahu pasti, gadis di sampingnya telah menjadi sesuatu yang berarti baginya. Seseorang yang mampu 'menjinakkan' seorang Willard. Seseorang yang senyuman jahilnya sangat didambakan oleh Will.

”Kau—ready?” bisik Lou lirih ketika mereka sudah tinggal selangkah lagi membuka pintu dan masuk ke Aula Besar. Ia mengapit tangan Will erat. Seakan tahu, kalau hal itulah yang akan selalu Will inginkan. Berada disampingnya. Selalu ada.

Wish me luck—“

Mereka berdua melangkah. Menuju alunan lagu merdu mendayu yang dimainkan para pemusik dari dalam aula yang diselingi dengan dengungan anak-anak yang mengobrol. Masing-masing mengapit lengan. Hangat. Mereka berdua berharap malam seperti ini tak pernah berakhir.

Malam kebersamaan mereka—

—fin—



Disclaimer : Cerpan ini terinspirasi dari sebuah thread RPG di Forum IndoHogwarts.co.nr yang berjudul “Let’s Get The Beat”—yang didalamnya berisi Galvatron Feargus (chara punya saiia) dan Louisa Napoleon (chara punya Talitha—tengs, sistah~). Alur dalam thread itu saiia tuangkan dalam cerpan saiia dengan sedikit banyak perubahan—antara lain penghapusan unsur sihir Hogwarts dan perubahan nama Galvatron Feargus menjadi Willard Duvall. Selain itu, keknya kredit 100% ke saiia selaku penulis… =P




1st Chapter oleh Reando Dika Pratama

Read More ......

Sita + Oma Stella

-

-S A T U-


Dari pagi hari, semenjak baru bangun dari tidurnya dan membuka mata, Sita sudah merasakan adanya firasat yang aneh. Firasat yang Sita tidak tahu dari mana datangnya. Firasat yang mengatakan akan terjadi sesuatu pada hari ini. Namun Sita tidak begitu mempedulikannya. Ia pun bergegas menyiapkan diri untuk segera berangkat ke sekolah.

Setibanya di sekolah, Sita bahkan sudah melupakan tentang firasat yang datang menghampirinya tadi pagi. Pelajaran-pelajaran yang menuntut konsentrasi, bertemu dan bercanda dengan teman-temanlah yang menjadi penyebabnya. Firasat yang tadi pagi sempat muncul seolah-olah sudah menguap tidak berbekas.

Sita baru ingat tentang firasat itu lagi saat pulang sekolah. Saat dilihatnya ibunya duduk menangis di ruang tamu, Sita langsung tahu ada sesuatu yang telah terjadi. Sita pun bergegas menghampiri ibunya. Melihat Sita datang, ibu langsung mendongak dan memeluk putri tunggalnya itu.

“Ibu kenapa menangis?” tanya Sita. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan tanda tanya mengenai apa yang terjadi.

“Oma Stella,” jawab ibu dengan suara pelan sambil berusaha menahan tangisnya. “Oma Stella masuk rumah sakit.”

Hati Sita seakan menciut mendengar kabar itu. Oma Stella masuk rumah sakit. Oma kesayangannya.

“Kenapa dengan Oma Stella, bu?” tanya Sita langsung. “Oma Stella sakit apa?”

“Ibu juga baru saja mendapat kabar dari Om Anwar,” jawab ibu. Om Anwar adalah suami Tante Sisil, adik kandung ibu. “Katanya Oma Stella terkena stroke. Ada perdarahan di bagian otaknya. Sekarang Oma Stella sudah ada di rumah sakit.”

“Kalau begitu, kita juga harus ke rumah sakit sekarang, bu,” kata Sita. “Sita juga mau melihat bagaimana keadaan Oma Stella sekarang.”

Ibu mengangguk setuju mendengar perkataan Sita. Dilepaskan pelukannya pada Sita kemudian tangannya menghapus bekas lelehan air mata pada pipinya. Rupanya ibu sudah mampu mengendalikan emosinya dan berhenti menangis.

“Ibu memang berencana mengajakamu kesana,” kata Ibu. “tetapi kamu harus berganti pakaian dulu. Terus makan siang bersama ibu. Itu sudah ibu siapkan.”

Sita langsung bergerak cepat. Ia segera berganti pakaian dan makan siang bersama ibu. Makanan yang sebenarnya enak itu, kali ini hanya terasa hambar dan seakan hanya menumpang lewat di dalam mulut Sita untuk kemudian segera ditelannya. Pikiran Sita sudah terlanjur dipenuhi oleh Oma Stella.

Setelah makan siang, Sita dan ibunya bergegas ke rumah sakit. Sesampainya di sana ternyata sudah ada Tante Sisil beserta Om Anwar dan dua anak kembar mereka, Doni dan Dino, yang terlihat mengantuk di pangkuan ayah mereka. Mereka semua duduk menunggu di luar suatu ruangan yang menurut perkiraan Sita merupakan kamar tempat Oma Stella dirawat. Wajah mereka tampak menunjukkan ekspresi yang sama. Ekspresi sedih dan takut. Takut kehilangan orang yang dikasihi.

Begitu melihat Sita dan ibunya, tante Sisil segera bangun dari duduknya dan datang mendekat. Sita dapat melihat dengan jelas bekas menangis pada kelopak mata Tante Sisil yang agak membengkak. Matanya sendiri masih berwarna kemerahan.

“Ini salahku, kak,” kata Tante Sisil kepada ibu. Suaranya terdengar serak, seperti akan menangis lagi. “Seharusnya aku tidak membiarkan Tante Stella ke kamar mandi sendirian setelah dia bilang kepalanya agak pusing. Tetapi dia bersikeras tidak mau ditemani.”

Tante Sisil dan ibu memang memanggil Oma Stella dengan sebutan “tante” karena memang mereka berdua setingkat anak bagi Oma Stella. Sedangkan Sita memanggilnya dengan sebutan “oma” karena Sita setingkat cucu bagi Oma Stella.

“Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Ini bukan salah siapa-siapa” kata ibu berusaha menenangkan adiknya.”Bagaimana dengan keadaan tante Stella sekarang?”

“Tante Stella belum sadar juga,” jawab tante Sisil dengan suara lirih. “Menurut pengamatan dokter, kalau ia tidak sadar-sadar juga, bisa dikatakan ia sudah memasuki masa koma, tapi kita lihat saja perkembangannya nanti.”

Wajah ibu langsung memucat mendengarnya. Sita sendiri juga terkejut. Kabar ini tentulah bukan kabar baik. Mereka tidak menyangka kalau keadaan Oma Stella sudah sampai sejauh ini.
Ibu berjalan meninggalkan tante Sisil dan langsung menuju ke kamar tempat Oma Stella dirawat. Sita sendiri mengekor di belakang ibu. Sambil berjalan, Sita sempat memberi salam kepada Om Anwar dan Doni serta Dino dengan menganggukkan kepala yang dibalas dengan gerakan serupa.

Ketika sampai di depan pintu kamar tempat Oma Stella dirawat, kaki Sita mendadak berhenti. Sementara itu, ibunya sudah membuka pintu dan melangkah masuk mendekati ranjang tempat Oma Stella dirawat. Entah kenapa, Sita tidak mau masuk ke dalam kamar. Ia hanya berdiri mematung dan membiarkan pintu menutup tepat di depan hidungnya. Ada rasa enggan untuk masuk dan melihat bagaimana keadaan Oma Stella sekarang.

Dari bagian kaca yang tembus pandang pada pintu masuk, dilihatnya ibu sudah memegang tangan Oma Stella. Pandangannya pun beralih ke arah Oma Stella. Tampak selang pernapasan melintang di atas wajah Oma yang tampak berbeda. Sita tersentak. Merasa tak tahan, ia pun segera memalingkan wajahnya. Oma Stella sudah berubah. Sangat berubah. Dalam hatinya Sita bahkan sempat berucap bahwa yang sedang berbaring di dalam kamar itu bukanlah Oma Stella. Itu bukan Oma kesayangannya, jerit hatinya menolak kenyataan ini. Oma Stella yang dikenalnya adalah Oma yang selalu tersenyum dan tertawa; oma yang wajahnya tidak pernah lepas dari ekspresi penuh semangat hidup. Bukannya perempuan dengan ekspresi datar seperti terlihat pada wajah perempuan yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu. Namun, sekeras apa pun hatinya menyangkal, Sita sadar inilah kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Air mata Sita rasanya ingin tumpah saat mendapati keadaan Oma Stella yang terbaring tak berdaya seperti ini. Pelopak matanya terasa panas. Dengan pandangan yang semakin kabur, Sita berbalik dan memutuskan untuk menjauh dari tempat itu. Ia ingin menjauh dari ruangan ini sekaligus menjauh dari Oma Stella. Kakinya pun segera melangkah menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan cepat.

Akhirnya Sita menghentikan langkah tepat di depan toilet dan masuk ke dalamnya. Di dalam toilet, air mata Sita langsung tumpah tanpa bisa ditahannya lagi. Dadanya terasa begitu sesak. Benaknya dipenuhi bayangan Oma Stella yang barusan dilihatnya. Bayangan Oma Stella yang lemah dan tidak berdaya serta tidak mampu menyadari kehadiran orang-orang yang menyayanginya di sekelilingnya. Mengapa Oma Stella harus menderita seperti ini, tanya Sita dalam hati. Tiba-tiba saat ini dunia terasa amat tidak adil bagi Sita. Tidak adil juga bagi Oma Stella. Oma kesayangannya. Oma kesayangan semua orang yang pernah mengenalnya.
* * * * *

Oma Stella sebenarnya bukan nenek kandung Sita. Oma Stella adalah saudara perempuan dari nenek kandungnya. Sejak kakek dan nenk kandung Sita meninggal karena kecelakaan lalu lintas, kedua anak mereka yang saat itu masih kecil, yaitu ibu Sita dan adiknya, Sisil, diasuh oleh Oma Stella. Oma Stella sendiri pada saat itu sudah memilih untuk tidak berumah tangga. Ia lebih senang kalau masa mudanya dihabiskan dengan “berpetualang”; berjalan-jalan dan menetap di beberapa daerah di Indonesia. Namun demi rasa tanggung jawab dan kasih sayangnya terhadap kedua keponakannya yang masih membutuhkannya, Oma Stella dengan penuh kerelaan hati mengasuh kedua putri kakaknya.

Ibu sering bercerita kepada Sita tentang masa-masa saat dirinya dan Tante Sisil berada dalam pengasuhan Oma Stella. Menurut ibunya, walaupun dirinya dan Tante Sisil merasa sedih karena kehilangan kedua orang tua mereka secara tiba-tiba, mereka tidak pernah merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang. Itu semua karena kehadiran Oma Stella dalam hidup mereka. Oma Stella selalu berusaha menjadi orang tua yang baik bagi mereka. Perhatian dan kasih sayang Oma Stella dirasakan sangat tulus dan tanpa ada kesan terpaksa. Lebih daripada itu, Oma Stella rupanya bukan hanya mengambil alih peran orang tua. Ia juga menjadi teman yang baik bagi kedua gadis kecil anak kakaknya.

Ibu juga menceritakan bahwa ia dan Tante Sisil terbiasa untuk bercerita tentang masalah apa saja kepada Oma Stella. Dan akibat seringnya “berpetualang” dan banyaknya pengalaman hidup di tengah-tengah berbagai macam karakter orang dan budaya di berbagai daerah, pikiran Oma Stella seakan lebih terbuka terhadap semua hal. Tidak ada masalah yang dianggapnya terlalu aneh atau tabu untuk dibicarakan. Oma Stella juga tidak akan pernah memandang suatu masalah dengan cara biasa. Ia akan punya pandangan sendiri yang lain daripada yang lain. Bahkan bisa dibilang kalau pandangannya sedikit “unik” dan kadang terkesan sedikit seenaknya serta asal-asalan. Namun sebenarnya, masih menurut ibu juga, terdapat nilai-nilai kebijakan alami di dalamnya.

Sita masih ingat satu kisah menarik yang pernah diceritakan ibu tentang pandangan Oma Stella yang “unik” itu. Kisahnya sendiri sebenarnya tentang cinta pertama ibu, atau mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai cinta monyet, cinta anak ingusan. Kisah itu terjadi pada waktu ibu kelas tiga SMP.

Suatu pagi, saat baru saja duduk di bangkunya, ibu menemukan sebuah surat beramplop warna biru muda diletakkan di dalam laci mejanya. Di bagian depan amplop tertulis nama ibu. Ibu langsung membolak-balikkan amplop itu sambil mencari dengan seksama nama pengirimnya. Hasilnya nihil. Tidak ada tertulis nama si pengirim.

Tanpa melihat isinya, ibu langsung menebak kalau amplop yang diterimanya ini berisi surat cinta. Sita sempat bertanya darimana ibu mengetahuinya padahal ibu belum membuka amplop itu dan membaca suratnya. Ibu hanya menjelaskan kalau pada waktu itu beberapa teman perempuan di kelasnya pernah mengalami hal yang sama. Jadi ibu pun merasa yakin dengan perkiraannya.

Hati ibu terus berdebar-debar sepanjang jam pelajaran di sekolah. Setiap beberapa saat sekali, ibu menyempatkan diri mengintip ke dalam tas sekolahnya hanya untuk melihat amplop berwarna biru muda itu. Ibu merasa benar-benar penasaran tentang isi surat. Namun ia tetap bertahan untuk tidak membuka surat itu. Ini merupakan surat cinta pertama yang diterima ibu dan untuk itu ibu merasa perlu memperlakukannya dengan sedikit berbeda. Supaya ada kesan yang tetap dikenang nantinya, begitulah kira-kira isi pikiran ibu.

Sesampainya di rumah sepulang dari sekolah, Oma Stella tentu saja heran mengamati tingkah laku keponakannya yang tidak seperti biasanya. Wajah ibu di mata Oma Stella tampak berseri-seri tidak jelas,. Kadang terlihat bersemu merah, kadang pula tampak malu-malu.

Oma Stella yakin ada suatu peristiwa yang terjadi pada keponakannya itu. Namun sesuai dengan prinsipnya yang selalu berusaha menghargai privasi seseorang, Oma Stella tidak memaksa ibu untuk bercerita. Ini juga salah satu hal lain yang disukai ibu dari Oma Stella. Bila ibu ada masalah, Oma Stella akan dengan sabar menunggu sampai ibu bersedia menceritakannya. Ia juga tidak akan keberatan kalau ternyata ibu malah ingin menyimpan dan ‘menikmati’ hal itu sendiri.

Pada malam harinya, ibu mendatangi Oma Stella yang sedang asyik menikmati bacaannya. Di tangannya ibu memegang amplop berwarna biru muda yang baru diterimanya pagi tadi. Melihat ibu dating mendekat, Oma Stella meletakkan buku yang sedang dibacanya di pangkuannya dan kemudian mempersilakan ibu untuk duduk di sampingnya. Dengan sabar didengarkannya ibu menceritakan peristiwa yang baru pertama kali dialaminya ini.

Selesai mendengarkan cerita ibu, Oma Stella bertanya akan diapakan surat itu oleh ibu. Ibu masih ingat kalau waktu itu ia menjawab ia tidak tahu akan diapakannya surat itu. Oma Stella kemudian bertanya lagi apakah ibu tidak merasa penasaran dengan isi dan terutama tentang siapa pengirim surat itu. Mendengar pertanyaan itu, wajah ibu memerah. Sebenarnya dalam hati ibu sudah merasa benar-benar penasaran dengan isi surat itu maupun si pengirimnya. Namun ibu merasa enggan membuka karena ibu tidak tahu harus bagaimana nantinya. Maksudnya, ibu jadi bertanya-tanya sendiri, setelah ia membuka amplop itu dan mengetahui isi serta pengirim surat itu, apa lagi yang harus dilakukannya selanjutnya?

Ketika mengutarakan hal itu pada Oma Stella, ibu mendapat jawaban yang masih diingatnya dengan baik sampai hari ini.

“Itu masalah gampang, sayang,” kata Oma Stella,”selanjutnya kamu hanya tinggal memutuskan, apakah kamu juga menyukainya atau tidak. Kalau kamu menyukainya, tante rasa ini sudah saatnya bagi kamu untuk menikmati indahnya masa remajamu. Tetapi ingat ya, walaupun kamu suka kamu jangan terburu-buru membalasnya. Biarkan dia menunggu dan merasa sedikit penasaran, hihihi. Namun kalau kamu tidak suka, kamu harus mengutarakannya dengan sopan. Tidak baik membiarkan orang lain berharap terlalu banyak.”

Dan begitulah kejadiannya. Hanya sesederhana itu. Ibu mendapat ijin untuk berpacaran pada usianya yang kelima belas tahun. Usia yang mungkin bagi beberapa orang tua masih dianggap terlalu muda untuk menjalin kisah kasih percintaan. Namun tentu saja Oma Stella punya pandangannya sendiri dalam hal ini.

Lama setelah kejadian itu, ibu pernah bertanya kepada Oma Stella mengapa ia begitu mudah memberikan ijin anak perempuan berusia lima belas tahun untuk berpacaran.

“Sebenarnya tante juga merasa khawatir untuk memberikanmu ijin berpacaran pada usia lima belas tahun,” jawab Oma Stella sambil tersenyum, “tetapi setelah dipikir-pikir, daripada waktu itu tante melarang dan tidak memperbolehkan tetapi kamu malah nekat dan pacaran sembunyi-sembunyi, tante lebih memilih untuk memberimu kebebasan. Tentu saja kebebasan yang disertai tanggung jawab dan keterbukaan. Apalagi kamu terlihat bahagia dan malah jadi semakin rajin belajar. Tante juga ikut senang”

Ibu pun membalas senyum Oma Stella. Sesaat kemudian ia memeluk Oma Stella erat-erat. Dalam hatinya, ibu mengakui bahwa tantenya yang satu ini rupanya bisa juga berpikir dan bertindak bijaksana, walaupun terkadang “keluar jalur” dan mendahului jamannya. Tantenya ini memang “unik”. Sita yang mendengar cerita itu pun sependapat dengan ibunya.

* * * * *


1st Chapter oleh Hendricus Ledu Gere

Setelah ibu dan tante Sisil menikah dan hidup berkeluarga, Oma Stella tinggal sendirian di rumahnya. Sebenarnya baik ibu Sita maupun tante Sisil sudah membujuk Oma Stella agar ia mau tinggal bersama salah satu dari mereka. Terutama mengingat usia Oma Stella yang sudah tidak muda lagi. Namun Oma Stella menolak. Ia lebih memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Untungnya rumah mereka semua berada di dalam satu kota yang sama. Jadi memudahkan untuk saling menjenguk. Oma Stella memang tidak pernah berhasil dibujuk untuk tinggal bersama salah satu dari keponakannya. Namun Oma Stella tidak mampu menolak ketika ibu bersama tante Sisil sepakat untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Setidaknya ada orang yang bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan mengawasi keadaan Oma Stella.
Sebagai seorang nenek, walaupun bukanlah nenek kandung, bagi Sita serta si kembar Doni dan Dino, Oma Stella benar-benar merupakan tipe nenek yang sempurna. Semua cucunya mendapatkan limpahan kasih sayang, sama seperti yang pernah dan selalu diberikan kepada kedua keponakan yang telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Oma Stella selalu rajin mengunjungi dan menanyakan perkembangan semua cucunya lewat telepon. Ia jugalah yang paling repot kalau harus menyiapkan pesta ulang tahun untuk mereka. Tidak jarang pula ia mengajak cucu-cucunya untuk bersenang-senang dengan makan-makan di restoran atau menonton bioskop tanpa orang tua mereka. Mereka bisa puas bermanja pada Oma Stella. Tentu saja ketiga cucunya senang mendapat perlakuan seperti itu. Selain memang karena acaranya yang pasti menyenangkan, saat-saat bersama Oma Stella sendiri juga mengasyikan. Oma stella bukanlah tipe nenek seperti nenek-nenek kebanyakan. Bayangan orang tua yang terkesan ketinggalan jaman dan lemah karena sudah renta tidak nampak ada pada diri Oma Stella. Oma Stella tahu banyak hal yang sedang popular bagi cucu-cucunya. Dari cerita-cerita seperti Avatar dan Naruto yang amat digemari oleh Doni dan Dino, sampai nama aktor-aktor tampan dari serial drama korea yang amat dipuja-puja Sita. Sampai-sampai ketiga cucunya sepakat memberi sebutan “Oma Gaul” buat Oma Stella.
Bukan hanya itu, penampilan Oma Stella pun bisa dibilang “ajaib” bila dibandingkan nenek-nenek lainnya. Dengan penuh percaya diri, Oma Stella selalu menggunakan celana jeans untuk pakaian sehari-harinya maupun untuk pergi bersenang-senang bersama ketiga cucunya.
Tidak dipedulikannya usianya yang sudah tidak muda lahi. Ia juga tidak peduli dengan bagian bokong dan pinggulnya yang lumayan besar dan tercetak jelas setiap kali ia memakai celana jeans. Memang ukuran tubuh Oma Stella sendiri sudah tidak bisa dikatakan langsing. Sejujurnya bahkan agak gemuk. Namun jangan salah, ia bisa kesal kalau disebut gemuk. Oma Stella lebih suka disebut “montok”. Ia bahkan sedikit bangga dengan sebutan yang terakhir itu. Mengenai bagian bokong dan pinggulnya yang besar dan sering tercetak jelas dan mungkin bagi beberapa orang merasa untuk diperlihatkan, Oma Stella lagi-lagi mempunyai pandangan “unik” yang dikemukakannya kepada Sita.
“Kita ini adalah perempuan dan perempuan merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah. Oleh karena itu makanya bagian ini harus tercetak jelas,” terang Oma Stella sambil menepuk pinggul dan bokongnya,”karena disinilah salah satu letak keindahan perempuan atau dengan kata lain di sinilah letak keseksian kita.”
Sita yang mendengarnya hanya bias tertawa. Apalagi saat mengatkannya, Oma Stella sengaja bergaya sedikit genit. Tidak lupa ia menambahkan aksen mengedipkan sebelah mata. Tawa Sita pun jadi semakin susah berhenti.
Sebagai cucu paling besar dan satu-satunya cucu perempuan, tentu saja Sita merasa dekat dengan Oma Stella. Apalagi ternyata prinsip Oma Stella dalam mengasuh cucunya sama dengan prinsip yang digunakannya saat ia mengasuh ibu Sita dan Tante Sisil. Oma Stella selalu berusaha menjadi teman dan bukan hanya menjadi nenek bagi Sita. Oleh sebab itu, Sita selalu merasa nyaman bercerita apa saja kepada Oma Stella. Tidak jarang pula Sita menginap di rumah Oma Stella. Bahkan sampai beberapa hari. Tentu saja dengan sepengetahuan dan seijin ibu. Kesempatan itu akan digunakan sebaik-baiknya oleh Sita untuk mendengarkan berbagai kisah “unik” Oma Stella atau hanya menjadi ajang curhat di antara mereka. Pokoknya bagi Sita, Oma Stella is the best dah, hihihi …
Ibu Sita tentu saja senang mengetahui putri tunggalnya itu dengan dengan tante yang sudah begitu hebat membesarkannya. Ia yakin Sita akan banyak memperoleh pelajaran “unik” dari Oma Stella seperti dirinya dulu. Dalam hati ibu Sita juga bersyukur bahwa dengan kehadiran Oma Stella. Sita mampu merelakan kepergian ayahnya yang meninggal karena sakit tujuh tahun lalu.
Ibu Sita masih ingat dengan jelas bagaimana keadaan putrinya itu saat ayahnya meninggal dunia. Sita sangat terpukul dan syok berat. Kejadian ini pulalah yang membuat dirinya mulai mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Ibu Sita sampai bingung menghadapinya. Ia sendiri waktu itu juga merasa sedih dan terpukul dengan kepergian suaminya. Namun ia ingat bahwa ia masih punya Sita yang harus dirawat dan disayangi.
Waktu itu ibu sampai kehabisan akal menghadapi Sita. Ia sudah berusaha mengerti semampunya, tetapi ia tidak berhasil juga menembus benteng yang sudah terlanjur dibangun Sita sebagai bentuk kesedihannya. Dalam kebingungannya itulah ibu meminta bantuan Oma Stella. Ibu tidak pernah tahu, entah bujukan apa yang dikatakan Oma Stella kepada Sita pada waktu itu, tetapi Oma Stella berhasil meyakinkan Sita untuk mengijinkannya masuk ke dalam kamarnya. Oma Stella juga bahkan diperbolehkan menyuapinya makan. Tentu saja ibu merasa lega. Karena khawatir dengan keadaan Sita ibu kemudian meminta kesediaan Oma Stella untuk tinggal menemani Sita sementara waktu sampai kedeihan SIta berkurang. Apalagi saat itu ibu sudah harus disibukkan dengan toko bunganya yang baru saja berkembang. Ibu takut Sita merasa terabaikan. Tentu saja Oma Stella tidak menolak. Sejak saat itulah Oma Stella dan Sita menjadi semakin akrab.
* * * * *

Sita menangis di toilet sampai dadanya terasa sedikit lega. Sebelum keluar, ia menyempatkan melihat wajahnya di cermin. Wajahnya terlihat kacau. Kelopak matanya terlihat bengkak dan sembab. Matanya sendiri terlihat merah. Bayangan wajahnya di cermin kini bisa dikatakan sama kacaunya dengan wajah tante Sisil yang dilihatnya saat baru tiba di rumah sakit tadi.
Tangannya langsung meraih keran dan membukanya. Air yang mengalir keluar digunakannya untuk membasuh wajahnya. Agak limayan, kata Sita dalam hati saat mengamati tampilan wajahnya di cermin setelah dibasuh. Kemudian tangannya bergerak merapikan rambutnya. Setelah dirasanya kalau penampilannya sudah tidak begitu kacau lagi, Sita pun kemudian melangkah keluar dari toilet. Ia harus kembali ke kamar tempat Oma Stella dirawat. Ia tidak mau membuat ibunya khawatir karena menghilang terlalu lama.
Setibanya di depan kamar Oma Stella, Sita mendapati ibunya sudah berada di luar kamar dan sedang duduk di luar kamar berbincang-bincang dengan tante Sisil.dari bagian kaca yang tembus pandang di pintu masuk, Sita sempat melihat ada perawat yang sedang memandikan Oma Stella. Ia pun bergerak mendekat kearah ibunya dan duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa.
Ibu langsung menoleh begitu Sita dating duduk di sampingnya. Tatapan ibu terlihat cemas. Ia sudah menduga kalau Sita pasti merasa sedih mendapati keadaan Oma Stella yang berbaring sakit dan tidak berdaya. Namun ibu Sita tidak pernah mengira kalau reaksi Sita akan seperti ini. Sita bahkan tidak mau masuk ke dalam kamar dan melihat Oma Stella lebih dekat. Ibu sebenarnya ingin berbicara dan bertanya langsung kepada Sita, tetapi diurungkannya niatnya. Ibu hanya berharap reaksi ini hanyalah sementara dan sita hanya butuh waktu yang cukup lama sebelum mampu menerima semua ini dengan lapang dada. Dengan pemikiran seperti itu, ibu pun kemudian memutuskan bahwa Sita tidak perlu berlama-lama di rumah sakit. Ibu takut Sita justru akan bertambah sedih. Setelah berjanji akan datang lagi nanti malam dan berpamitan dengan tante Sisil, Om Anwar serta emncium kening dan pipi Doni dan Dino yang rupanya kini sudah tertidur di pangkuan ayah mereka, ibu pun menggamit lengan Sita untuk beranjak pulang. Sita menurut tanpa berkata apa-apa.
Sesampainya di rumah, Sita langsung masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Ibu hanya mengjela napas melihatnya. Dalam hati, ibu memang mengingatkan dirinya bahwa memang beginilah cara Sita menjalani rasa sedihnya. Sama persis saat Sita mengetahui kalau ayahnya telah meninggal dunia. Untungnya saat itu ada Oma Stella yang berhasil membujuknya. Kini benak ibu bertanya-tanya tentang siapa yang akan berhasil membujuk Sita untuk keluar dari kesedihannya. Tentu saja bukan Oma Stella karena Oma Stella kini sedang berbaring sakit dan tidak sadarkan diri di rumah sakit. Bahkan Oma Stella sendirilah yang menadi alsan kesedihan Sita kali ini. Sekali lagi terdengar ibu menghela napas. Ia hanya berharap semoga kali ini waktu yang akan membantu menyembuhkan sedih hati sita.
Pada malam harinya, ibu sudah tampak bersiap kembali ke rumah sakit. Ia sudah berjanji kepada tante Sisil untuk menjaga Oma Stella malam ini. Sebelum berangkat ibu sempat mengetuk pintu kamar Sita yang dari tadi belum juga terbuka.
“Sita, ibu mau berangkat ke rumah sakit. Malam ini ibu akan menginap di sana menjaga Oma Stella,” kata ibu dari luar pintu. Tidak ada suara sahutan terdengar dari dalam.”Kalau memang kamu masih sedih dan merasa belum cukup kuat hati untuk menjenguk Oma Stella, ibu harap kamu tetap mendoakannya ya sayamg.”
Seteleh berkata demikian, ibu pun pergi ke rumah sakit. Di dalam kamarnya, Sita merasa ingin menangis lagi. Bayangan Oma Stella dengan selang-selang infus dan berbaring tidak sadarkan diri di tempat tidurnya membuat hati Sita pilu. Akhirnya air matanya pun keluar lagi tanpa bisa ditahan. Sebelum pikirannya benar-benar terlena dan jatuh ke alam mimpi, Sita rupanya masih mengingat pesan ibunya untuk mendoakan Oma Stella.
“Tuhan yang baik, jangan ambil Oma Stella sekarang,” bisik Sita pelan,”Sita masih butuh Oma Stella.”

Read More ......

Perjalanan Gerimis

-

Gerimis ibukota dan kerumunan kendaraan yang tampak parkir di jalan membuat hati perempuan usia dua puluh-an bernama Nora yang sudah setengah jam berdiri bertambah cemas. Tampaknya kemacetan akan terus berlanjut untuk beberapa jam lagi. Jaket hitamnya tidak berhasil menutupi kedinginan malam. Dia terus berjalan melawan arus kendaraan, perlahan ditemani genangan air Jakarta. Tangannya mengenggam tinta isi ulang yang satu setengah jam lalu baru saja diisi. Dirinya tak menyangka akan semacet ini ketika hujan lebat. Arlojinya sempat ia lirik, beberapa menit lagi tepat pukul tujuh. Di dompetnya hanya ada jatah untuk angkutan bus, kumpulan ojek yang markir di depan Mall Ambasador tidak akan cukup mengantarnya sampai ke rumah.
Perempuan berambut panjang itu nekat terus berjalan, hingga dia menyadari, seberapa jauh dia melangkah angkutan umum selalu penuh. Kini dia berdiri di atas trotoar, berpikir keras bagaimana bisa pulang. Dia memandang sekeliling, perempuan yang tampak beda beberapa tahun lebih tua dengannya berdiri menyangga payung. Nora memberanikan diri bicara.
”Nunggu angkutan juga, Mbak?”
Perempuan memakai payung itu menoleh, ”Iya, Mbak juga?”
”Iya,” jawab Nora. ”Naik apa?”
”Naik 44,” jawab perempuan berpakaian kemeja hijau itu.
Penampilan perempuan berpayung itu tampak rapih. Tampaknya dia pulang kerja dengan celananya yang panjang blus hitam, dan sepatu putih.
”Bagaimana kalau kita nyebrang ke sana, siapa tahu ada angkutan yang kosong,” saran perempuan itu.
”Boleh,” angguk Nora.
Kami menyebrang jalan, menyelip kendaraan yang tampak berhenti di jalan.
Sayang, nihil yang didapat. Kendaraan umum tetap saja penuh, mereka berhenti di halte. Sesaat Nora melihat angkutan baru yang akan mengangkutnya pulang kosong, namun ponsel perempuan berkemeja hijau itu berdering dan tak menyadari banyak calon penumpang telah mengisi angkutan. Nora menghela napas, karena tahu dirinya tidak mungkin pergi sendiri sementara teman barunya berdiri di halte sambil menjawab ponsel.
”Bagaimana kalau patungan taksi,” ujar Nora, ketika teman barunya telah mematikan ponsel.
”Patungan?” ulang perempuan berkemeja hijau itu, memasukkan ponsel, dan menutup payungnya, ”Bisa saja, tapi percuma kalau dilihat macet begini, malah berhenti di jalan.”
Nora mau tak mau mengakui.
”Lebih baik kita jalan dulu, nanti kalau sudah tidak macet lagi, kita naik taksi, bagaimana?”
Nora mengerutkan kening, “Boleh saja.”
Mereka berdua jalan di trotoar berlawanan arus kendaraan.
”Kita nyebrang lagi,” ujar perempuan berkemeja hijau, ”di sini jalanan kurang bagus.”
”Ayo,” setuju Nora.
Mereka menyebrang lagi ke tempat yang sama, lampu penerangan cukup terang untuk berjalan malam, kendati masih ada genangan air di sana-sini.
”Oh iya, namaku Nelvi,” ujar perempuan kemeja hijau, mengulurkan tangan.
”Nora,” Nora mengulurkan tangan.
”Pulang kerja?” tanya Nelvi.
”Eh tidak, masih kuliah, tadi habis ngajar sekalian aja ke mall isi tinta,” jawab Nora, mengenggam bungkusan refill toner.
Nora merasa bingung akan memulai pembicaraan apa. Namun, dari kejauhan tampak asap tebal kebiruan terang. Warna yang pekat menyelimuti langit malam ibukota.
”Apa itu?” ujar Nelvi.
”Entahlah,” jawab Nora, ”apa ada yang kebakaran?”
”Asapnya biru.”
Tampaknya bukan hanya mereka yang mengamati asap besar itu. Orang-orang sekeliling mereka juga mengamati hal yang sama.
”Tampaknya tidak jauh,” ujar Nelvi, ”mau ke sana?”
Banyak orang berlarian menuju asap biru, namun tak sedikit yang mengamati dari kejauhan.
”Sebentar saja,” ujar Nora.
Mereka mengikuti arah arus para pekerja pulang kantor menuju asal asap biru. Kesemrawutan kemacetan tidak lagi menarik perhatian Nora.
Kendati gerimis masih terus berlanjut, namun asap biru tebal di angkasa sama sekali tidak menghilang, malah bertambah tebal dan besar.
Mereka menyebrang, melewati kali dan berhenti tidak bisa berjalan ketika di belakang kerumunan banyak orang di dekat tempat penjualan taman hias.
”Ada apa?” tanya Nora, bingung, tak bisa melihat di depan dengan jelas.
”Mas, ada apa di depan?” tanya Nelvi, bertanya kepada seorang pria berkumis tebal yang baru saja dari depan.
”Ada tabrakan,” ujar pria berkumis.
”Bukan tabrakan,” sanggah pria berompi kulit di samping pria berkumis, ”tidak ada yang menabraknya.”
”Tapi mobil itu menabrak jalan,” sahut pria berkumis.
”Itu tak wajar,” gumam pria berompi.
”Tapi, mengapa ada asap biru?” cetus Nelvi.
”Itu juga yang membuat kita bingung,” jawab pria berompi, ”Ada orang di dalam mobil itu.”
”Tapi kata orang-orang yang melihat,” sambung pria berkumis, ”orang di dalam tidak normal.”
Pria berompi mengangkat bahu.
”Maksud Anda?” tanya Nelvi.
”Dia tidak punya mata,” jawab pria berkumis.
”Maksud Anda, pengemudinya buta?” tanya Nora.
Pria berkumis menggeleng, ”Bukan, dia tidak punya mata.”
Nora mengangkat alis, ”Maaf?”
Pria berompi mengangkat bahu lagi.
”Kami tidak melihat jelas,” kata pria berkumis, ”tanya saja pada yang lain,” dia melihat arlojinya, ”sudah jam setengah delapan, permisi.”
Pria berompi dan pria berkumis pergi mendahului Nora dan Nelvi, namun pria berompi sempat berbicara pelan kepada kedua perempuan itu.
”Saya tak tahu apa ini benar atau tidak,” ujar pria berompi, ”tapi saya sarankan Anda berdua tidak melihatnya. Selamat malam.”
Nora dan Nelvi saling berpandangan. Perkataan pria berompi membuat Nora penasaran. Dia nekat menerobos kerumunan orang yang masih mengeliling mobil sedan hitam yang berasap biru.
”Nora!” panggil Nelvi, ”mau ke mana?”
Nora tidak mendengar. Dia sudah berdesakan dengan banyak orang untuk melihat dari mana sebenarnya asap biru.
”Orangnya pingsan?” ujar perempuan di samping Nora.
”Tidak tahu,” jawab pria di depannya.
”Apa benar dia tidak punya mata?”
”Kata orang-orang begitu.”
Namun perkataan selanjutnya direndam bunyi sirine ambulans beberapa meter dari Nora.
Nora menunduk, bermaksud melihat jendela mobil, namun asap biru tebal menghalangi pandangannya.
Ambulans sudah makin dekat. Nora bisa mendengar sirine yang semakin kuat, ditambah sirine lain yang Nora kira mobil polisi.
”Awas, ada polisi!” teriak seseorang entah dari mana.
Perlahan kerumunan yang mengelilingi asap biru itu mencair. Seorang polisi berseragam keluar dari mobil dan langsung menuju tempat kejadian.
”Nora!” panggil Nelvi.
Nora menoleh, dan tersadar dirinya harus cepat pulang, dia berlari ke arah Nelvi.
”Ayo kita jalan lagi sampai sana,” ujar Nelvi menunjuk halte yang tidak terlalu jauh, ”di sana sudah tidak macet. Kita bisa patungan naik taksi dari sana.”
Nora mengangguk. Dirinya sempat menoleh ke asap biru itu lagi, dan melihat polisi berusaha mengeluarkan seseorang dari dalam mobil.



1st Chapter oleh Wita Dwi Maharani Putri

Read More ......

Aku Freak Aku Guru

-

I (SATU)
An English Teacher
Hari baru menunjukkan pukul 6.25 pagi. Masih terlalu pagi memang untuk seorang guru seperti aku berada disekolah. Tapi pagi ini aku bersemangat sekali. Really, karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur yang cukup panjang (hampir sebulan penuh lho… lumayan panjang itu buat aku yang hampir sepanjang tahun tidak merasakan serunya liburan.).

Sepanjang minggu terakhir liburan benakku dipenuhi dengan harapan dan khayalan dan ide-ide baru untuk bahan ajar tahun ajaran baru nanti. Kira-kira tahun ini aku akan ditempatkan untuk mengajar dikelas berapa ya, jurusan apa (oh ya, for your information, saat ini statusku adalah seorang guru Bahasa Inggris disalah satu sekolah kejuruan negeri dikota J) dan berapa total jam mengajar ya dalam seminggu? (status ku juga masih sebagai guru tidak tetap alias GTT yang berarti gajiku dalam sebulan tergantung pada berapa banyak jam mengajarku dalam seminggu. Semakin banyak jam mengajarnya, semakin besar pula gaji yang ku dapat di tiap bulannya…)

Keadaan disekolah pagi ini masih sepi sekali. Secara baru jam setengah 7 pagi. Ditambah pula, hari ini baru jadwal para guru dan staff sekolah saja yang mulai masuk bertugas. Para siswa baru akan mulai masuk sekolah seminggu lagi.

Dari pertama kali kakiku memasuki gerbang sekolah, aku baru melihat Pak De (janitor alias tukang bersih-bersih sekolah) yang sedang asik menyapu pelataran parkir dengan sapu lidi kesayangannya dan Mbak Atik yang juga merupakan pegawai multi fungsi disekolah ini.

This school is in such a mess. Wajar sih, karena hampir sebulan penuh sekolah ini ditinggalkan para penghuninya (para murid, guru, staff en tamu-tamu sekolah maksudnya…..). Tong-tong sampah terlihat penuh dengan sampah-sampah yang sudah hampir sebulan bercokol disitu (kebayang gak baunya gimana??!!!). Disepanjang koridor banyak daun-daun dari pohon-pohon rindang yang menghiasi sekolah yang gugur dan jatuh terbawa angin. Kaca-kaca jendela juga tampak tebal oleh debu. Ruangan kelas siswa? Jangan ditanya kotornya… Sepertinya sisa pesta kenaikan kelas mereka sebulan yang lalu masih belum sempat dibereskan oleh para petugas kebersihan disekolah ini. Buktinya, masih banyak sampah plastik-plastik bekas sisa jajan para siswa. Bangku dan meja sudah tak jelas lagi susunannya. Ada yang didekat pintu, ada yang ditaruh didepan meja guru, bahkan ada kursi yang menggantung di dek (lho??).

Well, that’s a glance description of this school after being left for almost a month. But it is not that bad anyway. Gedung sekolah ini masih dalam kondisi yang baik dan kokoh. Catnya juga masih bersih, tidak terkesan buram atau dikotori oleh coretan-coretan nakal pasa siswanya (Kecuali di toilet siswa. Ada saja coretan atau sekedar curhatan gak penting yang mereka tuangkan di dinding toilet. Mulai dari ke-bete-n mereka sama beberapa oknum guru yang killer sampe masalah gebetan.). Perpustakaan bagus, rapi, buku-bukunya menarik dan selalu buka setiap hari (Ya iya lah....), kecuali hari minggu karena pegawainya kan juga butuh libur. Ada laboratorium bahasa juga, walaupun kebanyakan dari alat-alat didalamnya butuh perbaikan karena sudah banyak yang rusak. Yah, paling gak, masih ada ruangan khusus yang disediakan. Ada lapangan basket dan voli juga. Bahkan sekolah ini juga punya hotel sendiri! Isn’t that great? Sekolah ini juga sedang dalam persiapan untuk mendapatkan predikat SBI (Sekolah Berstandar Internasional, kalo gak salah...) which means, akan ada banyak sekali fasilitas tambahan yang akan didapatkan sekolah ini nantinya apabila predikat tadi benar-benar berhasil diperolah. Not to mention the amount of money that it will get from the government to improve its facilities as well as the people involved in it.

Well, terlepas dari itu semua, aku happy sekali pagi ini. Seandaikan kau bisa melihat, kau akan melihat wajahku secerah mentari yang bersinar pagi ini (ciieeeee……). Sungguh. Kenapa??? Ya, kan tadi diatas sudah kusebutkan alasannya…

Here I come in front of the teachers’ room. Ku buka pintu ruangan majelis guru. Masih lengang. Sepi tak berpenghuni (Ada ding penghuninya…kan aku sudah didalamnya…hehehe..). Meja-meja masih tertata rapi. Hampir tidak ada satu buku pun yang tergeletak disana. Papan pengumuman yang tergantung disebelah kiri pintu masuk juga masih bertuliskan pengumuman yang sama; rapat kenaikan kelas di aula sekolah seminggu sebelum raport akhir tahun dibagikan.

Aku berjalan menuju mejaku yang terletak dibarisan paling belakang sudut kiri ruangan. (Iya…yang paling belakang karena aku baru mengajar disekolah setahun yang lalu. Sementara guru-guru yang lain sudah berkarat disana sehingga mereka dapat meja yang terdepan…Eh, ko kayak iklan Yamaha jadinya….hehehe). But I am comfortable enough with my desk and the chair (walaupun bantalan kursinya sudah lepas sehingga seringkali pantatku terjerembab masuk karena aku tidak mengetahui kalau posisi bantalan kursinya sudah melewati kayu penyangganya….hehehe). Mejaku tidak terlalu panjang dan tidak juga terlalu lebar. Tapi cukup besar untuk menampung buku-buku latihan dan tugas-tugas yang dikumpulkan siswa-siswaku. Ada dua buah laci juga dibagian kanan bawahnya yang kupakai untuk menyimpan barang-barangku yang terkadang apabila aku sedang diburu waktu langsung saja kulemparkan barang tersebut masuk kedalam laci tanpa menyusunnya lagi (Pernah satu kali aku kehilangan salah satu kaos kaki kesayanganku. Tempat pakaian dirumah sudah habis ku obrak-abrik tapi tidak juga kutemukan. Namun 2 bulan berikutnya, kaos kaki itu kutemukan tanpa sengaja sedang asik berpelukan dengan tumpukan buku-buku mengajarku yang jarang kupakai dibagian bawah laci meja kerjaku! Najis! Baunya sungguh amit-amit karena kemudian aku ingat bahwa kaos kaki tersebut kulemparkan begitu saja pada satu hari sehabis senam pagi disekolah. Hehe…. Yah, aku akui, aku memang tipe guru yang sedikit pelupa… (Ngeles deh…)

It’s almost seven o’clock when Bu Uti comes in. Dia adalah guru bidang studi Olahraga. Badannya besar tinggi. Dan suaranya nyaring tapi nge-bass dengan logat jawa-nya yang kental (Gimana tuh??!!). Dia orangnya lembut tapi tegas. Tidak gemuk, tidak juga kurus. But overall, dia tipikal guru yang cukup baik, berwibawa dan bertanggung jawab….Yah, seperti aku-lah kira-kira (Narsis mode on..)

Bu Uti masuk sambil membawa tas jinjing kesayangannya, sunglasses yang masih nangkring dihidung (Ehm..cukup) mancungnya dan satu plastik putih besar berisi beberapa kotak yang aku tak tahu isinya apa.

“Assalamualaikum. Selamat pagi, Mitha. Piye liburanmu?” sapa Bu uti sambil berjalan menuju mejanya dan langsung menaruh tas dan plastic putih tadi diatas mejanya.

“Waalaikumsalam. Liburan bete, bu. Dirumah aja gak ada jalan-jalan kemana gitu. Paling banter ya ke mal, cuci-cuci mata doank…hehehe… Ibu gimana liburannya?” jawabku sambil membenarkan posisi bantalan kursiku. Takut terjerembab lagi.

“Liburan saya seru, Tha. Saya balik kampung ke Jogja. Sama suami dan anak-anak.”

“Wah, pasti seru dong ya… Jadi kangen Jogja. Terakhir kali kesana waktu saya ikut English Debate dulu..”

Yo wis, cari suami orang Jogja aja biar jadi sering kesana…” canda Bu Uti.

“Duh, saya kan baru 21, Bu. Tunggu bentar lagi deh kalo mau kawin, eh nikah maksudnya..” jawabku.

“Koe masih 21 toh? Walah, Mitha… Masih muda banget kamu ya! Oh iya, sampe lupa. Nih, ada oleh-oleh dikit dari Jogja” kata Bu Uti sambil menyodorkan plastik putih besar tadi kearahku.
“Oleh-oleh?? Asik… pagi-pagi udah dapat rejeki. Apaan oleh-olehnya,bu?”

“Udah dibuka aja…”

Dan begitu plastik putih tadi kubuka, berkotak-kotak (only 5 small boxes anyway…) Bakpia, oleh-oleh khas Jogja, ada didalamnya. Ada isi kacang hijau dan keju yang menjadi favoritku. Duh, jadi laper lagi deh. Langsung kubuka kotak Bakpia dengan rasa keju, secara itu favoritku dan kuambil sepotong Bakpia yang dalam hitungan sepersekian mikro detik sudah berada didalam mulutku. Hmmm….. Uenak tenan…. Jadi kangen Jogja.

“Pelan-pelan ngunyahnya, Tha. Entar keselek. Eits, jangan dihabisin semua ya, inget yang laen… Tampang kamu kayak orang yang belum makan seminggu kayaknya…” canda Bu Uti lagi.

“Hehehe… Enggak ko, bu. Tenang… Pasti kusisain buat yang laen. Sekotak cukup kan?? Hehehe…Anyway, thanks a lot ya bu! Bakpianya ma’nyus banget niy!”

Aku masih terus mengunyah Bakpia tadi (sudah habis 3 potong) ketika satu per satu guru-guru yang lain masuk berdatangan. Ada Pak Jumino (Guru Sejarah), Bu Emi (Guru Matematika), Bu Zizah (Guru PKN) dan Bu Ren (Inget, bukan Duren, yang notabene adalah guru Bahasa Indonesia). Semua langsung sumringah begitu tahu pagi-pagi sudah disuguhi Bakpia asli Jogja. Ayo, Mitha! Kunyah yang cepat biar kamu bisa makan Bakpianya yang banyak! Hehehe… (Enggak ko… aku gak rakus… maruk iyah!)

Tepat ketika aku sedang asik mengunyah Bakpiaku yang ke-7 (iya…udah abis 7 potong…) aku teringat rencanaku dari rumah tadi. Pagi ini aku ingin menemui Bu Deni, WakaKurikulum, secara dia yang buat jadwal pelajaran. Aku ingin tahu apakah dia sudah selesai menyusun jadwal atau belum since I’d like to find out which classes will be the next victim of my crazy yet fun teaching.

“Oh ya, Bu. Udah ada yang ngeliat Bu Deni belum ya? Saya ada perlu dengan beliau.” Tanyaku pada semua guru yang ada diruangan saat itu.

“Belum ada liat tuh. Tapi coba aja sekarang Mitha cek diruangannya siapa tau udah datang…” jawab Bu Uti (lagi…) karena yang laen sedang asik makan bakpia dengan buasnya jadi mereka mungkin tidak sadar dan tidak mendengar ada guru nan cantik jelita sedang bertanya.
“Oh, iya deh…” kataku sambil berjalan keluar ruangan.

Tepat ketika aku baru hendak memengang handle pintu ruangan WakaKurikulum, Bu Deni muncul dari belakangku sambil membawa setumpuk kertas dan tas coklat jinjingnya.

“Cari siapa, Mith?”

“Eh, ibu, jadi kaget… Mau cari ibu…”

“Ada apa ya?” Tanya Bu Deni lagi.

“Mau tanya, Bu. Jadwal pelajaran udah selesai disusun atau belum ya? Saya penasaran pengen tau saya dapat kelas berapa tahun ini…”

“Wah, belum selesai tuh jadwalnya. Ditunggu aja. Oh ya, kamu dicariin sama kepsek. Tapi sekarang beliau belum datang, jadi ditunggu aja.” Jawab bu Deni sambil memasukkan kunci dan membuka pintu ruangannya.

“Oh gitu ya. Ya udah deh kalo gitu. Makasih ya, Bu…” jawabku sambil berbalik dan berjalan kembali keruangan majelis guru.

Dalam perjalanan kembali keruangan, aku bertanya-tanya, ada apakah gerangan kepsek ingin bertemu denganku? I really have no idea.

Aku masuk kembali ke ruangan guru masih dengan tampang bingung ketika ada suara yang menyapaku.

“Apa kabarnya, Mitha? Liburan kemana?”

Ternyata Bu Lina yang menyapaku. She’s one of the English teachers here. Aku cukup dekat dengannya karena dia termasuk tipe orang yang enak diajak ngorol, share cara-cara mengajar atau kejadian-kejadian lucu dikelas. Pagi itu Bu Lina terlihat manis dengan seragam PNS-nya dan jilbab warna hijau lumutnya.

“Eh, ibu.. Udah datang toh?” jawabku sambil menyalaminya dan cipika-cipiki sedikit.

“Liburan dirumah aja, Bu. Enggak kemana-mana. Tugas kuliah ku juga banyak dan emang kuliah juga kan lagi gak libur. Ibu gimana liburannya?” lanjutku lagi.

“Sama aja kalo gitu, Tha. Dirumah aja ngurus suami ngurus anak. Apalagi Naila sekarang udah mulai pintar merangkak jadi musti kasih perhatian ekstra..”

Aku tersenyum.

“Lagi lucu-lucunya pasti, Bu ya… Oh ya, Bu Mila udah datang Bu?”

Bu Mila juga mengajar Bahasa Inggris disekolah ini. Aku cukup dekat juga dengan beliau.

“Kayaknya sih belum, mungkin dia nganterin anaknya dulu ke sekolah. Oh ya, Mitha udah ada ketemu ama Kepsek belum? Udah ada dikasih tau belum?

“Dikasih tau apa, Bu?”

“Lho, emangnya kamu belum tau?”

“Tau apa, Bu?”

“Mitha kan katanya tahun ajaran ini gak dikasih jam ngajar dulu…”

Glek. Aku menelan ludah karena kaget. Sumpah.

“Saya gak ada dikasih tau apa-apa mengenai ini, Bu. Emangnya ibu dapat info darimana?”

Perasaanku jadi gak enak. Sungguh, aku gak ada dapat firasat apa-apa kalau pagi ini aku akan mendapat berita yang sama sekali gak aku duga sebelumnya. Siapa juga coba yang ada kepikiran bakalan didepak kalo kamu termasuk guru yang disukai para siswa??

”Saya udah dapat berita ini sebulan yang lalu, sebelum liburan sekolah. Ibu Wakakurikulum yang kasih tau saya... karena udah lebih dari sebulan, saya kira Mitha udah dikasih tau.”jelas Bu Lina.

”Belum ada yang kasih tau saya mengenai ini, Bu...”

I feel so powerless. Ada apa ini? What have I done in the previous semester that I get dumped now? Kupaksa otakku untuk mengingat-ingat apa yang sudah terjadi disemester lalu. Lama aku termenung sampai akhirnya otakku mengirimkan signal akan sebuah ingatan yang terjadi sekitar 3 bulan yang lalu.

Kala itu aku diminta langsung oleh Kepsek untuk membantu sekolah agar semua siswa kelas III bisa lulus UN dengan cara aku mengerjakan soal ujian Bahasa Inggris yang kemudian jawaban-jawabannya dikirimkan ke siswa melalui pesan singkat (es-em-es). Tapi kemudian aku menolak dengan alasan itu sangat jauh dari prinsipku dan pasti akan ada pertanggungjawabanku dengan Tuhan-ku karena sudah jelas itu dosa dan yang terpenting juga, resikonya tinggi sekali apabila aku melakukan itu. Ada banyak polisi dan intel yang berkeliaran disekolah dan sudah cukup banyak kejadian dimana ada guru yang tertangkap basah sedang mengerjakan soal-soal UN dan hukumannya juga tidak ringan. Bahkan terancam dipenjara! So, instead of saying ’yes’, I challenged her by asking whether she will help me out if there is some bad things happen to me or not. Apakah dia tidak akan cuci tangan dalam hal ini? Hanya pernyataan kesediaanya yang kala itu aku pinta. Tapi dia tidak meng-iya-kan, tidak juga berkata ’tidak’. Dia hanya marah. Got extremely upset. Dan semenjak itu juga aku merasakan ada treatment yang beda terhadapku dari guru-guru lain yang cukup ’pro’ ke Kepsek.

Aku kira masalahnya akan berhenti disitu. Tapi ternyata tidak. Aku tetap dihujat hingga menjelang akhir semester. Bahkan secara terang-terangan aku disindir oleh Kepsek pada satu momen formal; rapat guru dan pejabat sekolah. Tapi aku bergeming. Aku tetap teguh pada prinsip dan kepercayaanku saat itu. No regret, I said to myself, since I believe with my heart that I’ve done the right thing. I’ve got support from another teacher who haven’t had their eyes blind of the truth anyway.

Bahkan ada satu kesempatan dimana aku tidak bisa menghadiri rapat karena aku ada kelas dan sedang menghadapi ujian (selain mengajar, aku juga sambilan kuliah. Taking my S1 degree). Lagi-lagi, di forum se-resmi itu, aku dihujat. Bahwa aku tidak bertanggung jawab. Aku pemalas. Aku ini. Aku itu. Tapi aku tetap bergeming. Semua karena keyakinanku akan prinsipku.

Is it because of that ‘rebellious’ thing that I got dumped now? Or maybe there’s another reason? I’m clueless.


Aku tak tahu.

Tepat pada saat aku sedang termenung begitu, ku dengar suara Bu Deni memanggilku dan mengatakan bahwa Kepsek sudah datang dan ingin bertemu denganku.

Aku mengatakan pada diriku sendiri sepanjang perjalanan dari ruang guru menuju ruang Kepsek bahwa aku kuat. Aku tidak akan menangis. Aku tidak akan menunjukkan kesedihanku walau sesungguhnya aku sedih sekali sampai mau mati. Kakiku terasa kebas, kaku, tak sanggup berjalan dan membawa tubuhku ke ruang Kepsek. Rasanya suasana hatiku yang tadi pagi begitu cerah kini serasa ada kabut tebal yang menggantung disana. But I’ve got to see her! Aku ingin mendengar langsung dengan telingaku penjelasan atau alasan yang akan diberikan Kepsek kepadaku.

Maka kulangkahkan kakiku memasuki ruang Kepsek. Sedang ada tamu rupanya. Jadi aku duduk saja sambil menunggu. Dan saat tamu tadi telah pergi...

”Bu Mitha. Apa kabar? Gimana liburannya?” sapa Bu Kepsek sambil menjabat tanganku. Manis sekali.

”Alhamdulillah baik, Bu.”

”Agak gemukan nih keliatannya...”

Okey, basa-basi lagi.

”Iya, dirumah aja soalnya. Gak ada jalan-jalan keluar.” jawabku seadanya.

”Gini lho, Bu....”

Ok, here comes Mitha. You’ve got to be strong.

“Sekolah kita kan kedatangan 2 orang guru Bahasa Inggris baru.. dan mereka kan sudah PNS. Sehingga, untuk jumlah jam mengajar, mereka harus lebih di utamakan. Kan ribet ntar kalo dari ’atas’ (pemerintah maksudnya) mereka dapat laporan bahwa negara menggaji orang yang tidak sungguh-sungguh bekerja dan mengabdi pada negara karena tidak mengajar? Apa kata dunia? Iya kan? Dan oleh karena itu pula, menyesal sekali saya harus mengatakan ini, ehm... bahwa untuk semester ini, mungkin Bu Mitha belum kita kasih jam mengajar dulu. Alasannya ya karena itu tadi. Mohon dimaklumi ya! Tapi nanti saya akan tetap mengusahakan agar Bu Mitha bisa mengajar les atau di program Community College kita (sekolah ini juga menyelenggarakan program yang setara dengan Diploma 1). Dan untuk jalan menuju pengangkatan PNS juga akan tetap saya usahakan. Pokonya Bu Mitha tenang aja...” jelas Bu Kepsek panjang lebar.

Aku tidak marah. Sungguh. Aku hanya kecewa. Kecewa karena alasan bodoh dan tidak masuk diakal yang diberikan oleh Kepsek untuk menyingkirkanku dari sekolah ini. What a strange yet funny reason she gave yang seolah-olah aku ini dianggap anak kecil yang tidak tahun apa-apa. Apa dia tidak punya alasan lain yang lebih masuk diakal?

Seingatku, 2 orang guru baru tersebut sudah mengajar dari semester yang lalu dimana pada saat itu aku masih tetap punya 15 jam mengajar dalam seminggu dan mereka juga punya sekian banyak jam mengajar disekolah ini. Lalu mengapa disemester ini mereka dapat jam mengajar dan aku tidak? Kalaupun dengan alasan mereka yang telah PNS dan aku masih guru honor biasa sehingga mereka harus lebih diutamakan jam mengajarnya, mengapa aku harus benar-benar tidak diberi jam mengajar barang 1 jam saja?! Mengapa harus benar-benar tidak diberi jam mengajar sama sekali? Not that I can’t accept me being dumped. It’s the reason that I just can’t believe a master-degree-gradute like her would have said to me. Can’t you give me some more logically make sense reasons?

Aku tersenyum. Sambil kutatap lekat-lekat sang Kepsek, aku berkata, ” Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak karena Ibu sudah kasih saya kesempatan untuk mengajar di sekolah ini walaupun sejujurnya saya masih sangat ingin berada disekolah ini dan mengajar murid-murid saya. Tapi kalau memang begitu keadaannya, apa boleh buat. Saya bisa bilang apa. Hanya Terima Kasih yang bisa saya ucapkan sekarang.”

Airmataku sudah akan menggenang rasanya. Tapi ku tahan sebisanya agar airmataku tidak tumpah saat itu. Badanku gemetar karena menahan emosi. Marah, sedih, kesal, kecewa. Ingin rasanya saat itu ku lemparkan vas bunga yang ada didepanku kearahnya sambil ku maki habis-habisan dia. Tapi aku tidak melakukannya karena itu berarti aku sama bodoh dan tidak berakalnya seperti dia.

Aku berdiri (setelah dengan sangat bersusah payah karena kakiku bergetar hebat!) sambil mengulurkan tanganku yang lalu disambut oleh Kepsek. Kami berjabat tangan. Aku jabat tangannya dengan erat. Terlalu erat malah sepertinya. Melalui jabatan tangan itu aku ingin mengatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Kalian tidak akan bisa menyakitiku hanya dengan kejadian ini.

Sekali lagi aku tersenyum. Lalu dengan suara yang tegas, aku berkata lagi, ”Sekali lagi Terima Kasih, Bu. Semoga Ibu mendapat balasan atas apa yang sudah Ibu lakukan kepada saya selama ini.” Entah dia menangkap maksud omonganku atau tidak karena dia balas balik berkata, ”Sama-sama, Bu Mitha. Saya juga berterima kasih karena selama setahun ini sudah membantu anak-anak didik di sekolah ini. Mudah-mudahan tahun ajaran depan Bu Mitha bisa disini lagi dan seperti janji saya tadi, saya akan tetap usahakan Ibu untuk mengajar diprogram CC kita. Nanti bisalah kita usahakan cari-cari celahnya. Ibu tinggalkan saja nomor handphone-nya disini. Nanti biar kita hubungi. Semoga sukses ya..”

Aku mengangguk dan langsung melangkah keluar ruangan yang saat itu kurasakan begitu menyesakkan.

Tuhan, airmata ini dari tadi sudah siap untuk meluncur keluar dari mataku. Ku mohon jangan sekarang. Aku masih harus menemui guru-guru yang lain untuk mengucapkan selamat jalan. Dan siswa-siswaku. Tapi tunggu, apa yang harus kukatakan pada mereka? Should I tell them, Hallo semua, Miss gak ngajar kalian lagi ditahun ajaran ini karena Kepsek mendepak saya karena saya membangkang perkataannya yang menurut saya memang perkataannya tidak seharusnya saya ikuti? Atau mungkin aku harus berkata, Miss minta maaf ya kalo selama mengajar kalian saya suka marah-marah (kayaknya jarang deh..). saya mau pamitan karena saya sudah tidak mengajar disini lagi tahun ajaran ini. Atau kalian mau tetap belajar sama saya? Ya udah, kita buat sekolah sendiri aja gimana? (Emang ada yang mau, gitu?)
Hold you tears, sob, I said to myself. Dengan langkah terseok-seok (rada hiperbolis kalo yang ini) aku akhirnya berhasil sampai di ruang majelis guru lagi yang begitu aku sampai disana aku langsung ditarik Bu Lina ke mejanya dan duduk dihadapannya plus disambut seberondong pertanyaan.

”Gimana, Tha? Apa yang dibilang Kepsek ke kamu? Kamu benar-benar gak dikasih jam ngajar tahun ini?”

Lagi-lagi aku berusaha tersenyum. Senyumkan ibadah.

”Iya, Bu. Persis seperti yang Ibu bilang sama saya tadi pagi. Hanya saja, alasannya yang masih belum bisa saya terima.”

”Memangnya Kepsek kasih alasan apa ke kamu?” tanya Bu Lina lagi

Lalu aku menceritakan pada Bu Lina tentang apa-apa yang diucapkan oleh Kepsek kepadaku beberapa menit yang lalu, tentang apa yang kurasakan saat ini bahwa aku tidak marah, aku hanya kecewa dan bingung.

Bu Lina menepuk lembut bahuku dan berusaha menguatkanku dengan berkata, ”Sabar, Tha. Selama kamu yakin kamu telah melakukan hal yang benar, jangan takut, rezeki akan selalu berpihak ke kamu. Saya tahu persis bagaimana kejadian waktu kamu menolak untuk mengerjakan soal UN Bahasa Inggris beberapa bulan yang lalu. Karena dulu saya juga pernah diminta begitu dan saya menolak dan kita punya prinsip yang sama dalam hal ini. Namun Kepsek tidak bisa mendepak saya begitu saja karena status saya yang sudah PNS. Mitha, kamu tuh punya potensi yang besar. Kamu punya kemampuan. Saya yakin, begitu kamu keluar dari sini, kamu akan langsung mendapat pekerjaan yang baru. Saya yakin itu. Sekarang, all you have to do is be strong and give your best smile to them.”

I feel a bit better afterwards. Bu Lina memang sudah seperti kakakku sendiri karena dia begitu dewasa saat aku curhat atau sekedar meminta sarannya mengenai hal apapun dan umur kami juga terpaut cukup jauh.

”Makasih ya, Bu. I’m gonna miss you. Saya harus pulang dulu sekarang. Tapi sebelumnya saya mau pamitan dulu sama guru-guru disini.” jawabku.

Bu Lina mengangguk sambil tetap memberikan tatapan menguatkan buatku.

Aku berjalan berkeliling ruangan tersebut sambil menyalami guru-guru yang ada disitu. Minta maaf kalo ada salah dan memberikan senyum terbaikku seperti yang diucapkan Bu Lina. Semua guru yang ku jabat tangannya dan ucapkan perpisahan bingung. Mereka tidak mengerti kenapa aku sampai mengucapkan perpisahan. Mereka semua ingin tahu alasan kenapa aku sampai tidak mengajar lagi di sekolah ini. Aku cuma tersenyum dan menggelengkan kepala saat mereka bertanya begitu. Biarlah nanti mereka tahu dengan sendirinya saat berita ini menyebar ke seantero sekolah. Sekolah ini lebih cepat dari internet dalam hal menyebarkan berita-berita terhangat. Aku tidak peduli kalaupun nanti berita yang akan mereka dapatkan adalah berita versi Kepsek atau versiku. I don’t give a shit about it anymore.

Aku membereskan mejaku dan membawa buku-buku dan barang-barangku yang lainnya dalam satu kantong plastik besar. Ku tatap sekali lagi ruangan yang sudah ku tempati selama setahun ini. I’m gonna miss this place. Dan bangku yang ku duduki ini. Belum tentu di tempat baru nanti (If I could find a new one...) aku akan menemukan bangku yang bisa bikin pantatku panas setiap kali pantatku terjerembab jatuh.

Aku melangkah keluar ruangan yang diikuti tatapan iba dan simpati dari guru-guru yang lain. Tidak. Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, jeritku dalam hati. Tatapan seperti itu hanya akan membuatku tambah lemah dan sedih. Give me smiles instead. So I can be strong. As strong as a bull who’s ready to fight a matador.

Sambil berjalan kearah parkiran, aku menatap seluruh bagian gedung sekolah yang akan kutinggalkan ini. Dan mataku kemudian tertuju pada ruang SAC (Self Access Center) yang selama 6 bulan belakangan ku kelola agar semakin banyak siswa yang tertarik belajar Bahasa Inggris. Aku sering memakai ruang tersebut pada saat aku mengajar siswa-siswaku atau apabila ada kelas yang pelajarannya kosong. We had listening practice, speaking, watching movies, atau hanya sekedar bermain Scrabble. Hhhhh... Aku menarik nafas panjang.

”Good Morning, Miss! How are you?”

Aku kaget dan tidak menyadari bahwa ada 2 orang siswaku; Helen dan Indah, yang sedari tadi berdiri dihadapanku. Namun karena pikiranku sedang tidak ditempat dan pandanganku tertuju ke ruangan SAC, butuh beberapa detik untukku menjawab greeting mereka.

Hi, I’m okay, thank you! Gimana liburannya? Eh, kok kalian udah disekolah? Kan ini belum jadwalnya kalian masuk?” Aku berusaha terdengar seceria mungkin.

”Kita lagi piket hotel, Miss. Males banget deh. Miss, tahun ajaran ini Miss masih ngajar kita kan? Jangan ngajar kelas yang lain ya, Miss?” jawab Indah.

Ini nih.. Aku bingung harus bilang apa.

”Ehm, gimana ya... Kayaknya saya gak bisa ngajar kalian dulu tahun ajaran ini..” jawabku dengan nada bingung.

”Kenapa Miss?” tanya Helen dan Indah berbarengan.

”Gimana ya mau ngomongnya. Rada ribet sih. Yah, intinya tahun ajaran ini saya gak ngajar dulu disini. Hopefully, tahun depan udah bisa balik ngajar kalian lagi..” Walaupun aku sendiri sebenarnya gak yakin dengan perkataan ku tadi.

”Yah, Miss.... Trus kita gimana? Siapa yang ntar ganttin Miss ngajarnya? Kita udah nyaman banget diajar sama Miss. Jangan berhenti dong, Miss...” pinta Helen yang langsung diikuti anggukan kepala Indah.

Aku tersenyum lalu berkata, ”Semua guru sama aja kok... mereka semua niatnya mau bikin pintar semua anak didiknya. Ibu Lina atau Ibu Mila juga enak kok orangnya. Mudah-mudahan ntar pengganti Miss salah satu dari mereka. Kalian tetap semangat ya? Jangan males-males. Inget, budayakan bertanya. Kalo masih belum paham atau bingung, jangan ragu untuk bertanya sama gurunya, ok?”

Ya, dari pertama kali aku mengajar mereka tahun lalu, dan di semua kelas yang aku masuki, aku selalu menanamkan beberapa prinsip atau mendoktrin mereka dengan budaya belajar yang menurutku bisa membantu mereka dalam belajar. Diantaranya ya itu tadi, Budayakan Bertanya. Menurutku, itu adalah salah satu kelemahan pendidikan di negeri ini dimana siswa kita jarang sekali yang mau bertanya pada gurunya apabila masih ada materi pelajaran yang belum mereka pahami. Mereka lebih memilih diam dan menerima mentah-mentah semua yang diberikan gurunya di dalam kelas, entah itu betul atau salah. Hey, guru kan juga manusia, jadi pasti ada khilafnya, dan banyak juga kok guru diluar sana yang sok tau yang daripada malu tidak mampu menjawab pertanyaan siswanya,mereka lebih memilih menjawab pertanyaan siswa meskipun itu salah. Balik ke persoalan Budayakan Bertanya tadi, aku ingat betul di minggu-minggu pertama aku mengajar di sekolah ini, setiap kali aku selesai menyajikan materi dan lalu aku bertanya, ’So, up to this point, any question class, ada pertanyaan tidak? Atau ada yang masih belum paham?’ Siswa-siswaku hanya diam. Menatap lurus kedepan. Ada yang memilih menunduk atau menyibukkan diri dengan pura-pura mencatat. Seringkali juga aku melihat tatapan dari siswa ku yang sepertinya dia ingin bertanya, namun lalu dia urung mungkin karena belum terbiasa, malu, atau takut ditertawakan temannya. Namun aku tidak menyerah. Setiap pertemuan aku selalu menawarkan mereka untuk bertanya kepadaku jika masih ada materi yang belum mereka pahami. Dan setelah kurang lebih 2 bulan, aku mulai melihat perubahan. Satu atau dua orang mulai berani untuk bertanya. Bahkan terkadang tanpa aku minta, mereka langsung angkat tangan dan mengajukan pertanyaan. Imbasnya tentu besar. Bukan hanya mereka jadi lebih aktif dikelas, hubungan ku dengan siswa-siswaku jadi semakin lebih akrab dan dekat. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang curhat tentang masalah pribadinya kepadaku. Itu semua karena mereka percaya padaku dan aku juga berusaha untuk selalu membangun hubungan baik dengan mereka. Dan sekarang, aku tidak lagi bisa melakukan itu... (Sedih lagi deh...)

”Tapi janji ya, Miss... Tahun depan balik ngajar kesini lagi ya?” pinta Indah.

”Wah, saya gak bisa janji. But, I’ll try. So, tetap semangat ya!”

”Iya, Miss. Makasih ya Miss. Oh iya, Miss gak ganti nomor hape kan? Ntar kita sms-an lagi ya!”

”Insya Allah gak ganti. Take care ya! Got to go now. Salam buat anak-anak yang lain ya. See you...” jawabku sambil melangkah meninggalkan mereka.

”See you, Miss...!!” jawab Helen dan Indah sambil melambaikan tangannya kearahku.

Siswa-siswaku... Aku pasti bakalan kangen banget sama mereka. Sebulan libur kemaren aja aku sudah kangen banget pengen ketemu mereka dikelas dan berbagi ilmu sama mereka. Apalagi setahun? Atau malah untuk seterusnya aku gak akan pernah lagi bisa mengajar mereka? Gosh.
Suasana sekolah sudah mulai ramai dengan para guru yang telah berdatangan, pegawai Tata Usaha dan pegawai dari Diknas. Untunglah mereka tidak terlalu perhatian dengan aku yang mulai berjalan kearah motor kreditanku untuk akhirnya berlalu pergi (Anyway, emang siapa yang hari gini masih peduli sama kamu, Tha?). Karena jika ada satu orang lagi saja yang menanyakan kenapa aku tidak lagi mengajar di sekolah ini, aku tidak yakin aku mampu menahan airmataku lagi.

Aku hidupkan mesin motorku dan mulai mengendarainya keluar gerbang.

Aku tidak tahu bagaimana akhirnya aku bisa sampai kerumah dengan selamat karena selama perjalanan pikiranku rasanya tidak berada dijasadku. Dia sudah terbang entah kemana. Aku begitu bingung. Kalut. Pusing memikirkan diriku yang sekarang jelas-jelas unemployeed.

Satu lagi kekecewaanku terhadap Kepsek. Dia sudah merencanakan untuk mendepakku dari sebulan yang lalu. Bahkan sebelum libur akhir tahun ajaran dimulai! Tapi kenapa dia baru memberitahuku sekarang? Dihari pertama masuk sekolah? Kenapa tidak dari sebulan yang lalu? Apa dia sengaja melakukan itu? Agar aku kelabakan karena mendadak pengangguran? Kenapa dia baru memberitahuku sekarang? Saat pikiranku sudah dipenuhi dengan harapan-harapan dan semangat baru untuk mengajar siswa-siswaku. Saat aku sama sekali tidak punya cadangan pekerjaan yang lain selain mengajar di sekolah ini. Apa dia sengaja? Seandaikan aku tahu lebih awal, tentu aku tidak akan se-stucked dan se-down ini. Dan aku juga pasti punya cukup waktu untuk mencari pekerjaan yang baru. Dan sekarang? Tahun ajaran baru sudah akan dimulai. Memangnya sekolah mana yang masih akan menerima guru baru semntara mereka saat ini justru malah sudah disibukkan dengan menyiapkan perangkat pembelajaran dan mengatur jadwal pelajaran? Sekolah mana yang akan menerimaku? Kemana aku harus mencari pekerjaan baru? Lalu, kalau aku tidak juga menemukan pekerjaan yang baru, bagaimana nasib motor kreditanku? Aku tidak akan mampu membayar cicilan perbulannya. Lalu bagaimana dengan orang tuaku? Bagaimana aku akan membantu mereka untuk biaya hidup sehari-hari? Lalu bagaimana dengan kuliahku? Meskipun aku mendapat beasiswa, tetap saja ada biaya tak terduga yang harus aku keluarkan. Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana??!!

Kepalaku berdenyut karena menahan sakit. Airmataku sudah tumpah dari pertama aku men-starter motorku sewaktu masih di sekolah tadi. Dan sekarang aku sudah kembali berdiri didepan rumahku. Belum ada 3 jam aku pamit dengan Ibuku tadi pagi untuk pergi mengajar. Dan sekarang aku sudah di rumah lagi. Apa yang akan ku katakan pada ibuku? Even if I know what to tell, how should I tell her?

Ku pandangi rumahku tercinta yang hanya terbuat dari papan Kelukup. Rumahku (bukan rumahku sebenarnya karena kami hanya mengontrak disini) sederhana. Sangat sederhana malah. Hanya lantainya yang terbuat dari batu, selebihnya dari papan. (Ya tentu saja atapnya dari seng dan bukannya papan). Hanya ada 2 kamar tidur, 1 ruang tamu yang tidak ada kursi tamunya, 1 ruang keluarga yang sekaligus didaulat jadi ruang makan, 1 dapur kecil dan 1 kamar mandi bersama. Tapi aku bahagia disini. Mungkin ini bukan jenis rumah idaman, tapi ini adalah home sweet home buatku.

Kulangkahkan kakiku memasuki rumah. Lengang. Ibuku mungkin masih diwarung belanja untuk lauk hari ini. Adikku Dio mungkin masih tidur karena dia masuk sekolah siang. Adikku yang paling kecil juga pasti masih di sekolahnya. Dan ayahku sedang bekerja.

Aku masuk kedalam kamar Ibuku (Ya. Kamar ayah dan ibuku karena aku tidak punya kamar sendiri disini. Jika malam, aku tidur dengan membentang sofa pemberian tetanggaku yang bisa disulap menjadi tempat tidur diruang keluarga yang berdekatan langsung dengan meja makan. Mungkin tidak terlalu empuk, tapi lumayan dari pada tidur dilantai) dan langsung menutup pintunya.

Aku menangis. Aku biarkan emosiku keluar agar aku bisa lebih lega. Aku berteriak sambil menutup mukaku dengan bantal sehingga teriakanku tidak akan terdengar. Aku berteriak sekuat aku bisa hingga tenggorokanku terasa perih. Aku sedih. Aku kecewa. Aku putus asa. Aku tidak tahu harus melakukan apa. I’m stucked and sad to death.

Yang ada dipikiranku saat ini adalah bagaimana aku akan mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku sekarang pengangguran sementara kami sedang sangat membutuhkan uang untuk biaya sekolah adik-adikku, bayar kontrakan rumah, kreditan motor, rekening listrik dan air. Bagaimana aku akan melanjutkan kuliahku. Bagaimana aku akan melanjutkan hidupku. Terlalu banyak bagaimana kurasa. Tapi itulah yang ada dipikiranku saat ini.

Sambil berbaring dan setelah puas menangis, akhirnya aku hanya bisa terdiam dan termenung sambil menatap langit-langit kamar yang dek-nya sudah hampir mau lepas karena terlalu sering kejatuhan air saat hujan karena atap seng-nya sudah banyak yang bocor.

Kepalaku kosong. Hatiku kosong. Aku kosong.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa? Apa? Apa? Somebody tell me, what should I do now? I’m so shocked with the news that my brain can barely cry. Somebody... please....

................................................
................................................

Kamu punya kemampuan. You’ve got the skill, silly girl. And you’ve faced a worse situation than now. You’ve faced monsters in the past dan halangan yang sekarang ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang sudah kamu lewati untuk mencapai apa yang kamu punya sekarang.

Aku merasa ada suara yang berkata-kata dikepalaku. Suara itu mencoba membawaku keingatanku akan masa-masa sulit yang amat teramat sulit yang sudah kulalui beberapa tahun lalu. Dan ya, suara itu benar. Halangan ini belum ada apa-apanya dibandingkan masa-masa sulit itu. It’s just like a piece of cake. Dan karena suara itu juga, ingatanku akhirnya terbawa ke masa 6 tahun lalu saat aku dengan terseok-seok mencoba menggapai mimpiku....
***

1st Chapter oleh Pramitha Sari

Read More ......