Wednesday, April 23, 2008

THE(UN)PERFECT LIFE

-

Bab 1: Sebuah Awal
Regina Dwi Sunggono
Hari semakin gelap. Gue melirik jam di pergelangan dan mendapati angka digital di sana sudah berubah dari 16:45 –saat pertama kali gue duduk di sini—menjadi 19:57. Sebentar lagi gue bakal cabut. Pulang.

Gue menyendok kuah terakhir di mangkuk mie. Hmmm… yummy. Kenapa ya gue gak pernah berhasil bikin mie instan senak ini? Marni –pembantu di rumah gue—juga gak pernah bisa menciptakan paduan mie-telor-kornet-keju sesedap yang baru gue nikmati itu. Padahal tidak ada yang istimewa dari racikan Bang Udjo (empunya warung ini). Mie, telur, kornet, keju. Semua sama. Tapi kenapa rasanya beda?

Gue membersihkan sisa teh botol dan mendesah puas. Tidak ada yang menyamai kenikmatan makan mie Udjo sambil mereguk teh botol di malam seperti ini. Malam yang udaranya cukup menggigit sehabis hujan. Feels like an orgasm.

Gue mengeluarkan ‘desert’ andalan dari saku belakang. Kotak putih bergaris-garis hijau yang di dalamnya terdapat batang-batang putih sumber racun perusak tubuh yang akan melengkapi kenikmatan santap malam gue. Gue menyulut batangan putih itu di api kecil dari sumbu minyak di gelas bening, dan menghisapnya dalam-dalam.

Bang Udjo melirik tingkah gue sambil nyengir. “Gak brenti-brenti lu, Re. Lama-lama abis tu badan.”

Beberapa pengunjung warung ikut melirik ke arah gue. Seorang gadis belasan tahun yang datang bersama pacarnya melengos saat melihat penampilan gue. Pacarnya, sebaliknya, menatap gue sambil tersenyum, dan langsung mendapat hadiah cubitan di pinggangnya.

Gue baru akan melontarkan jawaban ringan pada Bang Udjo, ketika sebuah pekikan mengagetkan gue. Sontak gue mencondongkan tubuh dan melongok keluar tenda.

Sebuah BMW hitam mengilat terparkir tidak jauh dari warung steak Sapto, hanya beberapa belas meter dari tempat gue duduk sekarang. Seorang gadis berusia awal 20-an berdiri di sisi mobil dengan raut kesakitan. Gue mengikuti arah tatapan matanya.

Ya elahhh… hari gini ke warung pinggir jalan pake stiletto. Markir sembarangan pulak.

Gue tahu betul, besi penutup selokan yang terdiri dari jeruji-jeruji karatan itu sudah keropos. Beberapa di antaranya malah berlubang dan berpotensi menjadi ranjau yang sangat efektif bagi para pemakai sepatu hak tinggi yang tidak hati-hati. Dasar orang kaya aneh.

Gue memicingkan mata ketika seorang cowok dengan pakaian lusuh dan gitar kecil di punggung berjalan mendekati cewek itu.

Celana jeans pudar yang bolong di bagian lutut dan kaus army look yang dikenakannya sangat belel, menambah kesan kumuh pada setiap inci tubuhnya. Dan sekarang, sosok kucel itu menghampiri seorang gadis kaya berpenampilan barbie yang cukup tolol untuk datang sendirian ke tempat seperti ini pada malam hari dengan BMW seri terbaru, memarkirnya seenak jidat dan menjebloskan kaki berstiletto ke penutup selokan yang sudah keropos.
***
Kirana Ayudia Cakrawinata
“ADUH!!”

Aku tidak bisa menahan jeritan kecil dari bibirku saat hak stiletto yang kupakai masuk ke jeruji penutup selokan yang (ternyata) penuh lubang. Bagus!

Sakitnya lumayan banget, dan sekarang sepatu sialan ini tidak mau lepas. Aku nyaris mengeluarkan 1001 kata makian ketika wajah Ibu terlintas di otakku, disusul princess manner yang entah sudah berapa ratus kali didengungkannya. Wajah dengan tarikan tegas itu selalu berhasil menahan lidahku. Dan manners yang sudah kuhafal luar kepala itu selalu mampu membuatku bersikap elegan di tengah situasi terburuk sekalipun.

Tapi aku belum pernah menghadapi kondisi yang sangat menjengkelkan seperti ini. Terlontar juga sepatah kata yang pasti sanggup membuat Bunda melotot dan menguliahiku berjam-jam (thanks God she’s not here!), “SHIT!”

“Kenapa Neng, kejeblos ya?”

Seorang laki-laki berdiri beberapa meter di depanku, berjalan mendekatiku. Penampilannya sangat lusuh dan kasar. Tapi yang membuatku takut adalah tubuhnya. Tinggi besar.Darahku membeku saat sosok itu menghampiriku di tengah kegelapan
***
Regina
Mahdi ngapain, sih?!

Mau jadi pahlawan? Dasar geblek! Cewek licin begitu, ngeliat elo, yang ada malah ketakutan kali.
Tanpa pikir panjang gue memanggil keras-keras. “DI! MAHDI!!” Tapi cowok dekil itu sama sekali tidak menoleh. Terus saja berjalan lurus ke arah cewek malang yang wajahnya sudah pias seperti melihat hantu. Ya iyalah. Gue yang udah kenal dia lama aja yakin, beberapa orang pasti memilih ketemu kuntilanak di kuburan kosong pada tengah malam ketimbang berhadapan dengan cowok bertubuh segede gaban yang tampangnya gahar itu.

“Bentar ya Bang!” Gue pamit sekedarnya pada Bang Udjo yang ikut melongok keluar tenda, penasaran.

Gue berjalan cepat, menyusul Mahdi -- khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebenarnya dia nggak jahat, kok. Mahdi itu teman gue – teman kakak gue, tepatnya.
Nuno --abang gue-- berkawan akrab dengan kebanyakan pengamen, anak jalanan, (bahkan) preman di sekitar sini. Bukan karena dia salah satu dari mereka, tapi karena abang gue memang begitu sifatnya. Suka bergaul dengan siapa aja tanpa pandang bulu, dan jiwa sosialnya tinggi banget.

Nuno pernah menyelamatkan seorang preman yang nyaris tewas lantaran ususnya terburai kena bacokan gara-gara berkelahi dengan sesama preman. Ia membawa preman sekarat itu ke rumah sakit terdekat dengan mobil hardtop-nya dan mengeluarkan sejumlah uang agar begajulan itu bisa secepatnya masuk ruang operasi.

Sejak itu, Nuno dihormati oleh seluruh preman dan pekerja jalanan (ini istilah yang gue pakai untuk menyebut pengamen, anak jalanan, dan mereka semua yang mengais rezeki dari jalanan setiap hari) di sini. Dan mereka juga menghargai gue sebagai adiknya.

Walaupun gue cewek, mereka tidak pernah merendahkan –apalagi melecehkan—gue. Sebaliknya, mereka ramah dan tidak segan-segan menolong jika diperlukan. Pada dasarnya mereka itu baik, kok. Sama aja kayak orang biasa pada umumnya. Bedanya, mereka tinggal, hidup dan dibesarkan di jalan. Itu yang membuat mereka berbeda. Tapi hati mereka tetap manusia.

Termasuk Mahdi, pekerja jalanan yang sehari-hari mencari nafkah dengan gitar mainannya. Sejujurnya gue agak kasihan sama dia. Tampang nggak jelek-jelek amat, bodi lumayan dan orangnya baiiiik banget, tapi agak terbelakang. Ia mampu berkomunikasi ala kadarnya dan mencari nafkah untuk hidup, namun tidak bisa menggunakan nalar sebagaimana mestinya. Kekurangannya itu sering membuatnya terjebak dalam berbagai kesulitan. Seperti sekarang.
Gue sama sekali tidak khawatir dengan keselamatan cewek manja yang dari tadi ngaduh-ngaduh gak jelas itu. Apa susahnya sih, jongkok sebentar, buka stilettonya, trus baru dikeluarin? Lubang segitu doang, digoyang-goyang sedikit juga lepas. Atau gak kepikiran? Dasar orang kaya blo’on.
Yang gue takutkan justru Mahdi. Ia tidak akan menyakiti cewek itu. Gue berani bertaruh ia bahkan sama sekali tidak berpikir ke sana. Ia hanya mau menolong. Tapi ekspresi cewek itu seperti melihat hantu dan kalau gue tidak segera menyambangi mereka, sebentar lagi dia pasti menjerit atau melakukan tindakan konyol lain yang bisa menimbulkan kesulitan bagi Mahdi.
***
Kirana
Aku hanya bisa menatap pasrah ketika langkah-langkah itu semakin mendekat. Ketakutan bagai mencekikku, sehingga untuk berteriak pun aku tidak sanggup. Lidahku kelu, sekujur tubuhku mendadak dingin, dan aku menyesali kebodohanku.

Kenapa harus nekat datang ke tempat seperti ini segala, sih? Betul-betul keputusan konyol yang tidak pakai otak. Sama juga cari mati.

Seharusnya aku mempertimbangkan seribu kali sebelum memutuskan untuk mencicipi makanan pinggir jalan yang selama ini hanya bisa kutatap dari balik jendela mobil. Terutama warung steak yang pernah kubaca di tabloid gosip, yang konon terkenal di kalangan anak SMP dan SMU karena enak dan murah.

Aku tahu teman-temanku tidak akan sudi mampir ke tempat seperti ini. Aku bahkan tidak berani menyinggung sedikit pun kepada mereka. Aku membayangkan Livia yang memiliki postur sempurna bak boneka Barbie itu mengerutkan kening dan menyebutkan sejumlah istilah yang membuat telinga gatal; trans-fat, saturated fat, high calories, monosodium glutamat, blah blahh..

Aku bisa melihat Sandy mengernyit jijik dan berkomentar dengan lidahnya yang setajam silet, “Kalo cuma makan steak ngapain harus di tempat begituan, sih? Kayak orang susah aja lo, Ran.”
Atau Chica, si ABG wannabe, “Plisssdyeh, Rana. Hare gene getolooohhh.”

Okay, dari semua komentar yang tidak mendukung itu, Chica-lah yang paling berprospek membuatku tertawa dengan kalimat-kalimatnya yang sok nge-ABG, padahal usianya sudah menginjak 23.

Intinya, semua sama saja. Tidak bakal ada yang mendukung keinginanku untuk sekali-sekali makan di warung tenda pinggir jalan sambil merasakan semilir angin berdebu menerpa wajah, dengan kucing-kucing berlarian di bawah meja (yang kedengarannya seru sekali!).

Aku bahkan tidak perlu menanyakannya pada mereka. Raut-raut yang berubah aneh ketika kuperlihatkan artikel di tabloid itu sudah menjelaskan semuanya.

Mungkin mereka benar. Seharusnya dari awal aku tidak menginjakkan kaki ke tempat seperti ini hanya demi alasan bodoh “Pengen ngerasain”. Konyolnya aku.
Tapi aku tidak sempat menyesali ketololanku berlama-lama, karena sosok itu semakin mendekat.

Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan otakku yang sibuk berperang, teriak… jangan… teriak… jangan… teriak… jangan… teri…

“Jangan teriak.”

HE?!

Spontan aku membuka mata, mencari sumber suara.

Seorang gadis berambut superpendek yang cara berpakaiannya sangat menyalahi peraturan dunia fashion berjalan ke arahku dari belakang sosok asing itu. Langkah-langkahnya cepat dan tegas. Dalam sekejap ia sudah menjajari sosok tinggi-besar itu. Matanya menatapku tajam.
“Gak usah takut. Dia gak jahat, cuma mau nolongin elo.”
***
Regina
Gue mendorong pelan lengan Mahdi, memberinya isyarat supaya menjauh. Kalau cewek kaya bin sarap ini berteriak, sebaiknya Mahdi tidak ada di sini.

Mahdi kelihatan bingung, tapi menurut dan mundur beberapa langkah.

Si cewek sophisticated menatap gue dan Mahdi bergantian, sama bingungnya. Ekspresinya sekarang terlihat sedikit bodoh.

“Dia temen gue,” gue menerangkan. “Dan dia gak jahat. Dia malah lebih baik dari kebanyakan penduduk Jakarta.” Penjelasan yang tidak perlu, I know. Gue hanya merasa puas karena bisa mengucapkan ini pada orang-orang yang selalu memandang sebelah mata pada kaum marjinal seperti Mahdi dan teman-temannya.

“Sorry,” gumam cewek itu, salah tingkah. “Aku pikir, well…” Ia memandang sekilas kakinya yang masih terperangkap dalam stiletto.

“Sini gue bantuin.” Gue berjongkok dan membantunya membebaskan kaki dari stiletto, sekalian menarik keluar benda itu dari jeruji penutup selokan.

“Thanks.” Gumamnya penuh kelegaan.

“Sama-sama,” balas gue, kali ini sambil nyengir kuda. Cewek ini, kelihatannya bukan cewek kaya yang snob. Rada blo’on iya.

“Sedikit saran, lain kali kalau ke tempat beginian…” –gue menunjuk warung-warung tenda yang berjejer dalam cahaya remang dengan dagu- “jangan pakai sepatu begituan.”

“Stiletto.”

“Whatever. Lagipula, tempat kayak gini kurang aman untuk cewek seperti lo,” gue memutuskan untuk blak-blakan. “Jangan tersinggung, tapi mobil lo itu terlalu mencolok. Dandanan lo juga. Ini bukan hotel bintang lima, ini warung pinggir jalan. Hari ini lo beruntung…” gue melirik Mahdi yang memperhatikan seluruh konversasi ini dengan raut datar, “kalau yang menemukan lo tadi bukan Mahdi, ceritanya bisa lain.”

Ya iyalah. Preman-preman yang mangkal di sini, menghormati gue karena gue adiknya Nuno. Dan walaupun pada dasarnya mereka tidak jahat, mereka dibesarkan di rimba Jakarta yang kejam dan tidak kenal ampun. Nggak ada jaminan keselamatan untuk cewek manapun yang cukup goblok untuk datang sendirian malam-malam dengan dandanan bak supermodel dan kendaraan mewah yang harganya bisa ngasih makan orang sekampung.
***
Kirana
Dia benar.

Meski enggan mengakuinya, aku tahu perkataan itu ada benarnya.
Darn. Sudah kejeblos, stiletto rusak, ketakutan setengah mati, dimarahi pula oleh cewek tomboi yang sama sekali tidak kukenal.
…..

Tapi aku sudah sampai di sini!

Pulang…

Nggak…

Pulang…

Nggak…

Pul…

“Lo serius, ya?”

He…?

Si tomboi menatapku lurus-lurus. Tangannya tersilang di dada, namun ekspresi dinginnya sudah berganti senyum geli. “Beneran mau makan di sini?”

Antara ngeh dan tidak, aku mengangguk.

“Ya udah, gue temenin.”

HAH…?!!

Tanpa menunggu responku, ia melangkah masuk ke dalam warung. Lagi-lagi aku terbengong. Tidak sampai dua detik, kepalanya muncul dari balik terpal oranye.

“Katanya mau makan?! Jangan kuatir,” ia memamerkan senyum kocak, “Gue nggak minta traktir. Cuma mau mastiin elo pulang dengan utuh.”
***
1st Chapter by Jenny Jusuf


Read More ......

Wednesday, April 16, 2008

Star Wish

-

Tempat baru dan kebiasaan yang baru!
Oke, mungkin waktunya untuk membuat perubahan, Fel!
Fela melihat sekelilingnya masam. Ini benar-benar menyebalkan. Baru tiga bulan dia berada di tempat ini, dia sudah tidak betah. Bayangkan! Baru-tiga-bulan-saja!!! Apa jadinya kalau tiga tahun?

Fela menghela nafas lagi. Bukan sok bersih ya, tapi ini semua… sampah-sampah ini… benar-benar bikin mata dan kepalanya mendadak sakit

Di sudut halaman Pratama School yang luas, asri oleh tanaman hijau dan pohon-pohon besar yang menaunginya, botol-botol bekas bertebaran, bikin rusak pemandangan saja. Dan tidak hanya itu saja, selain botol masih ada kertas pembungkus makanan, plastic bag, sedotan, gelas-gelas plastik, tempat makanan styrofoam, pokoknya semua sampah yang gubrak banget buat dilihat.

Fela menggeleng muram. Mau bagaimana lagi? Pemandangan jorok di depannya ini tidak bakal bisa berubah.

Ini pasti dampak langsung malam pensi (=pentas seni) kemarin. Pak Kasim, tukang kebun mereka, nggak bisa disalahkan juga. Biarpun tugasnya memang merawat kebun mereka, tapi menurut Fela, tentang botol-botol bekas ini… tugas para panitia, dan semua anak Pratama School untuk membersihkannya.

“Kenapa Fel?” Diandra, salah satu teman dekat Fela saat ini, berdiri dibelakang Fela. Ia menatap Fela heran. Yang ditatap hanya menggeleng, merasa tak berdaya di dalam hati.

“Fel?” Nazaya, sahabat Fela yang lain, mengangkat alis.

“Nggak apa-apa sih, hanya aja…” Fela menghembuskan nafas keras. “Botol-botol ini, sampah-sampah ini…” Ia mengibaskan tangan karena jengkel. Tapi sepertinya, kedua sahabatnya tidak begitu ngerti, apa yang dirasakan oleh Fela.

Oooh, Fela menatap putus asa, sudahlah! Mungkin hanya dia satu-satunya murid disini yang merasa terganggu oleh pemandangan yang dimata Fela, so annoying itu.

“Disini nggak ada organisasi ekskul perduli lingkungan gitu ya?” tanya Fela bingung. Nazaya dan Diandra berpandangan sebentar.

“Maksud kamu, seperti save the earth?” tanya Aya ingin tahu. Aya yang selalu tampil sporty namun tetap manis, dengan rambut pendek layer membingkai wajah mungilnya, mengernyitkan kening bingung.

“Yah, mirip-mirip begitu.” Angguk Fela setuju.

“Di Jakarta sini sih, ada Fel.” Dian yang feminin ganti berbicara. “Seperti organisasi WWF gitu kan?”

“Kalau di sekolah ini?” Kejar Fela tidak puas. “Ada nggak?”

“Mmm…” Dian menelengkan wajahnya ke samping. Rambutnya yang panjang terurai lembut, jatuh menutupi salah satu sisi wajahnya. “Kayaknya sih nggak ada. Eh, nggak ada kan Ya?” Ucapnya menegaskan. “Dari kita SMP, ekskul model gitu kan memang nggak ada. Yang ada itu yang standar aja Fel, seperti fotografi, home industri, komputer, tata boga terus macam olahraga-olahraga gitu. Tapi organisasi pecinta lingkungan nggak pernah ada.” Geleng Dian yakin.

Nazaya mengangguk membenarkan.

Fela mengeluh lagi. “Padahal Jakarta ini lebih sakit dari Bandung loh Yan. Tapi SMP-ku di Bandung aja ada kelompok yang perduli lingkungan. Kamu tahu nggak, aku salah satu founder-nya loh.” Fela tersenyum sedikit, tapi langsung mengernyit lagi begitu ia ingat pokok masalahnya. “Anyway, kenapa di Jakarta yang penuh polusi, sampah dan banjir begini, murid-murid sekolah PS malah cuek bebek ya? Kenapa nggak ada organisasi dan slogan go green?”

“Nggak gitu juga kok Fel.” Aya menggeleng nggak enak hati. “Mungkin mereka semua belum ngerti aja.”

“Mungkin!” Fela bertekad menutup pembicaraan.

Bel panjang sudah berbunyi. Sebentar lagi, mereka semua akan memulai pelajaran Kimia. Yang pasti, itu bukan pelajaran favorit Fela. Ia tersenyum dan berpaling mengawasi dua orang soulmate-nya di PS ini.

Ketemuan dengan Nazaya dan Diandra di acara family night, benar-benar merupakan suatu berkat buat Fela. Namanya aja family night. Nama yang keren, dan kesannya akrab banget. Tapi buat Fela acara itu lebih mirip acara penggojlokan, mapram siswa-siswa junior oleh para senior yang terhormat.

Dan dia benar-benar bersyukur, bahwa agenda yang jadi momok nomor satu yang wajib dihindari para junior itu malah membawa berkat tersendiri. Berkat itu ya mereka berdua, Aya dan Dian, her GFSF-nya (Girl Friends Stay Forever).

Yup, Fela yakin itu. Dia dengan Aya dan Dian akan sangat dekat, seperti dulu ketika dia dan Mila masih bersahabat. Nun jauh di Bandung sana.

Bertiga mereka berjalan beriringan menuju kelas 1-1.
***
Di dalam kamar tidur yang jendelanya dibiarkan terbuka lebar, menghantarkan angin semilir berhembus masuk, Fela menatap plafon kamarnya. Plafon itu putih bersih, dengan hiasan bintang-bintang, glow in the dark. Bintang-bintang yang gemerlap di malam hari, saat semua lampu dimatikan. Bintang yang sama yang biasanya berhasil membawa kedamaian dalam hati Fela.

Namun… tidak saat ini.

Fela mengernyitkan kening, berpikir keras. Dulu di SMP Alamanda School Bandung, organisasi macam itu juga tidak ada. Organisasi itu ada karena dia, Fela Anwar, Mila, Brama, dan beberapa anak lainnya punya visi yang sama. Mungkinkah hal itu terulang kembali? Disini? Di Pratama School Jakarta?

Dan nama Brama kembali membuat Fela mengernyitkan kening lagi. Dengan sukses, membawa perasaan Fela jadi feeling blue, disamping hanya gundah saja.

“Fel?” Mama mengernyitkan kening heran.

Di hadapan putrinya ada semangkuk dessert coklat super lezat, tapi sepertinya Fela tidak sadar. Padahal, itu adalah kesukaan Fela.

Mama tahu, Fela memberi julukan dessert favoritnya itu ‘coma by chocolate’. Itu untuk menggambarkan betapa lezatnya chocolate cake buatan Mama, lengkap dengan lelehan pasta bercampur rum, di tambah dengan potongan-potongan dark chocolate yang pahit.

“Ya Ma?” Fela mengangkat wajah malas.

“Kok dessertnya nggak dimakan sih Fel?” tanya Mama penasaran. “Kenyang?”

“Nggak sih Ma, hanya aja…”
“Apa?”
“Jakarta itu tidak seenak Bandung ya, Ma.” Ucap Fela muram. Nggak tahu kenapa, tahu-tahu Fela bisa berasa homesick aja. Dia kangen Bandung, kangen rumahnya yang menghadap ke gunung Tangkuban Perahu, kangen Mila, kangen…, yah pokoknya, Fela kangen semua deh.
Mama tersenyum, mengelus kepala putrinya lembut. “Semua tempat memang tidak ada yang sama, Fel. Jakarta tidak seperti Bandung, tidak seperti Surabaya, dan pasti akan beda juga dari Bali. Kamu nggak bisa banding-bandingin begitu kali, Fel. Lagi pula, bagaimana kamu bisa bilang begitu? Kamu baru tiga bulan stay di Jakarta ini.”

”Tiga bulan juga udah lebih dari cukup, Mama!” Balas Fela sinis. Dessert-nya tetap dibiarkan tak tersentuh.

“Kenapa?” tanya Mama bingung. Dalam hati, Mama kuatir juga jangan-jangan Fela ngalamin kesulitan berat di sekolah. Atau dikerjain sama teman-teman sekolahnya. Atau…

“Mereka semua pada cuek bebek, Ma.” Kata Fela menggeleng putus asa. “Sampah, polusi, plastic bag bertebaran, terus sepertinya nggak satu mahlukpun di sekolah Fela yang perduli. Mana hawanya panas Ma, pokoknya… benar-benar beda sama Bandung.” Lanjut Fela pelan.

Mama tertawa dan mengacak rambut Fela. Beliau tahu, hal-hal yang menyangkut ‘save the earth’ ini selalu ditanggapi Fela dengan serius. Putrinya ini punya keperdulian terhadap lingkungan, jauh melebihi usianya yang masih belia. Dan terus terang, Mama bangga pada Fela. Tidak banyak anak SMP maupun SMU yang mempunyai wawasan dan pandangan, serta solidaritas yang begitu kuat terhadap bumi ini.

“Oke. Jadi sepertinya… udah waktunya untuk Fela membuat perubahan. Ya kan?”

Fela menatap Mama nggak percaya. Mama pasti bercanda. Pasti!

“Kenapa?” tanya Mama jenaka. “Kok kamu jadi bengong gitu?”

“Yaelah, Mama. Fela…” Ucap Fela menunjuk dirinya sendiri. “Membuat perubahan? Hm, Mama pasti main-main.” Mama hanya tersenyum melihat Fela melanjutkan dengan nada berapi-api.
“Ma, siapa sih Fela ini? Fela tuh anak baru Ma. Anak yang benar-benar baru. Baik itu di sekolah dan juga di Jakarta. Senior Fela tuh banyak banget. Dan mereka udah stay di Jakarta ini seumur hidup. Masa Fela sih Ma, yang harus membuat perubahan. Bisa kacau Ma, Pratama School.”

Mama tertawa lagi. “Kalau bukan kamu, siapa lagi? Kan kamu sendiri yang bilang kalau mereka semua tidak perduli.”

Fela terdiam. Ia menatap Mama bingung. Ya… benar juga sih. Tapi… tapi… dia kan anak baru. Anak baru, Mama. Dan Mama pasti tahu kan, gimana perlakuan siswa lama, dan mereka udah senior lagi, terhadap para juniornya!

Aduh! Pusing ah!

“Fel,” Mama berucap serius, “memangnya untuk membuat suatu perubahan yang baik itu kamu harus tinggal cukup lama dahulu di suatu tempat. Begitu?”

“Tapi… tapi…”

“Dan untuk menjadi trendsetter, not the follower, apakah itu berarti kamu harus lebih tua dari mereka-mereka yang masih berpikiran konventional?” tanya Mama bijaksana.

Fela menatap Mama. Dia tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat lamanya.

Mama tidak memaksa. Beliau tahu, Fela butuh waktu. Dan jika tiba saatnya, putrinya akan mengambil keputusan yang tepat.

Dulu, sejak masih di kandungan pun, Fela tidak bisa diburu-buru. Mama harus ribut dengan dokter karena beliau dipaksa untuk menjalani C-section, atau operasi Caesar. Menurut dokter, sudah waktunya Fela lahir. Padahal Mama yakin, bayi putrinya yang satu ini sangat istimewa. Dia pasti akan keluar, jika saatnya tiba.

Dan Mama memang benar!

Sesaat menjelang C-section itu, Fela lahir normal tanpa kesulitan apapun. Semua orang dibuat tercengang melihat kejadian itu.

Karena itu, sekarangpun Mama tidak memaksa Fela sama sekali.
***
Fela memejamkan mata rapat.

Be the trendsetter, not the follower.

Fela suka sekali ucapan Mama yang itu. Cool, keren, dan membuat Fela merasa menjadi seseorang. Dan persis itulah yang ia lakukan di Bandung, bukan? Hanya saja, dulu terasa lebih mudah daripada sekarang.

Dan jujur, ia tidak yakin bagaimana tanggapan para seniornya terhadap junior yang kesannya sok tahu, sok-sok bawa perubahan. Fela bergidik sendiri. Apalagi Pratama School termasuk sekolah nge-top yang para siswanya terkenal tajir dan masuk jajaran kalangan papan atas. Siapa sih Fela itu? Hanya satu diantara sekian ratus siswa yang nggak penting deh…!

Fela mengambil majalah Teen’S World, membuka halaman demi halaman kertas mengilap itu dengan pikiran bercabang. Mm… matanya terpaku pada sebuah artikel. Sebetulnya itu artikel fashion tentang Kyra, perancang mode yang sedang naik daun. Tapi entah kenapa, buat Fela, artikel itu seolah menjawab kebimbangannya.

“Saya selalu bermimpi untuk menjadi seorang perancang… “

Demikian dikutip oleh Teen’S World dalam sebuah wawancara singkat di sela-sela acara fashion show di hotel bintang lima, Castella.

“…tapi jalan ke arah sana, sepertinya sangat berliku dan berpasir.” Kyra yang cantik, dan sebenarnya lebih cocok untuk jadi model daripada perancang, tersenyum manis. Sesekali matanya melirik pada deretan model remaja papan atas yang berlenggak lenggok di atas catwalk memamerkan busana khas vintage koleksinya tahun ini. “Jadi saya berpikir,” lanjut Kyra dramatis, “bila untuk sampai pada tujuan dan cita-cita saya dibutuhkan berpuluh-puluh langkah raksasa, alangkah baiknya jika saya mulai dengan satu langkah kecil. A small step can change a man’s world. Bukankah begitu? Prinsipnya sederhana, think globally act locally. Roma juga tidak dibangun dalam waktu satu hari saja, bukan?Dan begitulah saya memulai. Selangkah demi selangkah. Jatuh dan bangun lagi. Melangkah kembali…”

Fela tercenung.

Kyra adalah designer favoritnya. Dulu di Bandung sana, semua FO yang menjual nama Kyra pasti laku keras, seperti kacang goreng saja. Siapa sih remaja ibukota yang tidak kenal nama Kyra?

Hanya saja yang Fela tidak pernah tahu ialah bahkan seorang designer setenar Kyra pun harus berjuang keras, sebelum karyanya diakui dan disukai pasar.

Dan prinsip Kyra… prinsip tentang think globally act locally, satu langkah kecil, jatuh dan bangun, melangkah lagi… itu adalah prinsip sederhana yang sama sekali tidak sederhana. Prinsip yang bisa dibilang hebat dan membumi! Fela kembali terdiam. Otaknya berpikir keras.

Dan perlahan… senyum manisnya terkembang.
1st Chapter by Rina

Read More ......

Triangles

-

Bab 1: A Beautiful Life
Jakarta, Agustus 2007
“Gila ya, udah berapa lama kita nggak ketemuan?”

Pertanyaan itu tenggelam di ruangan luas yang hingar-bingar oleh musik dan sinar aneka warna. Namun, di pojok ruangan yang cukup sepi (baca: hanya diisi beberapa orang yang malas menyatu dengan keramaian malam ini), di sofa suede empuk yang mengelilingi meja mungil dengan gelas-gelas tinggi di atasnya, pertanyaan itu terdengar jelas.

“Setahun?” seorang perempuan mengangkat rambutnya tinggi-tinggi dan menggelungnya. Beberapa helai rambut jatuh di dahinya akibat gelung yang dibuat asal-asalan -- sekadar mengurangi hawa gerah.

“Lebih.” Timpal perempuan yang duduk di seberangnya. Tangannya terjulur, meraih minuman. Ia berpikir-pikir sebelum meneguk isi gelas, ”hampir 2 tahun, kayaknya.”

“Time is running so fast.” Perempuan yang mengajukan pertanyaan tadi menggeleng takjub, lebih kepada dirinya sendiri.

“Nggak ada hubungannya, Katya sayang,” Erin, si perempuan bergelung, menyahut ringan. “Kita aja yang tambah sibuk. Terlalu banyak aktivitas sampai kehabisan waktu.”

“Kalau kamu nggak ultah, belum tentu kita ngumpul kayak gini kali ya, Rin?” celetuk Amira, meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. Ia merasa agak aneh karena bisa merasa nyaman di pub yang bisingnya menyaingi Monas pada malam tahun baru ini. Biasanya ia tidak suka dengan tempat-tempat seperti ini, berisik dan bikin gerah! Belum lagi asap rokoknya. Duh. Tapi, entah kenapa malam ini Amira sangat menikmati semuanya. Mungkin karena 2 sosok di depannya ini.

“He eh. Ini aja gue sampe melas-melas ke manajer gue supaya ngosongin satu malem, weekend ini, biar bisa ketemu sama elo-elo di sini. Sinting ya, padahal gue yang bayar dia. Kenapa gue yang ngemis-ngemis ke dia?” Erin tertawa geli.

“Manajer lo nggak diajak aja sekalian?” Katya meraih gelas kristal berisi Chardonnay dan menyesapnya sedikit. Aroma yang nikmat bercampur dengan kehangatan mengalir di tenggorokannya, terus turun ke perutnya, menyebarkan sensasi menggelitik yang menyenangkan.

Finally, batinnya berbisik gembira. Setelah hari-hari panjang yang melelahkan dimana ia merelakan dirinya menjadi budak kapitalis, ia selalu menunggu-nunggu saat seperti ini. Akhir minggu yang menyenangkan, dimana ia bisa melepas penat dan melupakan rentetan masalah brengek yang dihadapinya setiap hari.

Beberapa orang menyebutnya persoalan remeh, terlebih jika membandingkan masalah-masalah tersebut dengan posisi Katya sebagai manajer; yang seharusnya lebih piawai mengendalikan temper dalam menghadapi hal-hal kecil berkaitan dengan anak buahnya di kantor. Tapi tidak bagi Katya. Ini tidak ada hubungannya dengan jabatan. Manajer atau bukan, ia benci pekerjaan yang memaksanya menghabiskan puluhan jam seminggu di kantor, dengan setelan resmi yang (katanya) bergaya namun membuatnya merasa terpenjara. Katya cinta kebebasan seperti ia mencintai dirinya sendiri. Sayang, hidup tidak pernah memberinya kesempatan untuk menikmati kebebasan. Banyak orang bilang, kebebasan adalah pilihan. Well, kalau toh itu benar, alternatif itu tidak berlaku untuknya.

“Hell no,” kedua mata Erin membulat. “Ngajak manajer gue ke sini? Sinting lo. Justru gue pengen hindarin dia. Bosen kaliii, tiap hari liat tampangnya.” Gilirannya meraih gelas kristal tinggi di atas meja. Erin meneguknya sedikit. Tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya La Grande Dame. Bahkan tidak sedikit yang berkomentar karakter minuman itu sangat cocok dengan dirinya: kuat, elegan, refreshing.

Itulah Erin. Karakter-karakter itu juga yang membuatnya sampai ke tempatnya berada sekarang. Ia wanita yang menolak untuk dikalahkan oleh apapun. Ia memiliki kharisma yang mampu menaklukkan dunia di bawah kakinya (walau kadang ia ragu, apakah itu memang kharisma, atau ia yang kelewat PD?).

Ketika usianya bahkan belum cukup untuk duduk di bangku SMP dan tubuhnya sudah menampakkan lekuk-lekuk yang membuatnya diejek teman-teman sekelasnya, Erin menghadapinya dengan gagah berani. Ketika teman-temannya baru mengenakan miniset sementara ia sudah memakai cup 32B, Erin tidak pernah merasa malu dengan perbedaan yang sangat kentara itu.

Erin adalah yang termuda di antara teman-teman sekelasnya, karena ia terlalu cepat disekolahkan. Tapi tubuhnya berkembang jauh lebih cepat dari mereka semua, seperti mangga yang dikarbit. Wajahnya menampilkan kecantikan alami yang sangat Indonesia, dengan kulit gelap yang eksotis. Perbedaan itu pula yang membuatnya dijauhi teman-temannya, bahkan menjadi korban pelecehan seksual oleh guru olahraga ketika kelas 5 SD. Tapi Erin tidak pernah gentar dengan itu semua. Ia malah bangga dengan tubuh curvy-nya. Ia tahu suatu saat dunia akan berada di genggamannya, seperti surga di telapak kaki seorang ibu. Sekarang ia berhasil membuktikannya. Siapa yang tidak kenal Erina Larasati Katamso, artis papan atas yang honornya mencapai puluhan juta untuk satu episode sinetron?

Kuncinya hanya satu: percaya pada kekuatan diri sendiri.

“By the waaay,” Katya mencolek punggung tangan Amira. “Minggu lalu gue baca resensi novel baru lo di ‘HighLite!’. Di sana ditulis sebagai ‘The Most-Wanted Indonesian Novel’. Sampe ada waiting list-nya segala gitu? Gila, hebat lo, Mir.”

Amira tersenyum lebar. “Iya. Sekarang lagi dalam proses revisi dan cetak ulang.”

“Cetakan yang keberapa?” Erin mencondongkan tubuh, penasaran. Amira, ugly duckling di antara mereka bertiga sejak SMU, si pemalu yang pendiam dan nggak banyak bicara ini, yang ikutan populer karena bergaul dengan dirinya dan Katya, dan sejuta ‘yang’ lainnya, ternyata berhasil mencetak prestasi gemilang. Beberapa hari lalu Erin mendengar obrolan produser dan sutradaranya mengenai rencana pengangkatan novel ‘A Broken Glass’ menjadi film layar lebar, yang sayangnya ditolak oleh si penulis.

“Baru novel perdana aja belagu,” sungut si produser. Erin setengah mati menyembunyikan cengirannya, tidak mau membocorkan informasi bahwa penulis belagu itu adalah sahabatnya, Amira Sastrahidayat.

“Tigabelas.” Jawab Amira, yang disambut decak kagum sahabat-sahabatnya. “Kalau kamu, Rin? Lagi sibuk syuting apa?”

“Terakhir iklan pembersih wajah,” Erin mengerling, “plus pencerah kulit. Gokil ya? Gue aja bingung kenapa mereka make gue.”

“Emang kenapa?” Amira mengerutkan kening.

Katya tertawa berderai. “Lo nggak liat, kulit dia sama Beyonce beda-beda tipis!”

“Eh eh, nggak segitunya deh!” hardik Erin sambil manyun.

“Kok ngambek? It’s a compliment! Seksi tau!” Katya terbahak lagi. Amira ikut tertawa. Gelas-gelas mereka sudah kosong. Amira melirik jam tangannya sekilas. Sudah hampir tengah malam.

“Lo nggak punya jam malam, kan?” Erin bertanya curiga melihat gelagat itu. Dari dulu Amira memang yang paling konservatif di antara mereka. Amira tidak pernah ikut clubbing sampai subuh. Amira tidak pernah ikut merokok atau menjajal liquor, bahkan ketika Erin dan Katya sedang hobi-hobinya merusak paru-paru dan liver dengan dua benda itu. Bahkan, sekarang, lihat aja, ketika dirinya dan Katya menikmati champagne dan wine, Amira tetap setia dengan fruit punch. Haduuuh.

“Nggak lah,” sahut Amira. “Aku kan tinggal sendirian di apartemen, mana ada jam malam.”

“Kirain...” Erin tersenyum geli melihat respon Amira yang menanggapi apa-apa terlalu serius.
“By the way, balik ke syuting, kemarin gue dapet tawaran untuk film layar lebar. Kayaknya bakal gue ambil.”

“Perannya apa?” Katya memajukan lehernya. Ia selalu tertarik dengan hal-hal baru seperti ini, yang berbeda dari area ekspertise-nya.

“Cewek kaya yang jatuh cinta sama cowok miskin. Standar,” Erin memberi isyarat ke arah bartender di seberang ruangan, mengorder minuman yang sama. “Gue tuh benernya pengen sekali-sekali dapet peran yang menantang. Jadi orang gila, misalnya. Atau cewek gelandangan. Orang buta juga seru.”

Katya terpingkal-pingkal. “Elo terlalu cantik buat dapetin peran-peran itu, kali? Atau terlalu bling-bling?”

“Itu juga yang dibilang sama produser gue,” Erin merengut sebal. “Asli, bosen banget ngerjain peran yang itu-itu lagi. Mau muntah! Nih ya, gue paling empet kalau dapet script yang isinya nangiiis melulu. Gue pernah aja gitu, syuting seharian, isinya nangis-marah-nangis-marah terus.”

“Karena itu yang laku dijual, Erin dear.” Katya meneguk Chardonnay-nya yang baru tiba. “Dan suka nggak suka, itu juga yang bikin lo eksis, kan? Hehehe.”

“Sialan,” maki Erin. “Tapi iya, sih.. walaupun kadang-kadang gue ngerasa jadi pelacur, dengan menerima peran-peran kayak gini. Okay uangnya gede, tapi tetep aja buat gue itu kacangan.”

“Ngeliatnya biasa aja dong, Mir,” Katya mengangkat alis pada Amira yang ekspresinya sontak berubah mendengar kata ‘pelacur’. “Itu kiasan doang! Lagipula menurut gue, pada dasarnya kita semua ini pelacur.”

“Kok?” Amira si lemot tampak kebingungan.

“Ya iyalah. Kita melakukan sesuatu yang nggak kita suka, demi eksis dan cari makan. Kita menyenangkan orang lain, memenuhi demand dan kebutuhan orang lain yang ujung-ujungnya demi uang. As simple as that.”

“Affirmative,” Erin mengangguk, 100% setuju. “Sialan, ya?”

Amira sudah siap buka mulut untuk protes. ‘Kita’? Enak aja. Sorry ya, ia tidak merasa begitu.
Tapi, mendadak ingatannya melayang pada promo tur di berbagai kota, wawancara dengan media cetak dan elektronik, serta hujan pertanyaan dari wartawan, dimana akhirnya ia terpaksa membiarkan dirinya diekspos habis-habisan. Sesuatu yang sama sekali bukan Amira, tapi harus dilakukannya. Demi eksis. Demi selling. Dan apa kata editornya 2 hari lalu?

“Novel yang kedua mulai disiapkan ya, Mbak. Mumpung timing-nya pas banget nih. Mbak baru menang ILA (Indonesian Literary Award), semua orang sedang membicarakan Mbak. Kalau bisa, dalam 3 bulan ke depan kita udah nerbitin novel kedua.”

Amira mengerutkan kening. 3 bulan?! Ia-nya yang salah dengar, atau editor ini yang sarap, sih? Menulis novel itu bukan hal sepele! Butuh pendalaman yang kuat terhadap karakter, butuh plot yang matang, butuh research. Novel seperti apa yang bisa dihasilkannya dalam 3 bulan? Ups, koreksi. Mungkin waktunya malah cuma 2 bulan, mengingat kalau novel itu akan terbit dalam 3 bulan, artinya ia harus menyerahkan final draft jauh sebelum itu.

“Temanya apa aja deh, Mbak,” ucap si editor buru-buru, demi melihat perubahan raut wajah Amira. “Yang ringan-ringan juga boleh. Pokoknya bisa terbit. Kita manfaatkan momen, Mbak. Sayang kalau momen ini hilang begitu saja.”

Seumur hidup menjadi orang yang penyabar dan welas asih, baru kali itu Amira merasa ingin menyilet editornya hidup-hidup. Dikiranya gampang, apa?! Lagipula, ini adalah karyanya. Ia berhak atas segala sesuatunya, kan? Kenapa orang ini jadi ikut mengatur-atur semuanya?

“Tolong pertimbangkan, Mbak,” si editor merendahkan intonasinya, menangkap sinyal bahaya di udara. Penulis di depannya, yang biasanya kalem dan penuh senyum, mendadak menampilkan ekspresi seperti mau makan orang. Saatnya menyelamatkan situasi. “Ini demi kebaikan Mbak juga. Percaya sama saya. Penerbit kami telah mengorbitkan banyak penulis terkenal dengan cara ini. Memanfaatkan momentum. Apalagi Mbak sudah memenangkan penghargaan bergengsi, segalanya akan jauh lebih mudah.”

“Akan saya coba.” Amira menjawab dingin. Jawaban yang tampak diplomatis, tapi sangat lemah. Dan si editor tahu itu.

Amira menghela nafas dan meraih fruit punch-nya. Meminumnya sampai habis setengah gelas. Mungkin Katya benar. Pada dasarnya mereka memang pelacur.

“Kalau kamu, Kat? Sekarang lagi sibuk ngapain?”

“Sibuk di kantor, biasa,” Katya menjawab acuh. Ia selalu malas kalau topik tentang pekerjaannya diangkat. “Nggak ada yang spesial. Boring abis.”

“Tapi kamu manajer. Itu hebat banget,” puji Amira. “Di perusahaan mutinasional, lagi.”

“Yeah,” Katya bergumam. “Keren sih, tapi intinya tetep aja, buruh kapitalis,” kalimat ini disambut dengan cengiran lebar Erin.

“Makin keren aja kosakata lo, Kat. Dasar jenius.”

“Makasih.”

Mereka bertiga tertawa geli. Erin tertawa sampai perutnya kram. Katya meneguk wine sampai tandas dan terbahak-bahak lagi. Amira merasa wajahnya panas karena terlalu keras tertawa.
Malam semakin larut. Suasana masih hingar-bingar dan udara makin pekat oleh asap rokok, tapi di meja mungil di pojok ruangan, di sofa suede empuk berwarna maroon, ada kehangatan yang nyaman dan menenteramkan.

Erin mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. “Cheers for a beautiful life. And for our friendship. May it lasts forever.”

“Punya gue udah abis!” protes Katya.

“Gitu aja repot!” Erin menyambar gelas Katya dan membagi dua La Grande Dame-nya. Mereka tertawa sampai sakit perut. Semuanya sangat menyenangkan.

“Untuk persahabatan.” Amira mengangkat gelasnya.

“May it lasts forever,” ulang Erin.

“Amin.” Timpal Katya.

Gelas-gelas berdentingan, bercampur dengan tawa yang menggila saat Katya mengucapkan ‘amin’ dengan gaya khusuk.It’s a beautiful life. Indeed.
1st Chapter by Jenny

Read More ......

Thursday, April 10, 2008

Dormitory Guy

-

chapter 1: DEPORTASI
Surya menaungi cakrawala dalam suatu latar padang rumput luas terbentang. Ketika pagi datang, sinarannya terbit dari ufuk timur angkasa biru. Di mana ayam jantan berkokok, burung-burung berkicauan, serta beberapa rusa berlarian dengan riang. Sang beruang pun berjalan dengan malas sembari menyapa kelinci yang melompat bahagia. Inilah kebun binatang.

Jauh dari kebun binatang, di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, bercokol sebuah rumah yang agung. Namun penghuninya bukanlah Agung, melainkan sepasang suami-istri yang menjalani hari-harinya dengan rukun. Meskipun tanpa kehadiran seorang anak mereka tercinta, mereka tetap bahagia sentausa. Sang buah hati merantau nun jauh di sana. Demi menuntut ilmu dan mencapai cita-cita tertinggi. Sang harapan jiwa serta kebanggan bestari bagi kedua orang tua.

“Oh, Erik. Kapan kamu lulus, Nak?” Sang ibu memandangi foto anaknya dalam sebuah bingkai foto keluarga. Kedua bola mata sang ibu teduh dan memancarkan kerinduan yang dalam. Dalam bingkai foto keluarga itu, terpampanglah wajah seorang anak remaja ditengah-tengah ayah dan ibunya. Kedua ayah dan ibu tersenyum, sedangkan sang anak hanya memasang wajah mengantuk dengan kelopak mata yang tertutup setengah.

“Mau diliatin sampai kapan foto si Erik, Ma? Bikinkan kopi dong.” Sang ayah sedang bersantai sambil menonton berita di televisi. Seorang pria berwatak pemimpin dengan kumisnya yang sangat penuh wibawa. Kumis itu akan mendapat getaran transversal tiap kali ia berbicara.

Dari balik layar televisi yang ditonton sang ayah, isinya hanya berita seputar kehancuran. Kekacauan terjadi di mana-mana di Indonesia. Demonstrasi anarkis mahasiswa, penggusuran lahan penduduk tingkat bawah, bom teroris, dan lain-lain. Berita yang menjadi topik utama kali ini adalah ‘Kasus Lumpur Lapindo’ yang tak kunjung usai.

Sang reporter berita di televisi menyampaikan laporannya. “Pemirsa, saya kini sedang berada di Sidoarjo. Di sini lumpur panas telah mencapai ketinggian 10 meter di atas permukaan laut! Para penduduk setempat melakukan eksodus dari tempat tinggal mereka seperti orang-orang Yahudi pada masa rezim Hitler. Mereka menuntut pihak Lapindo agar memberi ganti rugi. Namun sepertinya kasus ini akan segera ditutup oleh pemerintah. Penduduk Sidoarjo sudah terbiasa dengan kehadiran lumpur panas ini. Mereka membuka tempat wisata ‘Spa dan Sauna Lumpur Panas’. Selain itu mereka juga membuka restoran dengan menu ‘Nasi Goreng Lumpur Ekstra Hot’ dan ‘Martabak Lumpur Lapindo’. Untuk membahas makanan khas baru dari Sidoarjo ini, mari kita beralih ke Bondan Winarno. Silahkan Bung Bondan…”

Sang ibu membawa kopi untuk sang ayah di depan televisi. “Liat itu, Ma. Inilah kondisi nyata di Indonesia sekarang. Papa sangat prihatin. Papa berharap setelah Erik lulus dari Amerika, dia bakal kembali dan membangun bangsa ini. Seperti yang dilakukan Pak Habibie,” ujar sang ayah sambil menyeruput kopinya.

“Iya, Pa. Mama juga ingin anak kita menjadi orang hebat seperti Russell Crowe, Presiden Amerika itu,” ujar sang ibu.

Sang ayah menyemprotkan kopinya. “Setahu papa Russell Crowe itu Sekjen PBB.”
Kedua orang tua menaruh ekspektasi tinggi terhadap pencapaian anaknya. Seperti halnya semua orang tua lainnya. Masa depan seorang anak harus lebih baik dari kehidupan orang tua yang sekarang.
Bel rumah berbunyi. Seorang pemuda remaja yang tampan, tinggi, dan berambut cepak menunggu di depan rumah. Di belakangnya berdiri kedua orang tuanya. Mereka adalah keluarga dekat dari keluarga Erik. Sang pemuda bernama Boris. Ayah Boris adalah kakak dari ayah Erik. Erik dan Boris adalah kedua sepupu yang selalu bermain bersama semenjak kecil.

Sang ibu membukakan pintu untuk keluarga Boris. “Eh, Boris. Lama gak ketemu. Apa kabar?”

“Baik, Tante Sri. Hee,” ujar Boris dalam gaya bicara yang selalu terdengar ceria.

Setelah keluarga Boris masuk rumah, mereka mengobrol panjang lebar dengan keluarga Erik di ruang utama. Sembari menikmati teh hangat beserta hidangan-hidangan kecil yang disediakan ibu Erik.

“Boris, bagaimana kuliah kamu di Bandung?” tanya ayah Erik.

“Wah, saya di Bandung belajar terus, Om Norman. Maklum lah… namanya juga Putra Ganesha. Hee,” Boris berkata sambil menyilangkan jari di punggung. “Ngomong-ngomong si Erik kapan pulang dari Amrik, Om? Kita kan biasa hang out bareng. Kita biasa hang out ke dis… um… ke distro, Om. Hee.” Mendadak ia salah tingkah karena hampir salah menyebutkan sesuatu.

“Erik sepertinya masih lama lagi baru pulang. Gak setiap liburan dia bisa pulang. Soalnya ongkos bolak-balik dari sini ke sana kan mahal,” ujar ayah Erik.

Mendadak muncul ide dari kepala sang ayah. “Bagaimana kalau kita menelpon si Erik dari sini? Boris saja yang ngomong dengan Erik. Nanti kita semua di sini mendengarkan.”
“Oke, Om. Saya juga udah lama gak ngobrol sama Erik,” ujar Boris.

Sang ayah menekan tombol ekstensi yang lumayan banyaknya di telepon rumah. Ia juga menekan tombol loudspeaker agar seisi rumah dapat mendengarkan suara Erik. Lalu ia menyuruh Boris mendekati telepon. “Sini, Boris. Ayo ngobrol sama Erik.”

Boris duduk menunggu di depan telepon. Tak sabar ia ingin mendengar suara sepupu dekatnya itu. Anggota keluarga yang lain pun terkesiap. Saat panggilan telepon dari Jakarta menembus dua samudera hingga sampai di Amerika, terdengar suara sebuah musik rap sebagai nada sambung pribadi ponsel Erik.

Pop that pussy!
Heyyy! Pop that pussy, baby!
Pop that pussy!
Pop, pop that pussy, baby!

Boris mengurut dahi mendengar lagu nada sambung tersebut. Ia tahu itu adalah lagu ‘Pop That Pussy’ dari 2 Live Crew. Lagu kesukaan Erik yang ia dengarkan hampir tiap hari ketika SMA. Boris menatap seluruh anggota keluarga. Untunglah tak ada reaksi yang aneh karena seluruh orang tua yang ada di situ adalah angkatan Koes Plus yang tak akan mengerti makna dahsyat dari lirik lagu tersebut.

Setelah setidaknya terdengar 20 kata ‘pussy’, barulah panggilan tersebut diangkat. Terdengar suara seorang pria yang samar-samar dalam riuh gaduh suara manusia lainnya. “Hey, ‘scuse me……………damn…!”

Setelah beberapa detik, suara keributan mulai terdengar mengecil. Sepertinya sang pria telah menjauhi keramaian. Kini suara pria tersebut terdengar kencang dan jelas. “Aiyyo, sorry. Who’s this? Unknown number in my goddamn phone.”

Boris riang mendengar suara sepupunya itu. Ia langsung menyambut dengan suka cita. “Halo, ini Erik bukan? Ini gue, Boris, nelpon dari Jakarta.”

“Oh, elo, Boris? Gue kira siapa. What’s up?!”

“What’s up juga, Man! Lagi ngapain lo di sana sekarang?”

“Gue lagi ikutan bachelor party di rumah temen gue. Biasalah, weekend begini terus. Ups, stripper-nya udah dateng. Bentar ya…”
Erik menggantung teleponnya. Suara kegaduhan kembali mendominasi di telepon. Erik kembali mendekati pusat keramaian. Sementara itu Boris mengeluarkan keringat dingin. Ia melihat wajah-wajah bingung para orang tua yang tidak punya ide tentang apa yang dibicarakan Erik melalu loudspeaker telepon.

“Bachelor party itu apa?” tanya ayah Erik kepada Boris.

Boris serba salah harus menjawab apa. Maka ia setengah mati memilih kalimat yang tepat agar suasana tidak menjadi runyam. “Bachelor party itu yah… pesta bujang, Om! Namanya juga mahasiswa. Di mana-mana suka kumpul-kumpul gitu buat refreshing. Hee…”

“Lalu stripper itu apa?” sang ayah kembali bertanya.

Boris menelan ludah mendengar pertanyaan berikutnya. Ia kembali berpikir keras mencari kalimat yang tepat. Boris pun menjawab, “Um… stripper itu yang biasa diundang kalo lagi pesta bujang, Om! Semacam penari telanjang, eh, maksudnya penari profesional yang gak berbusana gitu. Tapi kadang-kadang aja kok gak pake busananya, Om. Biasanya sih masih pake kolor ma beha kok. Hee.”

Seluruh anggota keluarga terlihat shock mendengar penjelasan Boris. Pemilihan kalimat Boris sepertinya belum cukup baik. Ayah dan ibu Erik tak menyangka jika putra kebanggaannya mengikuti acara pesta penuh kemaksiatan. Mereka langsung bermuram durja.

Suara kegaduhan di telepon mengecil kembali. Disusul oleh suara Erik yang berkata sangat lancar dan bebas hambatan. Tak sedikitpun ia menyadari bahwa seluruh keluarga yang di rumahnya menjadi saksi apa yang sedang dibicarakannya. “Hahaha! Tadi stripper-nya ngebuka kolor sama behanya! Coba lo ada di sini, Boris. Gue selama ini party terus. Bebas minum alkohol dan berbuat semau gue. Tanpa takut ketauan sama orang tua di rumah. Yeah! God bless America!”

Boris menutup sambungan teleponnya. Ia khawatir Erik akan berkata jauh lebih parah. Tak terbayangkan apa yang terjadi pada ayah dan ibu Erik. Wajah mereka merah padam menahan rasa malu dan kecewa. Ekspresi mereka bagai terhantam petir dari palu Dewa Thor. Kedua orang tua Boris pun memasang wajah tak sedap.

“Oops…” Boris merasa bersalah karena telah menempatkan Erik dalam situasi katastropi. Rupanya menelepon Erik ke Amerika adalah sebuah gagasan yang sangat buruk.

***

Sekian lama, suasana rumah menjadi dingin layaknya kutub utara. Semuanya hanya diam sambil memandang kosong televisi yang terus menyala. Tak ada yang sanggup membuat ice breaking di tengah keheningan ini. Tidak pula lelucon orang Malaysia dalam berita di televisi. Orang Malaysia baru-baru ini membuat lelucon dengan memukuli wasit Karate asal Indonesia. Selera humor orang Malaysia sangatlah buruk.

Sang ayah sedang menghela napas panjang. Mencoba menenangkan diri kembali setelah apa yang ia tahu dari kelakuan anaknya di Amerika. Boris sangat merasa tidak nyaman di rumah tersebut. Berulang kali ia meminta orang tuanya agar dapat segera pulang. Namun kedua orang tua Boris menderita lemah otak. Mereka sedari tadi hanya mengangguk tanpa beranjak sedikit pun dari tempat duduk.

Bel rumah kembali berbunyi. Seorang petugas dari Biro Pos mengantar surat yang ditujukan kepada ayah Erik. Sang ayah pun menghampiri petugas tersebut di depan rumah. Proses serah-terima surat dilakukan dengan cepat. Berdebar hati sang ayah ketika mendapati surat tersebut berasal dari University of Marshall Matters, New York, tempat berkuliah Erik. Lalu surat itu dibawa oleh sang ayah menuju kembali ke ruang utama.

Amplop surat tersebut dibuka paksa dengan penuh ketidaksabaran. Diambilnya sebuah kertas dalam amplop tersebut. Berikut yang dibaca sang ayah adalah sebuah badai elektron maha dahsyat yang menyengat kepalanya. Kumisnya bergetar hebat. Langit bagai membelah, jagat raya terhambur, seluruh benda langit menghantam muka bumi.

Dalam gerakan slow motion yang dramatis, sang ayah meremas dadanya dan jatuh ke lantai. Kertas surat melayang di udara. Sang ibu menahan badan sang ayah yang hampir menyentuh lantai. Boris menangkap kertas surat di udara. Sementara kedua orang tua Boris masih minum teh dan makan biskuit. Mereka sangat lemah otak.

Kertas surat kini dalam genggaman Boris.

University of Marshall Matters
June 11th, 2007
Honored,
Mr. Norman Aminuddin
In place

We are very sorry for the inconvenient but we have to inform that your son, Muhammad Erik Gunawan, the student of Industrial Management (Bachelor’s Degree), University of Marshall Matters attended 2005-Present, has entered a major crisis of his academic years. His marks in almost all of the subjects are ultimately under the general standard of the university. Therefore, if these problems are not fixed by the end of the year, we are in the deepest apologize to drop him out of the university. I hereby, as the head of the Industrial Management Study Program, strongly suggest that the parents will take a serious concern about the student’s lack of disciplines. If the parents doubt that the student will alter his attitude, it is recommended that the parents will officially retire the student from the institute after this message’s been read. We are very blissful to send this scum troublemaker back to Malaysia[1] immediately. Thank you for your attention. May force be with you.[2]

Yours Sincerelly,
Prof. Albus Dumber
Head of Industrial Management Study Program

Di halaman kedua tertampang nilai-nilai mata kuliah Erik selama dua tahun kuliah. Boris tercengang. Nilai-nilai tersebut bahkan lebih parah dari nilai-nilai Boris yang jarang belajar. Hampir semua nilai yang tertera di tabel adalah E. Sedangkan sisanya adalah D dan sedikit rantai karbon C. Boris hanya mengurut dahi. Sepupunya dalam masalah kronis.

Setelah sadar kembali, sang ayah langsung menelepon Erik lagi ke Amerika. Kali ini ia yang akan angkat bicara. Dengan penuh emosi, sang ayah menekan tombol-tombol di telepon.

Pop that pussy!
Heyyy! Pop that pussy...

Begitulah nada sambung Erik terdengar lagi. Erik mengangkat ponselnya. “Oi, Boris. Kenapa tadi tiba-tiba ditutup telponnya? Gue kan belum selesai cerita. Pas gue ikutan truth or dare…”

“ERIK, BESOK JUGA KAMU PULANG KE INDONESIA!” sang ayah berkata dengan sangat murka. Erik langsung terdiam seribu patah kata.

***

[1] Kepala program studi tak bisa membedakan antara orang Indonesia dan orang Malaysia.
[2] Kepala program studi terlalu banyak menonton Star Wars.
1st chapter by Indra

Read More ......

Friday, April 4, 2008

SMP (Saya Mau Pulang)

-

Ke Jakarta Aku kan Kembali...
Hari ini adalah hari Rabu yang penuh kegundahan dalam hati gue. Hari terakhir gue akan bersekolah di SMP xxx (edited) di Jakarta Timur. Hari terakhir gue akan mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia dari Ibu Rukmiyah yang sangat royal. Namun, tidak dicintai siswanya. Ibu Rukmiyah royal dalam memberi ulangan tiap minggu. Entah bagaimana caranya, Ia tidak pernah kehabisan soal untuk ulangan. Tidak heran banyak siswa yang sering mengeluh sakit perut dan ijin ke ”belakang” ketika Ibu Rukmiyah mengajar. Tentunya mereka tidak kembali lagi ke dalam kelas. Mereka tersesat di dalam kantin. Di kantin hanya jual makanan, tidak ada peta. Mereka baru akan menemukan jalan keluar ketika bel pergantian pelajaran sudah berbunyi.

Ini pun hari terakhir gue bisa makan siomay dari kantin bang Asep, yang sering gue jadiin kreditur tempat ngutang. Dan hari ini pun gue masih tetep ngutang. Kasian bang Asep, dia engga tau kalo besok gue udah pindah ke Sukoharjo. Ikhlaskan semua hutang gue ya bang. Jangan nyantet gue dari kantin setelah gue pindah yah.

Banyak banget kenangan yang sudah terukir kuat dalam hati gue. Tempat ini, suasana ini, hawa udara ini, teman-teman di sini, tidak mudah untuk berpaling dari semuanya. Sebagian dalam hati gue, sudah tertambat di tempat ini.

‘TEEETTT......TEEEETTTT!!!....’
Bel sekolah sudah berdengung dengan maha agungnya, menggugah sebagian siswa yang sedang berkonsentrasi dalam pelajaran untuk segera merapikan buku di meja belajarnya, dan menggugah sebagian siswa lain untuk segera menyeka iler yang keluar karena tidur yang terlalu lelap. Bahkan ada sebagian lain yang membetulkan letak isi dalam celananya yang kelihatan menonjol. Entah mimpi indah macam apa yang mereka dapatkan tadi.

Semua mulai merapikan buku-buku pelajaran dan alat tulisnya. Gue juga segera merapikan meja belajar gue. Masukin buku pelajaran yang ditengahnya ada komik ’kariage kun’ ke dalam tas. Pelajaran yang gue dapet di sekolah kebanyakan bukan dari penjelasan guru atau buku pelajaran, tapi dari komik. Setiap buka buku pelajaran, pasti selalu terhalang komik yang nyempil tepat ditengah-tengahnya. Pantas, tingkat kecerdasan gue engga pernah bertambah sejak kelas tiga SD. Saat gue mulai bisa baca komik. Begitu semua barang sudah masuk ke dalam tas, gue sebagai ketua kelas harus menyiapkan teman-teman untuk memberi salam kepada Ibu Rukmiyah tercinta, supaya beliau segera pergi dari singgasananya di depan ruang kelas dan teman-teman bisa pulang.

”Siaap gerak...Berdoa mulai....Selesai.....Beri hormaat!!” Kata gue menyiapkan teman-teman.

”Selamat sore bu guruuuu....” Sahut seluruh kelas

”Hemm.” Jawab Ibu Rukmiyah dingin. Pantas saja hingga sekarang Ibu Rukmiyah belum menikah, padahal jika ditaksir, umur Ibu Rukmiyah sudah kepala empat, meskipun dia selalu mengaku masih perawan berumur dua puluh sembilan tahun. Perawannya bisa dipercaya, umur dua puluh sembilannya jelas penyesatan umat. Namun, semua kerut di wajah Ibu Rukmiyah tidak dapat lagi disembunyikan dengan baik oleh make-up tebal, 3 cm dari kulit, yang dipakainya. Make-up nya malah bikin Ibu Rukmiyah kayak aktor pantomim.

Entah, orang konyol dari mana yang membuat peraturan untuk melakukan kegiatan ”hormat” ini setiap hari. Bagian doanya siy engga apa-apa, tapi untuk perintah ”siap gerak” dan ”beri hormat” membuat kita serasa hidup dalam dunia militer. Yang begitu keluar kelas kita akan diberondong oleh senapan mesin dan para sniper handal. Mungkin mereka lupa, kompeni udah lama diusir dari bumi pertiwi.

Begitu Ibu Rukmiyah meninggalkan kelas, gue maju ke depan, tepat di depan papan tulis. Gue menghadap ke arah temen-temen yang udah siap pada mau kabur pulang. Gue mau bikin pengumuman terpenting dalam sejarah dan akan menggebrak mata dunia sebagai kejadian paling menghebohkan di abad ini. Berat banget rasanya mau bilang ini ke seluruh penduduk kelas. Lidah gue kelu.

”Temen-temen semua...Gue cuma mo bilang, hari ini gue terakhir sekolah di sini. Mulai besok, gue akan pergi, pindah sekolah ke Sukoharjo...Kalo misalnya...gue ada salah...Maapin yah...” Gue langsung diam seribu bahasa. Engga tau musti ngomong apalagi.

Gue tahu mereka bakalan sedih banget setelah gue engga ada. Mereka engga bakalan rela ngelepas kepergian gue begitu aja, khususnya para kaum hawa. Bukan, bukan karena mereka simpati apalagi naksir sama gue. Mereka inget kalo gue masih punya utang. Hampir satu kelas pernah gue utangin. Sampe-sampe gue bingung, gue utang ke siapa aja dan berapa jumlahnya.

”Hah? Lo mo pindah Ndra? beneran? kok engga bilang-bilang dari kemaren siy?” Kata Eni. Yang artinya ”Kenapa lo engga bilang dari kemaren, kan gue bisa nyiapin air comberan dulu buat nyiram lo”

”Serius niy lo mo pindah? Terus kita-kita gimana?” Kata visina. Yang artinya ”Terus, utang-utang lo ma kita-kita gimana?” (relakan ya non)

”Kita bakal kehilangan lo Ndra...baik-baik ya lo di sana.” Kata Mega. Yang artinya “Lo jangan balik-balik lagi ke sini ya”

Meskipun gue tahu betul isi hati mereka, paling engga, kata-kata manis mereka aja yang gue denger. Kata-kata mereka dimulut jauh terdengar lebih syahdu ketimbang jeritan hati mereka. Bahkan anak-anak cowok yang duduk di belakang udah pada mulai menitikkan air mata. Mereka coba sekuat tenaga untuk menampilkan kesan sedih. Sayang, mereka aktor yang buruk. Raut wajah memelas kayak orang puasa tujuh hari tujuh malam, tapi diiringi dengan bibir yang tersenyum penuh kemenangan. Menandakan betapa bahagianya mereka dapet kabar kepindahan gue. Mereka masih inget waktu gue sering ngisengin mereka. Naruh permen karet di kursi, ngelempar kertas ke kepala orang setelah diisi kapur batangan, nyembunyiin sepatu pas jam olahraga ke tong sampah, ngebuang rokok yang disembunyiin di toilet di ganti choki-choki, hidup gue betul-betul penuh warna keusilan. Gue bakalan kangen semua kelakuan gue disini. Mereka yang engga.

Setelah pengumuman yang begitu menggemparkan dunia itu, gue balik ke bangku gue. Gue duduk dan diam membisu. Temen-temen yang lain mulai antri. Mereka nyalamin gue satu persatu. Kayak pas hari Lebaran. Bedanya, gue engga ngasih THR. Mereka ngucapin selamat jalan. Satu demi satu mereka mulai meninggalkan ruangan kelas. Meninggalkan gue yang duduk sendiri. Begitu mereka hilang dari pandangan, sayup-sayup terdengar suara ”Horee!!” atau ”Yesss!!” Ah, mereka memang teman-teman yang berhati besar. Meski sedih karena kehilangan gue, mereka masih bisa menghibur diri mereka sendiri. Setidaknya, itulah yang gue ingin mereka untuk lakukan.

Eni, Visina, Mega, dan Anjar mulai mendekati gue. Mereka adalah sahabat-sahabat gue dari jaman bau kencur di SD. Sekarang mulai bau asem. Kita masih satu sekolah di SMP dan sekelas pula. Kita saling jabat tangan dan berpelukan, untuk menandakan rasa akan kehilangan. Tentunya gue cuma berpelukan sama Anjar. Dia cowok satu-satunya diantara mereka. Pasti yang liat adegan pelukan mesra ini bakalan ngira kalo gue udah berubah haluan jadi hombreng (baca: homo). Sebetulnya gue engga mau. Akika juga filih-filih loh bo kalo jadi hombreng, benci deh. Tapi Anjar begitu bernafsu, sambil terisak-isak langsung meluk gue. Sial. Dia sekalian meper ingus nya yang engga sembuh-sembuh dari lahir. Tapi...jangan sambil pegang-pegang pantat gue donk. Tobatlah kau Jar. Carilah pasangan homo lainnya setelah kepergian gue yah. Eni, Visina, dan Mega cuma memberi jabat tangan dan sekedar cipika-cipiki, soalnya pas gue baru ambil ancang-ancang mau meluk mereka, mereka sudah mengepalkan tangan untuk tanda penolakan. “Gue tonjok lo kalo sampe meluk gue.” Begitulah kira-kira arti kepalan tangan maut para anggota Charlie Susah (baca : Angel) ini. Tampaknya mereka engga mau ketularan virus ganteng dari gue. Karena gue jauh dari kesan itu.

Di luar kelas sudah gelap. Gue memang masuk kelas siang. Jadi kalo jam pulang sekolah, hari sudah mulai malam. Bareng dengan empat anak imbisil tadi, gue mulai beranjak meninggalkan kelas. Setelah sampai di gerbang sekolah, kita semua berpisah. Arah pulang ke rumah kita berlainan. Mereka mulai berjalan setelah mengucapkan ”Pokoknya Elo kudu maen-maen ke sini lagi” dan ”Sekalian buat bayar utang lo.”

Gue sendiri, masih tetap berdiri memandang sekeliling gue. Gue lihat ke arah gedung sekolah, bangunan tua yang tiap hari selalu gue datangi dengan rasa malas ini sudah menyimpan banyak kenangan. Tempat yang engga gue sangka kalo gue akan merindukannya. Gue beralih melihat ke arah temen-temen gue yang berjalan menjauh. Rasanya seperti mimpi jika besok gue sudah engga akan bisa bertemu mereka lagi. Padahal selama enam tahun terakhir ini, gue selalu bertemu mereka setiap hari. Setelah bayang semua temen gue hilang dalam kegelapan, gue baru mulai melangkah meninggalkan sekolah. Jalan sendirian diheningnya malam. Suasana yang gelap, angin yang berhembus semilir, terbesit semua kenangan yang sudah gue laluin di sini. Semua semakin menambah haru biru di hati gue.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Akhirnya hari itu tiba. Hari dimana gue harus didepak keluar dari Ibu nya kota. Begadang semalaman memang engga baik buat kesehatan. Tapi itu bukan alasan kenapa gue sampai sekarang belum bangun dari karpet tempat gue tidur semalam. Karpet menjadi pilihan tempat tidur terbaik setelah semua barang diangkut truk menuju Sukoharjo, ketimbang harus tidur di bathtub. Gue masih pengen lama-lama tidur di karpet. Semakin lama gue bangun, itu berarti semakin lama gue berada di Jakarta. Pengennya gue tiduran sampe setahun lagi, tapi takut keburu dikubur duluan.

”Hendraaaa...bangun!!! Entar engga keburu sama keretanya lho.” Teriakan nyokap mulai menggema. Tapi gue masih males-malesan mau bangun. Kecuali rencana pindahnya dibatalin.

”Mandi sana draaa...!!” Nyokap mulai menunjukkan tanda-tanda ngamuk kayak kalo dapet haid hari pertama. Tapi gue tetep kekeh mau tiduran aja meskipun cuma lima menit lebih lama.

PLAAAKK!!!
”WADOOOH...?!!” Gue teriak tanda protes. Gue langsung bangun dari tempat gue tiduran. Kepala gue yang berisi penuh ide-ide penuntutan kenaikan uang jajan ini dicium gagang sapu. Gue cuma bisa megangin kepala gue yang kayaknya bakalan benjol. Ternyata yang memulai gara-gara adalah makhluk hitam tanpa bulu, kakak ‘cowok’ gue. Gue heran, kenapa bisa punya kakak kayak dia, padahal dikeluarga gue engga ada yang berkulit hitam legam. Dan, dia satu-satunya makhluk yang memiliki pori-pori tersumbat, buktinya dia sama sekali engga punya bulu kaki apalagi bulu dada. Kakinya lebih mulus dari tante-tante ganjen yang tiap minggu ke salon. Cuma dikemas dalam kulit gelap. Tidak menarik untuk dilihat. Mungkin waktu lahir, dia jatuh ke aspal panas lantaran keburu lahir duluan waktu nyokap diangkut becak. Itu alasan gue panggil dia Dakocan.

”Mandi sana!!” Teriak Dakocan

”Iya-iya, berisik ne.” Jawab gue sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi sambil megang kepala gue yang masih kerasa sakit.

Di kamar mandi, gue nikmatin setiap tetes air yang melewati badan gue. Gue lihat semua sudut kamar mandi tanpa terlewat se-inchi pun. Mungkin suatu saat nanti engga bisa gue lihat lagi. Gue jadi inget, dulu waktu dihukum nyokap lantaran main sampe kemaleman, gue dikurung di kamar mandi. Tapi yang ada, gue malah mainan air, dan ngehabisin shampo nyokap yang baru aja dibeli paginya. Walhasil, karena keputusannya yang salah udah ngurung gue di kamar mandi, nyokap malah kudu nyikat kamar mandi buat ngebersihin kelakuan gue, lantaran kamar mandi jadi bau shampo dan lengket semua. Gue jadi senyum-senyum sendiri inget kelakuan jaman Tk dulu. Dan hari itu, jadi hari mandi paling lama dalam hidup gue.

“CEPETAAAANNN!!!” Upss, dakocan mulai darah tinggi. Gue kudu cepet-cepet nyelesein mandi, sebelum pintunya didobrak makhluk hitam rabies.

Selesai mandi, perut gue mulai terasa keroncongan. Cacing-cacing dalam tubuh gue pasti udah pada demo menuntut jatah hariannya. Nyokap sama dakocan udah sarapan duluan. Pakai makanan sisa semalem, dan engga ada sisanya lagi. Padahal menurut pengakuan nyokap, udah disiapin pas buat tiga porsi sarapan. Pasti itu kelakuan tak berkepri-adik-an dari si dakocan yang ngehabisin jatah makan gue juga. Gue nunggu ketroprak lewat aja. Makanan khas Jakarta yang mungkin engga bakalan gue makan lagi di tanah Jawa.

Teng...Teng...Teng...!!!
Wah itu dia bunyi khas orang jualan ketoprak. Bunyi perpaduan harmonisasi antara sendok dengan piring menggunakan nada dasar C = sol dan irama 4/4 = 1. Mudah untuk mengenalinya. Bagi yang tidak tuna rungu. Ternyata yang lewat adalah bang Amat. Langganan gue makan di portal depan komplek kalo berangkat sekolah.

”Bang Amat...ketoprak nya satu donk...kayak biasa ya”

”Loh, kagak sekolah lo Ndra, bolos ya?” tanya bang amat

”Enggalah bang, ni mo pindahan, ke Jawa tengah, bis sarapan berangkat”

”Kebetulan dong...”sahut bang Amat

”Kebetulan kenapa bang?”

”Entar bayarnya sekalian sama hutang lo minggu kemaren ya”

Gue jadi pengen makan bubur ayam aja.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Dengan naik kendaraan umum, gue, dakocan, sama nyokap pergi ke stasiun. Bokap udah berangkat ke Sukoharjo duluan kemarin, bareng sama truk yang ngangkut barang-barang dari rumah. Bokap didaulat jadi pengawal barang-barang supaya sampai tempat tujuan dengan selamat. Kumis bokap yang tebel pasti bisa buat nakut-nakutin sopir truknya.

Lama banget nunggu keretanya datang, detik berubah menjadi menit, kereta belum tampak. Menit berubah menjadi jam, kereta nya masih sarapan kali. Kereta yang telat datang, selalu setia ditunggu oleh penumpangnya, coba kalo penumpangnya yang telat, pasti keretanya langsung ngeloyor main pergi aja. Engga Sopan. Gue coba menunggu dengan sabar sambil baca komik. Kali ini komiknya ’Kotaro’. Gue banyak belajar cara iseng yang baik dan benar dari komik ini. Akhirnya, setengah jam berikutnya keretanya sudah datang. Untung deh. Jadi kita engga perlu nginep di stasiun. Gue masukin komik gue kedalem tas yang gue bawa. Gue berdiri dari tempat gue duduk. Pas gue lihat ke arah keretanya, gue lihat si Dakocan udah siap-siap naik kereta. Dia ada di depan pintu kereta sambil bawa kardus ditangan. Loh?! Ngapain tu anak?! Gue heran. Kenapa dia ninggalin gue sama nyokap masuk kereta duluan. Emang dia tau apa tempat duduknya yang mana?

”Bu, mas Sanjaya udah mau naik kereta tuh.” Si dakocan ini nama aslinya Sanjaya. Nama yang terlalu bagus memang, jika dilihat dari fisiknya. Gue narik-narik tangan nyokap gue. Gue heran kenapa nyokap nyantai aja, ngebiarin si Dakocan masuk kereta sendirian. Mungkin nyokap pengen menghilangkan aib wajah jelek dalam tradisi keluarga yang dibawa kakak gue.

Gue tarik terus tangan nyokap gue. Tapi nyokap engga bergeming sama sekali. Gue lihat si Dakocan mulai naik ke kereta. Gue makin keras narik tangan nyokap gue. Tapi tetep aja, nyokap engga beranjak selangkahpun. Gue mulai ngerasa iba sama Dakocan. Dia bakal menempuh perjalanan panjang sendirian tanpa dia sadari. Gue lihat Dakocan dikelilingi orang-orang yang berjubel di depan pintu kereta buat bisa masuk ke dalam. Setelah gue amati lagi, diantara jubelan manusia itu, ada nyokap gue. HAAAHH??? Terus, tangan yang gue tarik dari tadi ini siapa? Penuh ketakutan, was-was, dan keringat dingin membanjir, gue lihat ke belakang, ke arah tangan yang semenjak tadi gue tarik terus. Tampak tante-tante berpostur super subur dengan wajah yang kebingungan memandang ke arah gue. TIDAAAKK!!! Kalau misalnya nanti dia nanya “Kamu kenapa nak? ngapain narik-narik tangan tante?” Gue bakal jawab ”Emm...latihan tarik tambang tante.“

Gue langsung ngelepas tangan si tante yang dari tadi gue tarik-tarik. Pantes dia engga bergerak selangkahpun meski udah gue tarik sekuat tenaga. Badannya aja segede pemain sumo yang ke sentup tawon, sedangkan gue, kayak Aming yang kelindes bus. Gue mulai lari sekenceng-kencengnya ke arah nyokap. Jangan sampe gue ketinggal, terus jadi anak jalanan baru di Jakarta. Jakarta udah engga terima anak jalanan baru. Kolong jembatan udah penuh. Gue lari sekuatnya, sampe nubruk nyokap.

“Loh, kamu bukannya tadi di depan sama mas Sanjaya?”

Yap!! Nyokap ternyata udah lupa sama keberadaan gue. Kalo nyokap aja lupa sama gue, apalagi si Dakocan. Kalaupun dia inget, Dakocan bakalan milih buat pura-pura lupa.

Dengan diiringi deru suara kereta api yang mulai berjalan perlahan, gue mulai bergerak meninggalkan kota Jakarta. Menuju kota baru di sebuah tempat bernama Sukoharjo di Jawa Tengah. Gue cuma bisa terdiam, meninggalkan semua kenangan dan mimpi indah yang pernah terjadi. Kadang gue berharap jika semua ini hanya mimpi semata. Begitu gue buka mata, semua masih berjalan seperti biasanya, bermain dengan teman yang sama, pergi ke sekolah yang sama, pulang ke rumah yang sama. Tapi yang terjadi sekarang, semua begitu nyata. Gue akan meninggalkan kota Jakarta untuk waktu yang tidak menentu. Tapi, suatu saat gue bakal balik ke sini. Entah kapan. Pasti. Janji gue dalam hati.

1st Chapter by "Mr. Nice Guyy Am I"

Read More ......

Love Tragedy of A Beauty Berlian

-

CHAPTER I


Suasana di Kota Metropolitan sangat cerah. Matahari bersinar terik dan udara hangat berhembus dari jendela ke jendela. Hari ini adalah Hari Minggu di Bulan Juni.

Saat ini, didalam sebuah rumah bergaya klasik yang terletak di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, tepatnya didalam sebuah kamar yang terletak di lantai dua, Berlian, seorang gadis belia berwajah cantik dengan paras yang kebule-bulean ini sedang asyik berbicara di telefon dengan Chery, sahabat karibnya. Jam dinding yang bertengger di dinding berlapis warna merah muda sudah menunjukkan pukul 9.45 pagi dan Berli, sapaan akrab Berlian, masih bermalas-malasan diatas ranjangnya. Keadaan kamar Berli pun saat itu lebih berantakan daripada kepingan pesawat Adam Air yang jatuh, namun keadaan yang seperti itu tak kerap membuat hati Berli tergerak untuk merapikannya. Dia terlalu lelah melihatnya apalagi membereskannya. Majalah-majalah fashion berserakan diatas karpet bulu berwarna ungu dan bergulat dengan CD-CD love song-nya. Sekedar catatan saja, Berli ini termasuk orang yang girly banget, sensitif dan romantis, jadi tidak heran kalau koleksi Cdnya kebanyakn lagu-lagu yang bisa bikin dia nangis bombay.

Kini, Berli beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju sofa abu-abu yang terletak dekat jendela kamarnya. Ia pun duduk disitu seraya terus bercakap-cakap dengan Chery ssambil memintal-mintal rambutnya yang hitam sepunggung dengan jari telunjuknya.

”Duuuh..Gue BT banget nih,Cher!!” keluh Berli mengadu kepada Chery sambil mengacak-acak rambutnya. Bibir merahnya cemberut dan dahinya menegernyit.

”Emang kenapa,Ber? Baru semalem lo nge-date sama Gio,eh sekarang udah BT lagi. Gimana sih?” tanggap Chery dari ujung sana. Sergio atau cowok yang akrab disapa Gio ini adalah seseorang yang sudah dua tahun belakangan ini mengisi hari-hari Berli. Gio yang tak lain kakak kelas Berli di Paschool (Pasadena International School), tempat mereka menimba ilmu sama-sama dari Senin sampai Jumat. Gio merupakan seorang pemuda yang cuek, dikenal juga sebagai kapten tim basket Paschool dan sudah hampir tiga tahun dipercaya untuk menjabat posisi ketua OSIS karena otaknya yang encer. Hal ini tentu saja membuat cewek-cewek Paschool pada iri sama Berli, terlebih lagi Tasya,kakak kelas Berli yang juga teman satu kelas Gio.

”Yaah BT aja!!” lanjut Berli manyun.

”Tapi kan ada alesannya,Ber..Cerita dong sama gue. Eh,tapi semalem bukannya lo ngerayain dua tahun jadian lo sama Gio?” tanya Chery heran.

”Iya, tapi tetep aja gue BT!” jawab Berli, ”Cher, lo tau kan gimana gue sayangnya sama Gio?”

”Iya gue tau, terus kenapa?” Emang semalem kencan lo gagal ya,Ber?” selidik Chery ingin tahu.

“Ngga,Cher. Malah semalem tuh Gio romantis banget, dia ngasih cincin emas putih buat gue,Cher.” Cerita Berli.

“Oh ya?? Terus?? Kenapa lo BT??” protes Chery.

“Gimana gue ngga BT?! Selama gue jadian sama Gio, dia ngga pernah bilang sayang ke gue,Cher!! Bahkan semalem pun pas dia ngasih cincin ke gue, dia Cuma bilang ’Beib,aku cuma bisa kasih ini ke kamu,semoga kamu suka ya’, gitu doank,Cher!!” seru Berli.

”Aduh,Berli...Gio kasih cincin itu ke lo karena dia sayang sama lo, jadi ngga masuk akal kalo lo BT gara-gara Gio ngga pernah bilang sayang ke lo!!” jelas Chery.

”Tapi selama gue jadian sama dia,baru satu kali dia bilang sayang ke gue,Cher, itu pun waktu dia nembak gue!!” umbar Berli sedih.

” Ber,kalo kita sayang sama orang, kita ngga harus selalu bilang sayang ke orang itu kan? Contohnya Gio, mungkin cara dia nunjukkin sayang ke lo ya dengan cara kasih cincin itu.” terang Chery meyakinkan sahabatnya yang sedang gelisah itu.

”Gue ngga perlu cincin,Cher, selama dua tahun gue nunggu Gio bilang sayang ke gue tapi sekalipun ngga pernah dia lakuin” adu Berli kepada Chery.

”Hh..” Chery menghela nafas,”Lo sendiri seberapa sering sih bilang sayang ke Gio?” Chery balas tanya.

”Ya ampun,Cher..All the time!! Setiap kita ketemu,setiap kita telefon atau SMSan, gue pasti selalu bilang kalo gue sayang banget sama dia! Tapi lo tau dia jawab apa? ’Iya,aku tau’!! Gue capek,Cher!!” erang Berli yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Gio.

”Ya udah..Ya udah..Lo tenang ya, saran gue mendingan lo omongin masalah ini ke Gio,Ber. Biarpun menurut gue itu masalah sepele tapi gue ngrti kok perasaan lo gimana” tanggap Chery.

”Tapi gue takut Gio ngerasa gue kayak anak kecil,Cher..Gue ngga mau nanti kita malah jadi ribut hanya gara-gara masalah ini. Lo tau kan gue sayang banget sama Gio,Cher..” ulang Berli sambil memindahkan wireless phone-nya ke telinga kirinya.

”Iya iya..Tapi masa Gio ngerasa gitu sih? Ngga mungkin lah, sebagai cowok mestinya dia ngertiin lo dong,Ber” sahut Chery.

”Hh..” Berli menarik nafas panjang . Matanya menerawang jauh keluar jendela,”Entar deh gue coba” lanjutnya.

”Udahlah,Ber..Ngga usah terlalu dipikirin ya, semua orang juga tau kalo Gio tuh juga sayang banget sama lo” hibur Chery yang masih terus meladeni Berli.

”Ternyata kata sayang itu mahal ya,Cher..” ujar Berli lirih.

”Mahal sih mahal, tapi emang cowok lo aja yang jual mahal!!” protes Chery lagi.

”Hehehe..”Berli terkekeh,”Sok tau lo!!” sangkalnya.

” Nah gitu donk ketawa..Daritadi kek!!” celoteh Chery yang sedikit ikut terkekeh.

”Eh,siapa tuh??” seru Berli pelan sambil memandang ke bawah seberang rumahnya. Tangan kirinya masih menahan telefon di telinganya, sedangkan tangan kanannya sibuk menyibakkan tirai jendelanya agar pandangan matanya lebih jelas.

”Ada apa,Ber??” tanya Chery penasaran.

”Lo tau kan rumah yang didepan rumah gue itu kosong?” Berli balas tanya tanpa melepaskan pandangannya.

”Iya, emang kenapa?” jawab Chery.

”Kayaknya sekarang ada tetangga baru yang nempatin rumah itu deh, nih gue lagi liatin cowok yang lagi nyuci mobil di depan rumah itu. Mentang-mentang mobilnya Jaguar,nyucinya sok-sok didepan rumah. Emang tuh orang ngga mampu bayar car wash apa??” seru Berli mengernyitkan dahinya.

”Serius lo??” tembak Chery tambah penasaran.

“Dua rius!!” sahut Berli sambil memicingkan matanya agar cowok itu lebih terlihat rupanya,”Gila!! Baru kali ini gue liat orang nyuci Jaguar ceroboh banget!!”

”Eh,cowoknya kayak gimana,Ber??” Chery bertanya dengan nada tidak sabar.

”Yang pasti dia tinggi banget,Cher,rambuatnya cepak berantakan gitu deh, kayaknya orangnya putih, dari sini keliatan agak bule gitu” ujar Berlli menggambarkan sosok cowok itu kepada Chery.

”Terus?Terus??” Chery tidak puas.

“Terus apa lagi ya?Dia Cuma pake celana pendek warna hitam sama kaos kutang,hehehe…” tambah Berli terkekeh lagi.

”Terus??” Sambung Chery.

”Udah ah!!” selak Berli,”Rasanya gue udah kaya Berli Si Tukang Intip!!” Berli memalingkan wajahnya.

”Yaaah Berli!! Ngga asik lo ah!!” protes Chery,”Masa segitu doank??Ayo donk,Ber,liat lagi..Please!!” mohon Chery penasaran.

“Cheryyy…Kan tadi gue udah kasih cirri-cirinya!!” sergah Berli yang kini sudah berpaling.

”Masa segitu doank??” ulang Chery cemberut,”Cepetan liat lagi,Ber!!” pintanya.

”Hh..”Berli memutar bola matanya dengan kesal lalu menyibakkan kembali tirai jendelanya untuk meliahat Si Bule tadi.

”Apa yang lo liat??” serbu Chery ingin tahu segera.

”Sabar dong,Mbak!!” sahut Berli seraya mencari-cari sasarannya itu,”Yaaah pokoknya body-nya oke lah, otot tangannya pada nonjol-nonjol gitu,Cher,hahaha...”
”Oups..I love it!!” desah Chery sedikit bitchy,” Terus?? Eh,kira-kira umurnya berapa,Ber??”

”Paling seumuran sama Gio...Oh,shit!!” Tiba-tiba Berli teringat Gio.

”Kenapa lo??” tanya Chery.

”Gio,Cher..Kalo gue ngeliatin cowok lain sampe kayak gini kan sama aja gue selingkuh kecil.” jawab Berli panik,”Aduh mampus gue..Pasti nanti gue kena karma nih,Cher!!”

”Gokil!! Ya ngga lah!! Lo naif banget sih,Ber?? Emangnya lo tau apa yang dilakuin Gio dibelakang lo? Ngga kan? Ya udah nyantai aja kali,Ber..Lanjut dong!!” kata Chery bawel, Berli pun menurut dan kembali menatap sang arjuna baru dari balik jendela kamarnya.

”Hh....Cowok itu udah ngga ada,Cher.” Ucap Berli sambil terus mencari-cari.

”Yaaah...Gara-gara lo sih,Ber!!” gerutu Chery kecewa.

”Yeee kok jadi gue yang disalahin?!” Berli cemberut seperti kebiasaannya. Tak lama kemudian cowok itu muncul dari samping mobilnya,”Eh itu itu itu dia muncul lagi,Cher!! Ternyata dia abis bersihin roda belakang mobilnya!! Hahahaha..” Berli tertawa senang karena berhasil menemukan pemandangan indah itu kembali.

”Sekarang dia lagi ngapain,Ber??” tanya Chery yang tak ada bosan-bosannya.

”Dia lagi berdiri aja sambil ngeliatin mobilnya,kayaknya gebetan lo itu kecapean deh,Cher,hehehe...” Jawab Berli menebak.

”Ouuh..Kaciaaan...” desah Chery lagi. Mereka berdua cekikikan.

”Aduh!!” sergah Berli terkejut saat cowok itu membuka kaos kutangnya lalu menggunakannya untuk mengelap atap mobilnya.

”Berli, lo kenapa?? Dia ngapain,Ber??” tandas Chery.

”Oh God..!!” Berli balas menyeru lalu menutup tirai tipis jendelanya,”Haaa gilaaaaa,paraaaah...” celotehnya.

”Dia ngapain??” ulang Chery tak ada habisnya.

“Tadi dia buka kaosnya,Cher!!” sahut Berli gugup.

”Terus??” dorong Chery.

”Teruus...Teruus...Dia pake kaos itu buat ngelap atap mobilnya. Gila,Cher..Perutnya mirip papan penggilas pakaian!! Sixpacks abis!!” erang Berli liar.

”Huahahahaha!!!” tawa Chery meledak. ”Aduh,gue mau liat,Beeeer!!”

“Hh..Sumpah,gue ngga mau liat lagi,Cher!!” timpa Berli kapok.

“Ber,kira-kira namanya siapa ya?” tukas Chery sambil terkekeh licik.

”Jangan mulai deh!! Jangan macem-macem ya,Cher!! Kalo lo mau tau namanya silakan kenalan sendiri sama tuh cowok. Pokoknya gue ngga mau main api sama Gio!!” tanggap Berli sudah lelah.

”Ya Tuhan,Ber..Apa salahnya sih kenalan doank?Ngga nyampe lima menit kalee..” protes Chery.

”Pokoknya NGGA!! Ngga ngga ngga!!” pinta Berli.

”Ih Berli jahat,ngga sayang sahabat!!” gumam Chery.

”Halah halah..Udah diem lo,ngga usah komentar lagi. Lagian gebetan lo dimana-mana,masa belom puas juga!!” ejek Berli yang yakin sekali kalau sekarang Chery pasti lagi cemberut.

”Hehehe..” Chery cekikikan genit.

”Tuh kan ketawa!! Dasar centil!!” ulang Berli.

”Tapi lo juga suka kan,Ber??” pancing Chery.

”Heh!! Gue udah punya Gio ya, jadi gue ngga akan genit sama cowok lain lagi!!” bantah Berli.

”Yakiiiin...?” goda Chery menahan tawanya.

”Lo jangan pancing-pancing gue deh,Cher!!” tindas Berli kesal.

“Hahahaha…” Chery terbahak-bahak.

“Setan lo!!” pekik Berli. Tiba-tiba Berli terkejut saat melihat cowok tadi kini sedang menengadah keatas dan balik menatapnya, “Mampus gue!!” lanjutnya.

”Kenapa,Ber?” tanya Chery.

”Mampus!! Gue ke-gap,Cher!!” seru Berli sambil bersembunyi di balik tirai jendelanya.

”Ke-gap sama siapa?” Chery bingung.

”Ya sama tuh cowok lah,Dasar Lemot!!” Berli mencoba menenangkan dirinya yang gemetar.

”Huaahahahaha...” Chery kembali terbahak-bahak, ”Ketauan ya,Ber, ternta dariadi lo masih ngeliatin dia!! Berli.. Berli..Kalo suka ya bilang aja!!” canda Chery ,masih terus tertawa.

”Gila lo!!” sergah Berli, ”Udah ah,gue mau turun dulu. Entar gue telfon lo lagi deh. Jantung gue masih deg-degan nih,Cher!!Hh..” Berli menutup matanya sejenak untuk menenangkan perasaannya.

”Hehehe...Ya udah sana tenangin diri lo dulu,kasian banget sih sahabat gue yang satu ini!!” ledek Chery tersenyum simpul.

”Huhuhu..Ya udah deh,thanks ya,Cher!!” ujar Berli menutup percakapan.

“Bye,Beib!!” Berli dan Chery saling menutup telefonnya. Berli pun beranjak dari sofa abu-abunya kemudian bergegas keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.

Di ruang tamu, Gadis, kakak sepupu kesayangan Berli sedang duduk di sofa besar berwarna cokelat yang terbuat dari kulit sambil membolak-balik lembaran majalah Cosmopolitan. Berli tersenyum senang melihat kakak sepupunya berada dirumahnya.

”Gadiiiiis...” panggil Berli manja seraya berjalan ke arah Gadis yang menoleh. Dimata Berli, Gadis memang seorang gadis yang cantik bertubuh semampai, rambutnya hitam panjang, matanya indah berpadu dengan alis yang tebal dan ia juga sangat penyayang. Perbedaan usia antara Berli dengan Gadis pun tak terlalu jauh, hanya beda dua tahun. Namun satu hal yang membuat Berli salut pada Gadis adalah kenyataan bahwa Gadis telah berhasil memboyong beasiswa dari sekolahnya dulu, sehingga kini ia tercatat sebagai mahasiswi perhuruan tinggi negeri di bilangan Depok.

”Hey,Ber..” sahut Gadis membalas senyuman adik sepupunya itu, ”Baru bangun ya? Gue kira lo pergi,Ber,.,” lanjut Gadis yang melihat Berli masih terkurung dalam baju tidur bergambar Betty Boop-nya.

”Hh...” Berli memberi Gadis sebuah pelukan hangat, ”Iya gue baru bangun,Dis,belom ada rencana mau pergi kemana hari ini” ucap Berli yang kemudian duduk disebelah Gadis yang memakai setelan celana jeans dan tank top hitam.

”Ya udah diem dirumah aja,Ber..Secara lo kan weekend selalu keluyuran ngga jelas” ucap Gadis menatap Berli yang lagi ikutan membaca sebuah artikel di majalah yang sedang dipegangnya.

”Iya nih,lagipula gue juga mau curhat kok sama lo,Dis” tanggap Berli.

”Curhat apa lagi sih,Ber?” tanya Gadis yang sudah hafal diluar kepala kalau topik yang akan dicurhatkan oleh Berli pasti tak lain tentang cowok.

”Gio...” jawab Berli datar.

”Kenapa lagi sama Gio?” tegur Gadis yang memang cukup banyak dengar keluhan Berli te ntang Gio, ”Bukannya kalian baru dua tahunan?”

”Iya,tapi lama-lama gue aneh deh sama Gio,Dis..” ujar Berli tanpa ekspresi, ”Lo tau ngga? Selama dua tahun gue jadian sama dia, sekalipun dia ngga pernah bilang sayang sama gue,Dis, kecuali pas waktu dia nembak gue”

”Bilang sayang itu kan bukan suatu keharusan,Ber..” terang Gadis tanpa bermaksud membela Gio.

”Tapi menurut gue itu penting,Dis..” bantah Berli. Gadis hanya menggeleng pelan.

”Pentingnya dimana? Sekarang gini deh, lo lebih pilih mana? Gio bilang sayang ke lo ribuan kali padahal dibelakang lo dia ngeduain lo, atau dia ngga pernah bilang sayang ke lo seperti yang lo bilang tadi tapi dia selalu jaga kesetiannya sama lo?” jelas Gadis mulai menganalisa.

”Ya mendingan ngga pernah bilang sayang tapi setia,Dis,tapi aneh aja ada di posisi gue sekarang” sangkal Berli manyun.

”Ber..Kata sayang itu ngga menjamin kelakuan seseorang, yang penting selama dua tahun ini lo happy kan sama Gio?” tuding Gadis tanpa menghakimi adik sepupunya itu.
Iya sih..Tapi jujur ya,Dis..Sebenernya belakangan ini gue juga mulai ngerasa aneh sama kelakuan Gio” umbar Berli.

”Aneh gimana?” tanya Gadis tak mengerti.

”Gio tuh sekarang beda,Dis..Udah hampir seminggu dia ngga pernah main kesini,apalagi kalo ada Bevan” jawab Berli bercerita. Bevan adalah adik laki-laki Berli yang berusia 13 tahun, ia masih duduk di kelas 7 dan bersekolah di Paschool juga.

”Hah? Bevan? Apa hubungannya Bevan sama Gio,Ber?” tukas Gadis bingung, ”Bukannya mereka akrab?”

”Gue juga ngga ngerti,Dis..Terakhir mereka ketemu pun Bevan cuek banget sama Gio” jelas Berli mengernyit.

”Namanya juga anak kecil,Ber,masih suka berubah-ubah sikapnya kan?” selak Gadis berusaha untuk tetap netral.

”Mungkin” jawab Berli datar, ”Oh iya,Dis..Lo tau ngga ada tetangga baru didepan rumah?” Berli mulai membuka percakapan dengan menari info tentang si arjuna.

”Oh tau..” sahut Gadis yang belum selesai bicara sudah dipotong oleh Berli.

”Namanya siapa,Dis??” tembak Berli.

”Aduh!! Makanya dengerin gue dulu dong,Ber..” protes Gadis, ”Gue emang tau ada tetangga baru yang nempatin rumah depan tapi gue ngga tau mereka siapa, apalagi namanya.” lanjutnya.

”Oooh..” Berli menunduk, ” Gue kira lo tau, Dis..”

”Kenapa ngga kenalan aja? Pasti lo lagi ngincar cowok yang tadi nyuci mobil Jaguar kan?” tebak Gadis menyeringai.

”Idih!! Enak aja!! Bukan gue yang ngincer dia,Dis, tapi Chery!!” Berli ngeles sambil tersipu malu.

”Oooh Chery..Kirain Berliiii..Hehehehe...” goda Gadis tertawa pelan melihat Berli yang salah tingkah.

”Sumpah,Dis..Daritadi tuh gue telfon-telfonan sama Chery, dia penasaran banget sama tuh cowok” tegas Berli cemberut, entah untuk yang ke berapa kali.

”Hehehe...Emang ganteng ya,Ber?” pancing Gadis ingin tahu.

”Mm....” Berli pura-pura berpikir keras, ”Ganteng ngga ya??”

”Halah halah! Ngga usah jaim deh lo!! Ganteng ngga,Ber?” ulang Gadis yang kini mulai penasaran dengan sosok tetangga baru itu.

”Ih Gadis!! Mana gue tau dia ganteng atau ngga? Gue kan belom pernah ketemu dia face to face,Dis!!” sangkal Berli untuk kedua kalinya.

“Emangnya gue ngga tau daritadi lo ngeliatin dia lagi cuci mobil dari jendela??Hh..” selak Gadis memaksa Berli untuk mengaku.

”Hahaaha sok tau lo,Dis!!” Berli tertawa dengan pipi yang merona merah karena menahan malu.

”Udah jujur aja sama gue,tuh cowok ganteng ngga,Ber?” dorong Gadis, ”Tadi sih gue sempat liat sekilas, kayaknya dia agak-agak bule gitu,Ber..” tambahnya.

”Iya emang agak bule-bule gitu tampangnya,Dis,body-nya juga oke,tangan sama perutnya berotot gitu” celoteh Berli tidak sadar kalu Gadis sedang cekikikan sendiri.

”Tuh kaaaan ketauan ya...” ejek Gadis tak kuasa menahan tawanya.

”Ih Gadis!! Rese banget sih lo mancing-mancing gue!! Tau ah,males gue!!” pinta Berli ngambek.

“Makanya jujur aja sama gue,tuh cowok ganteng kan?” ulang Gadis kembali.

”Hh...”Berli menatap kakak sepupunya dengan wajah merah padam, ”BANGET!!” seru Berli kemudian bergegas berlari menaiki tangga meninggalkan Gadis diruang tamu menuju kamarnya.

”Apa gue bilang?!” Gadis melemparkan bantal sofa yang berbentuk segi empat ke arah Berli yang sudah ngacir ke lantai dua.

”Sok tau lo Dis!!” seru Berli yang kini sudah berada di kamarnya.

”Gue bilangin Gio loh!!” pekik Gadis bercanda. Ia pun kembali membolak-balik Cosmopolitan yang menganggur dipangkuannya.
***
Sunday, June 2006

Dear Diary…
Dee,hari ini ada tetangga baru di depan rumah.. Cute banget,tapi gue harus bisa control diri supaya ngga keterusan. Gue ngga mau main api sama Gio karna gue cinta mampus sama dia. Gue bener-bener ngga mau kehilangan Gio Dee..



Berli sayank Gio....
1st Chapter by Vanesa

Read More ......