Friday, April 4, 2008

SMP (Saya Mau Pulang)

Ke Jakarta Aku kan Kembali...
Hari ini adalah hari Rabu yang penuh kegundahan dalam hati gue. Hari terakhir gue akan bersekolah di SMP xxx (edited) di Jakarta Timur. Hari terakhir gue akan mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia dari Ibu Rukmiyah yang sangat royal. Namun, tidak dicintai siswanya. Ibu Rukmiyah royal dalam memberi ulangan tiap minggu. Entah bagaimana caranya, Ia tidak pernah kehabisan soal untuk ulangan. Tidak heran banyak siswa yang sering mengeluh sakit perut dan ijin ke ”belakang” ketika Ibu Rukmiyah mengajar. Tentunya mereka tidak kembali lagi ke dalam kelas. Mereka tersesat di dalam kantin. Di kantin hanya jual makanan, tidak ada peta. Mereka baru akan menemukan jalan keluar ketika bel pergantian pelajaran sudah berbunyi.

Ini pun hari terakhir gue bisa makan siomay dari kantin bang Asep, yang sering gue jadiin kreditur tempat ngutang. Dan hari ini pun gue masih tetep ngutang. Kasian bang Asep, dia engga tau kalo besok gue udah pindah ke Sukoharjo. Ikhlaskan semua hutang gue ya bang. Jangan nyantet gue dari kantin setelah gue pindah yah.

Banyak banget kenangan yang sudah terukir kuat dalam hati gue. Tempat ini, suasana ini, hawa udara ini, teman-teman di sini, tidak mudah untuk berpaling dari semuanya. Sebagian dalam hati gue, sudah tertambat di tempat ini.

‘TEEETTT......TEEEETTTT!!!....’
Bel sekolah sudah berdengung dengan maha agungnya, menggugah sebagian siswa yang sedang berkonsentrasi dalam pelajaran untuk segera merapikan buku di meja belajarnya, dan menggugah sebagian siswa lain untuk segera menyeka iler yang keluar karena tidur yang terlalu lelap. Bahkan ada sebagian lain yang membetulkan letak isi dalam celananya yang kelihatan menonjol. Entah mimpi indah macam apa yang mereka dapatkan tadi.

Semua mulai merapikan buku-buku pelajaran dan alat tulisnya. Gue juga segera merapikan meja belajar gue. Masukin buku pelajaran yang ditengahnya ada komik ’kariage kun’ ke dalam tas. Pelajaran yang gue dapet di sekolah kebanyakan bukan dari penjelasan guru atau buku pelajaran, tapi dari komik. Setiap buka buku pelajaran, pasti selalu terhalang komik yang nyempil tepat ditengah-tengahnya. Pantas, tingkat kecerdasan gue engga pernah bertambah sejak kelas tiga SD. Saat gue mulai bisa baca komik. Begitu semua barang sudah masuk ke dalam tas, gue sebagai ketua kelas harus menyiapkan teman-teman untuk memberi salam kepada Ibu Rukmiyah tercinta, supaya beliau segera pergi dari singgasananya di depan ruang kelas dan teman-teman bisa pulang.

”Siaap gerak...Berdoa mulai....Selesai.....Beri hormaat!!” Kata gue menyiapkan teman-teman.

”Selamat sore bu guruuuu....” Sahut seluruh kelas

”Hemm.” Jawab Ibu Rukmiyah dingin. Pantas saja hingga sekarang Ibu Rukmiyah belum menikah, padahal jika ditaksir, umur Ibu Rukmiyah sudah kepala empat, meskipun dia selalu mengaku masih perawan berumur dua puluh sembilan tahun. Perawannya bisa dipercaya, umur dua puluh sembilannya jelas penyesatan umat. Namun, semua kerut di wajah Ibu Rukmiyah tidak dapat lagi disembunyikan dengan baik oleh make-up tebal, 3 cm dari kulit, yang dipakainya. Make-up nya malah bikin Ibu Rukmiyah kayak aktor pantomim.

Entah, orang konyol dari mana yang membuat peraturan untuk melakukan kegiatan ”hormat” ini setiap hari. Bagian doanya siy engga apa-apa, tapi untuk perintah ”siap gerak” dan ”beri hormat” membuat kita serasa hidup dalam dunia militer. Yang begitu keluar kelas kita akan diberondong oleh senapan mesin dan para sniper handal. Mungkin mereka lupa, kompeni udah lama diusir dari bumi pertiwi.

Begitu Ibu Rukmiyah meninggalkan kelas, gue maju ke depan, tepat di depan papan tulis. Gue menghadap ke arah temen-temen yang udah siap pada mau kabur pulang. Gue mau bikin pengumuman terpenting dalam sejarah dan akan menggebrak mata dunia sebagai kejadian paling menghebohkan di abad ini. Berat banget rasanya mau bilang ini ke seluruh penduduk kelas. Lidah gue kelu.

”Temen-temen semua...Gue cuma mo bilang, hari ini gue terakhir sekolah di sini. Mulai besok, gue akan pergi, pindah sekolah ke Sukoharjo...Kalo misalnya...gue ada salah...Maapin yah...” Gue langsung diam seribu bahasa. Engga tau musti ngomong apalagi.

Gue tahu mereka bakalan sedih banget setelah gue engga ada. Mereka engga bakalan rela ngelepas kepergian gue begitu aja, khususnya para kaum hawa. Bukan, bukan karena mereka simpati apalagi naksir sama gue. Mereka inget kalo gue masih punya utang. Hampir satu kelas pernah gue utangin. Sampe-sampe gue bingung, gue utang ke siapa aja dan berapa jumlahnya.

”Hah? Lo mo pindah Ndra? beneran? kok engga bilang-bilang dari kemaren siy?” Kata Eni. Yang artinya ”Kenapa lo engga bilang dari kemaren, kan gue bisa nyiapin air comberan dulu buat nyiram lo”

”Serius niy lo mo pindah? Terus kita-kita gimana?” Kata visina. Yang artinya ”Terus, utang-utang lo ma kita-kita gimana?” (relakan ya non)

”Kita bakal kehilangan lo Ndra...baik-baik ya lo di sana.” Kata Mega. Yang artinya “Lo jangan balik-balik lagi ke sini ya”

Meskipun gue tahu betul isi hati mereka, paling engga, kata-kata manis mereka aja yang gue denger. Kata-kata mereka dimulut jauh terdengar lebih syahdu ketimbang jeritan hati mereka. Bahkan anak-anak cowok yang duduk di belakang udah pada mulai menitikkan air mata. Mereka coba sekuat tenaga untuk menampilkan kesan sedih. Sayang, mereka aktor yang buruk. Raut wajah memelas kayak orang puasa tujuh hari tujuh malam, tapi diiringi dengan bibir yang tersenyum penuh kemenangan. Menandakan betapa bahagianya mereka dapet kabar kepindahan gue. Mereka masih inget waktu gue sering ngisengin mereka. Naruh permen karet di kursi, ngelempar kertas ke kepala orang setelah diisi kapur batangan, nyembunyiin sepatu pas jam olahraga ke tong sampah, ngebuang rokok yang disembunyiin di toilet di ganti choki-choki, hidup gue betul-betul penuh warna keusilan. Gue bakalan kangen semua kelakuan gue disini. Mereka yang engga.

Setelah pengumuman yang begitu menggemparkan dunia itu, gue balik ke bangku gue. Gue duduk dan diam membisu. Temen-temen yang lain mulai antri. Mereka nyalamin gue satu persatu. Kayak pas hari Lebaran. Bedanya, gue engga ngasih THR. Mereka ngucapin selamat jalan. Satu demi satu mereka mulai meninggalkan ruangan kelas. Meninggalkan gue yang duduk sendiri. Begitu mereka hilang dari pandangan, sayup-sayup terdengar suara ”Horee!!” atau ”Yesss!!” Ah, mereka memang teman-teman yang berhati besar. Meski sedih karena kehilangan gue, mereka masih bisa menghibur diri mereka sendiri. Setidaknya, itulah yang gue ingin mereka untuk lakukan.

Eni, Visina, Mega, dan Anjar mulai mendekati gue. Mereka adalah sahabat-sahabat gue dari jaman bau kencur di SD. Sekarang mulai bau asem. Kita masih satu sekolah di SMP dan sekelas pula. Kita saling jabat tangan dan berpelukan, untuk menandakan rasa akan kehilangan. Tentunya gue cuma berpelukan sama Anjar. Dia cowok satu-satunya diantara mereka. Pasti yang liat adegan pelukan mesra ini bakalan ngira kalo gue udah berubah haluan jadi hombreng (baca: homo). Sebetulnya gue engga mau. Akika juga filih-filih loh bo kalo jadi hombreng, benci deh. Tapi Anjar begitu bernafsu, sambil terisak-isak langsung meluk gue. Sial. Dia sekalian meper ingus nya yang engga sembuh-sembuh dari lahir. Tapi...jangan sambil pegang-pegang pantat gue donk. Tobatlah kau Jar. Carilah pasangan homo lainnya setelah kepergian gue yah. Eni, Visina, dan Mega cuma memberi jabat tangan dan sekedar cipika-cipiki, soalnya pas gue baru ambil ancang-ancang mau meluk mereka, mereka sudah mengepalkan tangan untuk tanda penolakan. “Gue tonjok lo kalo sampe meluk gue.” Begitulah kira-kira arti kepalan tangan maut para anggota Charlie Susah (baca : Angel) ini. Tampaknya mereka engga mau ketularan virus ganteng dari gue. Karena gue jauh dari kesan itu.

Di luar kelas sudah gelap. Gue memang masuk kelas siang. Jadi kalo jam pulang sekolah, hari sudah mulai malam. Bareng dengan empat anak imbisil tadi, gue mulai beranjak meninggalkan kelas. Setelah sampai di gerbang sekolah, kita semua berpisah. Arah pulang ke rumah kita berlainan. Mereka mulai berjalan setelah mengucapkan ”Pokoknya Elo kudu maen-maen ke sini lagi” dan ”Sekalian buat bayar utang lo.”

Gue sendiri, masih tetap berdiri memandang sekeliling gue. Gue lihat ke arah gedung sekolah, bangunan tua yang tiap hari selalu gue datangi dengan rasa malas ini sudah menyimpan banyak kenangan. Tempat yang engga gue sangka kalo gue akan merindukannya. Gue beralih melihat ke arah temen-temen gue yang berjalan menjauh. Rasanya seperti mimpi jika besok gue sudah engga akan bisa bertemu mereka lagi. Padahal selama enam tahun terakhir ini, gue selalu bertemu mereka setiap hari. Setelah bayang semua temen gue hilang dalam kegelapan, gue baru mulai melangkah meninggalkan sekolah. Jalan sendirian diheningnya malam. Suasana yang gelap, angin yang berhembus semilir, terbesit semua kenangan yang sudah gue laluin di sini. Semua semakin menambah haru biru di hati gue.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Akhirnya hari itu tiba. Hari dimana gue harus didepak keluar dari Ibu nya kota. Begadang semalaman memang engga baik buat kesehatan. Tapi itu bukan alasan kenapa gue sampai sekarang belum bangun dari karpet tempat gue tidur semalam. Karpet menjadi pilihan tempat tidur terbaik setelah semua barang diangkut truk menuju Sukoharjo, ketimbang harus tidur di bathtub. Gue masih pengen lama-lama tidur di karpet. Semakin lama gue bangun, itu berarti semakin lama gue berada di Jakarta. Pengennya gue tiduran sampe setahun lagi, tapi takut keburu dikubur duluan.

”Hendraaaa...bangun!!! Entar engga keburu sama keretanya lho.” Teriakan nyokap mulai menggema. Tapi gue masih males-malesan mau bangun. Kecuali rencana pindahnya dibatalin.

”Mandi sana draaa...!!” Nyokap mulai menunjukkan tanda-tanda ngamuk kayak kalo dapet haid hari pertama. Tapi gue tetep kekeh mau tiduran aja meskipun cuma lima menit lebih lama.

PLAAAKK!!!
”WADOOOH...?!!” Gue teriak tanda protes. Gue langsung bangun dari tempat gue tiduran. Kepala gue yang berisi penuh ide-ide penuntutan kenaikan uang jajan ini dicium gagang sapu. Gue cuma bisa megangin kepala gue yang kayaknya bakalan benjol. Ternyata yang memulai gara-gara adalah makhluk hitam tanpa bulu, kakak ‘cowok’ gue. Gue heran, kenapa bisa punya kakak kayak dia, padahal dikeluarga gue engga ada yang berkulit hitam legam. Dan, dia satu-satunya makhluk yang memiliki pori-pori tersumbat, buktinya dia sama sekali engga punya bulu kaki apalagi bulu dada. Kakinya lebih mulus dari tante-tante ganjen yang tiap minggu ke salon. Cuma dikemas dalam kulit gelap. Tidak menarik untuk dilihat. Mungkin waktu lahir, dia jatuh ke aspal panas lantaran keburu lahir duluan waktu nyokap diangkut becak. Itu alasan gue panggil dia Dakocan.

”Mandi sana!!” Teriak Dakocan

”Iya-iya, berisik ne.” Jawab gue sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi sambil megang kepala gue yang masih kerasa sakit.

Di kamar mandi, gue nikmatin setiap tetes air yang melewati badan gue. Gue lihat semua sudut kamar mandi tanpa terlewat se-inchi pun. Mungkin suatu saat nanti engga bisa gue lihat lagi. Gue jadi inget, dulu waktu dihukum nyokap lantaran main sampe kemaleman, gue dikurung di kamar mandi. Tapi yang ada, gue malah mainan air, dan ngehabisin shampo nyokap yang baru aja dibeli paginya. Walhasil, karena keputusannya yang salah udah ngurung gue di kamar mandi, nyokap malah kudu nyikat kamar mandi buat ngebersihin kelakuan gue, lantaran kamar mandi jadi bau shampo dan lengket semua. Gue jadi senyum-senyum sendiri inget kelakuan jaman Tk dulu. Dan hari itu, jadi hari mandi paling lama dalam hidup gue.

“CEPETAAAANNN!!!” Upss, dakocan mulai darah tinggi. Gue kudu cepet-cepet nyelesein mandi, sebelum pintunya didobrak makhluk hitam rabies.

Selesai mandi, perut gue mulai terasa keroncongan. Cacing-cacing dalam tubuh gue pasti udah pada demo menuntut jatah hariannya. Nyokap sama dakocan udah sarapan duluan. Pakai makanan sisa semalem, dan engga ada sisanya lagi. Padahal menurut pengakuan nyokap, udah disiapin pas buat tiga porsi sarapan. Pasti itu kelakuan tak berkepri-adik-an dari si dakocan yang ngehabisin jatah makan gue juga. Gue nunggu ketroprak lewat aja. Makanan khas Jakarta yang mungkin engga bakalan gue makan lagi di tanah Jawa.

Teng...Teng...Teng...!!!
Wah itu dia bunyi khas orang jualan ketoprak. Bunyi perpaduan harmonisasi antara sendok dengan piring menggunakan nada dasar C = sol dan irama 4/4 = 1. Mudah untuk mengenalinya. Bagi yang tidak tuna rungu. Ternyata yang lewat adalah bang Amat. Langganan gue makan di portal depan komplek kalo berangkat sekolah.

”Bang Amat...ketoprak nya satu donk...kayak biasa ya”

”Loh, kagak sekolah lo Ndra, bolos ya?” tanya bang amat

”Enggalah bang, ni mo pindahan, ke Jawa tengah, bis sarapan berangkat”

”Kebetulan dong...”sahut bang Amat

”Kebetulan kenapa bang?”

”Entar bayarnya sekalian sama hutang lo minggu kemaren ya”

Gue jadi pengen makan bubur ayam aja.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Dengan naik kendaraan umum, gue, dakocan, sama nyokap pergi ke stasiun. Bokap udah berangkat ke Sukoharjo duluan kemarin, bareng sama truk yang ngangkut barang-barang dari rumah. Bokap didaulat jadi pengawal barang-barang supaya sampai tempat tujuan dengan selamat. Kumis bokap yang tebel pasti bisa buat nakut-nakutin sopir truknya.

Lama banget nunggu keretanya datang, detik berubah menjadi menit, kereta belum tampak. Menit berubah menjadi jam, kereta nya masih sarapan kali. Kereta yang telat datang, selalu setia ditunggu oleh penumpangnya, coba kalo penumpangnya yang telat, pasti keretanya langsung ngeloyor main pergi aja. Engga Sopan. Gue coba menunggu dengan sabar sambil baca komik. Kali ini komiknya ’Kotaro’. Gue banyak belajar cara iseng yang baik dan benar dari komik ini. Akhirnya, setengah jam berikutnya keretanya sudah datang. Untung deh. Jadi kita engga perlu nginep di stasiun. Gue masukin komik gue kedalem tas yang gue bawa. Gue berdiri dari tempat gue duduk. Pas gue lihat ke arah keretanya, gue lihat si Dakocan udah siap-siap naik kereta. Dia ada di depan pintu kereta sambil bawa kardus ditangan. Loh?! Ngapain tu anak?! Gue heran. Kenapa dia ninggalin gue sama nyokap masuk kereta duluan. Emang dia tau apa tempat duduknya yang mana?

”Bu, mas Sanjaya udah mau naik kereta tuh.” Si dakocan ini nama aslinya Sanjaya. Nama yang terlalu bagus memang, jika dilihat dari fisiknya. Gue narik-narik tangan nyokap gue. Gue heran kenapa nyokap nyantai aja, ngebiarin si Dakocan masuk kereta sendirian. Mungkin nyokap pengen menghilangkan aib wajah jelek dalam tradisi keluarga yang dibawa kakak gue.

Gue tarik terus tangan nyokap gue. Tapi nyokap engga bergeming sama sekali. Gue lihat si Dakocan mulai naik ke kereta. Gue makin keras narik tangan nyokap gue. Tapi tetep aja, nyokap engga beranjak selangkahpun. Gue mulai ngerasa iba sama Dakocan. Dia bakal menempuh perjalanan panjang sendirian tanpa dia sadari. Gue lihat Dakocan dikelilingi orang-orang yang berjubel di depan pintu kereta buat bisa masuk ke dalam. Setelah gue amati lagi, diantara jubelan manusia itu, ada nyokap gue. HAAAHH??? Terus, tangan yang gue tarik dari tadi ini siapa? Penuh ketakutan, was-was, dan keringat dingin membanjir, gue lihat ke belakang, ke arah tangan yang semenjak tadi gue tarik terus. Tampak tante-tante berpostur super subur dengan wajah yang kebingungan memandang ke arah gue. TIDAAAKK!!! Kalau misalnya nanti dia nanya “Kamu kenapa nak? ngapain narik-narik tangan tante?” Gue bakal jawab ”Emm...latihan tarik tambang tante.“

Gue langsung ngelepas tangan si tante yang dari tadi gue tarik-tarik. Pantes dia engga bergerak selangkahpun meski udah gue tarik sekuat tenaga. Badannya aja segede pemain sumo yang ke sentup tawon, sedangkan gue, kayak Aming yang kelindes bus. Gue mulai lari sekenceng-kencengnya ke arah nyokap. Jangan sampe gue ketinggal, terus jadi anak jalanan baru di Jakarta. Jakarta udah engga terima anak jalanan baru. Kolong jembatan udah penuh. Gue lari sekuatnya, sampe nubruk nyokap.

“Loh, kamu bukannya tadi di depan sama mas Sanjaya?”

Yap!! Nyokap ternyata udah lupa sama keberadaan gue. Kalo nyokap aja lupa sama gue, apalagi si Dakocan. Kalaupun dia inget, Dakocan bakalan milih buat pura-pura lupa.

Dengan diiringi deru suara kereta api yang mulai berjalan perlahan, gue mulai bergerak meninggalkan kota Jakarta. Menuju kota baru di sebuah tempat bernama Sukoharjo di Jawa Tengah. Gue cuma bisa terdiam, meninggalkan semua kenangan dan mimpi indah yang pernah terjadi. Kadang gue berharap jika semua ini hanya mimpi semata. Begitu gue buka mata, semua masih berjalan seperti biasanya, bermain dengan teman yang sama, pergi ke sekolah yang sama, pulang ke rumah yang sama. Tapi yang terjadi sekarang, semua begitu nyata. Gue akan meninggalkan kota Jakarta untuk waktu yang tidak menentu. Tapi, suatu saat gue bakal balik ke sini. Entah kapan. Pasti. Janji gue dalam hati.

1st Chapter by "Mr. Nice Guyy Am I"

No comments: