Monday, May 26, 2008

1st Chapter

-

Entah darimana harus memulai cerita ini ,semuanya terjadi begitu cepat .Ya mungkin ini filosofis yang selalu dirasakan dan diterjemahkan oleh orang yang sedang jatuh cinta atau kasmaran bahwa rasanya segala perputaran hidup mereka juga menjadi cepat .Ya cinta.Cinta adalah sesuautu yang universal .Kira – kira itulah gambaran gw tentang cinta.Cinta ada dimana pun kita berada bahkan saat kita mati sekali pun berjuang atas segala kebaikan atau dosa – dosa kita.Tapi cinta tentang sepasang manusia yang berlainan jeis memang sesuatu yang tak akan pernah berkhir.Berbagai macam cerita ada ,hingga kisah cinta yang hampir sama pun selalu ada dan terjadi ,tapi dengan berbagai kedalaman dan dramatisasi yang selalu terukir oleh para pelaku cinta tersebut.

Begitu pula gw ,terkadang kisah – kisah yantg tidak mungkin bak sinetron yang sekarang dikritik pun pernah terjadi ,malu – malu kucing ,rasa cemburu ,semuanya tertuang dalam imajinasi gw saat gw merasakan jatuh cinta .

Awalnya semua sederhana ,tidak ada persaan yang special terhadap si dia Mmmm…. .Dia siapa ya ? Gw kasih gambaran aja deh nih cewek saat gw nulis ini masih berstatus mahasiswi di kampus di kota di Indonesia yang konon kabarnya punya tingkat toleransi yang tinggi .Dia gak tinggi – tinggi amat paling Cuma 160 ,mungkin hal ini dipengaruhi oleh kondisi alamiah seorang wanita secara fisik yaitu ada beberapa bagian anatomi tubuh yang diberikan sebagai rezeki bagi kaum adam .dia agak gemuk ……mmmmmmmmm gak juga kayaknya ,enaknya dipanggil dengan istilah chubby ,istilah yang sekarang lagi tren di kalangan tua muda ,anak – anak atau pun kakek – nenek.Cerwet dan rada suka memotong pembicaraan orang – orang yang lagi asik bicara,dan hal itu adalah sebuah sifat yang sangat gak gw sukai di dunia ini .Selain itu suka bersenandung lagu – lagu yang diciptain yang katanya oleh salah satu maestro musik Indonesia.Gambarannya sang maestro punya 2 band berbeda ,dengan dua major label yang berbeda ,personil yang berbeda.Yang paling kontaras adalah di satu band personelnya dah pada matang dan dikenal di era 90 –an yang satunya lagi dikenal katanya daun muda gitu dan dikenal di era 2000 – an ini ..Secara musik okelah gw akui punya standar tinggi ,tapi secara lirik ….hal ini lah yang gak gw sukai liriknya hanya ada beberapa opsi diantaranya selingkuh atau patah hati .Dan yang uniknya lirik itu tercipta di dua band besutannya tersebut.Well lama – lama gw jadi kritikus musik juga nih .He He He He He .

Kita ketemu di sebuah kesesmpatan yang taak disangka – disangka .Saat itu kita ketemu dalam sebuah proyek kampus yang melibatkan mahasiswa – mahasiswa.Proyek kmapusnya apa ya ?Ini secret banget ,soalnya ntar ditiru ama kampus – kampus lain ,ntar mahasiswa yang ngedaftar di kampus gw jadi pada berkurang ,dan efeknya kalau gw jadi alumninya ntar gw bakalan miris ngeliat nasib kampus gw akan dijadiin lapangan futsal yang sekrang lagi menjamur dimana – mana Waktu itu Gw dan rani satu kelompok ,gw dipilih dan akhirnya terpilih jadi leader di kelompok itu .Waktu itu gw gak terlalu perhatiin si Rani karena dia bukan masuk salah satu daftar shoot on target gw.Tapi dari sifatnya yang dah gw sebutin ada sedikit rasa jengkel juga dan akhirnya tertarik juga ni ama cewek .Gw mulai deketin dia ,gw minta nasehat dari beberapa orang yang jadi penasehat pribadi gw ,asisten gw ( seperti para pejabat penting aja ) untuk memulai kisah ini menjadi sebuah kisah yang gak tepat .

Rani ternyata disamping sifatnya yang gak gw sukai menarik juga.Ia sangat supel ,mau diajak ngobrol apa aja ,dan sangat ramah .Dan sifatnya yan gak gw sukai setelah gw mengenal lebih jauh lagi adalah manja.Tapi kata beberapa pensehat pribadi gw itu adalah sifat yang wajar dari seorng cewek .tapi dari beberpa orang cewek yang pernah dekat sama gw baik saat jadi teman ,sahabat atau shoot on target gw gak ada ewek yang semanja ini .Dan akhirnya gw pun ikut masuk kebabak dimana sifat rani yang gw sukai atau pun gak gw sukai dan akhirnya gw terbuai dalam sebuah keasikan hingga kahirnya gw terbuai hingga babak tersebut masuk menit injury time ( he he he he eeh e h ..uhuk …uhuk….huk ).

Pertandingan demi pertandingan gw hadapi untuk mendekati para striker lawan dang w akan sliding dengan teknik seperti halnya pra bek – bek Italia dalam sepakbola yang memang jago banget buat sepakbola bertahan .( Lho….!!!! Kok jadi ngomongin sepakbola) .Ehm… maksud gw adalah pertandingan demi pertandingan tuk ngedapatin si Rani itu melalui pendekatan yang bersifat man to man marking dimana gw selalu menempel dan mengawasi gerak – geriknya.Semuanya mengalir begitu cepat ,gw dan Rani jadi sangat akrab ,bahkan gw dengan pedenya sering nelpon ke rumahnya Cuma buat bercanda aja atau cuma buat saling ejek - ejekan setelah .Ejek – ejekan nnya ejeken cinta lho ( hik …hik ..hik ) Sampai pada saat ada
1st Chapter by Ilhamdi

Read More ......

DESTINY: Death Has Its Own Plans

-

DESTINY : Death Has Its own Plans
Dina melempar tasnya ke atas meja.

“Kenapa? Lagi BT ya?,” tanya Tasha, sahabat baiknya.

Dina mengangguk. Ia bersandar pada kursi. Dibukanya tas biru polos di atas meja dan mengambil sebuah kotak dari dalam tas.

“Apaan tuh?, “ tanya Tasha penasaran. Tasha merebut kotak tersebut dari tangan Dina dan mengamatinya. Ia memperhatikan bagian bawah kotak. Terdapat tulisan tangan manusia di alasnya. Tapi Tasha tidak dapat membacanya dengan jelas. Tulisannya sudah sangat samar-samar.

“Ini apaan sih?” Tasha melirik ke arah Dina.

“Itu kotak musik bokap gue. Tadi di depan gerbang sekolah, si Gladys cs ngerusakin,” jawab Dina lemas.

“Gladys? Kenapa sih tuh anak selalu jahat ama lo? Tapi….lo sendiri kenapa bawa-bawa benda ini ke sekolah?”

“Gue lagi pengen bawa kotak ini. Gue rindu bokap.Dia kan masih lama di luar negeri. Ini barang peninggalanya.”

Dina menempelkan kepalanya ke meja dan menutup kedua matanya.

“Papa.”

Masih di kelas yang sama dengan Dina. Ryan dan Sarah duduk berdua di pojok kelas. Mereka kelihatan mesra. Seseorang memandangi mereka dari beberapa baris kursi di depan.

Ken. Sahabat Sarah sejak kecil. Dia yang selalu menjaga Sarah selama ini. Sosok Ken sudah melekat sebagai seorang kakak dalam diri Sarah.

Ken keluar kelas. Ia harap Ryan tidak akan pernah menyakiti Sarah.

Sesosok tubuh yang gerakannya kikuk masuk ke dalam kelas. Emon membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot ke bawah. Ia duduk di salah satu kursi. Pandangannya terpaku pada Ryan dan Sarah yang sedang asyik suap-suapan.

Ryan menyadari ada sepasang mata yang mengamati aktivitasnya dengan Sarah.

“Eh, cupu. Ngapain lo ngeliatin kita? Pengan, ya?”

Ryan berjalan ke arah Emon. Ia mendorong kepala Emon dengan satu tangan. Sarah menarik lengan Ryan untuk menenangkannya. “Udahlah, Yan.”

“Makanya kalo mau kayak kita, pacaran dong. Cari cewek. Betulin tuh penampilan biar cewek-cewk nggak takut en ilfil lagi liat muka lo.”

Ryan tertawa lebar. Sarah takut Ryan akan menganiaya Emon. Murid-murid lain hanya memperhatikan adegan tersebut. Bagi mereka pemandangan itu hanyalah sebuah tontonan gratis semata.

Emon hanya bisa diam saja. Ia tak mengatakan apa-apa. Hanya menunduk

“Kok nggak jawab? Dasar cupu.” Ryan mendorong tubuh Emon.

“Udah. Ngapain sih kitsa ngurusin dia? Lanjutin aja deh makannya, yuk,” ajak Sarah menggamit lengan Ryan.

“Untung aja pacar gue baek. Kalo gak ada Sarah, lo udah mati di sini sekarang. Gue gak pernah suka ngeliat tampang lo dari dulu,” teriak Ryan.

Dia dan Sarah kembali ke tempat duduk semula dan melanjutkan acara makan yang sempat tertunda.

“Mati….Kematian hanyalah urusan Tuhan. Tak ada seorangpun yang tahu,” bisik Emon. Bisikan Emon samar-samar terdengar ke seluruh penjuru kelas.

“Bukan lo yang nentuin kematian gue, Yan. Bukan lo.”
1st Chapter by Eko Prasetiyo

Read More ......

Pelangi Ke Tujuh

-

Perkenalkan namaku ... Nazwa Palydia Arahma umur 21 tahun, aku kuliah di Universitas Menolong Sesama Jurusan Pembantu Dokter. Aku memiliki sifat plin-plan, ½ penakut, 80 % malankolis, labil, keras kepala, mempunyai hobi paling aneh sedunia : MENGHAYAL pe berjam-jam, sangat suka aneka sayur-sayuran (tapi kenapa aku tak memiliki tubuh proposional), memiliki bakat alami sebagai penyair abad kegelapan (tapi tak pernah menelurkan satu karya pun ke khlayak umum), berkpribadian manja dan kekanak-kanakan ( bila sedang bersama pangeran kodok tentunya), tapi terkadang dalam keadaan mendesak bisa berevolusi menjadi gadis gila penuh selera jail tingkat tinggi.

Aku mempunyai seorang pacar, ups ... bukan pacar tapi tepatnya ½ pacar, karena statusku saat ini digantungkan. Menyebalkan memang. Nama laki-laki itu Raga Aryadinata , usianya 25 tahun. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Pi alias Papih (silakan anda semua muntah mendengar panggilan nora kita berdua).

Pi mempunyai gelar Ir. Beton, bekerja sebagai konsultan di PT Pembangunan Industri, perusahaaan yang bergerak dalam bidang rancang bangun, pengadaan, konstruksi dan uji-coba operasi (EPCC) untuk pabrik-pabrik industri besar di Indonesia, meliputi pabrik-pabrik pada industri: gas, panas bumi, kilang, petrokimia, mineral, pengelolaan lingkungan, dan infrastruktur. Selain itu, perusahaan inipun menyediakan jasa untuk studi kelayakan proyek/pabrik dan perawatan pabrik. (ah ... saking cintanya ... aku sehapal ini tentang kerjaanya).

Raga Aryadinata laki-laki sempurna yang pernah aku temui. Wajahnya sedikit mirip nicolas saputra bila dilihat dari jarak 5 meter, rambutnya sedikit ikal, kulitnya lumayan putih, bibirnya tipis, badannya tidak kurus tidak pula kekar, tapi dadanya mampu membuat aku tenggelam hanyut kedalamnya. Pi memiliki hati sebening embun pagi (tentunya sebelum perlakuannya terhadapku sekarang) ditambah dengan sel-sel kelabu yang cukup seksi. Pi termasuk penggila layang-layang dan pencinta pelangi setelah hujan . Kanpas dan cat air adalah media imajinasinya. Pi Paling bisa membuat aku tertawa terbahak-bahak karena selera humornya yang cukup tinggi, mungkin itu salah satu alasan kenapa aku begitu cinta mati sama dia. Namun saat membicarakan keseriusan, pi bereinkarnasi menjadi bocah kecil yang kekanak-kankan, bagi pi pernikahan adalah gerbang paling menakutkan.

Sekarang sudah jam 23.25 menit. Aku beranjak dari tempat tidur paling malas sedunia, mencoba untuk menyaksikan langit dari balik jendela kamarku. Rasanya sudah lama aku tak memandang langit dalam suasana hati paling mengerikan seperti ini. Semuanya menjadi terlihat dramatis, sunyi, senyap, pilu, takut, mencekam. Kalau harus digambarkan ... aku seperti Hary Potter. yang begitu ketakutan karena dihantui para mahluk dementor yang melepaskan diri dari penjara Azkaban yang berniat mencuri seluruh kenangan ayah dan ibunya. Apakah dementor akan mencuri kenanganku tentang Pi?

Malam ini langit begitu kelam, bintang-bintang sama sekali tak menunjukan sinarnya, mungkin sinarnya telah hilang dan pergi di curi penyihir malam. Panorama bulan hilang entah kemana, mungkin dia sedang gundah atau sedang meratapi nasibnya karena tak pernah jua bertemu dengan matahari kesiangan. Lelah ... lelah ... mungkin itu yang ada dalam pikiran bulan saat ini, kenapa takdir tak pernah mempertemukannya dengan matahari. Menunggu memang pekerjaan paling menyebalkan. Sama seperti aku yang begitu lelah menunggu ketidakpastian ini.

Mungkin DEMENTOR memang mulai datang dalam hidupku, tepatnya malam ini. Dia mulai mengirimkan bunyi-bunyi paling menakutkan, diawali dengan bunyi petir yang saling berteriak nyaring mengungkapkan kemarahannya, dilanjutkan dengan suara halilintar yang bersemburan kilatnya, diiringi dengan suara langit yang semakin bergemuruh seraknya, ditambah aroma gelap yang semakin mencekam yang kini mulai memasuki seluruh pikiranku.

Apakah ini pertanda hujan akan turun? Hujan ... Hujan ... Hujan ... Kenapa mesti turun hujan. Ada apa sebenarnya dengan langit? Kenapa langit harus begitu menakutkan seperti ini, kenapa? kenapa mesti ada petir? Kenapa mesti ada halilintar? Kenapa bintang mesti tak bersinar? Dan kenapa aku mesti bersedih seperti ini? Apakah Langit ikut bersimpati dengan kesedihanku?

Dan tepat disaat air hujan itu mulai turun, disaat itu pula aku meneteskan tetesan air mata yang tak bisa terbendung lagi. Sungguh begitu memuakan ... aku begitu pengecut, aku begitu menyedihkan, aku tak berani menatap hujan, aku tak berani menantang petir dan halilintar, yang aku lakukan hanyalah ... BERLARI - MENUJU TEMPAT TIDUR - BERSEMBUNYI DALAM SELIMUT TEBAL – MENANGIS SEORANG DIRI.

Ironis ... aku menangis dengan cara yang sudah lama tak pernah aku lakukan, aku sesengukan, terisak begitu keras, rasanya seperti tercekik, sakit untuk bicara, sesak, tak ada udara, kira-kira aku mirip penderita asma kronis yang begitu memerlukan inhalasi untuk melegakan saluran pernapasannya. Air mata bergulir diwajahku. Aku benci harus menangis seperti ini, aku muak merasakan suasana hati seperti ini. Rasanya aku ingin mati saja, dari pada merasakan PATAH HATI PALING MENGERIKAN SEPERTI INI.

Dan Orang yang membuatku menangis seperti ini tak lain dan tak bukan adalah Laki-Laki -Yang –Tak- Boleh –Aku-Sebut- Lagi-Namanya.

Laki-laki yang telah memberikan pelangi terindah sepanjang zaman, namun dia juga yang memberikan awan gelap paling hitam. Laki-laki yang telah membawaku melintasi langit tinggi bintang-bintang, namun dia juga yang melemparkan aku ke jurang paling dalam.


1st Chapter by Ratih Kartikasari

Read More ......

Abnormal

-

Aku menatap lubang hitam di depanku. Apa yang ada di dalam sana? Hatiku bertanya-tanya.

Aku mencondongkan badan ke depan untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Tapi aku tidak melihat apapun. Hanya kekosongan yang dapat kulihat. Kegelapan. Kesedihan. Kepedihan. Air mata.

Tiba-tiba saja aku merasakan semua itu. Apa ini sebenarnya? Rasanya hati ini ingin menjerit.

Semua perasaan itu bercampur aduk dalam dadaku. Tak sengaja air mataku mengalir. Air mata semakin membasahi pipiku seiring dengan tatapanku yang semakin mendalam pada lubang itu. Perassaan apa ini?

Tanpa kusadari, kedua tanganku bergerak ke arah lubang itu. Aku membenamkan kedua tanganku ke dalamnya. Dingin. Rasa dingin ini menjalar dari tangan ke seluruh tubuhku.

Aku menggigil. Kuputuskan menarik tanganku. Ada apa ini? Ah. Kedua tanganku tak bisa keluar dari lubang. Seperti ada lem yang merekat kuat pada tanganku.

Lama kelamaan aku merasa tanganku ditarik semakin dalam. TIDAAKK!!!! Aku berusaha menjerit tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku.

Aku merasakan sepasang tangan lain menempel di punggungku dan mulai mendorongku masuk ke dalam lubang. Aku tak kuasa melawan.

“Siapa kamu?,” tanyaku lirih. Dalam hitungan detik seluruh tubuhku sudah jatuh ke dalam kegelapan. Tak ada satupun cahaya yang dapat kulihat. Tapi aku bisa mendengar suara. Suara tawa anmak kecil. Disusul suara tawa anak kecil lainnya.

Mereka sedang membicarakan sesuatu tapi aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Lalu kudengar suara lain. Suara langkah kaki. Semakin berat. Semakin dekat. Siapa? Kemudian aku melihat sosok bayangan berdiri di hadapanku. “Siapa kamu?”

“Kamu tidak mengenaliku?,” balas bayangan itu. Perlahan-lahan aku mulai dapat melihatnya dengan jelas. Aku melihat sepatunya.

Itu sepatu yang sedang kupakai sekarang. Lalu kulihat pakaiannya. Pakaian yang dikenakannya juga sama sepertiku.

Ini sangat tiak mungkin. Wajah yang ada di hadapanku adalah wajahku sendiri. Apa-apaan ini? Apakah ini semacam lelucon untuk mengerjaiku?

“Jangan kaget,” katanya ,”Aku adalah Evan. Kamu tidak ingat aku?” Aku tidak bisa mempercayai ini. Dan aku menjerit sekerasnya.
1st Chapter by Eko Prasetiyo

Read More ......

The Blooms Berries

-

CHAPTER 1
BROTHER AND SISTER

Billy dan Gwen
Hujan deras melanda kota Jakarta yang indah itu. Musim hujan kali ini memang nggak tanggung-tanggung. Setiap hari selalu saja harus dan kudu membawa payung. Kalau nggak, mungkin kalian bakal merasakan apa yang dialami oleh orang-orang; berlarian kesana-kemari untuk mencari tempat berteduh. Banyak yang merasa kesal dengan hal tersebut, termasuk anak yang merupakan tokoh dalam buku ini, Billy. Anak laki-laki berumur 15 tahun ini sedang menggerutu dengan kakaknya, Gwen.

“Gwen! Lo gimana sih, pake acara nggak bawa payung segala,”

“Repot nih jadinya!” kata Billy, berlari-lari dengan mata mendelik ke arah Gwen.

Saat itu mereka saling adu mulut sambil berlari-lari menuju Sweet Daily Cafe yang tidak jauh dari posisi mereka. “Yee… kok jadi gue yang kena,“ kata Gwen, melawan omongan Billy.

“Lagian ini kan bukan salah gue, tapi salah Bi’ Yanti! Kenapa dia nggak nawarin payung ke gue?!”
Mereka sampai ke depan pintu kafe yang terbuat dari kaca tebal itu. Ketika masuk, kedua anak itu disambut oleh waiter di sana. Sebenarnya Gwen ingin sekali membalas sambutan itu, tetapi saat itu dia harus terpaksa mendengarkan ocehan sang adik yang bawel.

“Udahlah nggak usah banyak alesan! Lain kali kalo udah tau musim ujan, ya bawa payung dong,”

“Kita duduk di deretan kedua aja!” sergah Billy dengan berjalan cepat agar tidak direbut orang lain karena saat itu di belakang mereka juga banyak orang berdatangan. “Bil, lo mau pesen apa?”

Melihat Gwen sudah mengambil menu terlebih dahulu, Billy pun tidak mau kalah seperti biasanya. Ia langsung merebut menu makanan yang cuma satu itu dari tangan Gwen. “Eh, entar dulu dong! Gue kan belom pesen apa-apa! Sabar dikit kenapa sih?!” kata Gwen dengan muka cemberut. “Gue dulu, ya?!” sahut Billy dengan nada mencibir.

Sementara itu pramusaji sudah menunggu dengan tidak sabar akan kedua saudara yang tak akur itu. “Chicken Steak pake Mushroom Sauce satu... Minumnya Jus Alpukat aja deh.” ujar Billy sambil tersenyum tipis ke arah pramusaji. Sementara itu, Gwen memesan Hot Cappucinno.
“Emm…, Bil lo nggak ada date, kan?” tanya Gwen sambil celingak-celinguk kalau-kalau pesanan mereka sudah datang. “Malem minggu ini sih... nggak ada tuh,”

“Emangnya kenapa?” tanya Billy sambil menaikkan alisnya. Saat itu Gwen melihat pramusaji membawa dua minuman berwarna cokelat tua dengan tambahan krim di atasnya. Gwen berpikir pasti itu pesanan mereka. Dan ternyata dugaan ia benar. Pramusaji itu berjalan ke arah meja mereka dan menaruhnya.

Si pramusaji berkata, “Krimer?”
“Boleh!” jawab Gwen dengan singkat. Saat pramusaji itu menuangkan krimer ke cangkirnya, Gwen melanjutkan pembicaraan lagi dengan Billy. “Eh, temenin gue dong ke toko buku!” kata Gwen dengan muka yang seakan-akan memelas sambil mengaduk-aduk minumannya. “Ah, masa malem minggu cuma ngabisin waktu di toko buku!” sanggah Billy sambil mengaduk-ngaduk minumannya yang sudah mulai merata. “Yaah, namanya juga lagi nyari buku,”

“Soalnya kemaren kan lo baru ngilangin buku gue! Yaaa... merasa bersalah dikit dong!” jelas Gwen dengan puas.

“Okelah,”

“Tapi, lo beliin gue buku, ya!” balas Billy dengan muka jual mahal. “Beres deh, tapi yang penting lo temenin gue ya, awas lo jangan lupa!” kata Gwen dengan muka senang. Tetapi suasana yang menggembirakan itu tidak lama, karena tiba-tiba Billy berpikir sejenak lalu meninju kepalanya sendiri sambil berkata,

“Aduh, Gwen! Sori kelupaan... ada janji sama Kelly! Gue kan pengen jalan ama dia entar malem!” jelas Billy dengan nada menyesal. Saat kalimat itu dilontarkan Billy, tiba-tiba Gwen langsung berkata, “Gimana sih, jadi cowok plin-plan gitu,”

“Bil, Bil,... udah bikin kesel orang lagi...” gumam Gwen dengan kesal. “Sori, gue lupa. Mendingan lo minta anterin aja ama Arby!“ kata Billy agak takut.

Arby adalah sahabat karib Billy dan Gwen. Bagi mereka, dia sudah seperti sosok kakak yang tiada duanya. Gwen langsung menjentikkan jarinya.

”Iya juga ya,”

“Calling dia, ah!” kata Gwen sambil merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
Seketika itu, Gwen menekan nomor ponsel Arby. Saat itu terdengar suara Arby dari speaker phone HP Gwen.

“Arby’s here! What’s up?” sahut Arby dengan suara yang semangat. Gwen langsung agak geli mendengar suara Arby yang sok kebritish-britishan itu.

Oh iya, Arby dan Kelly itu kakak beradik juga. Gwen mengenal Arby melalui Billy. Dan mereka sudah berteman selama 1 tahun di Jakarta.

“By, ini gue, Gwen!” ujar Gwen sambil tertawa. Setelah Gwen berkata begitu, Arby langsung tertawa dan berkata, “Iya, iya tau kok. Gue kira siapa!”

“Lo nggak simpen nomor baru gue?! sergah Gwen dengan segera.

“Sori, lupa! Ngomong-ngomong ada apaan nih?” sapa Arby dengan penuh tanya. “Gini nih, lo mau nggak anterin gue ke toko buku?” tanya Gwen dengan penuh harap Arby mau mengantarnya. “Oh, bisa kok! Kebetulan gue juga nggak ada acara di rumah. Tadinya, gue juga pengen ngajak lo jalan juga bareng Billy ama Kelly.” kata Arby dengan panjang-lebar.

Mendengar Arby akan mengantar Gwen, Billy mendapat ide. “Entar malem pergi berempat aja!” sahut Billy, sekarang jadi sedikit munafik dengan tawaran Gwen tadi. Karena suara Billy terdengar dari handphone-nya, Arby langsung menjawab dengan semangat. “Boleh juga tuh. Gimana?” tanya Arby. Gwen mengerling ke arah Billy, rasanya geli sekali karena keputusan Billy yang plin-plan. Gwen berkata, “Oke, nanti malem jangan lupa, ya,”

“Bilangin juga ama Kelly, jangan lupa!” Gwen mengakhiri kata-katanya di handphone. Terdengar suara sahutan “iye-iye, bye!” dari Arby.
Sementara itu mereka menunggu hujan yang sangat deras di luar sana. Gwen belum juga menghabiskan secangkir Cappucinno hangatnya, sedangkan Billy sudah menghabiskan Chicken Steak dan Jus Alpukatnya.

Saat itu Billy memandang situasi lewat kaca besar di kafe itu. Billy mendadak jadi seorang puitis, tiba-tiba saja dia mengambil laptop dari tasnya. Kemudian, anak itu mulai mengetik sesuatu, melanjutkan sebuah penggalan lirik yang tadi belum ia selesaikan. Gwen memperhatikan Billy dengan perasaan bingung. Dia berpikir bahwa adiknya yang egois itu selalu suka menumpahkan apa yang telah dia alami ke dalam lirik. Gwen merasa kalau Billy cocok menjadi seorang musisi, karena ia telah memperlihatkan bakatnya secara langsung kepada Gwen. Hanya saja orangtua mereka tidak mengetahuinya.
Billy sudah menulis lagu selama 2 tahun ini. Ia memulainya ketika ia sudah lancar memainkan chord-chord Gitar. Itupun ia pelajari secara otodidak. Gitarnya saja merupakan hadiah dari Gwen waktu ia berulang-tahun di umur 13.

Sementara Gwen, ia cukup pandai memainkan Flute. Ia pernah mengikuti sekolah musik saat kecil. Dan sekarang tidak lagi, karena Gwen merasa sudah bosan dan berpikir tidak ada kemungkinan untuk membentuk satu band. Dan satu alasan kenapa ia lebih memilih berhenti adalah karena ia belum pernah melihat band beranggotakan Flute. Kalaupun ada, paling-paling seperti The Corrs, di mana Andrea Corr sebagai seorang vokalis sambil bermain Flute di tengah-tengah musik yang mereka mainkan. Karena itulah ia hampir putus asa. Tapi sampai sekarang ia menganalisis bahwa ada beberapa band yang sedang populer akhir-akhir ini harus terdiri dari syarat-syarat berikut ini:

1. Vokalis dengan wajah yang menarik.
2. Anggota lainnya terdiri dari gitaris, bassis, dan juga drummer. Kalo bisa sih punya wajah
3. menarik juga kayak vokalisnya.
4. Mempunyai lagu-lagu bertemakan cinta biar laku di pasaran.
5. Harus punya skill yang bagus, tapi kalo nggak jago dalam berskill permainan, jago di skill tampang boleh juga kok.
6. Aransemen yang nggak sukar untuk didengar oleh masyarakat, malah terkesan minimalis biar semua rakyat bisa menikmatinya.
Semua itu sangat melelahkan bagi Gwen untuk mencari format band seperti yang di atas. Dan sampai sekarang ia masih mencari jalan keluarnya.
Evan dan Olive

Adalah Evan dan Olive yang sedang kebingungan mencari seorang teman baru di Jakarta. Mereka baru saja pindah dari Bandung, dan sekarang kakak-beradik ini tinggal di Matraman Dalam III, tepatnya di Jalan Dempo Nomor 12. Jauh sekitar 4-5 kilometer dari tempat Billy dan Gwen berteduh, kakak-beradik Evan dan Olive, kedua orangtuanya serta pembantunya yang ikut dengan kepindahan mereka, berjalan di tengah-tengah keramaian orang; tepatnya di Pasar Cikini, tampak sibuk dengan masing-masing paper bag yang dibawa berjalan sambil berpayung. Rupanya mereka habis berbelanja. “Van, beda banget ya, nggak kayak Bandung!” ujar Olive, matanya melirik sana-sini selayaknya gadis polos pada umumnya. “Ya gitu deh...” Evan membalas dengan singkat. “Pokoknya, kalian jangan nakal kalo tinggal di sini! Nggak boleh sembarangan bergaul sama orang-orang di sini!” kata Ayah.
“Iya, Papamu bener lho! Dengerin tuh, Van, Lif!” Ibu mereka ikut-ikutan menasihati mereka. Olive mengangguk. Evan diam saja. Matanya lurus saja memandang jalan. Melihat sikapnya yang acuh, Ayah menegurnya. “Van, denger nggak apa yang Papa omongin?” tanya Ayah tegas. “Iya, denger...” jawab Evan datar. Ayah dan Ibunya menggeleng-gelengkan kepala. Ibunya berbisik kepada Ayah, “Mungkin belum terbiasa, Pa...”

Evan masih merasa asing terhadap lingkungan barunya, sedangkan Olive sudah berani berkeliling sampai ke taman komplek dengan sepeda untuk melihat lingkungan barunya. Hal ini dilakukannya sehabis pulang dari belanja bersama tadi, padahal orang-orang di rumah sibuk mengurus barang-barang yang akan datang dari kurir ekspedisi nanti. Memang dasar anak polos...

Di taman bermain itu, Olive melihat banyak anak-anak kecil dan orang-orang di atas sebayanya bermain di sana. Di taman itu banyak ayunan dan permainan anak kecil lainnya. Ditambah lagi kalau sore tiba, pedagang-pedagang banyak yang lewat dan mangkal di depan situ. Mulai dari penjual Es Asem, Susu Sapi, Cakwe, Cimol, Cireng, Bakso, Mie Ayam, dan... ah, pokoknya masih banyak lagi! Olive merasa lapar melihat anak-anak kecil melahap jajanan tersebut.
Gara-gara ngiler, gadis itu menghampiri gerobak Mie Ayam. “Mas, Mie Ayamnya satu, ya!” sahut Olive, ia duduk di bangku plastik dan menaruh lengannya di atas meja kayu yang lumayan panjang. Tidak lama kemudian, Mie Ayam datang ke meja Olive. “Nih, Mie Ayamnya, Mbak. Kalo kepengen nambahin saosnya tinggal bilang Mas aja ya,” Penjual itu menaruh mangkok beraroma khas tersebut di depan tangan Olive. “Mbak, kayaknya orang baru, ya? Saya baru liat situ di sini. Tinggal di mana, Mbak?” tanya Penjual Mie Ayam itu sambil tersenyum ramah. “Iya, Mas. Saya tuh baru tinggal di sini. Baru dua hari yang lalu gitu deh... Saya baru tau ada taman di sini, ya udah saya maen aja... iseng, Mas! Ngomong-ngomong ini taman apaan sih?” jelas Olive, sambil mengaduk-aduk mienya. “Namanya Taman Amir Hamzah, Mbak. Tapi orang-orang seringnya manggilnya, Plangsun!” jelas Mas Mie Ayam, menaruh tempat sambal di samping mangkuknya.

“Ooh,... Oh iya, saya Olive! Mas namanya siapa?” Olive menawarkan jabatan tagannya. “Saya Wahyu, Mbak! Wah, nama Mbak kayak pacarnya Popeye aja...!” ujar Mas Wahyu, tertawa geli. “Ah, Mas Wahyu bisa aja! Ngomong-ngomong jangan manggil Mbak dong... Emang saya Mbak-Mbak Jamu!” kata Olive. Mas Wahyu langsung tertawa.

“Ah, bisa aja Mbak.. eh, maksudnya De’ Olive!” Akhirnya mereka berdua malah ketawa-ketiwi nggak jelas.
***
“Van, lagi ngapain?” tanya Olive, mengintip Evan yang sedang duduk di depan komputernya dengan konsentrasi penuhnya. Tangannya sibuk memencet keyboard. “Balesin email dari temen-temen,” katanya singkat. “Ama chatting...”
Olive langsung mengerti. Evan merasa kangen dan homesick akan Bandung. Papa, Mama, dan Olive sudah merasakan hal itu ketika baru tiba di Jakarta beberapa hari yang lalu. Karena merasakan hal yang sama, Olive mencoba bertanya kepada kakaknya itu. “Ngomong-ngomong, lo kangen nggak ama temen-temen?” tanya Olive. Dengan spontan, Evan menjawab, “Ya iyalah! Lo nggak tau, gue lagi ngapain sekarang?! Gue lagi ngebales email temen-temen,”

“Indra, Chika, Adam, Sari, pokoknya semuanya deh!” Evan menjawab dengan keras. Sepertinya ia masih merasa tertekan dengan kepindahannya. Ia merasa tak punya teman lagi, rasanya hanya merekalah sahabatnya. “Lo nggak boleh tergantung ama mereka lagi, Van! Lo harus jalan terus... Yang namanya pertemuan pasti ada perpisahan. Lagipula nggak lo doang, gue juga sama kayak lo!” jelas Olive, menceramahi kakaknya. Padahal sebenarnya Olive cuma ceplas-ceplos saja. “Terus gue harus gimana, Olive?!” tanya Evan dengan nada tertekan. “Sekarang kan jaman udah canggih, mendingan lo cari temen baru kek lewat internet. Yaah, make a new relation dong!”

Evan terus memandang Olive. Tiba-tiba saja dia tersenyum.

“Kenapa lo? Gila kali lo, ya?!”
Ada yang Baru Pindah?
Mobil Gwen dan Billy meluncur masuk ke garasi rumah nomor 24 di Jalan Dempo. Supirnya, Pak Jono, langsung mematikan mesin. Kedua anak itu bergegas menuju keluar halaman rumah. Ia melihat mobil pengangkut barang-barang yang lazimnya digunakan untuk membantu urusan kepindahan tersebut terparkir di samping rumah bertingkat dua yang berada di depan rumah mereka.

“Akhirnya, laku juga tuh rumah! Keluarga siapa yang nempatin, ya? Ada cowok gantengnya nggak, ya? Anaknya gitu... Hahaha!” ujar Gwen, kegirangan sendiri sambil memandang kurir-kurir itu mengangkat sofa yang diambil dari dalam mobil besar tersebut. “Nih anak ganjen banget sih?! Jangan ngarep dulu, Gwen! Entar kalo yang tinggal di situ taunya Om-Om, gimana lo? Mau dipacarin juga gitu?” ledek Billy, menyeringai seram di depan wajah Gwen. “Sialan... Mending buat lo aja!” Gwen mendorong wajah Billy dengan tangannya. “Gue jadi brondongnya dong?” Billy mencibir dengan nada menirukan seorang gay. Mereka malah tertawa membayangkan hal itu.
Chatting Sama Tetangga Sendiri
Waktu terasa bergulir begitu cepat ketika Gwen telah terjaga dari tidurnya. Dia langsung bergegas lari ke depan jendela kamarnya. Gwen membukanya dengan penasaran. Cahaya matahari dengan awan merah berupa lembahyung itu seakan-akan menertawai Gwen yang saat itu kelihatannya panik.

“Mati gue! Udah jam berapa ya sekarang?” pikir Gwen sambil melihat jam tangannya yang tidak sengaja terbawa tidur dengannya.

Waktu menunjukan pukul 18.12 sore, Gwen langsung berlari ke kamar Billy. Niat Gwen adalah membangunkan Billy yang mungkin saja masih tertidur dan lupa akan acaranya nanti malam, tetapi dugaan Gwen salah. Saat Gwen memasuki kamar Billy, ia mendapatkan Billy sudah rapi dengan t-shirt hitam, celana jeans abu-abu serta tidak lupa dengan sepatu kets hijau mudanya. Posisi Billy saat itu sedang duduk di kursi sambil bermain komputer.
“Bil, lo udah rapi, ya...?” tanya Gwen dengan perasaan. “Iya, lo lihat sendiri kan gimana gue sekarang? Udah, cepetan lo mandi... Lo yang punya janji juga, malah ngaret!” tegas Billy sambil menengok ke arah Gwen. “Si Arby nanya, lo udah bangun apa belom? Nih, sekarang lagi chat bareng ama dia!”
“Terus, lo bilang apaan ke Arby?” tanya Gwen.

“Gue bilang aja lo masih tidur. Gue bilang, lo itu kalo tidur susah dibangunin!” ledek Billy. “Aduuh, nggak usah ngomong yang macem-macem deh! Ya udah, bilang ke Arby, gue mao mandi dulu! Nggak lama kok! Udah dulu ya, gue mandi dulu!” kata Gwen yang langsung melesat keluar dari kamar Billy.

“Iya, nggak lama kok cuma seabad!” gumam Billy dengan pelan. Billy mengambil ponselnya yang tergeletak di samping komputernya.

“Arby, ini gue Billy,” Billy menjepit telepon itu dengan telinga dan bahunya. Ia masih asyik menekan tuts keyboard komputernya.

“Gwen lagi mandi. Kayaknya kita sabar aja ya nungguin Si Ratu Pesolek?” tanya Billy. Tawa Arby terdengar dari speaker phone-nya Billy.
“Iye, tenang aje, Bos! Kita online aje sambil nungguin Gwen!” ujar Arby yang telah mengakhiri pembicaraan di telepon.

Billy kembali sibuk dengan chat room-nya di Indie Music Lover itu. Tiba-tiba saat Billy dan Arby sibuk membalas pesan, ada orang yang mengirim Instant Message. Mereka menanyakan band kesukaannya dan sekaligus namanya, karena di situ hanya ada nama emailnya yang tercantum di pesannya yang bertuliskan Winter_13. Tidak lama kemudian, orang itu menjawab “Oi, gue Evan!” di kolom chatting. Billy dan Arby menanyakan ASL ( Age, Sex, Location). Dia menjawab: 16, cowok, Matraman Dalam III. Anak itu mengirim pesan lagi:
‘gue demen banget ama The Smiths ama Pulp, btw gue baru pindah nih dari Bandung...hehe J’.
Billy yang rumahnya juga di Matraman Dalam III secara spontan kaget dan berhenti menekan tuts keyboard. Ia langsung menelepon Arby. “By, rumahnya deket ama rumah gue!” jelas Billy, menggaruk-garuk kepalanya. Di lain sisi, Arby yang sedang mengangkat telepon itu merasa heran.

“Iya, Bil. Gue aja nggak nyangka... Eh, ajak nongkrong bareng ama kita aja! Baru pindah, kan? Pasti tuh anak belom punya temen!” Arby mengirim pesan untuk mengajak Evan.

“Wah, gue nanya alamat dia aja kali, ya?” pikir Billy. Anak itu menanyakan Evan lagi. Evan langsung menjawab dengan cepat. “Jalan Dempo 12.”

Billy yang langsung menerima pesan itu tercengang. “12... Lho... Itu kan rumah depan yang baru pindahan!” kata Billy dengan keras. Tangannya memukul meja. Dia tertawa geli. Ia langsung pergi ke balkon untuk melihat rumah Evan. “Oh, dia toh yang baru pindah!” gumam Billy, meninju udara. Ia bergegas ke meja komputernya lagi dan mengetik,
Sekarang lo pergi ke balkon rumah lo deh! Kita tuh tetanggaan... GOKILL! Pergi membunuh...’
Billy menunggu ‘anak baru’ itu di depan balkon. Tidak lama kemudian, seorang anak laki-laki bertubuh tinggi, berambut acak-acakan, memakai t-shirt coklat itu celingak-celinguk. Billy langsung meneriakinya, “Wooii... Ini gue Billy! Kita tetanggaan, Pren!”

Evan langsung nyengir dan berteriak, “Gokil, gokil...! Eh, temen lo ngajakin nongkrong bareng? Beneran nih?” teriak Evan, masih berdiri di atas balkon. “Bener! Lo siap-siap aja, Van! Entar kita langsung jalan, oke!” jelas Billy, mengacungkan dua jempolnya sambil berjalan mundur. Evan pun melambaikan tangannya dan berjalan mundur untuk kembali ke kamarnya.

Pada saat itu juga Gwen datang lagi dengan wujud yang ‘tak biasanya’. Rambut hitamnya yang biasanya dikuncir, digerai sehingga membuat gaya harajukunya kemana-mana. “Ayo, cepetan, Bil! Bilang ama Arby, gue udah siap nih!” perintah Gwen.
Billy mengangguk-angguk. Ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Gwen. “Gwen, gue mao cerita ama lo... Tapi entar aja deh! Biar surprise buat lo ama Kelly... Hehe!” kata Billy, berjalan meninggalkan kamarnya. Gwen mengikutinya dari belakang.

“Mao cerita apaan, Bil?”

“Entar aja, biar lo aja yang ngeliat sendiri!” ujar Billy, menyeringai seperti biasa kepada Gwen. Gadis itu jadi bingung campur penasaran.
1st Chapter by Wezy

Read More ......

Wednesday, May 21, 2008

Pelangi Ke Tujuh

-

Perkenalkan namaku ... Nazwa Palydia Arahma umur 21 tahun, aku kuliah di Universitas Menolong Sesama Jurusan Pembantu Dokter. Aku memiliki sifat plin-plan, ½ penakut, 80 % malankolis, labil, keras kepala, mempunyai hobi paling aneh sedunia : MENGHAYAL pe berjam-jam, sangat suka aneka sayur-sayuran (tapi kenapa aku tak memiliki tubuh proposional), memiliki bakat alami sebagai penyair abad kegelapan (tapi tak pernah menelurkan satu karya pun ke khlayak umum), berkpribadian manja dan kekanak-kanakan ( bila sedang bersama pangeran kodok tentunya), tapi terkadang dalam keadaan mendesak bisa berevolusi menjadi gadis gila penuh selera jail tingkat tinggi.

Aku mempunyai seorang pacar, ups ... bukan pacar tapi tepatnya ½ pacar, karena statusku saat ini digantungkan. Menyebalkan memang. Nama laki-laki itu Raga Aryadinata , usianya 25 tahun. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Pi alias Papih (silakan anda semua muntah mendengar panggilan nora kita berdua).

Pi mempunyai gelar Ir. Beton, bekerja sebagai konsultan di PT Pembangunan Industri, perusahaaan yang bergerak dalam bidang rancang bangun, pengadaan, konstruksi dan uji-coba operasi (EPCC) untuk pabrik-pabrik industri besar di Indonesia, meliputi pabrik-pabrik pada industri: gas, panas bumi, kilang, petrokimia, mineral, pengelolaan lingkungan, dan infrastruktur. Selain itu, perusahaan inipun menyediakan jasa untuk studi kelayakan proyek/pabrik dan perawatan pabrik. (ah ... saking cintanya ... aku sehapal ini tentang kerjaanya).

Raga Aryadinata laki-laki sempurna yang pernah aku temui. Wajahnya sedikit mirip nicolas saputra bila dilihat dari jarak 5 meter, rambutnya sedikit ikal, kulitnya lumayan putih, bibirnya tipis, badannya tidak kurus tidak pula kekar, tapi dadanya mampu membuat aku tenggelam hanyut kedalamnya. Pi memiliki hati sebening embun pagi (tentunya sebelum perlakuannya terhadapku sekarang) ditambah dengan sel-sel kelabu yang cukup seksi. Pi termasuk penggila layang-layang dan pencinta pelangi setelah hujan . Kanpas dan cat air adalah media imajinasinya. Pi Paling bisa membuat aku tertawa terbahak-bahak karena selera humornya yang cukup tinggi, mungkin itu salah satu alasan kenapa aku begitu cinta mati sama dia. Namun saat membicarakan keseriusan, pi bereinkarnasi menjadi bocah kecil yang kekanak-kankan, bagi pi pernikahan adalah gerbang paling menakutkan.
Sekarang sudah jam 23.25 menit. Aku beranjak dari tempat tidur paling malas sedunia, mencoba untuk menyaksikan langit dari balik jendela kamarku. Rasanya sudah lama aku tak memandang langit dalam suasana hati paling mengerikan seperti ini. Semuanya menjadi terlihat dramatis, sunyi, senyap, pilu, takut, mencekam. Kalau harus digambarkan ... aku seperti Hary Potter. yang begitu ketakutan karena dihantui para mahluk dementor yang melepaskan diri dari penjara Azkaban yang berniat mencuri seluruh kenangan ayah dan ibunya. Apakah dementor akan mencuri kenanganku tentang Pi?

Malam ini langit begitu kelam, bintang-bintang sama sekali tak menunjukan sinarnya, mungkin sinarnya telah hilang dan pergi di curi penyihir malam. Panorama bulan hilang entah kemana, mungkin dia sedang gundah atau sedang meratapi nasibnya karena tak pernah jua bertemu dengan matahari kesiangan. Lelah ... lelah ... mungkin itu yang ada dalam pikiran bulan saat ini, kenapa takdir tak pernah mempertemukannya dengan matahari. Menunggu memang pekerjaan paling menyebalkan. Sama seperti aku yang begitu lelah menunggu ketidakpastian ini.

Mungkin DEMENTOR memang mulai datang dalam hidupku, tepatnya malam ini. Dia mulai mengirimkan bunyi-bunyi paling menakutkan, diawali dengan bunyi petir yang saling berteriak nyaring mengungkapkan kemarahannya, dilanjutkan dengan suara halilintar yang bersemburan kilatnya, diiringi dengan suara langit yang semakin bergemuruh seraknya, ditambah aroma gelap yang semakin mencekam yang kini mulai memasuki seluruh pikiranku.

Apakah ini pertanda hujan akan turun? Hujan ... Hujan ... Hujan ... Kenapa mesti turun hujan. Ada apa sebenarnya dengan langit? Kenapa langit harus begitu menakutkan seperti ini, kenapa? kenapa mesti ada petir? Kenapa mesti ada halilintar? Kenapa bintang mesti tak bersinar? Dan kenapa aku mesti bersedih seperti ini? Apakah Langit ikut bersimpati dengan kesedihanku?
Dan tepat disaat air hujan itu mulai turun, disaat itu pula aku meneteskan tetesan air mata yang tak bisa terbendung lagi. Sungguh begitu memuakan ... aku begitu pengecut, aku begitu menyedihkan, aku tak berani menatap hujan, aku tak berani menantang petir dan halilintar, yang aku lakukan hanyalah ... BERLARI - MENUJU TEMPAT TIDUR - BERSEMBUNYI DALAM SELIMUT TEBAL – MENANGIS SEORANG DIRI.
Ironis ... aku menangis dengan cara yang sudah lama tak pernah aku lakukan, aku sesengukan, terisak begitu keras, rasanya seperti tercekik, sakit untuk bicara, sesak, tak ada udara, kira-kira aku mirip penderita asma kronis yang begitu memerlukan inhalasi untuk melegakan saluran pernapasannya. Air mata bergulir diwajahku. Aku benci harus menangis seperti ini, aku muak merasakan suasana hati seperti ini. Rasanya aku ingin mati saja, dari pada merasakan PATAH HATI PALING MENGERIKAN SEPERTI INI.
Dan Orang yang membuatku menangis seperti ini tak lain dan tak bukan adalah Laki-Laki -Yang –Tak- Boleh –Aku-Sebut- Lagi-Namanya.
Laki-laki yang telah memberikan pelangi terindah sepanjang zaman, namun dia juga yang memberikan awan gelap paling hitam. Laki-laki yang telah membawaku melintasi langit tinggi bintang-bintang, namun dia juga yang melemparkan aku ke jurang paling dalam.
1st chapter by Ratih Kartikasari

Read More ......

Friday, May 9, 2008

Cokelatulip

-

PROLOG
Siang hari ketika sang matahari sedang malas memancarkan sinarnya dan sepertinya lebih memilih untuk menyelimuti dirinya dengan awan yang gelap, di sebuah sekolah menengah pertama negeri di daerah Jakarta Pusat.

Terlihat empat orang siswi berseragam putih biru tua sedang berjalan bersama-sama. Wajah mereka tampak pucat karena resah akan sesuatu. Mereka terus berjalan melewati berbagai koridor yang ada disekolah itu dengan posisi badan menunduk, pandangan mata terus memandang ke bawah dan mata yang bergerak ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu. Mereka sudah terlihat lelah, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan berhenti berjalan. Sesekali tangan mereka membersihkan keringat yang bercucuran dari wajah dan leher mereka yang membuat seragam mereka jadi basah. Suasana sekitar semakin gelap dan lampu-lampu sekolah yang biasanya hanya dinyalakan pada malam hari kini telah dinyalakan oleh para penjaga sekolah.

“Atya... udah ketemu belum?” kata seseorang di antara mereka sembari matanya melihat ke bawah mencari sesuatu. Tampaknya dia sudah sangat lelah.

“belum…” jawab Atya yang terlihat lebih resah dibandingkan ketiga temannya.

“bentuknya gimana sih?” tanya temannya yang lain.

“yah… kertas… warna putih… robekan dari buku gitu… kayak… kertas coret-coretan dech…” jawab Atya lagi yang kali ini sambil memegangi rambut hitam panjangnya yang agak berantakan karena sejak tadi dimain-mainkan oleh angin.

“tadi memang lo taruh mana? Kok bisa ilang?” tanya teman Atya yang lain.

“tadi ada di atas meja gue. Gue tinggal gitu aja waktu kita mau jalan ke kantin. Pas balik, udah nggak ada. Mungkin ketiup angin jadi terbang nggak tau kemana. Aduh… bisa kacau nich kalo ketahuan dia” kata Atya dengan wajah semakin pucat dengan mata yang terus melihat kesana kemari mencari sesuatu.

“lo sembarangan sih nulis-nulis begitu…” kata temannya dengan agak emosi.

“iya… maaf banget ya… maaf” kata Atya sambil berjalan mundur karena bermaksud untuk memandang ketiga temannya yang sedang mengajaknya bicara.

Tiba-tiba…

“ATYA AWAS…!!!” kata ketiga teman Atya serentak.

“BBBRRRUUUK…!!”

Tubuh Atya sukses bertabrakan dengan seorang murid pria di belakangnya. Atya membalikkan badan, melihat wajah siapa yang tak sengaja ditabraknya. Mendadak bola mata Atya membesar karena terkejut. Wajah Atya yang sebelumnya sudah pucat karena cemas belum juga menemukan barang yang dicarinya menjadi semakin memucat ketika melihat pandangan sinis dari orang yang baru saja ditabraknya.

“eh… maaf... maaf..., nggak sengaja…” kata Atya dengan ramah tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulut orang yang bertabrakan dengannya itu.

“eh... Lo nggak apa-apa khan? Emm… permisi ya…” kata Atya lagi dengan agak ketakutan sambil berusaha melewati orang itu. Atya berusaha berjalan menjauh secepatnya dari orang itu untuk menghindarinya.

“lo cari ini?” kata pria yang semula bertabrakan dengan Atya tiba-tiba bersuara sambil menunjukkan secarik kertas berwarna putih dalam genggaman tangannya setelah Atya berjalan menjauh beberapa meter dari orang itu.

Atya memalingkan wajahnya,

“DUAR...!!!” tiba-tiba suara petir menggelegar memekakan telinga.

“habis sudah hidupku sekarang…” kata Atya dalam hati ketika melihat kertas yang digenggam pria itu. Kertas yang sudah ia cari bersama ketiga temannya selama hampir satu jam ini, ternyata telah ada pada orang yang paling tidak diharapkannya.

“i… iya…” kata Atya dengan lemas. Matanya memandang ketakutan pria itu.

“bisa kita bicara?” tanya pria itu masih dengan pandangan sinis. Atya tau, ini sebenarnya bukan pertanyaan, tapi ini perintah agar mereka berdua berbicara.

“bi… bisa” jawab Atya dengan agak ragu-ragu sambil berjalan mendekati pria itu bersama ketiga temannya yang saling berpandangan satu sama lain.

“cuma Empat Mata!!” kata pria itu menegaskan perkataannya sambil memandang sinis ke arah ketiga teman Atya.

“oh… ok. Emm… kalian bertiga balik ke kelas duluan aja ya… Gue masih ada urusan di sini” kata Atya mencoba tersenyum walaupun terlihat agak dipaksakan.

“tapi…” kata salah seorang dari teman Atya terlihat tidak rela meninggalkan Atya hanya berdua dengan orang yang jelas sekali akan membuat Atya menderita.

“udah… nggak apa-apa” kata Atya berusaha menunjukkan ekspresi tenang.

Kemudian, walaupun awalnya ragu akhirnya ketiga teman Atya pun pergi dengan pasrah meninggalkan Atya untuk berbicara berdua dengan pria sinis itu.

“ok, sekarang kita bisa bicara” kata Atya sambil berusaha memberanikan diri memandang mata pria itu walaupun dari tadi keringatnya tak berhenti bercucuran. Jelas sekali Atya takut pada pria itu, setidaknya cukup hingga membuat tubuh Atya menjadi sedingin es, lebih dingin daripada angin yang sejak tadi bertiup disekitarnya.

“apa maksud lo, dengan nulis kata-kata dalam kertas ini?” tanya Pria itu.

“gue cuma…” kata Atya yang langsung dipotong oleh pria itu.

“cuma apa? Mau mempermalukan gue di depan umum huh?” kata Pria itu.

“mempermalukan lo di depan umum? Maksud lo?” kata Atya kebingungan.

“isi kertas ini di baca di depan kelas gue!! Puas lo?!” kata Pria itu.

“apa?! Di depan kelas kata lo?” kata Atya dengan wajah sangat terkejut.

“udahlah… lo nggak usah pura-pura kaget. Ini semua rencana lo khan? Gue yakin sekarang lo pasti seneng, karena semua orang tau kalo lo suka sama gue. Mereka sekarang lagi ngetawain gue. Ini khan yang lo mau?!” kata Pria itu kesal.

“nggak-nggak… gue nggak pernah punya maksud itu… maaf... Gue nggak sengaja... Sumpah!” kata Atya dengan mata yang berkaca-kaca tergenang air mata.

“heh, ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya, denger baik-baik! Gue muak sama lo! Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama lo karena gue nggak pernah ngerasa akrab sama lo, sahabatan sama lo, bahkan kenal sama lo aja enggak. Jadi berhenti ganggu hidup gue! Ngerti lo?!” kata Pria itu sambil merobek-robek kertas itu, melemparnya langsung ke muka Atya lalu segera berjalan pergi meninggalkan Atya.

Air mata Atya langsung deras keluar dari matanya. Ia sudah tak dapat menahannya lagi. Atya terus menangis sambil memungut sobekan kertas dihadapannya satu persatu. Ia menangisi nasib cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan. Ia menangisi kebodohannya yang menulis-nulis pernyataan cinta dikertas coret-coretan saat pelajaran kosong sebelum bel istirahat tadi. Ia juga menangis karena malu dengan pandangan beberapa murid yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Mungkin mereka tidak mendengar perkataan kasar pria itu pada Atya, tapi yang pasti mereka melihat jelas pria itu melemparkan potongan-potongan kertas itu langsung ke wajah Atya.

Langit yang semula kelam sekelam suasana hati Atya saat ini tiba-tiba saja berubah menjadi hujan deras dan angin kencang disertai petir yang terus menyambar-nyambar seakan ingin menemani kesedihan Atya saat itu.

“tega-teganya… seorang Rio, cinta pertama gue, cowok yang paling gue cintai selama ini berbuat gini ke gue” kata Atya lirih dalam hati.

Tiba-tiba…
“TOK... TOK... TOK…” suara pintu kamar Atya diketuk seseorang.
“ATYA… BANGUN!! UDAH PAGI!!” kata seorang pria dari luar kamar Atya.

Atya terbangun dari mimpi buruknya. Tangannya membersihkan wajahnya yang ternyata basah dengan air mata. Keringatnya masih bercucuran dan nafasnya pun menderu. Atya benar-benar menangis dalam tidurnya, ia seperti benar-benar sedang mengalami hal itu beberapa detik yang lalu. Atya masih duduk di atas tempat tidurnya. Tangannya bergerak untuk menyeka keringatnya yang bercucuran dengan piyamanya. Atya masih merenungi mimpinya…

“ARRRRGGGHH!! mimpi buruk itu lagi!! Udah satu tahun kejadian itu berlalu tapi kenapa gue nggak pernah bisa lupa?! Kenapa? Kenapa!!!” kata Atya dalam hati.

Atya mendadak kesal dan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. Kakinya ia hentakkan ke kasurnya berkali-kali.

“GUE SAKIT HATI...!!! GUE MALU....!!!” kata Atya dalam hati.

Mimpi Atya itu memang kejadian nyata yang pernah Atya alami ketika ia masih duduk di bangku SMP. Kejadian buruk yang ia alami bersama Rio, pria yang sangat ia cintai dan impikan tetapi tak pernah sedikitpun mencintai Atya. Kejadian itu sungguh membuat Atya sangat tertekan hingga terus terekam dalam otaknya dan sudah sering kali hadir menjadi mimpi buruk dalam tidurnya meskipun kejadian itu telah berlalu sangat lama. Robekan-robekan kertas yang dilempar pria itu ke muka Atya bukan hanya membuatnya sakit hati tapi juga membuat harga dirinya terobek-robek tanpa ampun.

“ WOI… ATYA JELEK BANGUN… !!! Udah jam setengah tujuh...!! Hari ini mau masuk sekolah nggak lo?” kata pria di luar sambil kembali mengetuk pintu kamar Atya menunggu jawaban dari empunya kamar.

“iya… sebentar... Gue udah bangun...” kata Atya, dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, sambil beranjak dari tempat tidurnya. Atya segera bangun dan mempersiapkan peralatan mandinya. Walaupun ia tau kalo orang yang di luar kamarnya itu berkata ‘udah jam setengah tujuh’ berarti sekarang masih jam setengah enam. Awalnya Atya memang tertipu perkataan orang itu yang memang sengaja menambah satu jam dan kenyataannya agar Atya bisa segera bangun. Tapi sekarang, walaupun Atya tau dia telah ditipu, tapi dia telah terbiasa untuk segera bersiap seakan mau terlambat sekolah ketika jam beker raksasa, bernyawa dan berwujud manusia itu mulai berteriak untuk menariknya dari alam mimpi.



BAB I (PERJANJIAN BERSYARAT)

SMU ANGGREK, Sebuah sekolah di Jakarta Pusat dengan predikat yang cukup baik. Gedung sekolah mereka bertingkat dua lantai. Meskipun berada ditengah kota, sekolah ini terasa jauh lebih nyaman dan sejuk di banding sekolah-sekolah lain pada umumnya. Lapangan dan areal tamannya cukup luas, banyak sekali pohon hijau yang rindang di sana. Lingkungan sekolah itu selalu terlihat bersih dan tanaman-tanaman hijaunya juga tertata rapi sehingga membuat kesejukan alami di sekolah yang bercat hijau putih itu. Tampaknya penjaga sekolah cukup bekerja keras merawat sekolah itu.

Petang itu di sebuah sudut gelap diantara lorong kelas yang letaknya tak jauh dari lapangan Basket, terlihat terdapat tiga orang siswi berbaju putih kelabu yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang siswi yang lain membicarakan sesuatu…

“Atya Apsarini Candraningtyas… hmm… nama lo sich bagus tapi sayangnya kelakuan lo nggak sebagus nama lo. Kecentilan!” kata seorang murid wanita sambil mendorong pundak Atya dengan telunjuknya.

“ah Kakak bisa aja sich, enggak kok Kak… saya biasa-biasa aja” jawab Atya tetap sambil tersenyum riang tanpa rasa takut sedikit pun.

“heh diem, gue tuh nggak lagi memuji lo. Ngerti nggak?” kata murid wanita itu.

Atya hanya diam sambil memandang dengan ekspresi seperti orang bodoh.

“heh kok diem? Jawab! ngerti nggak?!” kata murid wanita itu.

“oh, sekarang di suruh jawab, tadi di suruh diem. Saya jadi bingung Kak”

“iya, jawab!” kata wanita itu yang jadi semakin kesal karena sikap bodoh Atya.

“iya, saya ngerti. Tapi kecentilan gimana nih maksud Kakak?” kata Atya heran.

“kecentilan sama Bryan!” kata wanita itu sambil matanya melotot.

“ah… enggak kali Kak… sebenernya yang centil itu Kak Bryan Kak… dia tuh yang selalu datang ke kelas saya setiap jam istirahat. Dia suka bercanda gitu, lucu banget deh dia. Hahaha...” kata Atya sambil tertawa seakan tak ada masalah apa-apa.
“aduh… pusing dech gue ngomong sama ini anak, nggak ada takut-takutnya sama kita coba. Udah Vera, lo aja dech yang ngomong sendiri” kata murid wanita itu.
“memangnya maksud Kakak apa sich? Bener dech Kak... saya jadi makin bingung nich...” kata Atya dengan wajah tanpa ekspresi lain selain pura-pura bodoh.
“gini ya, lo denger baik-baik. Bryan itu udah jadi gebetan gue sejak kami masih sama-sama kelas satu. Dia cuma haknya kelas tiga, gue ulangi KELAS TIGA! Dan kelas tiga itu gue, bukan lo! KELAS SATU!” kata Vera dengan menekankan nada bicaranya pada kata kelas tiga dan kata kelas satu.
“trus?” tanya Atya dengan pandangan kosong seakan-akan benar-benar bingung.
“intinya, lo jangan coba deket-deket sama Bryan lagi!” perintah Vera.

“eh… ada apa nih… kayaknya ada yang sebut-sebut nama gue ya?” tiba-tiba terdengar suara dengan nada yang ramah dari belakang Vera dan teman-temannya. Suara berat yang sering membuat hati wanita manapun meleleh ketika mendengarnya.
Lalu terlihat seorang pria tampan berkulit putih, pipi merona kemerahan dan bermata kecokelatan, dengan tinggi kurang lebih 180cm dan tubuh yang atletis berbalut seragam tim base ball telah berdiri di belakang Vera dan kedua temannya. Tubuh pria itu berkeringat, rambutnya yang agak gondrong pun ikut basah terkena keringatnya, tapi tetap tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun.
“eh… Bryan, udah selesai latihan base ballnya? Pulang sama Vera yuk…” kata Vera dengan nada ramah dan manja sambil tersenyum genit menggoda Bryan.
“HUH… DASAR!! Sekarang sok ramah, tadi galaknya minta ampun” kata Atya mengumpat dalam hati sambil kedua matanya memandang sinis pada Vera.

“enggak makasih, gue pulang sama Atya aja. Ayo sayang… kita pulang. Permisi ya... Semuanya” kata Bryan sambil menarik tangan Atya dan mengajaknya pergi meninggalkan Vera dan teman-temannya.
“dag… Bryan… Hati-hati ya di jalan…” kata Vera sambil tersenyum manis walaupun dalam hati ia sangat kesal karena cemburu pada Atya.

Beberapa menit kemudian…
Bryan dan Atya sudah berjalan cukup jauh dari sekolah mereka. Sekarang mereka telah berada di jalan sepi di areal perumahan yang tak jauh dari rumah mereka. Mungkin tidak sepi sekali hingga tidak ada orang lain satupun, tetapi suasana disana cukup sepi untuk membicarakan rahasia yang antara mereka berdua.

“udah lepasin, ngapain ngegandeng gue terus. Kalo orang liat, ntar pasaran gue bisa turun nich!” kata Atya dengan nada bercanda sambil mengibaskan tangannya.

“oh iya, lupa. Yee…, yang ada juga pasaran lo naik gara-gara mereka liat lo jalan sama cowok seganteng gue” kata Bryan yang kemudian melepaskan gandengannya pada tangan Atya.

“iiiihh... Ganteng di liat dari mananya... lagi” kata Atya dengan nada bercanda.

“oh iya jelas, semua orang mengakui kalo gue ini ganteng. Asal lo tau, di dunia ini cuma lo aja yang nggak sadar kalo gue ganteng. Kayaknya lo besok perlu periksa kemampuan penglihatan lo ke dokter mata dech... Hehehe” sahut Bryan.

“oh yeah… Whatever… Udah ah, tadi gue khan udah bantuin lo. Sekarang cepet penuhin janji lo, udah capek banget nich… Gendong gue sampe rumah!” kata Atya.

“harus sekarang? Nanti aja ya… gue capek banget nich” kata Bryan memelas.

“uh… rugi gue udah capek-capek pulang sekolah langsung nungguin lo latihan base ball sampe jam segini, dimarahin sama Vera sama temen-temennya. Eh… sekarang lo ingkar janji. Ah… sebel... sebel... sebel…” kata Atya sambil memonyong-monyongkan bibirnya. Sayang, saat ini bukan sedang pelajaran Matematika atau acara pemecahan rekor MURI. Jika iya, mungkin Bryan akan dengan semangat mengeluarkan penggaris dari dalam tasnya untuk mengukur berapa panjang Atya dapat memonyongkan bibirnya.

“Wah... seru tuch, sampe hari ini berarti udah berapa banyak yang ngomelin lo gara-gara gue?” tanya Bryan penasaran tanpa memperdulikan sikap Atya.

“Dian, Bella, Sonya, Alda, Caroline, Maya, Saras, Mawar, Vera, Dewi… Wah… Gue sampe lupa siapa lagi saking banyaknya” kata Atya dengan nada kesal.

“hahaha, hebat juga lo bisa tahan dibentak-bentak sama segitu banyak orang. Makasih ya sayangku…” kata Bryan sambil mengalungkan tangannya ke leher Atya lalu memberikan sebuah kecupan lembut di rambut Atya.

“uh… coba lo ngebolehin gue untuk ngehajar mereka semua, udah abis mereka ditangan gue. Ciat... Ciat...” kata Atya semakin kesal sambil mengepalkan tangannya, memasang kuda-kuda dan memperagakan salah satu jurus yang dikuasainya.

“eh... eh... eh… jangan… mentang-mentang lo bisa ilmu bela diri ya. Inget, lo cewek… nggak boleh kasar gitu. Jadi cewek yang manis dikit dong…” kata Bryan.

“iya... iya… makanya gue juga selama ini cuma mainin kata-kata aja biar mereka kebingungan sendiri” kata Atya sambil menunduk. Kakinya capek.

“kok lemes banget, capek ya? Ya udah dech... Sini gue gendong” kata Bryan yang kemudian berjongkok tepat di depan Atya.

“asyik… gitu dong, khan gue capek” kata Atya tersenyum kegirangan dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan langsung melemparkan dirinya punggung Bryan.

“iya…” kata Bryan pasrah mengangkat beban tubuh Atya yang jelas jauh lebih berat dari sekarung beras yang paling besar sekalipun itu.

Tak lama kemudian…

“eh, sandiwara kita ini kapan selesainya sich?” tanya Atya sambil tetap bertengger di punggung Bryan yang kuat.

“mungkin… sampai lo terima rapor semester satu” jawab Bryan.

“yah… masih lama dong… Huh, bikin repot aja” balas Atya malas.

“ya iyalah… baru juga sebulan. Kenapa, emang lo nggak seneng?” tanya Bryan.

“hidup kayak gini apa enaknya coba?” kata Atya kembali memonyongkan bibir.

“tapi perjanjian kita udah adil khan? Gue jadi punya temen yang nunggu gue latihan base ball supaya nggak terganggu sama cewek-cewek centil itu setiap hari dan lo akhirnya dapetin ketenaran yang lo mau selama ini. Adil khan?” tanya Bryan.

“iya, tapi tenar karena mereka ngira gue ini pacar lo. Itu sich nggak asyik”

“tenang… cuma satu semester, habis itu lo bebas mau ngapain aja. Karena saat itu gue bakal udah mulai sibuk ujian akhir. Lagian, kalo nggak pake cara gini, lo emangnya bisa tenar pake cara apa? Lo punya prestasi apa coba?” tanya Bryan.

“gue? Hmm… bener juga. Tapi tenang nanti gue bakal cari caranya!” kata Atya.

“iya… terserah lo-lah. Yang penting sekarang lo turun, karena udah nyampe rumah” kata Bryan dengan wajah penuh keringat karena kelelahan mengangkat Atya.

“yah… lo gendong gue sampe depan kamar gue ya… khan tadi lo ngegendongnya nggak dari sekolah” kata Atya sambil merengek seperti anak kecil.

“ih… nich anak!” kata Bryan kesal tetapi tidak bisa menolak permintaan Atya.

Sesampainya di depan pintu rumah Atya…

“heh, buka pintunya dong. Tangan gue khan repot megangin lo” kata Bryan.

“iya… awas kepala lo” kata Atya sambil mengulurkan tangannya ke pegangan pintu lalu mengunkitnya kebawah untuk membukanya.

“Mama... Aku pulang…!!” kata Atya begitu masuk ke dalam rumah.

“eh sayang, udah pulang” kata Mama sambil menyaksikan sinetron di televisi.

“ATYA!! Kamu badung banget sich… kok nyuruh kakak kamu ngegendong kamu gitu. Ayo turun!” kata Mama lagi begitu menoleh ke arah Atya dan Bryan.

“iya Mama…” jawab Atya yang langsung turun dari gendongan Bryan.

Bryan pun tersenyum lega karena terlepas dari tugas membawa Atya hingga ke kamar Atya di lantai dua. Sementara wajah Atya berubah cemberut.

“oh iya, Atya sayang… kamu dapet kiriman lagi tuh. Udah Mama taruh di kamar kamu” kata Mama sambil menunjuk ke arah kamar Atya.

“Wah… asyik… makasih Mam…” kata Atya sambil tersenyum cerah lalu segera berlari menuju kamarnya. Rasa lelahnya langsung hilang seketika.

Itulah sedikit cuplikan kehidupan Bryan dan Atya. Kakak beradik yang sangat akrab dan selalu saling menyayangi. Mereka hanya dua bersaudara dan tinggal bersama dengan Ibu kandung dan Ayah tiri mereka yang telah menikah dengan Ibu mereka sejak tahun lalu. Tapi Bryan dan Atya bukanlah pasangan kakak beradik biasa, mereka mungkin memang bukan berasal dari keluarga yang kaya raya tetapi mereka adalah siswa-siswi yang sangat terkenal di sekolah bahkan sejak hari pertama mereka masuk.

Bryan Adwitiya atau yang biasa dipanggil Bryan (18 thn), siswa kelas 3 SMA, sangat tampan dengan wajah yang mirip sekali dengan wajah ibunya yang masih memiliki darah keturunan Belanda. Secara fisik, tubuhnya sangat proporsional dan agak berotot karena hobinya berolah raga, kulitnya putih, rambutnya agak gondong dan matanya berwarna kecoklatan. Sangat berbakat dalam olah raga base ball dan peringkat dua besar juara umum di sekolah. Maka tak heran, Bryan menjadi idaman para murid wanita di sekolah karena segala kesempurnaan yang dimilikinya. Meskipun begitu, tanpa mereka ketahui sebenarnya Bryan adalah tipe pria yang sangat takut pada wanita-wanita agresif yang hampir setiap hari mengejar-ngejar dirinya di sekolah. Karena alasan itulah Bryan akhirnya meminta adiknya, yang sebelumnya belum pernah sekalipun satu sekolah dengannya sejak TK untuk masuk ke sekolahnya dan berpura-pura menjadi kekasihnya selama satu semester.

Atya Apsarini Chandraningtyas, atau biasa dipanggil Atya (16 thn), siswi kelas 1 SMA. Meskipun bersaudara kandung dengan Bryan tetapi wajah mereka sangat berbeda. Atya berwajah mirip sekali dengan mendiang ayahnya yang orang Indonesia asli itu. Rambutnya hitam panjang dan sering dibiarkannya terurai bebas. Atya berkulit sawo matang dan ia juga memiliki sepasang mata bulat yang berbola mata hitam. Atya memang tidak sepintar kakaknya tetapi sifat Atya yang sangat baik hati pada siapa saja, tegas dan selalu ceria membuatnya banyak disenangi teman-teman. Ia mendadak menjadi salah seorang yang paling terkenal di sekolah sejak pertama kali ia masuk, akibat gosip hubungan dirinya dengan Bryan yang sengaja mereka ciptakan sendiri. Akibatnya, banyak yang kakak kelas wanita yang membenci Atya karena cemburu padanya dan akhirnya mereka pun menjadi sangat sering mengganggu Atya.

Malam hari di teras depan rumah…

“jadi berdasarkan penilaian lo gimana?” tanya Bryan dengan wajah serius.
“yang jelas jangan cewek-cewek yang namanya ada di daftar ini dech… terlalu agresif” kata Atya sambil memberikan selembar kertas berisikan puluhan nama wanita yang selama beberapa minggu ini telah mengganggu hidupnya.

“gile… banyak banget. Hebat banget lo, satu bulan udah digangguin sama segini banyak cewek? Emang Adik gue jagoan!” kata Bryan salut dengan wajah terheran-heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ya… gitu dech… ini semua juga gara-gara lo” kata Atya yang kemudian menggigit cokelat yang sejak tadi di genggamnya.

Bryan hanya tersenyum.

“masih banyak lagi nggak? Lo kenapa sich nyuruh gue? Kenapa bukan orang lain aja?” kata Atya lagi sembari mengunyah cokelat dimulutnya.

“gue nggak tau, nggak gue hitung jumlahnya. Eh... kalo gue nggak nyuruh lo, emang gue bisa nyuruh siapa lagi?” tanya Bryan sambil memandang Atya.

“kenapa harus gue? Khan lo sahabatan sama Kak Ranti dari SD, masa’ dia nggak mau bantuin lo sich...” kata Atya yang malah kembali bertanya pada Bryan.

“dia mau aja, tapi gue yang kasihan sama dia. Lo khan tau sendiri, Ranti itu lemah lembut banget, gue nggak tega kalo lihat dia dimarahin orang” kata Bryan.

“hmm… bagus! Giliran gue, adik lo sendiri, lo malah tega! Sopan banget ngomongnya... Terus aja ngomong gitu, Atyanya lagi ke Belanda Bang...” kata Atya.

“Hahaha... bukan gitu, kalo lo khan nggak cewek-cewek banget jadi dibentak-bentak kayak apapun lo juga nggak bakal kenapa-napa. Lagian dengan begini, lo khan gue bolehin minta apa aja dari gue dan lo juga bakal lebih cepet tenar di sekolah kayak impian lo selama ini. Kalo Ranti khan nggak butuhin itu. Satu lagi, banyak yang udah tau kalo gue sama Ranti itu temenan dari SD, rada susah bikin mereka percaya kalo gue ada hubungan khusus sama Ranti” kata Bryan meyakinkan.

“iya juga sich… Tapi semua ini mungkin nggak bakalan terjadi kalo lo nggak terlalu tebar pesona duluan!” kata Atya sambil menunjuk wajah Bryan dengan telunjuk kanannya persis ditengah kedua mata Bryan.

“tebar pesona apaan?!” kata Bryan sambil meminggirkan tangan Atya.

“Gue udah berusaha biasa-biasa aja tapi mereka tetep suka sama gue. Kalo gue jutek, katanya gue cool banget bikin mereka penasaran tapi kalo gue ramah, katanya gue charming banget bikin mereka makin pengen selalu ada di deket gue. Trus mau lo, gue musti bersikap gimana?” tanya Bryan kebingungan.

“hmm… susah juga ya... Tapi, emang sejak kapan sich cewek-cewek pada bersikap gini sama lo?” kata Atya yang jadi ikut bingung.

“bukannya gue pernah cerita ya?” tanya Bryan.

“masa’? Lupa Bang... Ceritain lagi dong... hehehe...” jawab Atya.

“sejak gue kelas satu SMP! Waktu gue kelas satu, kakak kelas tiga udah ngejar-ngejar. Gue kelas dua, kakak kelas tiga yang baru yang tadinya waktu kelas dua biasa-biasa aja juga jadi pada ngejar-ngejar. Eh… gue kelas tiga, gantian temen-temen seangkatan gue yang ngejar-ngejar gue. Huhhhh…!!!” kata Bryan kesal.

“gue pikir waktu gue lulus SMP gue bakalan bebas, ternyata di SMA gue juga ngalamin hal yang sama. Huh… gimana gue bisa serius belajar kalo terus-terusan diganggu gini! Makanya karena sekarang gue udah kelas tiga dan mau ujian, gue butuh bantuan lo buat pura-pura jadi pacar gue. Lagipula mereka nggak akan tau, karena kita khan sama sekali nggak pernah satu sekolah sebelumnya” kata Bryan lagi.

“oke... oke... gue ngerti. Uh... senengnya… hidup kayak lo, dimanapun dipuja sama lawan jenis. Luar biasa dech... Enaknya” kata Atya.

“enak apanya?! Yang ada gue sengsara!! Bayangin aja, gara-gara banyak cewek yang ngejar-ngejar, gue jadi susah cari temen cowok karena banyak yang sirik sama gue. Gue juga susah cari temen cewek, karena nggak semuanya mau temenan sama gue secara tulus. Bahkan, gue juga banyak dapet ancaman dari kakak-kakak kelas cowok yang cemburu karena pacar ataupun gebetan mereka jadi pada naksir sama gue. Ayo sekarang lo pikir, apa enaknya hidup kayak gue gini?” kata Bryan emosi.

“ada enaknya juga kali… Kalo suatu saat nanti ada cewek yang lo suka, udah pasti lo bisa dapetin dia. Nggak kayak gue… sekali-kalinya gue jatuh cinta, eh…” kata Atya dengan nada menggantung tanpa mau meneruskan perkataannya.

“ah belum tentu juga” sahut Bryan datar.

“daripada diganggu terus, kenapa lo nggak cari pacar beneran aja… cewek-cewek yang suka sama lo khan banyak, pilih aja salah satu. Gampang!” kata Atya.

“nggak mau, gue takut sama cewek-cewek agresif” kata Bryan.

“ya ampun… payah banget sich… walaupun mereka agresif tapi khan banyak yang cantik-cantik. Lumayan tau buat lo nampang di sekolah atau di mall” kata Atya.

“Gila! kasian orang itulah... Gue nggak mau mainin perasaan cinta orang!”

“trus sekarang ada yang bikin lo jatuh cinta nggak?” kata Atya.

“ehm… emmm…” kata Bryan kebingungan tanpa bisa menjawab.

“yah… payah lo, masa’ nggak ada. Lo seumur hidup belum pernah jadian khan? Wah… jangan-jangan memang ada kelainan kali lo ya? Hahaha...” kata Atya.

“heh... lo ngaca dulu dong sebelum ngatain orang. Emang lo sendiri gimana? Lo juga belum pernah jadian khan sampe sekarang? Kita itu sama!” balas Bryan.

“Enak aja... siapa bilang… Gue ini beda sama lo! Setidaknya gue pernah suka banget sama seorang cowok bahkan sampe sekarang. Itu artinya gue normal! Kalo lo? Siapa yang lo taksir?” tantang Atya sambil tersenyum penuh kemenangan.

“nggak salah lo? Masih suka sampe sekarang? si Rio temen satu sekolah lo waktu lo masih SMP dulu itu?” tanya Bryan heran. Sekaligus bermaksud mengalihkan pembicaraan dari kisah cintanya karena ada sesuatu yang masih ingin dirahasiakannya dari Atya.

“lho emang kenapa?” kata Atya balik bertanya dengan wajah heran.

“emangnya kenapa? Lo bego atau idiot sich... Dia khan dulu udah pernah…” jawab Bryan lagi yang semakin senang karena berhasil melempar pembicaraan semakin jauh dari kisah cinta dirinya.

“Rio itu cinta pertama gue! pokoknya apapun yang Rio lakukan ke gue, gue akan tetep cinta sama dia” kata Atya yang langsung memotong perkataan Bryan.

“trus pengagum rahasia lo itu mau dikemanain? Udah tau belom lo siapa yang ngirim itu kado tiap minggu ke lo? Cie… yang punya fans… hahaha...” ledek Bryan.

“ah… gue juga nggak tau. Nich orang kayaknya tau banget kapan gue nggak ada di rumah, jadi gue nggak pernah tau siapa yang kirim. Mungkin nggak sich dia temen gue di masa lalu? Ah… sedihnya hidup tanpa kenangan masa lalu kayak gue gini”

“yah... mana… gue tau. Lo cari tau sendiri dong. Gue khan nggak pernah satu sekolah sama lo sejak TK” kata Bryan sambil memandang iba pada adiknya.

“iya, bener juga. Kenapa ya… gue masih belum bisa inget banyak sampe sekarang… Bodoh…!!!” kata Atya kesal sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

“eh… eh… eh… jangan gitu dong… udahlah lo sabar aja. Gue yakin, suatu saat nanti pasti lo bisa inget semuanya lagi” kata Bryan dengan senyuman lembut sambil memegang kedua tangan Atya agar berhenti memukul-mukul kepalanya sendiri.

Semenjak sebelum masuk SMP, seminggu sekali, entah dari mana Atya selalu menerima kado berupa kotak berwarna hijau dengan dihiasi pita merah yang di dalamnya berisikan beberapa butir Cokelat yang berbentuk bunga Tulip. Atya menjuluki kado itu COKELATULIP.

Sebenarnya sudah lama sekali Atya ingin mengetahui siapa orang yang telah memberikannya kado-kado itu untuk sekedar berterima kasih. Ia pun sudah berkali-kali membuat rencana untuk mengetahuinya tapi entah mengapa tak pernah sekalipun rencananya berhasil. Atya pertama kali menerima kado itu saat sedang dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan bersama Ayah kandungnya. Kecelakaan yang ternyata telah merubah kehidupan keluarga Atya terutama pada diri Atya karena selain telah membuatnya kehilangan Ayah kandungnya yang pergi untuk selama-lamanya, juga telah menimbulkan cidera parah pada otaknya sehingga ia kehilangan semua ingatannya. Cokelatulip adalah benda pertama yang membantunya untuk kembali mengingat namanya sendiri dan nama beberapa anggota keluarga yang lain. Ingatannya akan kenangan-kenangan masa lalu sama sekali hilang dan hanya bisa diketahuinya berdasarkan cerita dari teman-teman dan beberapa anggota keluarganya tanpa benar-benar dapat ia ingat sendiri bahkan hingga saat ini.

Karena itu, ia hanya bisa dapat menduga-duga akan kemungkinan bahwa dahulu ia pernah mengalami suatu kejadian yang tak terlupakan bersama Cokelatulip. Satu yang ia yakini, pengirim Cokelatulip adalah orang yang sangat mengerti Atya karena Cokelat makanan kesukaannya dan Tulip bunga yang paling disenanginya.

Atya menengok kearah luar pagar rumahnya,

“kenapa?” tanya Bryan.

“kayaknya ada orang yang ngintipin kita dari depan situ dech” jawab Atya.

“hah?! Siapa? Nggak ada orang gitu... lo jangan mulai aneh-anehlah… Udah malem nich...” kata Bryan dengan wajah yang setengah ketakutan.

“ada!” jawab Atya sambil berlari keluar pagar tapi tak melihat siapapun di sana.
1st Chapter by: Wieny

Read More ......

prom Mi end May prends

-

Chapter one:Ria
Ria
Ria adalah gadis kecil dengan potongan rambut seperti dora.ngakunya sih anak Skate.punya papan skate sampe 2 biji.tapi kalo disuruh main pasti jatuh.ckckck
Hanya satu kata parah!!...
Ria di kost an Hans + makan Di DM
Hari itu Gw,Ria dan Intan janjian mau ke kost an Hans.kita janjian di kampus Anggrek. Setelah ketemu Hans yang ngakunya deket padahal jauh banget kalo sambil ngesot dan goyang gergaji akhirnya sampai juga disana.tempatnya tidak bisa dibilang tidak bagus,namun juga tidak parah.hanya seperti kapal kena serangan Bom Nuklir(kamarnya si Hans) Debu dimana2 pantesan ni anak badannya ga gemuk2 ditambah jarang masuk karena sakit beneran apa karena males.biarlah Hans berkreasi.gw aja pas baru sampe langsung diserang dengan Flu akibatnya gw Bersin dengan total(kenapa total?karena kalo gw bersin ga sekali atau 2 kali.gw bersin bisa 3 sampe 5 kali.bersin apa doyan yah??). Intan sampe tempat Hans langsung sakit meriang tau kenapa tuh anak Cuma Ria yang enjoy aja… di tempat hans kita ngerjain tugas kelompok.setelah berkutak katik anak-anak mulai merasakan cacing-cacing biadab di perut minta jatah.walaupun tugas belum kelar kita mutusin buat makan.Ria ngajakin makan di DM karena murah dan tempatna bisa nambah.gw,Ria ma intan makan.Ria pesen nasi ma ayam kremes sampe nambah 3x.kita2 juga sih..tapi masalahna bukan di situ pulang dari situ gw ma Ria mau ke daerah Blok M. karena berdua aja kita coba naik Bis 999(nama bis disamarkan untuk keselamatan gua).cuaca Jakarta yang emank udah penuh polusi dan populasi begitu juga dengan bis yang gw tumpangin ini.mana didalem biz ada seorang mahasisiwi yang abis diwisuda.tuh cewe di wisuda di senayan.didampingi oleh bapak dan ibunya.jika kita lihat sekilas aura senang seperti mendapat durian runtuh tanpa pohonnya terpancar dari ketiga orang tersebut,ibu,bapak dan anak yang bangga sekali memegang toganya,padahal dia bawa tas gede,dimasukin donk tuh toganya.tapi aura kebahagiaan itu akan berubah karena itu mulai sekarang kita panggil cewe itu cewe malang abis wisuda (CMAW)yang kena sial harus ketemu gw dan Ria sayangnya disaat –saat momen berbahagianya harus dihancurkan oleh gw dan Ria.. eeitzz!!..Ria aja gw ga, pas dah sampe senayan city(baca:senayan sity,jangan senayan citi) disaat gw lagi asik ngoceh seperti burung beo yang baru belajar bicara gw langsung terdiam ketika gw lihat Ria yang tadinya berhati senang gembira mukanya mendadak pucat kayak lagi naik tornado dengan tali pengaman dari raffia.dalam hitungan detik-detik yang menegangkan Ria sukses Muntah tepat di kaki cewe malang itu.Muntah menegeluarkan Nasi 3 piringnya dengan 1 ayam kremes dan es teh manies yang manies kayak gw.tampang tuh cewe yang tadinya bahagia berubah 3600 menjadi kayak orang mau jatuh dari Tanah abang blok A lantai 5 kekali yang warnanya lebih item dari rambut gw.disaat Ria muntah pandangan semua orang langsung melihat gw dan Ria dengan tatapan “ada artis naik bis yah karena ga biasa jadi muntah deh,,duwh kasian amat tuh CMAW emank tega anak jaman sekarang.” Sadar karena nyawa gw dan Ria akan terancam setelah abang kenek ngasih Koran buat nutupin TKM(tempat kejadian muntah) gw berinisiatif buat turun.bodo ga nemu bis lagi yang penting gw selamet dari amukan masa yang keliaatannya seperti kanibal belum makan sebulan. “Bang Kiriiiiiiiiiiiii…..!!”langsung gw tarik Ria dan turun.kita berdua jalan ke warung buat beli tisu dan minyak kayu kuning buat perutnya ria yang kosong tapi masih keliahatan buncitnya. “Yan..emank kita dari sini mau naik apa”Tanya Ria yang tumben lagi lemah biasana teriak2, “Ga,,tau kalo naik bis lagi penuh gila ntar muntah lo bersambung lagi.kan gw malu” “hahaha….yaudah mau naik apa nieh”Ria masih mendesak gw agar sampe tempat tujuan tanpa muntah. gw berpikir…berpikir…kok jadi mules yah kalo gw mikir.emank susah kalo keturunan primitive disuruh mikir. “ehm..naik bajaj aja yah biar gw yang nawar lo duduk aja” “oke” Gw menunggu dijalanan menunggu si orange dengan bangku yang getarannya mengalahkan semua penyanyi dangdut yang dicekal.gw juga ada saran kalo kalian mau naik bajaj sebaiknya jangan bawa HP karena dengan getaran yang amat kencang anda tidak akan dapat berbicara dengan teman anda di seberang got sana.setelah nemu bajaj gw ma Ria naik dengan kalem sambil dugem(duduk gemeteran) akhirya sampai tidak bareng dengan selamet.tapi hanya gw,Ria dan abang bajaj.
1st Chapter by: Dian Nita Supiadi

Read More ......

Sanctuary: The Hunter and Vagabonds

-

Chapter 1
The Vagabonds
Angin menderu – deru di luar. Hujan terus turun dengan lebatnya disertai petir yang menyambar – nyambar. Di dalam sebuah kedai, duduk seorang pengembara bertudung cokelat yang nampaknya kehujanan karena tudungnya basah kuyup. Wanita pemilik kedai membawakan secangkir cokelat panas untuk pengembara itu.

“ Ini, kurasa ini akan menghangatkanmu. “

“ Terima kasih “ sahut si pengembara parau.

Wanita itu menghela napas dengan ekspresi keheranan. “ Lagipula, apa yang kau lakukan ditengah hujan lebat begini ? “

Pengembara itu menyimpan cangkirnya yang kini isinya tinggal setengah di meja dihadapannya, lalu tersenyum. “ Aku menunggu teman – temanku “

Pemilik kedai itu menggelengkan kepalanya. “ Teman – temanmu bukan orang yang tepat waktu rupanya ? “

Pengembara itu lagi – lagi hanya tersenyum.

“ Baiklah, begini saja. “ sahut pemilik kedai sambil menopangkan dagunya.

“ Kurasa teman – temanmu tidak akan datang dalam cuaca begini. Bagaimana kalau aku bercerita tentang sesuatu ? “

“ Cerita ? “ tanya sang pengembara.

“ Ya. Cerita yang dimulai kira – kira 18 tahun yang lalu. Mau dengar ? Ini cerita tentang para pengembara dan pemberontak. Kau kan pengembara, kau pasti suka. Bagaimana ? “

Si pengembara tersenyum, tampak tertarik. “ Aku mendengarkan “

Pemilik kedai pun menyeret kursi di sebelahnya lalu duduk dan mulai bercerita.
***
Salju terus beterbangan pada hari itu, 18 tahun yang lalu. Tak ada yang dapat dilihat selain hamparan salju putih yang menyelimuti dataran bumi di Padang Sycaran. Namun, sekumpulan orang yang kini berlindung di dalam sebuah gua, nampaknya punya masalah yang jauh lebih serius dibandingkan hawa dingin yang terus menerpa mereka.

“ Kita tak bisa begini terus. Kita sudah duduk berjam – jam disini tanpa melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkan hidup kita semua. “ sahut seorang wanita berambut merah dan bertudung putih yang bernama Tahtian.

“ Aku tahu, Tahtian. Kita harus segera mencari potongan terakhir, kecuali kita mau mereka terus mengejar kita, tentu. Apalagi diburu oleh orang-orang bar-bar tidak tahu malu itu yang hanya menginginkan kemampuan kita. Tapi dalam cuaca begini ? Kita bisa mati duluan sebelum melihat cahaya yang kita cari. Lagipula, bagaimana dengan bayi Ellen ? “ jawab seorang pria bernama Ruaf yang duduk didepan wanita tadi sambil menunjuk sebuah buntalan kain yang sedang digendong anggota mereka yang lain yang rupanya berisi bayi.

“ Ellen yang malang. Dia berusaha melindungi kita dan bayinya waktu kita nyaris tertangkap pasukan kerajaan Sanctuary. Kasihan bayi ini. Bagaimana nasibnya nanti setelah kehilangan ibunya ? “ kata Yuan, wanita yang menggendong bayi itu.

Mereka semua terdiam, terlalu sedih karena baru kehilangan salah satu anggota mereka sekaligus ibu bayi itu, terlalu lelah setelah berjalan ratusan kilo sambil menghindari serangan pasukan kerajaan, terlalu khawatir akan waktu yang terus berjalan tanpa peduli akan nasib mereka jika mereka tidak segera menyatukan potongan patung terakhir dan terlalu kesal pada salju yang terus turun, menggangu perjalanan mereka.

Druan, pria yang membawa dua pedang yang tersimpan di dalam sarungnya yang diikatkan ke pinggang, mendadak berdiri dan berjalan kedepan gua. “ Badai sudah mulai reda, kita bisa keluar kapan saja. Kudengar potongan terakhir ada di Dunfall. Kita kesana sekarang ? “

Ruaf mengangguk. “ Lebih cepat lebih baik. Dia sudah tidur, Yuan ? “

Yuan menekankan telunjuknya ke bibirnya. “ Baru saja. Lebih baik kita jangan terlalu ribut.”

“ Bagus, kita tidak butuh tangisan bayi yang bisa membuat pasukan Sanctuary menemukan kita. Semua siap ?” tanya Ruaf. Dan karena semua temannya mengangguk, dia pun berjalan menghampiri sesosok pria terakhir yang merupakan pemimpin mereka yang duduk di sudut gua. Pria itu hanya memandangi langit yang kini mulai cerah dengan ekspresi datar. Tangannya masih berlumuran darah. Darah Ellen, istrinya.

“ Ciel, kami semua sudah siap. Kita ke Dunfall ? “ tanya Ruaf pelan.

Ciel terdiam sebentar sebelum akhirnya menghela napas dan berdiri. “ Ayo “.

Kelima orang bertudung putih itu pun keluar dari gua, menuju barat, ke sebuah kota bernama Dunfall. Dengan membawa perbekalan yang sangat terbatas beserta seorang bayi, mereka hanya bisa berdoa, semoga mereka berlima bisa sampai dengan selamat, tanpa berkurang satu orangpun.

Tapi nampaknya Dewi Fortuna tidak di pihak mereka.

Langit semakin cerah, memamerkan bintang – bintang yang bertaburan. Si bayi bergerak – gerak gelisah dalam buaian Yuan. Takut bayi itu menangis, Yuan berhenti sebentar untuk memperbaiki posisi selimut bayi itu agar tidak kedinginan.

“ Sini, biar kubantu “ ujar Tahtian sambil mengambil beberapa barang bawaan Yuan.

“ Terima kasih. “. Sambil memperbaiki selimut, Yuan berbisik pelan agar tidak terdengar rombongan pria. “ Menurutmu kenapa Ciel berubah begitu drastis ? Ia bahkan tidak menyentuh bayinya sejak kita keluar dari Sanctuary ! “

Tahtian menghela napas dan memperbaiki tudungnya. “ Aku pun akan bersikap begitu kalau aku kehilangan seseorang yang kusayangi. Apalagi nyawa orang itu hilang di tanganku sendiri. Kau lihat kan, Ciel belum menghapus darah Ellen yang melekat di tangannya.”

“ Ya, aku mengerti itu, tapi bagaimana dengan bayinya ? Apa dia begitu membenci bayi ini ? Aku tak akan percaya Ciel akan bersikap begini kalau aku ingat bagaimana senangnya dia ketika bayi ini lahir. Bayi ini dipeluknya sampai menangis waktu itu ! “ sahut Yuan geli.

Tahtian pun tak bisa menahan senyum.” Ya, dia memberitahu semua penduduk desa sampai suaranya serak dan mencarikan bayinya nama di perpustakaan semalam suntuk. Raquel. Bukankah itu nama yang indah dan pantas untuk bayi perempuan secantik ini ? “. Senyum Tahtian memudar. “ Bagaimanapun juga, Ciel belum bisa menerima kematian Ellen. Jangankan bayinya, pada kita pun dia tak bicara apa – apa. Yah…. Paling pada Ruaf. Itupun hanya sekedar menanyakan cuaca. “
“ Tapi… “

“ Apa kalian membutuhkan waktu begitu lama untuk memperbaiki selimut bayi ? Kita sudah kehabisan banyak waktu ! “ seru Druan.

Tahtian berdiri dan menyingkirkan salju, lalu membantu Yuan berdiri. “Sebaiknya kita bergegas. Tak ada gunanya kita membahas itu sekarang “.

Yuan terdiam dan mengikuti Tahtian dari belakang. Merekapun kembali melanjutkan perjalanan.

Entah berapa lama mereka berjalan, tapi kini mereka sudah sampai di hutan cemara. Ruaf yang berdiri di belakang Ciel, tiba – tiba berbisik di telinga temannya itu.

“ Ciel, apa tak ada jalan lain ke Dunfall selain lewat hutan ini ? “

Ciel terus berjalan dalam diam, sampai akhirnya dia bertanya. “ Tidak tahu. Yang aku tahu Cuma jalan ini. Kenapa ? “

“ Entahlah, perasaanku tak enak. Yah, mungkin karena hutannya terlalu gelap, aku jadi berpikiran macam – macam. “

Mereka terus berjalan menembus hutan yang gelap. Tampaknya semua akan baik – baik saja, sampai….

“ Hatchi ! “. Bayi itu bersin karena hidungnya tertusuk ujung daun cemara. Lalu dia mulai bergerak – gerak gelisah.

“ Oh, tidak. Tenang sayang, kau akan baik – baik saja. Jangan menangis ya..” seru Yuan menenangkan si bayi.

“ Yuan, kau yakin dia tak akan apa – apa ? “ tanya Druan cemas.

“ Hidungnya gatal, Cuma itu. Teruskan perjalanan. “ jawab Yuan, walau setengah yakin.

Ciel hanya menatap bayinya sekilas, lalu mulai memimpin perjalanan. Selama beberapa menit suasana kembali tenang. Sampai tiba – tiba butiran – butiran putih yang dingin mulai turun perlahan dan makin lama makin deras.

“ Bagus sekali ! Salju sudah turun lagi ! Bagaimana ini ? “ gerutu Tahtian.

“ Tenang, kita semua harus tenang. Mungkin sebaiknya kita cari gua atau apapun yang bisa melindungi kita dari hujan salju..” saran Ruaf.
“Kita sudah beristirahat untuk ke-4 kalinya hari ini, dan kau mau istirahat lagi? Kita tak mungkin berlindung lagi, Ruaf !!!Waktu kita bisa habis!!” kata Druan berang.
“ Kalian jangan terlalu ribut, bayinya…”

“ Siapa sih yang mengusulkan pergi ke Dunfall malam ini juga ? “ protes Tahtian.

Ruaf tampak jengkel setengah mati. “ KALIAN SEMUA SETUJU TADI ! “

Druan menempelkan telunjuknya ke dada Ruaf. “ Tapi kami bergerak atas keputusan awalmu, Tuan ! Dan jangan teriaki Tahtian ! “

“ Demi Tuhan ! Tenangkan diri kalian dan jangan saling teriak ! Ciel, lakukan sesuatu!! “ seru Yuan panik.

“ Tak ada yang dapat Ciel lakukan ! Tak ada yang bisa kita lakukan ! Kita akan mati ! Tak sadarkah kau Yuan ? Sebentar lagi badai bisa datang dan kita tak akan pernah sampai Dunfall untuk mengambil potongan yang tersisa. Kita takkan sampai ke Cytria Temple untuk menyimpan patung sialan ini ! “ pekik Tahtian.

“ Tenang, Tahtian ! Kau Cuma panik, putus asa. Kita semua juga ! Kita bisa sampai ke Cytria, dan tak ada yang perlu mati. Berhentilah saling menyalahkan karena…”
Mereka tak tahu kenapa mereka harus berhenti saling menyalahkan, karena ucapan Yuan terpotong oleh tangisan bayi yang keras dan bergema di seluruh hutan. Mereka semua berhenti terpaku, terlalu kaget akan akibat dari teriakan mereka. Si bayi menangis karena udara yang terlalu dingin dan teriakan – teriakan disekitarnya. Mereka baru kembali sadar ketika terdengar raungan tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.

“ Apalagi yang kalian tunggu ? LARI ! “ teriak Ciel.

Berlima, mereka berlari kencang, mengerahkan seluruh tenaga yang mereka punya. Tapi rupanya, tenaga mereka belum cukup untuk menyaingi tenaga monster yang kini berdiri di depan mereka. Monster itu mengeluarkan raungan keras dan menampakkan gigi – gigi runcing yang basah karena air liur. Tingginya nyaris 10 meter dan kulitnya yang seputih salju sekeras kulit badak, sehingga tidak mungkin ditembus – bahkan – oleh kedua pedang Druan. Matanya seperti mata kucing, namun berwarna merah dan berkilat senang. Jelas sekali monster ini sedang kelaparan.

“ Frodice dewasa. Ngapain dia disini ? “ kata Ruaf. Ada sedikit getar dalam suaranya.

“ Bukan mencari makan buat anaknya, kuharap. “ sahut Tahtian.

Frodice itu meraung lagi dan tangannya mengayun ke bawah, berusaha meraih kelima orang itu dengan kuku – kukunya yang panjang dan sekuat baja.

“ KESANA ! “ tunjuk Ciel ke balik batu – batu dekat kumpulan pohon cemara.

Mereka segera berlari dan berlindung dibalik batu. Frodice itu marah dan berusaha mengejar, tapi karena ia terlalu besar, dan mangsanya terlalu kecil ( bagi ukuran dia, tentu ), maka ia tidak bisa menemukan lima orang yang bersembunyi ketakutan dibalik bayangan batu besar. Karena itu, Frodice tersebut berbalik dan mencari mangsanya di tempat lain.

“ Sudah aman ? “ tanya Tahtian.

“ Dia sudah pergi. “ jawab Ruaf. Lalu dia menghela napas panjang. “ Belum pernah aku melihat Frodice sebesar itu. “

“ Lalu sekarang bagaimana ? Udara disini semakin dingin, Raquel bisa menangis lagi. “ tanya Yuan, yang kini sudah berhasil membuat bayi itu kembali tertidur.

Keempat temannya berpikir keras. Sampai akhirnya Druan menunjuk ke sebuah titik hitam.“ Lihat titik hitam disana itu ? Itu jalan keluar darurat dari hutan ini. Keluar dari sana, kita langsung tiba di Dunfall. Kita harus kesana sebelum Frodice itu menemukan kita. Itu satu – satunya cara yang terpikir olehku. “

“ Darimana kau tahu jalan itu ? “ tanya Ruaf keheranan.

Druan nyengir. “ Tidak percuma kan aku pernah jadi pencuri. Kami tahu jalan – jalan kecil tersembunyi untuk menghindar dari petugas keamanan. “

Ruaf tersenyum senang, begitu pula Tahtian dan Yuan. Dan tanpa banyak bicara, mereka mulai mengendap – endap sampai tiba di balik semak didepan gua. Mereka berhenti karena tiba – tiba Tahtian berkata ” Maaf. “

“ Hah ? Apa maksudmu ? “ tanya Ruaf keheranan.

“ Yah...Maaf, terutama untukmu Ruaf. Tadi aku…aku pasti sangat menyebalkan. Entahlah, tadi aku kehilangan kontrol. “ sahut Tahtian.

“ Aku juga. Bukan salahmu kita berada disini sekarang. Ini sesuai kesepakatan kita semua, dan tidak sepantasnya aku menyalahkanmu. Sori, Ruaf “ seru Druan.
Ruaf nyengir. “ Hei ! Tak adil kalau hanya kalian yang minta maaf. Teriakanku tadi pasti membangunkan Raquel kecil kita ini, sehingga kita harus melihat Frodice terbesar yang pernah ada…“

“ Omong – omong soal Frodice, “ potong Ciel.” Teman Frodice kita yang tadi rupanya belum menyerah. “.

Kontan mereka menoleh ke depan gua. Frodice 10 meter tadi kini sedang mondar – mandir di depan gua, mengais – ngais tanah dengan gelisah. Frodice itu lalu mengedarkan pandangannya dengan liar, berusaha mencari mangsanya yang tadi kabur.

“ Mati kita ! Bagaimana ini ? Sebentar lagi badai datang, kita tak mungkin diam disini ! “ seru Ruaf.

“ Ngapain sih Frodice sialan itu didepan gua ? “ gerutu Tahtian.

“ Mungkin dia mencium bau kita “ jawab Yuan cemas.

“ Bagus kalau begitu. Tinggal tunggu waktu sebelum dia menemukan kita bersembunyi di balik semak. “ sahut Druan.

“ Apa yang harus kita lakukan ? “ tanya Yuan panik.

“ Kita bisa mengumpankan seseorang untuk dikejar Frodice, sementara yang lain masuk ke gua. “ seru Ciel.

Mereka berempat menoleh, melihat pemimpin mereka, Ciel, tak percaya.

“ Jangan bodoh, “ kata Druan.” Kita sudah berjanji untuk tidak kehilangan anggota lagi. Cari ide lain, Ciel. “

Namun Ciel memandang mereka penuh keyakinan. Membuat keempat temannya gelisah.

“ Ciel, ini gila, “ kata Tahtian berang sekaligus ingin menangis. “ Kau bisa – bisa – bisa – m-mati, tahu ? “

“ Asalkan kalian selamat. “ jawab Ciel singkat.

Air disudut mata Yuan mulai menggenang. “ Oh, Demi Tuhan !Sinting kau, Ciel ! Ruaf, tolong hentikan dia ! Ru…”

Ruaf memandang sahabatnya lekat, seolah ingin memastikan keyakinannya.

“ Kau yakin ? Yakin bisa lari cukup cepat untuk hindari dia ? “

Ciel mengangguk. Lalu Ruaf memberikannya dua diantara lima cakramnya yang terkenal sangat tajam. “ Kalau begitu, bawa ini bersamamu. Dan ingat, “ Ruaf lalu memeluk Ciel erat. “ berhati – hatilah. “

“ Pasti “. Ciel lalu berjalan menuju Yuan yang sudah mulai menangis. “ Tolong jaga Raquel untukku, Yuan. Dan, “. Ia lalu melepaskan kalung peraknya dan menyimpannya di tangan Yuan. “ Berikan ini padanya begitu ia cukup pantas untuk memakai kalung. “. Lalu Ciel mencium dahi Raquel.

“ Dan untuk kalian berdua. “. Ciel menunjuk Druan dan Tahtian. “ Rukun – rukun ya ? “. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka keluar dari Sanctuary, Ciel tersenyum, sebelum akhirnya berlari mendekati si Frodice. Frodice itu melihatnya, lalu ia meraung senang dan mulai mengejar Ciel. Pintu gua terbuka lebar.

“ Ayo cepat ! “ seru Ruaf. Mereka semua berlari secepat mungkin sebelum si Frodice melihat. Mereka baru berhenti berlari ketika mereka sudah cukup dalam masuk gua. Dan yang pertama kali dilakukan Tahtian adalah mendorong Ruaf, marah.

“ Kenapa kau biarkan dia pergi ?! Sekarang kita tidak tahu apakah kita bisa bertemu dengannya lagi ! Apa kau tak peduli bagaimana perasaan kami ? Apa kau tak peduli pada Raquel, yang sekarang tidak punya orangtua ? “
“ AKU PEDULI ! AKU PUN SEBENARNYA TIDAK INGIN DIA PERGI ! “ teriak Ruaf. “ AKU TAHU DIA BISA MATI ! “. Kini semua orang di gua itu menangis, marah, kesal pada satu sama lain, juga pada diri sendiri.

“ Kalian tak mengerti… tak mengerti…betapa inginnya dia melindungi satu – satunya keturunan Abarcass yang tersisa. Betapa inginnya dia melindungi Raquel, setelah ia tak berhasil menyelamatkan Ellen. Betapa inginnya ia melihat Raquel hidup, dilindungi oleh kita. Melihat kita menyelesaikan tugas ini. Melihat kita semua hidup tenang…Tidakkah kalian lihat di matanya, betapa besar keinginnannya untuk mewujudkan itu semua ? Ia bahkan rela mati. Kumohon, jangan sia – sia kan itu. “ seru Ruaf pelan. Suara bergetar oleh tangisan.

Lalu mereka semua berpelukan erat. Menangis pelan, mengenang satu lagi teman mereka yang hilang.

Ketika mereka bisa mengontrol emosi masing – masing, Tahtian menyeka airmatanya dan berkata “ Ayo, Ciel akan memarahi kita kalau kita terus – terusan menangis disini. Kita harus terus jalan. “.

Semua mengangguk setuju. Mereka mulai berjalan menuju satu – satunya jalan yang terdapat di gua itu. Kadang mereka berhenti di mata air untuk mengisi botol – botol yang kosong, dan sekedar istirahat sejenak. Sampai mereka akhirnya tiba di sebuah lahan kosong.

“ Hhh, gelap sekali disini. Apa tidak ada yang bawa lentera ? Atau kayu ? Kau kan bisa membakarnya, Tahtian. “ keluh Druan.

“ Yah, kalau ada lentera atau kayu. Lagipula, tenaga ku sudah sangat berkurang. Paling bagus aku bisa sekali keluarkan magic. Dan itu akan kupakai kalau benar – benar perlu. “ jawab Tahtian muram.

“ Ah..andai disini ada sedikit…saja cahaya. “ seru Druan.

Harapan Druan terkabul. Ratusan lampu berwarna merah menyala mengelilingi mereka.
“ Ah, ini lebih baik. “ lanjut Druan.
Lebih baik ? Demi Tuhan, kurasa itu bukan sesuatu yang lebih baik.” kata Yuan.

Ruaf menyuruh Yuan diam “ Kurasa aku tahu kenapa frodice tadi mondar – mandir di depan gua. “ seru Ruaf ngeri. “ Ini sarangnya “.

Seratus raungan terdengar bergaung di dalam gua. Tiap mata merah turun dan mulai berdesak – desakkan untuk meraup mereka berempat. Tanpa banyak bicara, mereka kembali berlari sekuat tenaga untuk menghindari anak – anak frodice yang kelaparan.

“ Kenapa…kau..tak bilang….kalau gua ini….adalah….sarang….FRODICE ?! “ teriak Ruaf sambil terus berlari dan menoleh ke Druan, yang juga ter-engah – engah.

“ Aku – tak – tahu ! Terakhir…kali kesini…5 tahun lalu…belum…ada..sarang…”

“ Apa jalan keluar masih jauh ? “ tanya Tahtian.

“ Harusnya sih, tidak. “ jawab Druan cepat.

Mereka terus berlari, sementara derap kaki frodice dibelakang mereka semakin dekat. Akhirnya mereka bisa melihat secercah cahaya. Pintu keluar gua terbentang dihadapan mereka.

“ Kita selamat ! “ pekik Yuan girang.
Tapi frodice – frodice itu sudah berhasil mengejar mereka. Kini jarak antar keduanya hanya sekitar 4 meter. Entah kenapa, tiba – tiba Tahtian dan Druan saling pandang, tersenyum lemah dan mengangguk bersamaan.

“ Tak bisa keluar semua ! Ruaf, bawa Yuan dan Raquel keluar ! “ teriak Tahtian.

“ Kami akan mencoba halangi gua. Begitu kalian keluar, ubah kami jadi batu, kau mengerti Ruaf ? “ seru Druan.

“ T-T-Tapi…”

“ Harus ada yang berkorban, Ruaf ! “ sahut Tahtian.

Mereka terus berlari, berpacu dengan waktu dan para frodice. Kini Ruaf dan Yuan mencapai pintu keluar. Tahtian dan Druan berdiri membelakangi mereka, tangan mereka terlentang, menghalangi pintu keluar.

“ Nah, sampai disini perjumpaan kita. Jaga Raquel. Sampaikan salam kami untuk dia. “ seru Tahtian.

“ Selamat tinggal, sobat “ sahut Druan sambil nyengir

“ Tahtian, Druan ! Jangan ! Kembali kesini ! “ jerit Yuan.

“ SEKARANG RUAF ! “ teriak keduanya bersamaan.

“ Ruaf, jangan ! Jangan biarkan mereka bertindak bodoh ! “ seru Yuan sambil menangis.

“ Maaf , Yuan..”

“ RUAF !!! “ jerit Yuan

“ STONE !! “.

Seketika Tahtian dan Druan berubah jadi batu. Frodice – frodice itu menabrak mereka, dan tak mampu keluar. Mereka meraung marah, mencakar – cakar udara. Ruaf segera membawa Yuan pergi dari tempat itu, menuruni tebing.

“ Lepaskan aku, Ruaf ! Aku ingin kembali ! Kembalikan mereka ! “ rintih Yuan, putus asa.
Ruaf tak berkata apa – apa. Tangannya masih menarik Yuan, sementara temannya itu terus meronta – ronta. “ Ruaf ! Lepaskan aku, kubilang ! “.

Lalu Yuan melakukan sesuatu yang tidak disangka – sangka Ruaf. Gadis itu menggigit tangannya.

“ Yuan ! “ panggil Ruaf sambil mengibas – ngibaskan tangannya yang kesakitan.

Yuan berlari panik mendaki tebing sambil terus membawa bayi dibuaiannya. Namun Yuan tak melihat bahwa tanah didepannya longsor, sehingga ia beserta bayi itu terperosok ke bawah jurang yang cukup dalam.

“ YUAN ! “ teriak Ruaf. Ia lalu langsung lompat kebawah, dan mendapati Yuan pingsan dengan luka di kepalanya. Kakinya pun luka berat. Tapi bayinya selamat, terlindungi oleh tubuh Yuan. Bayi itu kini menangis.

Gemetar ketakutan, Ruaf memegang nadi Yuan, berharap dia masih hidup. Yuan bernapas pelan. Nadinya pun berdenyut lemah. Ia masih hidup, walaupun diambang kematian. Ruaf merasa luar biasa lega. Tapi kelegaannya tidak berlangsung lama. Badai salju sudah datang . Angin dingin menerpa mereka. Ruaf tahu, kalau mereka terus disitu, maka tak seorangpun akan bertahan hidup.

Maka Ruaf menggendong Yuan dipunggungnya, sementara si bayi didekap didalam jubah dan mantel tebalnya. Ia pun mulai berjalan.

Angin dingin terus berhembus. Rasa dingin yang menggigit nyaris tak bisa dirasakan Ruaf. Entah sejauh mana ia telah berjalan menembus badai. Angin kencang terus menampar – nampar pipinya. Kakinya nyaris mati rasa, telinganya berdengung. Pandangannya kabur. Tapi dia tak boleh membiarkan Yuan dan Raquel mati begitu saja. Tak mungkin ia sia – siakan perjuangan Ellen, Ciel, Tahtian, dan Druan. Maka dengan tekad itulah ia terus berjalan, menghabiskan seluruh sisa energinya.

Badai mulai reda. Namun pandangan Ruaf tetap kabur. Kepalanya berdenyut – denyut. Sambil menahan sakit ia terus berjalan. Sampai akhirnya – saat ia merasa sudah sampai titik habis kekuatannya – ia melihat cahaya. Dunfall ada didepan matanya. Ruaf memaksa tubuhnya yang nyaris tak bisa digerakkan untuk berlari ke pintu terdekat. Sampai di depan pintu, tubuhnya ambruk. Tapi ia masih mampu menggerakkan tangannya untuk menggedor pintu sekeras ia bisa.

Lama sekali ia menunggu. Kemana orang – orang ?! umpatnya kesal. Serasa menunggu seabad, akhirnya pintu terbuka, cahaya menerangi mereka, disertai jeritan seorang wanita.

“ Oh, Tuhan ! Albert ! Albert ! Bantu aku, cepat ! Tenanglah, kalian akan selamat. ALBERT ! “ teriak wanita itu.

Ruaf mendengar derap langkah lain. Ia tak bisa mendengar apa – apa. Pikirannya tak terkendali. Yang ia rasakan hanya beban di punggungnya berkurang yang berarti Yuan telah diangkat. Begitu pula bayi dalam dekapannya. Detik berikutnya, tubuhnya-lah yang diangkat dan dibaringkan di kursi empuk di depan perapian.

“ Sungguh luar biasa kau bisa bertahan melewati badai sehebat itu ! “ seru wanita tadi.

Ruaf berusaha menemukan kembali suaranya. Tapi yang keluar dari mulutnya malah erangan serak. “ Y..Yuan..Bagaimana ? “ tanyanya susah payah.

“ Yuan ? Wanita ini ? “ tanya wanita pemilik rumah.

Ruaf mengangguk.

“ Dia terluka parah. Kurasa dia koma. Tapi dengan pengobatan yang benar, dia akan segera sembuh dan sadar, kau tak perlu khawatir. “ jawab pria yang bernama Albert menenangkan.

“ B..Ba.Bayi..Raquel ? “

“ Oh, dia selamat, tentu. Hanya sedikit demam. Kami akan memberikan obat agar dia cepat sembuh. Sebenarnya keadaanmu-lah yang paling mengkhawatirkan, Tuan. Anda harus segera dirawat. Tuan ? “

Ruaf menangkupkan telapak tangannya menutupi wajahnya. Air mata bergulir menuruni pipinya “ Syukurlah..Tuhan..”.seru Ruaf pelan.

Lalu, Ruaf Torian menghembuskan napasnya yang terakhir.
1st Chapter by Ayu

Read More ......