Tuesday, May 26, 2009

Surat Cinta

-

SURAT CINTA

Hari itu adalah hari pertama ku masuk SMU, aku sengaja dipindahkan dari daerah asaku karena factor NEM ku yang jeblok. Mama bilang semua ini hanya akan jadi batu loncatan untuk aku bisa masuk ke SMU yang aku inginkan di Cianjur. Disini aku dituntut untuk memiliki nilai tinggi sebagai syarat masuk SMU di Cianjur. SMU ini berada di daerah selatan Jawa Barat, Pameungpeuk. Ini adalah tempat kelahiran ibuku. Aku disini tinggal bersama nenek dan bibiku. Banyak yang menyingkat SMU ini menjadi SMUNEPA. Ya lumayan bisa diingat dan tidak susah di ejalah…

Seperti yang lainnya, awal masuk sekolah diadakan OSPEK. Mungkin dengan maksud agar calon siswanya dapat menyesuaikan diri di sekolah baru. Tapi bagiku hal ini sangat menjemukan.

Pagi itu aku datang dengan seragam asal sekolahku yang dulu, rok diatas lutut, baju seragam gombrang, sepatu kets, dan rambut cepak yang menjadi ciri khasku. Aku datang bersama bibiku yang kebetulan adalah salah seorang guru di SMU itu. Turun dari motor, aku merasa aneh karena semua mata memandangku kaku. Aku sempat terhenyak kaget setelah melihat ke sekeliling sekolah, mayoritas anak-anak disana menggunakan jilbab kalaupun ada yang menggunakan rok pendek ya di bawah lutut. Aku mengerti sekarang mengapa mereka melihatku begitu aneh.

Pembagian kelas pun dilangsungkan, aku terpilih masuk kelas 1-6. Beruntungnya aku saat itu, aku bisa langsung akrab dengan seorang cewe namanya Rizki, wah nama yang unik bukan karena nama itu ditujukan untuk seorang perempuan. Akupun satu bangku dengannya. Dia adalah warga asli daerah ini, dengan logat bicaranya yang halus dia menceritakan keadaan di sini. Aku terkesan dengan ceritanya. Tapi aku tidak terkesan dengan apel siang pada saat itu.
Apel siang tiba, semua siswa baru dikumpulkan di lapangan. Panas-panasan, duh dikira kaka kelas kita ikan bandeng kali ya. Teganya mereka. Disana kita diperkenalkan dengan seluruh anggota OSIS. Jujur gw gak suka mereka semua. Terlihat so’galak, so’manis, so’senga. Tapi mungkin juga Cuma karena lagi OSPEK kali mereka masang tampang seperti itu…

Saat perkenalan, pandanganku tertuju pada seorang cowo dan tampaknya dia adalah salah satu kaka kelasku yang memiliki posisi di keanggotaan OSIS. Dia terlihat santai namun belagu. Sambil mengunyah permen karet dia berlaga cool (dia kira lupus apa…). Diyh tu cowo caper banget seh, pikirku. Ditengah pandanganku aku dikagetkan dengan suara yang menuju ke arahku. Huhf ternyata dia adalah ketua OSIS, dia menyuruhku kedepan lapangan dan dia berharap aku untuk memperkenalkan diri. Sial betul hari ini. Dengan sebal aku maju kedepan, dan aku jelaskan dari mana aku berasal. Apesnya lagi, tuh kaka kelas mu nyoba sejauh mana cinta aku sama tanah air…dia Tanya apakah aku cinta tanah air atau tidak. Aku sangat tahu tak-tik nya, tapi karena disana aku adalah terdakwa ya mu gimana lagi. Aku jawab tidak, pasti dia ngomel, nyentak-nyentak. Aku jawab ia, tahu deh apa yang dia lakukan. Dan benar saja, saat itu aku jawab iya, wwhoooaaaa dia menyuruh ku mencium tanah!!!huhf…seandainya tuhan memberikan kesempatan untukku meminta, aku akan meminta tolong untuk memberi kekuatan menghilang dalam sedetik. I’ll kill u brotha….!!!!damn….T_T

Semua anak-anak menertawakan aku. Sedihnya aku saat itu. Penderitaanku belum selesai, setelah rela mencium tanah aku disuruhnya bernyanyi. Karena aku berasal dari Cianjur, aku disuruh Cianjuran. Jjjiiaaahhh mana bisa??????????(secara gw kan anak jaman sekarang yang gag pernah tau nyanyian planet kaya gitu). Aku jujur kalau aku memang tidak bisa bernyanyi, akhirnya tuh kakak kelas menyuruhku kembali dalam barisan. Aku termenung dan AKU DENDAM….

Dirumah, aku tidak bisa tidur. Aku masih membayangkan muka-muka mereka yang menertawakanku. Keesokan harinya…

Apel pagi dilaksanakan. Belum ada hal aneh yang aku alami. Tapi aku akan waspada!!! Setelah semua masuk kelas, Rizki menanyakan bagaimana perasaanku saat kemarin berada di tengah-tengah lapang. Aku gag bisa jawab apa-apa, tanpa aku jelaskan juga dia sangat tahu apa yang aku rasakan. Aku memalingkan muka ke jendela membayangkan apesnya hidupku. Tiba-tiba dia berjalan melewati jendela tepat depan mataku, ya dia adalah cowo yang makan permen karet kemarin. Cowo caper itu, ya itu dia. Amarahku semakin naik. Agif, aku tersentak kaget waktu Rizki menyebut dia dengan nama Agif. Ya, dia namanya Agif. Dia pernah sekolah di Bekasi. Dia adalah cowo ter-cool disekolah. Dia memiliki pacar namanya Eva, Eva ini masih salah satu kaka kelasku juga namun satu tingkat lebih bawah dari Agif. Rizki menjelaskan semuanya padaku. Aku berkata pada Rizki “Ngap kamu cerita sama aku, emang aku perduli siapa dia, anak mana, dan siapa pacarnya serta statusnya di sekolah ini?”. Namun Rizki menanggapi pertanyaanku dengan senyuman. Diyh emang aneh semua orang-orang disini.

Apes…pes…pes…kena lagi gw!!!

Kita sekelas diminta untuk menuliskan surat cinta untuk kaka kelas, yang cowo untuk kaka kelas cewe. Dan yang cewe nulis surat buat kaka kelas cowo. Nanti surat itu akan dikocok dan dibacakan oleh pemiliknya depan targetnya. Aku bingung harus aku tujukan pada siapa suratku, karena aku gag tahu nama-nama mereka. Yang aku tahu hanya satu nama, itupun Rizki yang kasi tau tadi. Agif. Whooaaaaa….apakah aku akan menuliskan surat cinta untuk seseorang yang bikin aku kesal..???cobaan hidup yang berat…

Mau gag mau, akhirnya suratku kutujukan untuk dia. Setelah selesai aku kumpulkan surat itu dalam tumpukan surat-surat yang lain. Aku berdoa semoga surat itu menghilang dan hilang pula kesempatan aku tuk menjadi target kaka kelas. Semua bacaan telah aku baca dalam hati, tapi Tuhan berkata lain. Aku memang orang yang dipilih Tuhan untuk menjalankan cobaan ini. Namaku disebut, aku disuruh kedepan. Duch…(sumpah gw baik-baik aja,wek.). Awalnya aku masih merasa beruntung karena orang yang aku tuju di surat tidak hadir disini, tapi beberapa menit kemudian dia muncul. Haaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!dia muncul kaya siluman…hush…hush…hush…

Aku mulai membaca,

Dear Agif…
Dunia menjadi penuh pelangi ketika aku melihatmu,
Terasa indah, namun mencekam untukku…
Kau berpaling tidak perduli pada apa yang ada dihadapanmu…
Aku hanya serangga kecil disini,
Yang bisa di injak kapan saja dan oleh siapa saja tanpa ada perlawanan…
Begitupun engkau…
Tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan menjadi kupu-kupu yang terbang untuk melihat semuanya dari udara…dan aku akan tersenyum karena aku penuh cinta.
Aku…berharap padamu.


Ya itulah yang aku tulis, mampusnya aku ketika aku baru tahu kalau pacarnya Agif juga ada disitu, Eva. Aku benar-benar merasa tidak enak padanya. Tapi mengapa aku harus tidak enak? Toh aku kan ada disini juga objek penderita dari komplotan dia. Mana iya aku serius menujukan surat itu pada pacarnya. Tapi aku tidak menduga, Eva pergi begitu saja menampakan muka marah. Begitupun Agif yang pergi mengejar dia. Heheheehehhe kaya di film ya, kejar-kejaran. Cinta…cinta…

Eit tapi bukan berarti aku tidak kesal, justru dengan kejadian itu aku semakin geram pada yang namanya Agif. Aku benci dia titik

Hari terakhir…
Hari itu adalah hari terakhir OSPEK, dan aku sangat bahagia menghadapi hari ini. Pertengahan hari aku dilanda musibah, bukan karena siapa-siapa. Hal itu dikarenakan hanya saja aku sedang datang bulan dan badanku sangat tidak bertenaga. Aku izin untuk pulang karena aku tidak kuat, aku takut kebiasaanku di SMP dulu terulang disini.

(aku selalu pingsan pada saat datang bulan, aku gag tau kenapa….)

Permohonanku di acc, senang tapi sedih juga karena hari terkahir di apel siang nanti akan ada acara pembalasan untuk kaka kelas. Padahal aku sudah merencanakan semuanya, siapa saja yang akan mendapatkan pembalasan dariku. Huhf…

Saat aku sedang menunggu bibiku di pintu masuk ruang guru, aku bertemu dengan Agif. Heuhk..kenapa aku harus selalu bertemu dengan ini orang ya, pikirku. Dia bertanya padaku dengan tampang tanpa dosa, “lagi apa??”. “Nunggu bibi…” jawabku singkat lalu berpaling.
Akhirnya aku pulang…horeeeeeeeeee…………


Hari telah tiba,
Aku datang ke Smunepa pagi itu dengan pakaian yang sesuai. Aku menggunakan kerudung, baju seragam besar, rok standar untuk seorang cewe berjilbab. Aku sangat tidak nyaman menggunakan seragam seperti ini, ini bukan aku…’its not me’…

Tiba di sekolah aku disambut oleh teman-temanku, mereka terkesan saat aku berpakaian seperti itu. Uda, Ogi, Rizki … semua tersenyum dan tampak begitu senang melihat penderitaanku berpakaian seperti ini. Baguslah, mereka tertawa diatas penderitaanku huhf…
Sebelum masuk kelas kita duduk-duduk santai di koridor kelas, karena sekolahku berada pada dataran bukit, bentuk sekolah tampak seperti anak tangga raksasa. Mereka yang sedang duduk-duduk di dataran atas dapat melihat anak-anak yang sedang duduk-duduk di dataran rendah.

Saat aku duduk-duduk bersama mereka, aku merasa ada yang membututi ku dengan pandangan matanya. Diyh ternyata mereka kaka-kaka kelas yang sedang nongkrong juga di dataran atas. Mereka panggil Ogi yang kebetulan kakaknya juga bersekolah disana. Ogi kembali dengan menyampaikan pesan untukku, Ogi bilang tuh kaka kelas pengen kenalan sama aku. Whoooaaaa penderitaan ku ternyata belum selesai. Dan dia ada disana, bersama kumpulan kaka kelas. Mana mau??????????huhf…tapi bukankah ini kesempatan untuk balas semua perlakuan mereka….??yeaaa…I’m coming…

Akhirnya aku berkenalan dengan mereka semua, termasuk Agif. Tapi aku sungguh tidak menduga ternyata mereka tidak kenal sama sekali padaku, mereka bertanya “kamu gag ikut OSPEK ya??”. Duh bingung, apa mereka amnesia ya. Lalu mereka pikir siapa cewe yang mereka suruh cium tanah, nyanyi, dan baca surat gila itu. Begitupun Agif, dia juga bertanya hal yang sama padaku. Aku benar-benar geram sama mereka. Aku dianggap tidak ada. Payahnya gag ada satupun yang ingat tentang aku, dan mereka menganggap semua itu biasa saja. Mereka gag tau perasaan aku. Tega. Hari itu berakhir dengan perasaan heran.

Aku pulang bersama bibiku dengan motor jetmaticnya. Saat pulang, aku melewati banyak segerombolan anak-anak lain yang juga mau pulang. Tapi saat aku melewati segerombolan komplotan kaka kelas yang menyebalkan itu, aku berpaling. Eh senganya mereka berteriak pada bibiku, “Bu…siapanya??sodara ya bu…kenalin donk bu…”. Ikh ngebetein deh. Untung aja bibiku gag berhenti depan mereka.

Diperjalanan pulang, bete belum juga selesai. Bibiku menceritakan tentang Agif. Aduch kenapa musti dia???pusing aku dibuatnya. Aku kembali tidak bisa memejamkan mata dengan tenang, nama itu selalu membayangi pikiranku. Agif Eka Barhamsyah. Aku mulai takut menghadapi hari esok.

Hari-hari aku lewati dengan perasaan yang tidak jelas. Tapi akupun semakin akrab dengan mereka yang aku benci. Ya mereka adalah kaka-kaka kelasku. Aku sering pulang bersama mereka. Atau pada saat istirahat tiba aku sering pula nongkrong di ruang OSIS. Berlalu nya waktu membuat semua semakin jelas. Eva, pacarnya Agif pun semakin tampak jelas jealous padaku. Apalagi teman-teman kelasnya yang sibuk membuat aku merasa tidak nyaman di sekolah. Mereka sempat mengutus seseorang untukku, namanya Iman. Ya aku akui dia manis, baik hati dan terlalu sadis bagiku kalau dia dijadikan umpan untukku agar aku menjauh dari Agif. Semakin komplotan Eva menekanku dengan kehadiran Iman, aku semakin merasa dekat dengan Agif, entah kenapa. Akupun mulai sering pulang berdua dengan dia. Padahal aku tau dia masih berhubungan dengan Eva. Aku tidak dapat mengingkari kalau aku kesal sama sikap Eva dan teman-temannya dan aku ingin mereka tahu bahwa aku tidak akan termakan umpan mereka, disamping itu akupun tidak akan ingkar kalau aku nyaman bersama Agif.

Setiap sebelum tidur, aku selalu berpikir. Apakah sikap aku ini berlebihan atau wajar dalam kehidupan remaja SMU.


Egoku tetap berada di atas…
Hari itu saat aku ditengah pelajaran Matematika, Pak Heri guruku memberitahu bahwa ada yang mencari ku diluar. Akupun beranjak dari tempat duduk. Aku kaget. Yang mencariku adalah teman-temannya Eva (wah mampus, digebukin dah gw…), but mereka hanya mau tanya sama aku apakah aku telah menjalin hubungan dengan Agif dan mereka memberitahuku bahwa gara-gara aku Eva jatuh sakit. Jujur hati kecil aku merasa bersalah. Tapi karena gengsi nunjukin muka prihatin depan mereka aku jawab “maaf, aku belum menjalin hubungan apa-apa dengan yang namanya Agif dan untuk berita Eva, aku ikut prihatin”. Just it. Aku kembali kedalam kelas tanpa melihat lagi kebelakang bagaimana reaksi mereka dengan jawaban aku. Aku tidak perduli. Aku kesal sama mereka. Mereka pantas mendapatkan sikap seperti itu.

Keesokan harinya aku pulang bareng Agif, tidak aku sangka diperempatan jalan dia tembak aku (sejauh inikah sikapku pada Eva dan komplotannya..??tapi bagaimana dengan perasaanku…aku merasakan hal yang sama dengannya…Tuhan…apa yang harus aku jawab??).

Aku tidak menjawab apapun padanya, aku hanya memberikan waktu padanya untuk mengakhiri hubungannya terlebih dahulu bersama Eva. Aku tidak mau menjadi yang kedua, aku harus menjadi yang pertama. Aku bilang padanya “pikirkan lagi apa yang kamu katakan tadi, jika kamu telah yakin dengan apa yang menjadi keputusan kamu…kamu tahu apa yang harus kamu lakukan”. Akupun pulang bimbang. Aku takut dia merubah pernyataannya tadi, tapi seandainya harus begitu aku rela. Aku terlalu dalam masuk dalam kehidupan mereka. Dan aku harus minta maaf pada Eva.

Pagi itu sekolah gempar, semua mata memandangku aneh. Aku yang baru saja menginjakan kaki dihalaman sekolah dibuatnya heran. Kenapa semua melihatku layaknya aku seorang terrorist???udah gila kali ya semua orang disini…

Dikelas aku disambut dengan teriakan Rizki, dia menarikku ke samping kelas dan menceritakan semuanya yang terjadi. Tuhan, aku gag tau harus senang atau sedih. Agif telah memutuskan Eva sebagai pacarnya. Dan hari itu Eva tidak masuk sekolah lagi. Aku tertunduk.

Seharian itu aku sama sekali tidak konsen untuk belajar. Semua pikiranku melayang. Istirahat tiba, aku melihat Agif di kantin sebrang…tapi aku berpaling darinya. Aku bingung. Aku merasa bersalah tapi aku bahagia karena aku akan merasakan kenyamanan bersama dia di hari-hariku.
Pulang sekolah, dia mengajakku bareng. Seperti biasa kita berjalan kaki sampai perempatan, cukup jauh menurutku. Dia kembali membuat pernyataan kemarin dan meminta jawabanku. Aku mencoba memandang hati kecilku, “beri waktu padaku untuk menjawab semuanya”.

Beberapa hari setelah itu, bersamaan dengan hari Ulang Tahunnya aku menjawab semuanya “Aku gag bisa…gag bisa tolak kamu”
-----------------------------------------------------------------------

Sekarang aku telah jauh melangkah, 8 tahun sudah kisah itu menjadi cerita di SMUNEPA. Tentunya semua kenangan itu akan menjadi cerita cinta buat anak serta cucuku dikehidupan yang akan datang. Sebenarnya masih banyak ceritaku bersamanya. Karena setahun kemudian aku pindah sekolah ke Cianjur, ke sekolah impianku. Tapi kelengkapan ceritanya biarlah dia yang melanjutkan serta melengkapkan. Seandainya dia membaca cerita diatas, mungkin banyak hal yang terlewati atau mungkin banyak yang ia lupa. Tapi bagiku…

“surat cinta yang telah aku tujukan untuknya dulu sebenarnya adalah surat cinta untuk masa depannya”. ^_^


Erny Octaviany

Read More ......

Remember

-

SATU


“Selamat ulang tahun yah, Chis!”

Ucapan itu mengiringi langkah Chisa mengelilingi sekitar area pesta. Chisa saat itu tengah terlihat kesal. Sesekali ia melihat kearah sekelilignya, mencari sosok orang yang sangat ia nanti-nantikan. Hingga menit kelima dalam penungguannya, Chisa belum juga melihat cowok itu hadir dan menghampirinya. Tidak biasanya, Chisa sepanik ini. Beberapa kali ia bertanya kepada teman-teman disekelilingnya yang saat itu tengah menikmati jamuan pesta, tapi setiap kali bertanya, jawbannya selalu sama ‘paling juga belum datang’. Kekhawatiran Chisa bertambah lagi, ia tidak ingin orang yang dicintainya mengabaikan pesta ulang tahunnya yang hanya terjadi dalam setahun sekali.

Vivi dan Vela yang saat itu tengah asik ngobrol sesaat kemudian langsung menghampiri Chisa, tuan rumah yang punya hajat. Yang dari tadi sibuk sendiri. Keliling-keliling tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya.

“Chis, lo kenapa sih? Keliatannya panik banget!” tanya Vivi

“Gimana gue nggak panik coba, masa jam segini Andrey belum dateng. kamu tahu sendirikan pestanya bentar lagi dimulai. Aku nggak mau kalau dihari ulang tahunku ini Andrey nggak ada” ujar Chisa meringis

“Iya gue juga tau. Tapi lo nggak usah sampe segitunya kali, Chis. Gue yakin Andrey pasti dateng kok, nggak mungkinlah cowok model Andrey nggak dateng. Apalagi ini hari ulang tahun lo lagi!”Vivi Nampak menenangkan

“Lo udah coba hubungin dia belum”

“Belum”

“Ya ampun, kenapa lo nggak nanya aja, sekarang dia ada dimana”

“Aduh, handphone aku ketinggalan dikamar lagi”

“Yaudah pake handphone gue aja!” vela mengambil handphne didalam tas mininya dan langung memberikannya pada chisa

Chisa langsung menekan keypad handphone dan seketika nomor andrey sudah nampak dilayar, Chisa buru-buru call. Tapi sayng jawaban dari sberang tidak sesuai dnegan keinginan chisa, yang ada operator ngomong’ nomor yang anda tuju sedang tidak aktif’

setengah jam berlalu, chisa semakin kalang kabut. Bahkan dia sudah ada niatan kalaus apai andrey telat dan lebih-lebih tidak datang, chisa bakal hajar ahbis-habisan. Lagian dia suruh mikir, masa dihari ulangtahunnya yang Cuma satu kali dalams etahun aja nggak dateng. Chisa semakin gondok.

“Vel, gimana dong, andrey belum dateng nih. Sepuluh menit lagikan mau mulai!”

“Lo tenang aja, chis, mungkin dia bakal kasih surprise sama lo”

“Surprise sih surprise tapi kalo sampe bikin gue nunggu kaya gini kan nggak enak”

Chisa semakin tidak sabar, sesekali ia mgusap keningnya,. Wajah yang sudah terlihat anggun dan cantik iu mendadak berubah seketika, suasana ramai yang mestinya dinikmati mendadak basi dirasakan chisa.

“Gue masuk kekamar dulu yah, kali aja dia sms ke nomor gue!”

sejenak chisa meninggalkan tempat, ia buru buru menuju ekkamar yang letaknya hampir jauh dari taman rumahnya, dan menghabiskan waktu kira-kira lima menitan.

Sesampai dikamar, chisa harus mencari-cari lagi sosok merah itu, telefon genggamnya yang ia lupa menaruhnya.

“Sial, kemana lagi nih! Ya tuhan, kenapa sih harus kaya gini!”

setelah beberapa saat ia mencari-cari dibalik bantal, laci tempat biasa menyimpan, akhirnya ketemu juga didalam tas sekolahnya.

“Ini dia! Begobener sih gue, nggak biasanya nimpen handphone didalam tas!”

dilayar tertera 1 pesan multimedia diterima, dan benar. Ternyata itu dari andrey. Chisa buru-buru mebukannya. Sontak mukanya berubah menjadi senyum. Terlihat foto andrey senyum ke chisa dengan kata-kata “selamat ulang tahun yah sayang, seoga apa yang kamu inginkan terwujud, hm…bentar lagi nyampe nih!”

lega hanti chisa, megingat pesan itu baru diterima tiga menit yang lalu. Senyum mengembang dibalik bibirnya. Chisa buru-buru turun, dan ingins ekali menceritaka berita ini pada kedua sahabatnya yang sama-sama ikutan nunggu dan cemas.

“Andrey lagi dijalan!” ujar chisa ketika sudah berada didepan vela dan vivi

“Ya ampun, ajdi tuh cowok baru berangkat dari rumahnya”

“Iya” jawab chisa sambil melebarkan senyumnya

“Cie…cie…yang mau diberi surprise nih!”

Sejenak chisa ngobrol dan ketawa-tawa bareng. Rasanya sudahs edikit lega. Sekalipun waktu sepuluh menit sudah berlalu dan belum juga nampak batang hidungnya. Tapi sms iu engobati rasa kecemasan sekaligus kekesalan chisa pada cowok itu.

“Chis, kok belum dateng juga sih!” ujar vela

“Paling juga bentar lagi”

“Kok jadi lo yang panik sih Vel” terus vivi

“Nggak, perasan jarak rumah Andrey sama Chisa nggak jauh-jauh amat, lima belas menit udah nyampe”

“Tapi kan ini baru empat belas menit” Chisa tampak menenagkan diri

“Yasudah tunggu aja!”

lntas harus menunggu sampai berapa menit lagi. Beberapa tamu sudah menanyakan pesatnya kapan mulai, waktupun sudah berselang satu jam. Chisa kembali keposisi sebelumnya, dlaam kepanikan.

“Apa mungkin andrey nggak daeng yah? Kok dia tega bange sih!” chisa tampak meringis dengan kepala berandar dipundak sahabatnya, vela.

Nada telefon berbunyi, vela cepat-cepat mengangkatnya sekalipun nomor itu tidak dikenalnya.

“Halo…” ujar vela mengawali

“Ha…halo…” ujar orang dari sebrang terbata-bata

“Ini vel…la kan..,” suara semain tergetar dan terbata-bata

“Iya ini siapa?”

“Ini Fardan”

“Ada apa, Far!”

“Andrey…”

“Kenapa andrey” Chisa tampak sedikit cemas dan seolah-olah ada gelagat tidak beres dengan ucapan fardhan barusan

“Andrey…andrey…kecelakaan, dia kecelakaan, Sekarang gue ama dia masih dipersimpangan jalan!”

“Kamu jangan bohong!”

Sontak tubuh chisa lunglai.

“Chis, ada apa chis…Chis ngomong!” Vela tampak cemas

Dengan sekuat tenaga Chisa bangkit, ia masih tidak percaya, dan berharap kalau yang diomongkan fardan itu salah dan bohong. Chisa berlari kencang , meninggalkan suasana pesta yang ramai dengan orang-orang yang sibuk. Kepergiannya dari tempat itu Sontak membuyarkan pesta dan mebuat pesta terbengkalai dan gagal.

Malam semakin mendung, mendadak hujan rntik-rintik turun membahasi bumi yang sudah hampir tiga hari tidak membasahi kota ini. Chisa berlari dengan gaun ulang tahunnya. Ia semkain kencang, menangis, menerobos jalanan yang ramai dipadati kendaraan beroda empat.

“Andrey!!!” Chisa semakin menangis

Tampak Vela dan Vivi sahabatnya menyusul dibelakang, ikut berlari dengan alasan tujuan yang benar-benar ereka tidak ketahui.

“Chis…ada apa!” teriak vivi sambil berlari

Chisa tak perduli, ia semakin kencang berlari, dan menangis. Tak peduli tubuhnya basah diguyur air hujan yang semakin besar dan kilat yang sedari tadi menampakan wujudnya diatas langit yang hitam pekat.

“Ini nggak mungkin” isaknya semakin membahana.

Chisa semakin berlari, dari pandnagan matanya, keadaan persimpanagn ramai sekali. Banyak orang sibuk dan lalu lalang. Bahkann ada juga yang hanya sekedar menonton dan ada orang yang bingung karena ada kejadian apa.

Chisa semakin mendekat. Tampak fardhan yang berdiri dengan bingungnya. Chisa buru-burur mendekat ke andrey yang terbujur kaku diatas jalan.

“Cepat telefon ambulan!” teriak chisa keras

“Udah chis, tapi belum dating!”

Vela dan vivi yang melihat, melongo dan hamper tak percaya dengan kejadian ini. Sedangkan sedari tadi andrey hanya terlihat kesakitan, dan nafanya serasa sesak dan sekarang iad alam pelukan chisa.

“Andrey….hiks…hiks…” chisa menangis sambil memeluk rapat-rapat

“Jangan nangis saying, selamat ulang tahun. Andrey sayang chisa” andrey terbata-bata. Wajahnya semakin pucat dengan darah disekujur tubuhnya yang diguyur air hujan yang tak henti-henti.

Tak lama kemudian ambulance datang, dan beberapa petugas langsung membawa andrey yang diam kaku. Dengan ditemani chisa yang juga ikut menumpangi nmobil itu.
####

Chisa ditemani kedua sahabatnya beserta fardhan menunggu didepan ruang ugd. Tampak fardhan yang duduk cemas, terlebih chisa yang masih saja menangis dipelukan vela dan beberaap kali vela menghibur chisa agar tetap tenang dan jangan terlalu cemas, karena andrey pasti baik-baik saja.

“Sebenarnya apa yang nyebabin kecelakaan andrey, dhan?” Tanya chisa pada fardhan

“Saat lampu hijau andrey sama gue berpapasan, dan dari arah yang berlawanan yang seharusnya tidak jalan, malah negbut dan menabrak andrey. Dan dia juga sama chis, kecelakaan parah, sama halnya kaya andrey!”

Chisa tak kuat membendung airmata. Sesaat kemudian, orang tua andrey datang dan ibunya menangis sejadinya, dengan dipeluk oleh suaminya. Tampak keadaan ruang tunggu dipenuhi dnegan duka dan menunggu jawaban tentang kabar andrey dengan kecemasan.

“Chisa, andrey nggak apa-apakan!” mamahnya andrey mendekat kearah chisa

“Chisa berharap andrey baik-baik saja tante!” ujar chisa smabil terisak

“Kita berdoa saja, semoga andrey tidak apa-apa!”

Sesaat kemudian dokter keluar, mukanya seolah-olah member jawaban atas keadaan andrey. Mamah mendkeat kearah dokter, tapi saying dokter tidak menjawab. Ia pergi begitu saja. Chisa tampak semakin panic, mengingat kabar kekasihnya yang belum jelas ini. Selang beberapa waktu, suster keluar dari ruang ugd.

“Anda orantuanya andrey” ujar suster

“Iya suster saya orang tuanya andrey, bagaimana keadaan anak saya?” Tanya mamah khawatir

“Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi saying tuhan berkehendak lain. Andrey meninggal, lantaran kehabisan darah”

“Apa!” mamah andrey terjatuh pingsan

Sontak suasana dipenuhi tangis. Chisa tak kuat membendung airmatanya, ia langsung masuk kedalam, dan melihat Andrey yang sudah terbujur kakau diatas tempat tidur dengan ditutupi kain putih.

“Andrey!” chisa menngis sejadinya dan tak lama kemudian ia terjatuh pingsan dan tak sadarkan diri
####

Hari ini pemakaman Andrey dilaksanakan. Hujan masih saja turun seperti tadi maalam ,dan solah-olah ikut menangisi kepergian andrey. Satu persatu pelayat yang mengiringi jenajah andrey tampak meninggalkan area pemakaman. Begitu juga mamahnya andrey, pergi meninggalkan pemakaman dengan membawa isak tangis.

Sedangkan chisa, ia masih saja duduk disamping makam andrey, sambil menangis dengan ditemani kedua sahabatnya, vela dan vivi. Beberapa kali vela membujuk chisa untuk pulang, tapi chisa tidak mau juga. Sepertinya duka chisa begitu dalam, dan belum mau menerima kenyataan kalau saja kekasihnya andrey, pergi untuk selama-lamanya.

“Chis, pulang yuk! Udah sore nih, kemakamnya besok lagi yah, lagian sekarangkan hujan” ujar vela mengajak dengan pelannya

“Iya chis, lagian mau sampai kapan kita berada disini”

“Kalo kalian mau pulang, pulang aja sendiri!” chisa semakin terisak

Sesekali ia berteriak nama andrey, sampai detik ini ia beloum bisa merelakan sepenuhnya.

“Kenapa tuhan tidak adil sama gue, kenapa!” teriak Chisa

Jam sekarang menunjukan pukul enam sore. Chisa masih saja duduk disamping makam andrey yang masih basah, dengan bunga-bunga indah yang bertabur diatasnya. Sedangkan vela tak henti-hentinya membujuk chisa agar ia mau pulang.
####

Tak terasa, sudah sehari andrey meninggalkan dunia yang fana ini untuk selama-lamanya. Meninggalkan kenangan indah yang tertoreh bersama sahbat-sahabatnya, keluarganya, dan yang terlebih menyedihkan yakni membawa sejuta kenangan indah pada chisa, sehingga chisa tidak bisa melupakannya.

Dikelas, suasana tampak masih dalam keadaan berduka cita atas kepergian andrey. Kemarin seketika diumumkan andrey meninggal, hampir semua teman-temannya tidak percaya. Bangku andrey yang berada dibarisan kedua, nampaknya sudah kosong. Begitu juga disebelahnya, yakni bangku chisa yang masih juga ikut kosongg. Jelas semua orang pasti mengerti kondisi chisa sekarang, masih diselimutui rasa duka.

“Chisa nggak masuk vel?” tanya Vivi dengan nada sedih

“Iya Vi!” begitu juga Vivi

Didalam kamarnya, chisa masih terbaring dengan mata yang masih terus-terusan mengeluatrkan butiran-butiran bening. Wajahnya tampak pucat. beberapa kali mamahnya mebujuknya keluar, tapi chisa tetap saja tidak mau, bahkan semenjak kemarin, chisa tidak mau makan, jangankan makan, keluar kamarpun chisa sepertinya berat sekali.

“Sayang, kalo terus-terusan begini. Nanti kamu sakit”

Chisa seolh-olah tampak tidak perduli dengan kondisinya. Ia masih tetap saja seperti chisa yang kemarin yang mendadak berubah menjadi diam dan tidak lagi ceria seperti beberapa waktu lalu, sat andrey masih hadir didalam kehidupannya. Kini semuanya tinggal kenangan, yang membuat chisa berlarut-larut dalam dunia barunya.

Senandung lagu ciptaan andrey yang direkam oleh andrey beberapa tahun laluuntuk chisa, kini diputar kembali oleh chisa. Sehingga membut chisa semakin tidak merelakan kepergian andrey. Sesekali ia teriaik-teriak sendiri dan menghilangkan kekesalannya dengan membanting semua barang milknya.

“Tuhan tidak adil!”jeritnya keras

Mamah yang masih berada diluar membujuk chisa agar mau makan sontak kaget. Ia buru-buru mengetuk pintu kamar chisa dan tampak menangis.

“Sayang, jangan buat mamah khawatir” jerit mamah sambil menangis

Kondisi kamar chisa tidk seperti dulu lagi, rapih bersih, dan nyaman. Tetapi sekarang berantakan dan barang-barang miliknya tampak berserakan kesana-kemari. Chisa duduk disudut kamarnya, memeluk rapat-rapat foto andrey. Kenangan seolah-olah berkelibat dibenaknya kembali.
####

Hari sudah malam, chisa tetap saja tidak mau keluar dari tempatnya. Sudah lebih dari puluhan kali mamah memintanya untuk membuka pintu kamarnya dan keluar. Tapi chisa tetap saja tidak mau. Bahkan pertanyaan mamahnya yang dilontarkan padanya, tidak pernah ia jawab sekalipun.

Saat jam menunjukan pukul tujuh kurang lima menit. Vela dan vivi dating kerumah chisa. Tak lain kedatangan mereka ialah untuk menghibur hati chisa yang sedang gundah. Dan menanykan kenapa tadi pagi ia tidak masuk sekolah.

Vela dan vivi datang disambut oleh mamah dengan baiknya, dan seketika menanyakn keadaan chisa, mamah tidak bias bercerita panjang, ia hanya menunjukan kamar chisa yang tertutup rapat-rapat.

“Chisa kenapa tante?” Tanya vivi ketika sudah berada didepan kamar chisa

“vela, vivi, tante minta tolong pda kalian. Tolong bujuk chisa agar mau keluar. Sebab, semenak pulang dari pemakaman andrey, chisa ngurung diri dikamar. Tante khawatir ama kondisinya, mungkin kalau kalian yang ngomong langsung sama chisa, chisa mau mendengarkan”

Tak terasa vivi dan vela meneteskan air matanya. Tak lama kemudian, vela langsung mendekat kepintu kamar chisa.

“Chis, ini gue vela. Please, lo keluar. Jangan bikin kita khawatir. Gue tau gimana perasaan lo, tapi bukan berrti lo nyakitin diri lo sendiri dnegan terus-terusan ngurung dikamar!”

Tidak ada respon dari chisa.

“Chis, gue tau. Lo nggak mudah nerima kenyataan ini. Tapi asal lo tahu, andrey pasti tambah sedih kalau lo seperti ini. Mungkin tuhan punya rencana buat lo, dan mungkin karena tuhan saying sama andrey karena itu ia memangil andrey”

Chisa masih saja diam, yang terdengar hanya isakan tangis chisa dari balik kamar.

“Kenapa lo nggak mau denger gue ngomong chis, gue ini sahabt lo. Kita kan sudah janji, setiap ada masalah harus selesaikan bersama dan kenapa sekarang kamu simpan sendiri masalah itu. Apakamu udah ngga nganggep kita sahabat lagi, oke kalo gitu. Gue kecewa sama lo”

Krek…pintu kamar terbuka. Chisa keluar, ia tampak terlihat lusuh. Air mata tak henti-hentinya membasahi pipinya yang putih. Seketika itu vela dan vivi buru-burur memeluknya. Mereka terhanyut dalam tangis.
****

Saiful Furkon

Read More ......

Daily Love: Hari Menjelang Sore

-

Hari menjelang sore, koridor SMU Ninos Surbakti masih sepi tak ada satu pun murid yang berkeliaran. Yang terlihat adalah seorang penjaga sekolah yang sedang menyapu lapangan yang penuh dengan daun-daun kering yang berjatuhan.

“Teeeeett…..!!”.
Bel usai sekolah berbunyi, setiap sudut sekolah mulai hidup kembali tak terkecuali kelas 3 IPA 1.

“Yak, anak-anak terima kasih atas peratiannya”. Akhir kata dari Bu Ratri.

Jam pulang sekolah bikin Dava bingung. Entah kenapa, ia selalu merasa bingung saat pulang sekolah, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan habis ini..? karena kalau dia pulang kerumah, pasti dia merasa kesepian, maklum dia anak satu-satunya.


“Eh, Dav Lo kenapa sih? Bengong aja! Ntar ksambet loh.. hihi..”. Sapa Melia.

“Ah apaan sih mel, gue lagi bingung aja kok..”. Jawab Dava.

“Bingung kenapa lo?”. Tanya Melia

“Gue lagi males dirumah.. tapi gue gak tau mau kemana?”. Jawab Dava.

“Ya ampun Dav, main aja kerumah gue! Emm.. atau gak kita ke Bakso si kumis dulu yuk..! kita makan, sambil cerita-cerita. abis itu, kita kerumah gue deh, gimana ?”. Tanya Melia.

“ Boleh, daripada gue bengong dirumah, mending gue ngikut lo! Yuk, cepet gue dah lapeeerrrr…!!”. Jawab Dava.

Melia adalah sahabat terdekat Dava, setelah Fajar, Riva, dan Adri. Dava, Melia, dan Riva sudah berteman dari Sekolah Dasar. Sedangkan Fajar, dan Adri berteman sejak masuk SMA. kadang teman-teman yang lain sering mengira Dava dan Melia pacaran. Tapi mereka cuek aja tuh, Melia adalah cewek yang periang, baik, setia kawan, tapi terkadang super nyebelin juga sih..!

“Bang, baksonya dua yah! Gak pake bihun ma cabe!, minumnya es jeruk satu, sama teh manis”. Pinta Melia sembari duduk dengan Dava.

“Dav, gimana ma Sheila? Ada kemajuan?”. Tanya Melia.

“Ya.. gitu-gitu aja Mel, kayaknya dia gak ada perasaan deh ke gue..”. Jawab Dava.

“Duh Dav, lo gak boleh gitu dong, cinta itu ada kalo lo mau usaha! Inget dong kata, Love will find you if you try! Gue bakal Bantu semampu gue kok untuk Bantu lo..”. Kata Melia.

“Yeah.. dasar kebanyakan nonton Reality Show lo..! makasih Mel, tapi, gue gak mau kisah cinta gue keulang lagi, sakit tau mel..”. Jawab Dava.

“Tapi gak bakalkan nasib semua cinta lo bakal sama? Semangat dong..! lo cowokkan?! Harusnya lo itu bisa naklukin semua cewek, lo punya tampang gak jelek-jelek amat kok, ya.. diatas pas-pasanlah..!”.

“Heh..! rese lo..! iya juga sih.. tapi tetep aja susah…”.

“Capek deee..”.

Dava emang punya tampang yang lumayan, tapi urusan cinta, sorry.. dia bukan ahlinya, dia udah untuk ke-8 kalinya patah hati, makanya dia nyebut dirinya ‘THE HEARTBREAKER’.


“Kreeekk…”.

“waaa.. kenyang banget.. emang tuh si kumis gak da matinye..!”. Kata Melia sembari selonjoran di sofa rumahnya.

“Kenyang sih kenyang Mel, minum buat gue mana? Gue haus lagi nih! Lo kira di luar gak panas apa?!”. Kata Dava.

“Oh iya, lupa.. hehehe. Mau minum apa lo? Cola, sirup, atau air oralit??”.

“Air ledeng aja Mel..! enakmu..!! Orange Juice aja deh..!”.

“Ye.. orang gak ada pilihan Orange juice juga! Bentar ye..”.

“Nih..”.

“Makasih ya mbak..”.

“Trembelane..! enak aja lo..! pembantu gue lagi pulang kampung nih, jadi tiap sore gue deh yang ngepel!”.

“Santai.. kan ada gue, gue bantuin deh..”.

“Ooh, my darling baik banget sih kamyu..”.

“Iih, sumpah! Jijik banget sih kata-kata lo! Mau muntah gue”.

“Hahahahaaa…”. Mereka tertawa bersama.

Ya begitulah mereka setiap hari, sering bercanda, curhat-curhatan, pokoknya kayak kakak-adik aja deh, dan Dava bisa melupakan kesendiriannya..

“Halo jar, besok gue liat PR kimia yah.. plisss… gue gak ngerti nih..”. Pinta Dava.

“Duh, dav.. emang dasar lo ye, gue juga gak ngerti! Lo udah nanya ke Riva, atau Adri blom?”. Kata Fajar diseberang sana.

“Ya ampun.. lo salah nyuruh gue nanya ke mereka, mereka kan sama aja kaya gue! Heheh”.

“Udahlah, besok aja dikerjainnya, gue juga gak bisa konsen nih, lagi mikirin gebetan gue, si Farah..”.

“Ye.. Jar, kalo suka bilang dong.. jangan diem aja, gimana sih lo?”.

“Gini-gini gue lagi PDKT nih ma dia, barusan tadi gue traktir dia di Pizza Hut”.

“Eh Btw, tiga hari lagi Adri ultah nih, kita kerjain yuk..! hihi..”.

“Eh iya, enaknya kita apain tuh anak? Ceplokin aja?”.

“Ah, basi lo.. kita ceburin di selokan depan sekolah..! haa.. pasti seru..!”.

“Gokil lo, jangan! Mending kita cemplungin aja di kali deket sekolah! hahaha.”.

“Waduh? Dasar emang gokil lo ye! Hahaha gila gila gila. Oh iya, kemarin kayaknya mau ngenalin seseorang gitu, siapa sih??”.

“Elo sih pulang langsung kabur sama Melia.. dia mau ngenalin cewek barunya..”.

“Hah? Cewek baru lagi? dasar tuh Riva, diakan baru putus sama Ajeng, besoknya langsung dapet pacar lagi?”.


Pertemanan Dava, Fajar, Riva, dan Adri cukup dekat, tapi gak sedekat sama Melia. Fajar anak yang pintar, punya badan yang bongsor, dan suka makan. Riva, dia itu orang kaya dan Playboy abis..! ganti cewek udah kayak ganti kaos kaki aja, Dava seringkali iri sama Riva, karna dia mudah sekali untuk mendapat pacar. Lalu, adri adalah anak Betawi dan penyuka olahraga futsal. Dia lebih baik gak jajan, demi untuk beli sepatu futsal yang terbagus ditoko sepatu!.


“Ya udah deh Jar, thanks ya.. gue dah ngantuk nih, gue harus istirahat yang cukup, buat besok berdiri di depan gara-gara gak ngerjain PR Kimia! Heheh..”.

“Yaudah deh, bye…”.
***


“Anak-anak, tolong keluarkan PR Kimia kalian..! yang tidak membuat atau tak membawanya, seperti biasa MAJU KE DEPAN!”. Kata Bu Ratri.

Duh, mampus gue! Bisa kena maki nih.. tapi untung gak sendiri, ada Fajar, Riva, sama Adri nih!. Bisiknya pada dirinya sendiri.

“Siapa bilang? Kita udah ngerjain tauk! Kemarin malem Fajar nelpon gue habis di telponan sama lo, dia minta dianterin ke rumah omnya yang guru Kimia juga! Gue ajak aja si Riva.”. Celetuk si Adri.

“HAH..?!!! anjrit, lo kenapa gak nelpon gue juga?? Gak konsisten banget sih!”. Kaget Dava.

“Heh, si Riva tuh dah nelpon lo berkali-kali, tapi HP lo gak diangkat-angkat! Kata Fajar lo udah Tidur, jadi gak gue telpon lagi deh..”. Kata Adri.

“Lagian lo sih, tidur kaya kebo..! gw misscall-misscall gak nyaut-nyaut!”. Samber Riva.

Duh.. mampus gw!

“Heh! Kalian kok malah ribut sendiri sih! Mana PR kalian?”. Tanya Bu Ratri.

“Ini bu..!”. Kata Adri dan Riva sembari menyerahkan buku mereka.

“Dava?”. Tanya Bu Ratri.

“E..e….gini bu….e….ee….”. Kikuk Dava.

“Gini apa? Kamu gak buat ya?!”. Tanya Bu Ratri.

“Bukan bu.. tapi.. e…e….”. Sebelum Dava selesai ngomong ada yang nyeletuk.

“Ini Bu, PR Dava..!”. Celetuk Melia.

“Loh Melia, kok PR Dava bisa ada di kamu?”. Tanya Bu Ratri.

“Gini loh bu.. tadi malam, saya dan Dava ngerjainnya bareng bu dirumah saya, terus bukunya Dava ketinggalan dirumah saya Bu, makanya saya bawa sekarang..! gitu Bu..”. Jelas Melia.

“Ooh begitu, yasudah, sini bukunya.”. Kata Bu Ratri.

Dava hanya bisa terbengong melihat Melia tersenyum padanya.

“Mel..! kapan gue ngerjainnya..??? prasaan kemaren dirumah lo gue cuman ngabisin persediaan makanan lo deh, dah gitu kan sore, bukan malem..!”. Kata Dava.

“Emang kemaren kita gak ngerjain PR bareng! Gue tadi malem ngerjainnya, gue inget lo kan paling gak bisa sama Kimia, jadi ya.. sekalian gue bikinin deh..! makasih lo ma gue..! heheh.”. Jelas Melia.

“Ya ampun Mel, Thanks beraaattt yah..!! kalo gak ada lo, wuuuiiihhh,, bisa-bisa gue pingsan didepan kelas, berdiri mulu!”. Jawab Dava.

“Iya..iya.. iih, hiperbol banget sih lo..! hehe.”.

Begini nih, gunanya seorang sahabat, dia kesusahan dibantu, dia sedih dihibur.. jadi iri.
***


“Sob, gue dah maafin lo nih, gara-gara gak ngebangunin gue! Btw, mana cewek baru lo itu? Kemaren gue gak sempet liat, soalnya Melia buru-buru ngajak gue ke toko buku.”. Kata Dava.

“Ye.. itu mah salah lo sendiri.. untung si Melia baik, dia kerjain deh buat lo! Sabar Dav.. bentar lagi dia juga kesini, oh iya, lo mau gue traktir gak? PJ.. pajak jadian..hehe, lo mesen apa aja gue yang bayar!”. Kata Riva.

“Wuuuihh.. Enak juga ya kalo lo setiap jadian nraktir mulu..! asikk.. gue mau soto betawi ya! Dua porsi oke??”. Cerocos si Fajar.

“Ambil.. pokoknya nyantai aja ma gue..”. Kata Riva

Kebiasaan Riva, Setiap jadian selalu mentraktir teman-temannya. Padahal, dia kan udah bolak-balik jadian, makin buncit aja tuh, perut si Fajar.. hihi..

“Hai, say..”. Kata seorang cewek.

“Halo, say… Dav, kenalin nih cewek gue..”. Kata Riva.

Dava sedang mengunyah dan tiba-tiba tersedak.

“Uhuk..!! SHEILA!!”. Kaget Dava.

“Iya, Sheila cewek gue, jangan kaget gitu dong.. lo udah kenal kan?”. Tanya Riva.

Gak disangka, ternyata Dava dan Riva menyukai cewek yang sama. Dan Rivalah yang mendapatkan Sheila. Dava mulai terlihat lemas dan perasaan yang gak percaya.

“Eh..i..iya.. gue dah tau kok, eh gue ke kelas dulu ya, mau ngerjain tugas Bahasa”. Kata Dava langsung meninggalkan kantin.

“Eh Dav, tunggu..! ye.. makanannya belum abis tuh, buat gue aja deh..!”. Kata Fajar.

“Dasar lo gendut..!”. Samber Adri.

Dava berjalan cepat sambil menunduk, menggenggam tangannya keras sekali.

“Brukk..!”.

“Aduh..! ati-ati dong kalo… eh, Dava?? Kenapa lo?”. Tanya Melia.

Dari situ air mata Dava mulai turun, Dava memang kuat dalam hukuman, tapi dia lemah dalam urusan hati. Gak selamanya cowok gak boleh nangis, begitu pun Dava, dia juga punya perasaan.

“Dav..! lo kenapa?? Kok lo nangis??”. Tanya Melia sambil menarik Dava ke kelas kosong.

“Mel, lo tau..? Gue udah gak ada harapan lagi!”.

“Harapan apaan sih?? Ngomong yang jelas dong”.

“Sheila.. dia dah jadian, dan yang lebih sakit lagi dia jadian sama sahabat gue sendiri, Riva..!”. Kata Dava sambil terisak-isak.

“Riva?? Sial tuh anak, sini biar gue samperin..!”.

“Mel..Mel.. jangan Mel, biarin aja, semua salah gue, gue emang belum pernah bilang ke Riva, Adri ma Fajar tentang perasaan gue ke Sheila, yang tau cuman lo Mel..”. Kata Dava.

“Ya ampun Dava.. kenapa lo gak jujur aja sih sama mereka..?? kan gak gini kejadiannya.. sabar yah..”. Kata Melia sambil memeluk Dava.

Dava sudah menyukai Sheila sejak awal masuk sekolah, sejak Sheila menjadi anak baru di awal semester kelas 3. Di mata Dava, Sheila adalah cewek yang ia idam-idamkan. Cantik, manis, ramah, dan tentunya mempunyai rambut panjang sebahu yang menjadi syarat utama tipenya Dava. Setelah ia tau Sheila sudah dimiliki Riva, tentunya Dava menjadi hopless kembali, dan gak ada semangat lagi. Walaupun gak rela, tapi Dava masih mementingkan persahabatanya antara ia dan Riva.
****


Satriyo Pamungkas

Read More ......

Si Tanpa Baju dan Penari Gipsi

-

Bagian 1



Hindu meniupkan asap rokok ke arah jendela kecil di ruangan bawah tanah yang juga kecil itu. Matanya menyipit di sorot sinar matahari pagi yang juga membakar dadanya yang telanjang. Dia bisa mencium wangi roti yang baru keluar dari panggangan dan juga suara orang yang mengantri di luar toko. Sebagian mulai membentak-bentak tidak sabar. Sesuatu yang sangat biasa terjadi di Lampu Malam. Di sini, segala sesuatu di dapatkan dengan cara memaksa, merebut, atau membunuh jika dirasa perlu. Sekali lagi dia menghisap rokok yang terselip di jarinya. Dengan segera, tangannya meraih tas kecilnya dan disangkutkan ke bahunya yang telanjang. Sudah saatnya mencari uang, pikirnya.

Setelah berjalan selama satu jam, dia sampai di sisi lain dari Lampu Malam. Tempat dimana kehidupan berjalan normal, menurutnya. Dengan santai, dia berjalan menyusuri trotoar dimana bangunan-bangunan yang terurus menjual berbagai keindahan yang tidak akan dia temui di Lampu Malam. Toko bunga, tempat orang bisa membeli surat kabar, lalu duduk dan menikmati secangkir kopi atau teh. Matanya menatap lurus, mengikuti sosok seorang lelaki yang berpakaian rapih yang berjalan ke arahnya. Saat lelaki itu mendekat, Hindu tersenyum dan lelaki itu membalas senyumnya. Dengan gerakan yang sangat halus, tangan Hindu merogoh saku belakang celana lelaki itu, hanya seper-sekian detik setelah lelaki itu melewatinya. Seperti tidak melakukan apa-apa, Hindu terus berjalan lurus ke depan sementara sebuah dompet sudah masuk ke dalam tasnya.

Tidak ada yang curiga dengan Hindu. Setidaknya, paras wajahnya sama sekali tidak mengundang kecurigaan. Sekalipun penampilannya kotor dan tubuhnya tidak pernah dibungkus baju.

Hindu menghabiskan hari-harinya dengan cara seperti ini. Pagi-pagi, saat Tuan dan Nyonya Charlie mulai membuka toko roti mereka, Hindu akan bersiap untuk pergi dan mencari uang. Mencari uang adalah kegiatan dimana dia dan tas kesayangannya pergi bertualang ke sisi lain Lampu Malam dan mencari berbagai orang yang menurutnya memiliki beberapa lembar uang di saku mereka. Dia harus kembali ke toko roti sekitar jam tiga sore. Pada waktu itu, toko roti akan segera ditutup dan itulah saat dimana dia harus segera membereskan semua kekacauan yang sudah terjadi sejak pagi. Remah-remah roti yang sudah menutupi lantai toko, lemari-lemari kaca yang sudah berlemak karena mentega, panggangan roti yang sudah ditutupi bahan roti yang menempel dan sangat susah dibersihkan. Semuanya itu adalah bagian yang harus dikerjakannya jika dia masih mau tetap tinggal di lantai bawah tanah toko roti itu.

Sebisa mungkin, Hindu menghindari pembicaraan dengan Tuan dan Nyonya Charlie. Terkadang, mereka berbaik hati memberikan beberapa potong roti sisa pada Hindu. Hindu akan diam-diam masuk ke ruang bawah tanah dan memakan roti yang diberikan, atau menyimpan sisanya untuk satu atau dua hari kedepan.

Di atas tempat tidur, dia akan mengeluarkan semua isi tasnya. Hari ini, dari tas kesayangannya sudah jatuh empat buah dompet. Satu demi satu, dia memeriksa dompet-dompet itu, mengeluarkan lembaran uang didalamnya, lalu melemparkan dompet-dompet yang sudah kosong ke sudut ruangan. Apa yang dia dapat hari ini cukup untuk meneruskan hidup sampai tiga atau empat hari ke depan. Hindu menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam, meniupkan hanya sedikit asap. Dia melirik kumpulan kertas di tempat tidur dan meraih pensil. Mulai menulis beberapa baris tetapi kemudian hatinya menjadi sangat sedih. Diam-diam dia menyelinap keluar dan menaiki tangga sampai ke atap bangunan. Ada bulan penuh menggantung di langit, di sana dia duduk sambil terus menghisap rokoknya dalam-dalam. Siluet anak lelaki di bawah bulan yang meniupkan asap ke ujung langit.

Suara-suara yang sudah akrab di telinganya menggaung lagi. Suara orang-orang yang tidak sabar menunggu giliran mereka. Hindu mengerang di atas tempat tidur, menyadari pagi sudah datang. Tangannya langsung membakar sebatang rokok dan meraih tas kesayangannya. Segera dia keluar dari toko roti, menuju air mancur di tengah lapangan untuk sekedar memerciki muka dan dadanya yang telanjang dengan air. Hari ini dia tidak usah ‘bekerja’ tetapi dia harus pergi ke seberang Lampu Malam. Persediaan rokoknya sudah habis.

Sebelum dia sempat meninggalkan air mancur, entah kenapa ada rasa sakit menyerang kepalanya. Sangat sakit sampai dia harus merebahkan diri di bangku taman yang sudah berkarat. Matanya nanar menatap langit biru yang malah menambah kesepiannya menjadi pekat. Entah karena sakit di kepalanya atau rasa sepi yang selalu menghantui jiwanya, setetes air mata jatuh di wajahnya tetapi dia tidak berani bersuara. Lapangan itu terlalu sepi, jika tangisnya pecah, maka gaungnya akan kembali padanya dan menurutnya, hal itu tidak ada gunanya.

Sakit kepalanya reda beberapa menit kemudian dan Hindu memutuskan untuk terus berjalan.
Sisi lain dari Lampu Malam ini tidak sering membuatnya terkesan. Dia hanya perlu masuk ke sebuah toko serba ada yang entah kenapa pemiliknya selalu tersenyum, mengambil beberapa bungkus rokok dan beberapa botol minuman beralkohol yang jelas-jelas bukan untuk anak seusianya. Hindu sama sekali tidak berniat untuk berlama-lama di tempat ini. Dia langsung kembali ke Lampu Malam dan naik ke atap bangunan toko roti. Di sana, dia bisa merokok dengan bebas dan juga minum dengan bebas. Menjadi mabuk dengan bebas dan menulis dengan bebas.

Tulisan-tulisan Hindu adalah satu-satunya alat yang dia tahu untuk menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Dia tidak memiliki teman sama sekali di Lampu Malam sekalipun dia berinteraksi dengan warga yang tinggal di sini.

Sama sekali dia tidak ingat bagaimana dia bisa sampai ke tempat ini. Tidak ingat dimana dia pernah belajar menulis. Satu-satunya yang dia tahu adalah dia harus bertahan hidup. Temannya selama ini hanya kesepian yang sangat akrab dengan jiwanya. Banyak waktu, dia merasa bahwa dunia hanyalah sekumpulan gerakan dan muka tanpa suara dan dia menjadi sangat tidak perduli, terhadap hidupnya sendiri ataupun hidup orang lain. Kemudian dia merasa harus minum lebih banyak alkohol, sampai kesadarannya pergi meninggalkannya. Sampai dia merasa bahwa dia hanya orang biasa, sampai dia merasa cukup normal untuk menangis dan meratap. Mencoba mengentas sepi yang sangat dekat sekaligus asing. Dia meninggalkan semua tulisan, botol-botol minuman, dan rokoknya di atap bangunan itu lalu turun ke bawah untuk membersihkan toko roti terlebih dahulu.

Segera setelah semua urusannya di toko roti selesai, Hindu kembali naik ke atap, menenggak sebanyak mungkin cairan beralkohol dan membiarkan matanya mengernyit karena rasa pahit. Perlahan, dia merasakan akal sehatnya mulai terbang, dan dia mulai menangis, berusaha keras untuk terus menghisap rokok di sela-sela tangisnya, lalu minum lebih banyak lagi. Bulan masih penuh malam itu, dia sangat berharap kalau dia adalah seekor manusia serigala yang berubah pada bulan purnama, sekali saja, dia tidak ingin menjadi dirinya sendiri. Cahaya putih menerangi lapangan di depan bangunan toko, antara sadar dan tidak, dia melihat seorang wanita gipsi menari di dekat air mancur. Tarian yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Tarian yang indah yang membuatnya tersenyum, dan kemudian tertawa, entah karena kesedihan atau keindahan. Hindu terus minum dari botol-botol bening itu, dampai dia merasa ada sesuatu yang mendesak perutnya dan dia mulai muntah disela-sela tangis sekaligus tawa. Lalu kesadarannya hilang total.

Pagi sudah turun dan Hindu masih terkapar di atap bangunan toko roti. Sementara di tempat lain, di Rumah Drako, sebuah rumah hiburan yang hany abuka di malam hari, seorang gadis berpakaian ala gipsi menuruni anak2 tangga dengan membawa berbagai perlengkapan untuk membersihkan bar yang ada di lantai satu bangunan itu.

“Paman Drako, apa aku boleh menari di bar ini setiap malam? Sekedar menambah uang.”

Lelaki tua yang bernama Drako termenung sesaat. Menatap lurus pada keponakannya, Rosie, yang sedang membersihkan meja-meja kayu di tengah ruangan.

“Rosie, mengertilah kalau tempat ini tidak berisi orang2 baik.”

“Tidak apa2 paman, aku bisa menjaga diriku.”

Drako mengerti sekali watak keponakannya yang satu ini. Rosie malang, pikirnya. Setahun yang lalu, adiknya, yang adalah ayah Rosie meninggal dunia dan meninggalkan gadis itu sendiran. Ibunya adalah seorang pelacur yang meninggalkannya seminggu setelah Rosie lahir. Drako merasa bertanggung jawab atas hidup Rosie karena dia adalah satu2nya keluarga kandung yang dimiliki Rosie. Sekalipun begitu, hidup sudah sama2 membentuk mereka menjadi orang2 tangguh yang mengerti bahwa hidup harus tetap berjalan sekalipun tanpa cahaya.

Di atap toko roti, Hindu pelan2 membuka mata yang perih ditantang sinar matahari. Sekilas, bayangan seorang gadis yang menari dibawah cahaya putih bulan memenuhi pikirannya. Mungkin hanya mimpi, pikirnya. Dengan cekatan, dia memasukkan semua kertas2 dan pensil yang berhamburan ke dalam tasnya. Setelah beberapa saat, Hindu memutuskan untuk pergi ke Rumah Drako, menumpang mandi.

Drako dan Hindu sudah saling kenal sejak setahun yang lalu. Drako menyukai anak itu. Anak itu sangat pendiam, menurutnya, tetapi itu adalah hal yang baik karena kemudian, Drako bisa mengobrol berjam2 dengannya. Seumur hidupnya, Drako belum pernah menemui seorang anak berusia 16 tahun yang begitu sedih. Terkadang, dia merasa ada rasa kasihan dalam hatinya untuk anak itu. Rasa sedih yang hampir2 bisa dilihat atau disentuh. Mungkin tertulis di dadanya yang selalu telanjang, mungkin di kedua matanya yang selalu kelabu atau di wajahnya yang seakan2 selalu berpikir. Rasa sedih yang membuat orang setua Drako sekalipun menjadi iba sekaligus ngeri karena kesedihan itu seakan2 menjadikannya seseorang yang tidak perduli atas apapun.

Hindu sendiri menghormati Drako karena menurutnya, si tua itu adalah orang yang paling baik di Lampu Malam. Dia tidak keberatan menelan segala ocehannya yang tidak jelas. Dalam beberapa hal, Hindu mengerti kesepian yang dimiliki si tua Drako. Hindu selalu memilih untuk diam saat Drako sudah mulai menceritakan pengalaman2 hidupnya. Tidak pernah dia meminta imbalan pada si tua Drako, tetapi pada waktu2 tertentu, Drako akan sangat berbaik hati mengijinkannya menikmati malam di Rumah Drako. Bahkan setengah tahun yang lalu, tanpa diminta, si tua Drako membayar seorang wanita dan mengijinkan Hindu menggunakan salah satu kamarnya dengan gratis sebagai tempat bercintanya dengan seorang wanita untuk pertama kali.

Pagi itu, Hindu langsung masuk ke Rumah Drako lewat pintu belakang seperti biasa dan dia sangat terkejut saat melihat seorang wanita muda berpakaian gipsi sedang menggosok lantai bar. Wanita muda itu memang berjongkok membelakanginya tetapi dia berharap seandainya saat itu waktu berhenti. Sesaat kemudian, si tua Drako mendehem dari anak tangga.

“Aku rasa kau akan menumpang mandi pagi ini.”

Hindu hanya mengangguk dan segera naik ke lantai dua. Wanita muda itu menoleh ke arahnya sesaat dan Hindu berhenti sejenak hanya agar dapat melihat ke dalam mata wanita itu tetapi wanita itu cepat2 melanjutkan pekerjaanya menggosok lantai.

Sehabis mandi, Hindu tidak lagi melihat si tua Drako di lantai satu tetapi wanita gipsi itu masih di sana dan sekarang sedang mengeringkan gelas2 di balik bar.

“Namamu Hindu.” Wanita itu bicara tanpa berhenti mengeringkan gelas.

Hindu menoleh dan duduk di salah satu kursi bar yang terbuat dari kayu. Sekarang dia bisa dengan jelas melihat wajah wanita gipsi itu. Pastilah si tua Drako sudah memberitahukan namanya pada wanita itu.

“Aku melihatmu di atap toko roti semalam. Aku belum pernah mendengar orang menangis sambil tertawa sekaligus.”

Hindu hanya terdiam mengamati wajah wanita itu. Dalam pikirannya, dia mengerti sekarang bahwa semalam memang benar2 ada seorang wanita menari di dekat air mancur. Dia merogoh saku celananya, mencari2 bungkusan rokok dan dengan segera menyulut sebatang. Tanpa canggung, wanita itu mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya juga. Sekarang dia sudah selesai dengan gelas2 di bar dan sedang meniupkan asap rokok ke wajah Hindu. Tanpa peringatan, Hindu mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu dan mencium bibirnya. Saat akhirnya dia melepaskan wanita itu, dia bisa melihat wajah wanita itu menjadi merah. Hindu mundur dan hendak keluar dari bar itu.

Seketiak itu juga wanita itu berkata, “Namaku Rosie. Aku akan menari di sini setiap malam.”

Hindu mengangguk kecil lalu berbalik pergi.

Malam sudah naik tinggi saat Hindu diam2 keluar dari ruang bawah tanah. Malam ini, dia sudah berniat untuk pergi ke Rumah Drako dan melihat tarian gipsi. Rosie, dia mengulang nama itu berkali2 dalam pikirannya. Sebelumnya, belum pernah ada orang yang perduli apakah dia menangis atau tertawa.

Di dalam bar, semua orang sedang mengelilingi sebuah meja dimana seorang wanita berpakaian gipsi menari di atasnya. Hindu sendiri membeku di tempatnya berdiri menyaksikan Rosie menari.

Setelah tarian itu selesai, Rosie turun dan berjalan ke arahnya. Belum lagi sampai ke tempat Hindu berdiri, seorang lelaki bertubuh tinggi besar menarik Rosie dengan kasar. Hindu mengenali lelaki itu dengan nama Sultan. Sultan adalah seorang penjahat kambuhan yang tinggal di Lampu Malam. Reputasinya sebagai seorang penjahat memang dikenal luas. Tidak segan dia menghabisi korban kejahatannya dengan sadis. Sultan adalah tipe orang yang melakukan kejahatan demi uang, kekuasaan, atau apa saja yang saat itu menjadi keinginan hatinya.

Awalnya, Hindu bermaksud untuk menarik Rosie dari cengkraman Sultan tetapi dia sadar kalau disbandingkan dengan Sultan, dia adalah David di hadapan Golitath.

Sultan akhirnya berhasil menarik paksa Rosie yang berusaha keras melepaskan cengkraman tangannya. Dari belakang, Hindu mengikuti mereka berdua diam2. Sultan menarik paksa Rosie ke dalam toilet dan dari luar, Hindu bisa mendengar Rosie yang terisak ditimpa suara tawa Sultan.

Seketika itu juga, Hindu merasa dadanya yang telanjang seperti mau pecah. Sekuat tenaga dia berlari ke luar dan terus berlari sampai ke sisi lain Lampu Malam. Dia tahu seseorang yang tinggal di salah satu bagian yang lain ini, yang malam ini akan ditemuinya.

Hindu memasuki sebuah gang sempit dan mengetuk pintu di ujung gang itu tiga kali. Seorang lelaki kurus membuka pintu, menyipitkan matanya dan mempersilahkan Hindu untuk masuk.

“Aku hanya menjual barang pada orang yang memiliki uang.” Peto, lelaki kecil itu adalah seorang penjual senjata yang terkenal diantara penjahat2 yang tinggal di Lampu Malam. Karena reputasinya, ada peraturan yang tidak memperbolehkan adanya senjata di Lampu Malam. Peto adalah satu2nya orang yang mengetahui pasti siapa2 saja di Lampu Malam yang memiliki atau pernah memiliki senjata. Peto sudah sangat sering berhadapan dengan penjahat2 terkejam yang keluar masuk Lampu Malam dan sekarang, di hadapannya, ada seorang anak muda dengan dada yang telanjang yang belum pernah didengar namanya sebelumnya. Sekalipun begitu, Peto bersiaga menghadapi anak muda ini. Ada sebuah pancaran kesedihan dan kemarahan yang mematikan di sekitar anak muda ini.

“Jangan pernah khawatir tentang uang. Siapa saja yang memiliki senjata di Lampu Malam?” Hindu bertanya datar tanpa beranjak sesentipun dari tempatnya berdiri.

“Saat ini tidak ada. Terakhir, Sultan menjual lagi senjatanya padaku karena dia membutuhkan uang.”

“Sebutkan harganya.”

“Dua ratus ribu bonus sekotak peluru.”

Hindu mengeluarkan uang sebanyak dua ratus lima puluh ribu dari dalam sakunya dan meletakkannya di sebuah meja. Peto membuka lemari besinya dan menngeluarkan sebuah pistol berwarna perak dan sekotak peluru. Dia terkejut saat mengetahui banyak uang lebih yang diberikan Hindu kepadanya.

Hindu seakan tidak perduli dengan jumlah uang yang diberikan. Dia menyelipkan pistol itu di pinggang celananya dan kotak peluru di dalam sakunya. Dengan nafas memburu dia segera berlari kembali ke Rumah Drako.

Rumah Drako sudah hampir sepi saat dia sampai. Dia tidak lagi melihat Rosie di dalam ruangan tetapi dia melihat Sultan yang masih minum di bar. Si tua Drako melayani Sultan dengan wajah yang tidak senang. Hindu memutuskan untuk menunggu Sultan di luar.

Tubuh besar Sultan berjalan agak goyang meninggalkan Rumah Drako. Hindu bisa melihat bayangan tubuhnya terseret di tanah. Hindu mengikuti Sultan dari belakang dan setelah agak jauh dari Rumah Drako, Hindu memanggil namanya.

“Sultan!”

Sultan berbalik dan tersenyum merendahkan pada Hindu.

“Kuman! Apa yang membuatmu berani menahanku!”

“Kau tidak akan pernah lagi meletakkan tanganmu pada wanita penari itu.”

Sultan meludah dan tiba2 menjadi sangat marah. Anak lelaki telanjang dada ini tiba2 datang entah dari mana dan memberitahunya hal yang seharusnya tidak dia lakukan.

“Kalau saat ini aku menarik pelacur itu keluar dari tempat persembunyian pamannya dan menidurinya tepat di sini, di depan matamu yang menyedihkan itu……..berkali2, apa yang bisa kau lakukan padaku?” tawa Sultan tiba2 pecah dan Hindu merasa dadanya benar2 akan meledak. Hindu menarik pistol yang sudah terisi penuh dari belakang punggungnya dan mengarahkannya tepat ke kepala Sultan.

“Ini!” katanya dingin.

Sepersekian detik, Sultan merasa mengenal senjata itu tetapi dia sudah terlalu mabuk. Juga untuk menyadari bahwa anak lelaki di depannya ini jauh lebih berbahaya dari yang dapat dia bayangkan. Kemudian suara senjata yang meletus membelah malam yang sudah sunyi. Sultan terjatuh ke tanah dengan mata yang masih membuka. Hindu menyelipkan kembali senjata itu ke belakang punggungnya dan dengan santai berjalan pulang ke ruang bawah tanahnya.
*****

Sisca

Read More ......

Devil King

-

Bab 1
Kunci dan Lilin



Hey, sudah saatnya,” seorang pria menegur Mullo sehingga tersadar dari lamunannya. Dilihatnya sosok besar dengan kaca mata hitam berdiri di hadapannya. Kepalanya gundul dan jenggotnya yang terlihat seperti garis memanjang kebawah. Badannya sedikit gemuk dengan otot yang menonjol di seluruh tubuhnya.

“Umm. . .” Mullo bergumam. Sebelum sempat berkata pria besar tadi sudah menariknya dari tempat duduknya. Tangannya kasar petanda pekerjaannya yang berat. Dia menggiring Mullo ke arah sebuah pintu besar di ujung ruangan. Sebelum memasuki pintu, bagian sebelum ruangan terlihat beberapa lukisan manusia dengan wajah tersenyum sombong dan menyipitkan mata.

Pintu dibuka. Terdapat seseorang yang menghadang di depannya sambil duduk memandangnya. Mulutnya tersenyum sombong persis seperti lukisan di luar ruangan. Perlahan diangkat tangannya membuat posisi telapak memangku dagu sama persis dengan lukisan dirinya yang terletak di belakangnya sendiri. Seakan dipenuhi rasa senang yang luar biasa dia berkata, “Jadi, berapa yang kau peroleh kali ini.”

“Dua ratus bijih emas sir,” jawab Mullo tegas. Suaranya tanpa bergetar petanda dia tak takut sama sekali dengan apa yang akan diterimanya nanti. Dalam hatinya hanya ingin agar keluar dari ruangan ini secepatnya. Dirinya menatap dalam-dalam mata seseorang dihadapannya yang tetap tersenyum menatap dirinya.

Senyuman itu perlahan hilang berganti dengan raut masam petanda kesal. Masih dengan nada sombong dia berbicara, “Dua ratus bijih emas kau kira cukup untuk menebus hutangmu selama ini. Benar-benar tak tahu---”

“---Bukannya saya tidak tahu terimakasih sir. Saya sudah berusaha untuk mengumpulkan sebanyak itu.”

Orang itu tak berbicara. Ditatapnya mata Mullo dalam, berharap dia akan terbakar hanya dengan sebuah tatapan. Melihat tidak terjadi apa-apa, dia menjentikkan jarinya. Orang yang tadi membawa Mullo menyeret Mullo keluar dari ruangan itu. Dia seakan senang dapat menyiksa orang yang lebih lemah darinya. Mullo agak meringis kesakitan saat diseret karena tangannya tertarik cukup keras dan juga orang itu menggenggam tangannya seperti ingin meremukkan telapak tangannya.

Dia mendorong Mullo keluar dari bangunan itu. Sebuah bangunan megah berwarna putih perak yang kokoh dengan karpet merah didepan pintu masuknya. Dengan tangan kasarnya, direbutnya kantong berisi bijih emas dari tangan Mullo. Mullo yang tak berdaya menyerahkan begitu saja bijih emas yang didapatnya dengan susah payah .

Pria besar itu kembali masuk ke dalam bangunan itu. Seingat Mullo sebelum dia masuk kembali dia sempat meludahi wajahnya terlebih dahulu. Dengan pakaiannya yang lusuh Mullo menyapu ludah itu dan menghilang bercampur keringatnya.

Beberapa orang yang dari tadi berjalan hilir mudik menatap Mullo sebentar dan kemudian kembali berjalan tanpa memperdulikan. Mullo berbalik dan berjalan perlahan ke arah air mancur yang berada di depan bangunan tersebut. Langkahnya tak beraturan karena lapar yang dirasakannya. Dirinya belum makan seharian penuh karena sibuk bekerja di tambang emas.

Dirinya duduk di batas kolam air mancur. Dia sama sekali tidak mempunyai uang untuk makan. Seakan sekarang dia tidak punya harapan untuk hidup lagi. Dirinya hanya bisa melamun dan menghayal suatu hal yang tidak bisa dia capai. Berharap ada keajaiban datang dan menolongnya dari segala siksa dunia ini. Tapi sepertinya harapan itu walau bagaimanapun tidak akan pernah datang untuknya, walau dia bekerja sekeras apapun.

Terdengar derap langkah menghampirinya. Sosok orang tua dengan jenggot tipis berwarna putih dan rambut yang dipenuhi uban duduk di sampingnya. Tongkatnya diarahkannya ke sebuah pohon besar yang berada jauh di samping Mullo. Entah apa maksudnya tapi kemudian dia menjelaskan, “Kau pikir berapa tahun pohon itu dapat berkembang sebesar itu.”

Mullo tidak menjawabnya. Setelah beberapa detik dan mulai tahu tidak akan pernah menerima jawaban, pria tua tadi menjawabnya sendiri, “butuh waktu lima ratus tahun untuk tumbuh seperti itu dan mempunyai banyak buah yang amat lezat.”

Mullo masih tidak menghiraukannya. Pria tua itu terkekeh kecil. “Kau tahu maksudku. Mengapa kau tidak mencicipi buahnya selama itu masih gratis di sini.”

“Humph?” Mullo dengan tatapan heran memandang pria tua tadi.

“Dulu pohon itu ditanam oleh seseorang yang amat baik. Seseorang yang memiliki sebuah kekuatan untuk merubah dunia. Pohon itu sangat berharga dulunya. Sekarang sepertinya tidak ada yang menghiraukannya lagi.”

“Benar-benar gratis?”

Pria tua itu kembali terkekeh. Jadi anak muda ini dari tadi tidak memperdulikan kata-kataku. “Tentu saja. Dan kau tahu siapa yang menanam pohon itu?”

Mullo sudah berlari meninggalkan pria tua itu. Dengan tangan lemahnya dia panjat pohon tinggi itu. Karena terus terjatuh harapannya seakan sudah tidak ada. Dirinya duduk di tanah karena sudah tidak ada tenaga untuk berdiri.

“Petter Hamigrad yang menanamnya.” Pria tua itu menghampiri Mullo. Tangannya dengan kuat menahan tongkat yang dia letakkan di tanah sehingga badannya dapat berdiri tegak. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk ujung tongkat yang berbentuk bola.

“Hamigrad?” Mullo mulai menghiraukan perkataan pria tua tadi. Dahinya mengerut seakan mencoba membaca pikiran orang tua itu. Dia bersandar di pohon itu sehingga dahannya yang besar bergoyang keras membuat beberapa buah berguguran. Mullo yang melihat itu dengan segera mengambil buah-buah yang berjatuhan. “Aku yakin, kau Romullo Hamigrad.” Dirinya sekarang terlihat tersenyum tapi ingin menangis. Tongkatnya terlihat sedikit bergetar. Dia membetulkan kacamatanya yang sedikit bergeser.

“Kau tahu namaku?” Mullo menggigit buah yang tadi diambilnya. Rasanya sungguh lezat sehingga digigitan berikutnya dia mengunyahnya dengan cepat.

“Ya, aku tahu. Sayang, kesini sebentar,” suruhnya kepada Mullo. Mullo mengikutinya dan berdiri di hadapannya. Di tangannya masih tersisa sedikit buah dengan bekas gigitan.

“Ada yang ingin kuberikan padamu. Waktuku tidak banyak.” Dia mengeluarkan sebuah benda dari dalam bajunya, seperti kunci yang disisinya terdapat lima bangun kecil yang menyatu.

“Tentunya kamu sekarang berumur enam belas tahun dan kamu belum sekolah. Aku prihatin akan kehidupanmu yang seperti ini. Kunci ini, apabila kamu bertemu dengan orang yang bernama Romush, serahkan saja kepadanya. Dia bisa dipercaya, walaupun yah, penampilannya agak gila.”

“Kalau dia tidak datang?” Mullo kembali mengigit buah yang berada di tangannya. Seakan dia memakan makanan sepiring nasi penuh, dirinya mulai kenyang.

“Dia pasti datang. Oh ya, ada satu lagi.” Kali ini dia mengambil sebuah lilin dari saku kanan bajunya dan menyerahkannya ke Mullo. Mullo menyambutnya dengan tangan kanan sambil melihat sekeliling lilin itu.

“Ini akan berguna.”

Mullo memperhatikan lilin itu sebentar. Terlihat tulisan Petter Hamigrad. “Petter Hamigrad, sebenarnya dia itu kan__”

“__Ayahmu. Ya, dia itu ayahmu,” Rona wajah pria tua itu terlihat senang. Matanya melebar dan alisnya terangkat. Wajahnya tampak berusaha melihat jauh ke dalam diri Mullo. Senyumnya terlihat tak pernah menghilang dari wajahnya selama dia berbicara (dan Mullo baru saja menyadarinya).

“Tapi lima ratus tahun yang lalu. Aku rasa pohon ini tidak mungkin ditanam oleh ayahku bila berumur selama itu. Kecuali ayahku bisa kembali ke masa lalu, tapi itu tidak mungkin.”

“Entahlah, siapa yang tahu__” Terdengar suara bip berulang kali dari saku orang tua itu. “Owh sudah waktunya, aku harus cepat.”

Orang tua itu berlari kencang dengan tongkat masih digenggam kuat di tangannya. Sungguh aneh melihat orang tua yang masih bisa berlari seperti itu.

“Tunggu! Nama anda, sir!” Terlambat. Orang tua tadi sudah hilang dari pandangan Mullo. Siapa orang tua itu?

Mullo memutar-mutar kunci yang tlah dia dapat. Kunci tersebut terukir huruf-huruf kecil yang amat sulit untuk dilihat mata. Tapi beberapa tulisan masih jelas dibaca, seperti kata Hamigrad dan angka 31. Mungkinkah kunci ini berharga. Berapakah harga yang kudapat apabila ini dijual?

Matanya beralih ke lilin tanpa sumbu dan tak mungkin dinyalakan. Akan berguna? Huh. Dirinya memasukkan lilin itu ke saku yang tersembunyi di balik lipatan baju.

Dirinya melangkah menyusuri jalan melewati beberapa pepohonan lebat tanpa buah. Awan tebal menyelimutinya selama perjalanan. Hari memang terlihat mendung. Bahkan gelegar guntur dan kilatan petir tetap menyambar meski beberapa menit berlalu seakan tidak mengikhlaskan langkah demi langkah yang dijalani oleh Mullo.

Hujan lebat mengguyur badan Mullo membuat dirinya basah kuyub. Dia berlari sampai ke sebuah gubuk kecil yang terlihat tidak terawat dan berdempetan dengan rumah-rumah lainnya. Bagian atapnya terlihat berlubang sehingga memudahkan air hujan untuk masuk ke dalam.

Dia menggigil dan menggertakkan giginya berulang kali. Dirinya menyelinap masuk ke dalam gubuk dan mengendap ke kamarnya yang berada di tingkat dua. Ibu tirinya tidak mengetahui bahwa Mullo sudah pulang dan malah asyik dengan beberapa intan yang berhasil didapatnya di jalan.

Mullo dengan segera mengganti baju basahnya dan mendekapkan diri ke selimut. Berharap tidak diketahui orang tua tirinya, disembunyikannya lilin dan kunci yang dia dapat dari pria tua- di bawah kasur yang terbuat dari kayu jati yang sudah mulai rapuh. Apabila ketahuan dan diketahui berharga, tentu saja orang tua tirinya akan menjualnya.Sesaat kemudian terdengar teriakan dari lantai bawah. “Mullo! Di mana kamu?!”

Mullo meloncat ke lantai sambil menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Dengan sikap sedikit menunduk dia berlari ke lantai bawah sambil menghindari tetesan hujan yang berhasil menembus atap yang bocor. Dia menuruni tangga dengan sedikit meloncat dan berharap tidak terpeleset.

Beberapa langkah kemudian ibu tirinya yang bernama Petria sudah menatapnya dengan muka menyeramkan. Tubuhnya yang kurus dan matanya yang besar membuat dirinya terlihat lebih seperti seekor belalang dari kejauhan daripada seorang manusia. Bibirnya lebar dengan pipi sedikit menggembung. Tangannya memegang kedua pinggang dan melotot marah.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sudah pulang, anak idiot.” Sebelum Mullo berhasil menjawab pertanyaannya, petria sudah memberikan pertanyaan lain, “mana uang yang kau peroleh hari ini.”

“Ti_”

“_Tidak dapat kau bilang!” Petria berhasil memotong kata Mullo. Mukanya memerah. Nafas dari hidungnya menghembus keras seakan-akan lehernya sekarang sedang terikat tali yang amat kencang. Dengan tangan kasarnya digenggamnya tangan Mullo dan di seretnya ke lantai atas. Dia membuka pintu kamar Mullo, memasukkannya, dan menutupnya kembali dengan dentuman keras yang menyebabkan dinding bergetar hebat. Terdengar suara retak lain di bagian atap yang menyebabkan jumlah air akibat atap yang bocor semakin banyak.

“OK anak idiot, kau tidak akan dapat makanan sebelum kau berhasil mendapatkan uang yang cukup untuk mendapatkan makan!” Dentuman kaki Petria yang menjauh keras sekali menyebabkan lantai sedikit bergetar. Tidak apa, aku sudah kenyang karena memakan buah tadi, pikir Mullo.

Tidak hanya kali ini Mullo bernasib demikian. Perlakuan ayah dan ibu tirinya serta anaknya yang bernama Doen memang membuatnya amat kesal karena orang tua aslinya meninggalkannya di rumah mereka. Tidak jarang mereka mengejek orang tuanya secara sengaja.

“Kau tahu idiot, ibumu mati karena melahirkan anak idiot sepertimu,” kata Petria saat makan malam bersama.

“Huh, bukannya dia idiot karena ayahnya yang lebih idiot lagi darinya?” Suami Petrisia yang bernama Anotio meladeni perkataan Petria.

“Haha, jatuhnya buah memang tidak jauh dari pohonnya, idiot!” Doen mencondongkan dirinya ke arah Mullo. Mullo diam saja. Sebenarnya yang cocok dikatakan idiot itu Doen. Mukanya memang terlihat seperti anak yang tidak berpendidikan dan kelakuan yang mengesalkan, tapi amat dimanja oleh orangtuanya. Kata-kata itu biasanya muncul di benak Mullo untuk menghiburnya dari ejekan mereka yang bertubi-tubi.

Sekarang dia hanya menutupi diri dengan selimut untuk melindunginya dari tetesan hujan di kamarnya. Memang lebih baik berada di dalam kamar ini daripada bertemu dengan masing-masing dari anggota keluarga Mr. Anotio.
Dirinya kembali mengambil kunci yang tadi disembunyikannya di bawah kasur. Dia berusaha membaca kembali tulisan kecil di sisi kunci. Kamarnya yang remang-remang memang sulit untuk melihat, tapi dengan bantuan sedikit sinar lampu dan kaca pembesar, cukup untuk melihat tulisan itu. Sudah dia duga, tulisan tersebut berhubungan dengan Petter Hamigrad.

Petter Hamigrad, Devil King, no.31
lima bangun yang ada di kunci tersebut tidak lain kubus dengan empat buah piramida di sisi-sisinya, dan setengah bola di atasnya. Di masing-masing bangun terdapat sebuah huruf yang tak bisa dibaca. Seperti huruf kuno atau apapun itu. Seperti hurup phi, ro, dan omega.

Kalau dilihat lebih teliti lagi warna kunci itu berubah saat menerima pantulan cahaya dari tetesan hujan. Dari warna kuning emas menjadi warna kemerah-merahan. Walaupun agak samar tapi seperti ada perubahan pada tulisannya saat warna tersebut berubah. Mullo seakan tidak percaya saat melihat tulisan Petter Hamigrad berubah menjadi Romullo Hamigrad (Walaupun awalnya dia tidak menyadari karena hanya tulisan Petter yang berubah menjadi Romullo). Letak-letak simbolpun berubah acak. Entah apa maksudnya, yang jelas di dalam benda yang bisa dibuka oleh kunci tersebut pasti merupakan benda yang berharga.

Hujan mulai reda. Mullo meletakkan kunci itu ke dalam saku bajunya dan meraba-raba bawah kasur untuk mencari lilin yang disembunyikannya. Setelah merasa lilin tersebut tersentuh bagian belakang telapak tangannya, dia terkejut karena lilin tersebut terasa membakar lengannya. Mullo menjerit pelan (tapi berusaha agar tidak terdengar salah satu dari keluarga Anotio) dan kemudian terdiam melihat tanda yang baru muncul di tangannya. Tanda seperti omega rata-rata yang kehilangan satu buah garis di sisinya. Mullo berusaha menghilangkan tanda tersebut tetapi tidak bisa hilang. Tanda tersebut seperti tatto yang terus melekat.

Hujan telah reda. Dirinya masih terkurung di dalam kamar menatap langit yang mulai gelap. Melihat burung-burung berterbangan bebas di angkasa dan berseru satu sama lain. Beberapa ekor burung mendatanginya dan kembali menjauh saat tangan Mullo bergerak menakutkannya. Citcit kecil perlahan menjauh sampai tak terdengar lagi.

Di bawah terdengar suara ribut anggota keluarga Mr Anotio. Terdengar Doen membentak kepada orangtuanya untuk dibelikan sepeda model baru yang baru dia lihat diluar. Anotio terdengar mengomentari anaknya itu dengan suara sedikit membentak. Kalender kadang-kadang bergoyang ke kanan dan kiri karena sahut dan sahutan mereka. Sangat aneh kalau rumah ini tetap bertahan sampai saat ini.
****


Ihzan Cool

Read More ......