Monday, May 25, 2009

I believe in You and Me: White Caramel

1. I Believe in You and Me



KOMPOSISI suara sopran dan bass yang dominan bermain di forte membuat bait-bait yang dinyanyi-kan terdengar seperti rintihan, seperti suara orang yang begitu kesakitan. Sedangkan alto dan tenor yang bermain di piano membuat efek yang tidak kalah hebatnya dengan sopran dan bass.

Efek lighting juga membuat para hadirin terbius dengan rasa sekarat yang diberikan grup paduan suara ini. Benar-benar terlihat sebagai kepedihan yang abadi.

Tangan kondaktur bergerak naik-turun, memberikan perintah tanpa bersuara. Tangan itu pula yang menjadi tonggak grup tersebut. Dan tiba-tiba saja suara mereka yang tadinya hanya dibagi menjadi dua suara, terpecah menjadi empat suara sesuai golongan suara mereka, lalu pecah lagi menjadi delapan suara.

Kian lama, suara mereka menjadi forte seluruhnya, memberikan kesan bahwa mereka berteriak dan ingin seseorang tahu penderitaan yang sudah mereka alami. Dan suara yang forte itu kian lama menjadi piano, menjadi satu suara lagi dengan step yang sangat baik. Sangat kentara bahwa mereka sudah memiliki jam terbang yang banyak. Lalu setelah menjadi piano, suara itu bertambah halus menjadi piano simo, semakin lama semakin hilang dan tangan kondaktur tiba-tiba sudah mengisya-ratkan bahwa lagu sudah berakhir.

Benar-benar penyajian lagu dengan dinamika yang luar biasa. Applause pun diberikan bagi grup paduan suara ini. Walaupun acara ini hanyalah acara pra-konser yang diselenggarakan untuk latihan dalam lomba paduan suara nasional, mereka sama sekali tidak main-main dalam menggarap lagu-lagu yang akan dimainkan.

Benar-benar tiga menit yang fantastis bagi yang menontonnya.

God, it’s awesome!” seru seorang laki-laki paruh baya dengan rambut disemir rapi yang berwarna putih sembari bertepuk tangan seperti para penonton yang lain. Bahkan ada beberapa yang memberi-kan sebuah standing ovation. ”Kamu berhasil membuat paduan suara ini menjadi besar.”

Sandra, yang merupakan kondaktur paduan suara tersebut, tentu saja menengok ke arah lelaki paruh baya tersebut. ”Ah, Pak Nishimura! Terima kasih sekali pujiannya!”

Memang, kebanyakan mengakui dengan keindahan lagu yang disuguhkan oleh choir group ini. Termasuk lelaki paruh baya yang bernama Pak Nishimura ini. Pria keturunan Jepang ini adalah seorang pelatih vokal yang sangat sudah kaliber, khususnya dalam paduan suara—yang juga merupa-kan guru Sandra.

”Kamu sudah benar-benar menjadi hebat, Sandra. Sudah dapat membuat grup SMA-mu menjadi grup yang tak kalah kompetennya dengan grup paduan suara mahasiswa.” Pak Nishimura tersenyum.

Sandra membalasnya hangat. Setelah berbincang sebentar, Sandra akhirnya memutuskan untuk ’mengirim’ anak didiknya ke backstage. Tetapi, belum sempat ia memerintah, kilatan blitz membuat-nya terperangah kaget.

Watch out, ├ętoile girl!” Seorang pria, yang hanya berbeda satu tahun dengan Sandra, tersenyum hangat. Pria itu terlihat sangat kasual dengan hanya mengenakan kaos yang ditiban oleh blazer coklat dan juga mengenakan jins dan sepatu kets yang terlihat agak lusuh. Tidak lupa tas besar yang ada di pundaknya, dan kamera digital yang melingkar di lehernya.

Sandra yang ingin sekali menekuk wajahnya pun akhirnya malah ikut tersenyum melihat pria itu. Pria yang memiliki senyuman jenaka. Pria yang sudah lama mengisi relung di hatinya.

Pria yang bernama Indra itu menghampiri Sandra dan mencium pipinya. Sadar kalau dirinya akan berbincang lama dengan Indra, ia akhirnya menyuruh salah satu penyanyi soprannya yang bernama Astrin untuk menjadi co-leader.

”Anak-anak kamu yang pegang dulu. Suruh mereka ke backstage, lalu kalian boleh makan makan-an yang sudah disediakan. Tetapi jangan lupa, nggak boleh menyentuh sambal dan thousand island-nya! Aku nggak mau kalau suara kalian kenapa-napa. Ah iya, jangan lupa nanti selesai makan, satu-satu kamu kasih kencur yang ada di tas aku. Bisa kan?” Sandra memberikan instruksi pada Astrin.

Astrin pun mengangguk dan segera melakukan tugasnya.

”Gimana kerjaan kamu, Nyet? Strict banget ya, sampai-sampai nggak on time.” Sandra berkata sambil mengamit tangan Indra ke salah satu tempat duduk khusus untuk tamu. ”Tapi herannya mata kamu berbinar sekali ya? Padahal sudah nggak tepat waktu untuk nonton acaraku ini. I guess some-thing… kamu habis motrer covergirl ya?”

Setelah duduk, Indra menjitak pelan kepala Sandra. ”Hei, kapan sih sifat curigaan kamu tuh bisa hilang?”

”Sebagai pasangan seorang fotografer remaja yang basisnya fashion, pastinya aku punya hak untuk curiga, bukan?” Sandra nyengir. ”Dan mata kamu yang berbinar seperti demikian… hmm… memang patut dicurigakan.”

I have no affair with girls, Donkey.” Indra menjawab tenang.

Okay, I believe in you, Nyet.” Sandra meresponsnya dengan senyuman manis. Tentu saja Sandra sangat sadar bahwa mata yang meneduhkan milik Indra itu takkan pernah berani melirik perempuan selain dirinya. Mata itu adalah mata yang sarat akan cinta—yang hanya ditujukan padanya.

Lagi-lagi Indra menjitak pelan Sandra. Tindakan simpel tapi sangat menandakan bahwa Indra sangat menyayangi guru vokal choir ini. Sandra pun merengut manja. Ia sandarkan dirinya di bahu Indra. Hangat. Entah kenapa ia sangat merindukan Indra yang memang nampaknya selalu warm.

”Nyet…” Sandra memanggil.

”Ya?”

”Lusa jadi ngeliput Festival Paduan Suara Nasional kan?” Sandra memastikan.

”Sebenernya sih nggak.” Indra menjawab kalem.

Sandra langsung beranjak dari posisinya menghadap ke Indra, tanda bahwa ia sangat kaget. ”Lho, bukannya kamu bilang kalo kamu akan ngeliput FPS itu?”

”Tuh kan, kamu tuh harus nyoba sabar dong, Sandra. Aku belum selesai bicara.” Indra tertawa. ”Begini ya, sebenarnya sih aku memang nggak ditugaskan untuk meliput festival itu. Tetapi berhu-bung ada ├ętoile girl yang akan menjadi kondaktur… makanya aku bilang ke atasan kalo harus aku yang meliput. Apalagi mengabadikan momen-momen di mana kamu akan sangat serius.”

”Oh? Begitu?” Sandra tampak malu.

Indra amused banget kalau sudah melihat Sandra blushing. Sandra yang biasanya terkesan angkuh, sangat berbeda ketika dia sedang malu. Saking gemas dengan kekasihnya ini, Indra mencubit pipi Sandra sehingga Sandra panik dan malu tidak karuan—masalahnya dilihat orang-orang! Tindakan Indra memang cenderung spontan.

”Nyeeet! Sakiiit!” gerutu Sandra.

Indra melepas tangannya dan tertawa melihat hidung Sandra yang merah. ”Kamu mirip badut!”
Sandra memonyongkan mulutnya. ”Ndra… kamu nyebelin banget sih! Bukannya minta maaf, malah ketawa. Gak manly banget!” Indra dengan cepat mengacak-acak rambut Sandra, dan Sandra langsung mengantisipasinya. ”You did it again, you’ll never see me again!

Indra melotot. ”Hush! Ngomongnya sembarangan!”

”Bukannya sembarangan, tapi maksudnya aku gak bakalan mau ketemu sama kamu. Udah ah, Ndra. Nggak malu dilihat sama orang?!” sembur Sandra jengkel karena merasa Indra sangat seperti anak kecil.

Okay, Princess Donkey!” Indra nyengir lebar. ”Ah ya, aku mau menunjukkan sesuatu sama ka-mu.”

Sandra mengernyit bingung. Indra pun mengutak-atik kamera digitalnya. Tanpa memakan waktu lama, ia menyodorkan kamera digitalnya pada Sandra.

”Aku suka banget dengan foto ini. Menurut kamu bagaimana?” tanya Indra.

Sandra terdiam.

”Hei… kasih komentar dong.” Indra heran dengan respons Sandra.

Tanpa mengucapkan satu kata pun, Sandra malah mencium pipi Indra. Indra menatap Sandra tak mengerti.

”Ini pembalasanku karena tadi kamu udah cium pipi aku. Dan juga… ini hadiah karena kamu selalu aja ngebuat aku sangat nyaman.” Sandra tersenyum.

”Benar begitu?” Indra agak blushing.

”Yup.” Sandra mengangguk yakin. Lalu ia meraih kamera digital milik Indra lagi. Ia perhatikan sebuah foto yang membuatnya melakukan tindakan manis itu.

Fotonya.

Foto Sandra tadi. Sandra yang sebagai kondaktur.

”Aku suka banget foto ini. Nanti di Trinita Magz, kamu pajang ya. Terus headline-nya bertuliskan ’The Best Conductor’.” Sandra nyengir. ”Agar nanti Pak Go baca dan kesal. Lalu, ia menarik kata-katanya yang bilang kalo aku ini sangat wasting time.”

Indra mengernyit bingung. ”Pak Go? Your Japanese teacher? Memangnya ada hubungannya ya?”

”Sindrom lemot kamu kumat deh. Iya, Pak Go yang itu. Dia kan bilang kalo tindakan aku ini—menjadi pelatih paduan suara SMA—adalah tindakan yang membuang waktu.” Tiba-tiba saja Sandra jadi semangat berbicara. ”Kamu tahu kan, Nyet, kalo aku tuh sangat berbakat dalam hal musik? Iya lah, aku kan bisa bernyanyi dengan sekali melihat partitur. Bahkan aku bisa bermain alat musik—piano, biola, gitar, juga drum. Teknik menyanyiku dalam paduan suara juga memuaskan. Karena itu pula aku menjadi salah satu penyanyi sopran yang diutus dalam lomba Choir Competition di Beijing.”

Indra langsung terpingkal-pingkal, ngakak nggak karuan. Sandra yang tadinya ingin berbicara lagi, langsung tertahan dan menatap Indra bingung, takjub dan heran.

”Nyet, nggak ada yang lucu!” seru Sandra.

”Ya, nggak ada yang lucu selain ngeliat kamu dengan angkuhnya menunjukkan kemampuan kamu. Hei, aku kan nanya tentang Pak Go. Bukan kamu. Hahaha…” Indra tertawa, heran kenapa Sandra jadi narsis begitu.

Sandra cemberut. Lalu, ia mencubit tangan Indra sehingga Indra berteriak kecil karena kesakitan. ”Aku bukannya overconfident atau apa… cuma mau memperdetail kenapa Pak Go sangat menyaya-ngiku sebagai murid.”

You ugly, Donkey. Sudahlah, jangan manyun begitu. Sekarang, beritahu aku alasan kamu.”

Sepertinya Sandra melupakan kejengkelannya. Ia langsung nyerocos. ”Pak Go menawariku untuk menjadi asistennya mengajar choir di Indonesian Choir. Aku ngerasa gak cocok aja. Dan aku lebih memilih Dekres Nagita karena mereka adalah tunas-tunas—calon-calon. Setidaknya, dua atau tiga tahun ke depan mereka akan menjadi salah satu grup padus ternama. Dan Pak Go pernah bilang per-buatanku ini sangat sia-sia, mengajar murid yang dulunya belum bergelut dalam dunia musik. Pada-hal, menurutku, ini adalah tantangannya.”

”Dan ajang FPS itu kamu jadikan sebagai ajang show off, begitu? Sebagai pembuktian bahwa kamu sudah mencetak grup dari bibit-bibit yang menjadi bibit unggul?” Indra mulai mengerti.
”Nggak gitu juga sih, Nyet. Tapi pokoknya kamu harus dukung aku!”

You know you’re my everything. Why you ask again?” Indra mengerling.

Sandra memeluk kekasihnya itu. Hangat. Entah kenapa saat itu ia ingin menangis tanpa sebab. Sepertinya ia akan kehilangan kekasihnya itu dalam waktu dekat ini—dan ia sangat takut kehilangan sosok seperti Indra.

”Janji sama aku, kamu gak boleh pergi jauh,” desis Sandra sangat pelan, sehingga tidak terdengar oleh Indra.

”Aku pasti akan datang ke ajang show off kamu itu. Aku janji,” kata Indra, sepertinya memang tidak mendengar desisan Sandra.

* * *

Pagi yang cerah. Secerah Indra menyambut datangnya pagi. Ia sudah bangun sejak subuh tadi, dan tentu saja sudah menyiapkan segalanya. Segalanya itu adalah menelpon Sandra, memasukkan keper-luannya untuk memotret nanti ke dalam tas, dan of course memanasi vespa kesayangannya.

Ia bersiul, mengeluarkan senandung lagu Whitney Houston—ia ingat kalau choir group-nya Sandra menyanyikan lagu tersebut dalam acara pra-konser kemarin lusa. Dan hari ini adalah final Festival Paduan Suara yang diselenggarakan oleh Universitas St. Helena untuk seluruh kategori. Dan Indra—sang fotografer majalah Trinita Magz yang ditugaskan untuk meliput itu—tentu saja tidak mungkin melewatinya. Apalagi di sana ada choir group yang dilatih oleh kekasihnya.

Bersama dengan Awan—reporter yang ditugaskan untuk meliput berita tersebut bersama Indra, ia akan ke Bandung kali ini. Universitas St. Helena memang berada di Bandung. Butuh waktu cukup lama untuk sampai di sana, mengingat kawasan rumah Indra berada di Jakarta.

”Ndra, udah siap belom lo?” tanya Awan yang melihat Indra mondar-mandir, keliatan bingung.

”Bentar. Gue lupa naruh kunci vespa gue!” seru Indra dari dalam rumahnya yang mungil.

Darn, telat dikit pasti macet. Sekarang hari Jumat—masih jam orang kerja.” Awan mengingatkan.

Indra tidak merespons peringatan Awan. Kalau kuncinya ketemu pasti akan lebih cepat, pastinya. ”Oh damn!” gerutu Indra.

”Ada apa?” Awan melongok dari luar rumah.

”Kuncinya ada di jins gue,” katanya jengkel. ”Cabut deh, Wan. Buru-buru, kayak kata lo, takut te-lat.”

Awan tersenyum mengejek. ”Lo tuh ya, selalu deh lupaan. Heran Sandra mau sama elo, Ndra.”
Indra menatap Awan tajam. ”Cause I have an inner… mmm… handsome?”

”Emangnya lo kira gue nggak?” sungut Awan.

”Udah deh, bukan waktunya kita berdebat kayak begini. Yuk ah!”

Ia pun langsung tancap gas, melenggang menuju kota dengan sebutan Paris van Java tersebut.

”Heran deh, kayaknya Jakarta sama Bandung sama aja kalo soal masalah traffic jam,” gerutu Awan.

Indra mengangguk setuju, padahal anggukannya tersebut sama sekali tidak bisa dilihat oleh Awan karena Awan tidak menghadap ke depan. Ia sibuk memerhatikan kemacetan yang ada di jalan raya. Sekarang mereka berdua memang sudah memasuki wilayah Bandung.

Shit, man! Gue lupa nge-gogo Esia gue!” Awan lagi-lagi menggerutu.

Indra meringis. Awan rewel banget, keliatannya dia lagi kena PMS deh. Dari tadi ngoceh dan nge-gerutu melulu, persis perempuan. Nggak kebayang deh kalo ada cewek yang mau deket-deket Awan. Mungkin cewek itu akan kalah cerewetnya sama Awan.

Kesal karena dari tadi vespanya statis di tempat, Indra melongok ke arah sekitar. Biasanya jalan raya ini nggak pernah macet jam segini. Biasanya yang macet daerah Dago sampai ke atas.

”Macet banget ya, Mas?” Seorang perempuan—yang Indra duga sedang menuju kampus—dengan motor skutiknya, menegur Indra.

”Iya, Mbak. Macet banget. Kira-kira ada apa ya? Kok bisa-bisanya macet begini?” Awan malah langsung nyamber, sebelum Indra sempat berucap.

”Katanya sih ada kecelakaan. Sebuah truk barang yang mau ke Jakarta nabrak mobil sedan,” jawab perempuan itu malas-malasan. Ia langsung jadi badmood, soalnya tadi niatnya pengin sedikit flirting dengan Indra, malah Awan yang merespons.

”Pantes,” gumam Indra. Ia melihat jam tangannya. Acara final FPS akan dimulai setengah jam lagi.

Tetapi Indra ingin sekali melihat Sandra melatih murid-muridnya. Pasti Sandra sedang menenang-kan mental anak didiknya—hal yang selalu ia lakukan bila sudah H-beberapa jam.
”Hoi, Ndra. Maju! Truknya udah maju tuh!” Awan mengingatkan.

Indra tergelak terkejut. Ia pun memajukan vespanya hanya beberapa sentimeter.

Sungguh keajaiban, Indra dan Awan tiba sangat ontime di Universitas St. Helena. Awan baru ingat kalau ia tahu jalan tikus menuju universitas tersebut. Sedangkan Indra hanya bisa melirik Awan lewat kaca spion dengan jengkel selama perjalanan. Kenapa nggak dari tadi saja ia memberitahunya?

Dan seperti acara final Festival Paduan Suara kebanyakan, acara ini dimulai oleh kata sambutan oleh ketua panitia dan kepala rektor kampus. Dan setelah itu, giliran male choir tampil. Dan tidak seperti Indra dan Awan duga, walaupun hanya bertaut pada suara tenor ,bass dan bariton, suara yang dihasilkan ternyata bisa menyihir satu aula.

Herannya, Indra tetap tidak mau fokus pada suara merdu para grup male choir, ia hanya sibuk memotret dari berbagai angle, mondar-mandir tetapi tetap tidak mengganggu penonton yang lain.

Selesai itu, giliran female choir, dan berikutnya adalah mixed choir. Indra tidak sabar menunggu kategori keempat, yakni mixed youth choir. Ia tidak sabar melihat ekspresi serius Sandra yang pasti akan ia abadikan dengan kamera kesayangannya. Dan setelah lagu ”O Sifuni Mungu”, akhirnya giliran kategori mixed youth choir. Indra mencoba mengingat-ingat. Dekres Nagita merupakan grup youth choir yang terakhir—artinya nomor tiga, karena memang hanya ada tiga grup yang masuk final.

Pertama, grup bernama Santa Choir. Mereka menyanyikan lagu ”The Sound of Music” yang tam-paknya diaransemen ulang, ”For The Beauty of The Earth” yang sangat memukau, dan terakhir ”Astaga” yang memiliki koreografi luar biasa sukarnya.

Grup kedua bernama Gita Infinita. Mereka menyanyikan lagu ”Indonesia Bumi Persada” yang kelihatannya sangat sukar, dilanjutkan ”Sure on The Shining Night” yang sangat apik, dan terakhir mereka menyanyikan ”Under The Sea” yang merupakan OST Little Mermaid.

Dan habislah sudah. Indra tidak sabar lagi ketika MC bersuara keras.

”Dan… untuk grup paduan suara terakhir dalam kategori mixed youth choir… kita sambut DEKRES NAGITA!” seru MC menggelegar, disambut riuh tepuk tangan yang agaknya berlebihan.

Indra tersenyum. Finally he’ll look his girlfriend.

Tapi tiba-tiba Indra bengong, karena sang kondaktur bukanlah Sandra. Ia melihat anak didik Sandra yang bernama Astrin itu yang menjadi kondaktur. Ya, Astrin penyanyi sopran yang saban hari diminta menjadi asistennya Sandra. Alis mata Indra bertaut. Ada apa ini?

Rasa penasarannya tak dapat ditutupi, namun lagu pertama langsung dimainkan ketika sang pianis memberi kunci C pada kondaktur cadangan itu. Lagu pertama lagu yang sangat ber-upbeat, ”The Battle of Jericho”. Sangat memukau walau tanpa koreografi. Inilah hasil latihan intensif yang dilakukan oleh Sandra. Tapi entah kenapa Indra menyadari ekspresi khawatir yang melanda grup Dekres Nagita. Dan itu membuat Indra tambah penasaran.

Lagu kedua adalah ”Peralihan”. Lagu yang menarik dan mendapat sambutan applause dari penonton. And the last song, they sing ”I Believe in You and Me”. Lagu yang sangat manis. Namun entah kenapa, atau mungkin karena lagu itu diaransemen ulang, lagu itu bukan menjadi lagu mellow penuh cinta, tetapi sarat akan kesedihan. Seolah dunia akan berakhir ketika mendengar Dekres Nagita membawakan lagu ini. Apalagi lagu ini disajikan dengan teatrikal, sangat berbeda sewaktu Indra mendengarnya pada saat pra konser kemarin lusa. Dan Indra sama sekali tak mengerti, kenapa ia punya firasat yang nggak enak.

Selesai, penonton melakukan hal yang sama, applause meriah dan standing ovation. Dalam hiruk-pikuk tepuk tangan itu, bulu tengkuk Indra meremang.

Ia ingin mencari tahu kenapa Sandra tidak menjadi kondaktur. Tetapi ia harus memotret kategori children choir A, children choir B, dan kategori lagu daerah. Jadi walaupun hatinya berkata ia harus segera mencari tahu, tubuhnya tetap statis dan tetap memotret.

* * *

Hati Indra bagai diremukkan. Tubuhnya lemas dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang digaris-kan Tuhan memang tidak pernah diketahui. Rasanya baru kemarin Indra menyebut Sandra dengan sebutan ”Donkey” dan Sandra memanggilnya ”Monyet”. Pertemuannya dengan Sandra dalam pra konser itu nampaknya memang pertemuannya dengan Sandra untuk yang terakhir kalinya. Dan kini ia tidak dapat bertemu dengan kekasihnya itu—karena dimensi kehidupan mereka sudah berbeda, tak lagi sama.

Menangis rasanya pun percuma. Tak akan mengembalikan Sandra lagi. Tak akan mengobati luka di hati Indra.

Sekarang ia berlutut di depan sebuah pusara dengan nama ”CASSANDRA FARISSA”. Celana jins yang dipakainya terlihat kotor karena menyentuh tanah. Tangannya yang meremas-remas tanah dari tadi juga kelihatan kotor. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya peduli dengan Sandra. Ia hanya ingin Sandra.

Kemacetan yang terjadi di kawasan Bandung sewaktu hari H itu ternyata memang disebabkan oleh seorang truk barang yang menabrak sedan berwarna silver. Dan mobil itu adalah mobil Sandra. Ia memang tidak naik bus seperti murid-muridnya karena ingin mengurus sesuatu sebelum tampil di Universitas St. Helena. Karena termakan oleh waktu, ia agak terburu-buru, dan tanpa sepengetahuan-nya, ia tidak melihat truk barang yang melaju dengan kecepatan tinggi. Kecelakaan naas itu terjadi begitu saja, dan nyawa Sandra pun melayang begitu saja.

Berita ini juga ternyata ditulis oleh Awan dalam reportase tambahan dari Festival Paduan Suara St. Helena. Karena grup Dekres Nagita menjadi juara pertama dalam kategori mixed youth choir—dengan kisah tragis sang pelatih yang sudah sukses membuat Dekres Nagita menjadi paduan suara SMA nomor wahid se-Indonesia.

”Ndra, balik Ndra. Sandra pasti tau kalo lo emang sayang sama dia. Dan lo gak perlu ngebuktiin itu lagi…,” gumam Awan yang ikut bersama Indra.

”Lo balik duluan, Wan. Gue mau di sini dulu. Sendiri.” Indra berkata parau.

Awan diam. Mungkin memang sebaiknya ia pulang. Tapi ia takut terjadi apa-apa dengan temannya itu. Akhirnya Awan memilih opsi untuk menunggu Indra di tempat parkiran. Ia akan pulang bareng Indra.

Setelah Awan hilang dari pandangan, Indra menangis—lagi. Tujuh tahun rasanya begitu cepat. Sepertinya ia baru saja bilang kata ”cinta” pada Sandra, rasanya baru saja ia mengajak Sandra nonton untuk yang pertama kalinya, rasanya…

Dia jadi ingat perkataan Astrin. Ya, Astrin yang penyanyi sopran itu, yang menjadi kondaktur sehari itu.

”Kak Sandra sangat suka lagu I Believe in You and Me. Katanya lagu itu refleksi sayangnya Kak Sandra terhadap Kak Indra. Maka dari itu Kak Sandra rela ngebayar Pak Tresna yang suka meng-aransemen lagu untuk mengaransemen ulang lagu tersebut. Sebenarnya lagu itu lagu luapan cinta. Tapi pasti Kak Indra ngedenger lagu itu sangat sendu dan sedih. Berbeda dengan yang kami nyanyikan waktu di pra-konser. Itu karena Kak Sandra selalu bilang: ”Kalian harus bernyanyi dengan hati.” Dan entah kenapa lagu itu mengingatkan kita dengan Kak Sandra, feel yang tercipta pun pastinya sangatlah suram dan sendu.”
Setelah berkata demikian, Astrin memberi satu partitur. Partitur lagu yang pernah menjadi hits Whitney Houston itu.

Sayup-sayup terdengar suara Sandra bernyanyi—walau Indra tahu itu hanya halusinasi dan perasaannya saja.

I believe in you and me, I believe that we will be.
In love eternally, well as far as I can see.
You will always be the one for me, oh yes you will.
And I believe in dreams again, I believe that love will never end.
And like the river finds the sea.
I was lost, now Im free, ’cause I believe in you and me.

I will never leave your side, I will never hurt your pride.
When all the chips are down, see I will always be around.
Just to be right where you are. My love, you know I love you.
I will never leave you out, I will always let you in, to places no ones ever been.
Deep inside, can’t you see that I believe in you and me.

Maybe I’m a fool, to feel the way I do.
But I will play the fool forever, just to be with you forever.
I believe in miracles, and love’s a miracle.
Baby, you’re my dream come true.
I was lost, now I’m free. I believe in you and me.
See I was lost, now I’m free ’cause I believe in you and me.

(I Believe in You and Me—Whitney Houston)
---

Tri Saputra Sakti

No comments: