Tuesday, May 26, 2009

Surat Cinta

SURAT CINTA

Hari itu adalah hari pertama ku masuk SMU, aku sengaja dipindahkan dari daerah asaku karena factor NEM ku yang jeblok. Mama bilang semua ini hanya akan jadi batu loncatan untuk aku bisa masuk ke SMU yang aku inginkan di Cianjur. Disini aku dituntut untuk memiliki nilai tinggi sebagai syarat masuk SMU di Cianjur. SMU ini berada di daerah selatan Jawa Barat, Pameungpeuk. Ini adalah tempat kelahiran ibuku. Aku disini tinggal bersama nenek dan bibiku. Banyak yang menyingkat SMU ini menjadi SMUNEPA. Ya lumayan bisa diingat dan tidak susah di ejalah…

Seperti yang lainnya, awal masuk sekolah diadakan OSPEK. Mungkin dengan maksud agar calon siswanya dapat menyesuaikan diri di sekolah baru. Tapi bagiku hal ini sangat menjemukan.

Pagi itu aku datang dengan seragam asal sekolahku yang dulu, rok diatas lutut, baju seragam gombrang, sepatu kets, dan rambut cepak yang menjadi ciri khasku. Aku datang bersama bibiku yang kebetulan adalah salah seorang guru di SMU itu. Turun dari motor, aku merasa aneh karena semua mata memandangku kaku. Aku sempat terhenyak kaget setelah melihat ke sekeliling sekolah, mayoritas anak-anak disana menggunakan jilbab kalaupun ada yang menggunakan rok pendek ya di bawah lutut. Aku mengerti sekarang mengapa mereka melihatku begitu aneh.

Pembagian kelas pun dilangsungkan, aku terpilih masuk kelas 1-6. Beruntungnya aku saat itu, aku bisa langsung akrab dengan seorang cewe namanya Rizki, wah nama yang unik bukan karena nama itu ditujukan untuk seorang perempuan. Akupun satu bangku dengannya. Dia adalah warga asli daerah ini, dengan logat bicaranya yang halus dia menceritakan keadaan di sini. Aku terkesan dengan ceritanya. Tapi aku tidak terkesan dengan apel siang pada saat itu.
Apel siang tiba, semua siswa baru dikumpulkan di lapangan. Panas-panasan, duh dikira kaka kelas kita ikan bandeng kali ya. Teganya mereka. Disana kita diperkenalkan dengan seluruh anggota OSIS. Jujur gw gak suka mereka semua. Terlihat so’galak, so’manis, so’senga. Tapi mungkin juga Cuma karena lagi OSPEK kali mereka masang tampang seperti itu…

Saat perkenalan, pandanganku tertuju pada seorang cowo dan tampaknya dia adalah salah satu kaka kelasku yang memiliki posisi di keanggotaan OSIS. Dia terlihat santai namun belagu. Sambil mengunyah permen karet dia berlaga cool (dia kira lupus apa…). Diyh tu cowo caper banget seh, pikirku. Ditengah pandanganku aku dikagetkan dengan suara yang menuju ke arahku. Huhf ternyata dia adalah ketua OSIS, dia menyuruhku kedepan lapangan dan dia berharap aku untuk memperkenalkan diri. Sial betul hari ini. Dengan sebal aku maju kedepan, dan aku jelaskan dari mana aku berasal. Apesnya lagi, tuh kaka kelas mu nyoba sejauh mana cinta aku sama tanah air…dia Tanya apakah aku cinta tanah air atau tidak. Aku sangat tahu tak-tik nya, tapi karena disana aku adalah terdakwa ya mu gimana lagi. Aku jawab tidak, pasti dia ngomel, nyentak-nyentak. Aku jawab ia, tahu deh apa yang dia lakukan. Dan benar saja, saat itu aku jawab iya, wwhoooaaaa dia menyuruh ku mencium tanah!!!huhf…seandainya tuhan memberikan kesempatan untukku meminta, aku akan meminta tolong untuk memberi kekuatan menghilang dalam sedetik. I’ll kill u brotha….!!!!damn….T_T

Semua anak-anak menertawakan aku. Sedihnya aku saat itu. Penderitaanku belum selesai, setelah rela mencium tanah aku disuruhnya bernyanyi. Karena aku berasal dari Cianjur, aku disuruh Cianjuran. Jjjiiaaahhh mana bisa??????????(secara gw kan anak jaman sekarang yang gag pernah tau nyanyian planet kaya gitu). Aku jujur kalau aku memang tidak bisa bernyanyi, akhirnya tuh kakak kelas menyuruhku kembali dalam barisan. Aku termenung dan AKU DENDAM….

Dirumah, aku tidak bisa tidur. Aku masih membayangkan muka-muka mereka yang menertawakanku. Keesokan harinya…

Apel pagi dilaksanakan. Belum ada hal aneh yang aku alami. Tapi aku akan waspada!!! Setelah semua masuk kelas, Rizki menanyakan bagaimana perasaanku saat kemarin berada di tengah-tengah lapang. Aku gag bisa jawab apa-apa, tanpa aku jelaskan juga dia sangat tahu apa yang aku rasakan. Aku memalingkan muka ke jendela membayangkan apesnya hidupku. Tiba-tiba dia berjalan melewati jendela tepat depan mataku, ya dia adalah cowo yang makan permen karet kemarin. Cowo caper itu, ya itu dia. Amarahku semakin naik. Agif, aku tersentak kaget waktu Rizki menyebut dia dengan nama Agif. Ya, dia namanya Agif. Dia pernah sekolah di Bekasi. Dia adalah cowo ter-cool disekolah. Dia memiliki pacar namanya Eva, Eva ini masih salah satu kaka kelasku juga namun satu tingkat lebih bawah dari Agif. Rizki menjelaskan semuanya padaku. Aku berkata pada Rizki “Ngap kamu cerita sama aku, emang aku perduli siapa dia, anak mana, dan siapa pacarnya serta statusnya di sekolah ini?”. Namun Rizki menanggapi pertanyaanku dengan senyuman. Diyh emang aneh semua orang-orang disini.

Apes…pes…pes…kena lagi gw!!!

Kita sekelas diminta untuk menuliskan surat cinta untuk kaka kelas, yang cowo untuk kaka kelas cewe. Dan yang cewe nulis surat buat kaka kelas cowo. Nanti surat itu akan dikocok dan dibacakan oleh pemiliknya depan targetnya. Aku bingung harus aku tujukan pada siapa suratku, karena aku gag tahu nama-nama mereka. Yang aku tahu hanya satu nama, itupun Rizki yang kasi tau tadi. Agif. Whooaaaaa….apakah aku akan menuliskan surat cinta untuk seseorang yang bikin aku kesal..???cobaan hidup yang berat…

Mau gag mau, akhirnya suratku kutujukan untuk dia. Setelah selesai aku kumpulkan surat itu dalam tumpukan surat-surat yang lain. Aku berdoa semoga surat itu menghilang dan hilang pula kesempatan aku tuk menjadi target kaka kelas. Semua bacaan telah aku baca dalam hati, tapi Tuhan berkata lain. Aku memang orang yang dipilih Tuhan untuk menjalankan cobaan ini. Namaku disebut, aku disuruh kedepan. Duch…(sumpah gw baik-baik aja,wek.). Awalnya aku masih merasa beruntung karena orang yang aku tuju di surat tidak hadir disini, tapi beberapa menit kemudian dia muncul. Haaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!dia muncul kaya siluman…hush…hush…hush…

Aku mulai membaca,

Dear Agif…
Dunia menjadi penuh pelangi ketika aku melihatmu,
Terasa indah, namun mencekam untukku…
Kau berpaling tidak perduli pada apa yang ada dihadapanmu…
Aku hanya serangga kecil disini,
Yang bisa di injak kapan saja dan oleh siapa saja tanpa ada perlawanan…
Begitupun engkau…
Tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan menjadi kupu-kupu yang terbang untuk melihat semuanya dari udara…dan aku akan tersenyum karena aku penuh cinta.
Aku…berharap padamu.


Ya itulah yang aku tulis, mampusnya aku ketika aku baru tahu kalau pacarnya Agif juga ada disitu, Eva. Aku benar-benar merasa tidak enak padanya. Tapi mengapa aku harus tidak enak? Toh aku kan ada disini juga objek penderita dari komplotan dia. Mana iya aku serius menujukan surat itu pada pacarnya. Tapi aku tidak menduga, Eva pergi begitu saja menampakan muka marah. Begitupun Agif yang pergi mengejar dia. Heheheehehhe kaya di film ya, kejar-kejaran. Cinta…cinta…

Eit tapi bukan berarti aku tidak kesal, justru dengan kejadian itu aku semakin geram pada yang namanya Agif. Aku benci dia titik

Hari terakhir…
Hari itu adalah hari terakhir OSPEK, dan aku sangat bahagia menghadapi hari ini. Pertengahan hari aku dilanda musibah, bukan karena siapa-siapa. Hal itu dikarenakan hanya saja aku sedang datang bulan dan badanku sangat tidak bertenaga. Aku izin untuk pulang karena aku tidak kuat, aku takut kebiasaanku di SMP dulu terulang disini.

(aku selalu pingsan pada saat datang bulan, aku gag tau kenapa….)

Permohonanku di acc, senang tapi sedih juga karena hari terkahir di apel siang nanti akan ada acara pembalasan untuk kaka kelas. Padahal aku sudah merencanakan semuanya, siapa saja yang akan mendapatkan pembalasan dariku. Huhf…

Saat aku sedang menunggu bibiku di pintu masuk ruang guru, aku bertemu dengan Agif. Heuhk..kenapa aku harus selalu bertemu dengan ini orang ya, pikirku. Dia bertanya padaku dengan tampang tanpa dosa, “lagi apa??”. “Nunggu bibi…” jawabku singkat lalu berpaling.
Akhirnya aku pulang…horeeeeeeeeee…………


Hari telah tiba,
Aku datang ke Smunepa pagi itu dengan pakaian yang sesuai. Aku menggunakan kerudung, baju seragam besar, rok standar untuk seorang cewe berjilbab. Aku sangat tidak nyaman menggunakan seragam seperti ini, ini bukan aku…’its not me’…

Tiba di sekolah aku disambut oleh teman-temanku, mereka terkesan saat aku berpakaian seperti itu. Uda, Ogi, Rizki … semua tersenyum dan tampak begitu senang melihat penderitaanku berpakaian seperti ini. Baguslah, mereka tertawa diatas penderitaanku huhf…
Sebelum masuk kelas kita duduk-duduk santai di koridor kelas, karena sekolahku berada pada dataran bukit, bentuk sekolah tampak seperti anak tangga raksasa. Mereka yang sedang duduk-duduk di dataran atas dapat melihat anak-anak yang sedang duduk-duduk di dataran rendah.

Saat aku duduk-duduk bersama mereka, aku merasa ada yang membututi ku dengan pandangan matanya. Diyh ternyata mereka kaka-kaka kelas yang sedang nongkrong juga di dataran atas. Mereka panggil Ogi yang kebetulan kakaknya juga bersekolah disana. Ogi kembali dengan menyampaikan pesan untukku, Ogi bilang tuh kaka kelas pengen kenalan sama aku. Whoooaaaa penderitaan ku ternyata belum selesai. Dan dia ada disana, bersama kumpulan kaka kelas. Mana mau??????????huhf…tapi bukankah ini kesempatan untuk balas semua perlakuan mereka….??yeaaa…I’m coming…

Akhirnya aku berkenalan dengan mereka semua, termasuk Agif. Tapi aku sungguh tidak menduga ternyata mereka tidak kenal sama sekali padaku, mereka bertanya “kamu gag ikut OSPEK ya??”. Duh bingung, apa mereka amnesia ya. Lalu mereka pikir siapa cewe yang mereka suruh cium tanah, nyanyi, dan baca surat gila itu. Begitupun Agif, dia juga bertanya hal yang sama padaku. Aku benar-benar geram sama mereka. Aku dianggap tidak ada. Payahnya gag ada satupun yang ingat tentang aku, dan mereka menganggap semua itu biasa saja. Mereka gag tau perasaan aku. Tega. Hari itu berakhir dengan perasaan heran.

Aku pulang bersama bibiku dengan motor jetmaticnya. Saat pulang, aku melewati banyak segerombolan anak-anak lain yang juga mau pulang. Tapi saat aku melewati segerombolan komplotan kaka kelas yang menyebalkan itu, aku berpaling. Eh senganya mereka berteriak pada bibiku, “Bu…siapanya??sodara ya bu…kenalin donk bu…”. Ikh ngebetein deh. Untung aja bibiku gag berhenti depan mereka.

Diperjalanan pulang, bete belum juga selesai. Bibiku menceritakan tentang Agif. Aduch kenapa musti dia???pusing aku dibuatnya. Aku kembali tidak bisa memejamkan mata dengan tenang, nama itu selalu membayangi pikiranku. Agif Eka Barhamsyah. Aku mulai takut menghadapi hari esok.

Hari-hari aku lewati dengan perasaan yang tidak jelas. Tapi akupun semakin akrab dengan mereka yang aku benci. Ya mereka adalah kaka-kaka kelasku. Aku sering pulang bersama mereka. Atau pada saat istirahat tiba aku sering pula nongkrong di ruang OSIS. Berlalu nya waktu membuat semua semakin jelas. Eva, pacarnya Agif pun semakin tampak jelas jealous padaku. Apalagi teman-teman kelasnya yang sibuk membuat aku merasa tidak nyaman di sekolah. Mereka sempat mengutus seseorang untukku, namanya Iman. Ya aku akui dia manis, baik hati dan terlalu sadis bagiku kalau dia dijadikan umpan untukku agar aku menjauh dari Agif. Semakin komplotan Eva menekanku dengan kehadiran Iman, aku semakin merasa dekat dengan Agif, entah kenapa. Akupun mulai sering pulang berdua dengan dia. Padahal aku tau dia masih berhubungan dengan Eva. Aku tidak dapat mengingkari kalau aku kesal sama sikap Eva dan teman-temannya dan aku ingin mereka tahu bahwa aku tidak akan termakan umpan mereka, disamping itu akupun tidak akan ingkar kalau aku nyaman bersama Agif.

Setiap sebelum tidur, aku selalu berpikir. Apakah sikap aku ini berlebihan atau wajar dalam kehidupan remaja SMU.


Egoku tetap berada di atas…
Hari itu saat aku ditengah pelajaran Matematika, Pak Heri guruku memberitahu bahwa ada yang mencari ku diluar. Akupun beranjak dari tempat duduk. Aku kaget. Yang mencariku adalah teman-temannya Eva (wah mampus, digebukin dah gw…), but mereka hanya mau tanya sama aku apakah aku telah menjalin hubungan dengan Agif dan mereka memberitahuku bahwa gara-gara aku Eva jatuh sakit. Jujur hati kecil aku merasa bersalah. Tapi karena gengsi nunjukin muka prihatin depan mereka aku jawab “maaf, aku belum menjalin hubungan apa-apa dengan yang namanya Agif dan untuk berita Eva, aku ikut prihatin”. Just it. Aku kembali kedalam kelas tanpa melihat lagi kebelakang bagaimana reaksi mereka dengan jawaban aku. Aku tidak perduli. Aku kesal sama mereka. Mereka pantas mendapatkan sikap seperti itu.

Keesokan harinya aku pulang bareng Agif, tidak aku sangka diperempatan jalan dia tembak aku (sejauh inikah sikapku pada Eva dan komplotannya..??tapi bagaimana dengan perasaanku…aku merasakan hal yang sama dengannya…Tuhan…apa yang harus aku jawab??).

Aku tidak menjawab apapun padanya, aku hanya memberikan waktu padanya untuk mengakhiri hubungannya terlebih dahulu bersama Eva. Aku tidak mau menjadi yang kedua, aku harus menjadi yang pertama. Aku bilang padanya “pikirkan lagi apa yang kamu katakan tadi, jika kamu telah yakin dengan apa yang menjadi keputusan kamu…kamu tahu apa yang harus kamu lakukan”. Akupun pulang bimbang. Aku takut dia merubah pernyataannya tadi, tapi seandainya harus begitu aku rela. Aku terlalu dalam masuk dalam kehidupan mereka. Dan aku harus minta maaf pada Eva.

Pagi itu sekolah gempar, semua mata memandangku aneh. Aku yang baru saja menginjakan kaki dihalaman sekolah dibuatnya heran. Kenapa semua melihatku layaknya aku seorang terrorist???udah gila kali ya semua orang disini…

Dikelas aku disambut dengan teriakan Rizki, dia menarikku ke samping kelas dan menceritakan semuanya yang terjadi. Tuhan, aku gag tau harus senang atau sedih. Agif telah memutuskan Eva sebagai pacarnya. Dan hari itu Eva tidak masuk sekolah lagi. Aku tertunduk.

Seharian itu aku sama sekali tidak konsen untuk belajar. Semua pikiranku melayang. Istirahat tiba, aku melihat Agif di kantin sebrang…tapi aku berpaling darinya. Aku bingung. Aku merasa bersalah tapi aku bahagia karena aku akan merasakan kenyamanan bersama dia di hari-hariku.
Pulang sekolah, dia mengajakku bareng. Seperti biasa kita berjalan kaki sampai perempatan, cukup jauh menurutku. Dia kembali membuat pernyataan kemarin dan meminta jawabanku. Aku mencoba memandang hati kecilku, “beri waktu padaku untuk menjawab semuanya”.

Beberapa hari setelah itu, bersamaan dengan hari Ulang Tahunnya aku menjawab semuanya “Aku gag bisa…gag bisa tolak kamu”
-----------------------------------------------------------------------

Sekarang aku telah jauh melangkah, 8 tahun sudah kisah itu menjadi cerita di SMUNEPA. Tentunya semua kenangan itu akan menjadi cerita cinta buat anak serta cucuku dikehidupan yang akan datang. Sebenarnya masih banyak ceritaku bersamanya. Karena setahun kemudian aku pindah sekolah ke Cianjur, ke sekolah impianku. Tapi kelengkapan ceritanya biarlah dia yang melanjutkan serta melengkapkan. Seandainya dia membaca cerita diatas, mungkin banyak hal yang terlewati atau mungkin banyak yang ia lupa. Tapi bagiku…

“surat cinta yang telah aku tujukan untuknya dulu sebenarnya adalah surat cinta untuk masa depannya”. ^_^


Erny Octaviany

1 comment:

fandi pratama said...

sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya. dari segi cerita saya agak brtanya-tanya ini cerita nyata atau bukan. karena saya lebih seperti baca buku diary orang ketimbang baca suatu cerita. mungkin dari penggunaan katanya yang sedikit nyablak. cerita awal dan akhirnya juga agak dipaksa nyambung. jadi maaf sekali lagi ya.