Thursday, November 6, 2008

Lingkaran Pelangi

-

Bab 1 : Irama Alam

Hari hampir setengah enam pagi, matahari belum juga bersinar. Mendung tebal merata di sebelah timur membentuk garis lengkung yang tak beraturan seperti gambar sebuah pantai yang berpasir hitam mengandung bijih besi. Garis yang indah terlihat berseni membagi langit dalam dua warna, hitam dan kelabu. Hawa segar menerpa tubuh setelah semalaman tidur di kamar panas yang menyesakkan. Burung-burung berkicau, terbang, berlompatan, bercanda dengan teman atau apa saja yang dilihatnya. Ada yang bersiul, ada yang mengkukur, ada yang melengking tinggi, ada yang gemeretak datar. Mereka teratur dalam ketidak-teraturan yang harmonis. Irama riang orkestra alam yang telah dinyanyikan sejak berabad-abad yang lampau. Sekarang mereka lantunkan dalam kesiapan yang lebih sempurna. Serentak siap dalam keteraturan yang acak menyambut matahari pagi. Bagai anggota Paskibra, menunggu inspektur upacara di lapangan. Pohon-pohon bercerita dalam bahasanya sendiri-sendiri. Ombak berdebur menyampaikan salam dari pantai seberang. Gelombang laut mengalun bagai tongkat sang Dirigen memandu Orkes Simphony. Semua bergerak teratur dalam perannya masing-masing yang abadi.

Sayup-sayup terdengar suara Bunda mengalun riang pertanda pekerjaan dapurnya telah selesai. Berarti tugas menunggu dagangan akan beralih dariku kepada beliau.

“ A a r u u u l l “ Bunda memanggilku berirama.

“ B u n n n d a a “ sahutku berirama pula.

Suasana rumah menjadi riang bila Bunda mulai berkicau, hidup, segar dan menyenangkan.

“ Nah, Bunda sudah selesai, Arul siap-siap “.

“ Ya, Arul mau sarapan dulu “ jawabku, sambil berdiri dari duduk. Udara agak dingin karena mendung yang menggantung sejak malam. Aku berpikir kalau sudah sarapan badan akan terasa lebih hangat. Terus berganti pakaian, lantas belajar lima belas menit baru berangkat ke sekolah. Tetapi hari ini bukan seperti hari-hari biasa. Hari ini sangat istimewa, hari terakhir Ujian Nasional anak Sekolah Dasar. Seharusnya aku tak perlu cemas, karena aku selalu mengikuti pelajaran dengan baik. Lagipula, menurut bapaknya Hesty : selalulah berdoa tiap-tiap akan belajar supaya pikiran menjadi terang dan yang kita baca bermanfaat waktu ujian nanti. Maksudnya soal-soal yang akan keluarlah yang akan terpelajari oleh kita dengan tuntunan Allah. Inilah yang membuat aku tidak mencemaskan ujian. Yang menjadi pikiranku selama ini justru kalau sudah lulus. Apakah bisa melanjutkan ke SMP? Katanya wajib belajar sembilan tahun, akan dibebaskan uang sekolah tapi bagaimana dengan beli baju, sepatu dan keperluan lainnya? Oh, repot kalau dipikirin jadi nggak usah dipikir dulu nanti saja dicari jalan keluarnya. Inilah peganganku. Hari sudah mulai siang. Jam 06.45, aku siap-siap berangkat. Kemudian aku menyalami Bunda, ketika Hesty lewat dibonceng Bapaknya.

“ Bundaaaa, Aruuul ” Hesty mengalunkan sapaan pada kami.

“ Heeesty ” aku dan Bunda balas menyapa bersamaan.

“ Berangkat dulu ” sahut Hesty.

Kami diam tidak perlu menjawab lagi karena mereka telah jauh. Aku berdiri di halaman sambil memanggil Ical.

“ Cal, udah siang ” panggilku.

“ Ya, ayo ” jawab Ical sambil berjalan keluar, kami pun berangkat.

Aku dan Ical dulunya satu SD, tapi sewaktu di kelas empat, SD kami dilikuidasi, muridnya dapat memilih mau masuk siang atau masuk pagi. SD siang tidak sama dengan SD pagi, SD pagi Kepala Sekolahnya Ibu Hariyati Sukriyah S.Pd kepala sekolahku yang lama. Sedangkan yang siang Kepala Sekolahnya lain. Ical masuk siang, sedangkan aku masuk pagi, dengan alasan kepentingan masing-masing. Jadi cuma waktu ujian ini kami berangkat bareng. Kami ujiannya di satu sekolah tapi lain kelas. Hesty bersekolah beda SD dengan kami, dia di SD unggulan. Jadi, agak jauh dari rumah kami. Tapi dia anak orang mampu jadi tidak ada masalah transportasi. Hesty sering bercerita tentang cita-citanya, setamat SD terus ke SMP terus dan terus lagi, ia punya cita-cita sangat tinggi. Aku dan Ical cuma terdiam bila mendengar celoteh Hesty. Bagi aku dan Ical kami malu menceritakan cita-cita, kalau didengar orang disangka........ bagaimana....... begitu. Kami punya cita-cita tapi kami tutup rapat-rapat. Supaya orang yakin bahwa kami masih waras. Yah, anak-anak seperti kami memang agak pemalu. Maksudku malu bila orang tau kami punya cita-cita. Cita-citaku, tinggiii...tinggiii...sekali. Setinggi cita-cita otak yang sudah tak waras. Tapi itu cita-cita kami. Dan kami tutup rapat-rapat. Rapat sekali, lebih rapat dari duduknya orang pacaran. Inilah kenangan hari-hari terakhirku waktu di Sekolah Dasar. Bisa jadi kenangan yang sangat indah saat-saat aku bersekolah. Hari ini aku datang ke sekolah. Untuk kali yang terakhir sebagai murid disini. Para orang tua datang untuk mengambil ijazah dan lainnya bagi anak mereka. Dengan segala gejolak perasaan yang mungkin tidak sama di antara mereka. Ada yang gembira anaknya akan masuk ke sekolah lanjutan. Ada pula yang tidak jelas sebabnya, mungkin juga hanya senang berkumpul dengan teman-teman. Tapi di antara mereka ada yang cemas, takut kalau-kalau anaknya tidak lulus atau mencemaskan hal-hal lain tentang anak tersayang. Semua hal tentang kecemasan itu ada pada kami sebagai anak. Kami cemas kalau tidak lulus. Bila lulus, apakah orang tua kami akan sanggup membiayai kami ke SMP? Seandainya diusahakan, akankah sampai selesai? Akh, banyak hal seperti misteri bagi kami. Memikirkan hal-hal yang demikian terlalu rumit. Serumit membenarkan benang layangan yang kusut. Anak-anak seperti kami terbiasa menerima segala sesuatu apa adanya, tanpa perlawanan. Begitulah sikapku hari ini, menunggu apapun hasilnya. Menerima, bagaimanapun jadinya.Walaupun sebenarnya ini bukanlah sikap ikhlas dan pasrah sebagaimana yang diajarkan para Kyai atau guru-guru pendidikan agama di sekolah-sekolah. Tetapi ini sikap putus asa atau sikap masa bodo. Yang telah terbiasa dan bisa kami terima. Kami terbiasa begini. Apa yang akan terjadi terjadilah. Bagaimana nanti, ya bagaimanalah. Walaupun begitu aku yakin setiap malam berakhir matahari pasti bersinar. Itulah sebuah pepatah yang aku yakini. Dan aku yakin, itu benar. Karena begitulah pengalaman Ayahku. Di ruangan ini terlihat semua orang seperti mempertahankan sikapnya sendiri-sendiri. Ada yang takut, cemas dan putus asa atau masa bodo. Para orang tua murid duduk terpencar. Kecuali bapak si Pian, yang sedang terlibat pembicaraan dengan bapak si Upai dan bapak si Eman. Aku duduk menunggu Ayahku yang katanya akan minta izin sebentar dari majikannya. Hari semakin siang, tapi Ayah belum juga tiba. Aku termenung memikirkan bagaimana kalau Ayah tidak datang? Siapa yang akan mengambil ijazah, mungkinkah Pak Hamid akan mengizinkan aku mengambil sendiri? Aku menanti Ayah dalam keadaan bingung seperti bingungnya seekor kupu-kupu yang sejak tadi tidak bisa hinggap pada kuntum bunga asoka merah. Karena ranting bunga itu terus bergoyang ditiup angin. Aku menunggu Ayah tapi belum juga terlihat, perasaan cemas dan was-was datang silih berganti. Sebagaimana halnya dengan kupu-kupu itu, akupun harus sabar menanti. Bagi makhluk lemah tak berdaya, kesabaran menjadi mutlak dimiliki. Menurut orang bijak, badai pasti berlalu. Itulah pedoman kami berpikir, waktu menunggu sesuatu yang sangat memerlukan kesabaran. Sebagaimana kupu-kupu itu telah mencapai maksudnya, tepat bersamaan dengan kedatangan Ayah. Alangkah senangnya hatiku. Alhamdulillah, beginilah ucapan syukur yang layak atas sebuah nikmat. Ayah celingukan sebentar, kemudian pandangan kami bertemu. Ayah datang mendekatiku. Aku senang dan tersenyum sambil menatap wajahnya. Oh, Ayahku yang sudah tua, terlihat kelelahan memikul beban hidup yang semakin berat. Ayah, aku sayang padamu bisikku dalam hati. Ayah datang menghampiri dan duduk disampingku, dipeluknya pundakku, pelukan ini terasa hangat. Dari sikap Ayah ini, dari bahasa tubuhnya, aku menangkap isyarat bahwa situasi hati Ayah sedang tenang. Mungkin juga mengisyaratkan keadaan yang aman. Artinya Ayah mendapat bagian atas gajinya yang telah lama dicicil-cicil. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan yang telah memberi nikmat di ujung harapan-harapan kami. Ayah menatap ke sekeliling ruangan, kemudian berhenti sewaktu menatap ke arah meja guru. Meja itu masih kosong. Bapak guru Hamid belum juga datang, terdengar Ayah menarik napas lega, kemudian berkata kepadaku.

“ Ayah pikir tadi terlambat, tapi beruntung gurunya belum datang ”.

“ Iya Ayah, tak biasanya bapak guru Hamid terlambat ” jawabku.

Ayah terdiam, aku juga diam dan waktu kulihat sekeliling kelas mereka juga diam. Agaknya mereka juga heran karena sampai sekarang belum ada seorang guru pun yang muncul. Biasanya saat-saat seperti ini Kepala Sekolah dan beberapa orang guru sudah berkumpul. Kemudian Kepala Sekolah mengucapkan beberapa kata. Lalu ijazah dan surat lainnya dibagikan oleh guru kelas. Kemudian para orang tua mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya di dalam sebuah amplop. Kemudian pertemuan berakhir dengan sama-sama senang. Kecuali orang tua yang anaknya bermasalah. Pagi ini kebiasaan seperti itu belum terjadi. Aku berpikir, kalau yang jadi kebiasaan belum terjadi pasti sesuatu yang luar biasa dapat terjadi. Kami semua diam. Suasana terasa hening. Semua orang dengan pikirannya masing-masing. Kecuali sekumpulan burung yang terdengar cicitnya dari pohon jamblang, hinggap dan berlompatan dari ranting ke ranting. Mereka sedang menikmati kebahagiaan dalam irama alam yang syahdu dan telah berulang sejak berabad-abad yang silam. Ruang Kepala Sekolah terlihat dari kelasku. Ada orang-orang yang sedang menemui Beliau. Ada guru-guru yang berlalu-lalang. Mereka semua sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

***

Hari telah pukul sepuluh, perubahan belum juga terlihat. Di ruang kelas mulai terdengar ada yang mengeluh. Mungkin karena hari yang semakin panas sebab hujan sudah lama tidak turun atau karena suasana hati kami masing-masing. Di luar juga lengang, burung-burung telah pindah ke tempat lain yang lebih sejuk. Aku juga mulai merasa gerah waktu terdengar suara langkah sepatu wanita mendekat. Ibu guru Cut telah berdiri di ambang pintu sambil mengucapkan salam.

“ Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh, mohon maaf Bapak dan Ibu sekalian “ kata Beliau sambil berjalan masuk, kemudian dilanjutkan dengan :

“ Sesuatu telah terjadi pada bapak Hamid pagi ini. Beliau terserempet Mikrolet, sekarang dirawat di Rumah Sakit. Seseorang telah menyampaikan kabar ini”.

Terdengar suara Ibu Cut berkata cepat dan datar. Mendengar ini aku sangat terkejut. Selanjutnya Ibu Cut meneruskan pembicaraan “ Sebentar lagi Ibu Kepala Sekolah akan datang. Untuk membagikan ijazah dan lainnya. Mari kita tunggu bersama ”. Beliau terdiam, ketika terdengar perlahan suara seseorang mendekat. Kemudian di ambang pintu telah berdiri Ibu Kepala Sekolah sambil mengucapkan salam. “ Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh ”.

Ibu Haryati Sukriyah S.Pd. Sosok wanita paruh baya yang penyabar, berdiri sambil mengembangkan senyum. Aku sangat senang pada Ibu Kepala Sekolah yang baik ini. Perlahan beliau melangkah masuk kemudian berhenti di depan meja guru sambil meletakkan setumpuk kertas-kertas yang agaknya itu adalah ijazah, raport dan surat lainnya.

“ Selamat siang Bapak dan Ibu sekalian hari sudah jam 10.30 dan tentu sudah siang. Maaf kami terlambat, karena baru datang melihat Pak Hamid di Rumah Sakit. Ibu Cut mungkin telah menyampaikan kabar ini. Baiklah Bapak dan Ibu, kita mulai pada acara pokok. Pembagian ijazah ”.

Maka dimulai acara pembagian secara cepat, ringkas dan sederhana. Maka dipanggillah nama murid satu persatu, Abdul Kadir, Andi Aulia, Andi Muhamad.... dan seterusnya... dan seterusnya. Terlihat sekali kecemasan Ibu Kepala Sekolah pada keadaan Pak Hamid. Semua telah menyelesaikan urusan masing-masing. Ayah juga telah menerima ijazah untukku.

“ Kamu lulus, Rul ” kata Ayah lirih seperti berbisik.

Hampir semua kata-katanya terdengar sayup, agaknya Ayah sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Aku mengerti, sudah dua tahun keadaan kami morat-marit, yaitu sejak usaha majikan Ayahku mulai goyang. Bunda berjualan sarapan pagi. Jam dua malam sudah bangun, aku harus membantu Bunda dari jam lima pagi. Jam 06.45 berangkat ke sekolah dan jam satu siang baru sampai di rumah. Sering aku tertidur kelelahan sebelum makan siang. Belajar bersama teman selama 1,5 jam mungkin juga diselingi membuat PR masing-masing. Ical dan Hesty pintar-pintar, mereka saling mengingatkan bila ada yang terlupa juga menjelaskan padaku hal-hal yang belum kupahami. Demikian keadaanku setiap hari sambil diselingi membantu Bunda walau sekedar pergi ke warung untuk membeli sesuatu. Sore sekitar jam empat, aku sudah ada di tempat Bang Oyo berjualan soto sampai jam sembilan malam.

Pulang, sampai di rumah kadang-kadang aku belajar sebentar, tetapi sering aku tertidur karena lelah. Begitulah kehidupanku setiap hari.

“ Sekarang Ayah kerja lagi, Arul pulang saja ya. Nanti kita rundingan di rumah “ tegas Ayahku ketika akan berpisah.

Aku minta izin untuk melihat Pak Hamid, jadi ijazah dibawa Ayah.

Aku menuju ruang Kepala Sekolah, di depan pintu kuucapkan salam : “Assalamualaikum ”, salamku.

“ Wa’alaikumsalam ” sahut seseorang.

Aku bergerak masuk, ketika tiba-tiba Kepala Sekolah menyapaku. “Ada apa Arul ? “.

“ Saya ingin ikut melihat Pak Hamid, Bu” harapku memohon.

“ Nanti kamu tidak diizinkan Satpam masuk, Rul “, jawab beliau.

“ Bisa, Bu ... , ” tiba-tiba seseorang menyela percakapan kami dan kemudian dilanjutkan oleh yang lain yang tak kupahami tujuan perkataannya.

“ Arul ini selalu ingin ikut menjenguk kalau melihat ada orang yang sakit. Sampai-sampai guru melahirkan dia ingin ikut bezuk “ kata suara lainnya itu.

Kulihat Kepala Sekolah berdiri dan mendatangi aku sambil berkata : “ Kita ajak saja Arul ya ibu-ibu, Arul ini memang begitu selalu peduli pada siapapun. Enam tahun dia di sekolah ini, hampir semua kita yang sakit pasti dijenguknya. Kalau besar anak ini akan menjadi orang baik, peduli dan pemurah “.

Kemudian ditimpali oleh guru yang lain “ Orang seperti ini biasanya mudah rejeki, Bu “.

Dan ditimpali pula oleh guru yang lainnya lagi : “ Yang rajin bersilaturahmi tentu rejekinya murah “.

Aku koreksi bahasa Ibu itu di dalam hati : mudah rejeki, bukan rejeki murah.

***

Kami anak yang tinggal di lorong sempit pemukiman kumuh, selalu dalam keterbatasan. Ini membuat kami harus hidup efisien. Dalam hal waktu, kami harus bisa menyelesaikan semua kewajiban dengan cepat agar punya kesempatan lebih banyak untuk belajar. Dalam segi keuangan, kami hampir-hampir tidak punya. Untuk bisa punya, kami harus kreatif mengusahakan sesuatu. Atau membantu orang dalam paruh waktu. Tanpa begitu kami tidak akan punya apa-apa bahkan tidak mungkin bersekolah. Orang tua kami sudah terlalu lelah otaknya, berjuang dalam kehancuran fisik dan mental untuk bisa bertahan hidup. Memikirkan sekolah adalah masalah yang paling belakang atau mungkin malah diabaikan. Seperti Ical, yang membantu Bapaknya memilah-milah koran dan kertas bekas, karena yang kondisinya baik dapat terjual dengan harga dua kali lipat bila dibandingkan dijual di lapak tukang rongsokan. Untuk pekerjaan ini, Ical mendapatkan bagiannya. Aku membantu pedagang nasi makanan malam untuk mendapatkan upah mingguan. Terlalu berat cara kami mendapatkan uang. Jadi tak perlu kami keluarkan untuk hal yang sepele. Dalam menentukan tingkat kepentingan kami yang berbeda, akhirnya membuat tiap- tiap orang dari kami mendapatkan hasil yang tidak sama. Seperti teman lainnya yang banyak di sekeliling rumah kami.

Mereka telah memilih cara hidup seenaknya dan mereka selalu tidak berbuat apa-apa yang berarti, hasilnya pun mereka tidak punya apa-apa. Aku tidak tahu apakah mereka merasa nyaman dengan cara hidup seperti itu.

Persamaan-persamaan yang ada dan perbedaan pola berpikir yang terjadi membuat kami terkelompok dalam persamaan-persamaan itu.

Demikian halnya dengan Aku, Ical, dan Hesty. Awalnya kami terkelompok karena orang tua kami akrab sejak kami masih kecil. Sekarang kami terkelompok karena pandangan yang sama akan pendidikan dan masa depan.

***

Ical diterima di SMP Uggulan! Luar biasa! Ini berita besar bagi lingkungan kami. Anak pemegang kartu GAKIN bisa diterima di sekolah itu ? Sekolah yang pantas cuma bagi anak-anak orang kaya ? Hebat sekali, Anak yang cuma makan raskin bisa ke sekolah Unggulan? Ya itulah bedanya orang yang berprestasi, akan mendapat penghargaan dari lingkungan. Sebuah harta yang tidak bisa dinilai dengan uang. Alangkah senangnya Ical, semua keperluan didapatnya secara cuma-cuma. Bahkan seragam diberi Kepala Sekolah yang baik hati itu. Orang tua Ical hanya diharuskan membuat surat dari RT - RW sampai Kelurahan dan semuanya berjalan dengan mulus. Konon ia akan mendapat sejumlah uang dari sebuah Yayasan. Lurah mengetahui tentang Ical, waktu orang tuanya mengurus surat-surat yang diminta Sekolah Unggulan tersebut. Lurah mengundang Ical dalam suatu acara yang kebetulan diadakan Kelurahan dimana hadir banyak orang. Ada Wakil Walikota, Camat, para pemuka masyarakat dan banyak undangan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Lurah memperkenalkan Ical kepada yang hadir:

“ Hadirin sekalian, ini Ananda Faizal Ainul Yaqin warga kami. Ananda Faizal lulus dengan nilai sempurna dari SD Negeri dan diterima dengan sangat dihormati di SMP Unggulan. Begitu baik Kepala Sekolah SMP Unggulan ini menerima hingga seluruh keperluan sekolah dari seragam, sepatu dan buku tulis dia dapatkan secara cuma-cuma. Dipinjamkan buku Paket, bahkan dibebaskan dari seluruh biaya“. “Subhanallah “, semua hadirin terperanjat sambil memuji Allah.

“ Ketahuilah hadirin, Ananda Faizal ini dari keluarga miskin, makan nasi raskin, juga pemegang kartu Gakin. Sempurna kemelaratan hidup mereka. Kesehariannya, semua waktu luang digunakan membantu orang tua. Bila ada di antara hadirin yang terketuk perasaan dan berkenan memberi bantuannya, kami sangat mengharapkan. Hadirin sekalian, semoga dengan bantuan kita ala kadarnya dapat meringankan beban mereka. Sebagai modal bagi Ananda Faizal mencapai prestasi-prestasi lain dalam hidupnya. Semoga dengan prestasi-prestasi yang akan dicapainya kelak, dapat melepaskan keluarga mereka dari bawah garis kemiskinan. Insya Allah! ”.

Semua hadirin mengucapkan: “ Amien “.

Lurah kemudian melanjutkan : “ Lihatlah hadirin, mata Ananda Faizal yang menyorot tajam dengan retina yang besar dan hitam berbinar, bercahaya mencerminkan keyakinan menatap masa depan. Tetapi terdapat pada tubuh yang kurus pertanda kurang gizi. Bagaimana mungkin anak sekecil ini dapat berprestasi tanpa dukungan gizi yang memadai. Demikianlah para hadirin, Ananda Faizal akan menemui Anda satu per satu dalam rangka mengumpulkan sumbangan dari Anda seikhlasnya ”.

Ical pun diberi Lurah kardus bekas air mineral dan disuruh mendatangi hadirin satu per satu. Sebelumnya didahului Lurah memberi uang kertas nominal terbesar sebanyak dua lembar. Diiringi musik berjudul lagu ‘Ummi’ yang dinyanyikan oleh Sulis karangan Haddad Alwi. Seluruh hadirin di deretan pertama pun tak mau kalah dari Lurah. Diikuti oleh seluruh hadirin lainnya yang tak mau ketinggalan.

Alhamdulillah mereka berlomba-lomba dalam kebajikan. Setelah Ical selesai mendatangi seluruh hadirin, ia kembali mendatangi Lurah yang sejak tadi terus-menerus memberi semangat supaya penyumbang tergerak hatinya.

“ Bagaimana Ananda Faizal? “.

“ Coba semua uang itu dituang ke meja, dan dihitung berapa dapatnya! “

Dua orang Kelurahan membantu Ical. Ternyata jumlahnya banyak sekali. Wajah Lurah terlihat senang, kemudian Beliau berkata : “ Lihatlah hadirin sekalian, walaupun masing-masing kita hanya memberi sedikit tapi jumlah yang terkumpul sangat luar biasa “.

Semua hadirin terharu. Terutama Ical, ia menangis tak dapat menahan perasaan hatinya. Suasana yang luar biasa mengharukan membuat Wakil Walikota terpanggil naik ke atas panggung. Sambil memegang pundak Ical, Beliau berkata :

“ Ananda Faizal ... “

“ Saya, Pak ” jawab Ical.

“ Apa panggilanmu sehari-hari? “

“ Ical, Pak “.

“ Ya, Ical. Maukah kamu mulai hari ini menjadi anak asuh saya? “

“ ?.?.? “ (Ical bingung).

“ Saya dapat memberi kamu santunan setiap bulan secara tetap sampai kamu tamat SMP. Tapi syaratnya kamu harus tetap berprestasi. Nah bagaimana, Cal? “

“ Mau, Pak “.

“ Ini kartu nama saya, datanglah bersama orang tuamu besok jam 09.00 pagi ke kantor saya “.

“ Baik Pak, terima kasih “.

Wakil Walikota tersebut terhenti sejenak, kemudian berkata :

“Kelihatannya banyak sumbangan terkumpul “.

“ Iya, Pak “.

“ Kira-kira akan digunakan untuk apa uang sebanyak itu? ”

“ Sebagian untuk membuat gerobak Bapak, sebagian lagi untuk tambahan modal dan sisanya akan saya berikan kepada Ibu “.

“ Kira-kira akan dipakai untuk apa oleh Ibumu? “

“ Ibu berjualan kecil-kecilan di pasar, jadi mungkin bisa untuk mengubah dagangan yang lebih menguntungkan “.

Dialog ini terdengar oleh semua hadirin, membuat perasaan mereka semakin terharu melihat anak sekecil itu telah berpikir seperti orang dewasa. Inilah hidup, sebuah pernyataan yang tegas dari nasib yang harus diubah menjadi takdir yang lebih baik. Semua mereka termenung, tetapi juga heran akan pribadi Ical yang tidak terlihat rendah diri dengan keadaannya atau pun lepas kendali karena tersanjung. Sepenuhnya mereka kagum pada kuasa Tuhan atas seorang anak yang terpuruk sempurna dalam kemiskinan tetapi berwajah cerah dengan mata yang menyala bersinar tajam. Terbungkus tubuh yang kurus. Subhanallah, suatu pujian yang sangat baik ditujukan kepada Sang Pencipta. Tak ada yang dapat berbuat begitu sempurna dalam keseimbangan antara kemiskinan dan kecerdasan. Seseorang tertunduk malu pada Ical yang tampak begitu lugu. Tetapi yang lainnya mungkin ada yang iri akan kecerdasan si miskin ini. Ada pula yang melihat wajar, karena dalam hidup ini selalu ada keseimbangan. Seperti di depan puncak yang tinggi selalu diikuti lembah yang dalam, itulah irama hidup bagai mengikuti lukisan alam.

“ Selamat Ical “ doa yang hadir di dalam hati.

“ Selamat Ical, semoga Tuhan menyertaimu “ Wakil Walikota mengucapkan salam.

“ Terima kasih Bapak Walikota ” kata Ical. Ical tidak tahu kalau Bapak itu sebenarnya Wakil Walikota, ucapan Ical bagai sebuah doa yang didengar Sang Pencipta. Karena nantinya ternyata Beliau menjadi Walikota. “ Terima kasih Bapak Camat, Bapak Lurah, dan Bapak-Bapak semuanya yang telah bermurah hati kepada saya “. Kemudian Ical pun dipersilakan pulang diantar oleh Bapak RT 02 RW 011 RBU.

***

Matahari bulan Juli yang panas membuat tubuh berkeringat dan letih. Aku duduk berteduh di teras Mesjid. Angin dari pohon ketapang bertiup segar membelai tubuh, membuat aku mengantuk. Perlahan kurebahkan tubuhku kelantai keramik yang sejuk. Sambil coba memikirkan cara belajar di SMP terbuka, ada satu hal yang benar-benar meringankan. Pakaian seragam cukup satu stel yaitu warna putih biru. Bekas atau baru bukan masalah, jelas tak harus beli di Sekolah. Soal sepatu, terserah apa adanya. Inilah yang sangat meringankan dan sangat mungkin dapat ku jangkau. Secara sederhana belajar di SMP terbuka ini menuntut siswa harus lebih aktif dibandingkan di SMP biasa. Kalau mendapat bimbingan yang cukup dan memadai, secara teori mungkin tak ada masalah. Tetapi secara praktek, bagi murid yang keadaan dalam keluarganya kurang mendukung pasti sulit. Bila secara umum sulit, mestinya ya sulit. Sulit bagiku dan sulit juga bagi semua. Kalaupun terpaksa aku bersekolah di situ, mungkin tidak akan mencapai hasil yang memuaskan. Tapi baru inilah satu-satunya cara yang memungkinkan aku bisa bersekolah. Mencari kemungkinan yang lain pasti ada tetapi karena masalah pokoknya adalah biaya inilah yang membuat sulit mencari jalan keluarnya. Terik matahari sedikit teduh karena tertutup awan, udara menjadi lebih nyaman. Di langit terlihat awan berkejaran susul menyusul membentuk mendung, membuat cuaca menjadi redup lebih bersahabat. Daun-daun kecil pohon angsana terbang mengikuti kendaraan yang lewat. Tukang sate Padang mengipaskan asap wangi yang mengundang selera. Seakan merayu pelanggan supaya cepat datang. Angin bertiup kencang, debu bergulung seperti ombak terbawa angin dari timur. Aku berpikir, aku harus memperbaiki kesalahan ini. Dari pada terus-menerus menyesal nanti. Setidaknya mendatangi Yayasan pendidikan Swasta meminta keringanan supaya aku dapat memenuhi kewajiban standart yang minimal. Sekarang hari Kamis, aku berjanji dengan penjaga sekolah SD untuk menemani seseorang bermain bulu tangkis. Orang tersebut baru sembuh dari sakit. Aku sudah sering menemani orang bermain bulu tangkis, sementara dia menunggu teman mainnya datang. Menurut mereka hitung-hitung untuk pemanasan. Begitu pula yang terjadi hari ini, aku datang dengan raket pemberian orang baik yang kaya. Aku sering menemani orang baik itu bermain bulu tangkis, raketku waktu itu jelek sekali. Pada suatu hari orang itu membeli raket baru, jadilah raket lamanya diberikan untukku. Pasalnya dia perlu teman bermain yang memadai, tentu saja yang raketnya harus baik juga. Jam empat sore aku telah berada di lapangan, mengambil net di tempat biasanya terus kupasangkan pada tiang. Kemudian aku menyapu lapangan yang sering berdebu dan berpasir. Setelah mengerjakan itu semua, aku duduk di bawah pohon jambu. Menikmati udara segar, yang membuat dadaku terasa lapang. Serombongan burung gereja turun ke tanah dari pohon mangga. Mereka berlompatan mencari sesuatu atau juga sekedar membersihkan paruh. Awan yang tadi menebal sekarang kembali cerah seperti cucian ibu-ibu yang bernoda telah dibersihkan dengan pembersih noda. Walaupun cuaca kembali cerah tapi udara tidak sepanas tadi. Tampaknya hawa hujan dari tempat yang jauh telah dibawa angin sampai kesini. Di halaman terlihat seseorang datang dengan pakaian olah raga putih, ia tersenyum kepadaku sambil menyapa.

“ Dik Arul, ya? ”.

“ Benar, Pak ” jawabku.

“ Sudah lama ? Saya yang akan bermain dengan kamu”, dia menjelaskan.

“ Baru, Pak ”

“Berhubung hari sudah sore, kita langsung main saja ya ” kata beliau, setelah meletakkan tasnya sambil menuju ke tengah lapangan.

“ Mari Pak ” jawabku, kuperhatikan tubuhnya yang tinggi atletis. Dengan rambut ikal yang hitam, kumis tipis menghiasi bibir yang kemerahan pada wajah yang putih bersih. Melihat pada bibirnya aku yakin orang ini bukan perokok. Caranya yang ramah mengingatkan pada Pak Hamid guruku di SD. Pak Hamid itu contoh guru teladan yang penuh pengabdian.

“ Siap? ”Aba-aba beliau tanda pertandingan dimulai.

“ Yak ” jawabku menunjukkan kesiapan.

Pukulan pertama beliau jauh ke sudut belakang sebelah kanan, satu pukulan yang sangat bagus pikirku. Aku mengembalikan pukulan tersebut dengan pukulan lurus ke sudut belakang pula. Sehingga beliau terpaksa berlari agar dapat mengembalikan pukulan ini. Dan dengan sebuah pukulan smes yang menukik sangat tajam beliau membalas seranganku sambil melompat. Beruntung aku masih dapat mengangkat bola mengembalikan tepat di depan net, tapi pukulan bola silang beliau membuat aku akhirnya tidak berdaya. Ya memang beliau jauh lebih berpengalaman dari aku.

“ Wah hebat, terus Rul, pemanasannya.” kata beliau bersemangat.

“ Yak Pak ”, aku memberi aba-aba, dan permainan kembali berlangsung sangat seru. Demikianlah permainan pemanasan terus berjalan sangat mengasyikkan, sampai satu saat bola tak dapat kukembalikan. Sewaktu aku mengambil bola, beliau mengajak agar dilanjutkan dengan permainan yang sebenarnya.

“ Pemanasannya cukup, kita lanjutkan permainan yang sebenarnya, Ok ? “

“ Baik, Pak “ jawabku sambil memberi aba-aba tanda mulai melakukan pukulan.

“ Siap? ”

“ O K “ jawab beliau.

Melihat permainan beliau, aku yakin beliau pemain yang tangguh. Aku berpikir harus bermain dengan sungguh-sungguh dengan berusaha mengembalikan seluruh bola-bola sulit. Dan pada saat ada bola yang tidak terlalu sulit kubiarkan seakan tak berdaya mengembalikannya. Ini kebiasaanku untuk menarik simpati lawan bermain yang usianya jauh di atasku. Pengalaman mengajarkan aku cara mencapai kemenangan dalam bentuk yang berbeda. Sebaiknya mereka tidak mudah mengalahkanku tapi aku tak boleh menang. Permainan kami semakin panas, serang-menyerang dengan pukulan-pukulan smes terus berlangsung. Aku berhasil mengembalikan semua bola-bola yang kuanggap sulit sampai akhirnya sebuah pukulan yang menukik tajam mengakhiri perlawananku. Aku kalah tipis pada set pertama dan set terakhir, tapi menang tipis peda set kedua. Yah, pada intinya aku kalah. Dan kelihatan Pak Guru cukup senang, tercermin dari kata-kata beliau selanjutnya:

“ Wah seru banget, asyik juga kamu mainnya, Rul. Sampai saya lupa kalau mainnya sama anak kecil. Kamu sering latihan ya, Rul ? ”

“ Latihannya ya disini, Pak ” jawabku.

“ Istirahat dulu ya Rul, saya baru sembuh dari sakit, jadi nggak boleh terlalu capek.

Kemudian kami duduk berdekatan dan beliau menyodorkan sebotol minuman pengganti ion tubuh dalam kemasan berwarna biru, sambil berkata :

“ Silakan diminum, supaya segar kembali ”

“ Terima kasih, Pak ” jawabku, sambil membuka botol dan meminumnya. Kemudian beliau berkata :

“ Main kamu bagus Rul, hampir semua bola susah dapat kamu kembalikan, bahkan smes yang menukik tajam masih bisa kamu kembalikan ”.

“ Mungkin kebetulan saja Pak, buktinya smes yang terakhir saya gagal ”

“ Itu biasa, kadang-kadang yang gampang saja kita gagal mengembalikannya apa lagi kalau salah langkah atau mati langkah ” kata beliau sambil minum.

“ Apa kamu pernah mengikuti kejuaraan, Rul? ” tanya beliau selanjutnya.

“ Belum pernah, Pak ” jawabku.

“ Oh ya, saya lihat raket kamu bagus ”.

“ Dikasih orang, Pak ”.

“ Orangnya baik ya, Rul ”.

“ Bapak itu sering mengajak saya main, karena beliau beli raket baru jadi yang lama dikasih untuk saya ”.

“ Ini raket mahal lho, Rul ”.

“ Mungkin juga, Pak ”.

“ Iya Rul, bila dibandingkan dengan raket saya ”.

“Sebuah raket pemberian orang, Pak. Yang membuat hati saya bangga, karena pemberian orang, bukan karena raketnya ”.

“ Saya benar-benar puas dengan permainan kamu Rul, saya yang tadinya malas-malasan jadi bersemangat. Selesai istirahat kita coba lagi dua set ya ”.

“ Baik, Pak ”.

“ Kalau main pagi pasti lebih enak, Rul ”.

“ Kalau libur saya mau, Pak ”.

Dari jauh terlihat penjaga sekolah datang membawa teh dalam sebuah teko kaca yang transparan. Aku pahami kebaikan beliau ini. Karena para pemain umumnya memberi tip untuk beliau. Karena itu beliau perlu mendahului berbuat kebaikan. Begitulah cara mereka saling menghormati. Sesampai ditempat kami duduk beliau berkata sambil meletakkan bawaannya :

“ Pak Guru, silakan ala kadarnya ”.

“Eeh, nggak usah repot-repot Pak ” ucap Bapak yang dipanggil sebagai Pak Guru ini berbasa-basi. Selanjutnya mereka terlibat pembicaraan yang kelihatan agak serius. Terlihat dari cara bicara penjaga sekolah yang agak berbisik. Aku tidak suka mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Aku hanyut dalam diriku sendiri, sambil memandang ke sekeliling pekarangan sekolah. Kulihat sepasang kupu-kupu kecil berwarna kuning, terbang lincah dari bunga yang satu ke bunga yang lain di pohon asoka merah. Bergerak berirama dalam kepakan sayap yang perlahan, terlihat sangat indah dan cantik sekali. Beberapa capung kuning berputar-putar di atas pohon jambu air yang mulai berbunga. Seekor burung putih bercampur hitam dan abu-abu yang tak kuketahui namanya bertengger di pelepah daun pepaya. Burung-burung kecil yang berterbangan hinggap dan berkejar-kejaran dari ranting ke ranting di pohon Tanjung. Suasana tenang, setenang hatiku yang tak kuketahui sebabnya. Sesungguhnya sepanjang pagi tadi hatiku gelisah karena perasaan engganku pada SMP Terbuka, padahal itulah harapanku, tetapi kenapa itu yang membuat hatiku gelisah. Bukankah kata pepatah tak ada rotan akarpun berguna? Kenapa aku berpikir berbelit-belit begini? Apakah karena aku terlalu kecil sehingga belum dapat membuat keputusan yang tegas? Kupikir tak baik begini, aku harus dewasa, harus berani mengambil keputusan. Suatu keputusan yang tegas dari anak miskin di pemukiman kumuh. Karena memang begitulah biasanya, kami telah tumbuh jauh lebih dewasa dari usia kami yang sebenarnya.Ya, aku pikir hidup ini memang mengambil keputusan, sebuah keputusan untuk kelanjutan hidup. Dan hidup itu penuh perjuangan. Kulihat penjaga sekolah dan Pak Guru terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan. Aku tidak berusaha mendengar walau jarak kami kurang dari dua meter. Penjaga sekolah tiba-tiba menyapaku :

“ Diminum tehnya, Arul ”.

“ Oh ya, Pak ” jawabku tersadar kalau teh tersebut dari tadi belum ku minum. Perlahan ku ambil dan ku nikmati dengan penuh perasaan, air hangat yang menuruni kerongkongan terasa nyaman dan sangat melegakan. Dari ekor mata terlihat Pak Guru memperhatikanku dalam-dalam. Kemudian berpaling, terus berjalan beberapa langkah dan berhenti. Agaknya ada sesuatu yang mengganggu pikiran beliau, karena terlihat seperti berusaha menenangkan diri. Sesaat kemudian beliau jongkok dan melakukan lompatan sambil berjongkok yang membuat tubuhnya terlihat melenting naik turun dalam posisi tersebut. Angin bertiup lirih membelai jiwa yang gundah. Hati yang resah pada diri anak manusia yang hanyut oleh perasaannya. Angin kembali bertiup, ketika penjaga sekolah pamit pulang ke rumahnya. Pak Guru kembali berdiri tegak dan menggerak-gerakkan tubuhnya, kemudian berkata :

“ Kita lanjut, Rul ”.

“ Baik, Pak ” jawabku.

“ Sekarang main lebih serius, Rul ” pintanya.

“ Serius Pak, dari tadi juga serius ”.

“ Kamu tidak boleh kalah ”.

Aku tak tahu kemana arah pembicaraannya, tapi kujawab :

“ Tidak mungkin saya bisa menang bermain melawan Bapak, baik Pak siap-siap ”.

“ Ya, O K ”.

Aku melakukan pukulan pertama, jatuh ke sudut sebelah kiri di belakang Beliau. Dikembalikan beliau dengan keras ke sudut kanan di belakangku. Pengembalian yang bagus. Permainan pun dilanjutkan dengan sangat cepat, pukulan-pukulan panjang yang keras, pukulan-pukulan di depan net, pukulan silang dan seterusnya dan seterusnya. Persis seperti yang ku duga semula bahwa permainan Pak Guru ini sangat hebat. Tubuh atletis dengan gerakan yang lincah dan gesit melawan anak yang belum punya pengalaman bertanding yang berarti. Bagaimanapun aku pasti kalah, tapi kalahnya harus kalah tipis dan tidak mudah. Pertandingan berjalan cepat dalam dua set. Beliau terlihat lelah walaupun dapat mengalahkanku. Di set pertama aku kalah dua poin dan pada set kedua kalah satu poin. Seperti direncana semula pertandingan yang kedua ini hanya dalam dua set. Beliaupun mengajak berhenti:

“ Cukup Rul, saya capek ” kata Beliau.

“ Baik Pak, Bapak baru sembuh, jadi harus banyak istirahat ”jawabku.

“ Saya capek bener lo Rul, tapi saya senang “, beliau berhenti sebentar.

“ Hari Sabtu kita main lagi, mau Rul ? ”, lanjut Beliau.

“ Saya mau Pak, saya senang. Saya seperti ketemu pelatih yang hebat. Kalau sering Bapak melatih saya seperti ini, saya pasti akan mencapai kemajuan yang pesat ”. Jawabku menyanjung beliau secara halus, karena dalam kenyataannya memang Beliau banyak menunjukkan kelemahanku. Kami duduk sambil membersihkan keringat. Kemudian beliau menyarungkan raketnya dan selanjutnya meringkas tas, bersiap-siap akan pulang. Sambil berkata :

“ Yuk Rul, kita pulang”, ajak Pak Guru.

“ Mari Pak”, sahutku sambil berdiri. Kulihat penjaga sekolah mengambil teko dan cangkir bekas minuman. Kemudian berdiri seakan memberi hormat kepada Pak Guru yang mulai berjalan pulang. Kami melangkah beriringan, beliau meletakkan tangannya melingkari pundakku, sambil bertanya :

“ Pulangnya kemana, Rul ? ”

“ Dekat Pak, di RW 011 ”, jawabku.

“ O, di ujung jalan itu ya “

“ Betul Pak, tapi rumah saya di dalam gang “.

“ Kalau saya rumahnya dekat Rul “, kata beliau bertepatan dengan kami keluar dari halaman sekolah.

” Itu yang berwarna krem, yang ada pohon jambu bol. Gampang Rul ”, kata beliau sambil menunjuk ke sebuah rumah.

“ Ayo Rul, mampir dulu ke rumah saya ”, ajak beliau.

“ Lain kali saja Pak, hampir maghrib ”, kata aku menolak secara halus.

“ Kamu anak baik, Rul ”, kata beliau menjelang berpisah.

” Ya, hati-hati ya ” tambahnya.

“ Selamat Pak, terima kasih ”, sahutku sambil berhenti sejenak menghormati Pak Guru yang sedang berjalan pulang. Tiba-tiba sekuntum bunga bougenville berwarna merah bata jatuh di wajahku. Ku ambil bunga tersebut sambil berkata di dalam hati, ini bahasa alam, sebagai pertanda yang baik. Insya Allah.

Kami telah terpisah, aku berjalan pulang di bawah cahaya jingga matahari senja. Alam damai setenang hatiku yang entah kenapa. Di langit sekawanan camar pulang ke sarang, seakan mengejar awan yang berarak-arak menuju lazuardi khatulistiwa.

***

Hari Sabtu jam empat sore seperti yang telah kami janjikan sebelumnya, aku telah siap di lapangan menunggu kedatangan Pak Guru. Terbayang olehku Mang Oyo yang sedang mengurus anak pertamanya masuk SMP. Kira-kira umur anaknya tentu sama dengan aku. Sudah selama satu minggu ini Mang Oyo pulang ke kampung. Menurut dia pulang kali ini akan lama, karena akan mengurus sekolah anaknya. Dari sikap ini terlihat dia sangat bangga akan anaknya. Biasanya Mang Oyo digantikan oleh adiknya. Tapi adiknya pun sama dengan Mang Oyo akan mengurus anak keduanya masuk SD. Melihat dari gelagat, mereka sama-sama akan menunggu anaknya sampai masuk sekolah. Mereka begitu sayang pada anak-anaknya. Bahkan mereka juga begitu sayang kepadaku, jadi aku tak perlu merasa iri kepada siapapun. Terutama adik Mang Oyo, sering membungkuskan pecel lele untuk kubawa pulang. Karena aku sudah makan, jadi kalau bukan Ayah atau Bunda maka kedua kakakku yang akan menikmatinya. Tapi seandainya merekapun sudah makan maka akan kuberikan kepada Arul atau Hesty. Hal seperti ini memberikan perasaan bahagia tersendiri bagiku. Aku punya Ayah, Bunda dan dua orang kakak. Ada Hesty, Ical dan orang-orang lainnya lagi yang juga baik padaku. Sehingga aku merasa kalau aku adalah salah satu anggota dari satu himpunan di alam ini yang hidup saling terikat dalam kasih dan sayang. Rasanya baru sebentar aku duduk ketika Pak Guru datang dengan senyumannya yang menyenangkan.

“ Selamat sore, Pak ”, sapaku.

“ Sore Arul, kamu selalu tepat waktu ” jawabnya.

” Kita main tiga set saja ”, lanjutnya.

“ Buru-buru ya, Pak ? ”

“ Bukan begitu, saya ingin cerita-cerita sama kamu supaya kita saling mengenal ”.

“ ??? ”. Aku bingung, tapi akhirnya kujawab juga “ Baik, Pak ”.

Kami pun memulai permainan. Sekarang perasaanku lebih tenang, entah kenapa. Padahal belakangan ini perasaanku memang kurang tenang, tapi sejak kenal dengan Pak Guru ini perasaan gelisahku seperti hilang begitu saja. Penampilan beliau secara keseluruhan memang menyenangkan, mungkin ini yang menghilangkan rasa gelisahku. Semua pukulanku dapat dikembalikan beliau dengan baik. Dan pukulan-pukulan beliaupun dapat pula kukembalikan. Aku tidak boleh salah dalam mengontrol bola, karena salah menerima, ataupun salah mengembalikan berarti keuntungan bagi lawan. Disini keistimewaan Pak Guru, kontrol bolanya sangat baik. Aku bertambah yakin kalau beliau benar-benar pemain yang tangguh.

“ Hebat, Rul !!! “, teriak Beliau ketika aku berhasil mengembalikan smes kerasnya diakhir set yang ketiga. Sayang pengembalian bola dariku agak keras, sehingga dapat dipatahkan beliau perlawananku dengan sebuah pukulan yang jatuh tepat ditengah lapangan permainan.

Aku kalah, dan kalah ini bener-benar kalah yang sempurna, walaupun kalah tipis. Napasku memburu pertanda kelelahan yang sebenarnya. Aku benar-benar takluk, karena baru kali ini aku kalah bukan terencana. Bola jatuh tepat di tengah lapangan, aku tidak berdaya, hebat sekali, aku benar-benar kalah.

“ Pengembalian bola smes-nya sangat menawan, kamu hebat Rul ” beliau memuji.

“ Pengembalian yang mudah dipatahkan, Pak ”, selaku.

“ Pengembaliannya benar-benar bagus Rul, sayang pukulannya memang agak kekerasan. Seharusnya pukulannya pelan saja, agar jatuhnya tepat di depan net. Jadi tidak terkejar oleh saya, tapi yah sudahlah, mari kita istirahat ”.jawab beliau sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan memperlihatkan rasa kagumnya.

“ Ini silakan diminum ” kata Beliau, sambil memberikan padaku minuman kemasan botol plastik berwarna ungu. Aku ambil pemberian beliau, kubuka tutupnya, lalu kunikmati dengan penuh perasaan.Keringatku mengucur deras kukeringkan dengan handuk kecil. Angin bertiup lembut, udara segar terasa nyaman mengalir ke seluruh tubuhku. Nikmatnya tubuh yang sehat pikirku.

Penjaga sekolah datang membawa teko transparan berisi teh diatas sebuah nampan hitam dengan dua cangkir, ini memang menjadi kebiasaan beliau. Karena setiap pemain memberi tip untuk beliau, untuk itulah beliau berbuat kebaikan terlebih dahulu. Begitulah cara mereka saling menghormati dalam sebuah etika bergaul. Sesampainya di tempat kami duduk, Penjaga Sekolah menyapa Pak Guru :

“ Pak Guru, silakan ala kadarnya ”.

“ Oh Bapak, nggak usah repot-repot Pak”, sahut Pak Guru berbasa basi.

Selanjutnya Penjaga Sekolah duduk dekat Pak Guru dan kelihatannya mereka sudah sangat akrab. Mereka bercerita tentang banyak hal seakan menyambung pembicaraan sebelumnya yang terputus. Kelihatan keduanya terlibat dalam satu pembicaraan yang sangat menarik. Aku berpikir, mendengarkan percakapan orang tidak sopan, apa lagi percakapan orang yang sudah dewasa. Ku minum teh hangat yang menjadi bagianku, nikmat....melegakan tenggorokan. Saat aku sedang terlena tiba-tiba tersentak oleh teguran Pak Guru :

”Arul, Bapak penjaga Sekolah ini telah banyak bercerita tentang kamu. Saya sangat tertarik dengan cerita ini. Kemarilah, supaya kita dapat bercerita lebih serius”.

“Baik, Pak”, jawabku sambil mendekat.

“Kamu baru tamat SD ya . .Rul ?”

“Benar Pak, tamatan tahun ini”

“Terus SMP-nya dimana?”

“Tadinya saya terdaftar pada nomor urut kedua di SMP Unggulan dua, Pak”.

“Tadinya...kok tadinya, kan sekarang sedang penerimaan murid baru, jadi kamu sebenarnya masih terdaftar disana kan?”

“Benar Pak, karena keadaan orang tua saya yang dalam kesulitan, jadi saya pikir saya mau daftar di SMP Terbuka saja”.

“Di SMP itu kan tidak dipungut bayaran, buku dipinjamkan terus apanya lagi?”

“Baju seragamnya kan banyak Pak, kalau di SMP Terbuka cukup satu stel, nggak perlu baru lagi. Sepatu juga apa yang ada saja, jadi bisa murah Pak, beli loakan saja. Belum yang lain-lain, saya dengar biayanya kalau disana jadinya banyak juga Pak. Saya yakin Orang tua saya pasti tak mampu”. Aku berhenti bercerita, kulihat Pak Guru menarik napas panjang, lalu bertanya :

“Orang tua kamu kerjanya apa, Rul ?”

“Ayah saya bekerja di Perusahaan yang sudah bangkrut, jadi terpaksa Bunda membantu berjualan sarapan pagi”

“Berapa orang saudara kamu ?”

“Kakak saya dua orang, yang satu baru tamat SMK bareng dengan saya, yang satunya baru kelas dua SMK, nah ini semuanya serba tanggung jadi saya harus mengalah supaya kakak yang di kelas dua bisa selesai. Nanti kalau kakak pertama saya sudah bekerja, saya bisa pindah kemana . . begitu Pak”.

“Yang terdaftar dengan nomor urut satu dan dua itu sebenarnya bisa masuk ke SMP Unggulan, karena mereka tidak memilih SMP Unggulan makanya disitu”.

“Betul, Pak”.

“Berarti NEM kamu tinggi, artinya kamu pintar Rul.....begini saja besok hari Minggu jam delapan pagi kamu ajak Ayah kamu ke rumah saya, bawa raport SD kamu”.

“Baik Pak, besok saya ajak Ayah ke rumah Bapak”.

Pak Guru terdiam, aku juga diam sementara ku dengar beliau menghela napas dan kemudian berkata :

“Arul, sebenarnya saya Kepala Sekolah SMP Unggulan dua itu”, lanjut beliau. Mendengar itu aku tersentak kaget bahkan tak sanggup menyembunyikan rasa terkejutku Jadi beliau Kepala Sekolahnya ?. Sekolah yang kusebut-sebut orang seperti aku tak akan sanggup bersekolah disitu ?. Seakan aku menyebut sekolah itu sekolah mahal, seakan ada yang salah. Aku menjadi benar-benar merasa bersalah.

“Oh maafkan saya Pak Guru, saya seperti merasa bersalah telah bercerita terlalu banyak. Tapi saya tak bermaksud menyalahkan siapa-siapa, maafkan saya Pak”.

“Tak apa Arul, kamu telah bercerita tentang nasib kamu, bukan tentang yang lain. Jadi sekarang saya membuat jalan keluar masalah sekolah kamu, tapi kuncinya ada pada Ayah kamu dan kamu sendiri Arul”, kata beliau . Beliau sekarang terlihat sangat berwibawa, aku tertunduk malu, tapi juga senang dan bermacam-macam perasaan lain yang berkecamuk di dalam dadaku. Oh, inilah orang yang akan menjadi penolongku.

“Saya mengerti Pak, terima kasih, Bapak telah berbaik hati pada saya”, jawabku gugup bercampur malu dan perasaan senang.

“Kalau sore, kamu membantu orang berjualan sampai jam sembilan malam ya?”

“Benar Pak”

“Itu kurang bagus Rul, jam begitu kan harusnya belajar”.

“Saya belajarnya siang, bersama dengan dua orang teman dan pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah. Bekerja, supaya dapat biaya bersekolah sama kecukupan gizi Pak. Sudah dua tahun ini saya harus begitu, sejak kelas lima”.

“Hidup kamu berat Rul”

“Ya pak, tapi lebih berat kalau tidak sekolah”.

Pak Guru memandangku dalam-dalam, seakan ingin mengetahui isi hatiku. Aku menunduk dan terdengar suara napas berat Pak Guru. Aku diam, suasana pun hening. Aku sekarang yakin Penjaga Sekolah sedang berusaha menolongku dan Pak Guru ini memang orang yang tepat. Selain orangnya baik, dia pun bisa memberikan jalan keluar. Dua orang yang baik hatinya menolong aku dengan caranya masing-masing. Pantas sejak bertemu Pak Guru ini hatiku terasa lega, ini toh kejadiannya.

“Hari sudah sore mari kita pulang, ingat jangan lupa besok jam delapan pagi” kata beliau. Sekarang beliau terlihat angker, menimbulkan rasa hormat dan takut bagiku.

“Baik Pak”, jawabku.

“Ya, saya duluan”, pamit beliau.

Dan demikianlah pada keesokan harinya tepat jam delapan pagi aku dan Ayah telah berada di rumah Bapak Kepala Sekolah. Beliau menyambut kedatangan kami dengan gembira. Tidak terlihat wajah angker, juga tidak terlihat satu sikap yang seperti minta dihormati. Terlihat sangat wajar sekali, persis seperti pertama aku mengenalnya sebagai teman bermain bulu tangkis. Sungguh orang yang rendah hati

“Bapaknya Arul, senang sekali bisa berkenalan dengan orang tua dari seorang anak yang hidupnya penuh semangat”. Sambut beliau menerima kami dengan tulus. Setelah kami menyalami beliau, kuserahkan Raport SD-ku seperti yang diminta. “Silakan duduk Bapak dan juga Arul” Beliau mempersilakan kami duduk sambil memperhatikan Raportku mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam.

“Raport ini bercerita tentang kecerdasan, kerajinan, disiplin diri dan kepribadian dari Ananda Chairul Arifin Rahman. Bagus sekali, apakah Bapak tidak kepingin kalau Arul bisa bersekolah Pak ?” tanya Bapak Kepala Sekolah.

“Keadaan kami serba sulit Pak dan kami pun harus memilih salah satu, yang mana harus didahulukan. Ini pilihan yang sulit Pak, dalam kebingungan itu Arul tampil memperlihatkan kedewasaannya. Saya malu sama Arul, bahkan kami satu keluarga”.

“Baiklah Bapak Arul, Arul saya terima di sekolah saya dengan beberapa keringanan. Tetapi Bapak sekeluarga harus dapat memberi dukungan supaya Arul dapat belajar dengan baik”, kata Kepala Sekolah dengan serius.

“Baik Pak”, jawab Ayah tertunduk malu.

“‘Ingat Pak, pendidikan Arul adalah infestasi masa depan bagi keluarga Bapak. Jadi baik-baiklah mendidiknya, semoga dia dapat membawa banyak kebaikan”.

“Baik Pak”, jawab Ayah tegas. Kemudian Kepala Sekolah berkata kepadaku :

“Arul, semua ini mulanya dari Bapak penjaga sekolah, berterima kasihlah padanya. Ingat besok kamu mulai bersekolah, pakai seragam SD dan jam tujuh pagi langsung datang ke kantor saya”. Kepala Sekolah menutup pembicaraan bersamaan dengan seorang ibu menghidangkan teh hangat, sambil mempersilakan kami minum.

“Nah kebetulan, silakan diminum”, Pak Guru menawarkan.

“Ya Pak, terima kasih”, ucap Ayah sambil mengambil minuman, aku juga minum.

“Pak guru, saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya yang juga sudah merepotkan. Semoga Allah melapangkan kehidupan Pak Guru, sebagaimana Pak Guru telah memberikan kemudahan pada saat kesempitan kami. Sekarang kami mohon pamit berhubung ada keperluan lain di rumah majikan saya.”

“Silakan Bapak Arul, sebagaimana pembicaraan tadi, marilah kita sama-sama membina Arul. Semoga dia dapat mencapai apa yang jadi cita-citanya”.

“Mari Pak Guru”, ucap Ayah sambil menyalami Bapak Kepala Sekolah, aku juga menyalami. Dan kami pamit sambil mengucapkan salam : ”Assalamualaikum”.

“Wa’alaikumsalam”, jawab Kepala Sekolah.

Kami melangkah ke halaman yang terlihat sangat rapi dan bersih. Beberapa tanaman Gelombang Cinta terawat baik dalam pot yang besar. Bunga Adenium pink dengan pinggiran merah tersusun acak di sekitar Pachypodium yang sudah besar. Berdampingan dengan Oleander yang berbunga lebat. Aku terpesona melihat taman mungil yang begini indah. Pak Guru rupanya memperhatikan gerak-gerikku. Beliau tersenyum bercampur senang dengan pujian yang sangat alamiah ini.

“Yang mana yang bagus, Rul ?”, tanya beliau.

“Yang ini Pak, Pachypodium”, jawabku, tetapi reaksi Beliau cukup mengagetkan.

“Kamu tau Rul, kalau yang gede itu apa ?”

“Yang gede ini Gelombang Cinta Pak”

“Kalau yang paling gede itu ?”

“Katanya kalau begini Jenmanii sisik naga Pak”.

“Lho kamu belajar dari mana, Rul?”

“Saya sering membantu tukang tanaman hias, kalau tanamannya datang Pak”.

“Kamu banyak belajar dalam hidup Rul, bagus”, beliau mengiringi kami sampai di pintu pagar, kami kembali mengucapkan salam kemudian melangkah perlahan.

Aku dan Ayah beriringan jalan, masing-masing kami dengan perasaan sendiri-sendiri. Aku dengan perasaan gembiraku yang hampir tak sanggup kutahan. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah, supaya bisa kutumpahkan seluruh perasaan ini agar dadaku tak meledak. Aku melangkah, Ayah melangkah dan tanpa kusadari langkah kami semakin lama semakin cepat. Serasa melayang, bagaikan terbang akhirnya sampai juga aku di rumah. Kakak pertamaku yang sedang berada di halaman heran melihat kami yang terlihat aneh dalam pandangannya :

“Bagaimana hasilnya, Rul ?” ia bertanya, bagai tak bisa menahan perasaan ku jawab:

“Diterima Kak” agak berteriak. Ainun Mardiah Rahman, kakakku yang lain keluar dari kamar sambil berlari dan berteriak kecil : ”Apa a a ?”

“Arul diterima”, jawab Ayah. Kakak pertamaku datang mengejar kami. Ia disambut Kak Ainun dalam pelukan sambil berteriak kecil :”Arul sekolah kak”.

“Iya Ainun, Alhamdulillah”, mereka berpelukan sambil menangis. Ketika tiba-tiba Bunda datang dari dapur setengah berlari terus berhenti dan terduduk dekat pintu kamar. Air matanya berlinang, napas memburu kencang, kemudian berkata :

“ A r u u u l l . . . . . nasibmu n a a a k k”, suara Bunda tersendat menahan haru.

“Y a a B u n d a “. Jawabku, seketika serasa tumpah semua perasaan yang ada di dalam dada, keluar mencair dalam bentuk tangis yang belum pernah terjadi. Ayah duduk sambil memeluk pundakku, Bunda terduduk lemas di lantai berlinang air mata. Sedang Kak Ainun lunglai dalam pelukan Kakak. Semua kami terdiam dengan tangis, berlinang air mata, tenggelam dalam keharuan yang sangat dalam. Ketika Hesty masuk dengan tiba-tiba, dia berdiri tertegun mermperhatikan kami satu-persatu, keningnya berkerut penuh tanya. Kemudian berkata :

“Arul kenapa Bunda ?”

“Arul diterima di SMP Unggulan kedua, Hesty”, jawab Bunda lemah. Tubuh Hesty terlihat menegang, tatapan matanya menyorot tajam, kemudian ia pun berlari ke arahku sambil bertanya :

“Betul, Rul”, seakan tak percaya dengan pendengarannya.

“Betul, Hesty”, jawabku pelan. Dipeluknya aku kuat-kuat dan diciumnya pipiku dengan lembut sampai kurasakan air matanya membasahi wajahku. Lalu ia berbisik

“ Berterima kasihlah kepada Tuhan A r u u u l l “.

1st chapter by Robert Armaydi

Read More ......

K.R.L. Solo

-

1

Sore ini, I Made Viona Resika atau biasa di panggil akrabnya Vio, ia sedang bersama dengan kekasih hatinya. Di dalam ruang tamu rumah Vio, Vio tampak sedih sekali, wajahnya terlihat sembab habis menangis, ia tak mampu lagi membendung air matanya yang kian mengepung kelopak matanya dan dengan sendirinya butiran seperti kristal itu terjatuh dan meleleh dikulit wajahnya yang mulus sampai menggantung didagu runcingnya. Alfiano Ricardo adalah pujaan hati Vio yang sangat dicintainya, meskipun usia mereka terpaut 5 tahun, tapi itu tak jadi masalah buat cinta mereka. Hubungan mereka itu memang belum sempat diketahui oleh teman-teman GANKnya karena setelah Vio putus dengan kakak kelasnya 7 minggu yang lalu, kini sang gadis berdarah Bali yang cantik itu pindah ke lain hati dan mampu melupakan semua kenangan buruknya yang telah usang, Alfi pun mampu menyulap luka sedih yang Vio miliki menjadi kebahagian. Alfi tak menghiraukan dengan agama yang dianut oleh Vio, meskipun mereka berbeda agama antara Hindu dan Islam, mereka tetap mencinta tanpa memandang sebuah perbedaan. Alfiano lebih tua dari Vio, sedangkan Vio masih duduk dibangku Es-Em-A kelas III.

Di ruang tamu itu, Alfi memeluk Vio erat sekali dan tampak beberapa tas yang tergeletak dilantai ruang tamu dan sepertinya akan terjadi perpisahan yang cukup lama pada mereka. Mau kemana ya, Alfiano?

“Aku berharap, kamu cepat pulang........” Ucap Vio terisak dalam pelukan.

“Iya sayang, aku pasti segera pulang.” Balasnya membelai rambut Vio.

“Lagi juga, aku nggak akan lama disana. Selesai aku mengikuti lomba melukis dan menyelesaikan study ku di Holland, aku langsung menemui mu kembali disini. Percayalah pada ku, sayang....” Tambahnya lagi merayu. Vio terdiam lalu memeluknya. Serasa ia tak mengikhlaskan kepergian kekasih hatinya itu. Tapi, waktu terus saja berlari seperti argo meter taxi dan tak terasa waktu telah memanggil mereka untuk berpisah. Vio menangis terseguk-seguk dan air matanya sebagian membasahi baju Alfi dibagian pundaknya. Alfi memahami perasaan Vio yang tak bisa dilepasnya.

“Sayang,,, waktunya ku harus pergi, jaga diri baik-baik selama aku tak bersama dengan mu.” Ucap Alfiano dengan merdunya, serasa hati Vio semakin sedih mendengar ucapannya itu.

“Nggak, aku nggak mau berpisah dengan mu.” Rengek Vio kemudian.

“Ssssttttttt!!!!!!!!!! Berhenti menangis,,, jangan seperti anak kecil,” Sahut Alfi mengusap air mata dipipi Vio.

“Aku nggak mau......” Kemudian kata-kata Vio terputus.

“Iya, aku tahu. Tapi maafkan aku, sayang.... Aku harus segera pergi.” Lanjut Alfi yang siap meninggalkannya. Air mata Vio masih terus menggenangi pipinya saat ia melihat sopir pribadinya meraih tas-tas yang tergeletak dilantai. Vio meratapi wajah Alfi dengan sedih, ia menahan tangisnya yang menyesakkan dadanya. Kemudian Alfi merangkul Vio dan berjalan sampai kedepan pekarangan rumah.

Di samping mobil merah metalik yang kinclong banget!!! Sopirnya Alfi sudah siap untuk melaju, sementara Vio menarik jas Alfi, ia mencegah langkahnya saat Alfi hendak masuk ke dalam mobil.

“Ada apa lagi, sayang?” Tanya Alfi yang tak jadi masuk ke dalam mobil.

“Aku nggak mau kamu pergi.” Jawabnya merengek.

“Aku janji, aku akan sering-sering telepon dan melayangkan surat untuk mu.” Balasnya lalu memeluk Vio.

“Ikhlaskan aku pergi untuk sementara waktu saja.” Tambahnya lagi, tapi Vio menggeleng. Rasanya berat sekali buat Vio untuk melakukan teori perkataan yang terlontar dari mulut Alfi barusan.

Akhirnya, setelah Alfi bisa memberikan saran dan menasehatinya, Vio terlihat agak relax dan fun. Kemudian Alfi pun masuk ke dalam mobilnya dan segera membuka kaca jendela mobil lebar-lebar lalu melambaikan tangannya panjang pada Vio sampai menghilang ke depan gerbang rumah. Vio membalas lambaian tangannya itu dengan air mata kesedihan. Alfi pun menjauh, jauh, jauh dari pandangannya. Wajah Vio yang tadinya ceria, kini ia berubah menjadi pucat dan sedih kembali.

Jenotz Jenotz Jenotz


3 Bulan kemudian......

Di kamar Vio tepatnya........


Selepas pulang sekolah, Vio bersantai seorang diri di dalam kamarnya, ia sedang membaca buku Guide book of Indonesia. Tulisan yang tertera disana menggunakan Bahasa Inggris semuanya, sepertinya ia sedang menterjemahkan beberapa bagian lembar kertas dibuku itu. Vio yang sangat, sangat santai sekali, ia meletakkan kaki kanannya diatas meja belajar, lalu ia menyenderkan tubuhnya di bangku belajar sembari mengemil makanan yang diberikan dari Dika Suryana tadi siang sepulang sekolah, teman kelasnya. Vio mengamati sebuah tempat pariwisata di Daerah Surakarta, Solo. Vio menangkap satu panorama yang sangat indah dan bagus di Daerah Grojokan Sewu atau Waterfallnya Orang Solo gitu loh!!!!! Hehehehe.......

“Wuihhhh....... Gwe suka banget nih tempat. Sejuk, damai dan yang pastinya... Cool bangeeeeet...........” Ujar Vio yang sedikit mengetahui tentang pariwisata Grojokan Sewu-Tawangmangu dari hasil membacanya. Kemudian Vio menutup buku itu dan kemudian melamun, lalu ia menatap keluar jendela kamarnya.

“Andai saja.........” Khayalnya dengan mata berkaca-kaca sembari tersenyum. Ia mulai bermain dengan dunia khayalnya. Tak lama kemudian,,, ia tersadar saat ia mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.

“Vio, cepat nak turun. Mama mau mengajak kamu ke swalayan!!!!!!!” Ucap Mamanya setelah membuka pintu kamar Vio, Mamanya berdiri di ambang pintu lalu ia kembali menutup pintu kamar Vio. Vio melongos menatap kepergiannya.

“Asyik..... Nyokap ngajak shopping, shopping,,,,, berarti gwe bisa membeli buku-buku baru dong. Hehehe.....” Gumam Vio mengayunkan tangannya, ia segera bangkit dari tempat duduknya. Saat ia ingin mengambil bolpoint diatas meja belajarnya karena ia ingin mencoret tanggalan belanjanya di kalender, tiba-tiba saja Vio melihat ada amplop surat disana. Buru-buru sekali ia mengambilnya kemudian ia menyobek amplop itu dan membaca isi di dalam kertas putih.

Cinta adalah Anugerah...

Mimpi, Khayalan, Kisah, Perasaan, keinginan, terus mengalir

menjadi satu...

Hembusan Angin yang terasa selalu menyejukan jiwa

Seperti embun di pagi hari yang senantiasa memayungi alam ini.

Keangkuhan akan berlalu saat cinta hadir memberikan kehangatan dalam hati.

Sentuhan lembut yang membakar gejolak di dalam dada akan memusnahkan semua masa yang telah usang dengan goresan sedih dan juga luka yang terhakimi.

Semua Orang memuji Cinta

Karena tiada yang bisa mematikan Cinta,

Selain Kehendak Tuhan semata......

Tapi, bila dendam yang meraja, dia akan datang kembali untuk membalasnya.

Jangan lari dari kenyataan

saat cinta hadir kembali,

Cinta...... Selalu ada meskipun sampai mati...

Itulah syair yang dibaca oleh I Made Viona Resika, saat ia menerima sebuah surat kaleng dari atas meja belajarnya, Vio segera melihat dibagian belakang amplop surat itu tak ada sebuah nama pengirimnya, amplop itu ngeblank. Vio mengernyitkan keningnya dalam karena ia bingung dari mana datangnya surat yang tak ada nama pengirimya itu? Setelah membaca syair itu, Vio tak mempermasalahkannya lagi lalu ia menyimpan syair itu ke dalam dompetnya. Dengan segera Vio meninggalkan kamarnya karena Mamanya telah menunggu di bagasi depan rumah.


Jenotz Jenotz Jenotz

“KRING.......... KRING......... KRING................” Terdengar suara telepon berdering keras sekali di ruang tamu. Mamanya berjalan dengan cepat dari bagasi luar untuk menerima telepon itu. Vio yang melintasi ruang tamu, buru-buru ia meraih gagang telepon itu di dekat tempat sembahyangnya, tercium bau dupa yang menyengat di ruang tamu.

“Hallo, siapa ini?” Sapa Vio pelan dan merdu. Hening.

“H-Hallloooooo........” Ucapnya sekali lagi dengan keras karena tak ada yang membalas sapaannya. Lalu terdengar nada terputus dari seberang sana.

“Huh...... Dasar gagu lu, Bodoh!!!!!!!” Dumel Vio membanting gagang telepon dengan kesal.

“Ada apa, Vi, koq nada suara kamu kesal gitu?” Tanya Mamanya yang tiba dihadapannya.

“Itu Ma, barusan ada yang telepon, tapi nggak ada yang menjawab. Terus terdengar nada terputus gitu.” Jawabnya cemberut.

“Mungkin salah sambung?” Lanjut Mamanya menduga dan tersenyum.

“Nggak mungkin banget, Ma. Karena sewaktu aku bilang, hallo, terus hallo lagi, disana nggak ada jawaban apapun. Yang ada malah telepon langsung dimatiin.” Bantah Vio membenarkan keadaan. Dasar Vio keras kepala, ia bersikap seperti anak kecil saja.

“Sudah, lupakan saja masalah telepon itu dan lebih baik sekarang kita bersenang-senang.” Lanjut Mamanya kemudian merangkul Vio, ibu muda yang cantik itu melemparkan senyum indahnya. Mereka pun berlalu menuju ruang bagasi untuk mempercepat waktu pergi ke swalayan.

Di sepanjang perjalanan menuju swalayan, Vio menatap keluar kaca jendela mobil. Mamanya sedang berkonsentrasi penuh dengan kemudinya. Entah bisikan apa yang mengingatkan Vio dengan syair yang dibacanya tadi di dalam kamar. Vio sungguh tak mengerti dengan maksud dari isi syair itu dan siapa pengirimnya? Ia terus saja berpikir sampai mentok di ujung ubun-ubunnya, tapi nggak ketemu-temu juga dari mana datangnya surat itu. Beberapa menit kemudian... Mamanya merapatkan mobil diparkiran tengah sebuah swalayan. Setelah mesin mobil berhenti mati, Vio segera keluar dari dalam mobil dengan tas kecilnya. Mamanya bercermin dikaca spion tengah dan merapihkan rambut poninya yang menutupi matanya, kemudian ia keluar dan mengunci pintu mobilnya secara otomatis.

“KREK!!! KREK!!! KREK!!!” Lalu mereka berjalan menuju pintu selatan swalayan.


Jenotz Jenotz Jenotz

Keesokan paginya.....

“Pagi manis!!!!!” Sapa Riko di depan gerbang rumah Vio.

“Hai... Pagi juga, Riko Ariyanto.” Balasnya riang dan tersenyum.

“Ayo naik, nanti telat loh!!!” Seru Riko menghidupkan mesin motornya.

“Sip deh!!!” Balasnya kemudian menaiki motor Mega Pro yang di modif gaul. Mereka berdua memang berteman dari kecil sampai duduk dibangku Es-eM-A pun, mereka memang masih bersama. Persahabatan itu masih melekat di dalam hati mereka. Kemudian mereka berlalu menuju ke sekolahan.

Selang 15 menit berlalu,,, mereka tiba dihalaman sekolah, Riko memarkirkan motornya diparkiran sekolah yang cukup meluas.

“Vio, bisa nggak lo bawain tas gwe ke dalam kelas?” Tanya Riko padanya.

“Sip, gwe bawain. Apa sih yang nggak buat sahabat gwe sendiri.” Jawabnya ramah lalu meraih tas Riko.

“Ko, gwe ke kelas duluan ya?” Tambahnya yang sibuk membawa tas Riko yang lumayan berat. Riko manggut-manggut saja, setelah itu Vio pun berlalu dari pandangannya.

“Vi, Vi, Vio.....” Panggil Deora Santika, teman sebangkunya yang datang tergesa-gesa menghampiri Vio di dalam kelas.

“Ada apa sih lo? Ribet banget roman-romannya???” Tanya Vio saat mengeluarkan buku Sejarah.

“Semalem gwe mimpi buruk banget.” Jawabnya menggelidikan tubuhnya, wajahnya tampak cemas seperti dikejar-kejar Raintenier.

“Dari dulu sampai sekarang, lo nggak pernah berubah ya, De. Kalo lo mau berbicara sama gwe atau bahkan dengan teman-teman yang lainnya, tarik nafas dulu dan hembuskan pelan-pelan. Hufhhh.... Hahhh..... Hufffhhhh..... Pokoknya berkali-kali lakukan cara itu, gwe jamin 100%, lo bisa mengendalikan diri lo. Nggak kayak gini, elo kayak Orang dikejar-kejar hutang.” Ujar Vio memandang temannya sinis, kemudian ia memperaktekan cara berbicara yang baik dan benar dengan menarik nafas dan menghembuskannya panjang-panjang.

“Bawel banget sih lo?” Tindih Deora dengan nada kesal.

“Ceritanya tuh begini Vi, kita berlima sedang berlibur ke sebuah tempat yang belum pernah kita ketahui. Rumah itu besar sekali dan bahkan bangunannya kuno banget, di sekeliling bangunan rumah gedong itu ada pohon yang sangat besar, daun-daunnya lebat dan rimbun banget, gerbangnya saja udah nggak nampak seperti gerbang rumah. Maksud gwe,,, gerbang rumah gedong itu di tumbuhi pohon-pohon merambat yang menutupi gerbang rumah sekitarnya. Gitu... Dan sepertinya rumah itu ada penghuninya deh?” Lanjut Deo menceritakan semua mimpinya pada Vio, ingatannya tepat sekali seperti sudah di susun kayak skenario.

“Terusnya lagi nih,,, di dalam mimpi gwe itu elo dikejar-kejar makhluk yang sangat menyeramkan. Disana lo berpisah dengan kita-kita karena ada dinding yang memisahkan kita berlima. Di tambah lagi ada sebuah lukisan seorang gadis dengan rambut yang panjang tergerai dan hanya gara-gara lukisan itu, kita berlima tersesat di rumah gedong yang kuno. Sedangkan gwe menghilang entah kemana? Maksud dari mimpi itu mempengaruhi kehidupan nyata kita ini, nggak ya, Vi?” Tambahnya lagi yang masih asyik bercerita, tatapan Deo tajam sekali kearah Vio saat ia menceritakan semuanya, seolah-olah dia mengingat semua akan mimpinya semalem yang menyerukan.

“Cukup, cukup, De, lo ini selalu saja punya mimpi yang nganehin gitu. Kemarin bilang sama gwe, kalo lo dikejar-kejar sama dedemit yang bangkit dari dalam kubur, sekarang lo bilang kalo kita berlima dalam keadaan yang sangat berbahaya karena mimpi lo itu. Please deh, De, gwe rasa itu semua hanya mimpi saja.” Bantah Vio lalu menghentikan cerita temannya, Vio nggak percaya dengan semua mimpi-mimpinya Deo itu.

“Tapi Vi?” Mohon Deo, memelas.

“Deo, mimpi lo itu lucu-lucu banget,,, bahkan kalo gwe fikir-fikir saat lo menceritakan semua mimpi lo itu, seperti ada skenarionya tahu!!! Lulus lo kalo ikutan main sinetron..... DEDEMIT. Hihihi.......” Jawab Vio yang segan mendengarkan cerita anehnya itu lagi, Vio meledeknya dengan menirukan tawa kuntilanak, lalu ia memalingkan wajahnya dari Deo dan mencoba untuk berkonsentrasi dengan LKS Sejarahnya.

“DOOORRRR!!!!!!!!!!!” Farhan datang mengagetkan Deo.

“Setan mati dibakar,” Spontan Deo mengucap kata-kata ngasalnya.

“Siapa yang dibakar, Deo?” Tanya Farhan meledeknya.

“Kaget gwe, kaget.” Sungut Deo mengurut dadanya dan mengatur kembali nafasnya.

“Ayam yang dibakar?” Tanya Farhan, mengironisnya.

“Makanya Neng, kalo pagi-pagi jangan mengkhayal yang enggak-enggak. Ini nih korban film horor The Ring 1 di SCTV semalem.” Lanjut Farhan masih meledeknya.

“Ssssssstttttttttttttt........................” Kilah Vio mendaratkan telunjuk kiri diujung hidungnya.

“Kalian berdua ini, kalo ngomong nggak ada takut-takutnya sama sekali. Sembarangan banget sih?!!!” Tambah Vio lagi memberi perhatiaan.

“Memang bener kok, Vi, temen kita yang satu ini kan.... Agak aneh gitu deh!!! Hahahaha.....” Tukas Farhan yang memang merasa kalo Deo adalah teman paling teraneh di antara teman-temannya. Farhan menertawainya puas. Tampak dibawah sinar mentari pagi ini, wajah Farhan yang putih bersih terlihat memerah setelah ia tertawa terbahak-bahak. Vio mesem-mesem saja melirik kearah Deo yang mencibirkan bibirnya.

“Pagi semuanya!!!” Sapa hangat Riko memasuki kelas, ia tersenyum sumringah pagi itu pada teman-teman kelasnya yang sudah memadati ruang kelas. Lalu Riko berjalan menghampiri bangkunya.

“Pagi ganteng!!!” Balas Deo sebagai ceweknya, memuji. Kemudian Riko membalasnya dengan senyuman hangat untuk sang pujaan hati.

“Vi, Viona... Kenapa lo?!!!” Panggil Riko saat memperhatikan Vio yang sedang melamun.

“Hah!!!” Kagetnya tersadar lalu Vio segera menoleh kearah Deo yang sedang sibuk mengambil buku pelajaran.

“Nggak, Rik, gwe hanya ngelamun.” Jawab Vio singkat, meliriknya.

“Jangan ngelamun saja, Vi, masih pagi tahu. Bisa-bisa lo yang.......” Lanjut Riko memperingatinya, kata-katanya terputus karena bel sekolah berbunyi panjang.

“Elo yang kesambet!!!” Lanjut Riko meneruskan kalimatnya yang sempat terputus. Lalu Riko menertawainya dengan memperlihatkan barisan gigi-giginya yang putih seperti gigi pepsodent.

“Songong lo,” Celetuk Vio, sewot.

“Pagi Semua!!!!!!!!” Sapa Pak Yoga saat memasuki kelas.

“Pagi juga Pak!!!!!!!!” Balas anak-anak murid serempak dengan ramahnya. Tak lama kemudian,,, Pak Yoga menyuruh anak-anak muridnya untuk mengeluarkan buku latihan sejarah, mereka pun siap berperang melawan waktu untuk menuntut ilmu pagi ini.

Jenotz Jenotz Jenotz

Setelah seharian mereka belajar, siang ini mereka berlima sedang berkumpul di kantin depan sekolah, mereka menghabiskan waktu luangnya sebentar saja disana. Hiru pikuk suasana yang ramai, gaduh, terdengar nyaris memecahkan gendang telinga dan di tambah ladi dengan bunyi klakson motor yang keluar dari dalam gedung sekolah yang menyakitkan gendang telinga, menambahkan suasana disana semakin terlihat hidup. Siang ini Deo tampak diam dan murung, nggak seperti biasanya Deo begitu. Mungkinkah,,,, ia terlarut dengan mimpinya semalem?

“Eh, Vi, lihat deh sama temen lo yang satu itu. Aneh banget ya dia?” Ucap Dika berbisik.

“Biarkan saja dia melamun, Dik, memang dari tadi pagi sampai sekarang dia kayak gitu. Biasa lah,,, mikirin mimpi-mimpinya lagi. Hehehe.......” Jawabnya yang asyik menyedot Ice Capucino yang kental, kemudian ia berbisik dengan Dika.

“Emangnya?” Bingung Dika menatap wajah Vio.

“Tadi sih, Deo bilang sama gwe di kelas kalo cerita di dalam mimpinya itu tentang kita berlima yang lagi dalam masalah dengan hantu saat kita sedang berlibur. Coba deh Dik, lo fikir-fikir kembali dengan cerita anehnya itu, masa sih hanya karena mimpinya yang konyol itu dia jadi berdiam diri seperti patung di mall?” Jawab Vio panjang lebar.

“O......” Manggut Dika pelan, menelaah wajah Deo yang termangu dalam lamunannya.

“Vio, anterin gwe ke toko buku yuk?!!!” Ujar Farhan pada Vio saat memasuki kantin.

“Mau ngapain lagi, Han? Bukannya 2 hari yang lalu, kita habis dari toko buku?” Balik Vio bertanya.

“Gwe di suruh sama Nyokap untuk membeli majalah tentang masakan gitu deh....” Jawabnya yang terlihat ribet dengan peralatan sekolahnya, lalu ia terduduk dihadapan Vio.

“Apa,,, makanan???” Sontak Deo tersadar dari lamunannya saat mendengar penuturan Farhan.

“Siapa yang mau beli makanan?” Tambahnya lagi tak menyadari. Semua mata tertuju padanya, ada keheningan sesaat yang datang saat mereka berempat mendengar ucapan Deo yang polos.

“Bahasa Koreanya Orang lelah? Swa Swape Sweh!!!!!” Sahut Dika kemudian, lalu ia tertawa lepas. Rupanya Deo belum tersadarkan diri dari lamunannya.

“Deo.... Makanannya nanti saja ya, kalo lo udah sampai di rumah. Farhan tadi bilang, kalo dia disuruh sama Nyokapnya untuk membeli majalah masakan di toko buku. Bukannya makanan yang lo denger barusan. Huh!!!!!!” Timpal Riko tersenyum tipis.

“Nggak bisa gitu dong, tadi gwe denger kalo Farhan mau beli makanan.” Protesnya, mengelak.

“Udah sih,,,,, masalah seperti itu saja segala di perpanjang, nggak baik untuk kelanjutannya. Nanti yang ada malah timbul rasa benci di antara kalian berdua.” Sahut Vio menengahkan keributan kecil di antara Deo dan Riko yang tak mau mengalah.

“Oh ya, udah jam 1 lewat 15 menit, gwe rasa waktunya kita berpisah deh...” Sahut Deo, kemudian ia merapihkan baju sekolahnya dan bercermin di depan kaca.

“Sayang,,,, anterin gwe ya?” Lanjut Deo berkata pada Riko.

“Beres tuan putri.” Jawabnya lalu berlalu menghampiri motornya yang terparkir di seberang jalan kantin depan.

“Oke deh semuanya,,,,, sampai bertemu lagi besok.” Tukas Deo melambaikan tangannya saat ia beranjak pergi keluar kantin.

“Hati-hati ya?!!!” Balas Vio mengucapkan kata perpisahannya pada Deo, berteriak. Mereka pun berpisah diluar kantin. Setelah kepergian teman-temannya, lalu Vio menaiki mobil Farhan dan terduduk manis di samping sisi kirinya sembari menggunakan belt, kemudian mereka meninggalkan arena sekolah.


Jenotz Jenotz Jenotz

“Gwe tadi denger dari Dika, kalo sih Deo mimpi buruk lagi semalem?” Tanya Farhan diperjalanan menuju toko buku. Padahal tadi pagi dia cukup tahu dengan cerita itu, tapi Farhan hanya ingin memastikan kembali dengan cerita Deo.

“Begitulah ceritanya, tadi pagi tampangnya saja cemas banget dan ditambah lagi dengan nada suaranya yang tergesa-gesa kayak dikejar-kejar para raintenier.” Jawab Vio mengulas cerita mimpinya Deo.

“Gwe rasa, Deo itu harus diperiksa.” Lanjut Farhan menerka.

“Maksud lo?” Tanya Vio kaget dan wajahnya tiba percis di samping wajah Farhan, kemudian Farhan menoleh sejenak lalu memalingkan wajahnya.

“Psikiater gitu deh!!!” Jawab Farhan, cengengesan.

“Gila lo, itu kan hanya mimpi. Deo masih waras kaleeeee........” Bantah Vio nggak habis fikir dengan jalan pemikiran temannya itu.

“Ya, gwe sih hanya mencoba untuk menolong temen gwe sendiri.” Balas Farhan, melirik.

“Itu bukannya nolong dia, tapi ngejerumusin dia dengan yang namanya keanehan-keanehan yang ada pada dirinya nanti. Udah deh Han, jangan sekali-kali lagi elo bilang seperti itu, apalagi sama dia, bisa-bisa nanti dia depresi. Jangan ya, Han?” Lanjut Vio memohon.

“Okey, okey, gwe janji nggak akan berkata seperi itu lagi, Vio yang manis...” Jawabnya santai dengan rayuan, mencuri wajah Vio dari spion kiri dan tersenyum lebar.

“Huh, segala senyum-senyum lagi!!!!” Kilah Vio saat menyadari pandangan Farhan yang memperhatikan dirinya dari spion tengah. Setelah itu Farhan melaju dengan ngebut, menyapu debu-debu jalan dan meninggalkan jejak ban mobilnya, bahkan suara knalpotnya yang berisik sejagat jalan raya itu memecahkan pendengaran sih pemakai jalan. Huh,,, rame bener deh!!!

Jenotz Jenotz Jenotz

(Malam ini malam jum'at, di rumah Farhan....)


Ting....

Tong....

Ting.....

Tong.....

Bel rumah Farhan berbunyi berkali-kali, tapi tak ada jawaban sedikit pun dari dalam rumahnya. Tampaknya sepi dan tak ada penghuninya, Vio celingukan memandang ke sekitar rumah yang lumayan besar yang ditumbuhi dengan bunga-bunga melati yang wangi tercium di hidung Vio.

“Dik, koq tumben banget ya, sih Farhan nggak membukakan pintu untuk kita?” Bisik Vio pelan pada Dika yang berdiri di depan pintu rumah Farhan.

“Lagi ke kamar mandi kali?” Jawabnya menduga, lalu ia celingukan ke dalam rumah Farhan melalui tembusan hordeng jendela kacanya yang transparan. Barangkali saja Farhan tertidur di depan ruang TV.

“Tapinya...???” Ucap Dika terputus.

“Tapinya..... Tapinya apa, Ka?” Tanya Vio penasaran.

“Tv nya hidup, TAPE dikamarnya pun berbunyi.” Jawabnya menyelidik ke dalam rumah dengan menerawang.

“Telepon dong?” Lanjut Vio yang nggak mau menunggu lama. Lalu Dika merogoh-rogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya dan ia segera mengaktifkan tombol kunci Hpnya, lalu ia menekan tombol yes untuk memanggil nomer Farhan yang sudah tertera di panggilan keluarnya. Lama Dika menunggu jawaban, Farhan tak menjawab teleponnya. Lagi-lagi Dika meneleponnya kembali.

“DOOORRRRR!!!!!!!!!” Tiba-tiba saja Farhan datang dari belakang mereka dan menepuk pundak Vio dengan kencang sekali sehingga Vio terkaget. Hati Vio berdetak cepat tak karuan dan ia merasa seperti gemuruh menghantamnya.

“Setan dateng bawa nomer!!!!!!!!!!” Spontan Vio mengucapkan kata-kata diluar kalimatnya.

“WOY!!!!! Nomer berapa yang keluar nanti malam? Hehehe.....” Lanjut Farhan tertawa meringis, ia melontarkan pertanyaan pada Vio sambil menjulurkan lidahnya keluar, meledek.

“Yang begini nih,,, yang merusak citra bangsa.” Celetuk Dika kesal.

“Kok merusak citra bangsa?” Tanya Farhan tak mengerti.

“Bodoh banget sih lo, makanya di Rumah Sakit banyak Orang-orang di Ruang ICU karena jantungan. Ternyata otak sialannya ada disini!!!” Tindih Dika mengernyitkan keningnya, menatap Farhan geram.

“Lah koq, gwe?!!!” Kernyit kening Farhan dalam sembari menunjuk dirinya.

“Udah dong, ribut saja nih,, lebih baik juga kita masuk ke dalam. Dingin nih diluar. RRRRRRR...........” Lanjut Vio kemudian menggidik.

“Gwe maafin kesalahan lo.” Tambah Vio berkata, Farhan manatap wajahnya lalu ia membukakan pintu dan mereka masuk ke dalam rumah.

Jenotz Jenotz Jenotz

“Gimana menurut kalian berdua, kalo liburan kita kali ini ke pantai?” Tanya Dika saat mereka berada di ruang santai, mereka duduk di depan Tv.

“Bosen kalo ke pantai lagi.” Sahut Vio merebahkan tubuhnya dikasur kecil.

“So,,, menurut lo enaknya kita kemana, Dik?” Tanya Farhan menekukkan kaki kanannya.

“Gimana kalo kita pergi ke................” Sungut Vio dengan kalimatnya yang terputus.

“Ke Tasik?” Lanjut Dika meneruskan kalimat Vio. Farhan menatapnya sinis.

“Tasik? Mau ngapain lo disana???” Sungut Vio yang bangkit dari rebahannya.

“Berlibur dong!!! Kebetulan juga gwe mau nengokin Nenek gwe disana.” Jawab Dika kemudian melemparkan senyum nakalnya.

“Ceritanya.... Ada unsur kangen-kangenan nih?” Celetuk Vio yang kemudian tengkurep sambil membaca komik Shinchan.

“Begitulah sekiranya.” Jawabnya.

“Gwe sih setuju saja, tapi, bagaimana dengan yang lainnya?” Sahut Farhan menyerah.

“Gwe yakin dengan pasti kalo yang lainnya asyik-asyik aja kaleeeee.......” Timpal Vio spontan.

“Baiklah kalo gitu, setelah classmeeting ini kita memiliki 2 minggu liburan sekolah dan kita bisa merasakan liburan kali ini yang sangat menyerukan bersama-sama.” Setelah Farhan mengakhiri keputusannya itu, lalu mereka melanjutkan perbincangan mereka diruang makan untuk menikmati menu ganjelan perut yang sudah disiapkan oleh pembantunya Farhan.

Malam itu jam menunjukan pukul 10 lewat 20 menit, suasana malah tambah ramai karena suara Dika dan Farhan yang terus saja bersahut-sahutan silih berganti. Vio menikmati menu makan malam itu dengan ikan goreng dan sambal terasi, tampaknya lahap sekali ia menyantap makanan itu. Setelah mereka menikmati makan malam bersama, mereka berlalu menuju ruang keluarga.

“Berapa lama kita di Tasik, Ka?” Tanya Vio di ruang keluarga saat ia terduduk.

“Seminggu. Maybe?” Jawab Dika mengira-ngira.

“Kurang deh!!!” Kilah Farhan menaikan alis kanannya.

“Terus?” Tanya Dika ingin tahu.

“2 minggu, gimana?” Tawar Farhan memohon.

“Jangan mepet banget dong, kita saja dapet libur selama 2 minggu, masa sih harus dihabiskan 2 minggu untuk liburan? Emangnya kita nggak mempersiapkan daftar ulang buat sekolah?” Sahut Dika setelah menenggak segelas air putih.

“Gimana kalo 9 hari?” Tawar Vio menengahkan perdebatan itu. Lalu Dika dan Farhan menoleh kearahnya dan menatap Vio aneh. Suasana pun jadi hening setelah Vio mengucapkan banyaknya hari untuk menghabiskan waktu liburan mereka nanti. Saat keheningan datang di antara mereka, ada sesuatu yang menganehkan terjadi disana. Tiba-tiba saja,,, TAPE dikamar Farhan suaranya berubah menjadi kusut, suara penyanyinya sember seperti kestrum aliran listrik, nada suara mulai melengking. Mereka bertiga saling menatap ketakutan. Mulut Vio terus berkomat-kamit, tatapan Farhan tajam sekali, jantung mereka berdetak cepat.

“Farhan...” Panggil Vio pelan, gemetar.

“Mas Farhan, kabel kasetnya putus.” Kemudian terdengar suara pembantuya Farhan yang tiba dari dapur dan mengagetkan mereka bertiga.

“Huhhh........” Dengus Dika panjang.

“Aduh sih Mbak, ngagetin saja!!!” Celetuk Vio pada pembantu Farhan yang masih terlihat muda. Cewek muda yang rambutnya dikuntel-kuntel dengan ikat rambut itu, menghampiri Farhan dengan wajah menegangkan sekali. Lalu ia menatap Vio geram seperti ingin menerkamnya.

“Ya, terima kasih Mbak.” Sahut Farhan kemudian pada pembantunya itu, lalu pembantunya pergi meninggalkan mereka.

“Han, pembantu lo jutek banget sih... Nggak kayak pembantu lama lo. Bulu kuduk gwe pada bangun semuanya saat pembantu lo datang kesini. Hiks......” Ujar Vio menggidik, ia merinding disko saat menatap langkah cewek muda itu menuju ruang dapur.

“Perasaan lo aja kaleee........” Balas Farhan menyunggingkan senyum tipisnya lalu ia merubah duduknya.

“Idih, najis banget sama pembantu lo itu......” Celetuk Vio saat langkah sih pembantu itu menghilang. Setelah Vio kembali berbicara dengan Dika dan Farhan kembali, tiba-tiba saja pembantu itu mengintai mereka bertiga dari balik tembok dapur. Tatapan sorot matanya benar-benar menyeramkan sekali, seperti seekor burung elang.

“Makanya neng, jangan selalu berpikiran buruk sama Orang ataupun mengenai hantu, ini nih akhirnya jadi korban ketakutan.” Lalu Farhan menggebrak meja makan, sontak Dika dan Vio terkaget.

“Jangan kaget dong, manis..... Sampai nggak bisa nafas gitu?” Lanjut Farhan meledek Vio, ia memegang dagu Vio yang meruncing.

“Sialan lo!!!!!” Serang Vio menggebuk tangan Farhan. Lalu Farhan meninggalkan mereka untuk mengecek kamarnya. Mata Vio mengelilingi isi yang ada di dalam rumah Farhan, lampu penerangan di ruang tamu memang terlihat gelap sekali, Farhan bilang kalo dia mau hemat listrik gitu, maklumlah Ortunya ada di kampung. Jadi, ia harus sebisa mungkin untuk menjaga-jaga uang pemberian dari Ortunya sebaik mungkin. Lalu Vio melanjutkan cerita-ceritanya dengan Dika mengenai liburan sekolahnya nanti. 10 menit kemudian....

“TOLONG.......................................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Terdengar suara teriakan dari dalam kamar Farhan.

“Vio?” Dika menatap Vio tajam saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar Farhan.

“Far..... Farhan............!!!!!!!!!!!!!” Teriak Vio kemudian saat menatap pintu kamar Farhan.

“Ayo Vio,” Ajak Dika meraih tangan Vio, lalu mereka mempercepat langkah mereka menuju kamar Farhan.

“Tolong........... Tolong............... Tol...............” Farhan mencoba menipu kedua temannya yang sedang cemas itu. Rupanya Farhan hanya ingin bersandiwara saja.

“Dasar culas!!!” Maki Vio setelah tahu kalo Farhan sedang berakting.

“Yahhh... Ketahuan dong akting gwe?” Sahut Farhan polos, merasa tak bersalah. Ia cengengesan memandangi kedua temannya itu.

“Dasar kodok blentung lo!!!!!!!” Timpal Vio melempar bantal ke muka Farhan.

“Nggak lucu lo!!! Gwe sama Vio mencemaskan lo juga, kita berdua takut banget kalo elo kenapa-napa, ehh,,, sih penyu malah sok berakting segala.” Tambah Dika kesal, gondok lalu merauk muka Farhan.

“Hehehehe........ Maaf deh,,, maaf.....” Mohon Farhan pada mereka berdua.

“Iye, gwe maafin lo, tapinya terpaksa.” Sahut Vio, ketus.

“Sekalian nih Far, gwe mau izin pamitan pulang. Kasihan sih Vio nanti dicariin sama Ortunya lagi?” Lanjut Dika kemudian dan menatap wajah Vio.

“Baiklah kalo gitu, sampai bertemu besok lagi di sarang kita. Gwe udah nggak sabar nih mau cepat-cepat liburan. Gwe mau menjernihkan otak gwe yang selama ini pusing dengan semua rumus-rumus Kimia, Biology, Fisika dan hitung-hitungan Mathematika.” Lanjut Farhan kemudian menepuk keningnya dengan punggung tangannya, lalu mereka berjalan meninggalkan kamar menuju pintu depan rumah.

Di depan pekarangan rumah, Dika menepuk pundak Farhan dan berjalan menghampiri motornya, sementara Vio sedang memakai helm lalu merapihkan rambutnya yang dimasukan kedalam helmnya.

“Duduwww Farhan..............!!!!!!!!!” Teriak Vio saat Dika menghidupkan motornya dan ia terduduk manis dijok belakang.

“Titi Kamal ya...... Hati-hati kalo pulang malam........” Teriak Farhan melambaikan tangannya. Kemudian Dika dan Vio berlalu dari pandangannya.

“Mereka berdua ternyata bodoh juga, gwe bohongin dengan akting gwe percaya gitu saja. Wah,,, kalo gwe ikut audisi akting buat perfilman di entertaiment, pasti gwe lolos deh? Buktinya aja tadi, gwe udah membuat 2 Orang kena tipu dengan akting gwe. Padahal kan.... Mereka itu teman gwe sendiri. Hihihihi.........” Oceh Farhan yang masih berdiri memandang kedua temannya yang telah berlalu. Farhan tertawa lepas mengingat kejadian barusan yang terjadi di dalam kamarnya.

“Dodol,,, Dodol,,,,,” Tambahnya lagi menghentakan tangan kanannya. Kedua temannya menghilang dari pandangan Farhan, kemudian Farhan memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah.

“Kresek, Kresek.......” Tiba-tiba saja terdengar suara aneh dari sampingnya di dekat tong sampah.

“Aduh,,, bikin kaget saja tuh tikus sialan!!!” Ucap Farhan mengamati kantong plastik besar di tong sampah, tiba-tiba saja seekor tikus memunculkan dirinya dan bersembunyi lagi di dalam tong sampah.

“Untung saja hanya seekor tikus!!!” Celetuknya mengurut dada.

“SSSRRRRTTTTT!!!!!!!!!!!!!!” Setelah seekor tikus kembali bersembunyi, terdengar ada suara aneh yang tertangkap oleh pendengarannya, Farhan langsung menoleh ke kiri, matanya terbeliak menatap ke sekitar.

“Hey, siapa disana?!!!” Tanya Farhan yang gugup, ia memandangi pohon besar yang sudah puluhan tahun berdiri dengan kokoh di samping rumahnya, kurang lebih 150 meter dari pandangannya ada pohon yang cukup tinggi dan lebat daunnya, pohon itu berada di dekat tiang listrik diluar rumahnya. Pohon itu cukup terkenal ankernya bagi saksi mata yang sudah terkena korban pohon anker itu.

“Wah, dia ngeledek gwe rupanya,” Lanjut Farhan yang masih mengamati pohon besar itu. Ia tampak sok berani sekali segala bertolak pinggang menghadap ke pohon.

“Kalo berani, maju lo sini!!! Jangan beraninya ngumpet dibalik dedaunan yang menutupi diri lo. Dasar pengecut!!!” Teriaknya dikeheningan malam, Farhan sok menantang penghuni pohon itu yang dianggap sepele dan tabuh untuk diperlihatkan sih penghuni pohon itu didepan matanya. Lama Farhan menatap pohon besar itu, tak ada sama sekali tanda-tanda keanehan. Farhan menghembuskan nafas panjangnya lalu bertolak pinggang, terdengar suara debaran jantungnya yang kian menyayat dirinya. Selang beberapa menit kemudian, terjadi keanehan yang membuat nyalinya menciut, Farhan menggigil gemas. Hembusan angin malam yang menusuk tulang-belulangnya, suara gong-gongan anjing yang menyantar merobek gendang telinga Farhan serta dedaunan yang menari-nari tertepa oleh angin menampar wajahnya, suasana seperti itu membangunkan semua bulu kuduk Farhan, ia menggidik.

“Hihhh.....” Serasa ada sentuhan mistis yang dirasakan olehnya.

“Hey, koq diam saja???!!!!” Teriak Farhan menantang sok memberanikan diri, tapi tak ada sahutan apapun. Hening.

“Dari pada kelamaan gwe nunggu makhluk iseng yang nggak jelas asal-usulnya, lebih baik gwe masuk ke dalam deh.....” Ocehnya masih menatap pohon besar itu. Farhan hendak berjalan meninggalkan titik pijaknya.

“Aku datang dihadapan mu.” Ucap seseorang saat Farhan memutar tubuhnya. Sosok perempuan yang menyeramkan itu tiba percis di depan wajah Farhan.

“Hah???” Sontak Farhan terkejut melihat sosok perempuan dengan wajah yang pucat, rambut acak-acakan, lingkaran matanya pun sangat hitam sekali. Sosok perempuan itu menggunakan payung dan baju serba warna merah, ia menggoyang-goyangkan payung itu sembari tersenyum-senyum pada Farhan.

“Mamamia ceker ayam..........” Ucap Farhan ngasal. Matanya terbeliak dan melotot menatap dedemit itu.

“Aku yang telah mengganggu mu, cah ganteng. Hihihihihi...........” Ujar sih hantu baju merah itu padanya, kemudian ia tertawa cekikikan menyiutkan nyali Farhan.

“H-Ha.....H-Han..... Hantu...........” Teriak Farhan kencang sekali, ia kaku dengan wajah terlihat idiot, seluruh tubuhnya menggigil, meriang. Kemudian ia terjatuh pingsan dan terkapar di depan pintu rumahnya.


Jenotz Jenotz Jenotz

“Suit... Suit... Suit....” Pagi datang menyapa dengan seberkas cahaya mentari yang memberikan kehidupan pada sang surya, embun pagi masih menyelimuti alam ini. Suasana ramai pun tercipta di Sekolah tempat Deora, Dika, Farhan, Riko dan Viona menuntut ilmu. Keramaian itu sudah menjadi ciri khas di sekolah manapun, tapi tak kalah hebohnya pagi ini di kelas III IPA1 yang terkenal anak-anak pintarnya, tapi mereka juga terkadang gaduh. Pagi itu mereka sedang berkumpul di bangku pojok tempat Farhan dan Riko terduduk. Farhan memulai ceritanya yang telah terjadi semalem setelah Dika dan Vio kembali dari rumahnya, ia menceritakan panjang lebar pada teman-temannya dengan suatu kejadian yang dialaminya. Selang beberapa menit berlalu, setelah Farhan menghabiskan cerita buruknya pada teman-temannya.....

“Makanya Han, kalo jadi Orang tuh jangan sok belagu. Gara-gara lo juga kan, semalem elo ngerjain gwe sama Vio, akhirnya... Elo kena juga deh!!!!!” Ujar Dika menimpali ucapan Farhan sembari menepuk pundaknya.

“Senjata makan tuan tuh!!!!!!!!!” Celetuk Vio meringis.

“Berarti... Benar kan dengan mimpi gwe yang akhir-akhir ini datang dalam tidur gwe?” Sahut Deo menimbrung di antara mereka-mereka, kemudian ia menatap teman-temannya dengan ekspresi sok meyakinkan mereka.

“Maksud lo, apa lagi nih?” Tanya Vio tak mengerti, ia menatap kearah Deo

“Vi, seperti yang gwe ceritakan kemarin sama lo, kalo gwe bermimpi tentang kita berlima yang dalam keadaan bahaya. Kayaknya udah dimulai deh?” Ucap Deo mereview mimpi buruknya.

“Ssstttt!!!!!!! Gwe muak mendengar semua ucapan basi lo yang nggak masuk diakal itu, De.” Protes Riko menatapnya geram.

“T-Tapi, sayang,,, mimpi gwe itu benar adanya koq.” Gugat Deo memastikan ucapannya pada Riko, mimiknya sangat sedih sekali karena Riko tega berkata begitu padanya.

“Sudahlah, tandanya itu,,, elo sama Farhan harus banyak-banyak berdoa memohon perlindungan sama Allah S.W.T. Supaya elo dan Farhan ataupun kita berlima dilindungi oleh-Nya. Sekarang tutup cerita tentang hantu dan mimpi-mimpi yang konyol lo karena sebentar lagi guru kimia akan masuk ke kelas.” Lanjut Riko yang tak mempercayai mimpi-mimpi Deo, ia malah menasehatinya seperti seorang ustadz yang sedang berkotbah. Mereka saling menatap satu sama lainnya, hanya saja sikap Farhan kali ini berbeda sekali. Biasanya dia yang paling rame dikelas, kini drastis berubah 180 derajat. Farhan bisanya hanya bengong saja dikelas, ia termangu dengan ceritanya semalem meskipun Bu Selvi sudah berkali-kali mengulas semua pelajaran-pelajaran kimia yang sudah berlalu dan kini diulas kembali. Pikiran Farhan tetap dengan kejadian semalem akan kehadiran sosok hantu perempuan yang datang memakai baju dan payung warna merah yang hadir dihadapannya. Tapi, apalah daya Farhan yang tak mampu menguatkan ingatannya mengenai penampakan hantu perempuan yang menyeramkan itu, akhirnya Farhan melanjutkan kegiatannya untuk mendengarkan Bu Selvi yang sedang mengulang pelajaran kimia.

“Apakah benar, hantu yang semalem menampakan dirinya adalah hantu penjaga pohon anker itu?” Tanya Farhan pada dirinya, tatapannya kosong dan tak bersemangat, ia terdiam lemas. Farhan menempelkan rahang pipi kanannya diatas meja belajar kelas sembari mengingat semua akan apa yang telah dialaminya semalem.


Jenotz Jenotz Jenotz



Bel istirahat berbunyi 3 kali, semua murid bersorak keriangan, kegaduhan datang kembali mengisi kekosongan waktu disetiap kelas-kelasnya. Tapi, setelah ruang kelas tampak sepi, ada keanehan yang terjadi di antara mereka berlima karena dari jam pelajaran terakhir sampai bel pulang berbunyi, Riko tak menampakan dirinya di depan rubik, teman-temannya hanya berfikir positif kalo Riko pasti langsung cabut ke kantin depan.

“Ka, tolong bawain tasnya Riko dong?!!!” Ucap Deo pada Dika saat Dika melintasinya.

“Beres Non!” Balasnya lalu Dika meraih tas milik Riko, kemudian ia berlari meninggalkannya.

“Vio?” Panggil Deo saat menoleh ke samping, tapi tak didapati olehnya wajah Vio.

“Vi, Vi.... Wuikhhh,,,, kemana sih Vio? Padahal tadi, gwe masih curhat dengannya. Koq cepet banget dia menghilang?” Gumam Deo menatap seisi kelas yang telah kosong dan hanya dirinya disana seorang diri yang sedang merapihkan buku-buku pelajarannya.

“Deo!!! Ayo buru!!!” Tiba-tiba saja Farhan muncul menongolkan dirinya di ambang pintu kelas. Farhan memanggilnya untuk mengajaknya segera berlalu.

“Han, Han,,, tunggu sebentar!!!!!!!” Teriak Deo lalu ia berlari meninggalkan kelas dan menemui Farhan diluar. Suara teriakannya terdengar nyaris hingga memantul ke dinding kelas yang kosong.

“Yang lain kemana?” Tanya Deo diluar kelas, gugup.

“Udah nunggu lo di kantin kaleeee........” Jawabnya sengol.

“Tapi koq?”” Bingungnya dan menatap kembali kelasnya yang sepi, mungkin saja Vio bersembunyi dikolong mejanya.

“Udah sih, nggak usah kebanyakan mikir gitu dari pada nanti lo di bilang aneh lagi sama teman-teman.” Tambah Farhan kemudian, menyunggingkan senyum tipisnya. Deo masih celingukan, matanya menyapu seisi kelas.

“Iya, iya, iya,” Balas Deo segera, tanpa fikir-fikir lagi Farhan segera meraih tangan Deo dan menyeretnya. Lalu mereka melangkahkan kaki menuju kantin depan meskipun kejanggalan sedang merajai hati mereka berdua.

Jenotz Jenotz Jenotz

“Vio, sebenarnya lo tahu nggak sih, dimana Riko sekarang?” Tanya Dika penasaran saat berada di kantin.

“Jangan kan elo yang bertanya mengenai dirinya, gwe juga nggak tahu mengetahui tentang keberadaan dia, Ka. Terakhir yang gwe tahu, dia itu pergi ke kamar mandi sebelum bel pulang sekolah.” Jawab Vio celingukan keluar jalan.

“Hai kalian berdua, kalian lihat Riko di kelas?” Lanjut Dika bertanya pada Deo dan Farhan yang baru saja menampakkan wajah mereka di ambang pintu kantin, lalu mereka masuk ke dalam kantin sederhana itu.

“Nggak lihat!” Jawab mereka serempak, menggeleng.

“Kemana yah.....???” Batin Vio bertanya dalam hati.

“Vi, udah sejam lebih Riko menghilang, masa sih di antara kita nggak ada yang tahu dimana dia?” Sahut Dika bertanya saat ia memperhatikan jam dinding di kantin yang terus saja detik-detiknya berlari mengejar 12 angkanya.

“Gwe juga udah cari-cari ke kantin sebelah dan sebelahnya lagi, tapi Riko memang nggak ada disana, Dik.” Jawab Vio singkat.

“Deo, elo tahu kemana cowok lo menghilang?” Tanya Dika pada Deo.

“I dont know,” Jawabnya enteng dengan menaikan kedua pundaknya. Dika mengernyitkan keningnya.

“Ya udah, sekarang kita cari Riko bersama-sama, barangkali saja Riko masih di kamar kecil?” Lanjut Farhan menengahkan kebingungan mereka.

“Okey,” Jawab Dika menyunggingkan senyum tipisnya.

“Nah gitu dong, ini baru namanya sahabat.....” Sungut Deo merangkul Vio, mereka saling menatap dan tersenyum riang. Tak lama kemudian,,, mereka segera berlalu dari kantin menuju kamar kecil sekolah khusus murid-murid lelaki.

Jenotz Jenotz Jenotz

Di dalam kamar kecil cowok yang tampaknya terlihat sepi sekali, biasanya siang ini kamar kecil sudah dipadati oleh murid-murid anak siang, tapi kali ini terlihat sepi sekali. Dan kebetulan sekali mereka-mereka belum mengepung kamar kecil cowok. Jadi Deo dan Vio bisa leluasa masuk ke dalam kamar kecil itu tanpa keraguan. Mereka berempat memanggil-manggil nama Riko berkali-kali, tapi nggak ada suara sedikitpun dari Riko ataupun sahutan dari dalam kamar kecil. Mereka saling menatap curiga di dalam ruangan itu.

“Hai semuanya, mungkin Riko di kamar kecil ujung itu?” Panggil Deo pada teman-temannya saat melihat satu pintu kamar kecil tertutup rapat.

“Yakin lo, De?” Tanya Farhan kemudian, menyelidik dari kejauhan matanya.Deo hanya manggut-manggut saja meyakinkan ucapannya.

“Riko,,,, Riko,,,,,,?!!!” Panggil Deo dengan suara menggaung, ia berjalan lambat sekali dengan wajah yang cemas dan tegang menatap pintu kamar kecil ujung. Lalu diikuti langkah Farhan dari belakangnya, tertatih-tatih.

“Riko?!!!!” Sekali lagi Deo memanggilnya, kini suaranya terdengar keras. Namun tak ada jawaban dari dalam toilet paling ujung itu. Kebimbangan dan ketakutan datang menghantui Deo, wajahnya semakin pucat, namun langkahnya sudah mendekati toilet ujung itu.

“BRAK!!!!!!!” Dengan cepatnya seperti kilat, Farhan mendobrak pintu itu dengan tendangan yang keras karena ada celah dari pintunya yang sedikit terbuka. Sontak Deo terkejut saat melihat Riko tanpa baju seragam dan terduduk di toilet dengan tertidur, mulutnya mengeluarkan busa.

“Riko.....................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Deo histeris, Deo langsung menangis tersedu-sedu melihat cowoknya dengan posisi yang menyeramkan tanpa baju seragam sekolah dan mulutnya terbuka, berbusa. Deo segera menghampirinya.

“Dika, tolong gwe cepet!!!” Seru Farhan memanggil Dika yang masih berdiri jauh darinya. Kemudian Vio dan Dika segera bergegas menghampiri mereka ke toilet ujung. Deo masih tampak shock dengan apa yang dilihatnya, ia terdiam membisu dan mulutnya terus bergumam. Beberapa lelehan air mata terus menggenangi kedua pipinya yang sembab.

“Hentikan tangisan elo, De!!! Jangan sampai yang lain mendengarnya.” Ujar Vio pada Deo saat Vio tiba didekatnya. Teguran suara Vio terdengar kasar karena suara tangisan Deo itu sangat membuat berisik keadaan.

“De, Deo,,, berhenti dong nangisnya, cowok lo hanya pingsan saja kaleeeee........ Lagi juga dia masih bernafas koq.” Ucap Dika pelan menatap wajah Deo yang sembab. Perlahan-lahan Deo berhenti menangis meskipun nafasnya tersendat-sendat.

“Elo kenapa bisa begini, Ko?” Sungut Deo sedih meratapi wajah Riko yang benar-benar dalam keadaan meresahkan pikirannya.

“Pasti semua ini ada kaitannya dengan mimpi-mimpi gwe?” Batin Deo dalam hati dan melirik kearah Vio. Vio merasa kedua pasang mata Deo yang memanjang itu sedang memperhatikannya sedari tadi. Lalu Vio menatapnya, aneh.

“De, Deo?!!!” Panggil Vio kemudian dengan suara yang lembut, Deo tak menjawabnya, ia masih bersedih. Kasihan sekali ya Deo, sih Riko mengalami kisah yang menyeramkan itu di dalam toilet.

“Deo?!!!” Panggil Vio sekali lagi dengan menepuk pundaknya.

“Ada apa?” Jawabnya berbalik tanya.

“Lo kenapa sih? Nggak baik tahu kalo kebanyakan bengong.” Ujar Vio, mendesaknya.

“Gwe yakin banget, Vi, kalo semua ini ada sangkut-pautnya dengan mimpi gwe.” Jawabnya lirih dengan wajah yang teramat pucat. Tangannya gemetar, kaku, dingin dan matanya berbinar-binar.

“Semua itu nggak bener, De. Mimpi hanyalah mimpi, mimpi itu kembang tidur setiap Orang dan kejadian ini nggak bisa disangkut-pautkan dengan mimpi lo itu.” Bantahnya mengelak.

“T-Tapi Vi?!!!” Protesnya.

“Sudahlah De, lupakan semua tentang cerita dalam mimpi lo itu.” Kilah Vio kemudian memalingkan wajahnya. Dan dengan segera mereka mengangkat Riko dari dalam toilet dan membawanya untuk segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Deo sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu, lalu Deo menutupi tubuh Riko dengan jaket milik Riko yang diambilnya dari dalam tas sekolah. Perlahan-lahan mereka memapah Riko dengan hati-hati sampai keparkiran sekolah, mereka tak ingin beberapa mata menyorot mereka karena tubuh Riko sangat tak berdaya. Langkah mereka tertatih-tatih karena menyeimbangi dengan langkah Riko yang kaku saat mereka memapahnya sembari berjalan pelan-pelan menuju parkiran sekolah, Farhan segera membuka pintu mobil belakangnya. Kemudian Riko didudukan dijok belakang bersama Deo dan Vio. Beberapa menit kemudian...

“Dika?” Panggil Vio melongok dari dalam mobil saat kaca jendela terbuka lebar.

“Kalian berangkat saja duluan ke Rumah Sakit, gwe segera menyusul.” Balas Dika kemudian.

“Elo mau ngapain lagi, Dik?” Tanya Deo penasaran.

“Seinget gwe, Hpnya Riko nggak ada di dalam tas ataupun celananya, gwe yakin Hpnya terjatuh di kamar mandi, sekaligus gwe mau mencari seragamnya. Lagi juga, gwe ada pertemuan sama anak-anak basket di aula jam 3 nanti, sebentar koq. Setelah gwe membereskan semua masalah gwe sama team anak basket, gwe langsung ke Rumah Sakit menemui kalian.” Jawabnya tergesa-gesa.

“Hati-hati ya, Dik. Nanti gwe kabarin lagi by sms.” Sahut Farhan kemudian, Dika manggut-manggut saja menyetujui ucapannya. Tak lama kemudian, Farhan menancap gas dan melaju meninggalkan halaman sekolah.


Jenotz Jenotz Jenotz

3 Jam berlalu sudah, pertemuan Dika dengan anak-anak basket di tengah lapangan telah berakhir. Mata Dika sedari tadi memperhatikan kamar kecil cowok, syukurnya belum ada salah satu murid yang berkunjung ke kamar kecil itu. Dika menarik nafas lega karena ia berharap semoga saja nggak ada yang memasuki kamar kecil itu sebelum ia mengecek seragam dan ponsel milik Riko yang masih tertinggal di dalamnya. Semua anak-anak basket berpencar dari formasi di tengah lapangan upacara. Setelah brifing selesai dari ketua team basket, mereka-mereka segera menghampiri ketua team basket di dekat musholla yang berada dimuka sekolah. Cukup lama mereka berbincang-bincang untuk membahas masalah lomba antar sekolah, akhirnya sore datang menjemput Dika dan teman-temannya. Beberapa mata menyorot wajah Dika yang terlihat pucat, Dika terlihat lelah sekali. Teman-temannya memutuskan untuk segera kembali pulang, sementara Dika melanjutkan niatnya untuk mencari ponsel milik Riko dan seragam sekolahnya yang mungkin saja tertinggal di dalam toilet cowok. Berkali-kali ia memiscalled nomer Riko selalu saja operator yang menjawab. Dika mulai terlihat lelah.

Jam menunjukkan pukul 5 lewat 15 menit. Sewaktu Dika berkumpul dengan anak-anak basket, hatinya memang sudah resah dan selalu saja memikirkan Riko dan kejadiaan yang menimpa temannya itu di toilet. Dika melihat ke sekitar halaman sekolah, semua terlihat sudah sepi sekali. Hening. Bahkan anak-anak siang sudah dipulangkan lebih awal karena semua guru-guru sedang sibuk mengurusi rapor murid-muridnya. Dika berlari menuju toilet untuk mempercepat waktu.

“Semua ini memang aneh sekali.” Batin Dika saat ia ber.henti di dekat kamar kecil cowok.

“Setahu gwe,,, Riko nggak punya musuh ataupun Orang yang membencinya di Sekolah ini. Kenapa bisa dia di dalam kamar mandi nggak menggunakan baju seragam sekolah dan mulunya berbusa pula?!!!” Gumamnya dalam hati, lalu Dika memasuki kamar kecil cowok. Langkahnya terhenti saat Dika melihat ada baju seragam yang tergeletak di lantai kamar kecil dekat wastafel. Perasaan Dika mulai kalut, mulutnya berkomat-kamit seperti mbah dukun yang sedang membaca mantra. Padahal sewaktu tadi dia menemukan Riko, ta ada seragam yang tergeletak di lantai kamar mandi.

“Seragam? Apakah benar seragam itu milik Riko??? Kalo benar, kenapa bisa berada di dekat wastafel??? Aneh,” Borong Dika bertanya penasaran, Dika masih memperhatikan seragam itu yang terlihat kotor dan dekil. Lalu ia berjalan menghampiri seragam putih itu.

“Ya, benar bangeeeet,,,,, seragam ini milik Riko.” Ucapnya saat meraih seragam itu karena ia melihat dari dalam saku baju itu ada Hp milik Riko.

“Ya, ini benar seragam milik Riko.” Senyum Dika lebar setelah menemukan baju seragam temannya. Dika merogoh-rogoh saku bajunya dan ia menemukan beberapa lembar uang 5000 Rupiah, 10,000 Rupiah dan selembar uang 50,000 Rupiah.

“Banyak juga jajannya tuh bocah? Ambil ahh.....” Celetuk Dika saat ia melihat beberapa lembar uang jajan milik Riko disaku seragamnya. Dika masih merogoh-rogoh kembali sakunya, barangkali saja masih ada uang yang tertinggal di dalamnya.

“Wah,,,, kertas apa ini?!!!” Tanya Dika saat mendapatkan sebuah kertas putih dari kantong seragam milik Riko, lalu ia membuka lipatan kertas itu.

Cinta adalah Anugerah...

Mimpi, Khayalan, Kisah, Perasaan, keinginan, terus mengalir

menjadi satu...

Hembusan angin yang terasa selalu menyejukan jiwa

Seperti embun di pagi hari yang senantiasa memayungi alam ini.

Keangkuhan akan berlalu saat cinta hadir memberikan kehangatan dalam hati.

Sentuhan lembut yang membakar gejolak di dalam dada akan memusnahkan semua masa yang telah usang dengan goresan sedih dan juga luka yang terhakimi.

Semua Orang memuji cinta

Karena tiada yang bisa mematikan cinta,

Selain kehendak Tuhan semata......

Tapi, bila dendam yang meraja, dia akan datang kembali

untuk membalasnya.

Jangan lari dari kenyataan

saat cinta hadir kembali,

Cinta...... Selalu ada meskipun sampai mati...

Tulisan itu didapatkan dari saku seragam Riko, Dika membacanya dengan seksama dan meneliti kembali apa maksud dari sepenggal syair itu??? Dan dari siapa syair itu ditulis? Namun sayang sekali tak ada nama penulisnya.

“Semenjak kapan sih Riko menemukan seorang cewek yang sok romantis dengan mengukir kata-katanya lewat kertas putih ini? Ketahuan sama Deo, bisa koid tuh anak!!!” Ujar Dika, ia bingung memandangi tulisan itu sembari menggaruk-garuk kepalanya.

“Atau mungkin ada cewek yang ngefans dengannya?!!!” Tambahnya lagi menduga.

“HUSSSSSS.............!!!!!!!!!!” Tiba-tiba saja terdengar suara hembusan angin yang melintas dibelakang tubuhnya, Dika segera menoleh.

“BRAK!!!!!!!” Ditambah lagi bunyi suara pintu kamar mandi tengah yang tertutup secara tiba-tiba seperti ada yang menutupnya dengan marah.

“Hallo,,,,,,,, siapa disana???” Tanya Dika untuk membuang rasa takutnya dan menatap pintu kamar kecil tengah. Ia menatap pintu itu dengan sorot mata tajam, ia penasaran sekali dengan toilet di tengah.

“Halllllloooooooo............???!!!!!” Tanyanya lagi berteriak hingga suara Dika menggema.

“BRAKKKKK!!!!!!!!!!!” Lagi-lagi terdengar suara pintu tertutup kencang. Kali ini pintu kamar mandi ujung yang tertutup. Ketegangan menyelimuti hati Dika, kecemasan merajai pikirannya, sementara adzan maghrib sebentar lagi akan berkumandang. Dari kejauhan mata Dika, tampak seorang perempuan yang sedang berdiri ditutupi dengan rambut panjangnya yang keluar dari toilet paling ujung.

“Hah?!!!” Sontak Dika terpental dari titik pijaknya karena kaget melihat sosok yang menyeramkan itu keluar dari toilet ujung. Semakin lama sosok perempuan yang wajahnya tak terlihat, semakin mendekat dengannya. Dika berupaya dengan sekuat tenaga untuk melarikan diri. Alangkah terkejutnya Dika saat ia ingin keluar dari kamar kecil cowok, tiba-tiba saja pintu kamar kecilnya tertutup rapat seperti terkunci.

“Tolong....... Tolong....... Tolong.........” Dika mencoba berteriak sekuat tenaga untuk meminta pertolongan. Tangannya meraih handle pintu lalu digoyang-goyangkan sekuat tenaga supaya ada keajaiban pintu itu terbuka.

“Tolong........ Tolong....... Tolong.........” Teriaknya lagi sembari menggebrak-gebrak pintu kamar kecil dari dalam, tapi tak ada satu Orang pun orang yang mendengar teriakannya. Sosok yang menyeramkan itu semakin mendekat dengannnya.

“Oh Tuhan, tolonglah aku. Tuhan......” Dika memejamkan matanya, ia memohon perlindungan Pada Yang Kuasa. Keringatnya bercucuran dan meleleh dipermukaan pipinya. Wajahnya terlihat tegang tak karuan, ia memasrahkan diri dengan sepenuhnya Pada Allah. Kemudian ia menglafazkan dua surat pendek di dalam hatinya.

Qul a'uudzu birabbil falaq

Min syarri maa khalaq

Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab

Wa min syarri naffaatsaati fil'uqad

Wa min syarri haasidiin idzaa hasad

“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan buhul-buhulnya. Dan dari kejahatan Orang yang dengki apabila ia menjalankan kedengkiannya.”

Qul a'uudzu birabin naas

Malikin naas

Ilaahin naas

Min syarril waswaasil khannas

Alladzi yuwaswisu fii shuduurin naas

Minal jinnati wan naas

“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Sembahan manusia, Dari kejahatan ( Bisikian ) setan yang biasa bersembunyi, Yang membisikkan ( Kejahatan ) ke dalam dada manusia, Dari jin dan manusia.”

Ya, dengan kedua surat pendek itulah yang mampu menolong Dika untuk mengutuk sih setan jahat. Berkali-kali Dika membaca surat pendek itu untuk menenangkan dirinya. Karena keutaman dari kedua surat diatas... Menurut Uqbah bin' Amir menerangkan, bahwa ketika dia tersesat dalam suatu perjalanan bersama Rasullulah, beliau membaca surat Al-Falaq dan surat An-Naas, maka dia pun disuruh ikut membacanya. Dan alhamdullilah mereka diberikan petunjuk pada Allah S.W.T.

“KREK!!!!!!!” Tiba-tiba saja terdengar suara bunyi pintu terbuka, Dika menatapnya melotot. Dia sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya kalo pintu kamar kecil yang dipegangnya telah terbuka. Suatu keajaiban sekali untuknya mendapatkan itu dari kuasa-Mu, Ya Allah.

“Mau kemana kau anak manusia?!!!!” Tanya sosok yang menyeramkan itu dengan mata melotot seperti ingin keluar dari kelopak matanya.

“Ja.... J-Jangan............” Teriak Dika histeris, Dika segera membuka pintu itu lebar-lebar dan akhirnya ia keluar dari dalam kamar kecil.

“BRAK!!!!!!” Kemudian Dika terjatuh karena tersandung, lalu ia mengesot-ngesot jalan mundur dengan cepatnya dari kejaran dedemit perempuan yang menyeramkan itu.

“Jangan... Jangan....” Ucap Dika padanya memohon karena sosok perempuan berambut acak-acakan itu terus mendekat dengannya, Dika berusaha bangkit tapi ia terjatuh lagi dan terjatuh lagi. Wajahnya sangat tegang. Suasana mulai gelap, sore pun akan berganti malam dan kemudian ia bangkit dengan kekuatan dan kepercayaannya lalu berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.

Matahari pun tenggelam, kejadiaan yang baru saja menimpa Dika tak ada seorang pun yang mengetahuinya, bahkan penjaga sekolah saja sangat merasa aneh dan terheran-heran melihat Dika yang sedang berlari-lari sempoyongan dengan wajah yang pucat. Sosok perempuan itu menghilang begitu saja bersamaan dengan hembusan angin setelah Dika berhasil melarikan diri dari jejak setan penasaran itu. Penjaga sekolah yang sedang menyapu halaman, ia segera menghentikan aktifitasnya. Tanpa Dika sadari, ia menabrak tong sampah di depan ruang perpustakaan.

“AUWWWW!!!!!!!!!” Teriaknya merintih, kaki kanannya kesakitan. Dika jingkrak-jingkaran menahan perihnya. Ditatapnya tong sampah itu seakan-akan ingin ditendangnya. Dika berhenti sejenak lalu bernafas panjang dengan nafasnya yang terengah-engah, tatapannya terus terarah pada kamar kecil khusus murid-murid cowok dengan sorot mata panjangnya. Pak Dirman sebagai pembersih sekolah, ia menggeleng-geleng menatap Dika yang pucat fasih. Padahal semua murid-murid sudah berlalu sedari sore tadi. Dengan cepatnya ia berjalan menghampiri Dika dilantai atas.

“Mas Dika, apa yang terjadi???” Tiba-tiba saja penjaga sekolah itu datang dan mengejutkannya, penjaga sekolah itu berdiri di antara tangga-tangga dekat kelas III IPA4. Dika menoleh seketika ke sumber suara dengan melongok. Lalu penjaga itu segera menghampiri Dika diatas.

“Hah?!!!” Nafasnya kembali terengah-engah, matanya terbeliak menatap penjaga sekolah itu, desahan demi desahan terdengar dari balik bibir Dika yang tebal. Penjaga sekolah itu menatap Dika aneh, ia memakai topi kerucut dan menenteng sapu lidih ditangan kanannya, diam-diam ia mengamati wajah Dika yang terlihat tegang.

“Mas Dika, nyebut mas. Astagfirullohalazim....” Ucap sih penjaga sekolah kemudian, menepuk pundak Dika.

“Hah, astagfirullohalazim...” Lalu Dika tersadar dari lamunannya, ia mengikuti kata-kata sih penjaga sekolah dengan nuansa rohani islam. Dika mencoba meyakinkan dirinya menatap kembali ke sekitar sekolah dengan sorot tatapan yang panjang.

“Udah sore begini, kenapa Mas Dika belum pulang?!!!” Lanjut sih penjaga bertanya. Dika menelaah wajah sih penjaga sekolah itu, takut-takut ia berubah menjadi hantu penasaran yang tadi ditemuinya di kamar mandi cowok. Ia memandangi diri sih penjaga sekolah dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Ya, dia benar-benar manusia karena kakinya menyatu dengan lantai sekolah itu. Pikiran Dika mulai tenang kembali, ia menghembuskan nafasnya panjang-panjang. Lega.

“Ng.... Ng.... Nggak kenapa-napa Pak, ada buku pelajaran yang tertinggal dikelas.” Jawabnya tak masuk diakal, kedengarannya sangat janggal sekali bagi sih penjaga sekolah. Padahal penjaga sekolah itu tahu, kalo kelasnya Dika tak searah saat Dika berlari tadi, sedangkan saja kelasnya ada di dekat Ruang Aula yang beralawanan arah. Penjaga sekolah itu tetap menyelidiknya.

“Pak Dirman, terima kasih ya, Bapak sudah menolong saya.” Celetuk Dika polos, meskipun matanya masih celingukan ke sekitar gedung sekolah. Pak Dirman hanya geleng-geleng melihat sikap Dika yang aneh itu. Kemudian Dika melanjutkan langkahnya menuruni anak-anak tangga meninggalkan Pak Dirman dengan langkah tertatih-tatih, keadaan di sekitar memang sangat sunyi sekali. Pohon sukun yang berdiri dengan kokohnya di pekarangan halaman sekolah, daun-daunnya bergoyang-goyang tertiup angin. Kemudian Pak Dirman berjalan menuju gerbang sekolah setelah Dika dan motornya menghilang dari pandangannya.

Jenotz Jenotz Jenotz

2 Hari kemudian.....

Langit tampak mendung, sepertinya akan turun hujan yang tak diundang. Malam ini Vio seorang diri dirumahnya. Kebetulan kedua Ortunya sedang keluar kota sore tadi. Vio menghabiskan waktu luangnya mendengarkan musik di dalam kamarnya, kepalanya digeleng-gelengkan karena keasyikan mendengarkan lagu-lagu made in Project POP.

Sedangkan diluar rumah, angin berhembus kencang sekali dan kebetulan jendela kamar Vio terbuka lebar, ia pun bisa merasakan semilir angin yang datang membisikan kupingnya. Jam menunjukkan pukul 8:39 PM, tiba-tiba saja mata Vio tertutup rapat dan tertidur pulas, bahkan ia lupa untuk menutup jendela kamarnya.

Jenotz Jenotz Jenotz


“Teng..... Teng..... Teng..... Teng.... Teng..... Teng..... Teng..... Teng..... Teng.... Teng.....” Jam besar loncet di dalam kamar Vio berbunyi 10 kali dengan kerasnya. Dentuman suara jam dikamarnya itu menggema, suaranya sangat berisik hingga membangunkan Vio yang terlelap dari tidurnya. Mata Vio terbuka perlahan-lahan, pandangannya sedikit buram menerawang kelangit-langit kamar, Vio memegangi kepalanya dan ia merasa sedikit pusing yang dirasakan olehnya. Kemudian Vio bangkit dari tidurnya.

“Jam berapa sih?” Ucapnya mendesah sambil mengucek-ngucek matanya, lalu Vio menoleh ke jam dinding besar di dekat pintu kamarnya.

“O......” Tampak disana jarum pendek di angka 10 dan jarum panjang di angka 15. Vio mengucek-ngucek matanya kembali.

“Malam Viona..... Kamu baru bangun tidur ya?” Tegur seseorang dari samping kirinya. Vio segera menoleh ke sumber suara dengan melotot.

“Hah?!!!” Mata Vio terbeliak, kaget.

“Ngapain lo malam-malam begini di kamar gwe, Dik?!!!” Kaget Vio saat melihat sosok Dika berada disampingnya. Vio menghembuskan nafas panjangnya sembari mengurut dadanya.

“Masuk dari mana lo, Dik?” Serangnya lagi bertanya, Vio memandang Dika geram dengan debaran jantungnya yang tak bisa terkendali. Andai saja Dika merasakan ketakutannya, ia pasti akan tertawa terbahak-bahak.

“Gwe datang hanya mau bilang, kalo kita berlima dalam keadaan bahaya dan semua yang dikatakan oleh Deo lewat mimpi-mimpinya itu,,, benar adanya, Vi.” Jawab Dika dengan tatapan kosong, menatapnya. Dan lihatlah wajahnya, Dika tampak pucat sekali seperti Orang sakit yang dirawat di Ruang ICU.

“Maksud lo, Dik?” Tanya Vio penasaran, ia tak mengerti dengan ucapan yang dikatakan oleh temannya itu. Sekejap saja Vio merasa suasana jadi berubah, bulu kuduknya bangun seketika. Vio merinding disko.

“Dendam datang kembali.” Balas Dika dengan menatap Vio sinis, Vio mengernyitkan keningnya dalam, ia merengkuhkan pundaknya karena tak merasa puas dengan jawaban Dika.

“Dika,,, elo kalo ngomong tuh dijaga dong. Emangnya,,,, dendam siapa sih yang datang kembali? Setahu gwe, Dik, kita nggak punya musuh. Dika... Dika...” Vio tersenyum santai padanya, geleng-geleng. Tampaknya Vio tak mempercayai ucapan Dika, ia hanya menganggapnya sepele. Menit-menit pun berlalu sudah, Vio bangkit dari tempat tidurnya dan menguncir rambutnya yang setengah badan itu.

“Oh ya, Ka, darimana lo bisa masuk ke dalam kamar gwe?” Tanya Vio ingin tahu saat ia berdiri dihadapan Dika. Dika tak menjawab hanya memandangi jendela kamar Vio.

“O... Elo masuk lewat jendela kamar gwe? Dasar lo kayak maling,” Seru Vio memahami tatapan mata Dika yang tertuju kejendela kamarnya, lalu Vio bertolak pinggang dengan menipiskan senyumnya.

“Sebentar dulu Ka, gwe ambilin minuman buat lo. Gwe yakin banget pasti elo kehausan kan, gara-gara manjat ke kamar gwe?!!!” Lanjut Vio mencandainya. Vio menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia menelaah wajah Dika yang pucat itu, lalu Vio singgah sejenak dimeja belajarnya untuk mencabut kabel TAPE RECORDER yang masih menyala.

“Vio,,,, kita dalam bahaya.” Tak lama kemudian, Dika tiba dibelakangnya, ia membisikan ucapannya dengan suara mendesah. Sentuhan dingin pun mampu Vio rasakan saat Dika menyentuh tangannya.

“Huh, elo lagi,,, elo lagi,,, bisanya ngagetin gwe saja.....” Kilah Vio yang merasa dingin saat Dika menyentuh tangannya. Vio mengurut dadanya saat ia mendengar suara Dika yang masih terngiang-ngiang ditelinganya. Vio semakin merasa ada keanehan setelah kedatangan Dika malam ini. Kemudian Vio menatap tangan Dika saat tangan itu mendarat dingin ditangannya.

“Dika, kita harus banyak berdoa ya.... Semoga saja kita diberikan kesehatan dan selalu dijaga sama sang pencipta kita.” Lanjut Vio menenangkan hati Dika sembari mengelus-ngelus pundaknya. Dika tak merespon, ia terlihat kaku dan pucat. Beberapa menit kemudian, mereka saling menatap geram dan mengundang hawa yang sangat berbeda di antara mereka. Dika pun merapat dengan tubuh Vio sampai Vio mundur dua langkah dari titik pijaknya.

“Dika.........” Ucap Vio lirih karena tubuhnya telah membentur dinding, Dika tak mempedulikannya. Kini, Dika berada dihadapannya dengan tatapan sinis. Mata Vio terbeliak dan mulutnya terbuka lebar, tampak disana Dika menempelkan kedua tangannya dan menahan diri Vio supaya nggak kabur darinya.

“Dika, apa maksud lo?!!!” Serang Vio bertanya saat menatap kedua tangan Dika yang menyatu dengan kedua pundaknya, segulir keringat membasahi keningnya. Vio sungguh ketakutan sekali akan sikap Dika yang menganehkan, Vio mulai berpikir yang enggak-enggak akan bayangan yang menyelimuti otaknya. Tiba-tiba saja Vio terdiam dan terpanah dengan tatapan Dika.

“Jangan pernah sekali-kali, elo ngerebut sesuatu yang pernah jadi milik gwe.” Ucap Dika kemudian di dalam keheningan. Vio mengernyitkan keningnya dalam. Bingung.

“Maksud lo???” Tanya Vio lagi, ia berusaha berontak dari cengkraman tangan Dika.

“Tinggalkan dia, atau elo yang mati?” Dika menjawab pertanyaan Vio dengan angkuhnya, ia mengucapkan kalimat itu penuh dengan tantangan tersendiri, tapi Vio sungguh tak mengerti dengan kata “DIA” yang baru saja terlontar dari mulut Dika. Siapakah dia yang dimaksudkan? Kemudian wajah Dika mendekat sekali dengan wajah Vio, jaraknya hanya 2 CM sangat tipis. Vio menatap bola mata Dika dengan ketakutan, jantungnya berdetak cepat tak karuan. Lalu Dika merapat dan merangkul lingkaran leher Vio dengan mesra, Dika hampir saja mencium bibir Vio, tapi Vio segera mengeles dari cengkraman maut bibirnya.

“PRAAAK!!!” Vio menampar pipi kiri Dika, kencang.

“Gila lo, Dik,” Seru Vio yang berhasil mengeluarkan dirinya dari pelukan Dika. Lalu Vio berjalan 2 langkah darinya dan berhenti sejenak, Vio membelakangi Dika, ia menoleh setengah lalu menghembuskan nafas panjangnya sembari memejamkan matanya.

“Ya sudah, Dik, tunggu dulu disini dan gwe pasti kembali. Gwe mau ambil minum dulu buat lo.” Ucap Vio kemudian menoleh setengah ke kanan, lalu Vio pergi meninggalkannya.

Jenotz Jenotz Jenotz

“KRIIIINNNNGGGG!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Terdengar suara telepon rumah Vio berdering panjang sekali, sementara Vio sedang berada di dapur untuk menuangkan air ke dalam gelas sembari menggerutu mengingat kejadian tadi di dalam kamar bersama Dika. Vio menoleh kearah telepon yang terus berdering di ruang tamu.

“Malam-malam gini telepon berbunyi? Siapa coba yang telepon???” Tanyanya sembari ngedumel, Vio menatap pesawat telepon di ruang tamu dan segera mempercepat langkahnya membawa 2 gelas air dari dapur untuk Dika dan untuknya, seraya ia memeluk botol air minum yang dihimpitkan diketiaknya, Vio berjalan menuju ruang tamu untuk mengangkat telepon. Sesampainya ia di ruang tamu, Vio menaruh gelas itu diatas meja garnit kehijau-haijauan.

“Hallo, Selamat Malam!!!” Sapa Vio ramah.

“Malam, malam... Sok kiut lo. Udah buru bukain pintu rumah lo, gwe udah di depan pintu nih...” Balas suara dari seberang telepon dengan nada sedikit emosi.

“Hallo, ini siapa ya?” Tanya Vio penasaran sembari menatap pintu depan rumahnya.

“Buru dong Vi, gwe kedinginan nih. Gwe udah di depan pintu rumah lo sama Deora.” Jawabnya dengan nada cepat.

“Terus lo siapa???” Tanya Vio sekali lagi, ia mulai merasa merinding dan takut. Vio memandangi jendela tengah ruang tamu yang bertiraikan hordeng berwarna krem, hordengnya berterbangan karena tertiup angin, Vio pun sempat lupa untuk menutup jendela samping rumahnya.

“Gwe temen lo juga!!! Buru ya Vi, bukain pintunya.” Seru suara dari seberang sana dengan kerasnya, lalu telepon terputus.

“Tut... Tut.... Tut....”

“Ya, malah dimatiin.” Sungut Vio kesal saat mendengar nada sambung telepon terputus, Vio menutup gagang telepon itu dan kemudian ia berjalan menghampiri pintu depan.

“KREKKKK!!!!!!” Pintu pun terbuka setengah, Vio melemparkan senyum indahnya pada seseorang yang tiba dihadapannya. O... Rupanya Deo yang bertamu malam-malam begini.

“Hai Vio!!!” Sapa Deora tersenyum.

“Oh.... Jadi elo yang datang, tumben lo kesini? Kenapa harus malam-malam sih?” Balasnya kemudian dengan mimik muka agak panik dan sedikit kaget.

“Elo sama siapa kesini, De?!!!” Tanya Vio kemudian sembari melirik-lirik ke sekitarnya.

“Dika.” Jawabnya, lalu ia masuk ke dalam rumah dan melintasi diri Vio.

“APA???” Sontak Vio terkejut mendengar nama Dika, ia menatap tubuh Deo dari belakang.

“Iya Viona,,, Deo datang kesini sama gwe. Kenapa sih,, koq elo jadi aneh gitu saat mendengar nama gwe???” Kemudian terdengar suara Dika yang khas berkata pada Vio, ia menampakkan dirinya dari luar pintu rumah dihadapan wajah Vio. Wow,,, Vio sangat terkejut sekali dengan sosok Dika yang dilihatnya saat ini.

“Hah?!!!!” Sontak Vio terpental dan terhuyung ke belakang mengenai pintu rumahnya.

“BRAK!!!!!” Vio terjatuh seketika, ia tergeleser bersamaan bunyi pintu yang berbentur dengan dinding tembok dibelakang pintu. Tubuhnya langsung mendadak lemas.

“Vio, elo kenapa, Vi?” Tanya Dika segera saat Vio terjatuh, kemudian Dika jongkok dan menelaah wajah Vio yang terlihat tegang.

“S-Serius lo, kalo lo itu....... D-Dika???” Tanya Vio padanya, gugup. Ia mendongakan wajahnya.

“Vi,,, elo kenapa sih, segala bertanya kayak gitu sama Dika? Apakah ada yang aneh dengannya?” Sahut Deo menghampirinya dengan melontarkan pertanyaan, kemudian Deo merapihkan rambut Vio yang terlihat kusut.

“Terus,,, kalo gitu, siapa dong yang di dalam kamar gwe tadi?” Lanjut Vio dengan ucapan lirihnya, mengingat sosok Dika yang datang menemaninya saat dia terbangun dari tidurnya. Saat ini Mata Vio disipitkan, ia mencoba untuk meyakinkan betul dengan menerawang wajah Dika, kalo malam ini Vio bertemu dengan Dika sungguhan.

“Hey Vi.... Elo ngomong apaan sih?” Celetuk Deo menyelidik.

“T-Tapi..... T-Tadi....” Jawab Vio gugup, tatapannya kosong tanpa arah, Dika mencoba menyentuh tangan Vio, tapi Vio selalu menyingkirkan tangannya dan menatapnya geram.

“Vi, Vio...... Sadar Vi?” Ketegangan datang di antara mereka saat Deo dan Dika merasakan ada keanehan pada diri Vio, Deo mencoba menggoyangkan lengan Vio untuk menyadarinya, tapi Vio masih terdiam tak berkutik sedikit pun, tubuhnya serasa kaku. Kemudian Dika membangunkan Vio dan segera mengangkatnya sampai ke ruang tamu. Tubuh Vio sangat tak berdaya sekali, ia lemas.

“Vi, sebenarnya apa yang terjadi sih?” Tanya Deo penasaran saat tubuh Vio direbahkan diatas sofa ruang tamu. Vio menatap langit-langit ruang tamu dengan tatapan kosong. Dika dan Deo saling menatap bingung. Tak lama kemudian...

“Deo,,, gwe takut...” Vio mulai berbicara, menatap Deo sendu.

“Tapi, elo harus jelasin sama gwe, Vi, kenapa lo bisa begini?” Tanya Deo memaksanya. Lalu punggung tangan Dika menyentuh kening Vio yang terasa panas sekali. Kini Dika tampak cemas, ia menatap kearah Deo memberikan sebuah isyarat akan tanda-tanda keanehan pada diri Vio.

“Vi, elo demam?!!!” Tanya Dika kemudian, menerka.

“De, apakah elo yakin kalo dari tadi, elo sama Dika?” Lanjut Vio melemparkan pertanyaan pada Deo. Vio tak akan henti menanyakan pertanyaan itu lagi sampai Deo belum berkata jujur. Dika dan Deo saling menatap bingung.

“Iya, Vi, dari jam 7 malam sampai sekarang, gwe sama Dika. Kenapa sih?!!!” Jawabnya cepat, jujur. Lalu ia bertanya balik.

“Malam-malam begini tuh, kita datang ke rumah lo karena kita sangat khawatir sama keberadaan lo, Vi. Tadi jam 9, gwe dapet telepon dari Nyokap lo dan Nyokap lo bilang kalo telepon di rumah lo selalu sibuk terus, bahkan Nyokap lo juga bilang, berkali-kali dia menghubungi Hp lo, tapi nggak pernah aktif. Elo kemana aja sih???!!!” Lanjut Dika menjelaskan akan kehadiran mereka malam ini di rumah Vio, sekaligus Dika memberitahukan sebuah kabar dari Mamanya. Vio mengernyitkan keningnya dalam mendengar penjelasan Dika yang tak sesuai dengan apa yang telah terjadi pada dirinya tadi.

“Bohong, kalian bohong!!!!!!” Serang Vio berteriak tak mempercayai ucapan Dika. Vio meremat-remat kepalanya dan terlihat tampak shock berat.

“Vi, cerita dong sama gwe, apa yang sesungguhnya terjadi sama lo?!!!” Paksa Deo memohon padanya.

“Jam 8 malam tadi......” Kemudian Vio mulai membuka mulutnya untuk bercerita pada kedua temannya dari awal.

“Kenapa?” Dika semakin penasaran, mereka saling menatap.

“Tadi gwe lagi denger musik di kamar sampai ketiduran dan gwe terbangun mendadak karena mendengar jam lonceng di kamar gwe dentumannya berbunyi dengan keras. Saat gwe terbangun,,, gwe melihat kearah jam dan jam loncet gwe menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit. Terus.... Gwe lihat Jendela kamar gwe masih terbuka lebar dan tape recorder gwe masih menyala. Tiba-tiba saja,,,, gwe menangkap wajah Dika di samping gwe dan dia ngajakin gwe berbicara, bahkan gwe menduga kalo Dika masuk ke kamar gwe memanjat lewat jendela kamar karena jendela kamar gwe masih terbuka lebar. T-Tapi, yang anehnya......” Dengan terinci sekali Vio menceritakan kejadiaan itu pada mereka, namun sayangnya terputus.

“Apa yang aneh?” Lanjut Deo bertanya.

“Vi, tangan lo dingin banget kayak kulkas,” Celetuk Dika saat menyentuh tangan Vio, lalu memegang tangannya erat-erat.

“Terusnya, Dika bilang sama gwe kalo kita........” Jawab Vio gugup dan menatap Dika dengan mata berkaca-kaca.

“Cepat Vi, waktu Dika yang tadi dilihat di dalam kamar lo, dia bilang apa?!!!” Dika memaksanya untuk menyelesaikan ceritanya itu, Dika menggoyangkan kedua pundak Vio dengan kencang.

“Dia bilang ke gwe, kalo kita berlima dalam bahaya.” Jawab Vio pelan, menunduk.

“Terus, dia juga bilang sama gwe, jangan rebut sesuatu yang dimiliki olehnya, begitulah yang gwe denger tadi. B-Bahkan, dia mau merampas bibir gwe dan mencoba merangkul gwe dengan tatapan yang menyeramkan gitu.” Lanjut Vio kemudian mengingat semua ucapan-ucapan Dika yang ditemuinya di dalam kamar.

“Gwe takut, Ka.....” Vio langsung memeluk Dika, ia menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh Dika yang besar. Vio menangis terseguk-seguk saat ia mengingat semua ucapan-ucapan dari penyamaran Dika. Hening seketika, keringat-keringat yang keluar dari kulit Vio menjadi saksi akan ketegangannya malam ini.

“Dan dia juga bilang,,,,,,,” Lanjut Vio menatap wajah Dika dengan melongok.

“Dia bilang apa, Vi?” Tanya Dika menatap bola matanya.

Dendam datang kembali.” Jawabnya membuat Deo dan Dika merasa jadi semakin aneh mendengar jawaban itu, Vio menunduk tak berani menatap kedua temannya.

“Tapi gwe berani sumpah, Vi, kalo gwe nggak ke rumah lo sebelum-belumnya. Karena dari 7 sampai sekarang gwe bersama dengan Deo.” Bantah Dika menjelaskan padanya, ia meraih wajah Vio dan menyatukan kedua punggung tangannya pada pipi Vio. Vio menatapnya sendu, ia ratapi wajah Dika yang terlihat memang tak berbohong padanya. Kemudian Dika melepaskan kedua tangannya itu.

“De, lo yakin banget nggak, kalo Dika nggak bohong sama gwe?!!!” Tanya Vio pada Deo segera. Deo manggut-manggut mewakili jawabannya.

“Lantas... S-Siapa yang gwe temui tadi di kamar???” Batin Vio mengingat kembali kejadiaan itu. Sejenak ada keheningan dan hawa mistis yang merasuki suasana di antara mereka di ruang tamu itu. Dika memandangi Vio dengan aneh.

“Udah larut malam, Dik, lebih baik kita bermalam di rumah Vio saja. Gimana?!!!” Lanjut Deo kemudian bertanya.

“Gwe rasa itu jalan yang terbaik buat kita untuk menemani Vio disini.” Jawabnya tersenyum ramah. Tak lama kemudian, Deo dan Dika segera berdiri untuk memapah Vio sampai ke dalam kamar, tapi Vio sempat terjatuh karena mungkin ia masih shock dan lemah. Pada akhirnya, Dika mengangkat tubuh Vio dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar Vio.

Angin malam yang berhembus kencang sekali menerbangkan hordeng-hordeng disetiap sudut rumah Vio. Bintang-bintang berkelap-kelip diawan nan gelap dan seberkas cahaya bulan sabit yang indah menemani kesunyian malam ini. Mereka bertiga yang berada di dalam kamar merasa ketakutan, terlihat gugup dan tegang. Mereka terus saja berdoa memohon perlindungan Pada Sang Penguasa alam ini.

Jenotz Jenotz Jenotz

1st Chapter by: Jenotz

Read More ......