Tuesday, May 26, 2009

Tapi Percaya Kan!: Kisah Sedih Penuh Tawa

Pukul 11 malam, tapi Arel masih duduk di atas kasurnya yang teronggok begitu saja di lantai, mengamati layar laptopnya yang menyala. Beberapa majalah frencise dan majalah pria bertebaran di lantai.

“Rel? Arel, Kamu dengerin Ibu to,” sebuah suara wanita setengah baya terdengar dari handphone yang sengaja dia loudspeaker sekenanya.

“Hmm… ya Bu,” Arel tidak berminat menanggapi telepon dari ibunya itu.

“Alah Rel, kamu itu memang sulit dinasehati. Pie to Pak, iki lo anak mu itu ngeyel kalo di kasih tau,” keluh ibu.

“La itukan berkat kamu yang terlalu memanjakan dia,” terdengar suara bapak di telepon.

“Loh kok aku yang disalahin to? Bapak yang terlalu gak peduli dengan Arel,” bela ibu.

“Bu, sudahlah Arel sudah dewasa, biarlah dia menentukan apa yang harus dia lakukan, kita orangtuanya tidak usah ikut campur,” kata bapak bijak.

“Na, liat kan?! Gara-gara sikap bapak ini Arel itu jadi gak mikirin masa depannya. Pak, memangnya Bapak gak hawatir kalo Arel kenapa-kenapa? Arel tu anak kita satu-satunya Pak,”
“La terus Harum bukan anak kita?”

“Ya lain. Arel kan anak laki-laki.Llagipula Harum sudah berkeluarga Pak, sudah beres urusan kita,”

“Eh Rel, mbok ya denger to Rel, ibu sama bapak di sini sudah kangen sama kamu, kapan kamu bawa calon mu ke rumah? Ibu sama bapak ini sudah tua, selagi ibu dan bapak masih ada Rel, kami pingin mendampingi pernikahan kamu,” ibu Arel mulai terisak di ujung telepon.

Kalau sudah begini Arel pun tidak bisa pura-pura tidak mendengar suara ibunya itu. Karena entah mengapa hati Arel tidak pernah tega mendengar keluh kesah wanita itu.

“Bu, ibu dan bapak tenang aja ya. Arel janji, Arel akan pulang secepatnya. Oke Bu? Ibu jangan sedih lagi ya, nanti kerutannya tambah banyak lo. Katanya mau mendampingi Arel waktu nikahan nanti, Arel malu ah kalo ibu banyak kerutannya gitu,” Arel menggoda ibunya.

“Walah-walah Rel, kamu itu emang bisa aja,” terdengar tawa ibunya dari ujung telepon.

“Yo wis Bu, sudah malam, ibu tidur gih, jangan lupa minum obatnya, jangan banyak pikiran Bu, ibu tidur ya,”

“Ya sudah kalau begitu. Besok-besok ibu telepon lagi. Kamu juga jaga kesehatan, jangan banyak begadang, jangan lupa makan, ibu liat fotomu yang terakhir kurusan lo Rel. Makanya kamu tu segera menikah, jadi ada yang ngerawat Rel,”

Arel menghela nafas panjang, apapun pembicaraannya selalu saja mengarah ke pernikahan. Itu juga yang membuat Arel malas mengangkat telepon dari ibunya.

“Iya Bu, doain aja ya,” jawab Arel.

“Iyo, asalamualaikum…”

“Waalaikum salam,” jawab Arel pelan.

Pembicaraan dengan ibunya membuat Arel kehilangan minat pada laptopnya yang menyala. Diambilnya kaleng minuman ringan yang tinggal setengahnya dan Arel keluar dari kamarnya, duduk di beranda yang menghadap ke keramaian kota. Lampu-lampu jalan dari mobil-mobil dan gedung-gedung di sekelilingnya membuatnya makin merasa jauh dari keramaian. Dihidupkannya sebatang rokok, dihirupnya dalam-dalam seolah-olah asap beracun itu bisa memenuhi rongga-rongga yang kosong di dalam dirinya.

Hayalannya terbang tinggi menembus awan-awan yang menghitam tanpa bintang. Ingatannya kembali pada sosok yang pernah mengisi kehidupannya. Dia masih ingat harum tubuh wanita itu, rambutnya yang tertiup angin, matanya yang berbinar, dan senyumannya yang membuat jantung Arel berdegup kencang.

Saat itu Ruski, sahabat Arel sejak kecil yang mengenalkannya pada Sherin, yang saat itu baru masuk perguruan tinggi yang sama. Waktu pun berlalu, berganti dari hari ke hari, bulan berganti tahun, tahunpun silih berganti. Rasanya mereka sudah seperti Romeo dan Juliet saja, bisa di bilang seluruh pelosok kampus mengetahui pasangan ini. 5 tahun bersama tidak pernah ada pertengkaran yang begitu berarti.

Rasanya kisah cinta ini terlalu sempurna. Sampai beberapa hari setelah hari wisuda Arel, Arel harus pergi beberapa bulan menemani Harum, kakak perempuannya yang sedang hamil besar di Surabaya. Saat itu suami Harum sedang tugas di Kalimantan. Berat rasaanya berpisah dari Sherin. Arel tau ini hanya untuk beberapa bulan, setelah itu dia akan kembali lagi ke sini bersama-sama Sherin. Rasanya terlalu cengeng untuk bersedih.

“Pergilah Rel, paling lama Cuma 3bulan kan?! Gak usah khawatir, kita masih bisa saling telepon kan,” Sherin menenangkan Arel sebelum Arel berangkat ke Surabaya bersama ibunya.
Arel tertawa getir, “Benar kata Sherin, tak perlu ada yang dihawatirkan. Aku saja yang cengeng,” pikir arel.

“Anggap aja liburan Rel, kan kuliah mu yang sudah sekian lama ini akhirnya selesai juga. Aku pikir kamu gak akan lulus-lulus Rel,hahaha,” Sherin tersenyum menyentuh bahu Arel.

“Hmmm mulai lagi deh. Tapi makasih ya Sher, kamu yang sudah ngasih aku semangat. Kalau nggak lulus tahun ini aku pasti di DO ya sudah kelamaan gak lulus-lulus,” Arel tersenyum.

“Habis kamu tuh kebanyaan sibuk naik gunung, turnamen olahraga ini itu lah. Coba kalau kamu fokus kuliah saja dulu pasti sudah lulus dari kemaren-kemaren,” kata Sherin.

“Iya-iya Bu. Kamu tuh ya, lama-lama kaya ibuku. Yang penting aku kah sudah lulus sekarang,” Arel membela diri.

“Iya iya…” kata Sherin manja.

Arel mencium kening Sherin sebelum dia pergi.
***

Pagi-pagi Arel sudah bangun, menyilang kalender di kamarnya sebelum solat subuh, lalu turun ke bawah menemui kakaknya yang sedang duduk di teras sambil berjalan mondar-mandir.

“Pagi Mbak,” Arel duduk di kursi sambil memperhatikan kakaknya.

“Gak sarapan Rel?” tanya kakaknya.

“Nanti lah. Sudah ada kabar dari Mas Danu?” tanya Arel.

“Belum Rel, Mas Danu bilang mungkin kerjaannya baru selesai bulan depan. Mbak juga gak ngerti, padahal mbak melahirkan kurang dari sebulan lagi,”

“Memang sudah mules?” kata Arel dengan hening berkerut.

“Kamu tau apa soal mules Rel,” Harum tersenyum.

“Ya kalau sudah mau melahirkan biasanya mules kan?” kata Arel sok tahu.

“Hmmm, sudahlah jangan banyak tanya, kamu udah gak betah ya di sini,” tebak Harum.

Arel hanya tersenyum. Begitulah Arel setiap hari selalu menanyakan kapan suami kakaknya akan pulang dan apa Harum sudah mules. Karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu Sherin. Apalagi akhir-akhir ini Sherin susah di hubungi. Setiap di telepon pasti dia sedang sibuk mengerjakan tugas akhirnya.

“Kasihan Sherin. Pasti dia sibuk banget. Kalau aja aku ada di sana di saat-saat seperti ini,” pikir Arel.

“Rel! Arel! Cepat Rel!” suara Ibu memanggil dari bawah.

“Arel melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 2 malam, secepat kilat dia turun mencari suara ibunya. Ibunya ada di kamar Harum yang terbuka.

“Cepat keluarkan mobil! Sepertinya mbakmu sudah akan melahirkan,” kata Ibu panik.

Arel mengeluarkan mobil dengan tergesa-gesa, membantu kakaknya ke mobil, dan segera menuju rumah sakit secepat yang dia bisa.

Sudah hampir jam sepuluh pagi saat Ibu membangunkan Arel yang terlelap di ruang tunggu.

“Rel, jemput mas mu di bandara, ya. 1 jam lagi dia sampai,” kata ibunya.

Masih setengah mengantuk saat Arel menjemput Danu di bandara. Saat sampai di rumah sakit lagi, Harum sudah melahirkan, tapi kamar yang harusnya di penuhi senyuman dan tawa bahagia hanya hening dan dingin. Ibu memeluk tubuh Danu yang baru mencapai pintu, wajahnya penuh air mata.

“Anakmu Dan..,” ibu tidak melanjutkan kata-katanya.

Danu mematung seperti tersambar petir, Harum masih terbaring di tempat tidur.

Arel melihat wajah Danu yang berubah dari panik menjadi kosong. Di peluknya erat tubuh wanita tua yang masih menangis di dadanya.

“Jangan sedih Bu, gak apa. Mungkin Tuhan belum mempercayakannya. Sabar Bu,” Danu memcoba menguatkan ibu mertuanya itu, walaupun dia tau hatinya lebih hancur lagi.

Beberapa hari setelah itu Arel dan ibunya kembali ke rumah. Danu dan Harum juga ikut, ada baiknya untuk sementara mereka meninggalkan Surabaya. Seharusnya Arel bahagia bisa bertemu Sherin. Tapi rasanya hatinya masih sedih menyaksikan kematian keponakannya itu. Yang ada di benaknya hanya wajah ibu yang bersimbah air mata, wajah Mas Danu yang kosong dan berusaha tegar, juga jeritan frustasi kakaknya.

Tidak ada yang menyinggung soal kelahiran atau soal keadaan Harum di rumah. Bapak yang menyambut kedatangan mereka pun hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Segala yang terjadi sampai-sampai membuat Arel lupa menghubungi Sherin.

“Ya Tuhan, Sherin!” Arel langsung menuju kamar mandi, segera berpakaian dan menemui Sherin malam itu juga.

“Lebih baik gak usah dihubungi dulu, dia pasti kaget,” Arel tersenyum memikirkan bagaimana terkejutnya Sherin melihat Arel sudah pulang.

“Pasti akan jadi kejutan yang sempurna,” pikir Arel.

Arel tidak bisa berhenti menyunggingkan senyum, jantungnya berdebar-debar, bulu kuduknya serasa berdiri, karena terlalu bersemangat. Di parkirkannya mobil agak jauh dari rumah Sherin.
Arel berjalan perlahan-lahan seperti pencuri. Disembunyikannya kuntum-kuntum mawar yang ia bawa untuk Sherin. Arel membuka pagar yang tidak terkunci perlahan-lahan. Saat mencapai teras rumah Sherin, kepala Arel menjadi berat, sepertinya hujan es menghujam hatinya, beribu lebah menyengat membuatnya kelu dan tidak bernafas. Tanganya gemetar mencengkram mawar yang dia bawa.

Sherin yang sedang berciuman di teras rumahnya terkejut setengah mati.

“Arel…” Sherin terbata, sementara laki-laki yang bersamanya tak kalah gugupnya.

“Surprise…! Kamu kagetkan?!” Arel tersenyum getir menatap wajah laki-laki yang sedang bersama Sherin.

“Rel, gw… gw bisa jelasin Rel,” laki-laki itu maju beberapa langkah dengan gugup.

“Berhenti loe di situ! Gak ada yang perlu di jelasin. Gw rasa semuanya sudah jelas. Makasih ya Ki, loe memang sahabat terbaik gw, terima kasih elo sudah berbaik hati menggantikan posisi gw saat gw gak ada di sini,” Arel melemparkan wamar itu ke wajah Ruski.

“Arel tunggu!” Sherin menghadang langkah Arel.

“Rel, maafin aku… Aku…”

“Sorry, but I can’t,” Arel meninggalkan Sherin, meninggalkan serpihan-serpihan hatinya yang berhamburan.

Jantungnya berdebar lebih kencang dari saat ia datang, tangannya terkepal kuat. Jalanan di depannya terlihat kabur, hanya lampu-lampu yang menjadi semakin memudar. Dan bayangan Sherin yang berciuman dengan sahabatnya terus terbayang, sejak saat itu, sampai sekarang, saat lampu-lampu menjadi kabur oleh air mata, sama seperti dulu.
***

“Arel… kamu masih sama bodohnya,” gumam Arel pada dirinya sendiri sambil menghapus air matanya sebelum mengalir keluar.

Dihisapnya lagi rokoknya yang tingggal setengah, dikepulkannya asap rokok itu tinggi-tinggi, seolah-olah dengan begitu bayangan Sherin dan Ruski bisa hilang dari kepalanya. Empat tahun sudah berlalu dari kejadian itu, tapi seperti baru kemarin saja terjadi. Kejadian yang membuatnya memutuskan pergi meninggalkan keluarganya, meninggalkan kota kelahirannya, tapi ternyata tetap tidak bisa membuat kepedihan meninggalkannya. Bayangan masa lalu itu terus mengikutinya kemanapun dia pergi, merasuki setiap nafas dan aliran darahnya, membuat Arel tidak peduli pada cinta. Karena untuknya, cinta hanya meninggalkan luka-luka yang dalam. Mungkin lebih tepat disebut takut daripada tidak peduli.
***

Chintya Mutiara

22 comments:

pupung said...

Cukup menarik. Dua buah kesedihan yang muncul di permukaan pada saat kebahagiaan yang seharusnya didapat--analogi rasanya seperti halnya kalau kita disanjung-sanjung dulu untuk kemudian dijatuhkan: lebih terasa sakitnya.
Hem.... Bagaimana, ya, nasib si Arel selanjutnya? Bagaimana pula kira-kira kelanjutan ceritanya?
"Tapi Percaya Kan!: Kisah Sedih Penuh Tawa". Kalau dilihat dari judulnya, sepertinya ceritanya menarik.

(Putu Hatesa/Mahasiswa Semester Akhir pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2008/2009)

Nindya Qurrata Aini said...
This comment has been removed by the author.
Nindya Qurrata Aini said...

hmm,,,kisah sedih penuh tawa????
gimana ni kelanjutan na???pasty seru ..karna kita belum melihat tawanya^^
cerita yg cukup menarikkkk..dua buah kesedihan yg datang menghampiri..yg seharusnya tak terjadi,,,,,,,,,,,,


sukses chyntia,,,^_^


Nindya Qurrata 'Aini/mahasiswa FMIPA KIMIA Unila 2006

saputraandre said...

wow, aku suka .


seperti sepur berputar menabrak meronta tapi diam dengan tenang.
bergesekan dengan emosi,

Tokoh arel, tidak tampak begitu tipikal dalam deskripsi, tapi di ceritakan mengalun. sempurna !

jadi bener2 bertanya tanya,
ada berapa cerita sedih lainnya, dan siapa yang akhirnya harus tertawa, jangan2...

[Andre saputra / berkata sesukanya / Mahasiswa FK UNSRI 2006 / teman satu kelas Chyntia Mutiara]


PS: semoga segera naik cetak.

mell banget said...

baguuus!!!
Duh bener-bener tragis ya nasibnya Arel. Terus gimana ya kelanjutannya nasib Arel setelah kejadian itu,jadi penasaraN. BaKal bAlik saMa Sherin gak yA?

Lanjutin dong...

sukses aja deh buat chyntia semoga novelnya cepet terbit.

mElati/SMANSA Bandar Lampung

miss yessha said...

Manis, ringan, dan menarik tapi lama-lama pedes juga. kayak sekantong keripik balado yang dari Padang itu lo,he3.

Gimana tuh akhirnya, happy ending kah?! penasaran^o^

wah setuju tuh kalo diterbitin pasti kelanjutannya tambah seru ya, baru 1st chapternya ja da penuh kejutan,..,,,

miss Yessha imoet/ FKIP PGRI Bandar Lampung

rikky said...

Wah jadi teringat sesuatu...
iya nih saya juga mau baca lanjutannya.

"saat lampu-lampu menjadi kabur" saya suka ungkapannya, cukup mewakili soulnya laki-laki yang sulit mengakui kalau dirinya menangis,wakaka

salut buat Chintya mutiara, maju terusss

Suyanto Rikky/ Gading Rejo

theo said...

karakter Arel yang ditampilkan melalui pemilihan kata dan ekspresi bener2 cowok banget. males, cuek, asik, romantis,gw bgt gt, hwkkkk

Kelanjutannya pasti masih banyak yang menarik ya. baca lanjutannya dong.

gw suka pemilihan kata dan ekspresinya, sukses terus aja deh buat chintya, semoga bisa jadi penulis novel beneran.

theo/ Alumni Universitas Muhammadiyah Palembang

chaiio_nofee said...

yah abis...lanjutin dong belum mau udahan bacanya. masih seru-serunya. gimana akhirnya ya, balikan lagi gak. BT banget ya kalau punya temen kayak gitu.

ayo chintya chaiyooo.novelnya di terbitin aja, seru kok, gw suka!!!!

ceritanya kyaknya lbh serius dan dewasa ya. sip deh!

Novi/POLTEKES

kklagusnurhadi said...

yaachhh....cinta memang tidak bisa memiliki seperti pengalamanku yang kutulis di faceboook.

princess elia said...

Cinta memang gak selalu indah, tapi hati gak akan pernah jera untuk mencinta, walau bukan mencintai hati yang sama... Arel semangat, tatap masa depan dengan senyuman...

setuju sama yang laen, gw juga mau baca lanjutannya dong.

caranya gimana Gas?

piss^^

rvdirza said...

hmm... penasaran
kira2 Arel bisa keluar dari bayang2 itu gak ya?

bebeq quning said...

poor Arel...
laki-laki kudu bangkit bro gak boleh lembek,hahahahahaha

pengen tau lanjutannya neh ;(

yuan said...

hebat..!!
layak terbit,Ra..tp titip dong psn2 sponsor..pesen supaya org2 yg pernah/sedang patah hati gak berhenti mencari cinta sejatinya..gmn? hehehe...btw,gmn ya nsb si arel? gak usah deh balikan ama bajingan kayak gt,Ra..:D

Kariii said...

si Arel tuh ganteng gak sih, tenang Arel aku akan menghapus dukamu,wkwkwkw...

lanjutannya gmn nie, mau dong bacanya

tiza said...

baru bab satu dah begitu ya, weft jadi penasarn lanjutannya..

tapi oke kok. gw suka cara menceritakan kepribadian Arel.

jgn ampe deh ketiban masalah kayak gitu T_T

sassy girl said...

karakter dan ekspresi yang menarik dgn penggambaran yang tak kalah menarik juga. menggelitik keingintahuan kita akan kelanjutannya.

apa yg akan terjadi pada Arel? bangkit? atau roboh seperti dinding yg diamuk badai?

Citrus girl said...

setiap cobaan pasti ada hikmahnya. harusnya sih gitu. kalo cerita ini gimana? jadi penasaran, kirimin lanjutannya dong ;p

muliii said...

1st chapter yang mengejutkan dengan 2 polemik yang muncul disaat tak terduga. penjabaran karakterisasi dan ekspresi yang menarik membuat penasaran ingin tau kelanjutannya.

lanjutkan!!!!hahahahahahaha (kok kayak iklan ya,hahahaha)

rizkaharni said...

ehm,,ehm,,
cerita yg menarik,,
jd penasaran ni..
penasaran???heeheh..
padahal dh baca mpe abis tuh,,hohoho..
layak terbit ni novel,,pak penerbit,,bu penerbit,,ayo donk terbitin novelnya,,ayo donk,,ayo donk..biar aku ntar kecipratan komisinya ntar,,haahahah...

kamu pasti bisa cen!!(alah,,kyk capres ja)hahha..

ika/temen kosan/temen futsalan/temen jajan/temen gosip/temen kul/temen gila2an,,tapi dy gila beneran,,aku c,,g,,hahha

Ferdi said...

siiip banget. bagus-bagus, layak terbit. pokoknya siiip deh. bikin penasaran. jadi pingin baca kelanjutannya. kirim ke email ku dong...

Tyo said...

wah bener-bener membuat saya teringat pada masa lalu. jadi pingin tau juga kelanjutannya.

kadang kisah yang menarik itu memang bukan kisah yang bahagia,hahahaha.

selamat saja de, semoga segera dilirik penerbit;p