Wednesday, April 16, 2008

Triangles

Bab 1: A Beautiful Life
Jakarta, Agustus 2007
“Gila ya, udah berapa lama kita nggak ketemuan?”

Pertanyaan itu tenggelam di ruangan luas yang hingar-bingar oleh musik dan sinar aneka warna. Namun, di pojok ruangan yang cukup sepi (baca: hanya diisi beberapa orang yang malas menyatu dengan keramaian malam ini), di sofa suede empuk yang mengelilingi meja mungil dengan gelas-gelas tinggi di atasnya, pertanyaan itu terdengar jelas.

“Setahun?” seorang perempuan mengangkat rambutnya tinggi-tinggi dan menggelungnya. Beberapa helai rambut jatuh di dahinya akibat gelung yang dibuat asal-asalan -- sekadar mengurangi hawa gerah.

“Lebih.” Timpal perempuan yang duduk di seberangnya. Tangannya terjulur, meraih minuman. Ia berpikir-pikir sebelum meneguk isi gelas, ”hampir 2 tahun, kayaknya.”

“Time is running so fast.” Perempuan yang mengajukan pertanyaan tadi menggeleng takjub, lebih kepada dirinya sendiri.

“Nggak ada hubungannya, Katya sayang,” Erin, si perempuan bergelung, menyahut ringan. “Kita aja yang tambah sibuk. Terlalu banyak aktivitas sampai kehabisan waktu.”

“Kalau kamu nggak ultah, belum tentu kita ngumpul kayak gini kali ya, Rin?” celetuk Amira, meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. Ia merasa agak aneh karena bisa merasa nyaman di pub yang bisingnya menyaingi Monas pada malam tahun baru ini. Biasanya ia tidak suka dengan tempat-tempat seperti ini, berisik dan bikin gerah! Belum lagi asap rokoknya. Duh. Tapi, entah kenapa malam ini Amira sangat menikmati semuanya. Mungkin karena 2 sosok di depannya ini.

“He eh. Ini aja gue sampe melas-melas ke manajer gue supaya ngosongin satu malem, weekend ini, biar bisa ketemu sama elo-elo di sini. Sinting ya, padahal gue yang bayar dia. Kenapa gue yang ngemis-ngemis ke dia?” Erin tertawa geli.

“Manajer lo nggak diajak aja sekalian?” Katya meraih gelas kristal berisi Chardonnay dan menyesapnya sedikit. Aroma yang nikmat bercampur dengan kehangatan mengalir di tenggorokannya, terus turun ke perutnya, menyebarkan sensasi menggelitik yang menyenangkan.

Finally, batinnya berbisik gembira. Setelah hari-hari panjang yang melelahkan dimana ia merelakan dirinya menjadi budak kapitalis, ia selalu menunggu-nunggu saat seperti ini. Akhir minggu yang menyenangkan, dimana ia bisa melepas penat dan melupakan rentetan masalah brengek yang dihadapinya setiap hari.

Beberapa orang menyebutnya persoalan remeh, terlebih jika membandingkan masalah-masalah tersebut dengan posisi Katya sebagai manajer; yang seharusnya lebih piawai mengendalikan temper dalam menghadapi hal-hal kecil berkaitan dengan anak buahnya di kantor. Tapi tidak bagi Katya. Ini tidak ada hubungannya dengan jabatan. Manajer atau bukan, ia benci pekerjaan yang memaksanya menghabiskan puluhan jam seminggu di kantor, dengan setelan resmi yang (katanya) bergaya namun membuatnya merasa terpenjara. Katya cinta kebebasan seperti ia mencintai dirinya sendiri. Sayang, hidup tidak pernah memberinya kesempatan untuk menikmati kebebasan. Banyak orang bilang, kebebasan adalah pilihan. Well, kalau toh itu benar, alternatif itu tidak berlaku untuknya.

“Hell no,” kedua mata Erin membulat. “Ngajak manajer gue ke sini? Sinting lo. Justru gue pengen hindarin dia. Bosen kaliii, tiap hari liat tampangnya.” Gilirannya meraih gelas kristal tinggi di atas meja. Erin meneguknya sedikit. Tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya La Grande Dame. Bahkan tidak sedikit yang berkomentar karakter minuman itu sangat cocok dengan dirinya: kuat, elegan, refreshing.

Itulah Erin. Karakter-karakter itu juga yang membuatnya sampai ke tempatnya berada sekarang. Ia wanita yang menolak untuk dikalahkan oleh apapun. Ia memiliki kharisma yang mampu menaklukkan dunia di bawah kakinya (walau kadang ia ragu, apakah itu memang kharisma, atau ia yang kelewat PD?).

Ketika usianya bahkan belum cukup untuk duduk di bangku SMP dan tubuhnya sudah menampakkan lekuk-lekuk yang membuatnya diejek teman-teman sekelasnya, Erin menghadapinya dengan gagah berani. Ketika teman-temannya baru mengenakan miniset sementara ia sudah memakai cup 32B, Erin tidak pernah merasa malu dengan perbedaan yang sangat kentara itu.

Erin adalah yang termuda di antara teman-teman sekelasnya, karena ia terlalu cepat disekolahkan. Tapi tubuhnya berkembang jauh lebih cepat dari mereka semua, seperti mangga yang dikarbit. Wajahnya menampilkan kecantikan alami yang sangat Indonesia, dengan kulit gelap yang eksotis. Perbedaan itu pula yang membuatnya dijauhi teman-temannya, bahkan menjadi korban pelecehan seksual oleh guru olahraga ketika kelas 5 SD. Tapi Erin tidak pernah gentar dengan itu semua. Ia malah bangga dengan tubuh curvy-nya. Ia tahu suatu saat dunia akan berada di genggamannya, seperti surga di telapak kaki seorang ibu. Sekarang ia berhasil membuktikannya. Siapa yang tidak kenal Erina Larasati Katamso, artis papan atas yang honornya mencapai puluhan juta untuk satu episode sinetron?

Kuncinya hanya satu: percaya pada kekuatan diri sendiri.

“By the waaay,” Katya mencolek punggung tangan Amira. “Minggu lalu gue baca resensi novel baru lo di ‘HighLite!’. Di sana ditulis sebagai ‘The Most-Wanted Indonesian Novel’. Sampe ada waiting list-nya segala gitu? Gila, hebat lo, Mir.”

Amira tersenyum lebar. “Iya. Sekarang lagi dalam proses revisi dan cetak ulang.”

“Cetakan yang keberapa?” Erin mencondongkan tubuh, penasaran. Amira, ugly duckling di antara mereka bertiga sejak SMU, si pemalu yang pendiam dan nggak banyak bicara ini, yang ikutan populer karena bergaul dengan dirinya dan Katya, dan sejuta ‘yang’ lainnya, ternyata berhasil mencetak prestasi gemilang. Beberapa hari lalu Erin mendengar obrolan produser dan sutradaranya mengenai rencana pengangkatan novel ‘A Broken Glass’ menjadi film layar lebar, yang sayangnya ditolak oleh si penulis.

“Baru novel perdana aja belagu,” sungut si produser. Erin setengah mati menyembunyikan cengirannya, tidak mau membocorkan informasi bahwa penulis belagu itu adalah sahabatnya, Amira Sastrahidayat.

“Tigabelas.” Jawab Amira, yang disambut decak kagum sahabat-sahabatnya. “Kalau kamu, Rin? Lagi sibuk syuting apa?”

“Terakhir iklan pembersih wajah,” Erin mengerling, “plus pencerah kulit. Gokil ya? Gue aja bingung kenapa mereka make gue.”

“Emang kenapa?” Amira mengerutkan kening.

Katya tertawa berderai. “Lo nggak liat, kulit dia sama Beyonce beda-beda tipis!”

“Eh eh, nggak segitunya deh!” hardik Erin sambil manyun.

“Kok ngambek? It’s a compliment! Seksi tau!” Katya terbahak lagi. Amira ikut tertawa. Gelas-gelas mereka sudah kosong. Amira melirik jam tangannya sekilas. Sudah hampir tengah malam.

“Lo nggak punya jam malam, kan?” Erin bertanya curiga melihat gelagat itu. Dari dulu Amira memang yang paling konservatif di antara mereka. Amira tidak pernah ikut clubbing sampai subuh. Amira tidak pernah ikut merokok atau menjajal liquor, bahkan ketika Erin dan Katya sedang hobi-hobinya merusak paru-paru dan liver dengan dua benda itu. Bahkan, sekarang, lihat aja, ketika dirinya dan Katya menikmati champagne dan wine, Amira tetap setia dengan fruit punch. Haduuuh.

“Nggak lah,” sahut Amira. “Aku kan tinggal sendirian di apartemen, mana ada jam malam.”

“Kirain...” Erin tersenyum geli melihat respon Amira yang menanggapi apa-apa terlalu serius.
“By the way, balik ke syuting, kemarin gue dapet tawaran untuk film layar lebar. Kayaknya bakal gue ambil.”

“Perannya apa?” Katya memajukan lehernya. Ia selalu tertarik dengan hal-hal baru seperti ini, yang berbeda dari area ekspertise-nya.

“Cewek kaya yang jatuh cinta sama cowok miskin. Standar,” Erin memberi isyarat ke arah bartender di seberang ruangan, mengorder minuman yang sama. “Gue tuh benernya pengen sekali-sekali dapet peran yang menantang. Jadi orang gila, misalnya. Atau cewek gelandangan. Orang buta juga seru.”

Katya terpingkal-pingkal. “Elo terlalu cantik buat dapetin peran-peran itu, kali? Atau terlalu bling-bling?”

“Itu juga yang dibilang sama produser gue,” Erin merengut sebal. “Asli, bosen banget ngerjain peran yang itu-itu lagi. Mau muntah! Nih ya, gue paling empet kalau dapet script yang isinya nangiiis melulu. Gue pernah aja gitu, syuting seharian, isinya nangis-marah-nangis-marah terus.”

“Karena itu yang laku dijual, Erin dear.” Katya meneguk Chardonnay-nya yang baru tiba. “Dan suka nggak suka, itu juga yang bikin lo eksis, kan? Hehehe.”

“Sialan,” maki Erin. “Tapi iya, sih.. walaupun kadang-kadang gue ngerasa jadi pelacur, dengan menerima peran-peran kayak gini. Okay uangnya gede, tapi tetep aja buat gue itu kacangan.”

“Ngeliatnya biasa aja dong, Mir,” Katya mengangkat alis pada Amira yang ekspresinya sontak berubah mendengar kata ‘pelacur’. “Itu kiasan doang! Lagipula menurut gue, pada dasarnya kita semua ini pelacur.”

“Kok?” Amira si lemot tampak kebingungan.

“Ya iyalah. Kita melakukan sesuatu yang nggak kita suka, demi eksis dan cari makan. Kita menyenangkan orang lain, memenuhi demand dan kebutuhan orang lain yang ujung-ujungnya demi uang. As simple as that.”

“Affirmative,” Erin mengangguk, 100% setuju. “Sialan, ya?”

Amira sudah siap buka mulut untuk protes. ‘Kita’? Enak aja. Sorry ya, ia tidak merasa begitu.
Tapi, mendadak ingatannya melayang pada promo tur di berbagai kota, wawancara dengan media cetak dan elektronik, serta hujan pertanyaan dari wartawan, dimana akhirnya ia terpaksa membiarkan dirinya diekspos habis-habisan. Sesuatu yang sama sekali bukan Amira, tapi harus dilakukannya. Demi eksis. Demi selling. Dan apa kata editornya 2 hari lalu?

“Novel yang kedua mulai disiapkan ya, Mbak. Mumpung timing-nya pas banget nih. Mbak baru menang ILA (Indonesian Literary Award), semua orang sedang membicarakan Mbak. Kalau bisa, dalam 3 bulan ke depan kita udah nerbitin novel kedua.”

Amira mengerutkan kening. 3 bulan?! Ia-nya yang salah dengar, atau editor ini yang sarap, sih? Menulis novel itu bukan hal sepele! Butuh pendalaman yang kuat terhadap karakter, butuh plot yang matang, butuh research. Novel seperti apa yang bisa dihasilkannya dalam 3 bulan? Ups, koreksi. Mungkin waktunya malah cuma 2 bulan, mengingat kalau novel itu akan terbit dalam 3 bulan, artinya ia harus menyerahkan final draft jauh sebelum itu.

“Temanya apa aja deh, Mbak,” ucap si editor buru-buru, demi melihat perubahan raut wajah Amira. “Yang ringan-ringan juga boleh. Pokoknya bisa terbit. Kita manfaatkan momen, Mbak. Sayang kalau momen ini hilang begitu saja.”

Seumur hidup menjadi orang yang penyabar dan welas asih, baru kali itu Amira merasa ingin menyilet editornya hidup-hidup. Dikiranya gampang, apa?! Lagipula, ini adalah karyanya. Ia berhak atas segala sesuatunya, kan? Kenapa orang ini jadi ikut mengatur-atur semuanya?

“Tolong pertimbangkan, Mbak,” si editor merendahkan intonasinya, menangkap sinyal bahaya di udara. Penulis di depannya, yang biasanya kalem dan penuh senyum, mendadak menampilkan ekspresi seperti mau makan orang. Saatnya menyelamatkan situasi. “Ini demi kebaikan Mbak juga. Percaya sama saya. Penerbit kami telah mengorbitkan banyak penulis terkenal dengan cara ini. Memanfaatkan momentum. Apalagi Mbak sudah memenangkan penghargaan bergengsi, segalanya akan jauh lebih mudah.”

“Akan saya coba.” Amira menjawab dingin. Jawaban yang tampak diplomatis, tapi sangat lemah. Dan si editor tahu itu.

Amira menghela nafas dan meraih fruit punch-nya. Meminumnya sampai habis setengah gelas. Mungkin Katya benar. Pada dasarnya mereka memang pelacur.

“Kalau kamu, Kat? Sekarang lagi sibuk ngapain?”

“Sibuk di kantor, biasa,” Katya menjawab acuh. Ia selalu malas kalau topik tentang pekerjaannya diangkat. “Nggak ada yang spesial. Boring abis.”

“Tapi kamu manajer. Itu hebat banget,” puji Amira. “Di perusahaan mutinasional, lagi.”

“Yeah,” Katya bergumam. “Keren sih, tapi intinya tetep aja, buruh kapitalis,” kalimat ini disambut dengan cengiran lebar Erin.

“Makin keren aja kosakata lo, Kat. Dasar jenius.”

“Makasih.”

Mereka bertiga tertawa geli. Erin tertawa sampai perutnya kram. Katya meneguk wine sampai tandas dan terbahak-bahak lagi. Amira merasa wajahnya panas karena terlalu keras tertawa.
Malam semakin larut. Suasana masih hingar-bingar dan udara makin pekat oleh asap rokok, tapi di meja mungil di pojok ruangan, di sofa suede empuk berwarna maroon, ada kehangatan yang nyaman dan menenteramkan.

Erin mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. “Cheers for a beautiful life. And for our friendship. May it lasts forever.”

“Punya gue udah abis!” protes Katya.

“Gitu aja repot!” Erin menyambar gelas Katya dan membagi dua La Grande Dame-nya. Mereka tertawa sampai sakit perut. Semuanya sangat menyenangkan.

“Untuk persahabatan.” Amira mengangkat gelasnya.

“May it lasts forever,” ulang Erin.

“Amin.” Timpal Katya.

Gelas-gelas berdentingan, bercampur dengan tawa yang menggila saat Katya mengucapkan ‘amin’ dengan gaya khusuk.It’s a beautiful life. Indeed.
1st Chapter by Jenny

No comments: