Monday, March 23, 2009

The Smile

Dingin—

Angin musim dingin berhembus pelan merembes dinding kastil yang tebal. Pinggiran danau tampak mulai tertutupi lapisan es tipis yang tak lama lagi akan menutupi seluruh permukaannya. Suasana musim gugur yang coklat, muram, dan bergelimang daun-daun kering mati akan menghilang. Digantikan dengan musim dingin bersalju yang putih pucat, seakan-akan siap membekukan siapa saja yang dengan cerobohnya keluar ke udara terbuka tanpa dipersenjatai jubah hangat ataupun syal tebal.

Kastil itu berdiri kokok di atas bukit. Menjulang gagah menantang angin dingin yang menerpa dari setiap sisi bukit. Atapnya, yang dipenuhi salju putih pucat, seakan tak mau pernah kalah dari rendengan hujan badai salju yang ganas. Keenam menaranya menjulang tinggi menghadap langit kelabu musim dingin. Keempat menara tertingginya mencakar langit dan tak tergoyahkan hanya karena hembusan angin beku. Kastil itu, adalah bekas benteng Kerajaan Inggris pada abad ke-12. Kastil tua bernama Westmistress itu seakan tak lekang oleh waktu. Dinding-dinding tebal dari batunya tetap kokoh berdiri, tak tergoyahkan.

Kastil megah itu kini beralih fungsi menjadi sebuah institusi pendidikan terkenal di seantero Inggris bernama Buckingham Institue. Sebuah sekolah ternama di mana anak para bangsawan dan konglomerat Inggris mengenyam pendidikan. Kastil itu terbagi menjadi beberapa bagian—Sayap Barat, Sayap Tengah, dan Sayap Timur. Tiap koridor, lantai, dan lorongnya bernuansa abad Renaissance yang sangat kental. Banyak sekali ruangan di kastil itu, sehingga sangat cocok untuk dijadikan ruang kelas. Will berada di sayap utara sekarang. Menerima pelajaran sejarah, yang tentu saja, membosankan. Putra seorang bangsawan Duvall itu terkantuk-kantuk mendengarkan ocehan gurunya yang seperti dengungan lebah di depan kelas. Setidaknya Ia masih bisa bertahan. Tak seperti beberapa anak tolol yang dengan tampang idiotnya benar-benar tertidur beralaskan buku tebal terbuka yang, tentu saja, tergenangi ceceran air liur menjijikkan—tolol...

Perpustakaan adalah tujuan Will selanjutnya setelah pelajaran Sejarah yang membosankan. Hanya perpustakaanlah tempat yang menurut Will paling tenang, hangat, dan tak berisik. Bagaimana mau berisik? Nona Pince,—penjaga perpustakaan sekolah—terkenal sangat galak dan tak segan-segan untuk melontarkan pandangan tajam menusuk kepada siapa saja yang mencoba ribut dan berisik di perpustakaannya. Jadi mau tak mau para murid yang hendak berbicara harus rela memelankan suaranya hingga menjadi bisikan kalau tak mau menerima 'pandangan-tajam-menusuk' andalan wanita berperawakan kurus bagai burung Nasar itu. Will tak terlalu keberatan dengan peraturan itu. Karena pada dasarnya Will adalah anak yang hanya berbicara seperlunya. Ia juga suka menyendiri. Tenggelam dalam buku-buku tebal perpustakaan atau hanya sekedar duduk-duduk di taman. Sendirian tentu saja..

Namun tiba-tiba Will menangkap suara sesuatu ketika berada di koridor lantai 2. Syal hijau tetap melilit aman lehernya saat itu. Hangat. Tapi telinganya ditajamkan. Alunan lagu? Disaat seperti ini? Di sana tampak tak ada siapapun. Hanya ada Will yang berdiri sendirian sepanjang koridor. Sepertinya suara itu berasal dari salah satu kelas kosong yang ada di lantai itu. Seseorang atau sesuatu sedang memainkan gramaphone yang biasanya ada di tiap kelas kosong. Tapi, untuk apa? Oho— Will sudah bisa menebak, pasti untuk Pesta Dansa. Will sedikit mengernyitkan alisnya. Lagi-lagi latihan untuk Pesta Dansa konyol. Heran, semangat sekali sih gadis-gadis itu—?

Bocah berambut kecoklatan dan bermata kelabu itu sedikit berjingkat menuju ke arah pintu kelas kosong yang terbuka di ujung koridor. Will tak mau seseorang, atau sesuatu, itu mengetahui ada yang diam-diam mengintipnya. Seleret cahaya menyeruak keluar dari dalam ruangan itu. Menciptakan sebuah jalan cahaya berbentuk persegi yang memanjang dari lantai ke dinding. Will semakin dekat ke arah pintu itu. Dilongokkannya kepalanya sedikit. Hanya ingin tahu siapa gadis tolol yang melakukan latihan dansa konyol untuk pesta dansa dengan lagu aneh seperti ini—tak lebih. Dan Will akhirnya tahu, sesosok gadis tampak berdiri di tengah ruangan sambil melakukan gerakan-gerakan aneh—setidaknya aneh buat mata seorang Willard. Will hanya bisa mengamati gadis berambut pirang itu.

Lagu aneh dengan vocal suara seorang laki-laki yang berduet dengan suara melengking ganjil itu masih mengalun dari gramaphone. Sementara Will juga masih tertegun di depan pintu kelas kosong yang terbuka, memperlihatkan pemandangan yang tak kalah ganjilnya dengan lagu tadi. Seorang gadis, sendirian di kelas itu dan tampak sedang melakukan gerakan-gerakan yang membuat Will mengernyit. Seakan gerakan-gerakan itu bakal membuat siapa saja yang memandangnya pingsan seketika. Gadis itu berjoged sendiri diiringi dengan lantunan lagu ganjil tadi. Ha! Will berani bertaruh demi Kancut Para Politikus Korup, kalau gadis itu sedang melakukan suatu bentuk latihan dansa untuk menyambut Pesta Dansa yang diadakan sekolahnya tak lama lagi. Will kembali mengernyit keheranan. Bagaimana tidak? Seluruh kastil—bahkan di tiap sudutnya—dipenuhi oleh anak-anak yang gencar-gencarnya mengadakan acara 'Latihan Dansa'. Sebegitu pentingnyakah pesta itu?

Will masih tak mengerti untuk apa acara—yang menurutnya konyol—itu diadakan. Membina persatuan dan kesatuan? Jelas bukan, karena harus berpasangan kalau mau datang ke pesta itu. Dan itu hanya 2 orang. Kesatuan 2 orang? Pacaran? Weird— Selain itu yang boleh datang hanyalah murid tahun ketiga ke atas. Kecuali ada murid tahun ketiga yang memutuskan untuk mengajak adik kelasnya untuk berpasangan dengannya. Sekali lagi, itu konyol. Will bersyukur sekali kalau hanya tahun ketiga ke atas yang boleh menghadiri pesta itu. Maka dia tak bakalan terlihat sangat tolol karena dengan berani dan begonya turun ke lantai dansa dan, tentu saja, berdansa. Oh, Will tak bisa membayangkannya. Tak mau membayangkannya lebih tepatnya. Bagaimana bisa seorang Willard turun dan berdansa dengan seseorang di lantai dansa. Celaka tigabelas, berdansa pastilah bakal menjadi hal paling berani yang pernah Will lakukan selama ini. Berdansa? Tidak, terima kasih—

Will, bukannya kau tadi mau ke perpustakaan? kata suara di dalam kepala Will mengingatkan. "Iya, iya... Aku tahu.." timpal Will kesal. Siapa yang mau berlama-lama di sini? Bisa-bisa nanti terjadi sesuatu yang sangat tak diharapkan. Will harus segera meninggalkan tempat ini, ke tujuan awalnya. Will lalu berbalik, sambil sedikit berjingkat supaya gadis pirang itu tak sadar kalau ada Will di situ. Anggap aku tak ada, anggap aku tak ada—

Lagu yang mengalun kini berganti. Berubah menjadi lebih aneh serta ganjil. Suara melengking memenuhi ruangan itu hingga terdengar oleh telinga Will yang walaupun berada di luar ruangan tapi masih bisa mendengar lagu aneh tersebut. Sedetik kemudian, hal yang ditakutkan Will benar-benar terjadi. Gadis itu menyadari kehadirannya dan kemudian memanggilnya--meneriaki lebih tepatnya. Will cepat-cepat menoleh sambil sedikit berharap kalau gadis itu hanya sekedar memanggil. Tapi sekali lagi Will salah. Gadis itu telah dengan sangat cekatan dan gesit berpindah dari tempatnya berdiri dan berjoget di tengah ruangan, ke sebelahnya.

”AYO! Ikut berdansa denganku!” seru gadis bermata hijau gelap itu seraya menarik--secara brutal--salah satu lengan Will. Menyeretnya masuk ke tengah ruang kelas kosong. Di mana musik gramaphon terdengar makin keras dan jelas.

“What the—? Hei—,” seru Will. Ada sedikit nada kegetiran di suaranya saat itu. Hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Gadis itu mengajaknya berdansa—oh, kata 'memaksa dan menyeret' Will rasa lebih tepat untuk menggambarkan ajakan itu.

Will mencoba untuk melepaskan tangan gadis itu dari salah satu lengannya. Tapi terlambat, Ia telah berada di tengah ruangan sekarang. Gadis pirang bermata hijau itu tampak sedang berbahagia hati dan dengan sangat antusias mengajak Will bergerak mengikuti irama. Mengikuti gerak menunjuk aneh yang dilakukan gadis itu.

Pergi—pergi sekarang juga dari tempat ini, Willard! Tinggalkan gadis ini di sini. Biarkan dia melakukan hal konyol nan tolol bernama dansa itu di sini. Tanpa dirimu! Intruksi di kepalanya benar-benar bernada perintah, cemas, dan panik sekarang. Will tahu, kalau Ia berdansa, setidaknya bakal ada sepasang kaki yang akan gepeng terinjak kaki Will. Will, bisa dikatakan, idiot dalam hal satu itu. Maka Will hanya berdiri saja, memandang dan mengernyit ke arah gadis yang kembali mulai berjoget sesuai lagu bergenre disko itu. Will tak mau berdansa. Samasekali tak mau...

Tapi masalahnya, bagaimana Will bisa melepaskan diri dari situasi konyol ini? Yang Ia lakukan hanyalah terus memandangi gadis itu memperagakan gerakan-gerakan dansa lucu yang entah mengapa membuat Will makin membenci even Pesta Dansa sekolahnya yang akan diadakan pada malam Natal itu.

”Ayo bergeraklah. Jangan hanya diam seperti patung dong,” gadis itu kembali mengajak Will sambil tetap berjoged aneh. ”Jangan bilang kau tak bisa berdansa ya?”

”Tidak, aku hanya tak mau saja melakukan hal konyol seperti 'latihan dansa'-mu ini,” jawab Will dengan ketus. Uh-oh, tolol kau Will. Apa yang kau katakan? Kau bisa menyinggung perasaan gadis itu. ”Err—lebih baik aku pergi.”

Tapi—

Yang selanjutnya terjadi adalah hal yang paling tidak Will inginkan. Gadis itu seketika meraih tangan Will dan melingkarkannya di pinggangnya. He? Bisa dipastikan muka Will sekarang sudah memerah layaknya udang rebus mentega. Gadis ini gila! pikir Will. Apa yang akan dilakukannya? Benar-benar mengajaknya berdansa? TIDAAKK

”Hei, hei! Aku tak mau. Kau—apa-apaan ini?” Will mencoba melepas 'cengkraman' gadis itu, tapi tak tega. Sangat tak jantan kalau kau berlaku kasar kepada seorang gadis. Terlebih gadis itu, yang ada di pelukan Will, bisa dikatakan sangat manis.

”Ahaha... Relax, Mister—kita hanya berdansa. Tak lebih—,” sahut gadis itu sambil tertawa. ”—dan ngomong-ngomong, kau sudah dapat pasangan dansa untuk Natal besok? Mau datang denganku?”

Geez, sekali lagi, gadis ini benar-benar gila! Mereka kan belum saling kenal? Bagaimana mungkin gadis itu mengajak Will ke Pesta Dansa. Jelas saja Will merasa sangat canggung.

”Eng—apa maksudmu? Mengajak ke pesta dansa, eh?” tanya Will dengan masih melakukan gerakan berputar-putar di sekeliling lantai kelas kosong itu.

”Tentu saja, kau idiot! Yep—aku mengajakmu. Dan kalau kau mau, kau akan kulepas,” ujar gadis itu sambil menyeringai jahil. Sudah terlihat jelas, Will dipermainkan. Tapi ada sesuatu pada gadis itu yang membuat Will tak bisa menolak. Tanpa terasa pula sejak tadi Will dan gadis tak dikenal itu berdansa. Muka Will tentu saja masih memerah dan panas saking malunya.

”Kau bercanda kan?” tanya Will sambil menghentikan langkahnya. Sudah cukup dansanya. Ia merasa seperti udang rebus sekarang. Malu, tapi tertarik. Walaupun sebenarnya Will masih sangsi Ia akan nyaman berada di antara kumpulan anak-anak konyol yang menghadiri pesta dansa nanti. Tapi gadis ini, berani. Will, bisa dikatakan, sedikit terpesona dengan gadis pirang bermata hijau tua yang ada di hadapannya sekarang.

”Tidak. Dan sekarang, jawab ajakanku. Kau mau—atau tidak? Cepatlah, sebentar lagi pelajaran Aritmatika-ku akan segera dimulai. Coba kau tahu betapa mengerikannya guru yang mengajar pelajaran itu,” tuntutnya mulai tak sabar. Diliriknya jam di tangan kanannya sembari melepaskan pelukan Will di pinggangnya. Will sedikit lega mereka tak berada dalam posisi canggung seperti tadi. Hal ini memberikan dampak yang signifikan pada Will. Yang semula berbicara terbata-bata karena canggung, kini kembali jadi seperti Will yang biasanya. Tatapan dingin kembali ditampakkan oleh matanya.

”Uh—oke. Kalau kau memaksa,” jawab Will dengan nada yang sebisa mungkin Ia datarkan agar tak terdengar seperti orang yang gugup. Will tidak mau menjadi gugup hanya karena seorang gadis. Walaupun begitu, Will agaknya sedikit menyukai gadis itu. Terlebih senyum jahilnya. Suatu saat mungkin—akan terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Mungkin— ”Tapi, nama. Kita bahkan belum berkenalan.”

”Nama? Oh, aku lupa—," cengiran jahil itu kembali menghiasi wajahnya. Sesaat tampaknya wajah Will kembali memerah. Tapi Will buru-buru berusaha menguasai diri. Hei, kau kenapa Will? “—aku Louisa, panggil saja Lou.”

“Aku Willard—Willard Duvall. Panggil saja Will—”


* * * *


Tiga minggu berlalu sejak 'Insiden Latihan Dansa' itu terjadi. Sejak saat itu, Lou dan Will sering menghabiskan waktu senggang mereka bersama-sama. Hanya untuk sekedar duduk-duduk di taman, disela-sela pergantian jam pelajaran. Mereka membicarakan banyak hal bersama. Tentang keluarga Will, tentang keluarga Lou, semua. Bahkan mereka membicarakan keadaan Inggris yang notabene saat itu sedang mengalami gejolak Revolusi Industri. Obrolan berat diselingi dengan obrolan ringan dan senda gurau. Mereka mengobrol tentang apa saja yang dapat dilahap dan dikupas sebagai bahan obrolan. Apapun. Dengan begini keduanya akan bisa selalu mempunyai alasan untuk tetap bersama. Dan yang pasti, mereka menantikan saat-saat Pesta Dansa--well, hanya Lou yang antusias sebenarnya. Will hanya menuruti gadis itu.

Malam Natal telah tiba. Pelajaran-pelajaran pada hari itu ditiadakan. Anak-anak dipersilahkan menyibukkan diri berdandan untuk menyambut Pesta Dansa. Aula Besar kastil telah di dekorasi sedemikian rupa sehingga di sana-sini telah berdiri banyak pohon cemara besar yang telah dihiasi berbagai macam ornamen. Aula yang sebelumnya tampak muram dengan hiasan-hiasan dinding usang, kini berubah menjadi indah. Seakan disulap. Will sedikit kagum kepada para pendekor aula itu, lumayan. Para pemusik juga tampaknya telah didatangkan oleh sekolah dari London. Sementara itu anak-anak masih juga berseliweran kesana-kemari, Will masih tetap duduk-duduk santai di salah satu sudut aula yang belum di dekor. Lou berbicara cepat di sampingnya dengan seorang gadis. Mungkin temannya. Will tak mau menguping tentu saja, tapi pembicaraan kedua gadis itu terdengar jelas. Tentang gaun. Will hanya bisa memutar mata dan kembali memandang berkeliling. Obrolan wanita.

”Ayo, kita segera bersiap-siap. Ini sudah pukul 5,” kata Lou tiba-tiba. Bukan kepada teman gadisnya, melainkan kepada Will.

”Oke—aku tunggu kau di depan Aula tepat pukul 7,” kata Will. Kemudian kedua anak itu beranjak pergi dari aula. Menuju kamar masing-masing. Will ke kamar asrama putra di menara Utara, semnetara Lou ke kamar asrama putri di menara Selatan. Will sudah menyiapkan sebuah setelan jas hitam di kamarnya. Kiriman dari rumah. Sambil berjalan Will berharap, jubahnya tak terlalu konyol.


* * * *


Malam telah turun. Di kaki tangga berdiri seorang anak laki-laki. Bersetelan jas hitam mahal yang baru dikirimkan Mum-nya. Rambutnya ditata dan disisir rapi, tak seperti biasanya; berantakan, acak-acakan, dan tak terawat. Wangi-wangian semerbak menguar dari tubuh bocah berumur 16 tahun itu. Dengan gugup, Ia melirik arloji perak yang melingkar di tangan kirinya. Sepatu mengkilatnya, mengetuk-ketuk lantai batu dengan tak sabar. Bocah itu memandang berkeliling. Banyak anak-anak lain berseliweran kesana-kemari, mencari pasangannya di tempat yang telah ditentukan. Ya, seperti bocah itu.

♫♪And when you rise in the morning sun♫♪
♪♫I feel you touch my hand in the pouring rain♪♫

Alunan lagu mendayu terdengar dari arah Aula Besar, tempat di mana Pesta Dansa diadakan. Bocah itu makin gelisah dan makin sering melirik arlojinya.

”Gosh, dia terlambat—,” umpat bocah bersetelan jas itu.
Menit demi menit berlalu, bocah itu masih menunggu dengan sabar sementara yang lain sudah menuju ke Aula. Kakinya makin cepat Ia ketuk-ketukkan ke lantai sambil bersandar pada pegangan paling bawah anak tangga. Perasaan bocah itu campur aduk. Gelisah, gugup, bimbang. Haruskah Ia menghadiri Pesta konyol ini? Kemudian akhirnya, yang ditunggu menampakkan diri.

Di puncak tangga, berdiri seorang gadis. Gaun gemerlapnya berwarna putih pucat sepucat salju yang ada di luar kastil. Rambut gadis itu digelung ketat ke atas, menampakkan leher jenjang berhiaskan kalung cantik, secantik pemakainya. Gadis itu turun perlahan menghampiri si bocah yang kini berlagak memberengut, berusaha menutupi ketakjubannya melihat pasangan dansanya malam ini. Gadis itu tersenyum, tipe senyuman yang mungkin saja dapat menjinakkan seekor singa jantan.

”Kau terlambat, Lou—” ujar bocah laki-laki itu ketus. Meskipun begitu, wajahnya memerah entah kenapa. ”—sudah waktunya, ayo.”

Sorry—sepatuku, hampir-hampir tak muat,” kata Lou membela diri. Senyuman biasa tetap merekah di wajahnya.

”Uh, oke,” timpal Will sambil menyodorkan sebelah lengannya, bermaksud untuk diapit gadis itu. Keringat mulai menetes di pelipisnya. Tegang, gugup—

”Oke. Aku bersamamu—dan kau tak usah gugup. Dan berhentilah mengetuk-ketukkan kakimu, berisik,” Lou memasang senyuman lagi. Tapi senyuman yang lain, senyuman favorit Will, senyuman jahil khas Louisa. “Oh, satu lagi—ingat, jangan menginjak kakiku ya?”


♪♫And you come to me on a summer breeze♫♪
♫♪Keep me warm in your love♪♫

Will tak menjawabnya, karena yang dilakukannya selanjutnya adalah berjalan menuju pintu Aula sambil tetap menatap wajah gadis itu tak berkedip. Ia tak mau barang sedetik saja terlewatkan malam itu. Pesta Dansa bisa diatasi asal ada Lou di sampingnya. Will tak perlu khawatir akan mati kebosanan di dalam sana. Karena Ia sadar dan tahu pasti, gadis di sampingnya telah menjadi sesuatu yang berarti baginya. Seseorang yang mampu 'menjinakkan' seorang Willard. Seseorang yang senyuman jahilnya sangat didambakan oleh Will.

”Kau—ready?” bisik Lou lirih ketika mereka sudah tinggal selangkah lagi membuka pintu dan masuk ke Aula Besar. Ia mengapit tangan Will erat. Seakan tahu, kalau hal itulah yang akan selalu Will inginkan. Berada disampingnya. Selalu ada.

Wish me luck—“

Mereka berdua melangkah. Menuju alunan lagu merdu mendayu yang dimainkan para pemusik dari dalam aula yang diselingi dengan dengungan anak-anak yang mengobrol. Masing-masing mengapit lengan. Hangat. Mereka berdua berharap malam seperti ini tak pernah berakhir.

Malam kebersamaan mereka—

—fin—



Disclaimer : Cerpan ini terinspirasi dari sebuah thread RPG di Forum IndoHogwarts.co.nr yang berjudul “Let’s Get The Beat”—yang didalamnya berisi Galvatron Feargus (chara punya saiia) dan Louisa Napoleon (chara punya Talitha—tengs, sistah~). Alur dalam thread itu saiia tuangkan dalam cerpan saiia dengan sedikit banyak perubahan—antara lain penghapusan unsur sihir Hogwarts dan perubahan nama Galvatron Feargus menjadi Willard Duvall. Selain itu, keknya kredit 100% ke saiia selaku penulis… =P




1st Chapter oleh Reando Dika Pratama

No comments: