Tuesday, January 29, 2008

Dongeng Rujak

Pada suatu pagi, bawang putih yang merupakan anak tiri dari ibunya yang sekarang, Bawang Bombay yang perutnya gendut dan sangat montok, sedang mencuci baju kakak tirinya, Bawang Merah. Walaupun Bawang Putih berstatus anak, tapi dia lebih cocok disebut pembantu. bajunya kumal dan lusuh, dia tidur kamar yang lebih layak disebut sebagai gudang. dia tidur di atas sebuah tikar dengan hanya dilapisi kasur tipis dan sebuah selimut yang lebih tipis dari alas tidurnya. Di dalam kamarnya, dia berbagi ruangan dengan tikus-tikus kecil dan puluhan ekor nyamuk.

"Aduh, capek deh. banyak banget sih baju si Bawang Merah, mana kotor semua lagi, dasar! masa cewek hobinya beli baju? Yang bener aja? Kan kerjaannya jadi banyak!" gerutu Bawang Putih. Memang semenjak ditinggal mati ayahnya, kehidupan Bawang Putih sangat jauh dari menyenangkan.

"Apa?! Kamu enggak rela nyuci baju aku! dasar pemalas!!" rupanya Bawang Merah daritadi ada dibelakang Bawang putih dan ngedengerin semua gerutuan Bawang Putih.

"Maaf, kak! Bukannya enggak rela, tapi kan Bawang Putih juga masih banyak tugas. habis nyuci, Bawang Putih harus ngerjain tugas kalkulus kakak, terus benerin genteng, benerin listirk, bayar telepon, ke rumah Bang Cabe Ijo ngambil pesenan ibu."

"Oh, sebut semua! Sebut! Kamu pikir beli baju enggak pake perjuangan?! Aku tuh harus nyari baju yang terus up to date, biar enggak ketinggalan mode. Harus nyari baju yang belum pasaran tapi bagus dan murah. memangnya nyari baju itu enggak cape? Belum lagi sekarang kamu udah sering ogah-ogahan buat kerja jadi tukang bangunan lagi. memangnya aku bakal dapet duit darimana kalo kamu enggak kerja?!" teriak Bawang Merah.

"Ada apa ini? Ada apa ini?!" teriak bawang Bombay dari jauh.

"Ini Bu, si Bawang Putih ngedumel aja, disuruh kerja enggak mau!"

"Apa? Heh, kamu mau jadi anak durhaka? Mau dibikin jadi kayak tetangga sebelah hah? kayak si Malin Kundang itu? Mau kamu dikutuk jadi batu? Atau kamu pengen jadi kayak si Roro Jongrang, dikutuk jadi candi? Mau kamu?!" bentak Bawang Bombay.


"Ampun, Ibu, ampuni saya. saya enggak mau jadi ibu, eh, jadi batu! tapi Bu, pekerjaan saya banyak, apa enggak bisa kerjaan saya di kurangi? Kan Kak Bawang Merah banyak waktu luang juga?"

"Eh, jadi kamu nganggap aku pembantu kamu?" teriak Bawang Merah.

"Bukan gitu Kak, maksud aku, kalo kakak bisa ngerjain sedikit aja kerjaan kakak mungkin kerjaan itu bisa beres semua lebih cepet daripada semuanya ditugasin ke aku!" tangis Bawang Putih.

"Heh, udah jangan banyak alesan! Sudah kamu kerjain semuanya! Bawang Merah yuk kita ke mall, ada diskon buat celana kolor, lumayan buat nambah koleksi mama. Yuk pergi! dan kamu cepet kerja jangan males!!" teriak ibunya sambil pergi bareng Bawang Merah. Bawang Putih cuman bisa nangis, entah gara-gara sedih atau pedih matanya kena air sabun.


"Papa, kenapa Papa pergi ninggalin Bawang Putih? Bawang sendirian sekarang!" tangis Bawang putih, tapi tiba-tiba terdengar suara misterius!

"Punten! Ada orang?" rupanya Mister Ius, sang Bapak RT memanggil dari luar.

"Iya! Sebentar!"jawab Bawang Putih. Dengan baju yang sedikit basah, Bawang Putih dengan cekatan mambuka pintu yang besarnya minta ampun dan minta tolong.

"Eh, neng Bawang Putih, kebeneran. ini ada tamu yang nyari!" kata MIster Ius.

"Siapa ya, Pak?" tanya balik Bawang Putih.

"Enggak tahu. Tuh itu orang yang pake gaun warna biru, pake piring bolong di atas kepalanya, sama bawa-bawa tongkat!"

Bawang Putih melihat ke sosok yang ditunjuk oleh Mister Ius. Orang itu tamapk sangat kelelahan dan kacau balau, dilihat dari bajunya yang berantakan dan rambutnya yang sudah tidak beraturan.

Orang itu pun melangkah mendekati Mister Ius dan bawang Putih yang rupanya sangat keheranan dengan orang yang dibawa oleh Mister Ius.

“Selamat pagi! Saya adalah Peri Biru! Ini kartu nama saya. Saya datang dari negeri peri untuk membantu anda!"

Bawang Putih mengambil kartu nama yang disodorkan oleh orang yang bernama peri biru itu. Bawang Putih masih kebingungan dengan orang yang baru saja tiba di rumahnya. Peri Biru? Who the hell is she? Dia bukan sodara saya atau kenalan saya. apa dia temen saya waktu kuliah? SMA? atau Playgroup? Setahu saya enggak pernah ada temen yang kayak gitu.

"Duh, jangan bingung-bingung dong Bawang putih. Saya ini peri, enggak mungkin sekolah di dunia manusia. Saya sekolah di akademi Peri. Satu tingkat di atas langit kamu!" Oh, no! Now she can read my mind! And by the way, satu langit di atas duniaku? Hell yeah! Ucap Bawang Putih lagi dari dalam hatinya.

"Serius saya tidak becanda, kamu pikir peri itu tidak pernah ada? Kami ada dan kami ini nyata! Percayalah!"

"Baiklah, sepertinya enggak ada guna juga saya ngomong sendiri ke hati saya. Terus kenapa kamu datang kemari?"

"Untuk menolongmu tentu saja. Apalagi?"

"Menolong dari?"

"Ibu dan saudara tirimu. what else?"

"Ok, ini seperti sebuah cerita dongeng. bisa kau buktikan?"

Peri biru cuman bisa mengangguk, dia menggoyangkan seikit rongkatnya, dan boom! semua kotoran, debu, dan barang-brang kotor yang harus dibersihkan oleh Bawang Putih jadi berisih dan rapih.

"Wow! Thats great! It's just like David Copperfield!"

"Udah percaya?" Bawang putih ngangguk enggak percaya.

"OK then, saatnya buat kamu sedikit berubah"


"Berubah? Jadi seperti Ksatria Baja Hitam begitu? Atau jadi Power Ranger??? Boleh engga jadi Sailor Moon?? Aku pengen jadi Sailor Neptunusnya dong!!!"

"Oh sayang, bukan dong! Plis deh! Berubah, dari putri kucel dan dekil, jadi putri yang anggun dan cantik tentunya."

"Hah? Buat apa?" Tanya Bawang Putih hilang.

"Kita pesta sayang! Rave party! Dugem! Ajojing sampai pagi!!! Jangan katro gitu. Ayo kita keluar! Enggak bosen diem di rumah ini terus kan? Sekalian nyari jodoh di acara pesta kerajaan ntar malem. Kamu harus ikut!"

"Hmm...iya deh bu peri!" jawab Bawang Putih.

"Ibu? Plis deh, im only 23. jangan panggil ibu. panggil aja, Mbak!"

"OK deh, Mbak Peri?"

"Nah, gitu kan enak. Nih kostum Yey, ntar kita party, aku jemput kamu. Sekarang Eik, mau ke salon dulu ye bo. Ntar dijemput!"

"Iya deh, klo gitu Bawang putih kerja dulu ya?"

"Ya udah sana!" Cring! Tiba-tiba Peri Biru ganjen tadi menghilang dari hadapan Bawang Putih bersama Mister Ius juga.

"Peri sableng! Pak RT dibawa juga. Ya udah gawe dulu ah, sumur belum digali!"

Hari sudah menjelang malam. Bawang putih sudah menunggu resah kedatangan si Peri Biru yang tidak nampak-nampak juga, padahal dia sudah siap untuk pergi karena kakak tiri dan ibu tirinya sudah pergi terlebih dahulu ke acara pesta yang rupanya mengundang seluruh rakyat di negerinya.

”Aduh, si Peri ke mana sih? Kok lama banget?" tanya Bawang Putih sambil menunggu dengan resah.

Tok..tok..tok.. ada orang yang mengetuk pintu. Bawang Putih bergegas membuka pintu.

"Peri lama banget sih? Udah jamuran nih nunggu."

"Aduh, jeng, jeng. apa enggak tahu kalo tadi tuh macet?"

"Kenapa enggak naik ojek?"

"Ojeknya penuh terus."

"Kenapa enggak nelpon?"

"Enggak punya pulsa, belum gajian."

"Kenapa enggak pake XL?"

"Ih, promosi. udah ah, hayu cepet sebelum kemaleman. eh tapi masa kamu mau pake sepatu butut gitu buat ke pesta?" ucap peri biru sambil melihat sepatu butut milik bawang putih.

"Enggak punya lagi Peri,"

"Oh, i see, ya udah aku kasih sepatu baru yah.." Tring..tring...tring.. cahaya biru langsung memenuhi ruangan, sebuah sepatu kaca tergeletak di atas tanah.

"Wah, sepatu kaca!!! Keren banget Peri!"

"Ya iya lah, masa ya iya dong? ya udah cepet pake"

"Tapi kok merknya Swallow?"

" Kamu berharap apa? Converse? atau Vans? Sepatu Itu sebenernya sendal kamu yang aku sihir. makanya merknya sama."

"Oh pantes." ucap Bawang Putih.

"Ya udah cepet, ntar keburu malem, kamu enggak boleh pulang lebih dari jam 12 malem, kalo kmu pulang lebih dari jam 12 malem, ntar sihirnya engga guna."

"Oke deh Kakak! Terus kita ke sananya pake apa?"

"Naik ojek aja yah, macet soalnya,"

"Enggak pake sihir-sihiran lagi? Ngerubah tikus jadi kereta kencana gitu?"

"Aduh, plis deh! Ini 2008! Masa pake kereta yg begituan? Sekarang lagi jamannya Hybryd, bukan kereta kencana."

"Terus kenapa enggak pake mobil Hybryd?"

"Mahal, enggak kebeli, nyihir juga jaman sekarang pake pulsa tau!"

"Ya udah, mari cap cus peri!"

"Yuk, bos. OJEEKK!!!!!!" teriakan peri biru mengawali malam itu.


1st Chapter by: Riyan Ridwan Sugandy

1 comment:

GagasMedia said...

Bawang Putih gaya baru. Terinspirasi sama cinta laura kah?
hahahaha