`1`
' good morning mr. Fear...'
(Larc~en~ciel – Lose control)
sungguh nyanyian riang dari alarm weker itu, begitu mengganggu sang putri tidur yang sedang mimpi indah ketemu sang idola pujaan hatinya di warnet sehingga terpaksalah bangun untuk memusnahkan alarm sialan tersebut dan kembali keperaduan.
Entah kenapa hari itu sepertinya putri tidur sangat malas sekali untuk menyingkirkan selimut yang selalu melindunginya dari suhu dingin di pagi hari --sejak liburan beberapa minggu lalu telah meneriakkan kemerdekaannya, menjadikan sang putri tidur ingin sekali melanjutkan mimpi yang menurutnya indah tadi, namun...
TOK!TOK!TOK!
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketuk dengan biadab.
"Pan...! PANI...! geura hudang, geus jam genep yeuh...! mau sekolah gak?!” suara teriakan yang terdengar membahana ke seisi ruangan itu datang dari seorang mamam yang manggil-manggil nama putri tidur dengan sebutan Fanny. Sepertinya sang ibu berhasil membangunkan Fanny daripada alarm wekernya yang sudah di set sedemikian rupa. Terbukti, Fanny terlonjak dari kasur dan menghempaskan selimut bulu dombanya.
”jam enam?! Perasaan tadi baru jam
“PANI...! udah bangun belum, nanti kesiangan...!”
“Udah!” sahut Fanny sambil blingsatan nyari peralatan mandi yang lupa dia taruh dimana “duuuh....pasti kesiangan nih, mana ada upacara lagi, ck ah!” kesal Fanny yang segera melesat menuju kamar mandi. Namun begitu, tempat yang dituju Fanny sudah keduluan diisi orang lain.
“Woi...! makhluk yang ada didalam cepetan mandinya!” Fanny berteriak sambil mengetuk kamar mandi sebanyak 666 kali seolah hal itu dilakukan Fanny sebagai salah satu ritualnya.
“tunggu
Dari suaranya Fanny hafal betul kalau yang didalam kamar mandi adalah adiknya.
”Apa?!
“Sepaket kak sama BeABe...!” jawabnya.
Fanny suka heran sama adiknya, entah kenapa dari balita sampai sekarang sukanya mandi lama-lama, padahal adiknya itu cowok. Sebenarnya Fanny tahu kalau ada sebagian cowok yang suka mandi lama-lama. Tapi saat itu, tak mungkin juga menunggu adiknya mandi sampai
”
“iiih...! itukan penganiyayaan namanya!”
“Terseraaaah!”.
Apa boleh buat sambil menunggu si adik yang kayaknya sedang mandi kembang tujuh rupa, Fanny lari ke dapur, memanfaatkan waktu untuk sarapan terlebih dahulu.
“Toni! Udah
“Traktir gue ya! Awas kalo enggak...!” mendengar hal itu, Toni menatap kakaknya dengan amazing.
”Eh? Kok minta di traktir sih, gue
“Toni kam tau? gara-gara elo kayaknya gue gak sempet sarapan adikku...” desis Fanny di telinga Toni
“Ah!masa?”
“Eh, beneran tau!” Fanny bohong.
“Trus kalo gue gak mau trkatir kakak gimana?” Toni tampak menantang sang kakak.
“Ow...gue bakaln kerjain elo di MOS nanti...” sepertinya tanduk di kepala Fanny muncul tiba-tiba. Karena pada kenyataannya Fanny gak ikutan jadi panitia MOS dan gak akan pernah. Fanny malas saja harus mengembalakan anak-anak baru, apalagi sang adik juga menjadi bagian dari murid baru itu.
Toni memang baru masuk SMA dan dia memilih SMA yang sama dengan Fanny. Padahal dengan IQ-nya yang diatas rata-rata itu, Toni bisa masuk ke sekolah favorit yang berdaya saing tinggi. “...biar deket aja,
“he..he...he...” tenang kakaku nanti gue traktir kupat tahu kesukaanmu...” katanya.
“siip” Fanny mengacungkan jempolnya tanda setuju. Tidak percuma Fanny menyia-nyiakan waktunya untuk memenagkan pertandingan debat gak penting dengan Toni. Namun tiba-tiba kegembiraan yang baru saja didapatnya, sirna seketika setelah Fanny melongokkan kepalanya ke dalam bak mandi yang ternyata airnya surut, sedang keran yang dia putar-putar sedemikian rupa itu, hanya dapat meneteskan satu tetes air saja pada bak mandi. “Siaall...pantesan aja dia cengar-cengir gak jelas...!”
***
'...ku akui ku main hati...'
(Andra and The Backbone – Main Hati)
bel gaul sekolah Fanny berbunyi. Untunglah, akhirnya Fanny sampai disekolah tepat pada waktunya. Lalu, apakah Fanny pergi sekolah mandi dulu? Tentu saja, akibat PAM dirumahnya mati, Fanny kepaksa pakai air galon buat mandi. Dengan segala alasan dan rayuan romantis serta dramatis, Fanny menyakinkan ibunya yang super ekonomis itu buat pakai air galon. Padahal kata ibunya, Toni sudah diberi titah untuk berbagi air dengan Fanny, tapi ternyata Toni malah membuat ludes hampir seluruh air di bak. “Awas aja kalo gue ketemu sama batang hidungnya...” hati Fanny komati-kamit sambil melirik kiri-kanan mencari tersangka utama yang hendak diburunya.
Dari upacara mulai sampai acara MOS berakhir, Fanny gak nemu-nemu Toni yang utang kupat tahu padanya. “Fanny...!” seorang cewek berwajah manis dengan rambut style Cangcuter memanggil Fanny dengan nada cempreng dan berjalan kearahnya.
“Eh, Niky, ke mana aja lo, pasti elo kesiangan ya!?” tebak Fanny
“He-he..iya nih, kirain gue masih nih hari masih libur gitu...” jawabnya, “Ow iya, elo masuk kelas mana Fan...”lanjutnya.
“XI-4...”
“Oh, elo masuk IPS ya...?”
“Eh?! Masa sih...?”
“gi mana sih lo, XI-1 sampai 4 itu
“ Lho, gue
“ya, kagak tauh gue, sebaiknya elo tanyain aja ke bu Oneng ...”
“Ck, ya udah, sekarang elo anterin gue ke Bu Oneng...”
Diruang guru, Bu Oneng sedang menyantap kupat tahu membuat Fanny makin teringat akan janji si Toni yang mudah-mudahan saja bukan janji-janji surga belaka. Niky menyikut Fanny, menyadarkannya bahwa dia harus meminta pertanggung jawaban Bu Oneng.
“Ehem...maaf bu...” kata Fanny mencoba mangalihkan Bu Oneng dari kupat tahu yang nyaris saja masuk kedalam mulutnya. Bu Oneng pun melirik Fanny yang sudah berdiri dari tadi di samping meja bu Oneng.
“Eh, Fanny...ada apa Fan...?” Bu Oneng memang sudah tidak asing lagi pada Fanny, karena waktu kelas satu fanny pernah menjabat sebagai ketua kelas yang mau tak mau selalu dijadikan tumbal untuk sering menghadap wali kelasnya yaitu Bu Oneng semata.
“jadi begini bu...” lalu Fanny pun mulai menceritakan duduk perkara yang telah menimpanya.
“Aduh, Fan...ibu teh minta maaf, waktu itu ibu salah masukin nama kamu...” Fanny melihat wajah bu Oneng yang menyesali perbuatannya.
“Tapi bu apa gak bisa diusahain gituh...” Fanny berusaha memelas sama bu Oneng.
“Iya, ibu juga udah usahain supaya kamu bisa pindah ke kelas IPA , tapi di kelas IPA udah kepenuhan malah ada yang sampai sekelas 50 orang...”
“Jadi saya gak bisa masuk IPA dong bu...”
“yah, mau gimana lagi Fan...sekali lagi ibu minta maaf ya Fan...” mendengar hal itu Fanny jadi gak tega buat maksa-maksa bu Oneng. Akhirnya Fanny keluar dari ruang guru tanpa ada hasil yang memuaskan. Melihat temannya yang sedang dirundung
***
“Ck! Masa Cuma salah masukin nama gue jadi gak masuk IPA cing...”
“…udah lah Fan, IPS juga bagus kok…”kata Niky.
“Yah…gue sih gak apa-apa gak masuk IPA pada dasarnya gue juga gak suka ngitung-ngitungan...tapi ortu gua pengennya gue masuk IPA ky...yaah, ceritanya gue pengen bikin bangga ortu gue gituh...”kata Fanny begitu sampai di kantin dan terduduk dibangku dengan lesunya.
“ya, iya sih, gue juga alesannya masuk IPA karena ortu juga, tapi gue suka sama fisika Fan, jadi ya gak ada salahnya masuk IPA...”
“Tuh,
“Yah, gimana sih lo, tunjukin aja ke ortu lo kalo di IPS lo bisa berprestasi...! lagian IPS juga gak jelek kok...!”
“Ok! Gue tau itu, tapi masalahnya Ky, menurut gossip yang beredar, si Frita and the gank juga masuk IPS cing! Lo tau
”Ow, jadi lo takut didskriminasi sama mereka...?”
“Ya...kasarnya sih gituh...” suka gak suka Fanny harus mengakui kekhawatirannya itu.
“Di IPA lo gak suka ngitung, di IPS takut sekelas sama si Frita...”Niky mengelus-elus dagunya menandakan bawah dirinya tampak sedang berpikir,
“Gini aja deh...lo pilih mana, mending di didiskriminasi secara intelektual atau mending lo didiskriminasi secara keeksistensian...?” lanjutnya. Mendengar pertanyaan yang diajukan Niky itu, Fanny melongo. Biasanya Fanny selalu melihat Niky yang cengar-cengir tak tentu keadaan, dengan kata lain gak ada serius-seriusnya. Namun, giliran dia serius bukannya membuat Fanny Down to earth malah jadi Down to Flood.
“OK! Kalo gitu gue milih keluar sekolah aja deh...”
No comments:
Post a Comment