Monday, August 3, 2009

Masih Pagi

Masih pagi. Dan hujan. Orang-orang enggan beranjak dari tempat tidurnya. Menarik selimut mereka lebih panjang agar dingin yang menyeruak tidak terlalu kentara terasa. Kembali bersenandung pada mimpi-mimpi tanpa memedulikan tugas-tugas yang akan menanti sebentar lagi.

Namun, ada beberapa orang yang telah bersiap-siap ke tujuannya masing-masing. Merapikan pakaian mereka yang terhembus angin. Menunggu dengan resah kali-kali aja supir angkotnya juga ogah-ogahan narik lantaran keenakan tidur.

Hujan masih menitik. Walaupun tinggal setetes-setetes lambat, tapi tetap saja membuat orang-orang tak tenang. Pasalnya langit masih begitu hitamnya. Pertanda hujan masih lama berlalu.

Orang-orang menjulurkan kepalanya bergantian pada sebuah halte. Beberapa menggosok-gosok tangan mereka agar tetap hangat. Beberapa lebih memilih memegang bawaan mereka erat-erat agar tidak tersapu angin kencang.

Salah satu yang juga menunggu dengan resah adalah Seiry. Seragamnya nyaris basah kuyup dalam perjalanan ke halte. Jauh memang jarak yang harus ditempuhnya dari rumah dan tidak ada angkot yang lewat di sekitaran kompleknya. Maklum, komplek kumuh. Jalanannya sempit dan becek. Hujan sedikit, banjir. Makanya ia menenteng sepatunya dan memakai sandal. Bisa-bisa sepatunya juga ikutan basah kuyup. Jaket lusuhnya dibiarkan terbuka karena resletingnya sudah rusak. Lumayan untuk menahan dingin.

Akhirnya angkot yang ditunggunya datang. Seiry menghembuskan nafas lega. Ia segera beranjak naik. Tidak berapa lama angkot yang ditumpanginya berangkat ke tujuan.

Seiry melirik jam tangan pria di sebelahnya. Ia tau ia akan telat sepuluh menit dan si Bos bisa marah besar. Tapi ia punya alasan. Hujan. Semoga saja si Bos bisa mentolerir. Lagi pula tidak ada alasan si Bos untuk marah-marah. Selama ini penjualannya bagus. Sangat bagus malah di antara pegawai yang lain. Ia berhasil membuat si Bos tersenyum setiap ia datang melaporkan hasil penjualannya sepulang sekolah.

“Kiri, Bang!”, teriaknya pada si supir. Serentak abang supir menepikan angkotnya.

Seiry turun dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada si abang supir.

Lalu ia menuju ke salah satu ruko yang menjual alat-alat elektronik.

“Lapan menit, Ry.”, ujar pria bertubuh mungil ketika Seiry sampai di dalam.

“Gue tau, Bos. Sori, tadi ujan. Angkot-angkot jadi lama nyampenya.”, jawab Seiry.

Pria yang dipanggil si Bo situ hanya tersenyum tipis.

“Nih.”, si Bos menyodorkan barang jualannya pada Seiry. “Kali ini lebih banyak. Si Big Boss menaikkan target penjualan. Gue harap lo bekerja lebih keras. Kalo lo berhasil jual habis semuanya, lo dapet bonus.”

Segera Seiry memasukkannya ke dalam tas. Lalu ia pergi.

X

Langit masih hitam, tapi hujan sudah reda dari tadi. Masih terasa gelap memang, tapi jaket-jaket warna-warni murid-murid sekolah membuat keadaan sedikit lebih baik.

Jaket-jaket dengan beraneka gaya dan pastinya tidak murah.

Seiry tersenyum miris menatap mereka. Ini memang sekolah mahal dan pantas jika yang ada disini adalah anak-anak berduit. Sah-sah saja mereka memakai barang-barang mahal. Tapi bukan itu yang Seiry tertawakan. Yang ia tertawakan adalah betapa tak tau dirinya mereka. Bergaya memamerkan harta orang tua sedangkan masih banyak anak-anak yang harus kerja ekstra untuk makan dan sekolah. Termasuk dirinya.

Dulu, tepatnya dua tahun lalu, Seiry juga seperti mereka. Mode adalah nomor satu. Tetapi semuanya berubah drastis. Papinya ketahuan korupsi dan dipenjara. Karena tidak tahan malu, papinya bunuh diri di dalam bui. Menembakkan pistol ke kepalanya sendiri. Sedangkan maminya, kabar terakhir yang didengarnya, dia pergi ke Thailand. Ada lelaki hidung belang yang sudi memeliharanya sebagai wanita simpanan. Seiry tidak heran. Dari dulu ia juga tau kalo mami menikahi papi hanya karena harta. Sampai detik papi terbujur kaku, tidak ada setitik pun air mata menghiasi pipinya. Setelah dia tau kalo semua aset keluarga harus disita untuk melunasi hutang dan tidak ada sepeserpun yang tersisa, dia pergi begitu saja. Meninggalkan anak perempuannya seorang diri.

Dan Seiry harus bertahan sendiri. Menyambung hidupnya. Karena tidak ada alasan untuk mati. Apalagi mati bunuh diri seperti yang dilakukan papinya. Itu sama saja mengakui kalo ia emang sama seperti papinya.

X

Suara cekikikan cewek-cewek di depannya membuat Seiry jengah.

“Heh, elo semua bisa pada diem gak? Ini pustaka, bukan kantin!”, ketusnya.

Cewek-cewek itu malah saling menatap lalu menaikkan sebelah alis mereka.

“Dulu, elo boleh sok berkuasa. Tapi sekarang enggak! Bokap lo itu udah mati! Bunuh diri lantaran malu ketauan korup! Kenapa sih, elo gak ngikut bokap lo aja? Jadi sekolah ini bisa tenang karna gak ada orang-orang sok kayak lo!”, sahut salah seorang di antara mereka.

Kontan Seiry melempar buku-buku yang tengah dibacanya dengan geram. Buku-buku itu cukup tebal sehingga cukup membuat mereka menjerit histeris. Takut ketimpa.

Mereka berhamburan.

“Sakit jiwa lo emang! Anak besar hasil korup!”, teriak yang lain.

Perih. Seiry menyentuh jantungnya. Berdegup sangat cepat. Mukanya telah tercoreng sempurna dan tidak mungkin kembali bersih.

Ayah sialan! rutuknya dalam hati. Lihat apa yang kau tinggalkan untukku! Hanya rasa malu! Ia mengupat.

“Ser….”, seseorang memanggilnya. Seiry berbalik.

Bimo. Anak IPS

Seiry mengehentakkan kepala, mengisyaratkan ada apa.

“Gue butuh ni…”, ujarnya.

“Lo nambah?”, tanya Seiry sambil beranjak keluar.

“He-eh.”, angguk Bimo, ngekor.

Cewek berkaca mata itu berhenti di depan kelasnya.

“Berapa banyak?”, tanyanya pada Bimo yang mulai ngebersit-bersit hidungnya.

Double, deh.”

Seiry masuk dan membuka tasnya. Dikeluarkannya dua bungkus snack kentang. Ia menyerahkannya pada Bimo.

Cowok hitam itu tersenyum sumringah.

Thank’s, ya! Ntar di siomaynya Pak Aryo!”, ucap Bimo buru-buru pergi ke belakang sekolah.

X

Bel pulang berbunyi. Anak-anak menghembuskan nafas lega. Hari masih sangat dingin dan langit masih kelam. Tampak sekali mereka begitu bersemangat hari ini.

Guru-guru segera menyudahi pelajaran mereka. Anak-anak berhamburan keluar. Memadati koridor-koridor dan menyerang georbak-gerobak yang berjejer di pinggir jalan.

Seiry, cewek 18 taun itu menyimpan jaket lusuhnya ke dalam tas. Snacknya tinggal tiga bungkus lagi.

Sebelum ke siomaynya Pak Aryo, Seiry mampir dulu ke kantin. Mengambil barang dagangannya.

“Mbak Atik, abis gak daganganku hari ini?”, ia melongok ke baskom di seberang meja jualan Mbak Atik.

“Yang abis cuma snacknya aja, Ser. Kuenya nyisa ni.”, wanita usia duapuluhan itu menyerahkan baskom merah Seiry berikut uangnya.

“Yahh….Makan kue lagi deh, gue male mini.”, kata Seiry lesu.

“Kok kue gue gak pernah abis ya, Mbak Atik? Apa kurang enak kali, ya?”, Seiry bertanya bingung pada Mbak Atik. Yang ditanya hanya mengangkat bahu.

“Ya udahlah, gak pa-pa. makasih ya, Mbak! Aku cabut dulu. Anak-anak pasti udah nungguin aku di gerobak Pak Aryo. Laper ni. Apalagi ujan-ujan gini.”, Seiry melambai pada Mbak Atik. Wanita berambut sebahu itu balas melambai.

“Pak Yo, siomaynya dunk!”, teriak Seiry segera ketika tiba di gerobak siomaynya Pak Aryo, langganannya.

Pak Aryo mengacungkan jempolnya. Dengan cekatan ia memotong-motong bahan-bahan siomay. Dalam hitungan detik, siomay pesanan Seiry sudah siap.

“Nih, pesenan Nak Seiry. Hari ini Bapak kasih bonus. Paket jumbo.”, pria paruh baya itu menyerahkan sepiring siomay pesanan Seiry.

“Wah, Pak, makasih banget, ya! Ada apaan ni?”, Seiry sumringah. Ini rejeki. Dan rejeki gak boleh ditolak.

“Kemarin dagangan Bapak diborong sama orang bermobil mewah. Dia ngasih Bapak uang lebih.”
“Tapi bayarnya tetep seporsi kan, Pak?”, cengenges Seiry.

“Pak Yo, masak Seiry aja yang ditraktir? Kita-kita?”, celetuk Dadang.

“Ya sabar. Nanti kalau ada rejeki lebih lagi Bapak traktir. Lagian di rumah, pasti sudah disiapin makanan buat kalian. Seiry kan endak.”, jelas Pak Aryo.

“Lo denger tu semua. Lagian pada sirik amat sama gue?”, diusirnya segera sedikit perih di hatinya mendengar kata-kata Pak Aryo barusan.

“No, lo yang bayar, kan?”, Seiry menoleh pada Wino.

“Giliran gue, ya?”, tanya Wino polos.

Semua mengangguk serentak. Wino mengacak-ngacak rambutnya.

“Pak, terima kartu kredit gak? Wino gak bawa cash ni.”, tanya Wino. Masih dengan tampang lugunya.

“Ngapain lo makan kalo gak bawa duit?”, Bimo memukul kepala Wino.

“Aduh, sakit tau! Gue kirain hari ini jatahnya Alfin yang nraktir Seiry.”, Wino mengusap-usap kepalanya.

“Enak aja lo!”, teriak Alfin gak terima. “Si Lemot ini emang lah….”, kali ini Alfin yang memukul kepala Wino, tapi gak sekeras Bimo.

Mereka serempak tertawa. Wino emang paling enak dikerjain. Dia yang paling sering dijadiin bahan lucu-lucuan sama anak-anak.

“Ser, gue mesti cabut duluan ni.”, Galuh, cowok berambut cepat itu merogoh kantongnya. “Nih utang gue.”, dia menyerahkan beberapa lembar uang pada Seiry.

“Gue cabut, ya? Pak Yo!”, pamit Galuh.

“Kalian ini kok suka banget ngutang sama Seiry? Abis beli itu bukannya langsung bayar.”, ujar Pak Ayo menasehati mereka.

“Abisnya si Seiry ini gak mau dibayar langsung di sekolah, Pak.”, sahut Dadang.

“Iya, Pak Yo. Aku suka was-was bawa duit kemana-mana lama-lama. Kalo gini kan enak. Abis ini langsung pulang.”, Seiry segera menimpali.

“Emangnya Nak Seiry jual snack apaan, sih? Kok kayaknya semua pada suka.”, tanya Pak Aryo sambil memungut piring-piring mereka.

Semua kontan terdiam.

“O….Itu, Pak Yo….Umm…Cuma snack biasa aja kok. Tapi import punya. Jadi agak mahal dan gak sembarangan ada.”, celoteh Seiry tergagap.

“Kalau begitu, Bapak pengen juga donk sekali-sekali nyicipin snacknya Nak Seiry? Masih ada gak?”

“Wah, abis, Pak Yo! Yang nyisa cuma kue.”, cepat Seiry menjawab.

“Itu masih ada.”, tunjuk Pak Aryo pada baskom merah Seiry.

“Oh…Ini? ini udah ada yang pesen.”, ucap cewek berambut ikal itu buru-buru. “Si Farid. Tau kan, Pak Yo?”

“Yang rambutnya keriting-keriting, pake kacamata trus kemana-mana bawa-bawa buku. Yang itu bukan?”, Pak Aryo menerka-nerka.

“Iya, yang itu.”, angguk Seiry.

Ia dan temen-temennya bernafas lega.

X

Seorang cowok bertubuh tinggi dan tegap menjajari langkah Seiry. Menghampirinya.

“Masih ada?”, tanyanya. Seiry menoleh. Mendongak karena cowok ini jangkung.

“Apanya?”, ia membetulkan letak kaca matanya.

“Itu….”

“Itu apaan?”, alis Seiry terangkat sebelah.

Snack.”, jawabnya.

“Lo pikir gue kantin? Gue gak jualan snack. Gue jualan kue dan udah gue taruh di kantin.”, ucap Seiry langsung.

Pantang baginya menjual snacknya pada orang asing. Bisa-bisa dia mata-mata.

Seiry melanjutkan langkahnya.

Cowok itu mengejarnya.

“Gue biasanya ngambil sama si Bos. Tapi katanya mulai sekarang gue harus ngambil sama elo.”
“Lo ngomong apa? Gue gak ngerti!”

“Gue udah parah. Gue harus make tiga kali sehari. Sama kayak makan nasi. Tadi pagi gue gak dapet. Gue udah gak sanggup nahan lagi.”

Seiry berhenti. Berbalik. Mendongak.

Memang benar. Muka cowok di hadapannya ini pucat. Dan dia menggigil kedinginan.

Seiry menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Parah lo.”, ungkapnya prihatin.

X

Langit masih mendung. Sama seperti kemarin.

Seiry duduk, merapatkan punggungnya ke dinding. Memeluk lututnya. Menengadah ke langit kelabu.

“Udah lama?”, Seiry bertanya pada cowok di sebelahnya yang mulai bisa mengontrol diri.

“Kelas lima SD.”, sahut cowok itu.

“Parah lo.”, Seiry tertawa pelan. “Bener-bener parah.”

“Bosen idup lo, ya?”, Seiry menoleh.

“Elo?”, tanya cowok itu balik.

“Lo kok balik nanya? Lo gak sayang lagi sama diri lo? Padahal lo lumayan ganteng loh…”

“Lo naksir?”, mereka saling bertatapan.

“Haa?”, Seiry tertawa ngejek.

“Mungkin. Bisa dibilang gitu. Gimana kita bisa sayang sama diri sendiri kalo kita gak ngerasa disayangin sama orang-orang sekitar kita.”, ucap si cowok lirih.

Broken home, ceritanya?”

“Enggak juga.”, cowok itu menggeleng.

“Lalu?”, tanya Seiry sekedarnya. Ia tidak ingin tau, tapi ini salah satu cara baginya supaya pelanggannya gak pergi gitu aja.

“Buat apa cerita ke elo? Apa itu berguna?”, si cowok menatapnya tajam. Seperti terusik mimpi buruknya.

“Emang gak berguna. Lagian gue cuma iseng nanya sama lo.”, jawa Seiry datar.

"Lantas?"

“Lantas apa? Ya udah kalo lo gak mau cerita. Yang jelas lo bakalan tetep ngerasa sendirian kayak gini.”, Seiry turun dari meja yang didudukinya. “Sepulang sekolah ntar, lo mampir aja ke gerobak siomaynya Pak Aryo, tau lo, kan? Gue bisa nongkrong di sana. Nungguin setoran dari pelanggan. Gue tunggu lo di sana.”

“Gue udah dua taun bisnis ginian dan gue dapet banyak temen yang sama-sama ngerasain dibuang, diacuhkan, dibenci. Walaupun mereka semua pemake, tapi masih ada rasa kebersamaan di antara kami.”, Seiry menyapu poni rambutnya ke belakang. Lalu ia pergi meninggalkan cowok itu sendirian. Berjalan hati-hati pada tepi parit. Menuju ke halaman depan sekolah.

X

Sama seperti hari-hari lainnya, Seiry dan temen-temennya nyempetin diri buat ngumpul di gerobaknya Pak Aryo. Ngisi perut dan ngobrol-ngobrol sebentar sebelum pulang.

Kali ini keliatannya Dadang yang lagi punya masalah. Mereka semua duduk membentuk lingkaran. Sedangkan Pak Aryo sibuk melayani pembeli yang lain.

“Rasanya gue mu mati aja. Bunuh diri, mungkin.”, Dadang menghela nafas. Suaranya udah gak bersemangat.

Seiry mengetok kepalanya. Kontan Dadang mendongak.

“Bego lo, ya!”, ucap Seiry sambil mengunyah kentangnya. “Baru jadi kayak elo aja udah mikirin bunuh diri, apalagi jadi kayak gue.”

“Ser….”, panggil Bimo. Cowok itu menggeleng pada Seiry. Ia tau masalah Seiry yang paling berat di antara mereka. “Jangan dibahas.”

“Gue bukan mu ngebahas atau minta rasa kasian elo semua atas apa yang nimpa gue. Atau seolah-olah jadiin kalo masalah gue adalah masalah terberat di seluruh dunia. Gue cuman mau elo semua sadar. Kita semua temen. Kita masih bisa pegangan satu sama lain.”, ia menyeruput es jeruknya sebelum melanjutkan perkataannya.

“Persetan emang sama yang namanya keluarga. Mereka semua bukan manusia. Tapi kalo mereka aja gak peduli sama kita, ngapain kita peduli sama mereka? Make it simple. Jangan dibikin ribet.”

“Seiry bener, Dang.”, timpal Alfin. “Kita akan selalu saling ngedukung. Kita semua satu keluarga. Gak ada yang dituakan di sini. Gak ada yang namanya orang tua atau anak. Kita semua sama.”

“Gak usah peduliin bokap lo yang hobi kawin itu. Yang penting financial lo terjamin, kan?”, Galuh mencengkram bahu Dadang. Tertawa.

“Yang penting kita masih bisa terus sama-sama.”, kali ini si Polos Wino ikut-ikutan.

“Halah….Sok bijak lo!”, Bimo ngejitak kepala Wino.

“Biasanya juga elo yang paling suka nangis kalo lagi ada problem.”, timpal Alfin.

“Iya, tapi mendadak gue sadar. Gue masih punya elo-elo semua.”, Wino menatap lurus satu persatu temannya.

“Dengerin, Dang. Si Lemot Wino aja bisa ngerasa kayak gitu. Gimana dengan elo?”, ujar Seiry.

Dadang menatap teman-temannya bergantian. Lalu muncullah sesungging senyum. Wajahnya sedikit lebih cerah.

“Ah, mewek deh lo!”, ledek Alfin.

“Kampret lo! Najis gue!”, gidik Dadang.

Seringai tawa mereka berhenti ketika datang seorang cowok berseragam sama seperti mereka.

“Eh, elo.”, sapa Seiry.

“Nih duitnya.”, cowok itu menyerahkan uang pada Seiry.

Cewek itu langsung menerima tanpa banyak ba-bi-bu.

Cepat ia menyimpan uangnya di saku roknya dan cowok itu berbalik pergi.

“Gak gabung dulu?”, Seiry menawari.

Thank’s. kapan-kapan.”, lalu ia melanjutkan langkahnya.

Seiry gak bisa melepaskan pandangannya dari punggung cowok itu hingga Galuh menyadarkannya.

“Siapa, Ser?”

“Oh….Itu pelanggan baru. Katanya biasanya ngambil sama bos gue.”, jawab Seiry buru-buru.

“Sengak banget gayanya?”, sambung Galuh lagi.

“Emang.”, Seiry mengiyakan.

X


1st Chapter oleh Harleni Desrian

1 comment:

Y . A . Z said...

baguuusss...
ceritanya ngga biasa...
kan biasanya cuma berkisar cewek rebutan cowok atau sebaliknya...
kereeennn...