Monday, August 3, 2009

Moon River

ZHENGZHOU, 1911

MEI REN tidak pernah mempunyai keinginan untuk menjadi permaisuri, apalagi istri seorang pejabat diktator seperti dirinya. Nasib menggariskan dirinya untuk dipersunting oleh pejabat Ming Ling akibat meninggalnya istri pertama sang pejabat akibat kecelakaan yang terjadi di sungai Huang Ho. Kabarnya istri pertama Ming Ling dibunuh, namun hingga empat tahun lamanya ia menjadi istri sang pejabat, tidak ditemukan siapa pembunuh wanita bernasib naas itu.

Hubungan kedekatan antara Ayah kandungnya dengan Ming Ling, menyeretnya dalam jurang egoisme orang tua dan mengurungnya secara kejam ke dalam terali-terali bersepuh emas. Ia tidak pernah cemburu apabila didengarnya pejabat itu memiliki dua puluh selir, dan mengetahui jadwal tidur sang pejabat dengan wanita lain, karena ia tidak pernah mencintainya. Yang dicintainya saat ini adalah bayi berumur dua bulan yang berada dalam kandungannya, buah hatinya yang didapatkannya dari Ming Ling. Ia tidak peduli darah bayinya merupakan percampuran dari darahnya dengan darah laki-laki yang dianggapnya keparat itu. Ia tetap mencintainya, hanya bayi dalam perutnyalah yang mampu menghiburnya, dan hanya bayi itu yang membuatnya bertahan. Bayi dalam kandungan Mei Ren merangsang otaknya untuk berandai-andai, berharap bahwa suatu saat ia akan keluar dari rumah itu dan membangun kehidupan barunya jauh dari negaranya, tentunya bersama dengan sang jabang bayi tersayang.

Mei Ren merasa, mimpinya benar-benar akan menjadi kenyataan. Pemberontakan tentara Bei Yang yang dipimpin oleh Yuan Shikai melawan kaisar Xuantong, memaksa pejabat Ming Ling untuk turut serta menjadi komandan perang dan membantu kaisar mempertahankan dinasti Qing. Mei Ren dan sang jabang bayi pun teracuhkan, pejabat Ming Ling tidak lagi pulang ke rumah. Haw Hwa adalah tukang masak keluarga Ming Ling secara turun temurun dan memiliki pemikiran yang sama terhadap Mei Ren. Ia ingin segera keluar dari istana itu, sebenarnya niatnya untuk berhenti menjadi tukang masak sang pejabat sudah bertahun-tahun lalu diutarakannya. Namun ia masih ingat rona wajah pejabat Ming Ling kala ia menuturkan permintaannya itu, Ming Ling mengancam nyawa Haw Hwa taruhannya apabila berani-berani melangkahkan kaki ke luar dari rumahnya.

Mei Ren yang mengetahui niat terselubung dari Haw Hwa, mendekati tukang masak itu dan menyuruhnya menemaninya mengobrol setiap malam di kamarnya. Pejabat Ming Ling hanya menganggap Mei Ren sedang kesepian dan membutuhkan teman walaupun ia tidak suka Mei Ren berteman dengan seorang tukang masak seperti Haw Hwa. Padahal kedua wanita itu sedang menyusun rencana untuk melarikan diri dari rumah itu, tanpa diketahui oleh sang pejabat maupun para pengawalnya.

Tanpa terasa, waktu yang dinantikan oleh mereka, akhirnya tiba juga.

Tepatnya, tak lama lagi.

***

BRUGGE, 1970

ANGIN dingin Brugge menerpa rambut pirang Hilde perlahan, sensasinya menambah kesensitifan batin dari wanita Belgia berumur dua puluh lima tahun ini. Hari minggu ini ia tidak mengajak siapapun untuk menemaninya berkeliling Brugge, kota tempat dimana ia berasal dan menghirup udara selama masa umurnya berjalan. Saat ini Hilde ingin sendiri berkeliling Brugge, setelah informasi surat permohonan pengajuan beasiswanya ke Indonesia diterima oleh kantor majalah di pusat kota Brussels, tempat ia bekerja sekarang. Jurnalis majalah ‘Toveren’ yang bertugas di bagian kolom kebudayaan serta gaya hidup ini mendapat pemberitahuan itu tepatnya satu bulan lalu. Dan hari ini adalah hari terakhirnya di Brugge, setidaknya selama tiga tahun ia akan meninggalkan kota ini untuk menimba ilmu kebudayaan masyarakat Jawa di salah satu universitas negeri terkenal di Indonesia, universitas yang berpusat di kota Depok, Jawa Barat.

Handycam yang digenggamnya terus menyala, Hilde ingin merekam setiap senti tempat di Brugge yang didatanginya sebagai kenang-kenangan yang akan dibawanya ke Jakarta. Hilde merupakan seseorang yang memiliki kebutuhan sosial tinggi, cenderung mudah merasakan kesepian, oleh karena itu ia akan membawa benda apapun dari kampung halamannya yang mampu melepaskan kerinduan akan keluarganya dan Brugge.

Perahu yang dinaikinya kini melewati beranda belakang bangunan-bangunan klasik yang konon kabarnya berusia hampir dua ratus tahun itu. Tanpa henti Hilde terus merekam keseluruhan bangunan serta aktivitas yang berlangsung di depan bangunan-bangunan itu, baik bangunan yang masih berdinding bata atau sudah berlapis semen dengan cat putih. Baginya, tidak ada yang bisa menandingi keindahan wisata air kota Brugge yang dijuluki ‘Venesia dari Utara’ ini, bahkan kota Venesia aslinya sekalipun. Setelah lewat satu jam, Hilde memutuskan untuk pergi ke kawasan museum Groeninge, hendak membeli cenderamata bagi teman-teman di kedubes Belgia di Jakarta, karena setiap akhir pekan selalu digelar pasar loak di dekat museum itu. Semua perjalanannya mengelilingi Brugge berakhir pada pukul sembilan malam, dimana ia mengakhirinya dengan manis, yaitu dengan meneguk secangkir coffe-latte khas kota Brugge yang terletak di samping kanal tempat ia menikmati kesendiriannya di atas perahu tadi. Hilde menyesap sedikit demi sedikit coffe-lattenya memandang pemandangan malam kota Brugge yang indah. Lampu-lampu membingkai kanal, dan bangunan-bangunan stepped-gabled yang dicat merah secara seragam di depan kafe itu tampak lebih mempesona dengan rona lampu-lampu yang begitu banyak menghiasinya.

Kemudian ia memperhatikan ke sekeliling kafe, sejak masuk tadi ia tidak memperhatikan nama kafe ini, salah satu kafe di kota Brugge yang baru pertama kali didatanginya. Tak memakan waktu lama untuk Hilde menemukan label kafe ini. Ada di situ, terpampang besar di dinding bar yang terbuat dari kayu jati itu.

Moon River Cafe

“Nama yang bagus” gumam Hilde.

Melodi lagu Moon River dari Andy William yang baru saja dimainkan di cafe itu membuatnya menghela nafas panjang, merasakan sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba datang menyelusupi hatinya.

Saat ini, ia merasa benar-benar begitu berat meninggalkan kota Brugge.

***

JAKARTA, 1999

KONDISI kesehatan Theresa yang semakin memburuk, membuat kesedihan di hati Aditya semakin terasa. Theresa yang selalu membuatkan makan pagi untuknya itu saat ini sudah tidak dapat lagi melakukan apa-apa setelah penyakit stroke yang menyerang tubuh rentanya dua bulan yang lalu. Kesibukannya yang tanpa henti teramat dibencinya apabila ia melihat kondisi Theresa saat ini, ingin sekali ia meninggalkan semua itu hanya untuk berada di samping Theresa. Merawatnya, memeluknya, menghapus sedikit nyeri yang kian sering dirasakan ibundanya. Namun Theresa tidak ingin sedikitpun membuat Aditya kesulitan, ia berkata pada Aditya bahwa ia sudah cukup puas dengan perawatan yang diberikan oleh kedua pengasuhnya dan check up rutin dokter keluarga, yang datang ke rumahnya satu kali seminggu.

Semua dendam, ambisi, dan kekayaan yang ada pada dirinya seolah sirna apabila ia sudah berada di samping Theresa. Kadangkala Aditya menidurkan kepalanya di pangkuan Theresa yang sedang duduk di kursi roda, yang sedang menatap kolam maha besar di belakang rumah mewahnya, yang sengaja dibuat Aditya untuk Theresa. Air mata Aditya tidak pernah tidak menetes tiap kali ia melakukan hal itu, karena tiap kali ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Theresa, ia selalu merasakan tangan keriput itu mengelus perlahan kepalanya sambil menyenandungkan lagu kesukaannya. Dan sejak kecil hanya satu lagu yang selalu diingat Aditya, lagu yang paling disuka oleh Theresa, lagu yang paling sering menjadi lagu tidurnya.

Seketika, semua rasa lelah yang ditanggungnya seolah hilang tak berbekas saat nada serak suara Theresa mengalun di telinga Aditya.

“Moon River, wider than a mile. I’m crossing you in style someday...”

Lagu itu, adalah Moon River dari seorang penyanyi Amerika bernama Andy William. Nada lagu romantis itu selalu menyayat hatinya, walaupun lirik yang dilontarkan tidak sesuai dengan kondisinya. Namun, lagu ini selalu mengingatkan ia pada ibundanya.

“We’re after the same rainbows end, waiting round the band, my huckleberry friend. Moon river, and me...”

Aditya merasakan satu tetes air matanya terjatuh.

Ia menunggu hingga Theresa menyelesaikan lagu itu untuknya, dan mendengarkan tanya yang selalu dilontarkannya pada Aditya.

“Bagaimana harimu, nak?”

“Ibu aku ingin menikah” ucap Aditya spontan, tanpa menjawab pertanyaan Theresa.

Kemudian Theresa mengangkat wajahnya, menatap ibunya. Tangan Theresa kini memegang erat dagu Aditya, raut wajahnya berubah serius.

“Siapa gadis itu?”

“Zarra, sekretarisku.” jawab Aditya. Ia tidak ingin hidup sendirian dan menangis setiap hari karena merindukan Theresa yang umurnya sudah tak lama lagi.

Tak disangkanya, bibir pucat ibunya merekah. Ia tersenyum.

“Apakah ia juga suka Moon River?”

Aditya tersenyum mendengar pertanyaan itu, kemudian mengangguk keras.

“Ia suka sekali”

***

NEW YORK, 2009

NEW YORK memasuki musim gugur, menimbulkan suasana mistis di setiap sudut mata memandang. Daun-daun yang berguguran tidak sedikitpun merusak pemandangan kota metropolitan yang terkenal tak pernah tidur itu, daun-daun yang berguguran dan mengotori aspal itu justru membuatnya semakin mempesona.

Sudah menjadi kebiasaannya setiap minggu pagi, Niken berkeliling kota New York bersama teman-teman flatnya. Mengisi kekosongan hari dengan berbelanja kebutuhan dan menyesap hiruk pikuk kota termahal di dunia ini dengan gairah anak muda yang mereka miliki. Namun hari ini Niken tidak ditemani oleh siapapun. Pintu kamar teman-temannya tertutup, tidak ada satupun yang menampakkan batang hidungnya. Itu biasa dialaminya apabila beberapa orang diantaranya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka yang masih menjadi salah satu negara bagian di Amerika Serikat, entah Boston atau New Jersey, setiap kali pergantian musim tiba. Sementara yang lainnya, di club sampai pagi, pikirnya.

Bukan sekali ini Niken menghabiskan libur akhir pekannya di New York secara sendirian, apabila gairah seninya kambuh ia juga lebih suka menjelajahi kota New York seorang diri. Menyinggahi sudut-sudut New York yang menyuguhkan hawa seni, atau mengunjungi berbagai macam ragam galeri tempatnya melarikan diri dengan mengagumi pesona goresan kanvas para seniman Amerika atau menghabiskan satu sampai dua novel klasik di Public Library. Namun yang akan dilakukannya pagi ini agak berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya. Seperti halnya yang dilakukan Niken selama sebulan terakhir ini setiap minggu pagi, hari ini ia akan menemui seseorang.

Niken memarkir sepedanya di depan Soho, dan bermaksud untuk ke West Broadway. Ia menuju ke bagian timur, melewati daerah Spring, melewati butik, toko-toko binatang peliharaan, dan berhenti di coffe-shop pusat berbagai kopi eksotik yang terletak di samping toko roti.

Wanita itu sudah menunggunya, ia duduk di sudut café, di bangku untuk dua orang. Menunggu Niken bertemankan dengan laptopnya.
Wajahnya seketika cerah saat melihat sosok Niken yang sedang memesan kopi dan kue di etalase café.

What took you so long, pal?” tanya wanita itu, ketika sosok Niken sudah menghampirinya. Wanita itu menghirup cangkir original coffe-nya. Melihat Niken melepaskan jaket Nike dan mencopot earphone Ipod dari telinganya.

“Kesiangan. Sorry, Imogene” sahutnya.

That’s allright

“Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini, Nick?”

Niken tersenyum, “Ada galeri bagus yang sedang mengadakan pameran di West Broadway.”

Imogene balas tersenyum, “Setelah itu…”

“Flea Market! Shop ‘till you drop!” seru mereka bersamaan, kemudian tertawa.

Imogene adalah teman Niken yang baru sebulan lalu ditemuinya di Public Library. Insting warga Indonesia milik Niken membuatnya menyadari gadis yang sedang berada di tempat peminjaman buku itu adalah gadis yang berasal dari Indonesia. Bukan sekali ini ia bertemu dengan orang Indonesia di New York, namun dari semua hubungan pertemanan yang ia jalin dengan warga bangsanya di negara ini. Imogene merupakan satu-satunya orang yang ia rasa paling sesuai dengannya.

Tak hanya Niken yang merasakan perasaan itu, Imogene juga merasakan perasaan yang sama. Dua wanita Indonesia yang sama-sama datang seorang diri saja ke New York ini, kini tidak lagi merasakan kesepian.

Mereka mempunyai banyak persamaan, terutama oleh satu hal. Keduanya sama-sama menyukai lagu yang berjudul ‘Moon River’.

***

1st Chapter oleh Asrini Mahdia
www.asrinimahdia.blogspot.com

2 comments:

Cherry said...

kereeeenn! bikin oenasaran... bakal diterbitin nggak sih??

Rina Suryakusuma said...

ceritanya menarik, oke berat ;-)
kayaknya jarang ada naskah thriller karya penulis asli yang mengangkat kisah dinasti dari negara lain...
terusin dong, pingin baca lagi nih