Friday, June 5, 2009

Jangan Panggil Aku Imut

Chapter 1 : Aku Nana, Bukan Si Imut!


Namaku Nana. Lengkapnya Karina Meifta.

Usiaku enam belas tahun, kelas dua SMA. Secara penampilan, menurutku aku lumayan manis. Kulitku putih, hidungku mancung, mataku bulat, bibir tipis... yah, menurutku aku lumayan cantik, deh, pokoknya. Orang lain juga sering bilang aku cantik (orangtuaku dan kakak laki-lakiku--itu kan namanya juga orang lain). Tapi entah kenapa yaa... yang aku ga ngerti... KENAPA TINGGI BADANKU CUMA 146 CENTIMETER????

Bukannya aku nggak bersyukur atau apa, tapi masalahnya, di keluargaku hanya aku satu-satunya yang nggak tinggi. Mama memiliki tinggi badan 170 centimeter, Papa 176 centimeter, dan Glenn, abangku, 180 centimeter. Coba, ya... semua anggota keluargaku tinggi-tinggi. Kenapa cuma aku aja yang kurang tinggi?? Itu aneh, kan?!

Glenn selalu menggodaku dengan mengatakan bahwa aku anak pungut-lah, punya kelainan tulang-lah, kena kutukan karena waktu kecil bandel banget-lah... duh, pokoknya macam-macam, deh! Itu kan alasan yang nggak logis. Teman-temanku juga selalu terkejut melihat perbedaanku dengan keluargaku sendiri yang mencolok. Tuh, kan... ngerti, kan, kenapa aku begitu frustasi dengan tinggi badanku ini? Bukannya karena aku nggak bersyukur, loh.

Tinggi badanku ini banyak dampak buruknya. Aku pernah lihat di internet, katanya orang yang tubuhnya lebih pendek memiliki umur yang lebih pendek daripada kebanyakan orang yang bertubuh lebih tinggi. Selain itu katanya orang pendek lebih cepat naik pitam karena darahnya lebih cepat naik ke kepala daripada orang yang badannya tinggi. Itu menjelaskan dari mana sifat galakku ini berasal. Jadi kalau aku memang cepat tersinggung, bukan karena aku judes, tapi karena tinggi badanku cuma 146 cm. Ya, kan?

Aku bukannya galak, loh. Aku termasuk orang yang cukup sabar. Tapi, jangan sekalipun ada yang mencoba mengatai aku pendek, aku pasti ngamuk besar. Semua sebutan yang menyinggung tinggi badanku seperti ”pendek”, ”kecil”, ”kuntet”, ”mungil”, dan sejenisnya aku nggak suka. Apalagi kalau ada yang menyebutku imut. Itu sama saja mengatai aku pendek tapi dengan cara halus. Kalau ada yang mengataiku dengan kata-kata tadi, aku nggak segan-segan untuk meninju wajahnya, memelintir lehernya, dan merebus lidahnya. HUH!!!

”Nanaaaa......!!! Sarapan sudah siap!” terdengar suara Mama memanggilku. Aku gelagapan mencari tas sekolahku. Ternyata ada di bawah meja belajar. Langsung saja kusambar sambil bergegas keluar dari kamar menuju ruang makan.

Di sana sudah ada Mama, Papa, dan Glenn. Mama sedang mengoles sepotong roti dengan selai coklat kesukaanku, Papa asyik membaca koran sambil mengunyah rotinya, sementara Glenn berkonsentrasi penuh pada sarapannya. Ia berhenti melahap rotinya sesaat untuk melirikku. Dan ia tertawa kecil. Apa maksudnya itu???

”Heh! Apa lo ketawa-ketawa?!” tegurku sambil menggeser kursi untuk duduk.

”Nana, kok, begitu ngomongnya?” Mama meletakkan sepotong roti selai coklat di piringku.

”Habis Glenn ngetawain aku... ” aku membela diri.

”Loh, emangnya nggak boleh?” ujar Glenn sambil menatapku dari atas sampai bawah,”Ngomong-ngomong... itu seragam baru lo kegedean, apa elonya yang terlalu kecil? Hahaha... ”

TUH KANNN!!!!! Beneran Glenn ternyata ngetawain aku!

”ADAAUUWW!! Nana!! Sakit, tauk!!” pekik Glenn sambil mengusap jempol kakinya. Hehehe, aku lupa kalau aku sudah pakai sepatu. Tadi aku kelepasan menginjak kakinya sekuat tenaga.

”Glenn! Nana!” Mama sudah mengeluarkan suara dengan nada tegas. Itu tandanya kami harus menghentikan keributan ini atau kami berdua tidak akan dapat uang jajan untuk hari ini. Sementara Papa, bagai orang tuli, tetap menempelkan koran didepan wajahnya sambil mengunyah roti.

Glenn yang masih bisa tertawa walaupun sambil meringis mengelus jempol kakinya menjawab,” Emang Mama nggak liat, seragam baru Nana kedodoran, tuh. Nananya ’tenggelam’. Hihihi... lo ga pantes banget jadi anak SMA. Hihihi...”

Aku sudah ancang-ancang untuk menginjak jempol kakinya yang satu lagi, tapi ternyata ia sudah menaiki kedua kakinya ke atas kursi hingga posisinya berjongkok. ”Tapi Ma, ini kan udah seragam ukuran paling kecil... Jangan-jangan ukurannya bukan S. Salah label kali, ya, Ma?” akhirnya aku mencoba meminta pembelaan dari Mama. Bukan badanku yang terlalu kecil, tapi memang seragamnya aja yang salah ukuran. Walau di labelnya tertulis huruf S, aku yakin pasti sebenarnya ini ukuran L!

Iya, hari ini aku pakai seragam sekolah baru, karena ini adalah hari pertamaku di SMU Harapan. Sebelumnya aku bersekolah di Maluku, di daerah bernama Wayame. Papa yang bekerja di perusahaan maskapai penerbangan ditugaskan di bandara Pattimura di Maluku selama dua tahun. Aku dan Mama mengikuti Papa ke sana. Hanya Glenn yang tetap tinggal di Jakarta karena saat itu dia sudah mulai kuliah di Universitas Trisakti.

Dia tetap tinggal di rumah kami bersama seorang asisten rumah tangga. Namun sekembalinya Papa dan Mama, Mama merasa kami tidak perlu asisten rumah tangga lagi, karena memang sebenarnya rumah kami tidak begitu besar dan Mama sanggup mengurus segala keperluan rumah tangga. Tapi tetap saja, ujung-ujungnya aku dan Glenn tetap harus membantu Mama mengurus rumah.

Akhirnya aku kembali lagi ke Jakarta, dan aku sangat bersemangat untuk memulai hari pertamaku sebagai anak SMU di Jakarta. Bukannya aku tidak senang di sekolahku yang lama. Justru aku sangat senang. Di sekolahku yang lama, karena jumlah muridnya tidak terlalu banyak, kami menjadi sangat akrab satu sama lain. Biasanya sepulang sekolah, kami akan bermain di pantai, sekolahku terletak di dekat pantai berpasir putih yang indah. Dan karena bukan merupakan obyek wisata, pantai itu tidak terlalu ramai serta masih bersih. Tidak ada sampah seperti pantai Ancol. Udaranya pun masih segar, walaupun daerah pantai, tapi udaranya sesejuk udara Bandung.

Walaupun di sana banyak hal menyenangkan, namun aku juga rindu suasana Jakarta yang riuh, mall-nya yang besar-besar, Gramedia Matraman yang lengkapnya bukan main, dan yang paling aku rindu di antara yang lainnya, sahabat-sahabatku semasa SMP dulu. Mudah-mudahan di antara mereka ada yang masuk di SMU yang sama denganku.

”Mungkin memang karena seragam kamu masih baru, jadi masih longgar.” ujar Mama menanggapi kata-kataku barusan. Tuh, kan! Bukan tubuhku yang terlalu kecil, memang seragamnya yang nggak oke. Tapi aku cukup suka, sih, sama seragam ini. Atasannya berwarna putih dengan motif garis-garis biru gelap dan merah marun yang membentuk kotak pada dasi serta kerah dan lipatan lengannya, senada dengan warna roknya. Roknya berlipit-lipit dan mengayun indah setiap aku berjalan. Panjangnya memang melebih lututku, tapi aku merasa nyaman memakainya.

”Tuh, Glenn, bukan badanku yang kekecilan...!”

”Iya, deh, iya...yang salah emang bajunya, bukan elo...” Glenn masih belum menyingkirkan senyum jahilnya. Glenn sebenarnya kakak yang baik, dan aku cukup kompak dengan dia. Tapi jahilnya itu minta ampun, deh. Mungkin karena dia belum punya pacar kali, ya? Jadinya dia melimpahkan kesendiriannya sebagai jomblo dengan menjahili aku.

Aku heran juga kenapa dia belum punya pacar, padahal dia ganteng loh. Badannya tinggi, hidungnya mancung, persis seperti aku. Belum lagi alisnya yang tebal dan matanya yang cekung. Teman-temanku semasa SMP dulu juga banyak yang menggebet dia. Sayangnya... Glenn itu malas mandi! Rambutnya juga dibiarkan gondrong tak beraturan. Selain itu, Glenn sangat terobsesi sama kaktus bonsai. Dia punya 21 kaktus mini di halaman rumahku yang semuanya diberi nama. Coba, ya... bagaimana cewek mau kepincut sama dia kalau mengetahui hobinya yang aneh ini?

Tiba-tiba Papa berdiri, ”Yang mau berangkat bareng Papa, ayo jalan sekarang.” ujarnya singkat. Papa memang tipe pria yang tidak banyak bicara, beda jauh sama Mama yang cerewet. Aku langsung buru-buru meminum susu kalsiumku. Aku harus banyak-banyak minum susu kalsium, soalnya kan aku masih dalam masa pertumbuhan, jadi tubuhku masih bisa lebih tinggi lagi.

Tergopoh-gopoh aku mengikuti Papa ke mobil setelah sebelumnya mencium pipi Mama dan meninggalkan bercak susu di sana. Glenn masih bersantai ria di meja makan karena hari ini ia kuliah siang. Aku tak sabar ingin melihat sekolah baruku!! Pasti aku akan bertemu teman-teman baru yang menyenangkan.

------------------------------


1st Chapter olehMaria Leonietha.
www.macangadungan.com

3 comments:

sarlin said...

setahu sy kdang apa yg kita mliki,kita sndiripun tak tahu.hnya orng lain yg bs menilai smua tu!!!tp ta apalh sy slut sm km cox km sndiri thu klau km tu cntik.tp kpedeanx jgn trlalu kyak gtu!!!ntar km jd orng yg smbong lg!!!

Curly and Chubby said...

to Sarlin

FYI, Nana adalah murni karakter imajiner rancangan saya, dan desain karakternya memang saya buat Nana memiliki sifat centil, KEPEDEAN, sok tahu, dan keras kepala.

Mungkin Sarlin harus belajar bahwa tidak semua cerita ditulis dengan memasukkan kepribadian penulis cerita itu sendiri sebagai tokoh di dalam cerita.

Karena saya sendiri jauh berbeda dari tokoh Nana, karena sekali lagi... tokoh utama di dalam cerita ini murni karangan saja, tidak mengacu pada orang tertentu di dalam kehidupan nyata.

terimakasih :)

http://macangadungan.com/

Venus said...

Hi, luv this, tinggi badan gw juga cman 148 cm, dan nasib gw kurang lebih kayak Nana, alias TRAGIS, gw pernah di ledek seminggu ama temen2 gw sekelas lantaran dasi anak cowok lebih panjang dari badan gw. I wanna read more about your story, where can I see it?