Monday, April 20, 2009

Candle that Couldn’t Light

Aidan

Berapa banyak orang yang tahu kapan maut menjemputnya?

Beberapa mungkin mengetahuinya tepat pada akhir hidup mereka dan memberikan firasat. Sayangnya sebagian besar tidak.

Mungkin akan lebih baik kalau manusia tahu kapan kematiannya sendiri. Setidaknya, akan ada waktu untuk bersiap-siap. Untuk melakukan hal-hal favoritmu dulu sebelum kamu tak bisa bergerak. Untuk melihat serial kesukaanmu sebelum matamu terpejam. Atau mungkin untuk melakukan hal-hal yang melanggar hukum.

Kelihatannya bakal menyenangkan.

Aku sendiri berharap kalau kematian menjemputku, kuharap ia datang dengan jalan yang damai. Mati dalam tidur, misalnya. Mati dalam pelajaran biologi. Atau mungkin mati dalam pertandingan pertama Piala Dunia.

Seluruh stadion pasti akan geger.

Nyatanya sampai sekarang aku masih sehat walafiat. Aku masih bisa berenang bolak balik kolam renang atau berlari mengelilingi taman dengan satu kaki. Aku juga masih bisa menyalin peer matematika.

Tapi, meskipun Ms. Judy berusaha mati-matian untuk membunuhku dengan peernya yang bertumpuk itu, kelihatannya aku akan bisa bertahan hidup. Kalau tidak, bagaimana aku bisa melanjutkan ke kuliah? Kakak laki-lakiku, Aziman, sekolah di akademi kepolisian. Kakak perempuanku, Fathira, sekolah di fakultas fisika. Setidaknya, aku juga akan jadi sarjana.

Atau mungkin magister?

Atau bahkan profesor?

Aku tak mau menjadi botak.

Mungkin lebih baik mati sebelum masuk SMA. Sebelum semua yang kulihat dalam TV benar-benar menimpaku. Semua tentang kepala yang diceburkan ke dalam toilet dan semacamnya.

“Itu akan selalu jadi momen terindah semasa SMA”, kata Aziman.

Mengingat karena kepala orang lain yang diceburkannya, hal itu masuk akal juga.

Tapi bagi Fathira, SMA adalah pertaruhan. Semacam seleksi kehidupan, katanya. Yang kuat akan bertahan hidup, yang kalah akan punah. Atau dalam kata lain, semakin kamu banyak menjejalkan informasi dalam otakmu, semakin besar pula kesempatanmu untuk kuliah di tempat yang tepat.

“Aidan,” ujarnya, “baca bukumu.”

“Aidan,” ujarnya di hari yang lain, “kerjakan peermu.”

“Aidan,” ujarnya di hari yang lain lagi, “bersihkan kamarmu.”

Dia memang benar-benar kloning Mom.

Aku tahu kalau umur tumbuhan diketahui dari jumlah lingkaran tahun mereka. Satu lingkaran untuk setiap musim, dua lingkaran berarti satu tahun.

Tapi bagaimana mengetahui umur manusia?

Kau tidak bisa mengetahuinya dengan tepat, kau hanya bisa memprediksi. Kalau badanmu meninggi dengan cepat, berarti kamu berusia 12 sampai 18 tahun. Kalau kamu mulai bekerja, berarti usiamu 25 sampai 30 tahun. Kalau rambutmu memutih, umurmu lebih dari 50 tahun.

Tidak ada cara yang benar-benar pasti.

Selain menghitung jumlah lilin di kue ulang tahunnya.

Sama seperti kematian, tidak ada hitungan yang benar-benar akurat untuk mengetahuinya.

Sepupuku meninggal satu jam setelah lahir karena tubuhnya terlalu lemah untuk dunia ini. Di lain tempat, kakekku baru meninggal pada umur 87 tahun.

Artinya, manusia bisa mati kapanpun.

Aku bisa mati detik ini juga.

Atau besok.

Atau masih delapan puluh tahun lagi.

Yang jelas, kemarin aku masih hidup. Masih berkutat pada peer geometri Ms. Judy. Masih bermain bola dengan Aziman. Masih bisa menjilati es krim di Creamy’s. Masih harus menambal gigi.

Maut belum memutuskan untuk menjemputku kemarin. Kupikir, apakah dia masih mau memberiku kesempatan lain untuk hidup? Atau mungkin dia melupakanku?

Aziman akan sangat senang kalu maut benar-benar lupa padanya. Dia tahu bagaimana menikmati hidup; menyetir mobil ugal-ugalan, pulang pukul empat pagi, dan berbohong pada Mom dan Dad.

Menurutku malah kematian akan selalu mengingatnya.

“Aidan.”

“Apa?”

"Mau ikut?”

“Ke mana?”

“Hanya jalan-jalan.” Tapi aku tahu dia menjanjikan lebih. Mungkin balap gila-gilaan di pinggiran kota.

“Tidak bisa malam ini. Tapi besok mungkin bisa.”

“Tsk. Kau menyia-nyiakan kesempatan.”

Begitulah, Aziman selalu tahu apa yang paling baik untuknya. Dengan kata lain sesuatu yang paling buruk untuk Fathira.

Buruk juga bagi kami sekeluarga.

Kalau kau mencari kata kematian, kau akan menemukannya di depan kamus. Kalau kau kemudian mencari kata Fathira, kau tak akan menemukannya di buku yang sama. Sebab kematian dan Fathira adalah sesama magnet N bagi satu sama lain. Atau sesama magnet S.

“Aku masih mau hidup lama, bandel,” begitu jawabnya saat aku menanyakan pertanyaan favoritku:

Kau ingin mati seperti apa?”

Atau terkadang dia menjawab, “Jangan pernah ucapkan kata itu lagi.”

Aku pernah membaca diarynya:

Resolusi ulang tahun ke-16.
1. Masuk Cambridge sebagai murid baru terbaik.
2. Kuliah di fakultas fisika..
3. Menemukan teori partikel baru.
4. Memisahkan inti atom.
5. Menerima nobel di usia muda.
6. Tidak mati sebelum mampu meraih semuanya.
PS: Bahkan jika kau berhasil meraih semuanya, temukan cara untuk menunda kematian. Apapun itu.

Lihat?

Dia sangat jenius kan?

Atau malah sinting.

Karena bagaimanapun juga tak ada yang namanya menunda kematian. Kematian akan menghampirimu cepat atau lambat. Mungkin saja kedua kakakku tidak mengharapkan maut di usia muda, namun aku sangat mengharapkannya.

Kenapa ya?

Sejauh yang bisa kupikir, kurasa aku ingin merasakan bagaimana yang namanya mati.

Di TV, orang-orang mati lalu mereka hidup lagi entah sebagai mumi, zombie, atau roh bersayap yang menggelikan. Awalnya kupikir kalau kau baik, kau akan menjadi bagian dari roh-roh konyol itu, sedang kalau kau kebalikannya, maka kau akan bagian dari mayat hidup menjijikkan dan berlendir.

Aziman bilang itu keren. Fathira bilang itu bodoh.

Menurutku, itu bisa saja terjadi.

Aku pernah membunuh dua semut, setelah tanpa sengaja menindih mereka, namun aku tak melihat mereka bangkit dari kematian. Mungkin arwah mereka terlalu kecil.

Dunia memang penuh dengan ketidakpastian.

Kita tidak pernah tahu bagaimana rasanya mati, jadi kita tidak bisa memilih untuk mati cepat atau lambat. Kalau orang-orang yang telah mati, misalnya kakekku datang ke dunia ini lagi untuk memberitahuku sensasi kematian, tentu segalanya akan jadi lebih mudah.

Pilihan jawaban yang tersedia paling-paling:

“Kematian itu seperti naik roller coaster, cepat namun membuatmu ketagihan.”

Atau,

“Kematian itu seperti makan sepiring besar brokoli, sangat tidak menyenangkan.”

Kamu bisa saja memilih puluhan rasa dari ratusan rasa es krim yang dijual di Creamy’s. Kamu bisa saja memilih satu dari jutaan cewek di dunia ini. Tapi kamu hanya punya sedikit pilihan soal kematian.

Kupikir dulu Mom dan Dad keliru soal kata pertamaku. Dad selalu bangga karena aku menyebut “dad” sebagai kata pertamaku, sementara Aziman dan Fathira memilih “mom.”

Sekarang, aku yakin mereka salah.

Sebab aku menyebutkan “death”, bukan “dad”.
---


1st Chapter oleh Jacob

1 comment:

Artmeza said...

Gw suka first chapter nya lo,
gw pnasaran ma cerita lengkapnya. Novelnya uda publish blom??

Gw gtw klo mo nghubungin lo kmana,
ni email gw:
Artmeza@plasa.com

Blog:
Luciferscream.blogspot.com

ato Facebook gw
Borntoscream@plasa.com

Scptnya hubungin gw y...