Monday, April 20, 2009

Control Chamber

Percayalah, butuh waktu lama untuk menyusun cerita soal makhluk-makhluk tak kasat mata ini. Mereka makhluk pemalu, penyendiri dan sangat sulit dijumpai dimana-mana. Mereka makhluk yang kuat dan kuno. Sejarah menyatakan mereka bahkan sudah ada sejak manusia ada. Tidak ada yang tahu mengenai darimana mereka berasal, molekul-molekul pembentuk ketakkasatmataan mereka dan bagaimana mereka memiliki energi yang begitu besar.

Setiap ras, suku bangsa dan kebudayaan memiliki nama yang berbeda untuk makhluk-makhluk ini. Pada zaman kejayaan yunani, mereka disebut dewa dan dewi. Zeus, Thor, Aphrodite, Hera, Hefestus hanyalah sebagian kecil dari mereka yang suka memunculkan diri di hadapan manusia sebagai bentuk kerja sama dengannya.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, di Mesir, mereka menjadi sesembahan. Amon Ra, Osiris, Anubis, Isis telah banyak dikenal masyarakat kebudayaan penuh ilmu pengetahuan itu. Hanya sebagian kecil dari manusia yang menyadari kalau Mesir Kuno mempelajari berbagai macam pengetahuan luar biasa tentang mumifikasi dan segala macam hal tentang piramid melalui makhluk-makhluk ini. Dan hampir seratus persen dari orang-orang minoritas itu, dianggap gila oleh komunitasnya.

Banyak orang menyebut mereka sebagai hantu. Sebuah pernyataan yang salah seratus persen. Mereka memang berasal dari satu bentuk yang sama, molekul mereka juga tidak jauh berbeda. Hanya saja hantu mengandung lebih dari delapan puluh persen energi negatif, sedangkan makhluk-makhluk ini seratus persen adalah energi positif bahkan bisa dikatakan netral. Persepsi manusia terkadang benar-benar melenceng seratus delapan puluh derajat.

Dalam kebudayaan lain, mereka disebut sebagai peri. Makhluk bersayap yang membantu banyak pekerjaan manusia. Bahkan dongeng-dongeng anak-anak pun banyak menyinggung mereka. Cinderella, Putri Salju, Jack dan Kacang Ajaib adalah beberapa yang menunjukkan keberadaan mereka sebagai makhluk yang menolong manusia dalam berbagai bentuk. Kurcaci, salah satunya, adalah gambaran yang paling konyol untuk menginterpretasikan makhluk-makhluk kuno ini.

Makhluk-makhluk ini kuat karena imortalitas—keabadiannya, dan juga karena sihirnya. Sihir mungkin kata yang paling mendekati untuk menjelaskan kekuatan mereka. Mereka mampu merubah cuaca, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, menciptakan dan merubah relief bumi, bahkan memanggil hujan es dan api.

Bagaimanapun, buku ini hanya bisa menjelaskan sebagian kecil dari lekuk-lekuk kehidupan mereka yang hebat—sebenarnya mereka bukan makhluk hidup yang solid. Lebih tepatnya, hanya bisa menceritakan satu dari ratusan kisah tentang mereka.

Bila kau masih belum percaya tentang keberadaan mereka bahkan setelah membaca buku ini, tunggulah hingga setengah jam sebelum matahari terbit di atap rumahmu. Saat matahari terbit dan kau merasakan angin berhembus kencang hingga mengibarkan pakaianmu, tarik nafasmu dalam-dalam dan rasakan hangatnya aura mereka.

Salah satu dari mereka mungkin sedang duduk menyaksikan matahari terbit bersamamu.
---------------------------------------------------------


Seorang penjaja koran—usianya tidak kurang dari dua puluh tahun—sedang berjalan di trotoar jalan raya. Kendaraan menghembuskan debu dan pasir ke wajahnya yang dilindungi oleh bayang-bayang topi lebar.

Siang itu berangin. Angin yang tidak menyejukkan memang, tapi di tempat inilah mungkin akan menciptakan sebuah cerita baru, membentuk jaringan kehidupan baru hingga beberapa tahun mendatang.

“Pak, korannya, Pak! Masih hangat! Masih hangat! Korupsi turun tiga puluh persen tahun ini, Pak! Bu, ini ada gosip artis-artis, Bu! Non yang cakep di sana, ada majalah fashion juga loo!!” cengir penjaja koran itu—Rudi namanya—kepada seorang mahasiswi yang sedang duduk di halte bus. Gadis itu hanya menolehnya sekilas, bukan karena ingin membeli majalah murahan itu, tapi karena merasa dipanggil. Tapi karena panggilan itu tidak begitu penting dibandingkan sakit kepala yang sedang dialaminya sekarang. Dia sudah tidak makan sejak pagi, wajahnya yang pucat membuktikan hal itu.

Busnya lama sekali sih? Lapar niihh… Pikir Yani, nama gadis itu. Sambil memijat perutnya yang lapar itu, Yani merasakan ada yang duduk di sebelahnya. Dia menoleh.

Loper ini tangguh juga, batinnya. Pasti dia ingin menawarkan korannya yang sudah basi itu.

Tangan Rudi terjulur, dalam genggamannya ada sepotong pisang goreng. Beberapa lagi ada dipangkuan Rudi. Yani menatap penjaja koran itu dan menelengkan kepalanya sedikit, tidak mengerti apa maksudnya.

“Eneng terlihat lapar dan tidak sehat, adik-adik saya di rumah membuatkan saya beberapa potong hari ini. Saya tidak masalah berbagi dengan Eneng,” ujar Rudi saat melihat tatapan tidak mengerti Yani.

“Oh, tidak usah, Bang,” jawab Yani. “Sebentar lagi teman saya datang untuk mengajak saya makan,” bohong Yani saat Rudi menyorongkan pisang goreng itu. Terlihat menggiurkan memang.

“Saya rasa teman Eneng itu tidak bisa datang, atau mungkin akan terlambat. Bukankah Eneng sudah menunggu sejak satu jam yang lalu?” Rudi tersenyum kecil. “Sudahlah, Neng. Tidak apa-apa. Pisang goreng ini nggak diracuni kok. Saya sudah makan beberapa, lihat?” ujar Rudi sambil menunjuk pipinya yang gembung.

Yani tersenyum kecil dan mengambil pisang goreng dari tangan Rudi.

Saat itulah tangan mereka bersentuhan, dan saat itulah terasa desirnya. Desir yang tak biasa, tak tergambarkan. Jantung Yani serasa turun dengan tiba-tiba ke perutnya yang lapar. Impuls-impuls elektrik di tubuhnya bergetar dengan cepat, menjalari setiap senti kulitnya, di mulai dari tempat mereka bersentuhan. Rudi juga merasakan dan bingung oleh hal yang sama.

Mereka berdua tersenyum. Tersipu dalam waktu bersamaan.

Beberapa puluh meter dari halte itu, di atap gedung pajak, seorang lelaki muda berkemeja putih dan bercelana jins dengan senjata penembak jitu—sniper—persis seperti yang ada di film-film barat, tersenyum puas. Rudi dan Yani tak menyadarinya, begitu pula orang-orang yang berlalu lalang di bawah gedung pajak itu. Tak ada satupun yang menengok ke atas dan terhenyak begitu melihat senjata kaliber besar itu. Bahkan Yani pun tak sadar, sebuah peluru sudah tertanam di tubuhnya. Hal itu bisa diterima. Kenapa?

Karena lelaki itu memang tidak dapat terlihat. Dia berada di dimensi yang berbeda dengan Rudi dan Yani.

Sambil mengangkat tangannya yang semula tertumpu pada pembatas gedung, dia melangkah menjauh dari pinggiran gedung, membiarkan pasangan di halte itu dalam kediaman yang akan mennumbuhkan sesuatu yang indah beberapa bulan lagi.

Lelaki muda itu mengangkat pergelangan tangannya dan melihat jamnya, matanya yang cokelat itu membulat, lalu berkata setengah berteriak,”Oh! Sudah jam makan siang! Semoga tidak terlambat untuk melapor!”

Lelaki itu lalu memejamkan matanya sejenak, berkonsentrasi membayangkan Pusat Komando. Lalu, secepat dia membayangkannya, perut dan dadanya terasa ditekan oleh tekanan dasar laut. Sepersekian detik kemudian, saat dia membuka matanya, pemandangan sudah berubah seratus persen.

Orang-orang, pria dan wanita, beberapa bahkan tampaknya masih berusia tidak lebih dari sepuluh tahun, dengan pakaian yang beragam, seperti warna kulit dan rambut mereka, berjalan cepat setengah terburu-buru di Bangsal Komando itu. Lebih dari separuhnya membawa senjata dari jenis bermacam-macam, bahkan seorang anak laki-laki berambut keriting membawa sesuatu yang tampaknya seperti C-4 di tangan kanan dan detonatornya di tangan lain. Benar-benar ruangan yang penuh dengan kesibukan.

Ting ting ting ting..

“Harap untuk Cupid dengan nomor profesi 1142-FF-X bernama Ralf untuk segera melapor ke bagian Administrasi segera..” Suara resepsionis bergema di seluruh Pusat Komando. Ralf mengangkat kepalanya untuk menjauhi kesibukan di Bangsal dan mendengarkan lagi ulangan panggilan itu.

Nomor 1142-FF-X? Bukankah itu nomorku? Oh…Tidak lagi..Tidak lagi..Apa aku terlambat?? Komandan akan sangat marah kali ini…

“Hai, Ralf! Bagaimana pasanganmu hari ini? Sudah mencapai kuota?” sapa seorang remaja dengan jas hitam dan rambut perak padanya.

“Yap! Aku mencapai kuotanya hari ini. Seratus tiga puluh orang! Sepertinya Komandan memberikan terlalu banyak padaku minggu ini,” jawabnya sambil lalu.

Ralf melangkah cepat seperti cupid-cupid lainnya di ruangan itu. Pikirannya berkecamuk. Bingung bagaimana menjelaskan keterlambatannya siang ini pada Komandan. Salah-salah dia bisa terkena masa percobaan. Itu hal terakhir yang diinginkannya selama dia sedang tes untuk lencana A-class Cupid-nya seperti hari ini.

Ya, Ralf adalah seorang cupid. Salah satu dari ribuan yang tersebar di seluruh dunia. Sampai beberapa minggu yang lalu sudah tercatat ada lebih dari lima belas ribu cupid. Cupid memang bukan seperti yang diceritakan mitos-mitos manusia. Cupid tidak lebih dari sebuah pekerjaan. Mereka disebut sebagai Angel’s Sniper—Malaikat Penembak Jitu. Satuan militer khusus yang bertugas membantu berjalannya Rencana Dunia, dalam hal ini dongeng manusia benar, cupid bertugas utuk menembakkan panah cinta.

Sejarah penggunaan panah ini sudah ada sejak mulai berkuasanya dewa dewi. Seiring dengan perkembangan jaman, panah tidak lagi efektif. Tidak bisa menembus baja. Pernah ada kasus saat seorang cupid mencoba menembakkan panahnya kepada seorang pria dalam bis, panahnya patah dan ujungnya—yang merupakan letak sihirnya—terpental dan malah menancap pada seorang anak kecil. Jadi kasus yang dibahas berbulan-bulan. Anak kecil itu jatuh cinta dan menikah dengan seorang wanita karir berumur tiga puluh tahun. Rencana Dunia terpaksa menyesuaikan, dan itu membutuhkan pengorbanan sekitar empat tahun. Komandan bermuka merah untuk waktu yang lama. Cupid yang bersangkutan sekarang mengawasi lalu lintas perhubungan Dunia Bawah.

Dan Ralf sekarang terancam akan menyusul perwira itu. Ditatapnya tajam pintu ruangan Kepala Administrasi seakan-akan pintu itulah yang akan menurunkan jabatannya. Sebutir peluh mengalir di tengkuknya. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu dan berhenti sebelum menyentuhnya.

“Masuk saja, Ralf.” Sebuah suara berat, sedikit serak terdengar dari balik pintu. Sepertinya komandan tidak terlalu senang. Selamat tinggal lencana, batin Ralf. Dia menelan ludahnya sendiri sebelum membuka pintu.

Seorang tinggi besar, dengan otot yang tampaknya dibentuk lewat pengalaman berperang pada masa Yunani masih berkuasa, duduk di atas kursi putar dengan kaki terangkat. Rambutnya yang cepak—menurut gadis-gadis kafe, seksi—dielus-elusnya dengan perlahan. Urat kemarahan terlihat di lehernya yang sepertinya tidak akan patah walaupun dihantam kereta. Ralf tertunduk lemas karena ditekan tatapan bosnya itu.

“Jadi, apa kau berhasil mendapatkan seratus tiga puluh orang?” tanyanya dengan tatapan yang mampu menghentikan peluru magnum. Ralf masih tertunduk tak berdaya, tapi dia mengangguk.

“Mana suaramu, Prajurit?! Aku tidak pernah mendidik seorang prajurit bisu!” bentak Komandan. Muka merah. Pertanda buruk bagi Ralf.

“Ya, Komandan. Seratus tiga puluh orang, lengkap tanpa terkecuali. Sehelai bulu sayap masing-masing sebagai tanda, sudah saya serahkan pada Fen dari Administrasi,” jawab Ralf sambil mengangkat kepalanya.

“Itu lebih baik. Berapa peluru yang kau gunakan dalam misi ini? Seratus tiga puluh orang, seharusnya maksimal seratus tiga puluh peluru. Berharaplah kau tidak membuang-buang peluru yang berharga itu. Harga sihir sedang naik, kau tahu,” lanjut Komandan.

“Seratus tiga puluh orang, aku menyelesaikannya dengan seratus dua puluh sembilan peluru,” jawab Ralf dengan bangga. Dia mengingat prestasinya. Dua orang dalam jarak seratus lima puluh meter, terhalang papan kayu. Satu peluru, satu tembakan, pof!pof! Dua burung tertangkap. One shot, two kill.

“Lumayan bagus, tapi kalau aku berada dalam posisimu, setidaknya aku akan menggunakan Margaret-ku untuk menyelesaikan semua dengan hanya tiga belas tembakan,” jawab Komandan dengan tersenyum. Margaret, automatic-machine-gun—senjata mesin otomatis—yang legendaris, ciptaan Komandan sendiri dan hanya ada satu-satunya di Dunia Bawah. Margaret adalah senjata favorit Komandan. Senjata api yang dapat menembakkan dua puluh peluru sihir per detik, membuat Komandan memenangkan sepuluh kali berturut-turut medali kepahlawanan “St.Valentine’s Bullets”.

Ralf hanya tersenyum mendengar kritikan itu. Sedikit meringis.

Komandan rupanya memahami cibiran di bibir Ralf,”Baiklah! Aku yakin kau akan lebih senang mendengarkan apa isi tugas terakhirmu sebelum mendapatkan medali A-class itu daripada kritikanku.”

“Tugas terakhirmu merupakan misi kelas S. Top secret. Hermes akan mengantarkan sebuah paket, kotak hitam dengan beberapa segel sihir di atasnya—kau tahulah, para Tetua terlalu paranoid. Jadi setelah ini aku hanya akan mengatakan kata kunci untuk membuka segelnya saja. Dimengerti, Prajurit?” jelas Komandan.

Ralf mengangguk pelan dan menelan liurnya.

“Kata kuncinya adalah Lumina,” ucap Komandan, setengah berbisik, walaupun kenyataanya hanya ada mereka berdua yang ada di ruangan itu. “Cukup jelas, Prajurit? Jangan pernah membuat catatan tentang kode itu, jangan pernah mengatakan apapun kepada siapapun apapun tentang misimu itu. Misi ini sangat berpengaruh pada Rencana Dunia. Sedikit kesalahan saja, dan akan kupastikan kau mengelap nisan ibuku,” jelas Komadan tajam. Benar-benar tajam.

“Ingat, jangan pernah tunjukkan dirimu pada manusia, mereka makhluk yang terlalu ingin tahu. Bukan urusan kita memang untuk iri pada mereka karena dianugerahi jiwa, fisik dan hati, tapi sebaiknya kau menahan diri untuk tidak berurusan dengan masalah-masalah mereka. Kita sudah cukup direpotkan dengan hanya mengurusi percintaan saja. Tidak perlu direpotkan dengan kehidupan politik atau apapun yang mereka lakukan. Ingat itu,” lanjutnya serius.

Ralf mengangguk sekali lagi. Dia dapat merasakan desiran di sayapnya yang terlipat. Dia merasakan ini akan menjadi sesuatu yang besar. Lebih dari sekadar urusan Rencana Dunia dan peluru-peluru cinta. Dia sadar kalau dia sudah menyanggupi misi ini, terlambat untuk mundur. Desiran itu, denyut itu, urat sayap cupid tidak pernah salah membaui masalah.

“Kau boleh pergi sekarang. Bagian Keuangan mulai menagihiku atas peluru-peluru yang hilang saat ditembakkan para amatiran. Pengeluaran macam ini hanya akan membuat kemunduran beberapa tahun untuk Rencana Dunia. Seharusnya para malaikat mata duitan itu melihat apa yang Divisi Pengembangan Teknologi dan Persenjataan lakukan. Kau tidak akan percaya kalau kukatakan Divisi itu sedang mencoba menciptakan gatling gun yang dapat menembak sendiri. Benar-benar penghinaan atas kemampuan kita,” omel Komandan dengan mengibaskan tangannya. Ralf berbalik dan melangkah keluar ruangan saat Komandan kelihatannya sudah berhenti berbicara.

“Satu hal lagi.”

Ralf berhenti dan menoleh Komandannya.

“Semoga berhasil,” jawab Komandan sebelum disibukkan dengan getaran proyektor hologram di mejanya. Pasti dari Bagian Keuangan.
---

Ralf menghidupkan shower Air Sucinya. Gemericik air membasahi tubuhnya.

Dapat dirasakannya, sihir Air Suci itu diserap setiap senti pori-pori kulitnya yang akan memproduksi ulang energi kehidupan, sihir dan akurasi tembakannya. Ralf menghela nafas panjang sebelum menghirup Limun Atlantisnya. Tak ada yang menandingi nikmatnya berendam di rumah setelah seharian bekerja.

Ngomong-ngomong soal betapa melelahkannya hari ini, Ralf merasa kasihan dengan para cupid jaman dahulu. Dipaksa menggunakan busur-busur dari Oak Surga, atau Mahoni Gelap, dengan persenjataan sebatas panah kayu yang ujungnya dipertajam dengan sihir, benar-benar sulit membayangkan jenis profesi ini mampu bertahan dan bahkan membentuk pasukan militer khusus seperti sekarang. Memang sih, kayu-kayu yang menjadi bahannya memang benar-benar kuat dan kualitas tinggi, tapi anak-anak panah itu tak akan pernah mencapai kecepatan dua ratus mil per jam seperti Sylphid-nya yang mampu memecahkan rekor kecepatan sewaktu masih di akademi. Lima ratus tiga puluh dua mil per jam. Bahkan Komandan berkeringat dingin saat melihat catatan waktu yang sempat dicatat mesin sebelum mesin itu pecah berantakan tertembak peluru Sylphid-nya.

Walaupun Komandan sering mengomel tentang barang-barang tak penting yang diciptakan Divisi Pengembangan Teknologi dan Persenjataan, ralf tetap bersyukur karena yang dia gunakan sekarang bukanlah sebatang kayu yang di antara ujungnya direntangkan tali, melainkan Sylphid-nya tersayang.

Sylphidnya itu semula adalah senjata sejenis Magnum 22 buatan manusia yang dimodifikasi sedimikian rupa olehnya sendiri hingga mampu menggunakan peluru kaliber sebesar lima puluh mili.

Tentu saja dengan bantuan dari Divisi Persenjataan. Sudah bertahun-tahun mereka mengembangan persenjataan cupid, tentu saja untuk mempermudah penugasan mereka. Cupid tak pernah punya keinginan untuk berperang seperti yang diinginkan divisi-divisi lain saat kebudayaan yunani memuja-muja mereka. Tugas mereka menembakkan peluru cinta, bagaimana mungkin mereka bisa berkelahi, ujar salah seorang Thor—para penempa gunung olympus yang legendaris, mereka biasanya kasar dan suka memaki.

Dengan banyak perkembangan di bidang persenjataan, muncul juga berbagai macam bentuk senjata jarak jauh dengan berbagai spesialisasi. Pistol, gatling gun, bazoka, shotgun, berbagai jenis machine-gun, bahkan yang dimanfaatkan untuk misi massal. Pernah salah seorang ilmuwan Divisi Persenjataan yang nyentrik meledakkan beberapa batang C-4 sihir di sebuah gedung pertemuan sebuah perusahaan besar. Beberapa bulan kemudian gedung itu kembali penuh dengan orang-orang yang sama, tetapi dengan alasan yang berbeda:pernikahan massal.
Setelah puas dengan showernya, Ralf berjalan menuju ke balkon dan menghirup secangkir kopinya. Saat dia akan duduk di kursi bundar yang nyaman, angin kencang berpusar di tengah-tengah udara antara balkonnya dengan langit. Pusarannya semakin kencang, tapi kemudian melemah. Saat angin itu benar-benar sudah hilang, seorang remaja berusia sekitar delapan belas tahun dengan pipi yang berbintik-bintik bekas jerawat, topi gunung dan tas pinggang besar dengan simbol sepasang sayap muncul. Remaja laki-laki itu mengangkat topinya dan berkata:
“Selamat sore, apa anda Tuan Ralf?”

Pria muda itu Hermes.

Ralf tersenyum kecil. Dia tidak akan pernah bosan dengan pertunjukan hermes ini. Mereka sebenarnya juga adalah jenis profesi, sama seperti Cupid dan Thor. Hanya saja, mereka benar-benar sekumpulan malaikat-malaikat elit. Dipilih langsung oleh Zeus—Komandan tertinggi kuadron malaikat. Hermes memiliki kecepatan dalam berpikir, bertindak, dalam memutuskan segala sesuatu, seorang hermes diharuskan tepat. Banyak divisi mengatakan kalau mereka seperti FBI di dunia manusia. Cepat, tangkas, cerdas dan jenius.

Hermes, seperti halnya jenis profesi malaikat lainnya, juga memiliki tugas-tugas tertentu. Mereka bertugas mengantarkan berita, paket, barang-barang dan dokumen-dokumen berharga pada orang yang tepat kapanpun, dimanapun. Untuk melakukannya, saat seorang malaikat diterima bertugas sebagai seorang hermes, malaikat itu akan diberi empat pasang sayap tambahan, sepasang Sleipneir—sepatu dewa yang mampu membuat pemakainya dapat melakukan lebih dari sekadar berpindah ruang. Semua malaikat diberi anugerah untuk berpindah ruang dalam waktu sepersekian detik. Tapi hermes tidak hanya itu, Sleipneir memberi mereka kemampuan untuk melintasi waktu.

Mengantarkan pesan memang terdengar sepele, tapi pada saat Perang Salib terjadi, banyak hermes yang gugur. Menurut mitos, kami malaikat memang seharusnya tidak bisa mati. Kami imortal. Tapi mitos tidak sepenuhnya benar. Kami bisa mati, saat terkena darah seorang yang berhati suci. Pada Perang Salib, banyak manusia berhati suci wafat dengan berbagai cara mengenaskan dan menciprati kurir-kurir dengan darah mereka. Banyak hermes mati ditempat hanya untuk mengantar pesan saat itu. Tentu saja, bagi mereka disediakan lencana kehormatan bagi pahlawan perang. Dan bagi yang masih hidup, mereka akan bisa menikmati berbagai fasilitas di Dunia Bawah yang tidak akan bisa disentuh oleh jenis profesi lain. Bagaimanapun, hermes yang gugur terbanyak hanya tercatat pada Perang Salib saja. Kenyataannya, hermes jarang sekali menjadi korban perang karena mereka memiliki Sleipneir yang membuat mereka dapat kabur dari tempat yang berbahaya secepat mungkin. Seorang hermes juga diwajibkan memiliki pengetahuan tentang titik koordinat, membaca peta, menemukan tempat-tempat tersembunyi dan lain sebagainya.

Dulu, saat baru sampai di Dunia Bawah, Ralf sangat berharap untuk bisa diterima menjadi seorang hermes. Menurutnya akan keren sekali menjadi hermes. Mengantarkan berbagai paket ke seluruh dunia. Melihat bagian-bagian dunia yang tak pernah didatanginya pasti akan mengasyikkan. Tapi saat mencapai ujian masuk ketiga, Ralf tersudut. Dia ditugaskan untuk mengantarkan paket pada seorang penguji di dalam makam Tutankhamen. Di tengah perjalanan, Ralf salah membaca koordinat posisi penguji. Dia tersesat. Pengujinya, yang tidak mendapatkan kabar dari pusat, menunggu selama sekitar dua bulan. Saat itu juga Ralf masuk daftar hitam dan tidak diijinkan mencoba ujian masuk akademi hermes lagi.

“Ya, aku Ralf. Apa kau hermes yang mengantarkan misi berikutnya?” tanya Ralf tidak sabar. Dia benar-benar penasaran, misi kelas S apa yang diberikan Komandan padanya. Lalu tersenyum kecut karena teringat kemungkinan yang akan diterimanya bila dia gagal menyelesaikan misi ini tepat pada waktunya. Dia belum siap kalau harus mengelap makam ibu Komandan.

Hermes itu mengangguk kecil. Wajahnya serius. Kebanyakan dari mereka memang begitu.

“Surat penugasan untuk mencapai lencana A-class Cupid, atas nama Cupid First Quadron, Cupid Commander Friss. Surat penugasan ini ditujukan kepada Capt. Rapid Ralfadoz, B-class Cupid. Boleh saya mendengar kata kuncinya, Tuan?” hermes itu menjalankan prosedurnya, tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya.

Ralf mengangguk, “Lumina.”

“Siap mencapai A-class rupanya, eh, Ralf?” tambahnya.

“Yap. Sedekade lebih aku mengejar penugasan ini. Ini yang terakhir, Zep,” jawab Ralf sambil menepuk bahu Zephyr.

“Aku tahu kita tidak bisa menua, tapi sepertinya imortalitas tidak bisa menghilangkan efek pekerjaan bukan? Kau tampak lebih tua, Zep,” tambah Ralf. Dan dia benar. Dulu, saat terakhir bertemu di tes ketiga ujian masuk hermes, Zephyr terlihat ceria bahkan dengan bintik-bintik jerawatnya. Sekarang dia menjadi lebih mirip dengan malaikat-malaikat tua senior-seniornya sedivisi. Dahinya berkerut, senyum sedikit menghilang dari sudut bibirnya.

Zephyr adalah seorang kawan lama Ralf. Mereka masuk ke Dunia Bawah bersamaan, sempat tinggal di bawah atap yang sama, luntang-lantung di jalanan Dunia Bawah bersama sambil mencari pekerjaan.

“Yah, kau tahu sebenarnya aku ingin sekali menjadi cupid. Cupid memang pekerjaan yang sepertinya sedikit menyenangkan daripada sekadar berpindah-pindah ruang dan waktu, tapi kau tahulah kemampuanku. Aku tidak terlalu berbakat dalam tembak-menembak. Alih-alih menembak gadis berusia tujuh belas tahun agar jatuh cinta, aku malah menembak seorang kakek dengan jarak terpaut lima meter dari target. Insiden Pisa yang menyedihkan. Aku turut bersedih untuk pria yang dinikahi kakek itu. Yah, paling tidak mereka berdua saling mencintai,” mata Zephyr menerawang kejadian bertahun-tahun lalu, saat dia gagal menyelesaikan ujian masuk terakhirnya di depan menara Pisa.

Ralf tersenyum kecut, aku mau saja bertukar denganmu, teman.

“Jadi, ini misi terakhirmu. Laksanakan dengan baik ya! Jadilah A-class untukku. Dan aku berjanji akan jadi hermes yang baik untukmu. Kita saling memenuhi impian masing-masing,” lanjutnya.

“Ya, kemana kau setelah ini? Kalau kau tidak terlalu sibuk, mari makan denganku sebentar. Aku sedang membuat roti bakar di dapur,” undang Ralf sambil menyeruput kopinya.

“Oh, maafkan aku, Kawan. Tapi aku harus segera ke Jepang jaman Edo. Seorang Aphrodite kita terluka saat sedang menulis laporan untuk Divisi Pengobatan. Harus sesegera mungkin membawakannya obat. Aneh kan, perawat malah harus dirawat,” jawab Zephyr dan tersenyum sedikit.

“Baiklah kalau begitu, lain kali kala sempat, kita bisa pergi ke Coffe Palace bersama!” ujar ralf setengah berteriak. Entah Zephyr mendengarnya apa tidak. Dia sudah berderu di balik angin yang berpusar sebelum menghilang dan meninggalkan ralf bersama rasa kagumnya pada para hermes. Dia akan memberikan apapun untuk bisa kembali ke Jepang jaman edo. Pasti akan sangat seru menyaksikan perang samurai saat itu, pikir Ralf.

Setidaknya itulah yang dia pikirkan sekarang. Harusnya dia membuka suratnya sekarang. Harusnya Ralf tidak lupa pada surat penugasannya yang kini tergeletak di kursi bundar lainnya di balkon. Ralf harusnya tahu dia tidak ingin baru akan memekik pelan karena terkejut esok paginya saat dia membuka dan membaca isi surat penugasan itu.

Tapi Ralf baru akan terkejut besok pagi karena menemukan bahwa surat itu ternyata akan segera disusul oleh sebuah paket kubus seukuran delapan genggaman tangan.

Esoknya, Ralf juga akan sadar, bahwa intuisi sayapnya benar.

Dia sedang berada dalam masalah besar.
---


1st Chapter oleh Miftah Afif Mahmuda

4 comments:

Artmeza said...

Gw suka first chapter nya lo, coz gw ngfans ma Lucifer, ada karakter dy ga?
gw pnasaran ma cerita utuhnya, Novelnya uda publish blom??

Gw gtw klo mo nghubungin lo kmana,
ni email gw:
Artmeza@plasa.com

Blog:
Luciferscream.blogspot.com

ato Facebook gw
Borntoscream@plasa.com

Scptnya hubungin gw y...

komarcave said...

bagus...kalo diterrbitkan bukunya, gue pasti beli. imajinasi gue hidup man...salut deh buat miftah

Apip's Talks said...

thengzz...moga2 aja cepet

Y . A . Z said...

ih, waw!
bagus sekaleee....
aku tunggu kelanjutannya yak!