Sunday, April 19, 2009

Shakila

SMU Elang Perkasa merupakan bagian dari kompleks Yayasan Pendidikan Elang Perkasa yang terdiri dari TK, SD, SMP, SMU, Universitas dan berbagai macam pusat penelitian yang keseluruhan lahannya mencapai tigapuluh hektar. Terletak di daerah perbatasan antara Jakarta dan Bogor, Jawa Barat, tepat di pinggir jalan tol Jagorawi. Didirikan dengan dana pribadi oleh lima perusahaan raksasa yang tergabung dalam Indonesia Raya Foundation. Diluar lahan yang tigapuluh hektar pun dibangun juga fasilitas umum seperti apartemen dua tower, pusat pertokoan, rumah Sakit, kantor dan Bank tepat di sekelilingnya. Oleh karena mega proyek inilah, akses langsung dari jalan tol pun disediakan oleh pemerintah dan memiliki landing khusus untuk helikopter.

Shakila Ramadani atau Shaki merupakan seorang anak perempuan yang duduk di kelas XI-IPA-2 SMU Elang Perkasa. Dia lahir pada bulan ke sepuluh 17 tahun yang lalu. Dia seorang gadis dengan perawakan kurus dan rambut pendek berponi yang hampir menutupi matanya. Tidak ada yang istimewa padanya, kecuali dirinya dengan kameranya yang selalu dibawa kemana-mana dalam tas sekolahnya.

Shaki sedang mengeluarkan buku pelajaran untuk jam ketujuh hari Senin yaitu Bahasa Inggris, sampai tiba-tiba datang Arden seorang diri yang terlihat lelah sekali seolah-olah baru saja memecahkan rekor lari sprint seratus meternya dan segera duduk di tempat duduknya di pojok kanan paling belakang. Shaki merasa heran sekali, tidak biasanya cowok populer seperti Arden akan cepat masuk ke dalam kelas setelah istirahat kedua jam 12.30 seorang diri dan dengan keadaan yang sangat mengenaskan seperti itu.

Arden Putra Perdana Kusuma, sangat terkenal seantero sekolah, bahkan sampai dengan sekolah tetangga. Bukan-bukan, Arden bukan seorang model ataupun artis, dia hanya seorang cowok berusia 17 tahun yang diberi kelebihan wajah ganteng, badan tinggi atletis (183/80), cerdas, berkharisma, dan merupakan anak seorang pengusaha paling berpengaruh baik di Indonesia maupun di dunia Internasional. Sikapnya di sekolah pun terbilang sangat sopan dan tidak suka membuat masalah dengan siapapun.

Shaki menolehkan kepalanya ke sekeliling kelas, hanya ada tiga orang anak lainnya, Luisa Oktora Athlanta yang pendiam dan kutubuku tapi kuat lari marathon sedang asyik bergosip dengan Trianti Kurnia Daud yang cerewet dan merupakan cs-nya Luisa sejak kelas satu SMU. Kemudian Bagus Pranoto yang sedang membersihkan skateboardnya dan sering menabrak anak-anak ketika memainkannya di koridor kelas. Mereka bertiga kelihatan tidak peduli dengan kehadiran Arden.

Tanpa pikir panjang lagi, Shaki bangkit dari duduknya dan menghampiri Arden, “Hei, tumben lo sendirian aja, Den. Yang lain pada kemana?”

“Bukan urusan lo!”

“Muka lo pucet tuh! Lo sakit, Den?”

Arden menggelengkan kepalanya, “Sialan tuh cewek!” gerutunya pelan sambil menyenderkan kepalanya di atas meja saking lemasnya.

“Cewek yang mana?” tanya Shaki jadi makin bingung. Dia sekarang sudah duduk di bangku di hadapan Arden.

“Lo bawel ya, Shakila!” bentak Arden makin kesel yang sekarang sudah memandang Shaki dengan tajam, “dan siapa yang ngijinin lo duduk di depan gue?”

Shaki diam saja dibentak oleh Arden. Sedangkan Luisa, Tria, dan Bagus langsung menoleh ke arah mereka berdua, tertarik mendengar bentakan Arden. Tanpa banyak omong, Shaki segera balik ke bangkunya lagi satu baris dengan Arden kedua dari depan. Melihat tidak terjadi apa-apa, Luisa, Tria dan Bagus kembali menekuni aktifitas mereka sebelumnya.

Tak lama setelah Shaki duduk, Caesar masuk ke dalam kelas dan menghampiri Arden, kemudian memberikan sebotol air mineral dan dua buah roti coklat. Tanpa bicara sepatah kata pun, Caesar kembali duduk di bangkunya yang berseberangan dengan Arden di pojok kiri paling belakang.

Shaki melihat satu keanehan, dia tidak tahu kalau Caesar segitu akrabnya dengan Arden sampai mau membelikan Arden minuman dan makanan. Masalahnya Caesar itu biasanya selalu cuek pada Arden, bahkan pada semua penghuni kelas XI-IPA-2. Dia juga jarang masuk sekolah. Rekor masuknya dalam sebulan bisa dihitung dengan jari. Tapi anehnya, nilai ujiannya selalu mendapat nilai sempurna, dan itu yang membuat Shaki selalu penasaran padanya. Belum lagi gosip miring tentangnya yang mengatakan kalau dia merupakan cowok playboy yang sudah mengencani delapan puluh persen dari semua cewek-cewek cantik di SMU Elang Perkasa. Aneh bukan?

☺☺☺


Pukul dua siang, sekolah sudah usai. Shaki sedang membereskan buku-bukunya dan menyiapkan kaos olahraga untuk ikut dalam pertandingan voli melawan kelas XII-IPA-2 jam setengah tiga nanti.

OSIS SMU Elang Perkasa terkenal sangat aktif. Bulan Juli tahun ajaran baru diadakan pesta Orientasi Murid Baru dengan berbagai macam penampilan kesenian dari para murid baru yang diadakan selama seminggu. Bulan Agustus merupakan acara pelantikan para murid baru yang memasuki klub di luar pelajaran formal.

Terdapat duapuluh klub di bawah bimbingan OSIS, dan lebih dari sepuluh klub illegal yang tidak termasuk dalam kebijaksanaan sekolah, alias kalau ingin mengadakan acara, tidak bisa meminta dana resmi dari sekolah. Biasanya klub ini terbentuk dari murid-murid yang mempunyai minat yang sama tetapi tidak terdapat dalam klub manapun, seperti klub automotive yang rata-rata anggotanya merupakan anak-anak orang kaya yang gemar memodifikasi kendaraan pribadinya, ataupun klub balap yang gemar kebut-kebutan di arena balap Sentul yang memang jaraknya dari sekolah ke sana tidak terlalu jauh. Selain itu masih ada berpuluh-puluh band musik yang harus mendaftarkan nama bandnya untuk mendapatkan jadwal latihan menggunakan ruang studio musik yang merupakan salah satu fasilitas dari sekolah.

Pada bulan September jadwal pertandingan untuk festival olahraga dengan final pada bulan Desember diumumkan. Jadinya padat sekali acara di sekolah. Dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang, mereka sekolah formal. Setelah itu ikut acara klub sampai jam lima atau waktu yang telah mereka sepakati dan diketahui oleh pihak sekolah. Setelah jadwal pertandingan olahraga keluar, mereka pun akan sibuk bertanding mengikuti babak kualifikasi, dimana terdapat tigapuluh kelas, masing-masing tingkat mempunyai sepuluh kelas dengan masing-masing kelas mempunyai murid hanya duapuluh empat orang.

Sekilas sekolah ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak orang kaya, tapi kenyataannya ada banyak sekali beasiswa yang tersebar bagi murid-murid tidak mampu tapi berbakat dan berprestasi. Hal itu juga yang membuat para murid menjadi terkotak-kotak, tentu saja karena si kaya tidak akan mau bergaul dengan si miskin dan si miskin mungkin akan merasa minder manakala bergaul bersama mereka. Para guru bukannya tidak menyadari hal ini, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa bila menyangkut di luar masalah pelajaran formal.

“Ki, Arden kenapa, sih?” tanya Bagus mengagetkan Shaki sambil berdiri di atas skateboardnya dan tadi sempat menabrak Kittya, yang duduk di sebelah kanan Shaki, yang sudah mau pulang, “Lho, lo ikut tanding voli hari ini?”

Arden sendiri sudah tidak ada di dalam kelas, dia langsung ngacir begitu bel sudah berbunyi dengan wajah yang masih sangat pucat. Sedangkan Caesar masih asyik ngobrol dengan Olive Breslin dan Rieka Nurvita, yang termasuk dalam jajaran cewek-cewek cantik di sekolah, di sudut kiri kelas.

“Yup, gue ikut kepilih soalnya nggak ada lagi yang sempet, pada sibuk semua. Wah, jangan tanya gue, Gus, apa yang terjadi pada Arden. Tadi aja lo liat sendiri gue dibentak sama dia.” Jawab Shaki yang sudah berdiri dan memberi isyarat pada Ellen Damayanti untuk bersama-sama menuju ruang ganti.

“Aduh, kalo Arden nggak ada, siapa lagi yang bisa ikut tanding sepakbola sore nanti?” keluh Bagus.

“Kan ada Caesar, olahraganya jago juga, kok!” jawab Shaki enteng.

“Iya, Gus, minta aja sama Caesar. Dia nggak bakalan nolak, deh! Malah dia akan menerimanya dengan senang hati sambil mengundang seluruh cewek-cewek cantik satu sekolahan buat ngedukung dia.” Cekikik Ellen.

Bagus menghela nafas panjang, “Ya udah, gue coba, deh! Oya, met tanding, ya! Lawan kelas mana?” ucapnya sambil berlalu di atas skateboardnya.

“Kelas dua belas IPA dua. Awas, Gus, nabrak Mahen…,”

BRUK!

Bagus dan Mahendra jatuh bersamaan.

“Baguuuss…, gue bilangin berapa kali jangan main skateboard di kelas, kalau di koridor terserah, deh!” omel Mahendra sambil mengelus pantatnya yang kesakitan. Mahendra merupakan ketua kelas XI-IPA-2 dan mengikuti klub sepakbola.

“Sori, Hen, jangan marah. Tadinya gue mau ke tempat Caesar, kan kita masih kekurangan orang buat tanding bola.”

Caesar yang mendengar namanya disebut langsung menjawab, “Wah, gue nggak bisa, gue dipanggil sama pak Joko.” Pak Joko merupakan wali kelas mereka dan mengajar Fisika.

“Lo nggak bisa? Terus siapa lagi yang bisa?”

“Sori, deh! Tapi lo bisa minta anak kelas sebelas-IPA-tiga, kan? Mereka udah gugur jadi bisa dimintain orang.”

Mahendra dan Bagus cuma bisa mesem. Mereka bisa ngerti kenapa Caesar dipanggil sama pak Joko, soalnya Caesar jarang masuk, sih!
☺☺☺


Selasa, 2 November, Shaki masuk seperti biasanya ke sekolah. Pukul enam lewat limabelas menit, dia sudah tiba di kelasnya dan sedang asyik memeriksa photo-photo hasil jepretannya untuk dia jual kembali ke teman-temannya atau untuk masuk di dalam majalah terbitan terbaru.

Kemarin mereka memenangkan pertandingan voli dan akan bertanding lagi hari jum’at nanti. Dan baru pada hari ini akan ketahuan siapa lawan berikutnya. Sedangkan untuk sepakbola, kelas XI-IPA-2 harus gigit jari soalnya kalah dengan skor 3-2. Tapi setidaknya mereka masih mempunyai kesempatan untuk memboyong piala basket dan voli, jadi mereka semua sepakat untuk sekuat tenaga meluangkan waktu mengikuti pertandingan basket dan voli.

Hari ini, akhirnya Shaki bisa memahami kenapa kemarin Arden bersikap aneh, terlebih-lebih melibatkan Caesar juga. Dia baru mengetahuinya ketika lima menit kemudian datang Rita, sahabatnya yang duduk di kelas XI-IPA-5, dengan riangnya dengan wajah yang sudah tidak sabar untuk mengatakan sebuah rahasia paling menggemparkan seantero sekolah. Yup, Gosip itu pun akhirnya menyebar dengan riangnya, tanpa mengenal batas waktu dan dimensi.
Arden Homo! (Dengan Caesar tentunya!)

Shaki sedang menahan dirinya begitu mendengar gosip sekaligus detilnya. Tidak ada gosip yang pernah lewat dari telinga Rita pokoknya, deh! Tiba-tiba Shaki bangkit dari kursinya kemudian dia keluar dari dalam kelas tanpa pamit pada Rita yang sekarang sedang ngobrol dengan Mario, salah satu teman sekelas Shaki, yang bertanya dengan antusias tentang gosip itu. Dia melirik jam tangannya. Masih jam tujuh kurang sepuluh menit. Sepertinya cukup untuk menyendiri sebentar di taman belakang.

Arden yang terkenal dingin dan galak sama perempuan digosipkan menjalin hubungan terlarang dengan Caesar yang terkenal pecicilan dan genit sama anak cewek bahkan digosipkan sudah mengencani delapan puluh persen dari seluruh cewek-cewek cantik di sekolah? Shaki hanya geleng-geleng kepalanya sepanjang perjalanan menuju taman belakang dekat rumah kaca.
Begitu sampai, dia tertawa dengan sepuas-puasnya. Setelah selesai, dia menghapus air matanya, mengatur nafasnya kembali dan segera balik lagi ke dalam kelasnya dengan tenang seperti biasanya.

“Lo dari mana aja, Ki?” tanya Rita bingung melihat wajah sahabatnya yang memerah dan keringatan.

“Gue? Ng, gue abis olahraga perut.” Jawab Shaki sekenanya sambil nyengir kuda ke Rita. Rita yang mendengarnya jadi bingung.

Sementara gosip sudah menyebar dengan sangat luas, bintang utama yang digosipkan belum datang-datang juga sampai saatnya istirahat siang (tentu saja Caesar pun yang memang aslinya jarang sekali masuk sekolah juga terlibat).

Shaki sebenarnya tahu biasanya Caesar bolos dimana, karena beberapa kali dia mendapati Caesar sedang mojok dengan salah satu siswi entah kelas berapa yang pasti cantik di dalam lab komputer. Kebetulan aja buku Shaki tertinggal di sana ketika praktek dan bermaksud mengambilnya, ataupun hanya sekedar ingin mengecek e-mail gratis. Dan Caesar juga tahu kalau dia sering kepergok lagi mojok oleh Shaki. Tapi entah mentalnya terbuat dari apa, dengan entengnya Caesar hanya mengibas-ngibaskan lengannya, isyarat sedang mengusir Shaki dengan sopan. Tentu saja tanpa sepengetahuan cewek yang sedang bersamanya.

Otomatis gosip pun semakin ganas menyebar, entah apakah itu di kantin ataupun di dalam kamar mandi, pasti ada segerombolan anak-anak cewek yang menggosipkan itu dengan sangat antusiasnya. Contohnya seperti percakapan yang didengar Shaki ketika sedang di dalam kamar mandi ini.

“Ya ampyuun…, Jeng! Tolong, deh! Arden emang ganteng banget! Caesar walaupun jarang sekolah dan prestasinya yang terkenal sebagai cowok playboy pun masuk ke jajaran cowok-cowok paling ganteng seantero Elang Perkasa. Tapi kenapa mereka musti sampai jadian, sih? Kenapa Caesar nggak pilih kita-kita aja yang berada di jajaran kecantikan kelas menengah kalau dia nggak tertarik sama cewek-cewek di jajaran kecantikan kelas elit lagi!?”

“Iya, jangan-jangan mereka berdua sudah mengidap penyakit berbahaya lagi! Iiiihhh…., mengerikan banget, deh! Bikin patah hati!”

“Gue, sih, masih bisa terima kalau Arden jadian sama si Susi kampungan itu, setidaknya kan masih cewek dan kita masih punya kesempatan buat merebut hatinya!”

“Kalo gue, sih, jadi bingung, musti seneng apa nggak. Soalnya berarti kan keinginan gue tercapai, agar Arden tidak dimiliki oleh cewek manapun selain gue. Apa gue harus mengubah sumpah gue ya biar Arden nggak dimiliki sama siapun baik cewek maupun cowok kecuali gue?”
Mendengar ucapan salah satu temannya itu, tentu saja itu membuat teman-temannya yang lain langsung melotot ke arahnya.

Shaki sedang menahan dirinya untuk tidak kelepasan ketawa. Sayang dia tidak bisa melihat wajah-wajah dari cewek-cewek penggosip toilet itu, bahkan dia tidak tahu tepatnya mereka ada berapa orang.
☺☺☺


“Ta, lo yakin gitu kalau Arden gay?” tanya Shaki ketika mereka berdua sudah berada dalam perjalanan pulang di dalam bus yang tidak begitu padat.

Rumah Shaki dan Rita kebetulan berada di daerah Jakarta. Ada bus jemputan dari sekolah sampai UKI. Setelah itu mereka berdua naik bis menuju daerah rumah mereka. Rita di daerah Tebet, sedangkan Shaki di daerah Rawamangun. Mereka bersama-sama hanya sampai terminal Kampung Melayu saja, setelah itu pisah.

“Lho, kenapa nggak yakin? Gue melihat sendiri, kok, waktu di belakang lab komputer kalau Arden mendorong Sinta dan mukanya yang langsung pucat gitu kayak orang mau muntah, terus Caesar datang dan mereka saling berpelukan.” Diplomatis Rita dengan semangat empat lima mempertahankan gosipnya.

“Justru itu masalahnya, bukti seperti itu belum cukup kuat untuk membuat Arden menderita seumur hidup karena dibilang gay!”

“Terus, lo nggak percaya gitu sama cerita sahabat lo ini?”

“Bukannya gue nggak percaya, tapi kan lo tahu bagaimana Arden dan bagaimana Caesar. Masuk akal gitu? Betewe, lo udah telephon Tami tentang hal ini?”

Rita menggelengkan kepalanya, “Iya, gue tahu! Tami belum gue telephon. Lagian buat apalah, ini kan paling cuma jadi gosip anak kelas sebelas doang!” balas Rita tambeng seperti biasanya.

Shaki menghela nafasnya melihat reaksi sohibnya itu, “Gosip anak kelas sebelas? Tadi gue pas di kantin denger anak kelas duabelas lagi ngegosipin Arden loh! Itu bisa jadi gosip nasional, Neng! Kayak nggak kenal siapa Arden aja. Belum lagi kalau didenger sama keluarganya, bisa-bisa lo dicari-cari sama mereka karena dinilai sudah mencemarkan nama baik seseorang.” Ucap Shaki agak mendramatisir membuat Rita langsung merinding mendengarnya dan juga jadi menyadari kalau sepertinya dia dalam bahaya besar.

“Lo bercanda kan, Ki?” ucap Rita pelan.

Shaki langsung tertawa lepas melihat reaksi sobatnya ini. Dia paling suka saat-saat menggoda Rita yang ceroboh dan polos seperti itu.

“Shaki, sialan lo! Jangan bercanda kayak gitu ah!” rengek Rita sambil memukuli Shaki, “Eh, Ki, kapan-kapan ngeceng di café yayasan yuk! Bosen gue ngeliat seragam mulu. Sekali-kali mau ngeliat mahasiswa-mahasiswa yang udah pada dewasa gitu!” ajak Rita membuka percakapan baru.

“Café yayasan? Kapan-kapan aja, ya! Gue musti nabung dulu, soalnya lagi tiris, nih!” jawab Shaki tersenyum.

“Kan masih awal bulan, Ki! Oiya, apa kapan-kapan kita karaoke aja ya di mall?”

Rita sibuk berceloteh tentang rencana menghabiskan waktu selesai sekolah kalau tidak ada kegiatan klub. Sedangkan Shaki hanya mendengarkan dengan sabar. Itulah mengapa mereka sangat cocok, karena Rita senang sekali mengoceh sampai tidak bisa berhenti, sedangkan Shaki lebih senang mendengarkan.

Shaki melihat sekilas ke jendela dan menyadari kalau sekarang bis sudah hampir sampai di jalan Dewi Sartika. Tapi tiba-tiba para penumpang di dalam bus ribut sambil menunjuk-nunjuk ke arah sisi jalan yang menuju Cililitan. Ada Pengeroyokan!

Semua penumpang memasang tampang ngeri dan takut. Malah pemuda yang berdiri di depan Shaki, yang Shaki perkirakan kalau sedang pulang kuliah, menyumpah-nyumpah mengatakan kalau itu tidak beradab.

“Waktu gue STM, gue nggak sebarbar itu ngeroyok satu orang yang nggak berdaya. Biasanya cuma kita palak aja minta dompetnya syukur-syukur kalo ada hapenya, udah gitu kita lepasin.”

Shaki cuma bisa nyengir mendengar ucapan ngaco kayak gitu.

Shaki pun ikut melihat ke arah yang dimaksudkan, kemudian dia melihat serombongan anak cowok memakai seragam putih abu-abu sehingga dia tidak tahu dari sekolah mana. Sedangkan seragam sekolahnya sendiri kemeja lengan pendek bergaya kelasi berwarna putih dengan tiga strip sepanjang kerahnya berwarna merah, biru dan hijau, rok lipit sepanjang lututnya berwarna hijau tua dengan syal berwarna senada roknya sebagai dasi, sehingga dengan mudah bisa dicirikan kalau dia sekolah di SMU Elang Perkasa.

Ada kurang lebih sepuluh orang sedang mengeroyok seorang anak cowok yang sebaya dengan mereka.

“Ki, itu bukannya Arden?” tanya Rita sambil mengguncang-guncang bahu Shaki dengan wajah yang sudah pucat saking takutnya.

Shaki kaget mendengar itu, dia langsung menajamkan pandangannya. Tanpa perlu waktu lama untuk memastikan, dia sepakat dengan Rita kalau yang sedang dikeroyok adalah Arden, ketika selintas dia melihat baju seragam yang dikenakan dan sosok belakang Arden yang sudah sangat dihapalnya.

Dia segera bangkit dari kursinya dan turun begitu bis sedang berhenti di halte. Sedangkan Rita hanya bisa teriak melarang Shaki agar tidak berbuat bodoh, tapi dia juga ikut turun dari bis dan ikut mengejar Shaki yang sekarang berlari ke arah perkelahian.

“Hentikan!” teriak Shaki ke arah kerumunan ketika jarak mereka tinggal lima meter lagi.

Padahal saat itu tidak ada satupun orang yang berani menjalankan mobilnya mendekati perkelahian itu. Tapi percuma mereka semua tidak bisa mendengar teriakannya.

“Hentikan!!” ulang Shaki untuk yang kedua kalinya agak frustasi.

Tapi percuma juga. Mereka terlalu sibuk memukuli Arden.

Sementara itu Rita hanya bisa melihat Shaki dari jarak sepuluh meter dengan perasaan ngeri dan takut. Dia langsung memencet-mencet tombol handphonenya untuk menelephon siapapun yang bisa dia hubungi.

Karena ditekan oleh perasaan takut dan khawatir melihat keadaan Arden yang sudah seperti seonggok daging giling, dengan nekad Shaki memungut salah satu batu yang berada di pinggir jalan dan melemparkan ke salah satu cowok yang berkepala botak dengan celana robek di lutut. Otomatis perkelahian itu langsung berhenti dan beralih memandang ke arah Shaki.

Shaki membeku! Dia nggak ngira kalau lemparannya bakalan kena telak. Dan sekarang dia sedang diliatin oleh sepuluh pasang mata yang membuatnya hanya bisa nyengir pura-pura nggak bersalah.

“Mau apa lo cewek jelek?!” bentak anak cowok yang kena lempar batu itu menghampiri Shaki dengan kemarahan yang sudah sampai ubun-ubun.

Melihat reaksi yang menyeramkan seperti itu, Shaki memundurkan langkahnya pelan-pelan dengan meletakkan tasnya sebagai tameng.

“Hentikan!” ucapnya dengan lagak digalak-galakin, “Kalian para cowok memalukan sekali, masa sepuluh orang mengeroyok satu orang. Itu curang namanya! Apalagi kalian juga anak sekolahan!”

“Dasar cewek kurang ajar! Berani banget lo lempar batu ke kepala gue!” teriak anak cowok itu dan langsung menyerang Shaki.


Shaki nggak bisa berteriak ataupun menggerakkan kakinya lagi melihat gerakan cowok yang bermaksud menyerangnya itu. Dia ketakutan, tentu saja. Dan dalam hatinya dia mengutuk diri sendiri kenapa sok jadi pahlawan gitu. Padahal dia tahu kalau itu tidak ada manfaat sama sekali bagi dirinya.

BUG!


Shaki terkejut! Matanya melotot. Dia melihatnya! Entah bagaimana Arden telah menolongnya dengan menangkis serangan si botak itu dan menonjoknya juga sehingga si botak langsung terjungkal.

“BODOH! APA YANG LO LAKUIN DISINI?! CEPAT PERGI DARI SINI!” bentak Arden pada Shaki.

Shaki masih shock jadi dia hanya bisa diam saja tidak bisa bergerak.

Melihat salah satu temannya roboh, yang lainnya pun langsung menyerang Arden kembali dengan lebih beringas. Dan Shaki melihatnya saat itu, walaupun dalam dua hari ini dia telah dibentak oleh Arden, tapi dia melihatnya, saat ini Arden melindunginya!

Arden mendorong anak-anak cowok itu menjauh dari Shaki dengan menonjok mereka semua. Shaki tidak bisa memalingkan wajahnya. Dalam hatinya dia merasa terharu sekali. Padahal maksudnya dia yang menolong Arden, tapi kenapa sekarang dia yang ditolong oleh Arden?

“Woi, berhenti! Polisi udah dateng! Ayo kita kabur!” teriak salah satu anak cowok yang berbadan agak kecil namun berisi.

Kelihatannya dia bosnya karena dengan komandonya mereka semua langsung pergi meninggalkan Arden yang masih memasang posisi badan bertahan.

Akhirnya hanya tinggal Arden dan Shaki saja, sedangkan Rita yang merasa kondisi sudah aman langsung berlari menuju Shaki untuk segera membawanya pergi dari sana. Tapi Shaki malah menghampiri Arden yang sedang berusaha untuk bangkit.

“Mau gue bantu?” tanya Shaki sambil mengulurkan tangannya.

“Nggak usah, gue bisa sendiri! Dan jangan coba-coba sentuh gue! Oke?” bentak Arden dan dia bersikeras untuk bangkit sendiri dengan susah payah.

“Terserah lo, deh!” ucap Shaki sambil menghela nafasnya.

Sementara itu sirine polisi semakin terdengar mendekat.

“Ki, ayo pergi dari sini. Polisi udah datang, tuh! Nanti bisa-bisa kita disangka terlibat sama masalah ini dan dibawa ke kantor polisi.” Kata Rita gelisah sambil menarik lengan kiri Shaki untuk segera pergi dari sana.

Dan kali ini Shaki pun pergi mengikuti Rita.

Arden sudah berhasil berdiri dengan kedua kakinya dan sekarang sedang berjalan menuju tasnya yang terjatuh lima meter dari posisinya, bermaksud mencari handphonenya untuk meminta bantuan teman-temannya. Tapi tiba-tiba Arden dikejutkan oleh sebuah taksi yang berhenti di hadapannya, kemudian pintu taksi itu pun terbuka.

“Masuk, gue anter lo ke rumah sakit.” Kata Shaki.

Arden hanya bengong melihatnya.
☺☺☺


1st Chapter oleh Ninna Rosmina

2 comments:

sudi said...

bagus nin, jadi gak sabar pengen baca lanjutannya, kayaknya cerita2 romantis gitu ya? perasaan awal2 sih agak mirip meteor garden, tapi ada isu homo juga, jadi seru deh, gak sabar pengen baca lanjutannya, hehehe

Sopoiki said...

Siapa?