Sunday, February 15, 2009

Bicara Bioskop

Kapan terakhir kali gue ke bioskop? Pertanyaan aneh, adanya juga kapan terakhir kali gue gak ke bioskop? Setelah ini pasti akan muncul argumen yang menyakitkan buat penulis naskah jenius ini, “lu kerja di bioskop? Jaga loket? Nganter roll film? Haduh tahun berapa ini bung?” atau “ngapain ke bioskop mulu? Gak kuliah? Gak ada kerjaan lain? Edan.”

Lalu diikuti oleh celetukan orang tua yang kebetulan baca, “kasihan ya, masih muda udah gak ada kerjaan, dasar anak muda zaman sekarang.”

Krik krik.

Terus gua jawab, “Hoi! Kenapa sih? Suka-suka gue dong! Sirik aja lu!”

Actually, gue pengen jawab gitu, tapi mengingat kredibilitas gue sebagai anak muda budiman harapan bangsa, tanpa tendensi menyelamatkan muka, gue jawab, “ sebagai anak muda yang peka terhadap perkembangan zaman, gue harus terus belajar. Nah, bioskoplah salah satu objek gue. Lu pada tau gak sih, dari film-film yang diputar, kita bisa ngeliat perkembangan yang terjadi di permukaan bumi, mulai dari perekonomian, politik, olahraga, hingga ke masalah sosial. Semua tergantung cara lu menafsirkan lambang-lambang semiotik yang coba disampaikan pembuat film dengan membandingkan realitas sosial yang ada.” Keren gak tuh? Hahaha, gak usah kagum.

Krik krik.

“eh, ada jangkrik tuh.”

Hoi!

*******************************************

Pertama kali gue ke bioskop, kira-kira belasan tahun silam dimana bioskop tidak semegah sekarang. Gue lahir dan besar di kota penghasil minyak bumi terbesar di pulau sumatera. Sebuah kota yang mengharuskan lu membeli mikroskop untuk melihatnya di peta Indonesia. Menyedihkan? Tenang bung, gak senista yang lu bayangin. Kota yang namanya gue rahasiakan karena gak punya izin resmi untuk menuliskannya ini dibangun perusahaan penggali minyak terkenal dengan mengadaptasi gaya negara asalnya sana, so, bisa lu bayangin fasilitasnya. Stop! Jangan ngebayangin the big apple bung. Bayangkan sebuah kota asri di pinggiran negara bagian negeri paman sam sana, rumah dengan halaman luas yang dibagi ke dalam beberapa kompleks, jalan-jalan aspal bagus yang beraturan, rambu-rambu lalu lintas yang rapi, hutan lindung yang asri, playground untuk anak-anak yang menyenangkan, lapangan baseball, gelanggang olahraga standar internasional, lapangan basket di pinggir jalan, sekolah-sekolah berfasilitas luar biasa, dan berbagai fasilitas menarik lainnya, wait, hampir lupa, tentu saja bioskop yang menggugah selera.

Bisa dibilang, itu perkenalan pertama gue dengan bioskop. Sebagai seorang anak SD imut yang lucu, saat itu, gue langsung jatuh cinta pada layar lebar bersuara bombastis yang menghantam gendang telinga itu. Bisa dipastikan hampir tiap weekend gue bertandang ke sana dan yang gue inget, gak kayak sekarang, gue harus bawa bekal makanan kecil dari rumah untuk dinikmati di sana. Susunan bangku lipat berbusa yang nyaman langsung bikin gue terkesima, gue selalu milih bangku di barisan belakang, tengah tentunya. Tak sekedar fasilitasnya aja, ada satu hal lagi yang bikin gue rajin mengunjungi bioskop itu, yaitu biayanya. Gratis bung! Walaupun cuma satu studio, gak kebayang sekarang mo nyari bioskop gratisan dimana. Bisa aja sih, kalo bioskopnya punya bokap lu, atau temannya bokap lu, atau bokapnya teman lu, temannya teman bokap temen lu, atau temennya nyokap juga boleh. Sekarang, harga satu kursi di bioskop untuk satu pertunjukan aja bisa buat biaya makan sehari anak kos.

Sambil menikmati bekal berupa chiki-chikian yang gue bawa dari rumah, dan menyeruput soft drink berkarbonasi, dengan angkuhnya gue menatap layar bioskop gratisan dengan perasaan takjub. Film yang paling gue inget tak lain dan tak bukan adalah Tenage Mutant Ninja Turtles. Gak perlu gue jelasin kan? Tentang empat kura-kura absurb yang entah mengapa bisa menyerupai manusia dan hebatnya lagi punya kemampuan beladiri yang dahsyat layaknya ninja. Semua penjahat dibabat abis, mo manusia, mo babi,mo serigala, semua jenis penjahat dihajar tak berkutik oleh empat ninja jagoan tadi. Terus lagi ya, ada reporter cantik anak manusia yang menggugah iman bernama April yang lengket banget ama pasukan ninja bercangkang belakang ini. Aneh? Belum seberapa dibanding mengingat gurunya yang seekor tikus mungil yang sangat cool dan bijaksana. Dulu ya, gue sampai punya berbagai souvenirnya, mulai dari mug hingga payung cantik, menggunung di penjuru kamar gue.Freak? emang, gue juga mikir gitu, sekarang. Dulu sih asik-asik aja, secara gue masih kecil juga, wajar dong gue percaya ama yang gituan, kagum malah. Sekarang gue nganggap cerita itu konyol aja. Sekarang gue nganggap gak mungkin ada kura-kura yang berubah jadi ninja superhero yang menyelamatkan dunia. Hoho, lu juga dulu pasti ketipu ama cerita mengagumkan si kura-kura tadi. Iya kan? He? Ngaku aja. Hahahaha.

Balik lagi ke cerita masa kecil gue di kampung sana, di masa gue tumbuh dengan indahnya. Setiap hari bunga-bunga tumbuh dengan mekarnya, kendaraan lalu lalang, pepohonan melindungi kita, dan matahari bersinar dengan cerahnya, gue maen bola.

Apa? Ada komentar?

“Ini buku tentang apa sih? Bioskop kan?”

“Ntahlah, gue juga gak ngerti.”

“Trus apa hubungannya ama maen bola?”

“Iya, ada pohon ama bunganya lagi.”

“ Penulisnya gila ni. Udah ah, gak usah baca aja yuk!”

Hoi!

Krik krik.

“Eh, ada jangkrik tuh.”

Krik krik.

Hoi!

*******************************************

Ngomongin film dulu nih, gue mo pasang aksi anak muda budiman harapan bangsa, harap tabah ya. Dunia perfilman saat ini berkembang dengan pesatnya, khususnya di Indonesia. Hal ini dapat kita perhatikan dengan tumbuh kembangnya angka produksi film nasional saat ini. Tidak hanya itu saudara, jumlah bioskop di tanah air juga tumbuh dengan pesatnya didukung dengan besarnya animo masyarakat terhadap dunia perfilman. Bahagia? Tidak juga, jumlah film dan bioskop yang banyak tersebut tidak serta merta membawa kebaikan bagi masyarakat secara keseluruhan. Bioskop yang merajai dunia perbioskopan tanah air didominasi oleh bioskop-bioskop berjaringan internasional yang tentu saja mematikan bioskop-bioskop lokal berfasilitas minim bermodal seiprit. Film-film karya anak bangsa juga masih banyak yang bisa dikatakan tidak bermutu, ikut-ikut trend, pokoknya kacaulah. So, tidak aneh jika bioskop masih dirajai film-film hollywood sana.

Suatu ketika, di usia yang sudah beranjak dewasa ini, sebagai seorang anak muda budiman harapan bangsa yang sedang menempuh pendidikan lanjutan di bangku universitas, gue iseng berkunjung ke salah satu bioskop lokal yang berhasil bertahan dari kejamnya dunia walupun terlihat jelas sekali terseok-seok.

Gue tertegun, terenyuh, menatap gedung bioskop tua yang terlihat lesu mengenang masa jayanya. Pikiran gue melayang ke masa lalu, di masa gedung ini menjadi tujuan weekend anak-anak muda, kaum-kaum berduit yang berniat memanjakan diri dengan teknologi yang dihadirkan bioskop. Tawa canda mereka, dengan pakaian khas retro zaman itu, memenuhi area yang kini seperti gudang tak terpakai. Gue tersadar ketika melihat ke arah loket yang dijaga oleh seorang pria tua. Di sana tertera harga untuk menyaksikan sebuah pertunjukan film, Rp. 4000,- saja. Gue makin terenyuh. Batin gue berkata, tontonlah, bantulah walau hanya dengan selembar tiket yang kau beli. Sebagai, lagi-lagi, anak muda budiman harapan bangsa, gue berpikir keras dengan pergolakan bathin yang dahsyat, akhirnya dengan hati dan tekad yang bulat gue putuskan, GUE HARUS NONTON DI SINI!

Gue melangkah dengan mantap menuju loket tersebut. Gue merogoh dompet, mengeluarkan empat lembar duit ribuan dan menyerahkannya pada si pria tua.

“Mau nonton di studio yang mana mas?”

Gue berfikir sejenak, “emang ada apa aja pak?” gak nyangka deh gue, kalo ternyata ada pilihan film juga di bioskop ini. Gue makin terenyuh ketika membayangkan berapa biaya operasional yang harus ditanggung bioskop berpenghasilan kecil ini jika harus mengoperasikan beberapa studio.

“Lihat di jadwal tayang di sebelah kiri mas.”

“Oh, iya.”

Gue melangkah menuju papan jadwal, dari jauh terlihat ada empat pilihan film, itu berarti ada empat studio di bioskop ini. Gue makin terenyuh dan semakin memantapkan tekad, GUE HARUS NONTON DI SINI! Semakin dekat ke papan jadwal, gue semakin dapat menyaksikan dengan jelas film-film yang sedang tayang. Gue terkesima, gue tertegun, lagi-lagi, karena yang diputar ternyata, FILM PANAS bung! Tekad gue semakin bulat, hati gue semakin mantap, GUE BENER-BENER HARUS NONTON DI SINI!

Hari beranjak gelap, dengan niat mulia membantu sesama, empat film udah gue santap. Bunga masih tumbuh dengan mekarnya, kendaraan lalu-lalang, pepohonan melindungi kita.

“Mulai lagi nih dia.”

Sial, gue belum selesai nih! Ntar aja protesnya!

“udahan aja yuk, penulisnya makin gila nih.”

Hoi!

Krik krik.

“Eh, ada jangkrik tuh.”

Apaan sih lu? Kayaknya gue udah denger dialog ini deh!

Krik krik.

Hooi!

*******************************************

Seberapa pemberanikah anda menghadapi makhluk halus? Bisa jawab? Bingung kan! Gue juga pernah nanyain ini ke diri gue. Mencoba bertanya kepada para sesepuh dunia kehantuan, hingga ke ilmuwan berbasis ilmu pasti. You know what? Gue tetep gak dapet jawabannya. Baik ilmuwan maupun sesepuh takluk menghadapi pertanyaan ini. Gue sempet depresi juga. Setelah bertapa, merenung, dan mengasingkan diri dari dunia selama beberapa hari, finaly, gue dapet jawabannya. Mo tau? Hahaha. Ok, sebagai anak yang tidak pelit, gue bocorin jawabannya. Jadi lu gak perlu susah-payah nyari jawabannya.

Ok, setelah satu paragraf basa-basi yang tak berbobot di atas, maka gue nyatakan bahwa, jawaban terbaik (versi gue) untuk menjawab pertanyaan ‘seberapa pemberanikah anda menghadapi makhluk halus?’ yang tak terjawab oleh makhluk berotak buruk seperti, dia (bukan elu kok)adalah tontonlah film horor! Simpel kan? Tinggal keluar duit barang Rp. 25.000,- dan berangkatlah ke bioskop atau kalau lu emang termasuk golongan anak kos kere sebangsa gue (ngaku lu!), tinggal bayar Rp. 2500,- perak aja, tunggu matahari terbenam, tutup semua tirai kamar, dan tontonlah film tersebut di komputer butut andalan lu. Alhasil lu bakal tahu seberapa besar mental lu menghadapi makhluk halus.

Suatu hari dari kehidupan gue yang udah lewat, demi mempraktekan teori yang gue sampaikan di atas, bertempat di sebuah bioskop kenamaan salah satu ibukota provinsi. Dengan gagahnya gue berdiri di depan jadwal tayang yang mengindikasikan film apa yang sedang diputar. Kebetulan banget nih (namanya juga penulis) lagi musim-musimnya film horor. Mengingat budaya latah bangsa indonesia di segala bidang, gue gak heran mendapati produksi film nasional dengan film-film bertema mistis mengantri di playlist jadwal tayang bioskop tanah air. Antara bingung dan tidak, karena harus memilih satu judul dari beberapa film yang bergaris besar sama, gue akhirnya putuskan memilih sebuah film bergenre horor dengan judul setelah jam 00.00 (judul disamarkan demi keselematan penulis dari tuntutan hukum).

Film yang gue tonton ini cukup menarik karena dibintangi oleh dua artis cantik. Gue melangkah masuk dengan nacho’s dan minuman berkarbonasi di tangan. Hmm, kok gue merinding ya? Abisnya gelap bung. Gue kan mo nonton film horor, so, udah kebawa serem duluan. Huff, pantat tipis yang gue bangga-banggain udah mendarat dengan mulusnya di sofa bioskop yang luar biasa empuknya itu. Minuman gue seruput, nacho’s pun gue hantam dengan ganasnya, padahal filmnya belum dimulai. Tiba-tiba saja, seorang wanita muncul di depan gue. Hoho, jujur aja gue sempat GR sebelum dia mengeluarkan kata-kata,

“Maaf mas, dilarang bawa makanan dari luar.”

He? Yang mana? Aneh ni si mbak. Ini nacho’s ama minuman berkarbonasi penyumbat aliran darah mbak! Gue beli di depan!

“He? Gue beli di depan kok.”

Si mbak segera memasang wajah tak percaya. Gue bisa langsung nebak pikirannya. Pikiran busuknya tertera jelas di jidatnya. Yaah, bukan sok paranormal juga, tapi kejadian kayak gini udah biasa banget dalam hidup gue. Gue pernah dilarang masuk mall, gak boleh masuk karaokean, dilarang masuk box ATM karena dikira mo maling, macem-macem deh, seakan-akan gue orang purba yang gak pantes menikmati majunya kehidupan manusia. Gak berhenti di situ, ngeliat gue susah juga orang gak puas. Pernah ya, gue kehabisan pulsa dan gue nelpon di wartel, trus waktu gue keluar dari box terdengar bisik-bisik tak mengenakkan. Semua orang pada sama ya, suka ngejudge orang dari penampilan luarnya. Emang sih, gue kurus, banget, pakaian kucel, celana bolong gak jelas, sepatu sobek, tapi gue manusia biasa, gue punya perasaan, gue juga mahasiswa universitas negeri sangat terkenal, lu juga belum tentu bisa masuk ke sana, dan yang terpenting, gue punya uang! Banyak! Hahahaha!

“Ini buku apa sih?”

“ Biografi? Sesi curhat? Aneh deh.”

“Iya, males deh gue. Sombong banget.”

“Pongah, congkak!”

“Udahan yuk. Bukunya dibakar aja.”

Hoi! Stooop! Ceritanya belum selesai ni!!

Huff, maafkan saya pembaca yang terhormat, barusan saya lepas kendali. Hmm, ok, kita kembali ke si mbak tadi. Seperti biasa, gue bisa langsung ngebaca pikirannya tentang gue, ‘ORANG MISKIN! KAMPUNGAN! NORAK!’ gak salah lagi, gue bisa ngeliat di jidatnya.

“Emang di depan jual emping bumbu sate padang ya? Yang bener aja mas.”

“Emping?”

Gue makin bingung.

“ Maaf jika saya kurang sopan!” katanya sambil merampas nacho’s gue. Dia melangkah pergi, menuju sudut studio, membuka sebuah benda besi berbentuk bundar, mencampakkan nacho’s gue ke dalamnya. Pltang!

Hiks, bunyi yang sungguh nyaring. Menghantar maut bagi si emping. Gue cuma bengong. Film di putar. Gue masih bengong.

*******************************************



1st Chapter by Dewangga Satria Prayudha

2 comments:

sustika said...

wakakak....
novelnya lucu abisss
adek gue ga ngerti sama nih novel, katanya penulisnya cabul hehe...
tapi menurut aku sih asiiikkkk...
klw jadi novel utuh, mau tuh gue beli.

septian said...

hehe.
tengkyu ses tike.
he?
sustika.
jd pmantik smngat buat gw.

yg laen, baca dong.
komeen!
hahaha.

krikkrik

eh, udah ah.