Sunday, February 8, 2009

My Heart Savior

SKETSA PERTAMA

FIRST TIME WHEN I MET YOU

SAAT KITA MENYENDIRI

KITA MERASA BAHWA TIDAK ADA

SEORANG PUN YANG MEMPERHATIKAN KITA.

PADAHAL DI SEKITAR KITA

ADA BANYAK ORANG YANG MEMPERHATIKAN KITA

BAHKAN INGIN MENDEKATI KITA.

TETAPI KITA TIOAK MENYADARINYA

KARENA KITA TIDAK PERNAH MENCOBA

UNTUK MULAI MENDEKATI ORANG LAIN.

(ADITYA REVALITA, PENULIS)

***

CERITA PERTAMA

KESAN PERTAMAKU TENTANG KAMU

Rabu, 02 Juli 1997 (Adyt 9 tahun, Afi 10 tahun)

Adyt:

“Tolong aku!! Siapapun tolong aku!! Suster! Toloooong... !!”


“Enggak ada suster yang bakal nolongin kamu! Hayo, berikan majalah Bobo yang dikasih Ibu tadi!” perintah Merick yang mengenggam tangan kiriku sambil merogoh saku celanaku dengan sebelah tangannya. Padahal sudah kubilang berkali-kali kalau aku (pura-pura) lupa menaruh majalah pemberian seorang Ibu muda yang berbaik hati kepadaku tadi pagi. Itulah pertama kalinya aku diberi majalah dari orang lain. Aku suka majalah Bobo itu, kan majalah itu pemberian dari seorang Ibu yang mengomentariku kalau aku anak yang pintar. Jadi aku enggak bakal memberikan majalah pertamaku itu kepada siapapun, majalah Bobo itu sudah kusimpan di balik kasur tidurku.


Merick dan Tony, itulah nama dua anak yang selalu menjadikan aku sebagai bahan bulan-bulanan mereka. Kenapa mereka selalu saja menggangguku? Aku pingin kabur sejauh mungkin dari tempat ini sebelum menendang kemaluan dua anak itu sampai mereka MENGERANG KESAKITAN! Tapi aku tahu kalau aku membalas kelakuan mereka, pasti aku bakal diadukan ke suster-suster dan pemilik panti asuhan. Memang sih kedua-duanya pernah dimarahi para suster, tapi waktu suster-suster itu enggak ada, mereka pasti bakal menggangguku lagi.


“Ayo, sikat dia Ton! Makan ini! Sikat ini! Dasar anak bermata ikan!!” Tony ikut-ikutan memukulku seperti yang dilakukan Merick, sementara aku cuma bisa melindungi diriku sendiri dengan menutupi kepalaku pakai tangan. Kenapa mereka begitu suka memperlakukanku BAGAI MAINAN? Aku pingin bunuh diri saja kalau disiksa setiap hari kaya’ begini, tapi setiap kali aku pingin bunuh diri aku MERASA TAKUT... aku enggak bisa menusuk badanku sendiri!


-----------------------------------------------------------------


“Dit sayang, bangun... ayo shalat dulu, nanti telat ke sekolah lho.” Suara Ibu tiba-tiba membuat Merick dan Tony hilang dari pandanganku. Oh, enggak tahunya CUMA MIMPI. Sekarang baru lewat jam 05.24. Enggak biasanya aku bangun agak telat nih, padahal aku sudah menyetel jam weker pada jam 05.15. Ya, inilah kehidupanku yang baru setelah aku lepas dari panti asuhan milik yayasan gereja di sudut kota Surabaya, kota tempat aku tinggal dari dulu sampai detik ini. Aku enggak lagi jadi anak yatim-piatu disana, karena kini aku punya seorang Ibu angkat bernama Yorina Nelly Atmojo. Aku merasa beruntung diangkat sebagai anak oleh seorang wanita dewasa yang menurutku... amat cantik dan baik. Malah menurutku Ibu Yorina tuh SERATUS KALI lebih baik dari Ibu kandung dan Ayah kandungku yang sudah membuangku begitu aja dan sampai sekarang enggak bisa kucari mereka sedang berada dimana.


“Dit. Kamu udah kenal ama Tante Rita kan?” Ibu mengingatkanku pada seorang wanita seumuran Ibu yang baru kenalan denganku kira-kira seminggu yang lalu, sambil menggigit roti bakar untuk sarapan aku menjawab “ya” kepada Ibu, “Katanya Tante Rita mau datang ke rumah kita sore nanti sama anaknya. Nah, nanti kamu kenalan sama dia, ya.”


“Oh, ya? Dia sekolah dimana, Bu?” aku jadi penasaran dengan anak Tante Rita yang dimaksud. Kok aku jadi berfirasat kalau anak itu bakal menjadi teman baikku yah? Selama ini aku enggak punya teman. Jangankan sekarang, waktu aku masih tinggal di panti asuhan dulu pun aku selalu menjadi sasaran empuk anak laki-laki lain untuk dijadikan bahan ejekan hanya karena warna bola mataku saja yang berbeda dengan anak lain. Kalau anak-anak lain di sekitarku biasanya punya bola mata dengan warna hitam dan cokelat, aku berbola mata merah. Selain itu, mereka selalu mengejekku karena aku punya nilai-nilai pelajaran di sekolah yang paling bagus dari mereka semua. Itulah yang membuatku enggak mau berteman dengan anak-anak sebayaku. Buatku, percuma saja berada di dekat mereka, toh kalau aku hadir di tengah-tengah mereka aku langsung didatangi cuma untuk dimintai sekeping uang, disuruh mengerjakan PR mereka, atau dikatai dengan kata-kata yang membuatku merasa ingin menghajar mereka! Sebaliknya, aku malah lebih senang berhubungan dengan Tante Yorina dan guru-guru di sekolahku. Buatku, mereka adalah orang-orang yang bisa mengerti aku dan mau mendengar kata-kataku, dan aku merasa senang mendengar nasihat-nasihat dari mereka yang membuatku bisa melupakan kelakuan teman-temanku diluar sana. Sekarang, tiba-tiba saja Ibu mengajakku berteman dengan seseorang anak seusiaku yang ternyata anak Tante Rita. Apa aku BISA BERTEMAN dengan anak itu sebaik aku berteman dengan orang yang lebih tua dariku ya?


“Dia sekolah di Santa Maria, anaknya cantik dan lucu lho. Kamu pasti suka kalo main sama dia.” Mendengar jawaban Ibu, aku jadi semakin penasaran dengan anak itu. Awalnya kupikir anak Tante Rita yang dimaksud Mama itu laki-laki, enggak taunya perempuan. Waduh... kalau berteman dengan anak perempuan, aku cuma bisa diam seribu bahasa aja, aku malu kalau ngomong sama mereka. Jangankan dengan anak perempuan yang seumur denganku, waktu pertama kali aku menghadapi Ibu atau Tante Rita pun aku merasa malu kalau terlalu dekat dengan mereka, aku suka memandang wajah mereka tapi aku enggak sudi kalau mereka tau aku suka sama mereka. Kadang aku jadi berpikir, apa wajar yah kalau seorang laki-laki punya perasaan malu kepada perempuan, dan juga sebaliknya? Dan aku jadi penasaran, apa anak Tante Rita itu beragama Kristen yah? Soalnya, yang aku tahu Santa Maria itu sekolah untuk anak-anak Kristen dan Protestan.


“Ibu, memang anaknya Tante Rita itu agamanya Kristen ya?”


“Enggak, Dit. Dia Islam juga kok, memang kenapa Dit?”


“Abis, dia sekolahnya di Santa Maria. Kan sekolah itu... ,” belum selesai aku menyelesaikan ucapanku, Ibu sudah menjawab alasan kenapa anak itu bersekolah disana seperti sudah tahu isi pikiranku.


“Oh, Tante Rita emang nyekolahin anaknya disitu. Tapi enggak usah kuatir, kan tadi Mama udah bilang, dia seagama juga ama kita.”


“Namanya siapa?”


“Nurfagih Mugi Sastronafisa, namanya cantik kan?”


“Iya.” Jawabku pendek. Namanya lebih pas dibilang bagus daripada cantik. Kata cantik biasanya lebih pas untuk menyebut wajah atau penampilan wanita, kenapa Ibu berkomentar nama anak perempuan itu cantik? Orang dewasa memang suka memakai istilah-istilah susah atau kata-kata yang bukan arti sebenarnya kalau mereka bicara. Selesai sarapan, Ibu mengantarkanku ke sekolah dengan Toyota Corolla birunya. Cuaca di sepanjang jalan enggak mendung atau terasa dingin, jadi kami bisa menikmati perjalanan ke sekolah sambil membuka jendela, merasakan udara segar di tengah panasnya matahari pagi.

Sampai di sekolah, Ibu mencium kedua pipi dan bersalam tangan denganku, salam menepuk kedua tangan lalu diakhiri dengan ciuman di kedua pipiku dari bibir Ibu yang manis MESKI TANPA polesan LIPSTIK. Itu sudah menjadi “ritual” antara aku dan Ibu waktu kami berpisah sebelum sekolah dan bekerja. Kalau di panti asuhan dan gereja dulu, aku enggak punya orang yang bisa kusalami seperti ini.


“Belajar yang rajin yah, Dit!’ nasihat Ibu seperti biasa.


“Iya Bu.” Lalu aku membalikkan tubuh, meninggalkan Ibu dengan mobilnya. Masuk sekolah hari ini kurasa bakal membosankan. Bukannya aku sombong, tapi beberapa pelajaran di sekolah hari ini memang enggak kusukai dan terasa membosankan, pelajaran yang kumaksud apalagi kalau bukan IPA. Tapi kalau mempelajari Matematika, IPS dan Bahasa Indonesia aku malah jadi semangat belajar soalnya ketiga pelajaran itulah yang aku sukai dan menurutku sama asyiknya dengan membaca komik.


Masuk ke ruang kelas... suasana kelas setiap hari juga membosankan karena isinya yang enggak pernah berubah: pigura foto Presiden Soeharto dan Wakil Presiden di tembok depan, bendera Indonesia dengan tiang bertinggi sekitar lima meter, lemari kelas yang berisi buku-buku tugas murid yang masih menunggu penilaian dan tanda tangan dari guru, dan meja beserta kursi kayu yang sesekali diembel-embeli tipe-x, ball-point atau goresan bekas cutter.


Pelajaran jam pertama jelas membuatku enggak konsentrasi karena Ibu Nanik mengajarkan pelajaran IPA tentang makhluk hidup. Enggak apa-apalah dirundung rasa bosan selama dua jam pertama belajar, toh sehabis istirahat ada pelajaran Bahasa Inggris, Matematika dan IPS yang pasti membuatku tertarik untuk mengikutinya. Hari ini pelajaran IPS-lah yang paling menyenangkan, soalnya Ibu Nanik mengajarkan Peta Sumatera dan Kalimantan. Aku dan semua teman sekelasku ditanya satu persatu mengenai gunung, sungai, danau, desa, kota, dan ibukota dari semua provinsi yang terdapat di kedua pulau terbesar di Indonesia itu. Pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika juga menyenangkan, hari ini aku diajarin vocabulary dasar dan Geometri. Tapi aku seperti belajar sendiri waktu seisi kelas mulai mempelajari IPS, buktinya cuma aku dan beberapa temanku yang masih terlihat antusias merespon ajaran Ibu Nanik sementara anak-anak lain asyik ngobrol dengan teman sebangkunya, ketiduran atau melihat-lihat pemandangan diluar jendela. Sudah jadi hal yang biasa kalau habis jam istirahat pertama, semua anak pasti mulai kecapekan. Tapi terserah mereka aja mau ngapain, yang penting keseriusanku dalam belajar enggak terganggu, kan? Hmmm... selagi ngikutin pelajaran tentang peta Pulau Kalimantan atau Geometri, sesekali pikiranku membayangkan anak perempuan Tante Rita. GIMANA SIFATNYA, YAH? Kata Ibu anaknya lucu dan cantik, mungkin dia lebih muda dari aku. Baru sekarang aku memikirkan orang lain sampai sebegini seriusnya.

Selesai jam sekolah, pas jam 13.30 aku langsung pulang ke rumah naik mikrolet. Sampai di rumah nanti, aku pingin langsung makan siang, nonton TV terus ngerjain PR Bahasa Indonesia. Dalam perjalanan, mataku sempat melirik seorang anak perempuan berseragam SD Santa Maria, yang duduk tepat didepanku. Anak perempuan itu berambut hitam panjang sampai sedada dan mengenakan seragam khas murid SD Santa Maria, kemeja dengan rompi dan rok selutut yang longgar. Tapi bukan penampilannya yang membuatku tertarik, yang membuatku tertarik dengannya adalah paras mukanya yang enggak mirip dengan kebanyakan wajah anak sekolah Kristen yang hampir semuanya berparas oriental. Kayaknya dia anak pribumi Jawa seperti kebanyakan anak sekolah negeri deh. Bola matanya lentik dan berkulit kuning langsat. Posisi dudukku dan anak itu yang saling berhadapan, membuat kami bisa beradu pandang satu sama lain. Waktu aku menatap mukanya, dia melempar senyum tipis kepadaku. Awalnya aku bingung dia senyum ke siapa, tapi waktu aku yakin kalau dia melempar senyum ke aku, aku jadi malu sendiri dan aku balik melempar senyum yang agak kupaksakan. Anehnya, anak itu malah tertawa cekikikan melihatku senyum balasanku. Apa aku salah? Beberapa meter sebelum mikrolet berhenti disekitar Jalan Dharmahusada, dia turun dari mikrolet. Anehnya lagi, waktu dia turun dari mikrolet dia tersenyum kepadaku lagi. Kubalas senyumannya sambil membiarkan dia turun dari mikrolet. Anak perempuan itu kenapa sih? Dari tadi bikin aku penasaran dengan senyumnya. Awalnya aku pikir dia cuma cari perhatian, tapi lama-lama aku berpikir kalau anak itu cantik dan kelihatannya baik, enggak seperti banyak anak perempuan lain yang pernah kulihat di panti asuhan dulu, di sekitar komplek perumahan, maupun di sekolahku. Begitu gadis misterius itu hilang dari pandanganku, aku menyesal dan merasa enggak bakal menemuinya lagi. Aku PINGIN KETEMU dengan dia lagi.

HUAAAH... akhirnya sampai juga di Rungkut, tempat rumahku berada. Turun dari mikrolet, aku mesti berjalan kaki sekitar 1-2 Kilometer lagi untuk sampai ke rumah. Nggg... Ibu udah ada di rumah belum yah? Maklum, Ibu enggak punya jadwal pulang yang tetap, bisa saja pulang jam satu siang tapi kadang-kadang baru datang ke rumah waktu lewat jam tujuh malam. Jadi, setiap kali pulang sekolah aku harus siap-siap menjaga rumah sendirian dan makan mi instan atau membeli jajanan di warung-warung sekitar kompleks perumahan.


Masuk kedalam rumah, ternyata tirai dari jendela ruang tamu masih tertutup. Wah, mesti makan sendirian lagi nih. Ah, malas beli makanan di warung, mending aku masak mi kuah. Belum juga menyalakan ketel tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari rumah. Pasti suara klakson mobil Corolla Ibu deh. Bener juga, Ibu pulang dengan membawa tas dan setumpuk dokumen yang biasa dibawanya sepulang kerja.


“Gimana di sekolah, sayang?”


“Baik-baik aja Bu. Tapi pelajarannya enak kok, enggak nyebelin.”


“Oh, syukur deh. Kita di rumah aja ya, kan nanti Tante Rita mau main ke rumah kita. Lagi banyak PR?”


“Enggak, cuma satu aja Bu, cuma dikasih PR Bahasa Indonesia sama Ibu Guru.”


“Oke sayang, kamu boleh kerjain sekarang atau nanti malam, tapi kalau Tante Rita datang nanti, ajak anaknya main atau nonton TV ya. Kemarin Tante Rita nelepon Ibu, katanya anak itu enggak sabar pingin ketemu kamu. Ibu masak makanan buat kamu dulu yah,” syukur banget deh Ibu pulang cepat, jadi aku enggak usah capek-capek buat makanan sendiri.


“Tante Rita atau anaknya yang enggak sabar mau ketemu aku, Bu?” tanyaku penasaran dengan maksud Ibu. Tante Rita sih sudah sering berjumpa sama aku. Asyiknya, hampir setiap kali aku berjumpa dengannya dia selalu ramah kepadaku. Kadang-kadang dia malah membawakanku oleh-oleh seperti beberapa jilid komik Doraemon yang belum kumiliki. Sekarang koleksi komik Doraemonku hampir lengkap, dari jilid pertama sampai jilid empat puluh aku sudah punya semuanya dan tinggal dua jilid terakhir yang belum aku punya. Tante Rita memang baik, dia hampir tidak berbeda dengan Ibuku. Itu membuat aku merasa seperti diasuh oleh dua Ibu sekaligus.


“Hahahahaha... kamu lucu deh. Ya, yang bener memang anaknya yang pingin ketemu kamu. Soalnya dia tuh suka punya temen baru,” balas Ibu sambil ketawa sumringah.


“Wah, aku jadi tambah penasaran, kaya’ apa sih anaknya Tante Rita itu.” Aku katakan itu dengan menyiratkan satu pertanyaan didalam benakku: Masa’ anak Tante Rita yang dimaksud Ibu itu ANAK YANG sama dengan yang kutemui di mikrolet TADI? Ah, enggak mungkin... tapi apa iya?

“Hehehe... bagus sayang. Jangan nyendiri terus, kan enggak baik buat kamu sendiri. Dia pasti enggak bikin kamu kecewa kok.” Seperti biasa, Ibu selalu menasehatiku agar mau bermain dengan teman seusiaku.


“Iya deh, sambil nunggu dia, aku mau tidur dulu, Bu.”


“Mau tidur, ngerjain PR ato mau nonton TV nih?”


“Kayaknya tiga-tiganya sekalian.”


“Hahahaha... kamu bisa ngelucu juga, sayang. Ya udah, ganti baju dulu gih, makan terus istirahat nungguin mereka berdua yah. Tapi abis shalat Ashar kamu harus mandi lho, kan malu kalo ketemu mereka dengan badan enggak bersih.”

Habis makan siang, sekarang aku mau mengerjakan PR Bahasa Indonesia yang harus dikumpulin besok. PR yang kukerjakan sekarang enggak susah-susah amat, cuma mengerjakan beberapa soal isian mengisi kata-kata yang hilang dengan jawaban kata yang pas dan soal pilihan ganda sebanyak sepuluh soal di Lembar Kerja Siswa yang biasa disingkat LKS.


Selesai mengerjakan PR, biasanya aku bersantai menonton TV atau tidur siang, tapi sebelum itu lebih baik kalau aku mandi saja dulu. Jangan-jangan nanti Tante Rita datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Untungnya kamar pribadiku ada kamar mandi, jadi enggak perlu gantian memakai kamar mandi dengan orang lain kaya’ waktu di panti asuhan dulu.


Sambil mandi, pikiranku jadi kebawa ke masa laluku di panti asuhan dulu. Kalau membandingkan kehidupanku yang sekarang dengan kehidupan disana, kehidupan di rumah Ibu sangat menyenangkan, segalanya jadi seperti punyaku sendiri. Dulu sih boro-boro bisa makan enak bikinan Ibu, untuk bisa makan sepotong ayam goreng saja kadang-kadang aku harus rebutan sama teman sampai dilerai oleh suster dan pengasuh disana. Ibu Yorina memang amat baik, dibandingkan kedua orangtua kandungku yang sekarang enggak tahu dimana mereka berada. Meski begitu, aku selalu mendambakan kehadiran mereka berdua. Aku masih enggak ngerti kenapa mereka membuangku, dan enggak ada yang mau memberitahu asal-usul orangtuaku secara rinci termasuk kepala panti asuhan. Yang kutahu dari pemilik panti asuhan, Ayahku orang Jawa dan Ibuku adalah wanita blasteran Perancis-Turki yang membuangku ke panti asuhan waktu aku masih bayi. Anehnya, biarpun aku terlahir dengan Agama Islam, kedua orangtuaku malah menyerahkanku ke panti asuhan milik yayasan di sebuah gereja, yang jelas-jelas hampir semua anak asuhannya beragama Nasrani.


Selesai mandi, kupakai setelan t-shirt putih dan celana panjang hitam. Lumayan, penampilanku jadi lebih rapih kalau memakai celana panjang. Lagian Ibu selalu mengingatkanku untuk berpakaian lebih rapih kalau mau bertemu dengan Tante Rita, tamu lain atau kliennya yang datang ke rumah. Kulupakan pikiranku dari masa kecil yang seringkali bikin aku mau nangis setiap kali mengingatnya terus kunyalakan TV sambil mencari channel yang asyik buat ditonton. Ah, menyenangkan sekali menyendiri disini, mungkin teman-teman satu sekolahku lagi asyik bermain perang-perangan, Tamiya, atau game rame-rame, tapi aku lebih suka menonton TV atau membaca komik di kamar ini. Aku heran, apa sih enaknya main diluar rumah? Bukannya kalau habis pulang sekolah lebih baik istirahat di rumah seperti kata guru-guru di sekolah?


“Dit, keluar kamar yuk! Tante Rita udah datang, tuh!” lagi asyik-asyiknya menonton TV, tiba-tiba Ibu yang kini mengenakan kaos berwarna biru dan rok hitam selutut mengajakku keluar kamar, Tante Rita sudah sampai di rumah toh. Aku jadi senang sekaligus gugup, semoga saja anak Tante Rita bukan anak yang sama dengan yang tadi siang, malu rasanya kalau ketemu dia lagi. Kubuka pintu kamar dengan perasaan yang bercampur aduk itu, senang karena Tante Rita yang baik datang bermain kerumahku, tapi juga deg-degan berkenalan dengan anak semata wayangnya. Di ruang tamu, kulihat Tante Rita yang mengenakan kemeja warna pink dan celana jeans ketat sudah duduk anteng. Tapi perhatianku lebih tertuju pada anak perempuan yang duduk disampingnya. HAAAH... ?! Dia kan anak perempuan yang satu mikrolet DENGAN AKU TADI!!


“Eh, kamu kan yang tadi naik mikrolet sama aku... ,” celetuk anak gadis dengan senyum lebar di wajahnya. Jadi dia Nurfagih Mugi Sastronafisah, anak Tante Rita itu? Ya ampun, dugaanku kalau anak perempuan yang tadi itu anak Tante Rita ternyata tepat banget! Aaah... aku enggak berani bertatap muka dengannya!


“Lho, kok kalian udah pada kenal?” Ibu terkejut mendengar Nurfagih yang sudah mengenalku lebih dulu.


“Iya, Tante. Waktu aku pulang sekolah tadi, aku udah ketemu ama dia, kita pulang dari sekolah naik mikrolet yang sama,” jawab Nurfagih dengan nada suara yang renyah dan sopan.


“Wah, jadi enggak usah kenalan lagi deh. Dit, ayo salaman dulu dengan Afi.”


“Iya, Bu.” Kusalami tangan Nurfagih yang kecil tapi hangat. Sikapnya persis sewaktu naik angkot tadi, dia mengangguk senang lalu tersenyum sipu-sipu waktu bersalam tangan denganku. Aku sendiri juga malu, soalnya seingatku baru kali ini aku bisa segini dekatnya dengan anak yang sebaya denganku, perempuan lagi.


“Namaku... Ad... Adit. Aditya Minafi Kurdi, aku enggak... enggak ngira kalo kamu Nurfagih Mugi Sastronafisa, lho.” Jujur saja, aku gugup banget sama dia!


“Hihihihihi... ! Wah, kamu udah kenal nama panjangku. Makasih yaa... keliatannya kamu baik deh.” Kalau sudah mengajak anak tamu berkenalan begini biasanya Ibu menyuruhku untuk bermain dengan anak tamu itu sampai aku harus mengajaknya main di kamarku. Buatku itu perintah Ibu yang paling nyebelin untuk kupatuhi, kenapa aku mesti repot-repot melayani anak tamu apalagi main sama dia? Tapi kok rasanya berkenalan sama Nurfagih aku malah kepingin mengajaknya masuk ke dalam kamarku.


“Nurfagih, masuk ke kamarku yuk.”


“Iyaaa... Dit,” jawab Nurfagih patuh. Ibu kelihatan tersenyum lega, kayaknya Ibu senang melihatku kali ini bisa langsung akrab dengan anak tamu. Ibu mulai asyik ngobrol dengan Tante Rita lagi di ruang tamu... pasti ngobrolin soal pekerjaan, teman kerja laki-laki, baju baru, makanan enak, atau gosip selebriti yang lagi sering diomongin deh. Waktu masuk ke dalam kamarku, Nurfagih terkagum-kagum melihat koleksi komikku yang lumayan banyak. “Wah, komik kamu banyak banget, boleh gak kalo aku liat?”


“Boleh aja,” Nurfagih mungkin kagum melihat koleksi komikku yang terdiri dari Doraemon, Bul dan Bil, Lucky Luke, dan lain-lain. Perasaanku sendiri jadi senang sekaligus sedih kalau melihat deretan buku-buku komik ini. Senang soalnya dulu aku cuma bisa membaca komik atau buku tua sumbangan para dermawan, dan kebanyakan buku-buku itu biasanya sudah sobek-sobek, ceritanya membosankan, atau belum tentu aku bisa membacanya karena harus rebutan dengan teman-temanku. Tahu-tahu sekarang aku bisa punya komik, mainan, atau baju bagus dari Ibu, belum lagi kamar pribadiku yang hampir sama luasnya dengan kamar pribadi Ibu lengkap dengan lemari, meja belajar, kasur empuk sampai kamar mandi.


“Dit, kok melamun siiih... ? Mikirin apa?” tanya Nurfagih tiba-tiba.


“Aaah... eng... enggak apa-apa. Kamu suka komik juga, ya?”


“Suka bangeet... aku juga baca Doraemon lho, aku juga ngikutin Kungfu Boy ama Asterix. Trus, panggil aku Afi aja yah, aku enggak biasa dipanggil pakai nama panjang.” Oh, jadi dia memang selalu dipanggil Afi sama semua orang. Nama panggilannya kedengaran lucu dan gampang diingat, “pasti kamu sering dibeliin komik ama Tante Yorina tiap minggu yah?”


“Kok kamu tau sih?”


“Hehehehe... soalnya Tante Yorina dah cerita banyak soal kamu ke aku, Mama sering ngajak aku ke Gramedia juga sih, tapi enggak sesering kamu. Paling juga sebulan satu-dua kali aja beli komik.”


“Ama Ayah juga?” Mendengar pertanyaanku, Afi tiba-tiba diam lalu wajahnya yang murah senyum dan ceria berubah jadi murung, persis wajah orang yang mau nangis.


“Papa... udah mati waktu aku kecil... ,” jawab Afi lirih. Mengetahui keadaan Ayahnya, aku jadi merasa bersalah sudah menanyakan hal yang bikin dia sedih. Oh, ternyata dia sama kaya’ aku, sama-sama enggak punya Ayah.


“Maaf... aku enggak ada maksud nanyain itu, aku... ”


“Enggak apa-apa, aku ngerti kok. Dit, kayaknya kamu kalem banget ya? Enggak kayak temanku yang lain, kamu keliatan pemalu, terus lucu gitu.” Afi mengomentariku sambil menyeka matanya yang berair.


“Emang salah ya kalo aku kaya’ gitu?” aku merasa enggak suka dengan komentarnya barusan.


“Enggak, maaf deh... ”


“Iya, kamu belum tau ya kalo aku ini dulunya anak panti asuhan? Aku bukan anak Ibu dari waktu aku bayi. Baru waktu aku naik kelas empat SD aja aku... diadopsi ama Ibu. Aku enggak pernah kenal Ayah ama Ibuku yang asli, yang bikin aku lahir di dunia. Aku cuma beruntung aja diadopsi kaya’ anak kandung ama Ibuku yang baru sekarang. Tanpa Ibu, aku enggak punya apa-apa kan? Kamu kan enak, Fi. Udah punya Ibu yang ngelahirin kamu, punya rumah sendiri, terus... ”


“Aku enggak mikirin soal itu Dit. Aku enggak peduli kamu anak kandung atau anak adopsi Tante Yorina, aku cuma kepengen kamu jadi temen aku, itu aja! Mama udah ngasih tau aku sebelum aku kesini kalo kamu tuh anak angkat Tante Yorina. Lagian, biar kamu gak punya orangtua kandung, kamu pasti punya kelebihan yang enggak dipunyai anak lain deh. Kayaknya kamu pinter, aku salah ngomong gak?” Afi balik mengomantariku dengan tegas dan kelihatannya enggak suka dengan penjelasan soal masa laluku.


“Kamu kayaknya terlalu memuji deh, masa aku pinter?” pujiannya barusan membuatku semakin suka dengan Afi. Ini pengalaman baru seumur hidupku, bisa ngobrol senyaman ini dengan anak seusiaku dan aku seperti kepingin untuk terus bersama dengannya. Apakah Afi adalah temanku yang sebenarnya?


“Dit, dari sifat kamu, aku tuh ngerti kalo kamu tuh orangnya rajin dan suka belajar. Aku juga udah dikasih tau ama Mam, kalo kamu tuh sering dapet ranking satu di kelas, iya enggak?” betul-betul deh, Afi sudah mengenaliku baik-baik sebelum aku bertemu dengannya. Jangan-jangan waktu aku naik mikrolet tadi, dia sudah mengenaliku?


“Jadi, waktu kita pulang dari sekolah bareng, kamu udah kenal aku?”


“Hmmm... gimana ya? Aku sih enggak ngerasa gitu, tapi aku kan udah dikasih tau ama Mama soal kamu sebelum kita pulang bareng enggak sengaja tadi siang, jadi waktu itu aku ngira-ngira aja kalo anak laki-laki bermata merah itu anaknya Tante Yorina.”


“Yaaa... coba tadi kamu udah kenalan ama aku.” Perkenalanku dengan Afi jadi kaya’ kado ulang tahun aja, enggak cuma membuatku senang tapi juga PENUH KEJUTAN yang enggak terpikirkan sama sekali oleh aku.


“Iyaa deh. Aku kan takut salah orang. Malu kan kalo aku kasih salam ke orang yang salah. Aku bisa jadi bahan ketawaan orang nanti... ,” kadang-kadang ucapan Afi agak mirip dengan dialog tokoh komik. Kupandang baik-baik tubuhnya, kelihatannya Afi berpostur lebih tinggi dariku tapi lebih kurus dari aku.


“Fi, kamu udah kelas berapa sih? Kok kayaknya aku lebih kecil dari kamu?”


“Mmm... aku sih baru kelas empat, tapi aku emang keliatan lebih tua dari anak kelas empat lain. Kan biasanya anak kelas empat sekarang berumur delapan ato sembilan taun, tapi taun ini aku bakal berulang tahun yang kesepuluh. Kamu sendiri gimana Dit?”


“Yaaa... aku juga kelas empat, tapi aku baru sembilan taun. Kaya’ yang dibilang Afi tadi, umur kebanyakan anak kelas empat SD gitu.” Tahu kalau usia Afi setahun lebih tua dariku, aku jadi merasa kaya’ anak kecil dihadapannya. “Jadi, aku mesti panggil kamu Kak Afi, dong?”


Bukannya mengiyakan pertanyaanku, Afi malah ketawa geli. “Hahahahaha... Adit, enggak usah gitu ah... Adit lucu deh! Kan kita masih sama-sama kelas empat juga, lagian aku enggak ngerasa lebih tua dari kamu kok. Kata guruku dulu, kedewasaan orang tuh enggak mesti tergantung sama umur. Tapi sifat orang itu yang nentuin kedewasaannya.” Kalau dipikir-pikir komentar Afi soal kedewasaan betul juga. Tapi ada yang enggak aku setujui darinya, yaitu kerendahan hati Afi yang mengatakan aku enggak usah merasa lebih kecil dihadapannya dan enggak usah menganggapnya sebagai “kakak”. Komentar Afi itu tetap membuatku merasa lebih kecil dihadapannya. Biarpun begitu, kedewasaannya itu juga yang membuatku makin nyaman berbagi cerita dengannya, berada di dekatnya serasa berada di dekat Ibu, Tante Rita, dan guruku waktu SD kelas 1 dulu, Pak Yusri. Mereka semua adalah orang yang membuatku ingin terus berada di dekat mereka. Afi sama sekali enggak kelihatan mirip dengan kebanyakan anak yang aku kenal, soalnya selain cantik, suka mengobrol, dan pintar dia juga bisa membuatku tersenyum dan lega karena sudah membuatku bebas ngomongin banyak hal yang sebelumnya enggak pernah kuungkapkan ke teman-teman. Coba kalau aku berada di tengah teman-teman di panti asuhan dan sekolah, yang kupikirkan cuma gimana caranya biar bisa bebas dari bullying yang sering mereka lakukan terhadap aku. Jujur saja, kadang aku merasa lebih baik dimarahi atau dipukul oleh orang yang lebih tua dariku daripada dikerjain sama mereka. Aku pikir kalau dimarahi orangtua atau guru, pasti aku sudah berbuat salah, karena semua orangtua, guru sampai buku pelajaran selalu mengajari anak-anak untuk patuh sama orang yang lebih tua. Tapi apa aku mesti patuh juga dengan orang yang usianya sama denganku? Apalagi dengan kata-kata yang menyinggung perasaanku.


“Tapi, aku ini bukan temen yang baik, Fi. Aku mungkin pinter, tapi aku enggak sebaik yang kamu bilang, aku enggak suka main atau deket dengan anak-anak lain. Terus, kenapa kamu mau jadi temenku, sih? Temenku di panti asuhan ama gereja dulu suka ngeledek aku mata ikan, anak Jepang cuma gara-gara bola mataku yang merah, aku ngerasa enggak bisa punya temen dan enggak butuh mereka, aku... cukup udah aku jadi bahan ledekan mereka. Aku kaya’ binatang kecil yang mencoba hidup di tengah sekawanan harimau.” Kuungkapkan itu semua sampai aku menangis tersedu-sedu. Raut wajah Afi tampak iba dan menatap mukaku lebih dekat, “udah aku bilang kan tadi aku masih lebih kecil dari kamu... ? Liat... aku... aku jadi nangis diliat kamu!!” tanpa maksud membentaknya, aku sudah melampiaskan kekesalan hatiku di depan muka Afi.


“Dit, kamu enggak boleh mikir dan ngomong kaya’ gitu. Biarin aja Dit. Ejekan temen kamu dulu enggak usah dipikirin kaya’ gitu. Kan lama-lama mereka jadi bosen sendiri. Terus, kamu juga jangan jadi enggak mau ngomong ama temen kamu gara-gara ledekan mereka, sebenarnya mereka ngeledek kamu tuh karena mereka pengen main sama kamu. Kan tadi aku udah bilang kalo kamu pinter soal belajar, Iya enggak? Kalo kamu pinter, kamu jangan pedit dong bagi-bagiin ilmu kamu buat temen kamu. Misalnya nih... ada temen yang enggak bisa ngerjain PR-nya, kamu ajarin aja sampai mereka ngerti. Aku yakin kok mereka enggak bakal meledek kamu lagi. Enggak semua anak tuh jahat kaya’ yang kamu bilang. Pasti ada yang baik kok... terus soal bola mata kamu, enggak usah dipikirin deh. Malah mata kamu itu yang bikin... kamu keliatan lebih cakep dari anak laki-laki lain yang udah sering aku liat... ,” warna pipi Afi memerah kaya’ ekspresi tokoh komik yang sedang malu setelah mengomentari bola mataku. Yah, memang keadaan fisik akulah yang sering dijadikan bahan ejekan. Selain warna bola mataku merah, aku juga punya warna kulit putih langsat persis warna kulit perempuan, rambutku lurus dan jatuh kaya’ wajah tokoh komik. Malah kalau kuperhatikan warna kulitku hampir sama putih dengan warna kulit Afi. Itulah sebabnya kenapa aku sering disangka anak Jepang atau Cina.


“Jadi kamu suka ngomong sama aku karena aku cakep?”


“Enggak cuma cakep. Kataku sih, kamu tuh jujur dan sebetulnya kamu baik lho, enggak kaya’ sebagian temen-temenku yang lain. Ada yang sombong trus ada juga yang suka pura-pura, tukang boong! Tapi kamu beda... kamu enggak munafik. Dit, jangan murung terus ah. Aku jadi sedih ndengerin cerita masa lalu kamu, tapi aku pingin lihat kamu ceria kaya’ anak lain dan enggak mikirin masalah sampai bikin kamu jadi sakit hati sendirian. Aku juga kepingin lebih deket ama kamu. Pokoknya kamu mau kan kalo aku jadi sahabat kamu? Ya Dit? Ya, ya?”


Perasaan haru dan bahagia memenuhi hatiku. Aduh, belum pernah ada gadis sebaik dia yang mau berteman denganku sampai sedekat dan sepengertian ini. Apapun yang dikatakan Afi kepadaku tadi, semuanya bikin pikiran dan hatiku jadi terbuka lebar. “Makasih, kamu baik banget sama aku. Belum ada orang yang begitu sayang ama aku sampai kaya’ begini selain Ibu. Aku percaya ama kamu... Fi.” Mungkin dari segitu banyak karunia Allah yang Dia berikan, Afi adalah hadiah yang PALING MENYENANGKAN bagiku. Aku belum berhenti menangis, tapi dia menggenggam tanganku sambil tersenyum.


“Gimana? Kamu dah merasa lega kan? Aku enggak suka liat kamu nangis lagi ah... soalnya aku tau kalo kamu anak laki-laki yang kuat.”


“Iya... makasih.” Seperti nasihat Afi, dalam hati aku bertekad untuk enggak kelihatan lemah lagi di hadapannya apalagi sampai cengeng begini. Afi yang puas berbagi cerita denganku, kini pandangannya berpindah ke lemari yang berisi deretan koleksi komikku.


“Dit, aku juga suka komik lho. Boleh gak kalo aku baca?”


“Boleh, baca bareng yuk. Tapi kayaknya enggak sebanyak koleksi komik kamu deh.”


“Masa’ sih? Banyakan komik kamu ah, tapi ngomong-ngomong komik apa yang paling kamu suka di kamar kamu yang rapi dan enak banget ini?” bisa saja Afi memuji kamarku, padahal sebetulnya Ibu yang menata kamar sampai sebagus ini. Sejujurnya, selama ini aku membaca komik cuma sebatas senang saja, jadi aku enggak memikirkan secara khusus komik mana yang paling aku sukai dan yang paling enggak aku sukai. Tapi dari beberapa komik yang kupunya sekarang, mungkin Doraemonlah komik favoritku, soalnya aku bisa membaca komik Doraemon sampai beberapa kali. Setelah dibeli langsung dibaca, besoknya DIBACA LAGI. Sudah kubaca dua kali pun masih kubaca lagi, biasanya aku membaca Doraemon setelah mengerjakan PR atau membereskan kamar. Kalau soal kamarku yang dipuji kerapihannya sama Afi, itu karena aku sudah dibiasakan menjaga keadaan kamar sendiri. Ibu enggak punya pembantu atau supir pribadi, jadi Ibu mengajariku bertanggung jawab dengan kerapihan kamarku sendiri, termasuk koleksi buku komikku. Dan aku enggak keberatan sama perintah Ibu supaya aku selalu merapikan kamarku, toh dari kecil aku sudah biasa disuruh membersihkan kamar berkat bimbingan dari suster-suster disana.


“Hmmm... pujian kamu bikin aku seneng lho, makasih ya. Abis aku udah dibiasain ama Ibu biar kamarku tetep rapih, pokoknya harus disapu dan barang-barang dirapiin sendiri. Soal komik sih... kayaknya aku paling seneng ama Doraemon, soalnya aku suka baca komik ini diulang-ulang, enggak ada bosennya aku baca komik robot kucing itu. Aku juga suka nonton kartunnya yang ditayangin tiap minggu jam delapan pagi, pokoknya aku enggak bakal pernah lupa untuk nonton Doraemon deh.”


“Wah, kalo gitu kita sama dong. Abis aku juga paling suka ama robot musang... eh robot kucing biru itu!” Afi ketawa sendiri dengan sindiran Doraemon yang memang lebih sering dicap robot musang ketimbang robot kucing dalam cerita komiknya, “Selain bisa ngeluarin barang-barang aneh dari kantongnya, aku tuh juga suka ama Doraemon soalnya ceritanya lucu dan deket banget ama kehidupan kita... kayaknya kita nonton apa yang kita alami sendiri gitu.”


“Fi, jangan-jangan kamu juga punya Doraemon yang beneran ya?”


“Hihihihihi... tuh kamu bisa becanda juga... tapi kalo ketemu Doraemon yang beneran, aku mau kok. Aku kasih Dorayaki tiap hari biar dia mau ngeluarin semua alat ajaibnya. Aku juga pernah dibeliin sarung bantal dan bonekanya. Lucu deh!”


“Wah, asyik banget. Aku jadi kepingin main ke rumah kamu deh, kayaknya rumah kamu asyik.”


“Kalo kamu kepingin, nanti aku ngomong deh ama Mama. Dia pasti mau kamu main ke rumah. Rumahku di Dharmahusada, tau kan?”


“Mmmm... kira-kira di sekitar tempat waktu kamu turun dari mikrolet itu kan?”


“Seratus buat Adit! Rumahku dekat sana, aku pingin kita main dan ngerjain PR bareng! Belajar ama kamu pasti asyik.”


“Biar PR kamu dibantuin ama aku?” tanyaku setengah bercanda.


“Adit tau aja! Hehehehe... iyalah. Abis aku gak bisa sepintar kamu kalau soal belajar, mau dong diajarin si langganan rangking satu,” komentarnya dengan suara yang renyah. Dimintai membantu mengerjakan PR sama teman biasanya membuatku sebal. Masa’ aku yang capek-capek ngerjain PR, terus jawabannya dikasih begitu saja ke orang yang sudah menjadikan aku bahan ejekan? Tapi kalau untuk Afi, disuruh menemaninya mengerjakan PR seharian pun rasanya aku mau-mau saja.


“Udah ah. Kalo ngomong ama kamu, aku jadi seneng melulu. Ambil deh komik-komikku, kita baca bareng.”


“Kan aku ngajak ngomong ama kamu terus biar kamu ceria, Dit. Hihihihihi... ya udah, aku pinjam Doraemonnya ya, soalnya berapa kali aku baca Doraemon, aku gak pernah bosan.” Ternyata dia mirip denganku kalau menyangkut Doraemon, dia suka membaca komik ini berulang kali juga toh.


Waktu kami membaca komik, aku memperhatikan kebiasaan menarik yang dilakukan Afi selagi membaca. Beberapa kali kuperhatikan Afi ketawa sendiri. Seperti aku saja, kalau membaca komik yang lucu pasti jadi ketawa. Bedanya, kadang-kadang aku bisa menahan ketawa biar enggak sampai kedengaran sama Ibu. Kata guru, ketawa sendiri berarti enggak waras atau gila. Tapi Afi kelihatannya cuek saja suara tawanya terdengar membahana di kamarku. Jangan-jangan suara tawa Afi sampai didengar Tante Rita dan Ibu diluar. Lagi asyik-asyinya membaca Bul dan Bil, Afi mengambil sebatang cokelat Beng-Beng dari tas Adidas putihnya dan memberiku sebatang cokelat yang sama, “kamu mau? Enak lho, aku doyan ama cokelat ini.”


“Makasih. Emang gak apa-apa kalo kamu suka makan cokelat?” melihat Afi memberiku cokelat, aku jadi ingat sama kebiasaan Ibu yang suka ngemil snack atau biskuit. Kenapa sih perempuan suka makan yang beginian?


“Maksud Adit?” tanya Afi bingung.


“Ya... waktu di panti asuhan dulu, aku suka diajarin kalo makan permen ama cokelat banyak-banyak tuh gak baik, bisa bikin gigi kita jadi kuning ato berlubang gitu. Ibu sih enggak pernah melarangku makan makanan manis begini, tapi Ibuku selalu ngingetin aku agar enggak makan cokelat terlalu banyak.”


“Ya, emang bener kok. Mama juga tau kalo aku suka makanan manis. Mama enggak pernah marah liat kesukaanku ama cokelat, kue ato makanan ama minuman apa aja yang manis tapi Mama suka nyuruh aku gosok gigi abis makan yang manis-manis. Kata Mama sih biar gigiku gak bolong. Cokelat ama komik, dua-duanya sama-sama bisa ngilangin stres lho.” ungkap Afi antusias.


“Wah, Ibu kamu baik dong. Pantesan aku liat gigi kamu tetep putih bersih, rapi lagi. Gak ada yang ompong. Badan kamu juga kurus padahal ada yang bilang orang yang suka ngemil tuh badannya gendut.”

“Makasiiih... tapi biar gini, kemarin gigiku cabut satu lho, duh enggak enak banget. Sakit tapi lega juga sih abis dicabut. Aku enggak tau sih kalau ngemil tuh bisa bikin gemuk atau enggak.” Aneh juga anak doyan jajan kaya’ dia enggak berbadan gemuk, apa dia suka berolahraga yah? Aku jadi mikir, kayaknya Afi doyan berolahraga, khususnya olahraga yang bisa bikin badan jadi tumbuh tinggi seperti berenang, basket atau semacamnyalah.


“Kamu suka berenang gak? Jangan-jangan kamu rajin latihan renang ama ikutan lomba renang yah?”


“Lho? Kok kamu bisa tau sih Dit?” enggak sangka kalau tebakanku cocok dengan jawaban Afi.


“Tadinya aku asal nebak aja siih... cewek kaya’ kamu pasti pinter renangnya? Dah bisa gaya apa aja? Ikutan lomba dimana aja?”


“Hmmm... enggak pinter-pinter amat sih aku berenangnya Dit,” ujar Afi merendah, “aku rajin latihan tiap hari Senin sampai Jumat. Khusus hari ini aja aku mbolos latihan, hehehehe! Ikutan lomba baru dua kali, itu aja belum pernah juara kesatu. Aku baru nyabet juara dua sampai tiga kali.” Wah hebat juga prestasinya, ah siapa bilang kamu enggak pintar berenang, Fi? Bisa juara tiga di semua lomba belum tentu bisa kulakukan (kalau aku bisa berenang kaya’ dia). Afi tersenyum sumringah lagi dengan pandangan mata yang agak tajam, “Oh ya, nama kamu kan Adit, boleh enggak kalo aku manggil kamu Adyt, huruf i-nya kaya’ dipanjangin gitu, lucu deh nyebutinnya.” Aku sama sekali enggak merasa keberatan dipanggil Afi seperti itu. Toh sifatnya yang menyenangkan membuatku merasa nyaman dengannya.


“Boleh aja. Jadi kita sama-sama punya nama panggilan yang kedengaran enak yah, kamu bisa aja deh ngasih aku nama panggilan.”


“Hehehe... abis kamu lucu sih. Tapi aku suka main ama kamu, makanya aku kepingin punya nama akrab buat kamu.” Semakin lama aku berbagi cerita dengannya, aku semakin enggak mau berpisah dengannya, bahan obrolan pun jadi kerasa enggak habis-habis. Mulai dari membahas cerita komik kesukaan kami, makanan yang disukai, dan hobi kami sambil diiringi lagu-lagu favoritku dari radio compo Sony di meja belajarku. Pesawatku lirikan Memes, Mamma Mia dan Dancing Queen lantunan grup musik lawas ABBA, Dekadensi dan Kisah-Kasih di Sekolah lirikan Chrisye, semuanya bergantian membuat telinga ini jadi enggak jenuh.

“Afi, tolong taruh bukunya di rak lagi, dong. Kan enggak enak diliat kalo abis dibaca bukunya ditaruh begitu aja!” aku mengajaknya untuk merapikan buku-buku yang sudah kami baca. Ada satu kelakuan Afi yang membuatku merasa sedikit enggak sreg sama dia. Afi yang sudah membaca sebagian komik-komikku enggak menaruh semua komik itu lagi di rak tempat aku menaruhnya semula!


“Oh, iya Dyt. Sori aku lupa, kamu orangnya apik banget ya... ,” Afi mengatakan itu sambil tertawa kecil. Apa maksudnya aku orang yang apik?

Tahu-tahu waktu sudah lewat jam enam sore, sudah lewat waktu Maghrib deh. Selagi kami masih asyik membaca dan makan permen karet Wrigley’s Juicy Fruit yang dibawa Afi, Ibu masuk ke kamarku.


“Dit, Afi. Udahan dulu mainnya ya. Tante Rita mau pulang tuh. Katanya udah kemalaman.”


“Yaaa... Tante kok gitu. Aku kan masih mau main ama Adyt,” sanggah Afi kecewa.


“Iya Bu... aku juga enggak mau Afi pulang sekarang.” Aku jadi ikut-ikutan enggak rela Afi pulang sekarang juga. Kalau dia enggak ada disini, aku merasa kehilangan SESUATU YANG BERHARGA deh.


“Afi, Adit sayang. Besok kalian kan masih harus sekolah, kasian Tante Rita dong. Lagian kalian bisa main besok ato lusa kok. Hayooo... ada waktunya main dan waktunya belajar lho. Dit, nanti kita yang main ke rumah Afi ya? Ibu janji kok.”


“Bener Bu? Janji lho ya... ?”


“Iya, Ibu janji.” Aku pasrah menuruti kata Ibu, meski aku enggak menyembunyikan kekecewaan karena enggak dibolehkan berdua lebih lama lagi dengan Afi. Terpikir dalam benakku kalau ini pertama kalinya aku merasa begitu kecewa ditinggal pergi sama orang yang baru kukenal. Coba kalau ketemu dengan teman baru yang lain, aku malah merasa lega dia pulang meninggalkanku dan aku enggak berharap untuk ketemu dengannya lagi.


“Kenapa Dit? Kok keliatan murung begitu?” tanya Ibu bengong melihatku masih menatap nanar ke arah mobil Kijang Krista yang membawa Afi pulang.


“Ah, enggak pa-pa kok. Cuma perasaan Ibu aja ah.”


“Oh... Ibu ngerti, bilang aja kamu suka ama Afi kan? Hayoooo... ngaku!” Ibu mengatakan sesuatu yang memang enggak bisa kupungkiri. Ibu tau saja soal perasaanku ke Afi. Memang betul sih, soalnya Afi memang beda dengan teman-teman yang kukenal sebelumnya. Malah aku sempat berpikir kenapa Afi enggak tinggal serumah saja denganku?


“Ya udahlah... makan malam dulu yuk. Kamu pasti capek,” Ibu menyuruhku untuk makan sepiring nasi goreng yang sudah terhidang di meja makan. Gara-gara Afi pulang, makan enak pun jadi enggak kerasa enak. Selesai makan pun, pikiranku tetap enggak bisa lepas dari Afi. Dia begitu baik, juga cantik. Ini memang bukan pertama kalinya aku mengagumi orang lain, tapi cuma anak itulah yang membuatku terus kepikiran sama dia. Apa iya aku ini sebaik yang dia bilang? Masih kuingat sebagian ucapannya tadi.

“Dit, kamu enggak boleh mikir dan ngomong kaya’ gitu. Biarin aja Dit. Ejekan temen kamu dulu enggak usah dipikirin kaya’ gitu. Kan lama-lama mereka jadi bosen sendiri. Terus, kamu juga jangan jadi enggak mau ngomong ama temen kamu gara-gara ledekan mereka, sebenarnya mereka ngeledek kamu tuh karena mereka pengen main sama kamu. Kan tadi aku udah bilang kalo kamu pinter soal belajar, Iya enggak? Kalo kamu pinter, kamu jangan pedit dong bagi-bagiin ilmu kamu buat temen kamu. Misalnya nih... ada temen yang enggak bisa ngerjain PR-nya, kamu ajarin aja sampai mereka ngerti. Aku yakin kok mereka enggak bakal meledek kamu lagi. Enggak semua anak tuh jahat kaya’ yang kamu bilang. Pasti ada yang baik kok... terus soal bola mata kamu, enggak usah dipikirin deh. Malah mata kamu itu yang bikin... kamu keliatan lebih cakep dari anak laki-laki lain yang udah sering aku liat... ”


“Enggak cuma cakep. Kataku sih, kamu tuh jujur dan sebetulnya kamu baik lho, enggak kaya’ sebagian temen-temenku yang lain. Ada yang sombong trus ada juga yang suka pura-pura, tukang boong! Tapi kamu beda... kamu enggak munafik. Dit, jangan murung terus ah. Aku jadi sedih ndengerin cerita masa lalu kamu, tapi aku pingin lihat kamu ceria kaya’ anak lain dan enggak mikirin masalah sampai bikin kamu jadi sakit hati sendirian. Aku juga kepingin lebih deket ama kamu. Pokoknya kamu mau kan kalo aku jadi sahabat kamu? Ya Dit? Ya, ya?”

“Adit tau aja! Hehehehe... iyalah. Abis aku gak bisa sepintar kamu kalau soal belajar, mau dong diajarin si langganan rangking satu.”

Oh, iya Dyt. Sori aku lupa, kamu orangnya apik banget ya... ”

Hihihihihi... aku jadi ketawa cekikikan sendiri kalau mengingat-ingat lagi semua ucapan Afi itu. Mungkin seperti kata Afi, aku enggak sendirian, “I’m not alone,” kira-kira begitu bunyinya dalam bahasa Inggris.


“Hai... anakku yang lagi kasmaran! Kok belum tidur juga sih?” suara Ibu yang tiba-tiba datang tanpa membuka pintu membuatku kaget. Aku pikir ada SUARA HANTU dari jendela.


“Kasmaran itu apa sih Ibu?” aku bingung dengan kata-kata Ibu tadi. Ibu ketawa sambil duduk disampingku, lalu menyenderkan badanku disampingnya.


“Yaah... kamu enggak usah tahu apa artinya kasmaran. Ibu cuma becanda kok, soalnya Ibu ngintip dari luar kamu keliatannya enggak tidur juga sih, lampunya juga belum dimatiin,” aku baru sadar kalau tadi aku memang enggak menutup pintu rapat-rapat. Jadi dari situ Ibu bisa tahu kalau aku belum segera tidur, padahal ini kan udah lewat jam sepuluh malam.


“Iya Bu, aku enggak mau Afi buru-buru pulang, tapi Tante Rita sih udah mau pulang duluan,” aku memang mau marah sama Tante Rita yang tadi mengajak Afi pulang, tapi aku jelas enggak berani terus terang di depan Tante Rita yang baik.


“Nah, itu tandanya kamu punya perhatian sama Afi. Iya, anak itu emang baik kok dan suka cari perhatian, biar kadang-kadang bandel. Dia enggak suka diam apalagi liat orang murung, sama kayak Tante Rita juga, Dit.”


“Tante Rita mirip sama Afi?”


“Ya, Ibu kan udah temenan ama Tante Rita dari kuliah dulu... ,” Ibu mengulang cerita persahabatannya dengan Tante Rita yang sudah pernah kudengar dulu, “Tante Rita dari dulu juga begitu, suka cari cowok baru buat dijadiin teman dan pacar, lebih suka kumpul ama teman-temannya buat main ketimbang belajar. Tapi... apapun sifat baik Afi tadi Dit, kamu jadi nyadar kan kalau mengurung sendirian di kamar tuh gak baik? Mending bagi-bagi cerita sama teman, kamu jadi keliatan lebih ceria dan enggak pucat. Ibu perhatiin kamu jadi lebih terbuka abis ketemu ama Afi tadi, dan Afi bukan teman jauh kamu kok. Nanti kapan-kapan kita main sama dia yah, kan tadi Ibu udah janji. Enggak cuma ke rumahnya tapi ke Plaza bareng berempat juga setuju?”


“Beneran, Bu?” aku jadi enggak sabar menanti janji Ibu.


“Beneeeran deh... ! Ibu janji asal sekarang kamu tidur ya!” Ibu mencium pipiku dan meniduriku dengan selimut, lalu memberiku ucapan selamat tidur. Tapi aku baru benar-benar ketiduran lewat jam sebelas, karena otakku terus berfantasi dalam kegelapan membayangkan main berempat dengan Ibu, Tante Rita dan Afi nanti.



1st Chapter by Aditya Revalita

No comments: