Sunday, February 15, 2009

World of Ancient Darkness

Peperangan terus berlanjut.

Udara yang tercampur oleh bau amis darah membubung ke langit kelabu. Suara dengingan kuda dan benturan benda tajam masih beradu di antara tumpukan mayat yang terpotong – potong menjadi beberapa bagian. Raungan para naga dan griffin terdengar dengan jelas. Pertarungan sia – sia yang bertumpu pada suatu hal sederhana. Setidaknya itu yang kita pikirkan secara dalam dan lama.

Tapi ini bukan karena hal sepele.

Bukan….

Perang ini mempertaruhkan nasib dari dua dunia. Pertarungan yang tidak sama seperti raja – raja zaman dulu yang menginginkan kekuasaan. Selama tiga tahun persiapan telah hancur dalam waktu sehari. Tepat saat bintang pertama naik ke langit hitam tak berawan, semua berakhir. Menyisakan satu pertempuran terakhir antara dua orang teman sekaligus musuh.

“ Era! Cukup sampai di sini!” teriak lelaki berambut putih yang menjadi temannya dulu.

“ Tidak. Darah Ishxaks akan terus memburu orang Zeritsh. Selamanya dan sekarang akan berakhir.” teriaknya. Rambut merahnya yang panjang berkibar seiring bunyi guntur dan kilat yang bersahutan saat ia mengacungkan pedangnya ke dagu lawannya.

“ Ini salah! Aku…”

“ Selamat tinggal…dengan ini kemenangan akan jatuh padaku…..Ardeth.”

Ia menghunuskan padang tepat di jantung Ardeth. Ardeth tak sempat menghindar. Ia jatuh terjengkang sambil memegangi pedang yang menghunjam dadanya.

Tepat pada saat itu juga, Seorang wanita menusukkan belati ke kepala Era. Tewas tanpa sempat berteriak. Wanita itu – Mi ‘ona bergegas menghampiri Ardeth dan mencabut pedang yang menancap dada lelaki itu dan melemparkannya ke satu sisi. Ia menaruh kepala Ardeth yang sekarat di pangkuannya dengan lembut.

“ Ini salah. Sangat salah Mi ‘ona.” ucapnya parau

“ Tapi kita menang. Itu berkat intuisimu.”

“Tidak. Walau kita menang, ini salah. Ada orang ketiga yang menjadi biang keladi semua ini.”

“Siapa?” tanya Mi ‘ona kaget.

Napas Ardeth tersentak keras. Darah menyembur dari mulutnya. Sinar matanya meredup.

“Dia……”

Hujan mulai turun. Perlahan membasahi mereka berdua.

“ Arush….”

“Apa?” wanita itu menggeleng tak percaya.

“ Arush Qiulre” desisnya.

Matanya menutup perlahan. Nadinya terhenti.

“ Ardeth..”

Mi ‘ona memeluknya sambil menangis diiringi petir juga langit yang menangis.



1st Chapter by E.F. Dina

1 comment:

sustika said...

cerita yang unik.
membuat setting tentang peperangan dan zaman kerajaan butuh banyak riset.
semoga novelnya bisa jadi smape chapter terakhir.
semangat!!!